Hanya Kepada Allah SWT Kita Mengadu.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. SURAH YUSUF : 86.

MANUSIA ITU AMAT LEMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا (27) 

يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا (28)

(27) Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).(28) Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. SURAH AN-NISA’.

Mutiara Kata Dari Abdurrahman Bin Muhammad Bin Husain Al-Masyhur

Mutiara Kata Dari Abdurrahman Bin Muhammad Bin Husain Al-Masyhur :

من غرس العلم إجتنى النباهة،

Siapa yang menanam ilmu maka ia akan memetik kecerdasan,

ومن غرس الزهد إجتنى العزة،

Siapa yang menanam rasa zuhud ( tidak cinta perkara haram ) maka ia akan memetik kemuliaan,

ومن غرس الإحسان إجتنى المحبة،

Siapa yang menanam kebaikan maka ia akan memetik cinta,

ومن غرس الفكرة إجتنى الحكمة،

Siapa yang menanam pemikiran maka ia akan memetik hikmah,

ومن غرس الوقار إجتنى المهابة،

Siapa yang menanam ketenangan maka ia akan memetik wibawa,

ومن غرس المداراة إجتنى السلامة،

Siapa yang menanam keramahan maka ia akan memetik kesalamatan,

ومن غرس الكبر إجتنى المقت،

Siapa yang menanam kesombongan maka ia akan memetik kebencian,

ومن غرس الحرص إجتنى الذل،

Siapa yang menanam kerakusan maka ia akan memetik kerendahan,

ومن غرس الطمع إجتنى الخزي،

Siapa yang menanam keserakahan maka ia akan memetik kehinaan,

ومن غرس الحسد إجتنى الكمد.

Dan siapa yang menanam iri maka ia akan memetik kesedihan.

BAHAYA UJUB

Waspadalah dari sifat tercela, karena sekecil apa pun pasti akan membawa akibat buruk terhadap urusan dunia dan akhirat. Dan segeralah membersihkan diri darinya, karena semua penyesalan pasti tiada guna.

      Ada satu sifat tercela yang banyak menjangkiti para pemimpin dan orang-orang yang Allah Azza wa Jalla amanatkan kepemimpinannya diatas pundak mereka.  Itulah  perasaan  takjub atau bangga diri terhadap kekuatan dan kebesaran namanya. Bangga diri adalah salah satu tipu daya setan., marilah kita simak kisah seorang nabi yang takjub kepada kepemimpinannya dan akibat yang harus dialami oleh diri dan kaumnya. Wallahul Muwaffiq.
        Sahabat Shuhaib (Ar-Rumi) ra. telah meriwayatkan sebuah hadist dari Rasulullah saw. dia mengatakan : “Setiap usai sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membaca sesuatu dengan suara pelan yang aku (Shuhaib ra.) tidak memahami apa yang beliau baca dan beliau juga (sebelum-nya) tidak mengabarkan kepada kami tentang hal itu. Lalu beliau Rasulullah saw.mengatakan : “Apakah kalian ingin tahu apa yang aku baca?” Para Sahabat menjawab : “Iya.” Beliau melanjutkan :
“Sesungguhnya aku teringat kisah seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu yang memiliki pasukan perang yang sangat banyak . Lalu sang Nabi tersebut mengatakan : “Siapakah yang dpat menandingi mereka?” atau “Siapakah yang bias mengalahkan mereka?” atau perkataan (lain) yang sejenisnya.”
Lalu Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya : “Pilihlah untuk kaummu salah satu diantara tiga pilihan berikut : akan dikuasakan atas mereka musuh-musuh mereka, atau merka akan ditimpa kelaparan, atau mereka ditimpa kematian.” Lalu ia bermusyawarah dengan kaumnya untuk menentukan pilihan tersebut, maka kaumnya mengatakan : “Engkau adalah Nabi Allah Azza wa Jalla maka segala keputusan adalah ditanganmu, pilihkan saja  untuk kami (yang terbaik). Ia pun beranjak melakukan sholat, dan mereka (para nabi) apabila sedang ditimpa kegelisahan akan bersegera melakukan sholat. Lalu ia pun sholat dengan bentuk shlat yang Allah Azza wa Jalla perintahkan.
Rasulullah saw.melanjutkan : Lalu dia (Sang Nabi) berkata : “Wahai Rabbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah saja kematian.” Maka kemudian mereka pun ditimpa kematian, sehingga (dalam sehari) meninggallah dai kaumnya tersebut tujuh puluh ribu orang.(Rasulullah saw. melanjutkan) : Maka bacaan lirihku yang kalian lihat adalah karena aku membaca :
“Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dan dengan-Mu pula aku menyerbu, serta tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah.”Kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Nabi saw. mengkisahkan bahwa ada nabi Allah yang diberi nikmat berupa pengikut yang banyak. Karena melihat seolah-olah kekuatan mereka tidak terkalahkan oleh musuh, timbullah rasa bangga dalam hatinya. Ia menyangka bahwa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan kekuatannya. Namun, tidaklah demikian seharusnya sikap seorang nabi.Sesungguhnya bangga terhadap diri sendiri, harta, dan anak keturunan adalah penyakit yang sangat jelek karena seorang mukmin yang sesungguhnya tidak akan terpedaya dengan banyaknya jumlah pasukan tatkala menghadapi musuh dan tidak menyiutkan nyalinya tatkala minimnya persiapan dan personil mereka karena kemenangan datang dari pemberian Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman :
“…Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allh yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS.Ali Imron [3] : 126)
“…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqoroh [2] : 249)Dan bahkan pada sebagian keadaan, kebanggaan dengan jumlah yang besar adalah satu sebab kekalahan. Allah Azza wa Jalla berfirman :
“….Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS.at-Taubah [9] : 25)
Sang Nabi dalam kisah diatas dihukum akibat berbuat kesalahannya. Allah Azza wa Jalla menawarkan kepadanya untuk memilih salah satu dari tiga pilihan terkait dengan kaumnya yaitu memilih bahwa akan ada suatu kaum lain yang bisa mengalahkan mereka, atau mereka akan ditimpa paceklik panjang, atau memilih ditimpakan kematian atas kaumnya.Sungguh tiga pilihan yang sama-sama berat, karena semuanya akan dapat menyebabkan kelemahan dan hilangnya kekuatan mereka dan juga akan menghilangkan rasa bangga. Seandainya ada kaum lain yang dapat mengalahkan mereka maka kaum tersebut akan menghinakan mereka.
Apabila mereka ditimpa kelaparan maka beratnya rasa lapar akan menghilangkan kekuatan mereka sehngga musuh akan sangat mudah menghancurkan dan mengalahkan mereka. Demikian juga, apabila mereka ditimpakan kematian, hal itu pun akan mengurangi jumlah dan kekuatan pasukan mereka. Maka memilih salah satu dari ketiga pilihan tersebut bukan masalah ringan karena berkonsekuensi pada kelemahan mereka. Pertimbangan yang ekstra hati-hati sangat dibutuhkan. Oleh karenanya, Sang Nabi memanggil kaumnya dan bermusyawarah menentukan pilihan terbaik untuk mereka. Namun, kaumnya tersebut justru menyerahkan segala urusan kepadanya. Mereka mengatakan : “Engkau adalah seorang Nabi, maka segala putusan ada di tanganmu.”
Para Nabi dan Rasul adalah orang yang diberi petunjuk dan berkata benar. Nabi tersebut memilih untuk mereka sebuah pilihan yang paling tepat dan terbaik karena ia memilih pilihan ketiga yaitu ditimpakan kematian atas kaumnya. Ia tidak memilih untuk ditimpakan atas mereka kelaparan atau dikalahkan oleh musuh. Alasannya, kalaupun tidak mati hari ini mereka pun pasti akan mati pada hari-hari yang lain karena kematian adalah sebuah kepastian yang siapapun tidak akan bisa mengelak dimana pun dia berada dan kapan pun juga. Orang-orang yang lebih dahulu diwafatkan akan berharap bahwa segala amal perbuatan mereka dapat diterima  di sisi-Nya sedang orang-orang yang masih tinggal setelahnya akan menjadikannya sebagai sebuah nasihat dan peringatan baginya. Demikian pula, bisa jadi Allah Azza wa Jalla akan menambah lagi jumlah mereka yang sekarang tinggal sedikit karena segala perkara berada di tangan Allah Azza wa Jalla.
Sang Nabi segera sujud kepada Allah Azza wa Jalla, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla untuk dipilihkan pilihan terbaik untuknya. Demikianlah kebiasa-an para Nabi dan orang-orang yang sholih. Tatkala ditimpa kegundahan mereka bersegera menegakkan sholat. Sang Nabi sholat dengan bentuk sholat yang Allah kehendaki. Maka Allah memilihkan baginya pilihan yang paling ringan.
Dia berkata kepada Robbnya: “Wahai Robbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah kami kematian.”
Maka tibalah saatnya musibah kematian datang kepada mereka sehingga meninggallah dari kaumnya tersebut dalam sehari sebanyak 70.000 orang.Sungguh akibat buruk dari perasaan bangga Sang Nabi sungguh menakutkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun sangat khawatir akan terjadi pada kaumnya semisal apa yang telah terjadi pada kaum nabi tersebut.sebabitu, selesai sholat dan seusai mengisahkan kisah nabi tersebut kepada para sahabatnya, beliau mengucapkan – dengan suara lirih – do’a diatas.
Beliau berlepas diri dari segala perasaan bangga serta menyerahkan segala daya dan kekuatan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau berlepas diri dari sekadar bersandar pada kekuatan para sahabat. Tatkala menghadang musuh beliau hanya bersandar kepada Allah Azza wa Jalla semata karena dari-Nya-lah saja pertolongan  dan dari-Nya-lah pula kemenangan. Sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya milik Allah Azza wa Jalla. Wallahul Muwaffiq. C&P.

Bahaya sifat bakhil atau kikir

Di dalam kekayaan dan kemiskinan memiliki banyak jebakan yang sangat luar biasa bahayanya apalagi ketika manusia berada dalam posisi kaya raya. Di antara jeratan yang bisa menyerat manusia terjerumus ke dalam lembah siksa yang pedih adalah terinfeksi penyakit bakhil.
      Sifat bakhil atau kikir atau pelit adalah merupakan penyakit yang biasa muncul dengan sendirinya begitu manusia telah banyak memperoleh harta benda. Termasuk yang menjadi pemicu utama berkembang biaknya virus ini adalah pemikiran-pemikiran sesat yang telah dikelabui oleh setan. Di dalam benak mereka sering timbul perasaan dan statemen “Buat apa kami menghambur-hamburkan harta yang telah kami peroleh dengan susah payah untuk hal-hal yang tidak bisa membuat kami senang”. Tak jarang juga mereka beranggapan “Kalau Alloh memang berkehendak menja-dikan mereka hidup sudah barang tentu Alloh-lah yang akan menjamin kehidupan mereka. Kami tidak ada hubungan dengan mereka. Masalah mereka makan atau tidak itu urusan mereka dengan Alloh”.
     Orang yang punya karakter bakhil alias kikir memang sangat egois dengan kehidupan sekelilingnya. Sehingga manusia yang memiliki tabiat ini cenderung dan sering diisolasikan oleh masyarakat sekitar-nya. Bahkan Allah sendiri melalui Rasul-Nya telah mengancam mereka yang kikir akan selalu dijauhkan dari sisi-Nya, dari manusia dan surganya Allah. Dan sifat inilah yang pernah menjadi momok menakutkan yang menjadikan mereka orang-orang tempo dulu dimusnahkan dari muka bumi ini. Karena pada masa lalu sifat ini telah jadi biang keladi mereka untuk saling bunuh, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah. Kalaupun untuk mempertahankan apa yang mereka punya itu harus ditempuh dengan berdusta, menga-niaya orang lain atau bahkan memutuskan hubungan sanak saudara semua itu pasti akan mereka lakukan.
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya  di hari kiamat. (Q.S. Al-‘Imron : 180)
      Bakhil memang merupakan sifat yang sangat berbahaya dan menakut-kan. Sehingga ia bisa menggagalkan seseorang yang mati berperang di jalan Alloh (jihad) untuk menda-patkan predikat Syahid. Hal ini pernah terjadi pada masanya Rosululloh. Suatu ketika seorang sahabat tewas di dalam medan pertempuran hingga banyak orang yang menangisinya, termasuk seorang perempuan yang selalu merintih-rintih dan beranggapan dia akan masuk sorga karena mati membela agama Allah (Syahid). Mengetahui ini Rosulullah langsung berkata kepada perempuan itu “Bagaimana engkau tahu kalau dia ini seorang yang Syahid? Karena bisa jadi semasa dia hidup pernah berbicara hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya atau ia berlaku kikir terhadap harta yang sebenarnya tidak menjadikan ia kekurangan”.
      Rasulullah sangat khawatir sekali akan dihinggapi sifat tercela ini. Sampai beliau tidak pernah sekalipun menolak permintaan orang lain. Bagi beliau seorang mukmin yang benar-benar beriman adalah orang yang di dirinya tidak memiliki perasaan kikir. Bahkan Allah lebih senang terhadap orang yang sangat bodoh tetapi mempunyai sifat dermawan dari pada orang yang khusyu’ beribadah namun memelihara perbuatan bakhil.
      Yang lebih menakutkan lagi adalah ancaman neraka bagi mereka yang bersifat bakhil. Rosululloh sendiri pernah menyuruh seseorang yang punya pekerti ini untuk meyingkir dari dekat beliau saat bertemu. Beliau sangat takut terbakar oleh api yang dibawa orang tersebut. Menurut beliau manusia yang ber-laku bakhil adalah seorang pendosa dengan kotoran dosa yang sangat besar sekali. Bisa jadi lebih besar dari tujuh lapis bumi, langit, gunung atau laut. Sebagaimana sabda rosululloh kepada orang tesebut “Demi dzat yang mengutus diriku dengan membawa petunjuk dan keagungan atau kedermawanan. Andaikan engkau beribadah diantara Rukun Yamani dan Maqom Ibrohim selama dua juta tahun lalu kau menangis sehingga air matamu mampu mengaliri sungai-sungai dan dapat menyirami pepohonan sedangkan keadaanmu masih terhina (kikir) maka niscaya Alloh akan menjeru-muskanmu ke neraka. Celakalah dirimu! Apa engkau tidak tahu kalau kebakhilan adalah kekufuran? Apa engkau juga tidak tahu jika kekufuran itu berarti neraka.   Alangkah celakanya orang yang bakhil. Gara-gara tabiatnya itu amal ibadah selama berjuta-juta tahun ternyata tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya dari siksa neraka.
    Dampak yang ditimbulkan oleh sifat ini tidak hanya bisa dirasakan pemiliknya saja. Bahkan orang lain pun bisa terkena getahnya. Seseorang yang terlalu sering melihat orang bakhil atau malah bergaul dengannya maka hatinya bisa menjadi keras sekeras baja dan yang pasti dia bisa tertular. Dan merupakan ciri khas orang mukmin adalah selalu merasa susah kalau bertemu orang bakhil. Karena bakhil adalah kekasih syetan.
     Untuk memberantas penyakit ini hanya ada satu penawar, yaitu manusia harus membekali diri dengan sifat sakho’. Sakho’ atau dermawan adalah perasaan suka memberi orang lain tanpa didasari pamrih sama sekali. Dan menjadi kebalikan dari sifat bakhil, orang yang punya sifat ini akan senantiasa disenangi masyarakat sekitar, lebih dicintai oleh Allah meski dia bukanlah tipe orang yang giat beribadah dan dia akan lebih berpeluang untuk masuk surga dari pada orang bakhil yang gemar beramal ibadah.
      Sifat dermawan ini sebenarnya juga memiliki beberapa tahapan dan tingkatan. Namun seseorang itu telah dapat mencapai klimaknya jika ia telah mempunyai sifat itsar (mengede-pankan orang lain). Itsar ialah mendermakan hartanya walaupun sebenarnya ia sangat membutuh-kannya. Namun karena ada orang lain yang memerlukannya juga maka ia mendahulukan orang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu. Demikian pula orang yang bakhil. Ia akan dapat mencapai puncak kebakhilannya jika masih saja menahan hartanya walaupun untuk kebutuhan pribadinya. Sehingga seandainya dia sakit, dia tidak akan mengeluarkan hartanya sepeserpun untuk berobat kecuali jika ia mendapatkan obat tersebut secara gratis.
      Dari banyaknya penjelasan yang telah diterangkan oleh syara’ mungkin kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa bakhil adalah termasuk sifat tercela yang bisa mengakibatkan kehancuran pemiliknya. Tapi apakah kesimpulan tersebut sudah dapat menjawab pertanyaan apa sebenarnya hakikat bakhil itu dan bagaimana pula seseorang itu bisa mendapat status bakhil? Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa dirinya adalah seorang dermawan dan orang lain semuanya bakhil. Dan juga tidak jarang orang selalu berbeda-beda dalam menilai orang lain. Terkadang menurut si A dia adalah orang yang dermawan namun menurut si B dia adalah seorang bakhil.
    Bakhil bukanlah berarti orang yang menahan hartanya. Karena setiap manusia pasti memiliki sifat cinta harta benda. Dan karena kecintaan inilah maka dia akan selalu berusaha menjaga dan menahan hartanya. Dan kalau ini dianggap sebagai sifat bakhil maka tidak akan ada orang yang bisa selamat dari kebakhilan ini.
      Pengertian bakhil dan sakho’ menurut pandangan agama pada hakikatnya lebih sederhana dari pada pengertian yang biasa dipahami oleh masyarakat umum. Bakhil bukan berarti menahan harta benda saja tetapi bakhil adalah mencegah diri untuk mengeluarkan harta benda yang semestinya dan wajib ia keluarkan. Seperti halnya ketika seseorang itu seharusnya wajib memberi nafkah keluarganya sebesar Rp. 1.000 rupiah, namun ternyata yang ia berikan hanya Rp. 900 rupiah.
      Orang yang bakhil juga tidak bisa diartikan sebagai orang yang tidak mau memberi. Karena sebakhil apapun seseorang pasti ia mau memberi walau hanya sedikit jumlahnya. Dan sebaliknya orang yang dermawan juga pasti akan berpikir seribu kali kalau ada orang lain yang meminta semua harta bendanya. C&P.

70 Ribu Malaikat Menaungi Dan Mendoa Kebaikan Kepada Penziarah Mereka Pesakit.

Sesungguhnya menjenguk orang muslim yang sakit dianjurkan secara ijma’ para ulama’. Menurut kebanyakan para ulama’ hukumnya sunah. “Orang yang menjenguk orang sakit seakan-akan berjalan di kebun surga hingga ia kembali.” (H.R. Muslim).
      Menurut ulama’ Malikiyah yang dahulu hukumnya adalah fardhu kifayah. Sedang menurut imam Bukhari hukumnya wajib. “Tiga perkara, seluruhnya hak yang wajib bagi setiap orang muslim ; Menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menjawab orang yang bersin bila memuji kepada Allah Ta’ala.” (H.R. Bukhari).
      Tidak disunahkan berkunjung kepada orang fasik yang sakit yang dengan jelas mengerjakan kefasikan dengan terang-terangan.
      Untuk batas sakit yang sunah dikunjungi adalah sakit yang sekiranya diperbolehkan mening-galkan shalat Jum’ah.
      Oleh karena itu tidak disunah-kan mengunjungi orang yang sakit gusi atau sekedar kepala pusing yang ringan dan lainnya. “Tiga macam orang yang tidak perlu dijenguk ; Orang yang sakit mata, orang yang sakit gigi, dan orang yang menderita bisul.” (H.R. Baihaqi).
      Beberapa ulama’ muta-akhirin berkata : “Sesungguhnya mengunjungi orang sakit di hari Jum’ah lebih afdhal dari pada berkunjung di hari lain.
      Sebelum berkunjung diharap-kan berwudhu terlebih dahulu. “Barang siapa berwudhu dengan sebaik-baiknya kemudian menjenguk sesama muslim (yang sedang sakit) karena mengharap ridha Allah, pasti ia akan dijauhkan dari neraka jahannam sejauh 70 tahun perjalanan.” (H.R. Abu Daud).
      Dalam berkunjung diharapkan mencari waktu yang tepat dan tidak menyusahkan si sakit serta keluarganya, bahkan berupaya menghibur dan membahagiakan-nya.
      Disunahkan bagi orang yang berkunjung untuk menggembira-kan hati orang yang sakit, dengan cara menyebut pahala orang yang sakit dan pahala sabar terhadap penyakit yang dideritanya. “Tiada hal yang menimpa seorang mu’min dari pada kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan sehingga duri yang menusuk tubuhnya kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahan nya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Di hadits lain juga disebutkan : “Pada hari kiamat orang yang mati sahid didatangkan, lantas diberhentikan untuk dihisab, lalu orang yang ahli sedekahpundidatangkan, lantas dihisab. Lalu orang yang sering menerima cobaan didatangkan, lalu mereka tidak ditimbang amal perbuatannya dan tidak dihisab. Akhirnya pahala musibahnya dituangkan kepadanya, sehingga orang yang jarang menerima bala’ itu berkeinginan di tempat peng-hisaban amal perbuatan itu agar tubuh mereka diguntingi, lan-taran melihat kebaikan pahala yang banyak dari Allah. (H.R. Thabrani).
      Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan penyakit yang dideritanya.
     Menganjurkan kepada si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah yang diberikan kepadanya. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Baqarah : 153).
     Menyarankan bertawakkal kepada Allah yang dibarengi dengan berusaha (berobat) dan berikhtiar (berdo’a). “Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Al-‘Imron : 159).
      Hendaklah memberi ucapan/ mengatakan dengan ucapan yang baik. “Umu Salamah berkata : Rasulullah bersabda kepadanya ; Apabila kalian menjenguk orang yang sakit atau wafat, ucapkanlah yang baik-baik sesab malaikat mengamini apa-apa yang diucapkan olehmu.” (H.R. Turmudzi).
      Hendaklah memberikan se-suatu yang diingini orang sakit bila tidak membahayakan penyakitnya, juga tidak usah menghentikan sambatnya. Sungguh keliru orang yang menyatakan bahwa merintih atas penyakit adalah mahruh.
      Bila yang berkunjung itu mampu untuk memberikan petunjuk dengan cara yang halus dan mengatakan dihadapannya bahwa dzikir itu perbuatan yang lebih utama. Maka menganjur-kannya  membaca dzikir. Diantara dzikir yang dianjurkan adalah : Membaca surat Al-Ihlas. “Barang siapa yang membaca surat Qul huwallahu ahad di waktu sakit yang membikinnya mati seratus kali, maka di dalam kuburannya tidak mendapat fitnah kubur, aman dari himpitan kubur, dan para malaikat membawanya di atas sayap  mereka sehingga bisa melewati jembatan Jahannam untuk menuju Surga.” (H.R. Thabrani).           Atau dzikir yang dibawah ini : “Setiap orang muslim yang membaca pada waktu sakit ‘La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin’ (Artinya tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Maha suci Engkau, sesungguh-nya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri) empat puluh kali. Lantas dia meninggal dunia dalam sakit tersebut maka diberi pahala orang yang mati sahid, bila sembuh maka sembuh dalam keadaan seluruh dosanya diampuni.” (H.R. Al-Hakim).

Sesungguhnya orang yang menjenguk orang yang sakit diberi nauangan oleh Allah dengan tujuh puluh lima ribu malaikat (H. R. Thabrani)

“Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit, maka dia senantiasa berada dalam sebuah taman surga sampai dia pulang kembali.”                 H.R. Muslim no. 6716
      Hendaklah orang yang berkunjung mendo’akan atas kesembuhan penyakit yang dideritanya. Salah satu do’a yang pernah diajarkan Rasulullah saw. adalah sebagai berikut : “Dari Anas ra. sesungguhnya dia berkata kepada Tsabit : “Maukah engkau aku suwuk (ruqyah) dengan suwuk Rasulullah saw.? Tsabit menjawab : Ya. Lalu anas berkata : Allahumma robban nasi mudzhibal ba’si isyfi antasy syaafi laa syaafiya illaa anta syifaa-un laa yughadiru saqamaa. ( Artinya ya Allah, Tuhan manusia Dzat yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah (penyakit ini), Engkaulah yang dapat menyem-buhkan penyakit, tidak ada yang mampu menyembuhkan penyakit kecuali Engkau, dengan penyem-buhan yang tidak meninggalkan penyakit).” (H.R. Bukhari).
      Hendaknya bila menjenguk orang sakit, maka dapat mengambil pelajaran dari orang yang dijenguk, setidak-tidaknya dapat menggunakan waktu sehatnya sebelum kedatangan waktu sakit, yang kedatangan-nya tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw. “ Guna-kan (manfaatkan) 5 kesempatan sebelum datang 5 hal yang lain :
1. Gunakan  masa mudamu sebelum datang masa tuamu.2. Gunakan masa  sehatmu sebelum datang masa sakitmu.3. Gunakan masa kayamu sebelum datang masa fakirmu.4. Gunakam masa hidupmu sebelum datang masa matimu.5. Gunakan masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu.” (H.R. Hakim dan Baihaqi).

SIFAT SOMBONG


      
“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang merebutnya dariku, maka Aku akan menghancurkannya” (Hadits Qudsi)
      Sifat sombong memang sudah menjadi naluri manusia. Sifat sombong ini timbul karena manusia mempunyai nafsu Robbaniyah. Yaitu nafsu yang selalu ingin menang sendiri, angkuh, pemaksa, sombong, dll. Namun demikian bukan berarti hal  tersebut dijadikan sebagai justifikasi dan legalisasi diri untuk melakukan tindakan bodoh itu. Hal tersebut tidaklah lebih dari sekedar sebagai ujian baginya, mampukah dia mengendalikan atau bahkan terjebak di dalam kubangannya. Karena kesom-bongan adalah sifat ke-Tuhan-an, seseorang yang nekat memakainya maka secara tidak langsung dia telah menantang Tuhan. Dan Tuhan akan menghacurkannya. Sebaliknya seorang hamba yang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai orang yang baik maka ia akan dapat mengontrol nafsunya tersebut ketika bergolak.
     Tidak sedikit ayat dan hadits yang menjelaskan tentang jeleknya peri-laku sombong. Bahkan Rosulullah dengan tegas mengancam orang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya secuil biji sawi bahwa dia akan masuk neraka. 
      Bukan hanya orang awam saja yang bisa terkena penyakit ini. Namun orang-orang yang sudah mencapai derajat tinggi dalam ibadah, kezuhudan, dan kealiman masih sangat sulit terhindar darinya. Apalagi orang-orang yang tidak mengerti apa-apa. Menurut Imam Muhammad bin Husain bin Ali orang yang berlaku sombong itu berarti telah kehilangan akalnya sebesar kesombongan yang telah ia lakukan. Jadi wajar jika mereka tidak akan pernah bisa berfikir waras dan tak akan memperdulikan dampak dari perbuatan yang ia lakukan. Iblis juga tidak akan pernah berfikir bahwa akibat dari kesombongannya tidak mau tunduk perintah Allah untuk sujud kepada nabi Adam adalah dideportasi dan diusir dari surga selama-lamanya. Dia tidak mengerti bahwa argumentasinya sebagai makhluq yang lebih baik dari nabi Adam karena dirinya terbuat dari api sedang adam dari tanah liat itu tidaklah bisa dijadikan sebagai alibi untuk menentang wahyu dan perintah Allah.
      Hakekat takabbur adalah kecen-derungan pribadi jiwa yang selalu merasa lebih baik dari pada orang lain. Maka seorang yang merasa dirinya hebat namun dia juga merasa bahwa masih ada orang lain yang sepadan atau lebih hebat dari dirinya maka ia tidak bisa dianggap sebagai orang sombong. Atau menganggap orang lain sebagai orang yang hina namun dia juga merasa bahwa dirinya masih lebih hina dari mereka maka dia juga tidak bisa disebut mutakabbir. 
      Akan tetapi, meskipun itu semua tidak dianggap sebagai takabbur, bukan berarti hal tersebut diperkenankan. Karena bagaimana-pun juga punya perasaan bahwa dirinya punya kelebihan atas yang lain adalah merupakan cikal bakal dari pertumbuhan sifat takabbur. Rosulullah sendiri sangat khawatir mengalami hal yang demikian. Sehingga beliau berdoa: “Allahumma inni a’udzu bika min nafkhotil kibriya’”. (Yaa Allah aku berlindung kepada-Mu dari tiupan kesombongan). Karena ketika seseorang memiliki pandangan yang demikian maka ia akan merasa besar, terbang melayang, dan merasa punya kelebihan dan keagungan.     Orang yang sudah terjangkiti sifat sombong maka ia akan menganggap bahwa orang lain lebih hina dari dirinya. Sehingga ia tidak akan mau melayani kebutuhan mereka. Tetapi sebaliknya merekalah yang harus melayani dirinya. Ketika ada pertemuan maka dirinya akan selalu menempati tempat kehormatan, ketika saling bertemu tidak mau memulai berucap salam, ketika diberi tahu maka dia akan menolak, ketika memberitahu dia akan berkata keras dan kasar, ketika nasehatnya tidak diterima maka dia akan marah, ketika mengajar mereka tidak mau bersikap lemah lembut kepada santrinya, bahkan mereka akan diperbudak olehnya. Tragisnya lagi di mata dia semua manusia itu ibarat keledai dungu yang tidak mengerti apa-apa.
Macam-macam sombong

1. Sombong kepada Allah. Pemicunya adalah murni kebodohan dan ketololan akan siapa diri sendiri. Sebagaimana yang dilakukan oleh raja Namrudz dan raja Fir’aun yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Bahkan menantang akan berperang dengan Allah. Ketika mereka disuruh untuk menyembah Allah Ar Rohman, mereka malah bertanya sambil mengejek: “Apa Allah Ar Rohman itu? Haruskah kami menyembah kepada apa yang kamu perintah-kan?”. 
2. Sombong kepada Utusan Allah. Pemicunya biasanya bermula dari tipuan akal pikiran. Sehingga meskipun dirinya merasa sebagai orang pandai namun hakekatnya dia masihlah bodoh. Atau sebenarnya memang dirinya adalah bodoh akan tetapi tidak mau tahu akan kebodohannya. Sehingga mereka tidak akan pernah mau patuh dan tunduk terhadap perintah Rosul. Sebagaimana yang pernah terjadi pada orang Bani Isro’il ketika mereka diperintah supaya beriman dua utusan yang dikirimkan oleh Allah. Mereka bilang: “Akankah kami beriman kepada dua orang manusia yang seperti kami juga?”. Dan mereka beranggapan kalau para utusan itu manusia biasa seperti halnya mereka dan pengikut-pengikut mereka adalah orang-orang yang tolol.
     Orang yang sombong tidak akan pernah mau menerima kebenaran dan tidak mau disalahkan. Seperti halnya orang-orang Quraisy yang tidak pernah mau mengakui kebenaran nabi Muhammad. Karena mereka merasa lebih baik dari pada nabi Muhammad. Sehingga merasa gengsi jika harus tunduk kepada beliau.
3. Sombong kepada makhluq. Yaitu merasa lebih baik dari mereka. Sehingga dirinya tidak akan mau kalau dipersamakan dengan orang lain. Karena semuanya kecil baginya. Kesombongan ketiga ini meskipun derajatnya paling bawah namun akibatnya masihlah tetap besar. Demikian ini karena manusia pada fitrohnya adalah makhluq yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Dan keagungan serta kebesaran hanyalah milik Allah. Maka jika dia berani keluar dari fitrohnya sehingga bertindak sombong maka berarti dia telah merebut miliknya Allah. Dan tidak ada orang yang paling layak mendapat murka Allah kecuali orang yang merampas milik-Nya tersebut.
     Orang yang berlaku sombong akan selalu bersebrangan dengan Allah. Karena ketika dirinya mendengarkan sebuah kebenaran dari orang lain maka dirinya tidak mau menerima dan menentangnya. Hal lumrah yang sering terjadi pada masa sekarang adalah ketika mereka menerima sebuah kebenaran maka mereka akan selalu merekayasa dan berusaha mencari cela untuk mengelabui dan menolak kebenaran itu. Mereka sudah ditipu oleh akal mereka dan menyalahkan kebenaran semestinya.
     Demikian ini sudah menjadi layaknya gaya pikiran orang-orang kafir. Mereka bilang sebagaimana dalam surat Fusshilat 26 yang artinya: Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)”. Maka seseorang yang berusaha mengkaburkan hukum agama dengan merekayasanya maka mereka berarti telah bersifat sebagaimana orang kafir. Demikian juga seseorang yang merasa keberatan ketika dinasehati oleh orang lain. Mereka layaknya berlaku seperti seorang kafir. Naudzubillahi min dzalik
     Maka meskipun kesombongan tingkat ketiga ini paling rendah akan tetapi jika dibiarkan ia akan menjadi hal yang menakutkan karena akan masuk pada wilayahnya Allah.
Pemicu utama kesombongan itu ada tujuh perkara, yaitu : ilmu, amal ibadah, nasab, fisik jasmani, kekuatan, dan anak buah