AQIDAH AGAMA BAHAI

Mengenal Sekte Baha’iyyah (Al-Babiyah/Al-Bahaiyah

Keyakinan dan Pemikiran

1- Pengikut aliran ini meyakini bahwa Mirza Ali Muhammad Ridha asy-Syirazi yang berjuluk al-Bab adalah pencipta segala sesuatu dengan kalimatnya, dialah awal dari segala sesuatu.

2- Mereka meyakini akidah hulul, ittihad dan reinkarnasi, bahwa azab hanya berlaku untuk arwah mirip dengan khayalan.

3- Meyakini Budha adalah yang benar, Konghucu adalah agama langit, Zeroaster adalah agama yang lurus, para tokoh India, Cina dan Persia adalah para nabi.

4- Meyakini bahwa Isa al-Masih disalib.

5- Mentakwilkan al-Qur`an dengan takwil-takwil kebatinan agar sejalan dengan hawa nafsu mereka.

6- Mengingkari mukjizat para nabi, para malaikat, jin, surga dan neraka.

7- Mengharamkan hijab atas wanita, menghalalkan nikah mut’ah, meyakini bahwa harta dan wanita adalah milik bersama.

8- Agama Mirza Ali Muhammad menasakh agama Muhammad shalalallahu allaihi wasallam

9- Shalat dengan sembilan rakaat sebanyak tiga kali, wudhu dengan air kembang, jika tidak ada maka bismilahnya dengan mengucapkan, Bismillah al-Athhar al-Athar lima kali. Tidak ada shalat jamaah selain shalat janazah dengan enam takbir, setiap takbir mengucapkan Allah Abha.

10- Jihad dan mengangkat senjata haram hukumnya, hal ini karena aliran ini merupakan pelayan penjajah barat.

11- Tidak mengakui bahwa Muhammad shalallawahu allaihi wasalam adalah nabi penutup, meyakini bahwa wahyu belum terputus, mereka menulis kitab-kitab yang menentang al-Qur`an yang penuh dengan kekeliruan dan bahasa yang rendah dan menggelikan.

12- Haji bukan ke Makkah akan tetapi ke kuburan Bahaullah di Akka Palestina.

Akar Keyakinan dan Pemikiran

Aliran ini berakar kepada Rafidhah Imamiyah, Syaikhiyah para pengkut Syaikh Ahmad al-Ihsa`i, Zionisme dan Yahudi internasional.

Kantong Aliran

Mayoritas Bahaiyin hidup di Iran, sebagian dari mereka juga ada di negeri-negeri Arab lainnya seperti Irak, Suriah, Lebanon dan Palestina, di negara yang terakhir inilah markas mereka berada dibawah naungan Zionis Yahudi.

Mereka juga mempunyai pengikut di Mesir, namun pemerintah Mesir membubarkan mereka dengan keputusan presiden no. 263 tahun 1960 M.

Mereka juga mempunyai beberapa cabang di Afrika: di Ethiopia, Adis Ababa, Kampala Uganda, Lusaka Zambia, di kota terakhir ini dilangsungkan muktamar tahunan mereka, dari 23 Mei sampi 13 Juni 1989 M. Aliran ini juga mempunyai cabang di Karachi Pakistan.

Di Eropa: London, Wina dan Frankfrut terdapat cabang-cabang mereka, di Sidney Australia juga ada.

Di Amerika, di Chichago terdapat tempat ibadah terbesar milik mereka, di kalangan mereka dikenal dengan Musyriq al-Adzkar, dari sini majalah Najm al-Gharb diterbitkan. Mereka juga mempunyai perkumpulan-perkumpulan besar di kota-kota besar Amerika seperti Los Angles, Brooklyn, New York. Di Amerika sendiri terdapat kurang lebih enam ratus organisasi Baha`i dengan dua juta anggota.

Aliran ini juga berhasil menyusupkan orang-orangnya di PBB, mereka mempunyai wakil di markas PBB di Jenewa, mereka mempunyai orang di badan sosial dan ekonomi PBB dan di Unicef, duta PBB untuk Afrika adalah orang mereka.

Kesimpulan

Bahaiyah atau Babiyah termasuk gerakan sesat yang keluar dari Islam karena penyimpangan keyakinan dan pemikiran mereka sudah sedemikain jauh, sama sekali tidak berhubungan dengan Islam, di samping permusuhan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin dan konspirasi mereka dengan musuh-musuh Islam untuk memerangi Islam.

Dar al-Ifta` Mesir telah mengeluarkan fatwa bahwa Baha`iyah adalah aliran yang keluar dari syariat Islam dan memerangi Islam, para pengikutnya adalah orang-orang kafir. Fatwa yang sama dikeluarkan oleh Majma’ al-Fiqhi al-Islami yang menginduk kepada Rabithah al-Alam al-Islami

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani

DENGAN TIGA HAL, ANDA ADALAH RAJA

DENGAN TIGA HAL, ANDA ADALAH RAJA…🍃

🔊 [ 📖 ] https://bbg-alilmu.com/archives/12587

Ada tiga perkara, bila kau memilikinya, kau bagaikan Raja yang paling kaya di dunia ini.

Pertama : Aman

Perasaan aman yang meliputi jiwa dan membalut hati, aman karena kau beriman dan takut pada Ilahi, hingga Allah menjagamu.

Ia merasa aman, karena ia tidak suka menyakiti tetangganya, temannya, orang-orang Islam, tidak suka mengadu domba, bahkan menjaga lisannya dengan baik maka jiwanya aman.

Bukan aman karena rumah dijaga oleh 4 satpam 5 anjing galak atau aman, karena pasang CCTV dan alarm yang setiap saat bisa berbunyi,

Bukan itu, justru itu semua tanda-tanda jika kau tidak aman.

Kedua : Afiah

Tubuhmu sehat wal’afiat

Tak penyakitan, tak ada pantangan, tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal cari duit ‘tuk makan ini dan itu.

Sekarang, tak boleh di gunakan tuk makan ini dan itu.

Ketiga: Memiliki makanan hari itu

Bukan brangkas yang berisi fulus.

Bukan ATM yang penuh.

Bukan tabungan yang cukup untuk 7 keturunan.

Cukup memiliki makanan hari ini

Besok gimana?

Serahkan pada Allah.

Yang tiada bisa diadakan, kalau Allah berkehendak dan kita mau berusaha.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بأسرها

“Siapa diantara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya.” (HR Bukhari)

Subhanalllah…

Jagalah Allah, niscaya kau akan aman.

Jagalah hubunganmu dengan hamba Allah.

Niscaya hidupmu tentram.

Sayangi tubuhmu dengan hidup sehat dan olahraga teratur,

Jangan menanti sakit.

Berdo’alah minta sehat pagi sore.

Bunuh ambisimu mengejar dunia, semakin dikejar ia semakin jauh.

Bersyukurlah dengan yang ada.

Kebutuhanmu sebenarnya tak banyak, tapi nafsu yang selalu mendikte…

MENARIKKAH DUNIA ITU ?

MENARIKKAH DUNIA ITU ?

Menarikkah dunia itu jika yg menarik itu maksiat dan kemungkaran?.

Menarikkah dunia itu jika kaya dgn hasil yg Haram?

Menarikkah dunia itu kalau kaya seorang?

Menarikkah dunia itu jika hidup tanpa Tuhan?

Menarikkah dunia itu jika hidup mengikut nafsu?

Ditanya kpd seorang Ulamak Sufi, apa yg menarik didunia ini bagiNya?

Beliau menjawab ” Baginya tidak ada sesuatu yg menarik didunia melainkan dunia digunakan utk mendekati Allah. Yg menarik untuk mendekati Allah, walau Quran dan Sunnah menerangkan hukum hakam tetapi itu bukanlah alat utama menjadikan diri ahli  syurga tetapi akal.

Dunia itu lebih banyak menjurus kepada kemungkaran.

Menggunakan akal untuk melakukan kemungkaran Nerakalah tempatnya.”

JAUHI DIRI DARI MENJADI HAMBA IBLIS LAKNATULLAH.

JAUHI DIRI DARI MENJADI HAMBA IBLIS LAKNATULLAH.

 Firman Allah s.w.t yang bermaksud: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai, dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayah-Nya.” (al-Imran-103)

Berpegang teguh dengan Tali Allah adalah bermaksud berpegang teguh dengan Agama Islam yang berpandukan Kitabullah dan Sunnah.  Larangan  berpecah-belah, iaitu jangan berselisih di antara  sesama Islam , hidup didalam satu jamaah yg tidak meminggirkan Sunnah.

Apa yg dapat dilihat sekarang umat Islam di Malaysia sedang mengalami  perselisihan dan perpecahan , ada yang menubuhkan kumpulan atau parti-parti berdasarkan semangat berpuak-puak kerana taksubkan bangsa atau pertubuhan demi perebutan kuasa ,pangkat serta kepentingan peribadi.

Jelas sekali mereka yang membuat onar menjadikan perpecahan Umat Islam sekarang telah melanggar perintah Allah serta tidak lagi menjadi hamba Allah malah menjadi hamba iblis yg dilaknati.

 Jika difikir segala onar yang ditunaskan olih pemimpin pemimpin parti politiklah yang menjadikan penyokong atau pengikut yg terdiri dari sebahagian rakyat Malaysia yg beragama Islam terpedaya terjun sama didalam kawah melanggar perintah Allah .

 Akibat pemimpin yang masing-masing mamandang sukunya, puak , kumpulan atau pertubuhannya lebih daripada yang lain dan hendak mengalahkan lawannya seperti dibayangkan oleh Allah terhadap suku Aus dan suku Khazraj jelas dapat disaksikan berlaku pada masa ini. Oleh yang demikian ada baiknya perkara-perkara yang membawa kepada perpecahan hendaklah dijauhi oleh semua rakyat Malaysia.

 Keseluruhan umat Islam Malaysia perlu memahami bahawa persaudaraan Islam itu adalah persaudaraan yang lahir dari takwa dan Islam yang menjadi tiang seri yang pertama, iaitu tiang seri yang berasaskan pegangan yang kukuh dengan tali Allah, iaitu dengan perjanjian-Nya, sistem-Nya dan agama-Nya dan bukannya persaudaraan yang lahir semata-mata bermasyarakat yang berlandaskan sesuatu fahaman yang lain atau kerana sesuatu matlamat yang lain atau persaudaraan yang berasaskan pegangan pada sesuatu tali yang lain dari tali-tali jahiliah yang banyak.

Umat Islam Malaysia juga perlu memahamI bahawa persaudaraan yang berpegang teguh dengan tali Allah ini merupakan suatu nikmat yang dibangkitkan Allah kepada angkatan jamaah Muslimin yang pertama, iaitu satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada para hamba yang sentiasa disayangi, dan di sini Allah mengingatkan nikmat ini kepada mereka.

Allah telah mengingatkan  bagaimana mereka di zaman jahiliah dahulu hidup bermusuh-musuhan antara satu sama lain seperti permusuhan yang paling tajam yang wujud di antara suku Aus dan Khazraj (di Madinah), iaitu dua suku Arab yang tinggal di Yathrib dan mereka berjiran dengan kaum Yahudi mendapat gelanggang yang sesuai dengan usaha kerja dan cara hidup mereka.

Kemudian Allah menjinakkan hati kedua-dua suku kaum ini dengan perantaraan agama Islam. Hanya Islam sahaja yang dapat memadukan hati yang berjauhan ini.

Hanya tali Allah sahaja yang dapat memberi pegangan kepada semua orang dan dengan nikmat itu mereka dapat hidup sebagai saudara.

Tiada yang dapat menyatukan hati melainkan persaudaraan kerana Allah, iaitu persaudaraan yang membuat segala dendam kesumat yang turun temurun dalam sejarah, segala pembalasan dendam, segala tamak haloba peribadi dan segala panji kaum itu kelihatan begitu kecil di samping persaudaraan ini dapat menyatupadukan mereka dalam satu barisan di bawah panji-panji Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.

Firman Allah s.w.t: “Dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga).”

 Perselisihan yang semakin serius yang diusahakan oleh semua pemimpin politik yg mengaku  beragama Islam yg membuat onar dilihat dalam usha untuk menghapuskan hukum Allah yang telah ditetapkan. Perselisihan pemimpin  ini bersumberkan fikiran dan hawa nafsu yang ingin menetapkan hukum-hukum agama mengikut acuan mereka.

Seluruh umat Islam Malaysia perlu sedar bahawa pada masa sekarang suasana umat Islam Malaysia begitu rapuh ukhuwahnya. Hal ini menyebabkan musuh dapat menguasai umat Islam dari segenap aspek, sama ada politik, kuasa, ekonomi hatta corak kehidupan yang mereka jalani terpaksa mengikut telunjuk musuh-musuh Islam.

Justeru itu, ayuh marilah semua umat Islam Malaysia bersatu padu dengan membuang yang keruh dan mengambil yang jernih. Usaha seperti ini hendaklah digembeleng bersama oleh pemerintah, ulama, pemimpin masyarakat, cendekiawan, ibu bapa dan masyarakat seluruhnya. Semoga kita semua tergolong dalam golongan yang mendapat hidayah Allah. Amin.

HAKIKAT IMAN.

HAKIKAT IMAN.

Iman ertinya percaya, percaya menjurus kepada pengertian yang luas, kerana bermacam macam jenis bentuk kepercayaan ada pada manusia.

Kepercayaan itu timbul dari beberapa sudut. Dari penglihatan, pendengaran, pemikiran.

Dari sudut penglihatan , kepercayaan timbul apabila melihat dengan mata sendiri apa yg berlaku, maka dikatakan percaya melalui mata.

Percaya melalui pendengaran pula , kdpercayaan timbul  hanya dengan mendengar kata kata  orang maka disebut percaya melalui telinga. Percaya dengan pemikiran pula, timbul kepercayaan satelah berfikir, maka disebut percaya melalui akal.

Kepercayaan melalui akal memerlukan penelitian dan kajian yg halus melalui pembacaan,  penglihatan, pendengaran.

Semua agama yang ada dalam dunia ini ujud melalui kepercayaan , kepercayaan agama diantara satu sama lain itu pula mempunyai perbezaan.

Dalam Islam kepercayaan itu mempunyai rukun yang lebih dikenali dengan sebutan rukun Iman.

Berdalilkan dengan  Al Quran tentang Rukun Iman Allah berfirman yg bererti;

” Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada RasulNya (Muhammad s.a.w) dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh.” (Surah An-Nisaa’: 136)

 Dari ayat diatas Rukun Iman disebutkan hanyalah lima perkara iaitu

1)Percaya kepada Allah

2)Percaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul

3)Percaya kepada Malaikat-Malaikat

4)Percaya kepada Kitab-Kitab

5)Percaya kepada Hari Akhirat

Tidak disebut rukun iman ke-6 iaitu

Percaya kepada Qada’ dan Qadar

Kewajipan beriman kepada Qada’ dan Qadar sememangnya tidak diterangkan di dalam ayat 136 surah an-Nisaa’. Namun begitu, Rukun Iman ke-6 yang digariskan oleh Rasulullah tetap mempunyai asas di dalam al-Quran berdasarkan kepada ayat-ayatnya yang lain iaitu:-

” Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri. (Surah Al-Hadid: 22-23)

Sesaorang yang mengaku Islam tidaklah sempurna Islamnya jika tidak sempurna Imannya.  Memang tidak dapat dinafikan terdapat orang yang mengaku Islam itu yang tidak sempurna iman mereka, ada yg beagama tetapi tidak beriman, beriman tanpa rukun, beragama dengan iman yg luntang lanting, puntang panting, iman sekerat sekerat.

Terdapat juga orang yang orang yang pada mulanya sempurna imannya, mencicirkan iman mereka disebabkan sesuatu. Disebabkan kesusahan, disebabkan keuzuran yg tidak pulih , disebabkan untuk mencapai kejayaan dan bermacam macam lagi.

 Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

”  Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin.

Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?

Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?

Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan solat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan.

Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?

Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?

Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.

Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Kitab Sahih Muslim )

Melalui hadith itu dapatlah difahamkan berapa pentingnya kesempurnaan iman itu didalam diri sesaorang yang mengaku Islam.

Iman adalah ucapan lisan, perbuatan anggota badan dan keyakinan hati. Iman akan bertambah kuat dengan ketaatan kepada Allah SWT dan akan berkurang dengan berbuat maksiat.

Terkait hal ini Imam Ibnu Quddamah mengutip surah al-Bayyinah ayat ke-5 yaitu sebagai berikut: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Sementara itu, Ibnu Qudamah mengutip hadis Rasulullah SAW: “Iman ada 70 cabang lebih. Yang paling tinggi adalah syahadat dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar dari neraka siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya ada iman meskipun seberat butir gandum atau biji atau dzarrah.”(HR Al-Bukhari).

 Iman merupakan harta yang paling berharga. Menurut Islam, mulia dan hina manusia itu dikelaskan mengikut taraf Iman masing-masing. Barangsiapa yang tinggi Imannya, dia akan menjadi orang yang mulia dalam pandangan Allah s.w.t. Barangsiapa yang tidak ada langsung Iman, maka dia akan menjadi hina, sehina-hinanya di sisi Allah s.w.t.

Firman Allah s.w.t, Surah Al-Hujurat : 13

Maksudnya:

“Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah s.w.t ialah Taqwa di antara kamu.”

Sabda Rasulullah s.a.w :

Maksudnya:

“Tidak ada kelebihan orang Arab dengan orang A’jam itu melainkan Taqwa. ”

(Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi)

TAKRIF IMAN

 Sabda Rasulullah s.a.w :

Maksudnya:

“Yakin dengan hati, diikrar dengan lidah dan dilaksanakan dengan perbuatan.”

Sebagaimana yang telah dikatakan Iman itu bermaksud “Percaya”. Oleh itu barangsiapa yang beriman dia dikatakan “Percaya”. Jadi, apabila dia telah percaya, maka akan lahirlah pada diri seseorang itu, yakin, mengaku dan terus diamalkan. Iman pada seseorang itu pula tidak sama dengan Iman yang dimiliki oleh orang lain. Oleh itu, ulama telah membahagikan iman itu kepada:

1) Iman Taqlid

2) Iman Ilmu

3) Iman A’yan

4) Iman Hak

5)manHakikat

Iman Taqlid

Merupakan Iman ikut-ikut atau “iman pak turut”. Dia beriman dengan Rukun Iman hanya dengan ikut-ikut sahaja. Pegangan Islamnya tidak kuat  kerana tidak ada hujah atau alasan yang kuat mengapa dia beriman.

Contohnya apabila ditanya, apakah bukti Allah itu ada? Dia hanya mampu menjawab,

“ Semua orang kata ada, saya kata adalah ”.

Jadi, sandaran keyakinannya pada orang sahaja. Dia tidak ada dalil Aqli atau Naqli atau dalil akal dan Al-Quran untuk membuktikan keyakinannya pada Rukun Iman. Bagi mereka yang masih beriman Taqlid, maka iman mereka tidak sah di sisi Allah s.w.t. dan segala amal ibadahnya selama ini tertolak dan tidak mendapat pahala di sisi Allah s.w.t.

Tetapi, bagi orang-orang yang akalnya sangat bodoh walaupun sudah belajar dan mengaji, tetap  tidak dapat memahami dalil wujudnya Allah s.w.t., maka kata sesetengah ulama adalah sah baginya dengan Iman Taqlid itu.

Iman Ilmu

 Iman ilmu adalah iman yang sudah berdasarkan ilmu pengetahuan yang digariskan oleh Islam. Orang yang memiliki Iman Ilmu telah mempelajari tentang Allah s.w.t, Rasul, Malaikat, Kitab-kitab, Kiamat, Qada dan Qadar. Kemudian dia faham dan meyakini dengan sungguh-sungguh.

Contohnya dia telah belajar  20 Sifat Wajib  Allah s.w.t dengan dalil Aqli dan Naqli secara Ijmali ( ringkas ), 20  Sifat Mustahil  Allah dan 1 Sifat Harus bagi Allah . Juga sudah belajar  dengan dalil Aqli dan Naqli secara Ijmali bagi  4 Sifat Wajib bagi Rasul, 4 Sifat Mustahil dan 1 Harus bagi Rasul .

Jadi, kesemua Sifat-sifat  Allah s.w.t dan Rasul yang berjumlah   50 itu adalah  wajib dipelajari dan difahamkannya dengan bersungguh-sungguh. 50 sifat-sifat  inilah yang terkandung di dalam Kalimah Syahadah;

“Maksudnya: “Aku bersaksi bahawasanya tiada Tuhan selain Allah  dan aku bersaksi bahawasanya Nabi Muhammad itu pesuruh Allah.”

Inilah yang dikatakan “A’qoidul Iman” atau kesimpulan Iman. Hasil dari itu  jadilah ia orang yang beriman Ilmu.

Sifat golongan yang memiliki Iman Ilmu:

Sudah ada dalil mengapa dia wajib beriman kepada Allah dan Rasul.

Ia sudah mampu menentang ideologi atau fahaman yang di luar daripada Islam.

Ia sentiasa berada di dalam fikiran tauhid yang unggul dan mantap.

 Namun Imannya hanya kuat bertunjang di akal, belum lagi  ke dalam

Tetapi ia tidak kuat melawan hawa nafsu dan syaitan.

Dia belum rasa takut kepada  Allah s.w.t dan masih  lagi berbuat derhaka dengan Allah s.w.t.

Ia hanya mampu memperkatakan atau bersyarah tentang Islam  tetapi tidak mampu berbuat.

 Seperti firman Allah s.w.t, Surah As-Saff : 2 – 3

Maksudnya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu perkatakan yang tidak     kamu lakukan. Amat besarlah kebencian di sisi Allah, apa yang kamu perkatakan, tetapi tidak kamu lakukan.”

Sifat begini banyak berlaku pada Muslim  dan orang alim  akhir zaman. Di dalam kitab “Matan Zubat” ada menyebut:

“Orang alim, tetapi tidak beramal dengan ilmunya, ia akan masuk Neraka terlebih dahulu dari penyembah berhala.”

Daripada Anas r.a berkata, bersabda Rasulullah s.a.w:

Maksudnya:

“Akan datang di akhir zaman, ahli-ahli ibadah jahil dan ulama’ fasiq.”

Sabda Rasulullah s.a.w lagi:

Maksudnya:

“Bila tergelincir orang alim, maka akan tergelincirlah alam.”

Iman A’yan

Iman A’yan ini lebih tinggi daripada Iman Ilmu kerana hasil dari peningkatan Iman,  ilmu itu diamalkan dan diyakini bersungguh-sungguh.

Sifat golongan yang memiliki Iman A’yan:

Imannya bertempat di hati (jiwa) dan hatinya pula sentiasa mengingati Allah s.w.t.

Ilmu yang dipelajarinya meresap ke fikiran dan ibadah yang khusyuk telah meresap ke hatinya. Orang yang ber Iman A’yan sentiasa mempunyai hubungan hati dengan Allah s.w.t.

Firman Allah s.w.t, Surah Al-Imran : 191

Maksudnya:

“Mereka yang sentiasa mengingati Allah s.w.t di waktu berdiri, duduk dan  baring dan mereka sentiasa memikirkan tentang kejadian langit dan bumi, seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, tidak Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jauhilah kami dari azab Neraka.”

Mereka sentiasa merasa kebesaran Allah s.w.t di mana sahaja mereka berada.

Mereka menyerah diri kepada Allah s.w.t tanpa syak dan ragu lagi.

Bila sebut sahaja nama Allah s.w.t, maka gementarlah hatinya.

Firman Allah s.w.t, Surah Al-Anfal : 2

Maksudnya :

“Sesungguhnya orang Mukmin itu, apabila disebut sahaja nama Allah,

gementarlah hatinya dan apabila dibaca sahaja ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan mereka dan terus bertawakal kepada Allah.”

Setiap perintah Allah s.w.t kecil dan besar dibuat bersungguh-sungguh dengan taat. Walaupun begitu, mereka juga kadang-kadang terjebak juga dengan dosa-dosa kecil, tetapi mereka cepat-cepat bertaubat’ “ illal lammam “.

Hidup mereka penuh berakhlak dengan Allah s.w.t dan manusia.

Hati mereka sentiasa merasa khusyuk, takut, terasa diawasi oleh Allah s.w.t dan tidak cinta dunia.

Mereka juga sabar berhadapan dengan ujian-ujian hidup.

Mereka sudah mampu menbangunkan Islam di dalam diri, keluarga dan masyarakat.

Golongan yang memiliki Iman A’yan sentiasa mendapat bantuan dari Allah s.w.t. Mereka tidak lama menjalani  hisab ( perbicaraan )  di Akhirat dan mudah masuk ke Syurga.

Mereka yang memiliki Iman A’yan diberi gelaran berikut:

Orang Soleh

Golongan Abror (golongan yang berbakti )

Golongan Al-Muflihun (mendapat kejayaan)

Golongan Al- Faizun (mendapat kemenangan)

Golongan As Habul Yamin (golongan kanan)

Imam Al- Ghazali r.t.  ada berkata:

“Untuk menjadi orang yang soleh, sekurang-kurangnya 18 jam dalam beribadah kepada Allah dan 6 jam sahaja dalam perkara-perkara Harus setiap hari.”

Iman Hak

Martabat iman yang boleh dicapai oleh seseorang itu ialah Iman Hak iaitu iman yang sebenar. Mereka melihat Allah s.w.t pada apa yang mereka lihat.

Sifat golongan yang memiliki Iman Hak ialah :

Ingatan kepada Allah s.w.t bukan dibuat-buat kerana merasa hebat dan takut kepada Allah s.w.t.

Hati mereka tidak lekang dari mengingati Allah s.w.t dan khusyuk denganNya.

Hatinya tidak terpaut dengan dunia dan tidak dapat dilalaikan oleh nafsu dan syaitan.

Mereka meletakkan liabiliti tahap kebaikan orang Soleh itu seolah-olah satu kejahatan bagi tahap Iman Hak.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

Maksudnya:

“Kebaikan orang Soleh itu dianggap satu kejahatan kepada orang Muqarrobin.”

Mereka Iman Hak adalah seorang yang zuhud, ikhlas, warak, tawaduk, menunaikan perintah Allah s.w.t, tidak makan dipuji dan tidak hina dikeji.

Kebahagiaan hati mereka lebih utama dari wang ringgit. Itulah yang dikatakan “Aljannatul A’jilah” atau syurga yang disegerakan.

Mereka cinta Akhirat seperti kita cinta dunia. Mereka inilah yang layak Allah s.w.t serahkan dunia ini untuk mereka tadbir.

Firman Allah s.w.t, Surah Al-Anbiya’ : 105

Maksudnya:

“Sesungguhnya Allah akan wariskan bumi ini kepada orang yang Soleh.”

Iman Hakikat

Inilah peringkat Iman yang paling sempurna. Iman ini dimiliki oleh Rasul, Nabi-nabi dan Sahabat-sahabat dan wali-wali besar. Mereka ini Allah  tempatkan di dalam Syurga yang paling tinggi. Mereka dimasukkan ke dalam Syurga tanpa melalui hisab lagi.

Sifat golongan yang memiliki Iman Hakikat adalah :

Hidup mereka 24 jam asyik dengan Allah s.w.t.

Hati mereka kekal mengingati Allah s.w.t dalam tidur mahupun jaga.

Setiap perbuatan mereka, semuanya menjadi ibadah kepada Allah s.w.t.

Ibadah mereka hebat, sembahyang paling kurang 300 rakaat sehari.

Allah s.w.t akan turunkan Barokah di mana mereka berada.

Mereka inilah yang dikatakan “ Super Skill Akhirat ” atau “ Division One Akhirat ”

Mereka diberi pangkat yang begitu tinggi oleh Allah s.w.t adalah kerana begitu banyak pengorbanan mereka terhadap Allah s.w.t.

DUNIA DAN KEHIDUPAN MANUSIA

DUNIA DAN KEHIDUPAN MANUSIA

Dunia mempunyai beberapa sifat, iaitu:

1)La’ibun (permainan), iaitu permainan jasmani dan ini adalah perbuatan anak-anak yang mereka itu menjadikan diri mereka sangat letih dan kemudian setelah permainan tersebut selesai tidak ada faedah yang diperolehi.

2)Lahwun (Sesuatu yang melalaikan/senda gurau), iaitu yang menjadikan hati lalai. Ini adalah perbuatan orang dewasa yang kebanyakannya setelah perbuatan yang melalaikan itu selesai, maka yang tinggal hanyalah penyesalan. Ini kerana, orang yang berakal setelah melakukan perbuatan yang melalaikan dia melihat bahawa hartanya hilang, umurnya berkurang (pergi) dan kelazatannya habis. Sedangkan nafsu/jiwa semakin rindu dan haus akan hal tersebut, namun nafsu tidak memperolehinya, sehingga terkumpul kesan buruk dan berkesinambungan (tidak pernah puas).

3)Zinah (perhiasan), iaitu berhias dalam hal pakaian, makanan, minuman, kenderaan, rumah, istana, kedudukan, dan lain-lain. Ibnu Abbas R.Anhuma berkata, “Maksudnya adalah bahawasanya orang kafir sibuk sepanjang hidupnya untuk mencari perhiasan dunia tanpa beramal untuk akhirat.”

Saling berbangga terhadap sifat-sifat yang fana’ (tidak abadi) dan pasti hilang, iaitu boleh jadi berbangga-bangga dengan nasab, kekuasaan, kekuatan, bala tentera yang semuanya itu pasti lenyap. Dan saling berbangga di antara kamu iaitu masing-masing dari penduduk dunia ingin membanggakan atas yang lain dan ingin supaya dia menjadi jaguh dalam semua urusannya dan ingin mendapatkan populariti dalam semua keadaannya.

Berbangga-bangga dengan harta dan anak, iaitu masing-masing menginginkan dia lebih banyak dari yang lainnya dalam hal harta dan anak. Semua ini hanya terjadi pada diri pencinta dunia dan yang merasa damai dengan dunia.

Ibnu Abbas R.Anhuma berkata, “Mengumpulkan harta dalam kemurkaan Allah dan membanggakan harta terhadap wali-wali Allah serta mengeluarkan harta dalam perkara-perkara yang mendatangkan murka Allah maka dia menjadi kegelapan yang bertumpuk-tumpuk.” Hasan al-Basri Rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat orang yang mengalahkanmu dalam perkara dunia, maka kalahkan dia dalam hal akhirat.”

Semoga Allah selamatkan kita daripada tipu daya dunia dan menjadikan kita mendapat kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

 Firman Allah SWT:Maksudnya: “Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; akhirnya ia menjadi hancur bersepai; dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa) di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat). Dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.

(Surah al-Hadid (20)

Untuk mendapatkan sebuah tafsiran yang jelas, marilah kita merujuk kepada ulama’ salafus soleh dari kalangan ahli tafsir serta ulama’ mutaakhirin. Kami mulakan dengan tafsiran ulama’ mutaqaddimin. Antaranya:

Ibn Kathi berkata dalam tafsirnya, Tafsir al-Quran al-‘Azim (8/55-65): Allah berfirman dengan merendahkan dan menghinakan kehidupan dunia dalam ayat di atas. Iaitu yang dihasilkan oleh hal-hal duniawi bagi penghuninya hanyalah yang disebutkan itu. Ia adalah sepertimana firman Allah SWT:

Maksudnya: Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga).

(Surah Ali Imran (14)

Firman Allah yg bermaksud“ُKemudian tanaman itu bergerak segar s masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; akhirnya ia menjadi hancur bersepai), maksudnya tanaman itu berubah menjadi kering sehingga engkau melihatnya berwarna kuning setelah sebelumnya berwarna hijau. Dan selepas itu semuanya berubah menjadi kering dan hancur.

Demikianlah kehidupan dunia berjalan. Pertama muda belia, lalu menginjak dewasa, kemudian menjadi lemah dan tidak berdaya. Ketika perumpamaan itu menunjukkan lenyap dan musnahnya dunia yang pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak dan bahawasanya akhirat pasti ada. Dan tidak mungkin tidak Allah mengingatkan agar sentiasa beringat dengan kehidupan dunia dan menanamkan kecintaan terhadap kebaikan di dalamnya.

Firman Allah yg bermaksud ِ” (Dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya) Yakni semuanya itu hanya merupakan kesenangan fana, yang menipu sesiapa sahaja yang cenderung kepadanya. Sesungguhnya manusia yang tertipu olehnya dan dibuatnya terkagum-kagum, sehingga dia meyakini bahawasanya tidak ada alam lain selain dunia dan tidak ada akhirat setelah dunia, sedangkan ia (dunia) sangat hina dan sangat kecil dibandingkan dengan alam akhirat.

Nabi SAW bersabda:

Maksudnya: “Satu tempat di syurga yang sebesar cemeti lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

Riwayat al-Bukhari (6415)

Manakala dalam hadis daripada Abdullah R.A, Nabi SAW bersabda: Maksudnya: “Syurga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kamu daripada tali sandalnya. Dan neraka juga demikian.”

Riwayat al-Bukhari (6488)

Huraian Fakhruddin al-Razi dalam kitab tafsirnya, Tafsir Mafatih al-Ghaib (29/462-464) berkata: Ketahuilah olehmu bahawasanya hidup di dunia ini ada hikmahnya dan ada benarnya. Ia adalah kerana Tuhan telah berfirman bahawa Dia lebih tahu apa yang manusia tidak mengetahuinya. Jika bukan ada hikmah dan ada kebenaranya nescaya Allah tidak akan berfirman sedemikian. Dan Tuhan juga telah menciptakan hidup dan disebutkan pula bahawasanya Tuhan telah menciptakan mati dan hidup adalah kerana bagi menguji kamu siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Tuhan juga menegaskan bahawa tidaklah Dia menciptakan itu dengan sembarangan dan tidak tentu arah (‘abath), dan firman-Nya juga: “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di atas keduanya dengan sia-sia (batil).”

Oleh sebab hidup itu adalah nikmat, bahkan ia adalah asal pokok daripada nikmat, dan hakikat segala sesuatu tidak berubah, baik tatkala di dunia apatah lagi di akhirat. Dan oleh kerana Allah SWT juga amat besar kurnia-Nya, oleh kerana menciptakan hidup itu, maka berfirmanlah Dia: Bagaimana kamu akan kafir kepada Allah, sedangkan kamu tadinya mati, kemudian itu dihidupkan. Maka yang terutama sekali dari pelbagai jenis nikmat itu ialah nikmat hidup itu sendiri.

Oleh sebab itu maka dari segala yang telah kita turunkan itu, dapatlah kita katakan bahawa kehidupan dunia ini tidak tercela. Melainkan dengan yang dimaksud dengan mencela hidup itu ialah jika hidup dipergunakan untuk mengikuti kehendak syaitan dan menuruti hawa nafsu. Itulah yang tercela. Hidup yang begitulah yang dijelaskan cacatnya oleh Tuhan. Pertama bahawa hidup yang begitu ialah la’ibun, ertinya main-main; itulah perbuatan kanak-kanak yang badannya letih, faedahnya tidak ada. Kedua adalah lahwun, yang bermaksud senda gurau; iaitu perbuatan anak-anak muda. Biasanya setelah selesai bergurau-gurau tidak ada kesannya melainkan penyesalan. Kerana orang-orang yang berakal merasakan sendiri bahawa setelah senda gurau itu selesai, kesan yang tinggal hanyalah menyesal, harta habis dan umur juga habis. Kepuasan berganti dengan kepenatan, sedangkan jiwa haus hendak mengulanginya kembali. Kemudian ternyatalah mudaratnya datang tidak putus-putus. Kemudian itu dikatakan pula bahawa dunia itu tidak lain hanya perhiasa (zinatun). Inilah pangkal kerosakan, kerana perhiasan atau ziinah ialah berusaha mengelokkan barang walaupun kurang elok dan berusaha membuat sesuatu kelihatan sempurna sedangkan ia telah kurang.

Maka apabila sudah jelas bahawa usia itu sendiri dari muda pasti menuju tua, dari kukuh pasti menuju runtuh, bagaimanalah seorang yang berakal ingin menjadikan waktunya menahan perjalanan yang wajar bahawa yang kukuh menuju rosak. Disebabkan itulah, Ibn Abbas memberikan kata ganti dalam tafsir ini: Makna ayat ini ialah bahawa orang yang kafir itu siang malam yang difikirkannya di dunia ini ialah memperbaiki yang rosak dan dia lupa kepada kehidupan akhirat. Hal ini sepertimana syair yang menyebut:

 Hidupmu di dunia, wahai orang yang tertipu, ialah lupa dan lalai.

Syeikh al-Maraghi berkata: “Kehidupan dunia dari aspek kebinasaan dan kemusnahan yang begitu cepat diumpamakan seperti tanah yang ditimpa hujan lebat. Seterusnya Dia menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang mengagumkan para petani dan menjadikan mereka berasa gembira, rasa tertarik, bersuka ria dan bersenang-senang, namun ketika mereka diasyikkan dengan keadaan demikian, tiba-tiba tanam-tanaman itu menjadi kering dan hancur berterbangan ditiup angin.

Kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan dan kenikmatan yang akan mengalami kemusnahan, tidak kekal dan hanya cenderung memperdayakan orang dan sememangnya sudah ramai orang yang telah terperdaya dan kagum terhadapnya sehingga dia berkeyakinan bahawa tidak ada negeri lain selain dunia ini dan tidak ada tempat kembali lagi di seberang sana. ” (Lihat Tafsir al-Maraghi, 14/6855)

Berkata Sayyid Qutb: Kehidupan dunia apabila diukurkan dengan ukuran dunia dan ditimbangkan dengan neraca dunia, maka ia akan dilihat dan dirasakan sebagai satu kehidupan yang amat agung dan besar. Akan tetapi, apabila diukur dengan ukuran alam buana dan ditimbangkan dengan neraca Akhirat, maka ia akan kelihatan sangat kecil dan kerdil. Gambaran kehidupan dunia di sini kelihatan seperti mainan-mainan kanak-kanak yang kecil sahaja jika dibandingkan dengan kebesaran dan kesungguhan kehidupan Akhirat, di mana berakhirnya kesudahan untung nasib manusia setelah selesainya permainan hidup di dunia.

Permainan, hiburan, berbangga-bangga, berlumba-lumba membanyakkan harta dan anak merupakan hakikat kehidupan dunia walaupun pada lahirnya kelihatan merupakan satu kehidupan yang penuh dengan kesungguhan dan kesibukan.

Kemudian al-Quran terus membandingkan kehidupan dunia dengan satu perbandingan yang menarik mengikut cara al-Quran yang amat seni, iaitu kehidupan dunia ini adalah sama seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya,Kata-kata َdi sini mengandungi maksud sindiran untuk menunjukkan bahawa orang-orang yang kafir itu amat tertarik dengan kehidupan dunia.

Beliau berkata lagi: Inilah hakikat kenikmatan dunia yang sebenar apabila seseorang berfikir secara mendalam untuk mencari hakikat yang sebenar. Tetapi tujuan al-Quran mengemukakan hakikat ini bukanlah untuk menggalakkan manusia supaya memencilkan diri mereka dari kehidupan dunia dan mengabaikan tugas pembangunan dan khalifah memerintah bumi yang telah diserahkan kepada makhluk manusia itu, malah tujuannya ialah untuk membetulkan ukuran perasaan dan penilaian jiwa manusia terhadap kehidupan itu, juga untuk mengingatkan manusia supaya jangan terpesona dengan kenikmatan dunia yang penuh dengan tipu daya itu, dan jangan terkongkong dengan tarikan yang mengikatkan manusia dengan bumi. (Lihat Fi Zilal al-Quran, 15/525)

Dr. Hamka berkata: Diumpamakan Tuhan bahawa manusia berbangga dengan main-main, senda gurau, berhias, berbangga-bangga kerana pangkat dan kedudukan, dan banyak anak dan harta benda dengan petani ke sawah itu. Keduanya itu, kebanggaan dengan harta dunia dan ketakjuban petani melihat melihat hujan turun, janganlah terlalu dibanggakan. Kerana pada hakikatnya tidaklah kita yang kuasa.

Sudah berkali-kali, berpuluh beratus kali kejadian sawah yang telah kuning padinya, tidak disangka sama sekali, hancur melapik dengan bumi kerana angin ribut. Sawah yang telah menghijau padinya dan kelihatan akan subur kerana telah diberi pupuk, habis hilang kerana berhektar-hektar dibanjiri air hujan. Toko dan kedai besar yang didirikan dengan bersusah payah memakan waktu bertahun-tahun boleh sahaja dalam semalam, satu jam dua jam habis dimakan api. Bahkan kadang-kadang tubuh badan kita sendiri, kemarin sedang sihat wal afiat, besok pagi datang orang menghimbaukan bahawa tadi malam telah menghembuskan nafas terakhir. (Lihat Tafsir al-Azhar, 6/296)

Dr Wahbah al-Zuhaili berkata: Sesungguhnya maksud yang utama dan pokok dari ayat ini adalah menegaskan akan hinanya dunia dan agungnya keadaan akhirat. Oleh kerana itu, Allah SWT menerangkan dunia dengan lima sifat atau spesifikasi, iaitu:

Pertama, dunia adalah permainan. Ini adalah tipikal bagi anak-anak yang sangat suka bermain sehingga letih dan menghabiskan tenaga mereka sedemikian rupa, dan kemudiannya hal itu berakhir tanpa ada sebarang faedah dan tenaga mereka terbuang sia-sia.

Kedua, dunia adalah hiburan dan huru-hara belaka. Ini adalah tipikal anak-anak muda, yang biasanya tidak memberika sesuatu melainkan penyesalan.

Ketiga, dunia adalah perhiasan. Ini adalah tipikal kaum perempuan, yang tujuan utamanya adalah menutupi kekurangan.

Keempat, saling membangga-banggakan diri dengan hal-hal yang fana, adakalanya dengan nasab, kemampuan dan potensi material, kekuatan fizik, dan lain-lain.

Kelima, dunia adalah tempat untuk saling bersaing dalam banyaknya harta dan anak. (Lihat Tafsir al-Munir, 14/353)

Namun apakah tujuan Allah menjadikan dunia dan manusia sebagai khalifah?

Firman Allah yg bermaksud:

 “Wahai orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”. (Surah Ali Imran, ayat 102)

Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Allah SWT juga memuliakan manusia yang diciptakan-Nya, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Quranaksudnya:

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami telah beri mereka menggunakan berbagai-bagai kenderaan di darat dan di laut dan Kami telah memberikan rezeki kepada mereka dari benda-benda yang baik-baik serta Kami telah lebihkan mereka dengan selebih-lebihnya atas banyak makhluk-makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Surah Al-Israa’, ayat 70)

Kitab Tafsir Pimpinan Ar-Rahman menjelaskan mafhum ayat ini: Allah Ta’ala muliakan anak-anak Adam dengan menjadikan mereka dalam bentuk yang seelok-eloknya, pandai berkata-kata, berakal fikiran, sehingga dapat menguasai dunia dan isinya. Diberinya kemudahan bergerak di darat, di laut dan di udara dengan menggunakan berbagai jenis kenderaan. Diberinya rezeki dari benda-benda yang baik-baik dan lazat serta diberinya kelebihan yang besar dari kebanyakan makhluk-makhluk yang lain. Sebab itu, sudah semestinya mereka bersyukur akan nikmat-nikmat Allah yang besar itu, dengan beribadat kepada-Nya dan menjauhi perbuatan syirik.

Manusia dan makhluk-makhluk lain yang diciptakan Allah SWT, tidak diciptakan dengan sia-sia, melainkan ada manfaat dan juga fungsinya kepada kehidupan manusia dan juga alam ini. Firman Allah SWT yg maksudnya:

“Dia-lah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk, Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada), Yang Membentuk rupa (makhluk-makhluk-Nya), bagi-Nya-lah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya, bertasbih kepada-Nya segala yang ada di langit dan di bumi dan Dia-lah Yang tidak ada tolok banding-Nya, lagi Maha Bijaksana”. (Surah Al-Hasyr, ayat 24)

Islam sebagai agama yang diperakui agama yang benar di sisi Allah SWT, adalah agama yang mengatur kehidupan manusia mengikut titah perintah Allah SWT dan mengikut Sunnah Rasul-Nya. FirmanAllah yg bermaksud

: “Dan tidaklah harus bagi orang yang beriman, lelaki dan perempuan apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata”. (Surah Al-Ahzab, ayat 36)

Dalam Kitab Tafsir Pimpinan Ar-Rahman menjelaskan lagi: Ayat ini menegaskan satu kaedah yang wajib dipatuhi oleh orang mukmin dalam segala urusan hidupnya, iaitu tidak harus bagi seseorang itu memilih sesuatu ketetapan selain daripada yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan diterangkan oleh Rasul-Nya.

Sehubungan itu, Islam meletakkan tiga tugas utama manusia sebagaimana hamba Allah yang menjadi penghuni di muka bumi ini, iaitu:

Pertama: Tugas sebagai hamba Allah SWT. Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk melaksana tugasnya sebagai hamba Allah ialah mengabdikan diri kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupan, bukan saja manusia, malah jin juga diciptakan untuk mengabdikan dirinya kepada Allah SWT. Maksud pengabdian kepada Allah SWT adalah luas, bukan semata-mata dalam ibadah-ibadah khusus seperti melaksanakan ibadat solat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, tetapi mencakupi aspek dalam mengatur uruskan kehidupan harian, hidup berkeluarga, bermasyarakat, bermuamalat, berpolitik, termasuk pendidikan, ekonomi, perundangan dan sebagainya mesti di atas landasan dan makna mengabdikan diri kepada Allah SWT, firman-Nya di dalam Al-Quran:

Maksudnya: “Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka mengabdi dan beribadat kepada-Ku”. (Surah Adz-Dzaariyaat, ayat 56)

Tidak syirik atau menyekutukan Allah SWT dalam beribadah, beramal, bekerja dan dalam apa-apa jua tindakan, firman-Nya yg maksudnya:

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu, oleh itu, sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal soleh dan janganlah dia mempersekutukan sesiapapun dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Al-Kahfi, ayat 110)

Kedua: Tugas sebagai khalifah Allah SWT. Firman Allah SWT:

Maksudnya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), pada hal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Surah Al-Baqarah, ayat 30)

Dalam Kitab Tafsir Pimpinan Ar-Rahman menjelaskan maksud “khalifah” dalam ayat ini: Khalifah ialah seorang yang dipertanggungjawabkan oleh Allah untuk mengatur kehidupan manusia di bumi dengan berdasarkan wahyu dan syariat Allah, supaya kehidupan manusia itu teratur dan mempunyai tujuan-tujuan hidup yang suci murni untuk mencapai keredhaan Allah Azza wa Jalla.

Kisah Nabi Daud AS di dalam Al-Quran merupakan iktibar dan pengajaran kepada umat manusia akhir zaman tentang tugas seorang khalifah, firman Allah SWT:

Maksudnya: “Wahai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka jalankanlah hukum di antara manusia dengan (hukum syariat) yang benar (yang diwahyukan kepadamu) dan janganlah engkau menurut hawa nafsu, kerana yang demikian itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang yang sesat dari jalan Allah, akan beroleh azab yang berat pada hari hitungan amal, disebabkan mereka melupakan (jalan Allah) itu”. (Surah Saad, ayat 26)

Pengajaran daripada ayat ini kepada umat Islam zaman ini, sebagai khalifah kita terikat dengan hukum dan syariat Islam yang mencakup semua perkara seperti aqidah, syariat, akhlak, kehidupan dan sebagainya.

Ketiga: Tugas untuk memakmurkan dunia. Manusia tidak diciptakan saja-saja atau sia-sia, tetapi Allah SWT menciptakan manusia dengan tugas besar untuk memakmurkan dunia, sebagaimana firman-Nya:

Maksudnya: “…Dia-lah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi serta menghendaki kamu memakmurkannya…”. (Surah Hud, ayat 61)

Dalam Kitab Tafsir Pimpinan Ar-Rahman menjelaskan maksud ayat ini: Yakni berusaha supaya ramai penduduknya, banyak hasil mahsulnya dan sejahtera hidup padanya.

Inilah tugas dan tanggungjawab manusia dalam memakmur dan juga membangunkan dunia selaras dengan maqasid syariah, demi memelihara dan menjaga lima perkara asas dalam kehidupan manusia, iaitu menjaga agama, akal, jiwa, nasab dan harta. Melalui ayat ini juga para Ulama menerangkan maksud kalimah “isti’mar” yakni memakmurkan itu, ialah perintah supaya manusia melaksana dan menegakkan segala tanggungjawab yang diletakkan di atas diri manusia.

Para ulama juga menggariskan makna memakmurkan dunia ini kepada tiga tanggungjawab besar, iaitu tanggungjawab kepada agama, tanggungjawab kepada masyarakat dan tanggungjawab kepada manusia. Islam meletakkan tanggungjawab kepada agama itu merupakan suatu yang paling utama dan penting dalam hidup manusia. Ini bermakna agama adalah perkara asas dalam mengurus dan memakmurkan hidup di dunia, sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Pokok segala urusan ialah Islam dan tiangnya ialah solat dan puncaknya (atapnya) ialah jihad”. (HR At-Tirmizi)

Demikianlah, indah dan sempurnanya Islam sebagai addin satu cara hidup yang mencakup semua aspek dan urusan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Maka Syariat Islam inilah yang selayaknya menjadi dasar dan asas dalam kita mengatur hidup manusia dengan peraturan Allah SWT yang terbaik yang termaktub di dalam Al-Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

Firman Allah SWT:

Maksudnya: “Dan demi sesungguhnya, Kami telah tulis di dalam Kitab-kitab yang Kami turunkan sesudah ada tulisannya pada Lauh Mahfuz: “Bahawasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh”. (Surah Al-Anbiyaa’, ayat 105)

Musuhmu yang paling berbahaya

Musuhmu yang paling berbahaya

Berkata Ibnu Qudamah dalam Minhaj Al-Qashidin :

“Ketahuilah bahwa musuhmu yang paling berbahaya adalah jiwa yang berada dalam dirimu”.

“Ia memiliki nafsu ammarah bisu’, condong pada kejahatan, engkau diperintahkan untuk meluruskan, membersihkan, dan memutusnya dari berbagai pengaruh negatif”

Segera untuk mengarahkannya dengan rantai kekuatan untuk beribadah pada Rabb-nya. 

Jika engkau menyepelekannya, maka ia akan terlepas tanpa kendali dan engkau tidak mendapat keberuntungan setelah itu.

“Kalau engkau senantiasa mengingatkannya, maka jiwa tersebut akan menjadi tenang, karena itu jangan engkau lalai untuk mengingatkannya”. 

Al-Imam At-Thobari rahimahullah pernah berkata :

“Wajib bagi setiap orang untuk menjaga dirinya dari perkara-perkara yang dibenci sebelum terjadinya….”

“Menjauhi semua perkara yang ditakuti sebelum serangannya (datang secara tiba-tiba)…..”

“Hendaknya dia bersabar setelah turunnya (yakni setelah benar-benar datangnya)…”

“Dan meninggalkan berputus asa (yakni jangan sampai dia berputus asa) setelah terjadinya…..”

[ Tahdziibul Aatsaar, hal. 83]

Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran oleh Allah ta’ala, apapun kondisi yang kita alami”.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

JANGAN HINAKAN DIRIMU DENGAN DOSA MAKSIAT

JANGAN HINAKAN DIRIMU DENGAN DOSA MAKSIAT

Al-Hafidz Ibnu Rajab-rahimahullah-menuturkan :

«ابن آدم لو عرفت قدر نفسك ما أهنتها بالمعاصي أنت المختار من المخلوقات ولك أعدت الجنة» .

“Anak cucu Adam (manusia), seandainya anda mengetahui kedudukan dirimu, niscaya engkau tidak akan  merendahkan dirimu dengan (melakukan) berbagai maksiat, anda adalah mahluk pilihan, surga dipersiapkan untukmu.”

(Lathoif Al-Ma’arif, hal 183)

Hidayah itu di jemput tetapi bukan ditunggu

Hidayah itu di jemput tapi bukan ditunggu

Saudaraku, hidayah itu mahal dan berharga, sangat beruntung orang yang mendapat hidayah.

Dia merasakan kebahagiaan dunia akhirat, kebahagiaan hati, ketentraman jiwa dan ketenangan yang sejati

Hidayah itu bukan ditunggu, menunggu waktu tua dahulu, menunggu sukses dunia dahulu, menunggu anak dewasa dan mandiri dahulu

Hidayah itu dijemput dengan segera, karena taubat tidak menunggu ajalmu, bukan lambat asal selamat, tapi cepat agar selamat di akhirat

Hanya orang yang bersungguh-sungguh lah yang mendapatkan hidayah

Allah berfirman,

“Orang-orang yang bersungguh sungguh (berjuang) di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk (hidayah) kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami.

(QS. Al-Ankabut: 69).

Ibnul Qayyim menjelaskan ayat di atas, beliau berkata:

“Allah menggantungkan atau mengkaitkan hidayah dengan perjuangan atau jihad, manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya”.

“Jihad yang paling utama yaitu jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan dan jihad melawan fitnah dunia.”

[Al-Fawaid, hlm. 59]

Bersungguh sungguhlah

melawan nafsu dunia dan syahwat yang menipu, melawan gengsi dunia dan sombong, melawan kerasnya hati.

Bagaimana cara menjemput hidayah, datangi kajian dan sumber ilmu, karena hidayah dan hijrah itu harus dengan ilmu.

Segera ganti dengan teman teman yang baik dan shalih

baca buku tata cara shalat dan perbaiki cara shalatmu.

Ambil Al-Quran, bacalah dengan lama sejenak

Infaknya sebagian hartamu sedekahlah sembunyi sembunyi, semoga bisa meredam murka Allah.

Segera kunjungi anak yatim, usap lah kepalanya dan santuni, berkunjunglah ke orang sakit dan lihat mereka menyesal tidak bisa beramal banyak lagi.

Kunjungi panti jompo, lihat mereka menyesal menyia nyiakan masa muda dengan huru hara

“Tidak lupa berdoa kepada Allah di sepertiga malam memohon hidayah kepada Allah”

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

HARTA KALIAN PADA HAKIKATNYA BUKANLAH MILIK KALIAN

HARTA KALIAN PADA HAKIKATNYA BUKANLAH MILIK KALIAN

🌴🌴🌴

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

.

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar..”

.

[ Qs. Al Hadiid/57 : 7 ]

🌴🌴🌴

Al Qurthubi rohimahullah berkata tentang ayat 7 dari Qs Al Hadiid/57,

“Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian..”

[ Tafsir Al Qurthubi ]