TIDAK ADA PAKSAAN UNTUK MEMELUK AGAMA ISLAM

TIDAK ADA PAKSAAN UNTUK MEMELUK AGAMA ISLAM

Berdakwah merupakan suatu hal yang sangat mulia, apalagi jika mendakwahi pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam. Namun, Islam tidak mengajarkan kita untuk memaksa mereka untuk masuk dalam agama Islam. Islam mengajarkan untuk mendakwahi mereka dengan cara yang baik. Seperti halnya yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjenguk anak kecil Yahudi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu menjenguk anak kecil Yahudi dan mengajak untuk masuk Islam. Akhirnya, anak tersebut bersedia untuk masuk Islam.

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,

كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ « أَسْلِمْ » . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356).

Mendakwahi mereka untuk masuk Islam, hukumnya fardhu kifayah, yaitu jika sebagian sudah mendakwahi mereka maka yang lain gugur kewajibannya. Walau boleh mendakwahi, namun dilarang memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256).

Ibnu Katsir menuturkan, “Janganlah memaksa seorang pun untuk masuk ke dalam Islam. Karena kebenaran Islam sudah begitu jelas dan gamblang. Oleh karenanya tidak perlu ada paksaan untuk memasuki Islam. Namun barangsiapa yang Allah beri hidayah untuk menerima Islam, hatinya semakin terbuka dan mendapatkan cahaya Islam, maka ia berarti telah memasuki Islam lewat petunjuk yang jelas. Akan tetapi, barangsiapa yang masih tetap Allah butakan hati, pendengaran dan penglihatannya, maka tidak perlu ia dipaksa-paksa untuk masuk Islam. Tidak ada manfaat jika masuk Islam dalam keadaan terpaksa. Para ulama telah menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah mengenai kaum Anshar. Namun maksud ayat ini adalah umum.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 250).

Cukup menunjukkan kepada mereka sikap yang baik, mengajak mereka dengan cara yang baik tanpa memaksa mereka memeluk agama Islam.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.

TUJUAN HIDUP MANUSIA DI DUNIA YANG FANA

TUJUAN HIDUP MANUSIA DI DUNIA YANG FANA

Pernahkah kamu berfikir, apa sebenarnya tujuan hidup manusia. Setiap hari kita selalu sibuk dengan rutinitas yang rantai perputarannya bisa dikatakan tak berujung. Dala keadaan yang demikian pun tak jarang seseorang yang terjebak di dalamnya yang mengakibatkan berputus asa dalam kehidupan ini.

Sahabat fimadani, ketahuilah. Adanya kesedihan, kesulitan hidup, kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan merupakan anugerah dari Tuhan. Diciptakannya hal itu agar kita selalu senantiasa mendapatkan rahmat dari tuhan. Bayangkanlah jika kita tidak bisa merasakan hal itu, maka kita laksana batu dan kayu, tak ada rasa dan takada asa. Hidup pun terasa hampa.

TUJUAN HIDUP MANUSIA HANYALAH UNTUK BERIBADAH KEPADA TUHAN

Tujuan hidup manusia di dunia ini hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Makna ibadah diatas tidaklah semata-mata diartikan bahwa setiap saat kita harus shalat, tadarus, puasa dan sujud terus menerus. Melainkan setiap sesuatu yang dilakukan dengan baik atau sesuatu yang dilakukan untuk menunjang ibadah maka hal itu juga dihukumi ibadah.

Segala sesuatu yang diniati untuk menunjang ibadah maka hal itu juga dianggap ibadah, meskipun amalannya berbentuk amalan dunia. Misalnya saja bekerja, bekerja akan menjadi nilai ibadah jika kita niati untuk menafkahi anak dan istri, untuk menunjang kebutuhan sehari-hari agar tenang dalam beribadah.

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaku”. (QS. Adzaariyaat:56).

Juga firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus seorang rasul pada tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut (Sesembahan selain Allah)”. (QS. An Nahl: 36)

Itulah tujuan hidup manusia yang pertama dan paling utama. Kita sebagai seorang hamba harus lah mengakui dan menyadari diri. Bahwa kehidupan ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Setiap hela nafas dan gerak tubuh adalah anugerah. Maka dengan sikap mengakui ini akan dapat menimbulkan rasa syukur yang kemudian terwujud dalam bentuk pengabdian atau ibadah.

SEGALA SESUATU YANG DILAKUKAN UNTUK MENUNJANG IBADAH JUGA DIANGGAP IBADAH

Sebaliknya, segala sesuatu yang diniati untuk kepentingan duniawi maka juga akan dianggap melakukan amalan dunia, meskipun bentuk amalannya adalah amalan akhirat. Amalan itu sia-sia dan tidak terhitung sebagai ibadah, justru bisa menjurus kearah dosa karena menimbulkan riya’ dan ujub.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi “إنمالأعمال بالنيات“, “Sesungguhnya sahnya setiap amal itu tergantung dengan niat”. Dan sesuai dengan kaidah fiqh “إن للوسائل حكم المقاصد“, “Sesungguhnya pada sebuah perantara itu hukumnya menyesuaikan tujuannya”.

TUJUAN HIDUP MANUSIA SETELAH PRIBADINYA SENDIRI BAIK ADALAH BERDAKWAH MEMBAIKKAN ORANG YANG BELUM BAIK

Di dunia ini senantiasa selalu terjadi peperangan. Baik secara sifat dalam pribadi diri manusia, ideologi atau secara fisik. Dalam individu hati manusia selalu bergejolak anatara kebaikan dan kejahatan. Energi positif dan negatif selalu berperang untuk menjadi penguasa.

Dalam ideologi juga sama. ideologi sesat selalu berperang melawan ideologi kebenaran. Begitu juga dalam perang secara fisik. Yang inti dari semua peperangan adalah perang kebaikan melawan kejahatan.

Diri manusia yang belum baik maka dia berkewajiban memerangi sifat buruk yang masih ada dalam dirinya. Jika dia sudah baik maka yang dia perangi adalah keburukan orang lain, dengan cara memerangi pemikiran dan ide-idenya, memerangi sifat buruk untuk kemudian ditarik menuju sifat baik.

Jadi pada intinya, tujuan hidup manusia adalah berusaha membaikkan diri sendiri dan berdakwah membaikkan orang lain yang belum baik. Inilah yang dianggap Ibadah.

5 FADHILAT DAN ANUGERAH  ALLAH SWT KEPADA MEREKA YANG BERKAHWIN

5 FADHILAT DAN ANUGERAH  ALLAH SWT KEPADA MEREKA YANG BERKAHWIN

Keutamaan Menikah – Menikah merupakan ibadah, Allah tidak akan menciptakan menusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya. Seluruh aktivitas kita sebaiknya diniatkan untuk beribadah kepadaNya.

Semua khilaf kita sebaiknya kita mohonkan ampun kepadaNya. Seluruh nikmat yang telah kita dapatkan sebaiknya kita syukuri dengan memuji namaNya. Setiap ujian yang datang kepada kita sebaiknyanya kita hanya memohon pertolonganNya.

Dengan menikah, banyak ketumaan yang dapat kita raih. Apa sajakah itu? Ini dia keutamaan menikah yang bisa kita raih.

1. Berhak untuk mendapatkan pertolongan dari Allah SWT saat di hari kiamat kelak

“Tiga golongan orang yang berhak ditolong oleh Allah adalah:

a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah.

b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya.

c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

2. Keutamaan Menikah, Membuka Pintu Rezeki

Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda: “Allah enggan untuk tidak memberi rezeki kepada hamba-Nya yang beriman, melainkan pasti diberinya dengan cara yang tak terhingga.” (HR. Al-Faryabi dan Baihaqi)

Dari Jabir ra., ia berkata “Nabi saw. bersabda ‘Ada tiga hal bila orang melakukannya dengan penuh keyakinan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya berkah. Orang yang berusaha memerdekakan budak karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah. Orang yang menikah karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah …..’”(HR. Thabarani).

Dari Jabir ra., ia berkata : “Nabi saw. bersabda : ‘Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala, yaitu : seorang budak yang berjanji menebus dirinya dari majikannya dengan penuh iman kepada Allah ta’ala, maka Allah ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membelanya dan membantunya; seorang lelaki yang menikah guna menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah (zina), maka Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya rezeki …..’.” (HR. Dailami)

“Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).” (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

3. Pahalanya lebih banyak dibandingkan dengan orang yang belum menikah dalam perkara beramal.

“Dua rakaat yang dilakukan orang yang sudah berkeluarga lebih baik dari tujuh puluh rakaat shalat sunah yang dilakukan orang yang belum berkeluarga.” (HR. Ibnu Adiy dari Abu Hurairah)

4. Gugurnya dosa-dosa mereka saat merengkuh tangan pasangannya

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh Rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a)

5. Menyempurnakan separuh dari Agama Islam

“Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” (HR At-Thabrani)

Imam Al Ghazali meyebutkan bahwa hadits-hadits tersebut memperlihatkan isyarat akan keutamaan dari menikah disebabkankan dapat melindunginya dari penyimpangan demi membentengi diri dari kerusakan. Dan seakan-akan bahwa yang menyebabkan rusaknya agama seseorang umumnya adalah kemaluan dan perutnya maka salah satunya dicukupkan dengan cara menikah.” (Ihya Ulumuddin)

Abu Hatim menyebutkan bahwa yang menegakkan agama seseorang umumnya ada pada kemaluan dan perutnya dan salah satunya tercukupkan dengan cara menikah, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah untuk yang keduanya.” (Faidhul Qodir juz VI hal 134)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sikap menahan diri yang paling Allah sukai adalah menjaga kemaluan dan perut.”

Semoga bermanfaat, bagi yang telah menikah agar semakin berpacu dengan waktu guna menjadikan keluarganya mejadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah, dan bagi yang belum menikah agar menjadi motivasi untuk menyegerakan hal tersebut.

Wallahu A’lam bis showab.

PERATURAN KERJA-KERJA HAJI

PERATURAN KERJA-KERJA HAJI

Terdapat peraturan kerja-kerja haji dari mula belayar hingga kembali. Kerja-kerja lahiriah haji menurut peraturannya ada sepuluh bahagian, iaitu (setiap satunya akan diperincikan dalam kiriman berikut – klik pada tajuk-tajuk di bawah untuk baca seterusnya):

  1. Dalam Perjalanan
  2. Tertib Ihram Dari Miqat Hingga Masuk ke Makkah
  3. Tertib Masuk Kota Makkah Hingga Melakukan Tawaf
  4. Melakukan Tawaf
  5. Tertib Melakukan Sa’i
  6. Tertib Wukuf
  7. Tertib Pekerjaan Haji Yang Lain
  8. Cara-cara Umrah Hingga Tawaful Wada’
  9. Tawaful Wada’
  10. Ziarah ke Madinah dan Tertibnya

LARANGAN-LARANGAN HAJI

LARANGAN-LARANGAN HAJI

Adapun larangan haji dan umrah semuanya enam perkara:

  1. Memakai pakaian qamis, seluar, sepatu dan serban. Pakaian yang haru dipakai waktu berihram ialah selembar kain untuk sarung dan selembar selendang dan sepasang sandal. Boleh memakai tali pinggang dan berteduh di bawah khemah, tetapi tak boleh menutup kepala. Kaum wanita boleh memakai pakaian yang berjahit, tetapi tidak boleh menutup wajah dengan sesuatu yang boleh menekapnya kerana ihramnya ialah pada wajahnya.
  2. Memakai wangi-wangian. Jadi hendaklah ia menjauhi segala yang dikatakan oleh ahli akal sebagai wangi-wangian. Kiranya dia melanggar larangan ini dan ia memakai wangi-wangian maka dia dikenakan bayaran Dam.
  3. Mencukur rambut atau memotong kuku, kerana melakukannya akan dikenakan Dam seekor kambing. Boleh memakai celak, mandi di permandian, bersuntil, berbekam dan menyikat rambut.
  4. Bersetubuh kerana yang demikian itu akan merosakkan haji pelakunya jika dilakukan sebelum tahallul awal. Kerana itu dia dikenakan Dam seekor unta atau lembu ataupun tujuh ekor kambing. Jika dilakukan sesudah tahallul awal dikenakan dam seperti di atas juga, hanya hajinya saja yang tidak rosak.
  5. Hal-hal yang berhubungan dengan permulaan persetubuhan, seperti bercium-ciuman atau bersentuh-sentuhan, sedangkan ia masih dalam ihram maka dendanya seekor kambing. Dalam keadaan serupa ini diharamkan juga bernikah dan menikahkan, jika dilakukan juga, maka tiadalah dikira sah dan tiada pula dihukumkan kena Dam.
  6. Membunuh buruan darat, yakni dari binatang yang boleh dimakan dagingnya. Jika dia membunuh seekor buruan, maka wajiblah ke atasnya Dam seekor binatang (kambing, lembu atau unta) yang besarnya lebih kurang sama dengan besarnya binatang yang dibunuhnya. Binatang laut tiada dilarang menangkapnya dan oleh itu tiadalah dikenakan Dam.

CARA-CARA MENGERJAKAN HAJI DAN UMRAH

CARA-CARA MENGERJAKAN HAJI DAN UMRAH

Cara-cara mengerjakan haji dan umrah ada tiga perkara:

1-Haji Ifrad, iaitu dengan mengerjakan haji bersendirian terlebih dahulu, Apabila selesai keluarlah semua ke kawasan tanah halal, maka berihramlah dengan umrah pula.

2-Haji Qiran, iaitu dengan mengerjakan sekaligus pekerjaan haji dan umrah. Syaratnya hendaklah meniatkan kedua-duanya sekaligus yakni dengan haji dan umrah dan menjadilah ia orang yang muhrim (yakni berihram) dengan keduanya, kemudian dia mengerjakan semua pekerjaan haji, dengan sendirinya pekerjaan umrahnya termasuk ke dalam pekerjaan haji tadi. Orang yang berhaji Qiran ini dikenakan ke atasnya Dam, iaitu dengan menyembelih seekor kambing, kecuali jika ia dari penduduk Makkah.

3-Haji Tamattu’, iaitu bila meniatkan umrah melampaui batasan Miqat. Sesudah selesai umrah, bertahallullah ia di Makkah, lalu halallah baginya semua larangan-larangan ihram, sehingga tiba waktu haji, barulah meniatkan ihram dengan haji pula. Orang yang mengerjakan seperti ini dikenakan ke atasnya Dam seekor kambing jika tiada mendapati kambing, maka hendaklah ia berpuasa 3 hari waktu haji sebelum Hari Raya haji, sama ada bersambungan mahupun berceraian, kemudian bila pulang ke negerinya, ia berpuasa sebanyak 7 hari lagi untuk mencukupkan 10 hari kesemuanya.

WAJIB-WAJIB HAJI

WAJIB-WAJIB HAJI

Adapun syarat kewajibannya ialah: Berkuasa dan yang demikian itu ada dua cara:

Pertama: Melakukan amalan haji itu sendiri. Dalam hal yang demikian ada beberapa sebab, sama ada:

Yang berhubungan dengan dirinya, maka hendaklah ia sihat.

Yang berhubungan dengan jalan, maka hendaklah ianya aman di sepanjang jalan. Kalau dengan laut tidak ada pula yang boleh membahayakan dan tidak bimbang ada musuh di tengah jalan.

Yang berhubungan dengan kewangan maka hendaklah ia mempunyai perbelanjaan pergi-balik, sehingga sampai dengan selamat ke negerinya semula. Dan hendaklah juga ia mempunyai perbelanjaan untuk segala para tanggungannya dalam masa pemergiannya untuk menunaikan haji itu. Kalau berhutang, hendaklah ia menjelaskan hutangnya terlebih dulu. Kalau jauh hendaklah ia mempunyai kenderaan ke sana atau mempunyai wang untuk menyewanya.

Kedua: Berkuasanya seorang yang lumpuh dengan menggunakan wangnya, iaitu hendaklah ia mengupah seorang lain untuk menunaikan hajinya, tetapi orang itu mestilah sudah menunaikan haji untuk dirinya sebelum itu.

Walau bagaimanapun bagi orang yang berkuasa setelah cukup syarat-syarat haji baginya, hendaklah ia segera menunaikan hajinya. Kalau mahu menangguhkan pula tidak salah, tetapi wajiblah ia ingat bahawa ia sentiasa dalam bahaya. Bila ia berkelapangan sedangkan ia pada akhir umurnya (sudah terlalu tua), maka kewajiban menunaikan haji itu tidak gugur daripadanya. Bila ia mati sebelum berhaji maka ia bertemu dengan Allah azzawajallah dalam keadaan ashi atau menderhaka, disebabkan ia belum menunaikan haji.

Jika ia dari golongan yang berada, hendaklah dikeluarkan dari harta peninggalannya perbelanjaan untuk menghajikannya, sekalipun ia tiada mewasiatkan kerana hukumnya sama seperti hutang. Orang yang mampu dan cukup semua syarat bila mati sebelum mengerjakan haji maka perkaranya amatlah berat sekali di sisi Allah s.w.t.

Berkata Umar Ibnul-Khattab r.a.: Aku hampir-hampir menuliskan suatu perintah ke seluruh negara untuk mewajibkan semacam cukai ke atas orang yang belum berhaji, padahal ia berkuasa untuk pergi ke sana.

Sementara Said bin Jubair, Ibrahim an-Nakha’i, Mujahid dan Thawus sepakat berkata: Kalau aku mengetahui seseorang kaya yang belum berhaji meninggal dunia, padahal haji itu telah wajib ke atasnya, nescaya aku tidak akan menyembahyangkan mayatnya. Ada pula setengah ulama, bila seorang jirannya yang belum berhaji mati, padahal ia seorang yang kaya, maka mereka tidak akan menyembahyangkan mayatnya.

SYARAT-SYARAT HAJI

SYARAT-SYARAT HAJI

Syarat sahnya haji ialah dua perkara: Waktu dan Islam. Haji seorang anak kecil dihukumkan sah.

Dia boleh meniatkan ihramnya sendiri bila dia anak yang mumaiyiz (dapat membedakan), tetapi kalau belum mumaiyiz maka niat ihram hajinya diniatkan oleh walinya. Dan hendaklah wali itu menyuruh anak kecil itu melakukan sebagaimana yang ia lakukan untuk pekerjaan-pekerjaan haji, seperti tawaf, sa’i dan sebagainya.

Adapun waktunya pula ialah: Syawwal dan Zulka’edah dan seterusnya sembilan hari dari Zulhijjah, sehingga terbitnya fajar pada Hari Raya Korban (Hari Raya Haji).

Barangsiapa yang berihram dengan haji pada masa-masa selain dari segi yang tersebut itu, maka amalannya dikira umrah. Umrah pula boleh dilakukan pada semua masa sepanjang tahun.

Adapun syarat-syarat penunaiannya sebagi Haji Islam ialah: baligh, aqil dan waktu.

KEUTAMAAN HAJI DAN KA’BAH, MAKKAH DAN MADINAH

KEUTAMAAN HAJI DAN KA’BAH, MAKKAH DAN MADINAH

Mengenai keberangkatan kerana melawat masjid-masjid utama, Allah telah berfirman:

“Permaklumkanlah kepada sekalian manusia untuk melakukan ibadat Haji nescaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki dan mengenderai (unta dan lain-lain) mereka itu akan datang dari segala ceruk penjuru yang jauh.” (al-Haj: 27)

Berkata Qatadah: Apabila Allah s.w.t. memerintahkan Ibrahim a.s. untuk mengisytiharkan kepada manusia sekalian dengan amalan Haji beliau menyeru: Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah s.w.t. telah mendirikan rumahNya, maka hendaklah kamu mengunjunginya.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang naik haji sedangkan ia tiada berkata kotor atau berbuat jahat, dia keluar dari dosa-dosanya suci seperti keluarnya bayi di hari dilahirkan oleh ibunya.” (Sahih Bukhari dan Muslim)

Ada suatu riwayat yang mengatakan: Bahawasanya Kaabah itu nanti di Hari Kiamat akan diarak seperti seorang pengantin perempuan di hari langsung dan setiap orang yang telah berhaji kepadanya akan kelihatan bergayutan di tabir-tabirnya, sambil berjalan bersama-samanya sehingga masuk ke dalam syurga.

Al-Hasan al-Basri r.a berkata: Bersedekahlah satu dirham di Kaabah itu dibalas dengan seratus ribu, begitu pula setiap kebajikan yang dilakukan di situ digandakan Allah pahalanya. Dengan seratus ribu kali. Ada yang menambah pula, bahawa melakukan kejahatan juga dilipat-gandakan dosanya, sebagaimana dilipat-gandakan pahalanya.

Apabila Rasulullah s.a.w kembali semula ke Makkah, baginda lalu mengadap kepada Kaabah seraya berkata: Sesungguhnya engkau ini sebaik-baik bumi Allah azzawajalla dan negeri Allah yang paling aku cintai. Kalaulah tidak kerana aku telah dihalau daripadamu, tentulah aku tidak akan keluar meninggalkanmu.

Sesudah Makkah, tidak ada bumi yang lain yang lebih diutamakan seperti negeri Madinah yang terkenal dengan nama Madinah Rasulullah s.a.w. Segala amal ibadat di dalamnya juga dilipat-gandakan pahalanya.

Bersabda Rasulullah s.a.w.:

“Satu kali sembahyang di dalam masjidku ini adalah lebih utama daripada seribu kali sembahyang di tempat lain, kecuali Masjidil-Haram”. (Sahih Bukhari dan Muslim)

Dan sesudah Madinah Rasulullah s.a.w pula, ialah bumi Baitul Maqdis kerana bersembahyang di dalamnya mendapat pahala sebanyak lima ratus sembahyang kecuali Masjidil Haram.

Sesudah ketiga-tiga bumi yang suci maka tempat-tempat yang lain semuanya sama dari segi darjatnya kecuali di lubang-lubang gunung kerana menghuni di dalamnya untuk tujuan beribadat, maka ia juga merupakan suatu keutamaan yang besar.

Sebab itulah Rasulullah s.a.w bersabda:

“Tiada dipersiapkan pelayaran melainkan kepada tiga masjid; iaitu Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Madinah) dan Masjidil Aqsa.”

Kecuali ketiga-tiga masjid yang di atas tadi, masjid-masjid yang lain, semuanya sama dari segi darjatnya. Setiap negeri tentulah ada masjidnya sendiri, maka tiada ertilah belayar untuk menuju ke masjid lain.

Berikut, kita perturunkan syarat-syarat kewajiban Haji, iaitu rukun-rukunya dan wajib-wajibnya serta larangan-larangannya.

Create your website with WordPress.com
Get started