BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN MENGHARAPKAN PAHALA, MENGHARAPKAN SYURGANYA DAN TAKUT KEPADA NERAKANYA ADALAH TIDAK IKHLAS DAN ORANG DUNGU ⁉️

BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN MENGHARAPKAN PAHALA, MENGHARAPKAN SYURGANYA DAN TAKUT KEPADA NERAKANYA ADALAH TIDAK IKHLAS DAN ORANG DUNGU ⁉️

.

Sufi sesat mengatakan : “Beribadah mengharapkan pahala, mengharapkan Surga, takut kepada Neraka dan dijauhkan dari Neraka menunjukkan ketidakikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah dan rendahnya kualitas amal (keikhlasan) seseorang”

.

Sama seperti seperti yang dikatakan oleh Al Ghazali,

.

“Aku tidaklah menyembahNya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surgaNya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaan dan kerinduan kepadaNya” (Ihyaa’ Uluum ad-Diin 4/310).

.

Demikian juga Al Ghazali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang ablah (dungu). Ia berkata,

.

“Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahanNya, maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga” (Ihyaa Uluumid Diin 3/375)

.

Ini merupakan kebatilan dan omongan orang yang jauh dari ilmu bahkan merupakan Bid’ah dalam Syariat perkara I’tiqadiyyah.

.

Kita berpulang kepada,

.

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara perkara yang diada-adakan dan setiap Bid’ah adalah sesat, Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka. Dan setiap perkara yang paling buruk adalah sesuatu yang tidak dikenal dan tidak datang, baik itu dalam Al Qur’an atau Hadits Nabi dan segala sesuatu yang tidak dikenal dan tidak datang, baik itu dalam Al Qur’an atau hadits Nabi. adalah Bid’ah. Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka.”

.

APA ITU IKHLAS ?

.

Makna Ikhlas dari sisi bahasa diambil dari makna Al Khalish, yaitu jernih, bersih dan suci tanpa adanya kotoran yang memperkeruhnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kepada kita makna ikhlas/khalish.

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni (khalish) antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16] : 66)

.

Firman-Nya “Susu murni” artinya susu yang jernih dan murni, tidak tercampur oleh kotoran dan darah serta tanpa adanya kotoran dan darah yang tercampur dengannya walaupun ia keluar di antara kotoran dan darah.

.

Sehingga makna “Ikhlas” adalah menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata secara murni, jernih dan bersih sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalankan, melakukan, menegakkan dan mewujudkan segala bentuk ibadah, amalan agama, perintah dan larangan, halal dan haram, yang tidak ada sekutu, tandingan ataupun padanan bagi-Nya, serta tidak melakukan kesyirikan sebagaimana ditunjukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala firman-Nya,

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah (beribadahlah kepada) Allah dengan memurnikan ketaatan (tulus ikhlas) kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang khalish bersih murni (dari syirik).” (Az-Zumar [39] : 2-3)

.

Dan dalam beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yaitu ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla dan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka boleh seseorang mengharapkan pahala-Nya, Surga-Nya dan dijauhkan dari Neraka-Nya.

.

01. MENGHARAPKAN PAHALA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (112)

.

“Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik (amal shalih), DIA MENDAPAT PAHALA di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah [2] : 112)

.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

.

“Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik (amal shalih)” Maksudnya, barangsiapa yang mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Berkaitan dengan firman-Nya tersebut. Abu Al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas mengatakan : (Yaitu), barangsiapa yang benar-benar tulus karena Allah. Masih berkenaan dengan ayat “Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah”, Sa’id bin Jubari mengatakan, yaitu yang tulus ikhlas menyerahkan “agamanya” hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan “dan dia berbuat baik (amal shalih)” , artinya mengikuti (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena amal perbuatan yang diterima itu harus memenuhi dua syarat, yaitu harus didasarkan pada ketulusan (keikhlasan) karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, dan syarat kedua, harus benar-benar dan sejalan dengan Syari’at Allah. Jika suatu amalan sudah didasarkan pada keikhlasan hanya karena Allah, tetapi tidak benar dan tidak sesuai dengan Syari’at (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), maka amakan tersebut tidak diterima.” (Tafsir min Ibnu Katsir, I/227-228)

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah DENGAN mengharapkan pahala dari-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat, bukan orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

02. MENGHARAPKAN SURGA-NYA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا (110)

.

“BARANGSIAPA MENGHARAP PERJUMPAAN DENGAN RABB-NYA, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” (Al Kahfi [18] : 110)

.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya” yakni PAHALA DAN BALASAN-NYA YANG BAIK “Maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih” yakni yang sesuai dengan syari’at Allah.“ Dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” Itulah perbuatan yang dimaksudkan untuk mencari keridahaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Kedua hal tersebut adalah rukun amal yang maqbul (diterima oleh Allah), yaitu benar-benar tulus (ikhlas) karena Allah dan harus sesuai dengan Syari’at (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir min Ibnu Katsir, V/307)

.

Dan balasan yang terbaik dari Allah Azza Wa Jalla adalah Surga-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ غُرَفٗا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ نِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ 

.

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah SEBAIK-BAIK BALASAN bagi orang yang berbuat amal shalih.” (QS. Al Ankabut [29] : 58 )

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي صَدَقَنَا وَعۡدَهُۥ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُۖ فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ 

.

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya. Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” MAKA (SURGA ITULAH) SEBAIK-BAIK BALASAN bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az Zumar [39] : 73-74)

.

Dan kenikmatan tertinggi di Surga adalah melihat wajah-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

۞لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٞ وَلَا ذِلَّةٌۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ 

.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus [10] : 26)

.

Dan redaksi “tambahanya” adalah berjumpa dan melihat wajah Allah Azza Wa Jalla.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ 

.

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Rabbnya.” (QS. Al Qiyamah [75] : 22-23)

.

Dan bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, dan berdoa merupakan ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla, untuk hal tersebut

.

Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hubaib bin ‘Arabi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad, dia berkata : telah menceritakan kepada kami ‘Atha bin As Saib dari Bapaknya, dia berkata; ” Ammar bin Yasir pernah shalat bersama (mengimami) kami, dan ia mempersingkat shalatnya. Lalu sebagian orang bertanya kepadanya, ‘Engkau telah meringankan -mempersingkat- shalat? ‘ Ia menjawab : shalat tadi aku memanjatkan doa dengan doa yang kudengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.’ Lalu ia bangkit dan diikuti oleh seseorang -dia adalah Ubay, tetapi ia menyamarkan dirinya- lalu ia bertanya kepadanya tentang doa. Kemudian ia datang dan memberitahukan doa tersebut kepada kaumnya,

.

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي

اَللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Allah dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagiku. 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat nampak ataupun saat tidak nampak. Aku memohon kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kenikmatan tanpa habis dan kesenangan tanpa henti. Aku memohon keridhaan setelah adanya keputusan, dan kenyamanan hidup setelah mati dan kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keridhaan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”

.

– HR. Nasa’i no. 1288 HR. Ahmad no.18325 

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah DENGAN mengharapkan balasan Surga dari-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat dan bukan orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

03. TAKUT KEPADA SIKSA NERAKA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا 

.

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan TAKUT AKAN AZAB-NYA; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra [17] : 57)

.

Dan terlalu banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdoa, dan berdoa termasuk ibadah, yang mengharapkan Surga, mengharapkan dijauhkan dari Neraka karena takut dengan siksa Neraka.

.

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Sulaiman dari Abu Shalih dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katanya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada seorang laki-laki: “Bagaimana kamu berdo’a dalam shalat?” laki-laki tersebut menjawab; “Aku membaca tasyahud dan mengucapkan,

.

“ALLAHUMMA INNI AS`ALUKAL JANNATA WA A’UUDZUBIKA MINANNAAR.”

.

(Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api neraka).

.

(Ma’af) kami tidak dapat memahami dengan baik gumam anda gumam Mu’adz (ketika berdo’a).” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Seputar itulah kami bergumam (ketika berdo’a).”

.

– HR. Abu Dawud no. 672 | no. 792. Shahih

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepadaku Jabr bin Habib dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarinya do’a ini, yaitu,

.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ،

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ،

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang di mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. 

Ya Allah, sungguh aku memohon surga memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”

.

– HR. Ibnu Majah no. 3836 Ahmad, 6:133

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah KARENA takut kepada Neraka-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat dan bukan berarti orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

Atha bin Yussuf

KAUM PELANGI MENYALAHI FITRAH ‼️

KAUM PELANGI MENYALAHI FITRAH ‼️

Fitrah seorang laki-laki mencintai dan ada syahwat kepada wanita. Begitu pula sebaliknya seorang wanita mencintai dan ada syahwat kepada laki-laki. 

Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14). 

Ketika seorang laki-laki mencintai dan ada syahwat kepada sesama laki-laki dan seorang wanita mencintai dan ada syahwat kepada sesama wanita, maka ini sudah diluar fitrahnya, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Luth alaihissalam. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَلُوطاً إِذْ قالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِها مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعالَمِينَ. إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّساءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (Surah Al-A’raf: 80-81). 

Dan Allah Ta’ala berfirman, 

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ (165) وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ (166) 

“Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhan kalian untuk kalian, bahwa kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (Surah Asy Syu’ara’ 165-166).

Karena fitrahnya sudah terbalik, maka hukuman yang pantas bagi kaum pelangi adalah bumi di balik, yang atas kebawah dan yang dibawah ke atas dan dihujani hujan batu dari langit. 

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ (83) 

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah (Kami putar balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Surah Hud: 82-83). 

Dan Allah Ta’ala berfirman, 

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ 

Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (Surah Al Hijr 74).

Jika ada kaum pelangi, maka nasehati dan ingkari mereka. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata. Jika tidak mengingkarinya, maka azab akan menimpa kaum pelangi dan orang yang tidak mengingkari. Namun kalau dia memperingatkan dan mengingkari, maka Allah Ta’ala akan menyelamatkannya, sebagaimana Nabi Luth alaihissalam yang Allah selamatkan, namun isterinya dibinasakan karena meridhai kaum pelangi. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ (31) قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (32) وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (33) إِنَّا مُنزلُونَ عَلَى أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (34) وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (35) }

Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.” Berkata Ibrahim, “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan MENYELAMATKAN DIA dan pengikut-pengikutnya KECUALI ISTERINYA. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata, “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang BERAKAL. (Surah Al-‘Ankabut, ayat 31-35). 

AFM

APA TUJUAN MEMPELAJARI TAFSIR AL-QURAN ❓

APA TUJUAN MEMPELAJARI TAFSIR AL-QURAN ❓💦

Secara bahasa tafsir berasal dari kata “al-fasr” yang maknanya “al-iidhooh wa al-kasyf” yaitu penjelasan dan menyingkap. Sedangkan menurut istilah “bayaanu ma’aanil qur’anil kariim” yaitu penjelasan makna ayat-ayat Al-Qur’an.

Mempelajari tafsir Al-Qur’an bukan sekedar untuk menambah wawasan. Akan tetapi memiliki tujuan yang agung sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin,

والغرض من تعلم التفسير هو الوصول إلى الغايات الحميدة والثمرات الجليلة وهي التصديق بأخباره والانتفاع بها وتطبيق أحكامه على الوجه الذي أراده الله ؛ ليعبد الله بها على بصيرة

“Mempelajari tafsir Al-Qur’an tujuannya untuk mengantarkan seseorang mencapai maksud yang terpuji dan keutamaan yang mulia yaitu tashdiq (membenarkan) berita-berita Al-Qur’an dan mengambil pelajaran darinya dan merealisasikan hukum-hukumnya sebagaimana yang Allah kehendaki sehingga dia dapat beribadah kepada Allah dengan ilmu dan pemahaman yang benar.” 

(Ushul Fit Tafsir hlm. 29)

Siapa yang mempelajari Al-Qur’an bukan untuk mengantarkannya kepada tujuan yang benar, kelak Al-Qur’an akan menjadi musuhnya pada hari kiamat. 

Rosulullah  ﷺ telah mengingatkan,

والقرآن حجة لك أو عليك

“Al-Qur’an itu bisa menjadi hujjah yang membelamu atau hujjah yang akan membantahmu.” (HR. Muslim 223)

Kapan Al Qur’an Bisa Menjadi Pembela Dan Musuh?

Kami contohkan dengan menerungkan firman Allah Ta’ala,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah [2] : 43)

Misalnya ada dua orang. Salah satunya tidak menunaikan shalat maka Al Qur’an akan menjadi musuhnya. Sedangkan yang lain menunaikan shalat maka Al Qur’an akan menjadi pembelanya.

Begitu pula ada seseorang yang tidak menunaikan zakat, maka Al Qur’an akan menjadi musuhnya. Dan ada orang yang menunaikan zakat, maka Al Qur’an akan menjadi pembela.

Manfaat Mengkaji Makna Al Qur’an

Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak ada aroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)

https://t.me/manhajulhaq

HIKMAH TERTUTUPNYA SATU PINTU REZEKI

MUTIARA HIKMAH

📎 DIANTARA HIKMAH TERTUTUPNYA SATU PINTU REZEKI MAKA AKAN TERBUKA PINTU REZEKI LAINNYA

.

👤 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

.

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya dua jalan rezeki yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka empat jalan rezeki lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah Ta’ala membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- delapan jalan rezeki, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.”

.

_______

.

📚 Al Fawaid, halaman 94,  Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali

Istri Nabi Luth di azab oleh Allah bukan kerana dia pelaku tapi kerana mendukung perbuatan itu ‼️

Istri Nabi Luth di azab oleh Allah bukan kerana dia pelaku tapi kerana mendukung perbuatan itu ‼️

Mengundang, memperkenalkan, memfasilitasi, mengajak ngobrol haha hihi, bahkan membiarkan pelaku maksiat adalah termasuk merupakan sebuah dukungan atau ridho dengan kemaksiatannya.

Maka perlu kita ingat baik-baik!

Ketika Allah meng-azab kaum Nabi Luth, yang terkena bukan hanya pelaku aktif baik subjek ataupun objek pelaku maksiat saja, Tapi juga mereka yang tidak terlibat secara langsung alias hanya jadi pendukung, seperti istrinya Luth!! 

Allah ﷻ‎ berfirman dalam QS al-‘Ankabut 32-33 mengenai kisah ini.

“Ibrahim berkata: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth?”. Mereka (para Malaikat) berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami akan menyelamatkan dia (Luth) dan para pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istri Luth) adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)!”. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para Malaikat) itu datang kepada Luth, ia merasa bersedih hati dikarenakan (kedatangan) mereka, dan ia (merasa) tak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para Malaikat) berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, karena ia adalah termasuk orang-orang yang tinggal (dibinasakan)!” [QS al-‘Ankabut : 32-33].

Demikian jg dalam surah asy-Syu‘aro’ Allah ﷻ berfirman:

(Luth berdo’a) “Wahai Robbku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan”. Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (istri Luth), yang termasuk dalam golongan yang tinggal. Kemudian Kami binasakan yang lain. Kemudian Kami hujani mereka (dengan batu membara), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” [QS asy-Syu‘aro’ 169-173].

Istri Nabi Luth di azab oleh Allah bukan karena ia pelaku, tapi karena dia mendukung perbuatan itu, sehingga dia termasuk orang yang dibinasakan Allah saat adzab diturunkan untuk memusnahkan kota Sodom dan Gomorrah.

Maka itu hati-hatilah jika kita melihat kemaksiatan dan kemungkaran di hadapan kita, namun tidak menjadikan muka kita memerah, tapi justru mengundang, memperkenalkan bahkan ikut mendukungnya.

Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah ﷻ‎ menjaga kita dan keturunan kita semua dari perilaku keji kaum Nabi Luth.

ENAM MUHASABAH

ENAM MUHASABAH 💦

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/58129

May 12, 2022 

🌴🌴🌴

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah ketika menyebutkan macam-macam muhasabah berkata,

محاسبتها على طاعة قصرت فيها من حق الله تعالى فلم توقعها على الوجه الذي ينبغي ، وحق الله في الطاعة ستة أمور :

– الإخلاص في العمل .

– ا لنصيحة لله فيه .

– متابعة الرسول – صلى الله عليه وسلم – .

– شهود مشهد الإحسان .

– شهود منة الله .

– شهود تقصيره فيه بعد ذلك كله .

“Me-muhasabah (introspeksi/evaluasi) kekurangan yang ada pada ketaatan dalam hak Allah yang ia lakukan dengan cara yang tidak patut.

🌴🌴🌴

Karena hak Allah dalam setiap ketaatan itu ada enam:

1. Ikhlas dalam beramal.

2. Nasehat Allah padanya (dengan meluruskan amal sesuai dengan keinginan-Nya).

3. Mengikuti tuntunan Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam.

4. Berbuat ihsan dalam amal (dengan melakukannya sebaik baiknya).

5. Menyaksikan nikmat Allah padanya. (Karena Allah lah yang telah menunjuki dan memberinya kekuatan untuk beramal)

6. Memeriksa kekurangan yang ada pada amal tsb dan dirinya setelah itu.

(Ighotsatulahafan 1/83)

🌴🌴🌴

Maka setiap kita selalu memeriksa apakah telah melaksanakan enam hak itu pada amalan kita..

Adakah kekurangan padanya untuk kemudian kita perbaiki..

Ditulis oleh,

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Semua Yang Datang Dari Allah Itu Baik, Meskipun Engkau Tidak Melihat Kebaikan Pada Sebuah Musibah

✽Semua Yang Datang Dari Allah Itu Baik, Meskipun Engkau Tidak Melihat Kebaikan Pada Sebuah Musibah✽🌷✽_

 Siapa saat ini yang sedang menikmati sehat badannya, lapang rezekinya, dan bahagia hidupnya, berarti ia sedang diberikan rahmah-Nya.

Dan siapa yang saat ini sedang diuji dengan sakit badannya, Sempit rezekinya, dan sedih hidupnya, itu berarti dia sedang diberikan hikmah oleh Allah.

Rahmah dan hikmah. Dua-duanya baik. Dua-duanya merupakan bentuk kasih sayang Allah, meski dengan cara yang berbeda, pada waktu yang berbeda, kepada orang berbeda, namun tetap untuk maksud yang sama: yaitu agar kita merasakan indahnya mengenal Allah.

Sedikit orang yang dapat mensyukuri rahmah, tapi lebih sedikit lagi yang bisa mensyukuri hikmah. Sebab kebanyakan manusia hanya fokus seolah dirinya kehilangan rahmah bila di uji, padahal dibalik hikmah ada kebaikan (khair) jenis lain yang sedang Allah hujani ke halaman kehidupannya.

Bahkan sebenarnya, khair pada hikmah jauh lebih besar. Sebagaimana Allah firman “Dia memberikan hikmah kepada yang Dia kehendaki saja. Dan siapa yang diberi hikmah,sesungguhnya dia telah diberi khair (kebaikan) yang banyak. Tapi tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS 2: 269).

Pemilik jiwa yang dapat merasakan hikmah akan mencapai tingkat kesyukuran yang tinggi, ia selalu berprasangka baik kepada Allah, dan ia juga tetap sabar ketika di uji, dalam dirinya senanntiasa mengalir kebaikan sehingga menjadikan hidupannya terasa lapang, sebagaimana seperti Luqman;

“Dan sungguh, Kami telah berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS 31:12).

Sungguh betapa sayang Allah kepada hambanya.

Karena itu apabila suatu hari nanti kita mendapati sesuatu yang tidak kita sukai, jangan terburu-buru bersedih, kecewa, bahkan menyalahkan keadaan, tetapi cobalah untuk memperhatikan dari sisi hikmah dibalik semua itu,

Yakin dan lihatlah kedepan, bahwa semua yang datang dari Allah itu baik, meskipun engkau tidak melihat kebaikan pada sebuah musibah.

@Habibiequotes

AKIBAT GAGAL MEMAHAMI TAUHID; TRITAUHID JUSTRU DIANGGAP SYIRIK ⁉️

AKIBAT GAGAL MEMAHAMI TAUHID; TRITAUHID JUSTRU DIANGGAP SYIRIK ⁉️

Setiap manusia wajib memahami tauhid,karena kegagalan memahami tauhid dalam merusak ibadah kita atau dapat menyeret kita kepada kesyirikan dan kesyirikan dapat menghapus segala pahala ibadah kita.

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ 

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [ QS. Az-Zumaar : 65 ]

Makanya tugas pertama para Nabi/Rasul Allah adalah mengajarkan tauhid kepada kaumnya lalu mengajarkan amalan-amalan ibadah. Oleh karena itu, kita perlu memahami dulu tauhid sebelum memperbanyak melakukan amalan ibadah karena apalah artinya banyak amalan yang dilakukan kalau tauhidnya salam. Itulah sebabnya rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat sahadat, yang menjadi penentu rukun Islam berikutnya.

Tritauhid jauh beda dengan trinitas. Tritauhid adalah keyakinan akan ke-esa-an Allah yang diwujudkan dalam 3 keyakinan, yaitu :

📝1. Keyakinan bahwa Allah satu-satunya Dzat yang mencipta, memelihara dan meniadakan makhluk.

📝2. Keyakinan bahwa Allah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi.

📝3. Keyakinan bahwa Allah satu-satunya Dzat yang memiliki sifat dan nama-nama yang agung.

Sedangkan trinitas sudah jelas syirik karena telah membagi tuhan menjadi tiga oknum/pribadi.

Memahami tauhid melalui konsep tritauhid memang sulit karena :

📝1. Diri kita telah terbelunggu oleh kesyirikan sehingga sulit menerima ajaran yang membongkar kesyirikan kita.

📝2. Kuatnya upaya syaitan untuk melestarikan kesyirikan sehingga menghalang-halangi kita untuk memahami tauhid dan syirik dan membisiki kita untuk menjauhi kajian-kajian tauhid dan syirik.

📝3. Kebencian kita terhadap kelompok yang antisyirik dan bid’ah, sehingga mendengar kata tauhid, syirik, sunnah dan bid’ah, kita pasti berkata; “wah. itu wahabi, tukang mensyirikkan dan membi’ahkan.”

📝4. Kebodohan dan taqlid buta yang membuat hati tertutup sehingga sulit memahami kajian tauhid dan sunnah.

Orang yang memahami tauhid melalui pemahaman tritauhid pasti benci dan malu mencium nisan kuburan, mengomel di kuburan, minta petunjuk dan pertolongan pada penghuni kuburan, mencari berkah di kuburan, bernazar di kuburan atau tempat keramat, berkurban di kuburan/tempat keramat, mempersembahkan sesajen pada penghuni kuburan/tempat angker, memakai jimat, dan sebagainya karena mereka tahu bahwa semua itu adalah syirik dalam beribadah kepada Allah dan bukan hanya wahabi yang menjauhi semua itu, tetapi semua umat Islam yang benar ahlussunnah waljamaah karena bukan wahabi yang melarang syirik, tetapi Allah dan Rasulullah yang melarang kita melakukan syirik.

BENARKAH KAIDAH “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” DIADOPSI DARI PEMIKIRAN YAHUDI ❓

BENARKAH KAIDAH “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” DIADOPSI DARI PEMIKIRAN YAHUDI ❓

Gabung channel telegram

https://t.me/manhajulhaq

Benarkah kaidah “Lau Kana Khoiron Lasabaquna Ilaih” diadopsi dari pemikiran Yahudi seperti yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Ahqof ayat 11? Mohon penjelasannya jazakumullah khaira.

Jawab: Tidak benar. “Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaih” adalah kaidah Ahlussunnah yang agung. Kaidah ini disebutkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii dalam kitab tafsir beliau,

وأما أهل السنة والجماعة فيقولون قي كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة رضي الله عنهم هو بدعة لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها

“Adapun Ahlussunnah wal Jamaah mereka berkata bahwa, setiap ucapan dan perbuatan yang tidak tsabit dari para shohabat maka itu adalah bid’ah. “Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaih” (sekiranya perkara itu baik tentu para shohabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya). Karena mereka tidak meninggalkan satu jenis pun dari amalan-amalan kebaikan kecuali akan bersegera mengamalkannya.” 

(Tafsir Ibnu Katsir 4/190)

Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa para shohabat adalah orang-orang yang paling mencintai Rosulullah ﷺ dan paling meneladani beliau.

Tidaklah mereka meninggalkan suatu perkara dalam urusan agama ini melainkan karena tidak ada petunjuknya dari Rosulullah ﷺ. Maka tidak ada jalan untuk memahami Al-Qur’an was Sunnah dengan benar melainkan dengan mengikuti petunjuknya para shohabat Nabi.

Dan kita juga diperintahkan untuk kembali mengikuti cara beragamanya para shohabat manakala terjadi percekcokan pemahaman sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rosulullah ﷺ.

Adapun yang dimaksud dalam surat Al-Ahqof itu sesungguhnya pengingkaran orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, (Lau kana khoiron maa sabaquuna ilaih) “Sekiranya (Al-Qur’an) itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak akan mendahului kami (beriman) kepadanya.”

Ayat ini datang dalam konteks penafian “maa sabaquuna” (tidak akan mendahului kami). Sedangkan kaidah Ahlussunnah di atas sebaliknya yaitu penetapan “lasabaquuna” (tentu mereka akan mendahului kami). Jelas keduanya berbeda dan tidak bisa disamakan.

Lalu bagaimana dengan ucapan Asy-Syafii yang sering dikutip sebagian orang untuk menggugurkan kaidah di atas? Beliau berkata,

كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف

“Setiap perkara yang memiliki landasan dalam syariat maka itu bukanlah bid’ah sekalipun belum diamalkan oleh salaf.”

Jawabannya disampaikan oleh Al-Imam Asy-Syafii dalam kelanjutan ucapan beliau di atas yang belum selesai dikutip,

لأن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام لهم في الوقت أو لِما هو أفضل منه أو لعله لم يبلغ جميعهم علم به

“Mereka meninggalkan amalan tersebut terkadang disebabkan oleh udzur saat itu untuk mengerjakannya, atau karena mendahulukan amalan yang lebih utama darinya, atau boleh jadi karena ilmunya belum sampai kepada mereka.”

Maka apa yang dilakukan oleh sebagian salaf dari meninggalkan suatu amalan itu lantaran disebabkan oleh satu dan lain hal. 

Mereka meninggalkannya bukan tanpa alasan sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Dan amalan yang ditinggalkan itu justru ada landasannya dalam syariat sehingga tidak dikatakan sebagai amalan bid’ah.

Demikian pula Al-Imam Asy-Syafii sangat memuliakan kedudukan para shohabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan utama sebagaimana yang beliau tegaskan,

“Mereka para shohabat stratanya jauh berada di atas kita dalam semua ilmu, pemahaman, agama, petunjuk dan dalam setiap jalan yang menjadi sebab diraihnya ilmu dan petunjuk. Pandangan mereka jauh lebih baik dari pandangan kita.” 

Semoga mencerahkan, wa billahit tawfiq.

CONTOH PENDAPAT IMAM MADZHAB YANG MESTI DIIKUTI

CONTOH PENDAPAT IMAM MADZHAB YANG MESTI DIIKUTI ❤

Seseorang jika hendak shalat, maka hendaklah menghadap kiblat. Jika tidak menghadap kiblat, tidak sah shalatnya. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (QS. al-Baqarah: 150).

Disebutkan dalam tafsir muhktashor, 

ومن أي مكان خرجت -أيها النبي- وأردت الصلاة، فاستقبل جهة المسجد الحرام، وبأي مكان كنتم -أيها المؤمنون- فاستقبلوا بوجهكم جهته إذا أردتم الصلاة 

Dan dari tempat manapun engkau keluar wahai Nabi- jika engkau hendak menunaikan salat maka menghadaplah ke arah Masjidil Haram. Dan di manapun kalian -wahai orang-orang mukmin- hadapkanlah wajah kalian ke arah Masjidil Haram jika hendak menunaikan salat. (Tafsir Mukhtashor). 

Namun jika tidak mengetahui arah kiblat sama sekali, setelah maksimal mencarinya, sahkah shalatnya jika ternyata arahnya salah? 

Disinilah Imam Madzhab berbeda pendapat, apakah sah shalatnya atau tidak? Apakah kita mengikuti imam madzhab yang berpendapat tidak sah, karena itu madzhab yang diikuti atau mengikuti imam madzhab yang mengatakan sah walaupun bukan madzhabnya? 

Mari kita simak pendapat mereka dalam perkara ini. 

Pertama, Menurut pendapat MALAKIYAH

أن من صلى إلى غير القبلة باجتهاد لم تلزمه الإعادة، وإنما تندب له في الوقت

Bahwasanya orang yang shalat tidak menghadap kiblat karena sudah ijtihad (betul-betul sudah usaha mencari arah kiblat), mengulangnya tidak wajib baginya. Karena sesungguhnya dianjurkan baginya pada waktunya. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Kedua, menurut pendapat madzhab SYAFIIYYAH, tidak sah shalatnya, shalatnya harus diqadha 

Berkata An-Nawawi rahimahullah,

وَمَنْ صَلَّى بِالِاجْتِهَادِ فَتَيَقَّنَ الْخَطَأَ قَضَى فِي الْأَظْهَرِ، فَلَوْ تَيَقَّنَهُ فِيهَا وَجَبَ اسْتِئْنَافُهَا

Orang yang shalat (ke arah kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian dia tahu ternyata itu salah, maka dia wajib mengqadha, menurut pendapat yang kuat. Dan ketika dia tahu kesalahannya di tengah shalat, wajib mengulangi dari awal. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Ketiga, menurut pendapat madzhab HANAFIYYAH dan salah satu pendapat madzhab HANABILLAH, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi.

Disebutkan dalam kitab al-Ikhtiyar, 

وإن اشتبهت عليه القبلة وليس له من يسأله اجتهد وصلى ولا يعيد وإن أخطأ، فإن علم بالخطأ وهو في الصلاة استدار وبنى، وإن صلى بغير اجتهاد فأخطأ أعاد

Jika ada orang tidak tahu arah kiblat dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan kiblat), dan shalatnya tidak perlu diulang, meskipun arah kiblatnya salah. Jika dia tahu kesalahan arah kiblat di tengah shalat, maka dia langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi shalatnya. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Keempat, menurut pendapat madzhab HANABILAH, kalau dia mukim, tidak sah shalatnya, kalau dalam perjalanan sah shalatnya.

Berkata Al-Mardawi rahimahullah,

الصحيح من المذهب أن البصير إذا صلى في الحضر فأخطأ عليه الإعادة مطلقا وعليه الأصحاب، وعنه لا يعيد إذا كان عن اجتهاد، احتج أحمد بقضية أهل قباء

Pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, bahwa orang yang bisa melihat, ketika dia shalat dalam keadaan mukim, kemudian salah kiblatnya, maka dia wajib mengulang shalatnya secara mutlak. Dan inilah pendapat yang dipegangi para ulama madzhab. Dan ada riwayat dari Imam Ahmad bahwa dia tidak perlu mengulangi shalat, jika dia salah setelah berijtihad (berusaha mencarinya). Imam Ahmad berdalil dengan kejadian shalat di masjid Quba. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Mana pendapat yang diikuti dari beberapa pendapat diatas? Orang yang tidak fanatik dan tidak taklid bermadzhab akan mengikuti pendapat yang sesuai dalil. Atau mengikuti pendapat yang dalilnya lebih kuat. 

Pendapat mana dalam perkara di atas yang sesuai dalil atau landasan dalilnya lebih kuat? 

Maka pendapat yang kuat menurut para ulama adalah pendapat, MALIKIYAH, HANAFIYAH dan HANABILAH yang mengatakan sah shalatnya. Mereka berdalil dengan dalil berikut ini. 

Allah Ta’ala berfirman, 

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (Surah Al-Baqarah: 115). 

Berkata Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ القِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ: ” {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ}

Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasuki malam yang gelap. Kami tidak tahu, di mana arah kiblat. Akhirnya masing-masing kami shalat sesuai arah keyakinannya. Ketika pagi hari, kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turun firman Allah,

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (arah qiblat) (QS. Al-Baqarah: 115). (HR. Turmudzi 345).

Makna kata : { فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ } Fa tsamma wajhullah : Di sanalah Allah Ta’ala. Karena Allah meliputi seluruh makhlukNya dimanapun mereka menghadapkan wajahnya, baik ke barat atau ke timur, selatan atau utara akan menemukan Allah Ta’ala. Sebab seluruh makhluk berada dalam pengawasanNya. Bagaimana itu tidak terjadi sedangkan Allah telah mengabarkan bahwa tentang diriNya bahwa bumi berada dalam genggamanNya pada hari kiamat nanti, dan tujuh lapis langit dibentangkan dengan tangan kananNya. Maka tidak ada arah yang kosong dari pengetahuan Allah Ta’ala, pengawasanNya, serta kekuasaanNya. Maka Allah menetapkan dalam firmanNya (إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ) “Sungguh Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” Sesungguhnya Dia amat luas DzatNya, ilmuNya, keutamaanNya, kedermawananNya, dan keramahanNya. Dialah Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu karena ilmuNya meliputi segala sesuatu.

Allah Ta’ala membantah orang-orang Yahudi yang telah mengkritik mengenai perintah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Dan mengizinkan bagi siapa saja yang tidak mengetahui arah kiblat atau tersamarkan baginya untuk shalat menghadap arah manapun. Allah Ta’ala memberitahukan bahwa milikNya lah arah timur dan barat, Dia yang menciptakan, menguasai, dan mengaturnya

Referensi: https://tafsirweb.com/538-surat-al-baqarah-ayat-115.html

AFM 

Create your website with WordPress.com
Get started