KEDUDUKAN HADIS  TUNTUTLAH  ILMU SAMPAI KE NEGARA CHINA

KEDUDUKAN HADIS  TUNTUTLAH  ILMU SAMPAI KE NEGARA CHINA

Seorang mahasiswi Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kawasan Kebayoran Lama Jakarta, akhir tahun 1994, ditanya oleh seorang warga masyarakat setempat. Katanya, “Siapakah yang meriwayatkan Hadis Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, dan mengapa Nabi Saw menyebutkan Cina, bukan Eropa saja?”. Pertanyaan ini sangat bagus, karena yang ditanyakan adalah periwayatnya, dan ini merupakan aspek sanad (silsilah keguruan Hadis), juga substansinya (mengapa menyebut Cina), dan ini menyangkut aspek matan (materi Hadis). Pertanyaan ini juga sekaligus membuktikan bahwa Hadis tersebut sudah memasyarakat.

Hadis Populer

Teks Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Hadis ini oleh para ulama Hadis dikategorikan sebagai Hadis masyhur yang non-terminologis, yaitu Hadis yang sudah populer di masyarakat meskipun – terkadang – hal itu belum berarti bahwa ia benar-benar Hadis yang berasal dari Nabi Saw. Sebab yang menjadi kriteria di sini adalah ia disebut Hadis oleh masyarakat umum, dan ia masyhur atau populer di kalangan mereka.

Sebagai bukti bahwa Hadis tersebut di atas itu termasuk Hadis masyhur non-terminologis (ghair ishtilahi) adalah ia dicantumkan dalam kitab-kitab yang khusus memuat Hadis-hadis masyhur. Misalnya kitab al-Maqashid al-Hasanah karya al-Sakhawi (w. 902 H)(1), aI Durar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytahirah karya al-Suyuti (w 911 H)()2, al-Ghammaz `ala al-Lammaz karya aI-Samhudi (w. 91 1 H)(3), Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits karya Ibn al-Daiba’ (w. 944 H)(4), Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas karya al-Ajluni (1162 H)(5), Asna al-Matalib karya al-Hut(6),  dan lain-lain.

Berbeda dengan Hadis masyhur yang terminologis (ishtilahi), yang ini adalah Hadis di mana jumlah rawi dalam setiap jenjang periwayatannya berkisar antara tiga sampai sembilan orang(7).

Rawi dan Sanad Hadis

Hadis Carilah ilmu meskipun di negeri Cina di atas tadi diriwayatkan oleh rawi-rawi antara lain, Ibn Adiy (w. 356 H) dalam kitabnya aI-Kamil fi Dhu’afa Rijal, Abu Nu’aim (w. 430 H) dalam kitabnya Akhbar Ashbihan, al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam kitabnya Tarikh Baghdad dan al-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Ibn Abd al-Barr (w. 463 H) dalam kitabnya Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, Ibn Hibban (w. 254 H) dalam kitabnya Majruhin, dan lain-lain(8).

Sementara sanadnya adalah, mereka semua menerima Hadis itu dari: aI-Hasan bin ‘Atiyah, dari Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, (dari Nabi Saw)(9).

Kualitas Hadis

Imam Ibn Hibban mengatakan, Hadis ini bathil la ashla lahu (batil, palsu, tidak ada dasarnya). Pernyataan Ibn Hibban ini diulang kembali oleh al-Sakhawi dalam kitabnya al-Maqhasid al-Hasanah. Sumber kepalsuan Hadis ini adalah rawi yang bemama Abu Atikah Tarif bin Sulaiman (dalam sumber Iain tertulis: Salman). Menurut para ulama Hadis seperti al-`Uqaili, al-Bukhari, al-Nasa’i, dan Abu Hatim, mereka sepakat bahwa Abu Atikah Tarif bin Sulaiman tidak memiliki kredibilitas sebagai rawi Hadis. Bahkan menurut al-Sulaimani, Abu Atikah dikenal sebagai pemalsu Hadis. Imam Ahmad bin Hanbal juga menentang keras Hadis tersebut(10). Artinya, beliau tidak mengakui bahwa ungkapan Carilah ilmu meskipun di negeri Cina itu sebagai Hadis Nabi.

Riwayat-riwayat Lain

Hadis tersebut juga ditulis kembali oleh lbn al-jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at (Hadis-hadis palsu). Kemudian al-Suyuti dalam kitabya al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah — sebuah kitab ringkasan dari kitab lbn al-jauzi ditambah komentar dan tambahan – mengatakan bahwa di samping sanad di atas, Hadis tersebut memiliki tiga sanad lain. Masing-masing adalah sebagai berikut.

1. Ahmad bin ‘Abdullah — Maslamah bin al-Qasim — Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-‘Asqalani – `Ubaidullah bin Muhammad al-Firyabi – Sufyan bin `Uyainah – al-Zuhri –Anas bin Malik – (Nabi Saw). Hadis dengan sanad seperti ini diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dan al-Baihaqi dalam kitab Syu’abal Iman.

2. Ibn Karram – Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari – al-Fadhl bin Musa – Muhammad bin ‘Amr – Abu Salamah – Abu Hurairah — (Nabi Saw). Hadis dengan sanad seperti ini diriwayatkan oleh Ibn Karram, seperti disebut dalam kitab al-Mizan (Mizan I’tidal fi Naqd al-Rijal) karya al-Dzahabi.

3. Dalam kitabnya al-Lisan (Lisan al-Mizan), Ibn Hajar al-Asqalani meriwayatkan Hadis itu dengan riwayat sendiri yang berasal dari Ibrahim al-Nakha’i — Anas bin Malik. Ibrahim berkata, “Saya mendengar Hadis itu dari Anas bin Malik”.

Sementara kualitas tiga sanad ini adalah sebagai berikut:

Dalam sanad pertama terdapat nama Ya’qub bin Ibrahim al-Asqalani. Menurut Imam al-Dzahabi, Ya’qub bin Ibrahim al-Asqalani adalah kadzdzab (pendusta). Dalam sanad kedua terdapat nama Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari, dia adalah seorang pemalsu Hadis. Sementara dalam sanad ketiga, Ibrahim al-Nakha’i tidak pernah mendengar apa-apa dari Anas bin Malik. Demikian kata Ibn Hajar al-Asqalani(11). Oleh karenanya, ia juga tidak lebih dari seorang pembohong.

Tidak Mengubah Kedudukan

Tiga sanad yang disebutkan al-Suyuti di atas ternyata tidak mengubah kedudukan Hadis yang kita kaji ini. Artinya Hadis tersebut tetap berstatus maudhu’ atau palsu, karena sanad yang disebutkan al-Suyuti tadi semuanya lemah. Karenanya, Ahli Hadis masa kini, Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani mengatakan bahwa catatan al-Suyuti itu laisa bi syai’in (tidak ada artinya)(12), karena tidak mengubah status Hadis tersebut, bahkan justru memperkuat kepalsuannya.

Biasanya, sebuah Hadis yang dha’if (lemah), apabila ia diriwayatkan dengan sanad lain yang juga lemah, maka ia dapat meningkat statusnya menjadi Hadis hasan li ghairih. Tetapi dengan catatan, kelemahannya itu bukan karena rawinya seorang yang fasiq (berbuat maksiat) atau ia seorang pendusta(13). Sementara Hadis “Belajar di negeri Cina” ini lain. Ia tidak dapat meningkat kualitasnya menjadi hasan li ghairih, karena kelemahannya adalah rawi-rawinya adalah orang-orang pendusta, bahkan pemalsu Hadis.

Sementara itu, ahli Hadis masa kini, Prof. Dr. Nur al-Din ‘Itr ber pendapat bahwa meskipun Hadis “Mencari ilmu di negeri Cina” itu tidak dapat meningkat kualitasnya dari dha’if menjadi hasan li ghairih, namun beliau juga tidak memastikan bahwa Hadis tersebut palsu. Beliau hanya menetapkan bahwa Hadis tersebut sangat lemah (dha’if syadid)(14). Sayang, Nur al-Din ‘Itr tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan dha’if syadid (lemah sekali) itu. Sebab Hadis palsu adalah Hadis yang paling lemah.

Dalam disiplin ilmu Hadis, Hadis yang sangat parah kelemahannya, seperti Hadis Maudhu, Hadis matruk dan Hadis munkar tidak dapat dijadikan sebagai dalil apa pun, hatta untuk dalil amal-amal kebajikan (fadhail al-a’mal , sebab salah satu syarat dapat digunakannya Hadis-hadis dha’if untuk dalil-dalil fadhail al-a’mal adalah kedha’ifan Hadis-hadis tersebut tidak parah. Sedangkang Hadis “Mencari ilmu di negeri Cina” itu sangat parah kedhai’fannya. Oleh karena itu, meskipun Prof. Dr. Nur al-Din `Itr berbeda pendapat dengan Syeikh Nashir al-Din al-Albani dan Ibn al-Jauzi dalam menilai Hadis tersebut, namun dalam prakteknya mereka sepakat bahwa Hadis tersebut tidak dapat digunakan untuk dalil apa pun, baik untuk aqidah, syariah maupun akhlaq dan fadhail aI a’mal.

Rawi Kontroversial

Sementara itu, Imam Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa Ya’qub bin Ishaq al-Asqalani yang dinilai sebagai kadzdzab (pendusta) oleh Imam al-Dzahabi, ternyata disebut-sebut oleh Maslamah bin al-Qasim dalam kitabnya al-Shilah. Maslamah menuturkan bahwa ada beberapa guru Hadis menyebut-nyebut Ya’qub bin Ishaq al-Asqalani kepadanya. Maslamah juga berkata, “Saya menulis Hadis dari Ya’qub bin Ishaq dan saya lihat para guru Hadis menulis Hadis dari padanya. Ya’qub juga diperselisihkan di antara para ahli Hadis, ada yang menilainya majruh (inkredibel), dan ada yang menilainya tsiqah (kredibel). Bagi saya,” begitu Maslamah melanjutkan, “Ya’qub bin Ishaq adalah shalih wa ja’iz al Hadts (baik Hadisnya)(15)”

Bila demikian halnya, maka rawi yang bernama Ya’qub bin Ishaq al-Asqalani itu termasuk rawi yang kontroversial. Selanjutnya apakah hal itu dapat mengubah status Hadis tersebut menjadi Hadis yang shahih? Jawabannya adalah tetap tidak dapat. Mengapa? Karena dalam ilmu al-Jarh wa Ta’dil (evaluasi negatif dan positif atas rawi-rawi Hadis), terdapat kaidah bahwa apabila seorang rawi dinilai negatif (jarh) dan positif (ta’dil oleh para ulama kritikus Hadis, maka yang diunggulkan adalah pendapat yang menilai negatif apabila penilaian itu dijelaskan sebab-sebabnya(16). Dalam kasus Ya’qub bin Ishaq ini, al-Dzahabi telah memberikan penilaian negatif (jarh) dengan menjelaskannya sebagai seorang kadzdzab (pendusta)(17). Karenanya, penilaian ini harus dikedepankan, sehingga Ya’qub bin Ishaq tetap sebagai rawi yang majruh (inkredibel).

Selanjutnya, setelah diketahui bahwa Hadis di atas itu palsu, maka kini tidak perlu lagi menjawab pertanyaan “kenapa Nabi saw menyebutkan Cina, bukan Eropa”. Sebab ungkapan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Muhammad Saw, meskipun kalangan masyarakat awam menganggapnya sebagai Hadis.

Ungkapan itu boleh jadi mulanya adalah semacam kata-kata mutiara, karena konon Negeri Cina pada masa lalu sudah dikenal memiliki budaya yang tinggi. Kemudian lambat-laun unkapan itu disebut-sebut sebagai Hadis. Dan perlu diingat bahwa Hadis yang palsu sebagaimana dimaksud dalam jawaban ini adalah ungkapan sebagaimana termaktub dalam awal uraian ini yang terdiri dari dua kalimat, yaitu “Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Sementara itu, kalimat yang kedua yaitu “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”, merupakan Hadis shahih yang antara lain diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Imam, Imam al-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Shagir, dan al-Mu jam al-Ausath, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikh Baghdad dan lain-lain(18).

Wallahu a lam.

Nota kaki:

* Majalah AMANAH, No. 219, 16-29 Desember 1994.

1. Al-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, Koreksi dan Komentar : Abdullah Muhammad al-Shiddiq, Dar al-Kutub al-‘llmiyah, Beirut, 1399 H/ 1979 M, HaI.93.

2. Al-Suyuti, al-Duraral-Muntatsirah Fi al-Ahadits al-Musytahirah, Editor Dr Muhammad Lutfi al-Shabbagh, King Saud University Press, Riyadh, 1403 H/1983 M, hal. 71.

3. Al-Samhudi, Abu aI-Hasan, al-Ghammaz min al-Lammaz, Editor Muhammad Ishaq Muhammad Ibrahim al-Salafi, Daral-Liwa, Riyadh, 1401 H/1981 M, hal. 35.

4. lbn al-Daiba’, Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits, Dar al-Kutub al-`llmiyah, Beirut 1401 H/ 1981 M, hal. 30.

5. Al-Ajluni, Isma’iI bin Muhammad, Kasyf al- Khafa’ wa Muzil aI-Ilbas, Editor Ahmad al-Qallasy, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1403 H/1983 M, 1/154.

6. Al-Hut, Muhammad Darwisy, Asna al- Matalib, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1403 H/1983 M, hal. 59,

7. AI-Tahhan, Mahmud, Dr, Taisir Mushthalah al-Hadits, Dar al-Qur`an al-Karim, Beirut, 1399 H/1979 M, hal. 22. 

8 .Ibn Hibban, Kitab al-Majruhin, Editor Mahmud Ibrahim Yazid, Dar al-Ma’rifah, Beirut, tth. 1/ 282. lbn Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, Dar aI-Fikr, tt., tth., 1/9. Al-Albani, Muhammad Nashir al-Din, Silsilah al-Ahadits al Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, al-Maktab al-lslami, Beirut, 1398 H, 1/413-416.

9. Ibid. lbn Hibban, Loc. Cit. Ibn Abd al-Barr, Loc. Cit.

10. Al-Albani, Loc. Cit.

11 Al-Suyuti, al-La’ali al-Mashnu’ah al-Ahadits al-Maudhu’ah, Dar al-Ma’rifah, Beirut, tth., 1/193.

12 AI-Albani, Op. Cit., 1/414

13. Al-Tahhan, Op. Cit., hal. 51.

14. Nur al-Din ‘ltr (Editor) dalam: al-Khatib al-Baghdadi, al-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Dar al¬Kutub al-‘Ilmiyah’ Beirut, 1395 H/1975 M, hal. 75.

15 al-Suyuti, Loc. Cit.

16 Mahmud al-Tahhan, Ushul al-Takhrij Wa Dirasat al-Asanid, Dar al-Qur’an al-Karim, Beirut, 1399 H/1979 M, hal. 162.

17 Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi, Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, Editor Ali Muhammad aI-Bijawi, Daral-Fikr, ttp., tth., IV/449.

18. Jalal aI-Din al-Suyuti. al-Jami` al-Shaghir, Dar al-Fikr, Beirut. 1401 H/ 1 981 M,II/ 131.

Forex Tak Haram

FOREX TAK HARAM

FOREX sebernarnya tak haram. Cuma menjadi haram bila tiada produk di tangan.

Yang dikatakan haram adalah FOREX melalui medium elektronik seperti internet. Sebab semua transaksi tidak melibatkan matawang fizikal.

Asas jual beli dalam Islam, mesti ada produk atau servis.Jika tiada produk atau servis hukumya haram.Jelas.

Contohnya begini.

Berdagang matawang melalui internet dari laman web xxxxforex.com apabila anda membeli 100USD contohnya tetapi anda tidak mendapat 100USD.Sebaliknya nilai 100USD adalah di dalam talian sahaja.

Ini haram.

Berbanding andamembeli 100USD di kaunter tukaran wang asing, ada dapat 100USDdi tangan anda. Jika 100USD kadarnya meningkat berbanding ringgit, dan anda menjualnya untuk mendapat untung.Maka hukumnya halal. Tiada masalah pun.

Jadi sudah jelas.

Untuk rujukan bolehlah layari fatwa Malaysia tentang FOREXdi

http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-perdagangan-pertukaran-matawang-asing-oleh-individu-secara-lani-individual-sp

Harap membantu

http://ceritatakbenar.blogspot.com/2014/12/forex-tak-haram.html

Tatasusila Apabila Makin Kita Berumur…

Tatasusila Apabila Makin Kita Berumur…

1. Makin kita berumur, solat kita tak boleh lewat

2. Makin kita berumur, solat kita kena buat berjemaah

3. Makin kita berumur, solat kita kena banyak, solat sunat kita kena lebih, lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya

4. Makin kita berumur, solat sunat Qobliyyah dan Ba’diah jangan tinggal

5. Makin kita berumur, buat solat sunat Qobliyyah 4 rakaat dan Ba’diah 4 rakaat waktu zohor, sebab nabi SAW dah bagitau, siapa buat Qobliyyah 4 dan Ba’diah 4, ALLAH haramkan badan dia daripada disambar api neraka, kita tak tau bila hari terakhir kita hidup di atas dunia ni

6. Makin kita berumur, buat solat sunat witir sebelum tidur

7. Makin kita berumur, solat sunat dhuha & tahajjud jangan tinggal

8. Makin kita berumur, paling tidak khatam Al- Quran 2 kali dalam setahun, setiap hari kena baca Al-Quran

9. Makin kita berumur, ambillah peluang puasa sunat, paling tidak sebulan sekali, nak cantik, seminggu dua kali

10. Makin kita berumur, zikir kita kena banyak, kita nak kurangkan bercakap yang tidak berfaedah, kita nak tambah amal, untuk kita di hari akhirat,

11. Makin kita berumur selawat ke atas junjungan Nabi Muhammad saw kena banyak

12. Makin kita berumur, akhlak kita kena jaga,

9 TANDA SESEORANG ITU SUDAH MATANG DALAM KEHIDUPAN

SEMBILAN (9) TANDA SESEORANG ITU SUDAH MATANG DALAM KEHIDUPAN

1. Kita berhenti menilai dan menghukum orang lain, tetapi fokus untuk merubah diri sendiri.

2. Kita boleh menerima orang lain seadanya. Kita faham makna perbezaan pendapat. Tidak perlu taksub.

3. Kita berani “melepaskan” kenangan lama yang pahit. Tidak berdendam dan simpan dalam hati.

4. Kita berhenti mengharap dan meminta dari orang, tetapi mula memberi. Biar sedikit kita memberi, tetapi jangan pernah meminta.

5. Kita melakukan sesuatu, hanya untuk mendapat ikhlas. Melakukan sesuatu bukan untuk mendapat nilaian, pujian dan pengiktirafan orang. Tidak tersinggung bila dikeji, dikutuk dan dihina orang.

6. Kita berhenti menunjuk kepandaian, kehebatan dan mula mengakui kepandaian, kebaikan dan kehebatan orang lain.

7. Kita berhenti membandingkan nasib kita dengan nasib orang lain. Kita membandingkan nasib diri kita yang semalam. Kita berdamai dengan diri sendiri. Tidak iri, dengki dan sakit hati melihat kelebihan orang lain.

8. Kita boleh bezakan “kehendak” dan “keperluan”, lalu mengutamakan keperluan dari kehendak .

9. Kita berhenti meletakkan nilai kebahagian pada kebendaan. Kita lebih menikmati “rasa kopi” dari menikmati “cantiknya cawan”.

Antara petunjuk yang kita sudah mencapai 9 tahap sahsiah di atas ialah kita tidak ada niat lagi mahu menunjuk diri kitalah yang terbaik.  Sebaliknya, hati kita memandu minda untuk mahu berbuat kebaikan. Niat mahu berkasih sayang dan beramal kebajikan.

MENGENAL ALLAH SWT… MENGAPA SIFAT ALLAH ADA 20 ?

MENGENAL ALLAH SWT… MENGAPA SIFAT ALLAH ADA 20 ?

Kadang kala ada pertanyaan, “Mengapa sifat Allah yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf hanya 20 sifat? Bukankah sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna ada 99?”.

“Perlu diketahui bahawa Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah tidak membataskan sifat-sifat Allah kepada 20 kerana 20 puluh itu adalah sifat Dzat Allah yang menjadi syarat ketuhanan (syart al-Uluhiyyah). Sedangkan sifat-sifat Allah yang lain adalah sifat af`al (sifat yang berkaitan perbuatan) Allah ta`ala. Dan sifat-sifat af`al Allah itu jumlahnya banyak serta tidak terbatas.”[1]

MENGAPA WAJIB MENGETAHUI SIFAT 20???

Dalam ma`rifatullah, Mazhab Ahl al-Sunah Wa al-Jama`ah telah mengetengahkan pemahaman terhadap konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat masyhur dan wajib diketahui oleh setiap individu muslim yang mukallaf. Akhir-akhir ini terdapat satu golongan yang dikenali sebagai Wahhabi telah mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan mengemukakan beberapa alasan yang antara lainnya adalah; tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadis nas yang mewajibkan pengethuan umat Islam terhadap sifat 20. Bahkan termaktub di dalam hadis sendiri bahawa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya sembilan puluh sembilan. Dari premis ini, timbul sebuah pertanyaan; mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya terhad kepada dua puluh sifat sahaja, bukan sembilan puluh sembilan sebagaimana yang terdapat di dalam al-Asma’ al-Husna?

Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dalam menetapkan sifat dua puluh tersebut sebenarnya bersumberkan daripada kajian dan penelitian yang cermat dan mendalam. Terdapat beberapa alasan ilmiah yang logik serta relevan dengan fakta nas yang sedia ada yang telah dikemukakan oleh para ulama’ berhubung latar belakang wajibnya mengetahui sifat dua puluh yang wajib bagi Allah subhanahu wata`ala, antaranya ialah:

Pertama,  setiap orang yang beriman harus meyakini bahawa Allah ta`ala wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Mereka harus meyakini bahawa mustahil Allah ta`ala memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Mereka juga harus meyakini pula bahawa Allah berkuasa melakukan atau meninggalkan penciptaan segala sesuatu yang bersifat mumkin iaitu seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan, memberi rezki, mengurniakan kebahagiaan , menimpakan kecelakaan dan lain-lain lagi. Kesemua ini adalah sekian bentuk keyakinan yang paling dasar yang perlu wujud di dalam hati setiap orang Islam.

Kedua, para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat sahaja. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib memiliki sekian sifat tersebut, sehingga sifat-sifatkamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan sahaja sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Imam al-Hafiz al-Bayhaqi:[2]

“وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ لِلَّهِ تَسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا)) لايَنْفِيْ غَيْرَهَا, وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَ تِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ”.

Maksudnya:

“Sabda Nabi sallallahu`alaihi wasallam :  Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama”, tanpa menafikan nama-nama selainnya. Nabi sallallahu`alaihi wasallam hanya bermaksud -wallahu a`lam-, bahawa barangsiapa yang menghitung sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk syurga”.

Pernyataan al-Hafiz al-Bayhaqi di atas bahawa nama-nama Allah ta`ala sebenarnya tidak terbatas  dalam jumlah sembilan puluh sembilan dengan didasarkan pada hadith shahih: [3]

“عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ… أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ “.

Maksudnya:

“Ibn Mas’ud berkata, Rasulallah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:” Ya Allah, sesungguhnya aku Hamba-Mu.. Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik yang Engkau namakan Dhat-Mu dengan-Nya, atau yang Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkannya kepada sesiapa di kalangan makhluk-Mu, atau yang hanya Engkau sahaja yang Mengetahui-Nya dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, jadikanlah al-Quran sebagai taman/pengubat hatiku, cahaya mataku, penghilang kesedihanku dan penghapus rasa gundahku”.

Hadis di atas menjelaskan bahawa di antara nama-nama Allah ta`ala yang telah dijelaskan di dalam al-Qur’an, ada di antaranya yang diketahui oleh sebahagian hamba-Nya dan ada yang hanya diketahui oleh Allah ta`ala sahaja. Sehingga berdasarkan kepada hadis tersebut, nama-nama Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99, maka apatah lagi 20 sifat yang telah dirumuskan oleh para ulama’ yang melaut ilmu mereka itu.

Ketiga, para ulama’ telah membahagikan sifat-sifat khabariyyah, iaitu sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis seperti yang terdapat di dalam al-Asma’ al-Husna, kepada dua bahagian. Pertama, Sifat al-Af`al al-Zat iaitu sifat-sifat yang ada pada Zat Allah ta`ala, yang antara lain adalah sifat 20. Dan kedua, Sifat al-Af`al, iaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah ta`ala, seperti sifat al-Razzaq, al-Mu`thi, al-Mani`, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliqdan lain-lain. Perbezaan antara keduanya adalah, sifat al-Zat merupakan sifat-sifat yang menjadiSyart al-Uluhiyyah, iaitu syarat mutlak ketuhanan Allah ta`ala. Kesemua sifat tersebut telah menyucikan zat Allah ta`ala daripada sebarang sifat yang tidak layak bahkan mustahil untuk disandarkan kepada zat Allah yang Maha Agung. Dari sini para ulama’ telah mentapkan bahawaSifat al-Zat ini adalah azali (tidak ada permulaan), dan baqa’ (tidak ada pengakhiran bagi Allah). Hal tersebut berbeza dengan Sifat al-Af`al, ketika Allah ta`ala memiliki salah satu daripada Sifat al-Af`al, maka lawan kepada sifat tersebut adalah tidak mustahil bagi zat Allah ta`ala, bahkan ia menunjukkan lagi perihal kehebatan dan keagungan Allah kerana mampu menciptakan dua perkara yang berlawanan berdasarkan fungsi yang terkandung di dalam nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah ta`ala kepada zat-Nya yang Maha Agung seperti; sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan), al-Mumit (Maha mematikan), al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan al-Nafi` (Maha Memberi Manfaat), al-Mu`thi (Maha Pemberi) dan al-Mani` (Maha Pencegah) dan lain-lain. Di samping itu, para ulama’ mengatakan bahawa Sifat al-Af`al itu adalah baqa’.[4]

Keempat, dari sekian banyak Sifat al-Zat yang wujud tersebut, maka sifat dua puluh dianggap cukup dalam memberi kefahaman kepada kita bahawa Allah ta`ala memiliki segala sifat kesempurnaan dan maha suci Allah daripada segala sifat kekurangan. Di samping itu, kesemuaSifat al-Zat yang telah terangkum dalam sifat dua puluh tersebut, dari sudut fakta, telahpun ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, al-Sunnah dan dalil-dalil aqli.[5]

Kelima, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup  kuat untuk menjadi benteng kepada akidah seseorang daripada terpengaruh dengan faham yang keliru atau menyeleweng dalam memahami sifat Allah ta`ala. Sebagaimana yang telah kita maklum aliran-aliran yang menyimpang daripada fahaman Ahl al-Sunah Wa al-Jama`ah seperti Wahhabi, Muktazilah, Musyabbihah, Mujassimah, Karramiyyah dan lain-lain telah menyifatkan Allah ta`ala dengan sifat-sifat makhluk yang kesemua sifat tersebut dilihat dapat meruntuhkan kesempurnaan dan kesucian zat Allah ta`ala. Maka dengan memahami sifat dua puluh tersebut, iman seseorang akan dibentengi daripada keyakinan-keyakinan yang menyongsang fahaman arus perdana umat Islam berhubung zat Allah ta`ala. Misalnya, ketika golongan mujassimah mengatakan bahawa Allah ta`ala itu duduk di atas `Arasy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu daripada sifat Salbiyyah yang wajib bagi zat Allahta`ala iaitu; Qiamuhu Binafsih (Allah ta`ala tidak berhajat kepada sesuatu), ketika musyabbihah mengatakan bahawa Allah ta`ala memiliki anggota tubuh badan seperti mata, tangan, kaki, muka, betis dan lain-lain, maka dakwaan tersebut akan ditolak pula dengan sifat wajib bagi Allah ta`alayang lain iaitu sifat Mukhalaftuhu lilhawadith (Allah tidak menyerupai sesuatupun), ketika golongan Muktazilah menafikan kewujudan sifat ma`ani pada zat Allah ta`ala dengan mengatakan bahawa Allah ta`ala maha kuasa tetapi tidak mempunyai sifat qudrat, maha mengetahui tetapi tidak mempunyai ilmu, maha berkehendak tetapi tidak mempunyai iradat, maka dakwaan songsang tersebut akan ditolak dengan sifat-sifat ma`ani yang jumlahnya adalah tujuh iaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama`, basar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain.[6]

الْقَائِدَةُ: “الْجَهْلُ بِالصِّفَاتِ يُؤَدِّيْ إِلَى الْجَهْلِ بِالْمَوْصُوْفِ مَنْ لا يَعْرِفُ صِفَاتِ الله لا يَعْرِفُ الله”.

Kaedah:  “Jahil tentang sifat (Allah) membawa kepada jahil dengan yang mempunyai sifat (Allah), sesiapa yang tidak mengenal sifat Allah, tidak mengenal Allah ta`ala”.

TAKTIK SCAMMER TIPU ORANG RAMAI

TAKTIK SCAMMER TIPU ORANG RAMAI

1. Iklan jual barang atau perkhidmatan di FB, IG & media sosial lain dengan tawaran menarik

2. Untuk membeli diminta download Apps tanpa diketahui ada virus

3. Diminta buat pembayaran guna laman FPX palsu

4. Bila isi maklumat di laman FPX palsu, scammer dapat curi username dan password bank pembeli dan pintas nombor TAC

5. Scammer akan pindah semua wang daripada akaun bank pembeli kepada beberapa keldai akaun

6. Wang daripada keldai akaun akan dipindah ke akaun luar negara atau akaun pesisir yang menyukarkan pihak berkuasa untuk kesan

TIP ELAK RUGI BANYAK JIKA DITIPU SCAMMER

Guna akaun bank yang tidak banyak baki simpanan bila buat online banking. Jika gaji atau duit simpanan ada di Bank A, guna akaun di Bank B untuk pembelian atas talian. Pastikan baki di Bank B tidak banyak, contoh tidak lebih RM500 dan sebagainya

FPX (Financial Process Exchange) ialah satu sistem pembayaran atas talian di Malaysia

5 MAKLUMAT PERBANKAN YANG PERLU DIRAHSIAKAN

5 MAKLUMAT PERBANKAN YANG PERLU DIRAHSIAKAN!

Jangan dedahkan maklumat perbankan anda kepada mana-mana pihak sama ada secara bersemuka atau melalui panggilan telefon.

Dengan memberikan maklumat no. kad ATM, no pin dll membolehkan scammer mendaftar atau menukar maklumat perbankan internet anda tanpa anda sedari.

Tahukah anda? Dengan mendaftarkan no. telefon orang lain semasa pembukaan akaun boleh menyebabkan anda kehilangan wang dalam akaun bank anda? – Scammer akan mendaftarkan perbankan internet tanpa anda sedari dan no. TAC/OTP akan dihantar ke no. telefon scammer tersebut.

Dengan menyerahkan no. TAC/OTP juga membolehkan scammer mengambil alih perbankan internet anda dan memindahkan wang ke pihak ketiga.

Pihak polis tidak akan meminta 5 maklumat perbankan tersebut daripada anda bagi tujuan siasatan!

PERASAAN UJUB DATANG TANPA KITA SEDARI

UJUB ITU DATANG DENGAN DIAM-DIAM TANPA KITA SADARI*

UJUB berbeda dengan RIYA

Kadangkala RIYA dapat dihindari, tapi UJUB masih ada.

Contoh : Kita sholat tahajjud diam². Tidak ada yang tahu dan tidak kita ceritakan pada orang lain,  dengan harapan agar tidak RIYA …

maka saat kita tidak menceritakan amalan kita, kita berhasil menghindari RIYA. Semata-mata kita beribadah karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang lain. Jangan cepat berpuas diri dulu, karena syaitan terus berusaha menggelincirkanmu.

Tiba-tiba  dalam hati berkata-kata, karena muncul rasa bangga terhadap diri sendiri. ” Hebat aku ini, bisa bangun setiap malam tak pernah ketinggalan sholat tahajjud, sementara orang lain tertidur pulas.”Saat hati berkata begitu, itulah yang dinamakan  UJUB.

Walaupun berhasil untuk tidak RIYA’, tetapi masih belum berhasil untuk tidak UJUB.

UJUB

adalah perasaan kagum atas diri sendiri. Merasa diri hebat, berbangga diri …terpesona dengan kehebatan diri.

UJUB adalah penyakit hati yang paling tersembunyi.

Perasaan UJUB bisa datang dalam berbagai bentuk.

DIANTARA NYA :

” Orang yang rajin ibadah merasa kagum dengan ibadahnya”.

” Orang yang berilmu, kagum dengan ilmunya”.

” Orang yang cantik, kagum dengan kecantikannya”.

adalah perasaan kagum atas diri sendiri.Merasa diri yaknya jamaah & mampu menghadirkan ustadz² yang menjadi pematerinya”

” Orang yang dermawan, kagum dengan kebaikannya”.

” Orang yang berdakwah, kagum dengan dakwahnya”.

Sufyan At-Tsauri Mengatakan :”UJUB adalah perasaaan kagum pada dirimu sendiri,  sehingga kamu merasa bahwa kamu lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain”.

Padahal  semua kelebihan yang kita dapatkan  adalah kelebihan yang kita dapatkan dari Allah. Karena itu selayaknya kekaguman hanyalah kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.

Dan ingatlah syaitan akan selalu menggiring manusia untuk masuk ke dalam fikiran berbangga kepada diri sendiri, agar amalan manusia tidak mendapat nilai.

IMAM NAWAWI Rahimahulloh berkata :

“Ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. Barangsiapa ujub dengan amalnya sendiri, maka akan terhapus amalnya.”

(Syarh Arba’in). Naa’udzu billaahi min dzalik.

Jauhi sifat Ujub,  jadikan amalan kita 100% karena pengabdian kepada Allah.

BAGAIMANA CARA MENGURANGI SIFAT UJUB

1. Setiap kali terdetik di hati tentang kehebatan diri, segera istighfar memohon ampun kepada Allah.

2. Mengganggap semua kelebihan  adalah milik Allah.

3. Berdoa mohon bantuan Allah agar hati kita bisa beribadah dengan ikhlas.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ 

Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

 (Qur’an surat Al An’am – 162)

Semoga Allah membantu kita mengikis penyakit ujub yang ada di hati.

KATA-KATA ADALAH DOA

KATA KATA ADALAH DOA

Al Isra 53;

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رُضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahanam dengan kata-katanya itu”. (HR Bukhari, Ahmad, dan Malik).

7 JENIS MAKSIAT

Dalam tubuh manusia terdapat 7 anggota zahir yang wajib dipelihara dari maksiat. Maksiat ialah perkara-perkara yang diharamkan Allah dan jika dilakukan akan mendatangkan dosa. Setiap anggota zahir yang 7 ini mempunyai maksiat-maksiat yang tersendiri. 7 maksiat zahir itu ialah:-

                    1) maksiat mata

                    2) maksiat telinga

                    3) maksiat lidah

                    4) maksiat tangan

                    5) maksiat perut

                    6) maksiat kemaluan

                    7) maksiat kaki

Create your website with WordPress.com
Get started