KISAH NABI IDRIS

KISAH NABI IDRIS

Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam putera dari Yarid bin Mihla’iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S. Beliau adalah keturunan pertama yang menjadi Nabi setelah Adam dan Syith.

Beliau hidup selama 82 tahun.

Di dalam Al-Quran hanya terdapat dua ayat tentang Kisah Nabi Idris yaitu dalam surah Maryam ayat 56 dan 57 yang ertinya:

“Dan ceritakanlah ( hai Muhammad kepada mereka , kisah ) Idris yang terdapat di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. 57 – Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

Ketika menafsiri “tempat yang tinggi” dalam surat maryam 57, Imam Suyuti berkata:

هو حيّ في السماء الرابعة أو السادسة أو السابعة أو في الجنة : أدخلها بعد أن أذيق الموت وَأُحْيِيَ ولم يخرج منها

Ertinya: Nabi Idris masih hidup dilangit ke 4 atau ke 6 atau ke 7 atau di dalam surga. Allah memasukan Nabi Idris ke dalam surga setelah Nabi Idris merasakan mati kemudian dihidupkanlah. (setelah masuk syurga) Nabi Idris tidak pernah keluar lagi dari Syurga.

(Tafsir jalalain)

Hal senada juga dijelaskan Oleh Ibn Kasir dalam tafsirnya. Menurut Mujahid, Nabi Idris diangkat ke langit 4. Menurut Ibn Abbas ke langit 6. Sedangkan menurut Hasan Basri maksud “tempat yang tinggi” adalah Syurga.”

(Tafsir Ibn Kasir)

Di antara beberapa nasihat dan kata-kata mutiara Nabi Idris ialah :

1. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.

2. Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.

3. Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.

4. Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5. Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.

6. Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.

7. Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.

8. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.

Wallohu a’lam.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: