Resiko taqlid dalam bermadzhab akan meninggalkan sunnah

Resiko taqlid dalam bermadzhab akan meninggalkan sunnah 🔴

Jikalah kita wajib taqlid kepada Mazhab tertentu, maka kita akan meninggalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Sebagai contoh kecil saja, ada pendapat dari kalangan Mazhab Hanafiyyah yang membolehkan menikah tanpa wali.

.

Jika kita mengikuti dan taqlid kepada pendapat ini, maka menyebabkan kita kufur (kafir) karena meninggalkan Sunnah, sebagaimana kekafiran Yahudi dan Nasrani (Kristen) yang taqlid buta kepada pendeta dan rahib-rahibnya yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Azza Wa Jalla, atau mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau membuat perkara-perkara baru (Bid’ah) dalam urusan agama.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

.

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَا رَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَا لْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ ۚ وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّا حِدًا ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

.

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

.

– QS. At-Taubah [9] : 31

.

Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut kepada beliau. Kemudian beliau berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

“Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?”. Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

“Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka

(Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, Ath Thabrani al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, 1/166. Lihat Fathul Majid)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman dalam kelanjutan ayat di atas,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa” (QS. At Taubah : 31)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas : “Yakni Rabb yang jika mengharamkan sesuatu, maka hukumnya haram. Dan apa yang Dia halalkan, maka hukumnya halal. Dan apa yang Dia syari’atkan, maka harus diikuti. Dan apa yang Dia tetapkan, maka harus dilaksanakan” [Tafsir Ibnu Katsir (4/135)]

Hal ini menunjukkan bahwa penetapan syari’at, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, adalah hak mutlak milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan bahwa tidak ada pernikahan tanpa wali, maksudnya suatu pernikahan tidak sah kecuali dengan wali dan disini menjadikan adanya wali adalah syarat sahnya suatu pernikahan.

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib berkata : telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak, dari Hajjaj, dari Az Zuhri, dari Urwah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ. (dalam jalur lain) dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu keduanya berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,

.

“Tidak ada nikah tanpa adanya wali.”

.

– HR. Ibnu Majah no. 1870 | no. 1880. Shahih

.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah bin A’yan : telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah Al Haddad, dari Yunus, dan Israil dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

.

“Tidak ada (tidak sah) pernikahan kecuali dengan wali.”

.

– HR. Abu Dawud no. 1785 | no. 2085 dan Ahmad no. 18878, 18911. Shahih. Lafazh dan Sanad di atas milik Abu Dawud.

.

Dan dalam redaksi lainnya,

.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar : telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa, dari Az Zuhri, dari ‘Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

.

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal.”

.

– HR. Tirmidzi no. 1021 | no. 1102. Shahih.

.

Al Imam Tirmidzi rahimahullah menjelaskan, beliau berkata,

.

“Para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, di antaranya Umar bin Al Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan yang lainnya mengamalkan hadits Nabi ﷺ, “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” Demikian juga diriwayatkan dari sebagian fuqaha’ dari kalangan tabi’in. Mereka berpendapat; tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali. Mereka adalah Sa’id bin Musayyab, Al Hasan Al Bashri, Syuraikh, Ibrahim An Nakha’i, Umar bin Abdul Aziz dan yang lainnya. Juga merupakan pendapat Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Abdullah bin Mubarak, Malik, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.”

.

– Sunan Tirmidzi no. 1021 | no. 1102. Shahih.

.

Bahaya meninggalkan hadits Rasulullah demi mengikuti pendapat seseorang ‼️

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Hampir saja batu jatuh dari langit menimpa kalian. Aku mengatakan : ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’. Tetapi kalian mengatakan : ‘Abu Bakar dan Umar berkata?’ “ [Matan Kitabut Tauhid di dalam Fathul Majid hal. 403]

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan : “Aku heran terhadap orang yang mengetahui sanad suatu hadits dan keshahihannya, tetapi mereka berpaling kepada pendapat Sufyan (Ats Tsauri). 

Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur : 63)

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash Shaff : 5)

Maka jangan ajarkan wajibnya taqlid kepada suatu Mazhab tertentu. Justru yang harus diperhatikan adalah memperbanyak waktu meneliti dan mempelajari hadits.

.

Kalau bisa baca dan teliti Kitab Hadits Tirmidzi, disitu beliau juga menulis fiqh (pemahaman) hadits nya dan juga menukil pendapat ulama Ahlu Sunnah.

.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: