Design a site like this with WordPress.com
Mulakan

BERJALAN DENGAN TENANG KE MASJID

BERJALAN DENGAN TENANG KE MASJID

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat, dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 117 dan Muslim no. 602)

Dari Abu Qatadah -radhiallahu anhu- dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ. فَلَمَّا صَلَّى, قَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قَالَ: فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh beberapa orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat.” Beliau pun bersabda, “Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 599 dan Muslim no. 603)

Penjelasan ringkas:

Ketika seorang muslim keluar dari rumahnya menuju masjid untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya dia tengah keluar untuk mendatangi sebuah ibadah yang agung, dimana dia akan berdiri di hadapan Rabbnya. Karenanya sifat berjalannya dia menuju shalat hendaknya dalam keadaan khusyu’ dan tenang, hendaknya dia menghadirkan di dalam hatinya akan keagungan ibadah yang akan dia kerjakan tersebut. Yang mana hal ini bisa membantunya untuk bisa khusyu’ atau menambah khusyu’ di dalam shalatnya.

Maka kedua hadits di atas tegas memerintahkan untuk berjalan dengan tenang (bukan lambat) ke masjid atau ke tempat shalat. Sebagaimana kedua dalil di atas juga melarang dengan tegas sikap tergesa-gesa dalam menuju ke tempat shalat, walaupun dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan rakaat atau jangan sampai menjadi masbuk. Bahkan beliau memberikan menyatakan, “Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” Maka ini termasuk dari dalil yang menunjukkan kemudahan syariat Islam.

Hal itu karena inti dari mengerjakan shalat adalah khusyu’ dan tenang, bukan semata-mata ditinjau dari harus mengikut imam dari awal. Sementara orang yang terburu-buru ke masjid kebanyakannya mereka nafas mereka terengah2 di awal shalatnya dan itu pasti akan berpengaruh pada kekhusyuan dan konsentrasi dia dalam shalat.

Kedua dalil di atas juga menunjukkan kelirunya amalan sebagian kaum muslimin tatkala mereka masbuk bersama-sama. Setelah imam salam, maka mereka semua berdiri untuk menambah rakaat yang tertinggal, lalu salah seorang di antara mereka ini maju ke depan menjadi imam yang baru. Ini adalah kekeliruan yang nyata, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan bagi orang-orang yang masbuk, “Dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah,” yakni: Sempurnakanlah rakaat yang tertinggal oleh kalian sendiri-sendiri. Beliau tidak menyatakan, “Dan apa yang kalian tertinggal maka buatlah jamaah yang baru.” Wallahu a’lam.

http://al-atsariyyah.com/?p=1920#more-1920

MENYEBUT HUKUM POTONG TANGAN SEBAGAI TINDAK PELANGGARAN HAM

MENYEBUT HUKUM POTONG TANGAN SEBAGAI TINDAK PELANGGARAN HAM

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa pendapat anda terhadap orang yang mengatakan, “Sesungguhnya memotong tangan si pencuri dan menjadikan nilai persaksian kaum wanita separuh dari persaksian kaum lelaki adalah sesuatu yang keras (tidak berprikemanusiaan, -pent.), dan melanggar hak asasi kaum perempuan?” Semoga Allah membalas dengan kebaikan bagi anda.

Jawaban.

Saya tegaskan terhadap orang yang mengatakan memotong tangan pencuri dan menjadikan nilai persaksian kaum wanita separuh dari persaksian kaum lelaki sebagai sesuatu yang keras dan melanggar hak asasi kaum wanita, bahwa dengan perkataan ini dia telah keluar (murtad) dari Islam dan kafir terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dari hal itu. Bila dia tidak mau, maka dia mati dalam kondisi kafir, sebab hal inilah hukum Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [al-Ma’idah/5 : 50]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan hikmah di balik adanya hukum potong tangan terhadap pencuri, sebagaimana firmanNya.

جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“(Sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [al-Ma’idah/5 :38]

Dia juga menerangkan hikmah di balik persaksian kaum wanita, yakni dua orang wanita dan seorang laki-laki (bila tidak ada dua orang saksi laki-laki, -pent), yaitu sebagaimana firmanNya.

Baca Juga  Fikih Qishash

اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰىهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰىهُمَا الْاُخْرٰىۗ

“Supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. “[al-Baqarah/2 : 282]

Berdasarkan hal ini, maka orang yang mengatakan seperti itu harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab jika tidak, maka dia akan mati dalam kondisi kafir.

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

Referensi : https://almanhaj.or.id/1670-menyebut-hukum-potong-tangan-sebagai-tindak-pelanggaran-ham.html

RAJAM DAN POTONG (TANGAN/KAKI) TERMASUK ATURAN ALLAH YANG DISYARIATKAN

RAJAM DAN POTONG (TANGAN/KAKI) TERMASUK ATURAN ALLAH YANG DISYARIATKAN UNTUK HAMBA-NYA, MENUNAIKAN HUKUM ADALAH RAHMAT BAGI HAMBA-HAMBANYA.

Pertanyaan.

Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah memotong tangan salah seorang pencuri? Apakah Nabi Shallallahu alaihi wasallam pada masanya pernah merajam seseorang karena tergelincir dalam perzinaan. Saya mendengar dari sebagian dari dari sebagian para dai bahwa setiap sejarah pemerintahan Islam –maksudnya khilafah rasyidin dan khilafah Umawiyah dan Abbasiyah – hanya memotong tangan pencuri Sembilan kali saja, apakah hal ini benar?

Jawaban.

Alhamdulillah.

Pertama : Allah mensyariatkan aturan hudud (hukum vonis pidana yang sudah ditentukan kadarnya, seperti potong tangan atau rajam)  untuk menjaga ajaran-Nya yang dilarang melanggarnya, juga untuk  melindungi hak hamba-hamba-Nya yang diperintahkan untuk menjaganya. Serta sebagai penebus dosa pelaku dan mensucikannya. Hal itu dijadikan bagian dari agama untuk mengetahui siapa yang mempercayaiNya dan syariatNya, mendengar dan taat dibanding orang yang tidak memperdulikannya dan menganggap tidak mengapa melanggar aturan Allah. Tujuan lainnya, agar memberi efek jera bagi orang yang sengaja melanggar larangan Allah.

Kedua: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah merajam dan memotong (tangan).

Kalau merajam (eksekusi mati dengan dilempari batu, pent.) diriwayatkan Bukhari, no 96830 dan Muslim, no. 1691 dari Abdullah bin Abbas, dia berkata, Umar bin Khattab berkata dalam kondisi duduk di Mimbar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ ، وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ ، فَكَانَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ ، قَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا ، فَرَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ ، فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ : مَا نَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ ، وَإِنَّ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أَحْصَنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ ، إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ ، أَوْ كَانَ الْحَبَلُ، أَوِ الِاعْتِرَافُ ” .

“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan kebenaran. Menurunkan Kitab kepadanya. Di antara yang diturunkan kepadanya adalah ayat rajam. Kami telah membaca, pahami dan resapi. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam merajam, lalu kami setelahnya juga merajam. Saya khawatir kalau orang telah melewati waktu yang lama akan ada yang mengatakan, “Kami tidak dapatkan ayat rajam dalam Kitabullah, sehingga mereka tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang Allah telah turunkan. Sesungguhnya rajam dalam Kitabullah itu suatu kebenaran yang diterapkan kepada orang yang berzina kalau dia telah menikah baik suami ataupun istri. Jika terdapat bukti atau mengandung atau pengakuan.”

Baca Juga  Fikih Hudud

Diriwayatkan Muslim, no .1692 dari Jabir bin Samurah berkata, “Saya melihat Maiz bin Malik ketika didatangkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia adalah lelaki pendek, kekar, tidak memakai selendang. Dia bersaksi untuk dirinya bahwa dia telah empat kali berzina. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Mungkin anda (tidak sadar)?” Dia mengatakan, “Tidak, demi Allah dia telah berzina.” Maka Nabi merajamnya…”

Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan, “Yang dirajam Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam berzina itu terjaga dan terbilang (sedikit), kisah mereka terjaga dan dikenal. Mereka adalah wanita Ghamidiyah, Maiz, Pemilik ‘Asif, dan dua orang Yahudi.” [Turuq Hukmiyah, hal. 53]

Adapun memotong (tangan), Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memotong tangan pencuri lelaki dan wanita.

Diriwayatkan Bukhari, (6788) dan Muslim, (1688) dari Aisyah radhiallahu anha:

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ الْفَتْحِ ، فَقَالُوا : مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأُتِيَ بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَكَلَّمَهُ فِيهَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: ( أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟! ) ، فَقَالَ لَهُ أُسَامَةُ : اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ اللهِ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ ، قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاخْتَطَبَ ، فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ، ثُمَّ قَالَ: ( أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ) ، ثُمَّ أَمَرَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقُطِعَتْ يَدُهَا

“Kaum Quraisy disibukkan oleh masalah wanita yang mencuri pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Fath (Fathu Makah). Mereka mengatakan, “Siapa yang dapat berbicara dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?’ Mereka mengatakan, “Tidak ada yang berani selain Usamah bin Zaid. Orang kecintaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Didatangkan (wanita) kepada Rasulullah dan Usamah berbicara kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka wajah Rasulullah berubah sambil mengatakan, “Apakah kamu meminta syafaat (pertolongan) dalam masalah hudud (ketentuan hukum dari) Allah?” Usamah mengatakan kepada beliau, “Mohonkan ampunan untukku wahai Rasulullah. Di waktu sore, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salalm berdiri dan berkhutbah, beliau memuji Allah yang layak untuk-Nya kemudian beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya umat terdahulu binasa karena mereka ketika orang mulia diantara mereka mencuri, dibiarkannya. Kalau yang lemah diantara mereka mencuri, maka ditegakkan aturan kepadanya. Sesungguhnya saya bersumpah dengan jiwa yang ada di tangan-Nya. Jika Fatimah binti Muhammad mencuri, saya yang akan memotong tangannya. Kemudian diperintahkan kepada wanita yang mencuri dan dipotong tangannya.”

Baca Juga  Hudud Mewujudkan Maslahah Dan Menangkal Mafsadah

Dari Sofwan bin Umayah bahwa ada seseorang mencuri burdah (kain) kemudian dia laporkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau perintahkan untuk memotongnya. Maka dia (Sofwan) berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah memaafkannya.” Maka beliau bersabda, “Jika sebelum ini anda datang kepadaku wahai Abu Wahab (dia tidak dihukum)”. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memotongnya.” [HR. Abu Dawud, 4394 Nasa’i, no. 4879 redaksi darinya. Dinyatakan shahih oleh Albany dalam Shahih Nasa’i]

Ketiga: Ungkapan yang mengatakan, “Dalam sejarah Khilafah Islamiyah sampai terakhir khilafah Abbasiyah tidak ada yang dipotong (tangannya) karena mencuri melainkan Sembilan saja. Pernyataan ini sama sekali tidak benar. Karena sensus ini tidak mungkin dapat dihitung karena luasnya kekuasaan Islam dan banyaknya negara dan kota. Tidak memungkinkan mengadakan sensus pada setiap negara ini, mestinya membutuhkan waktu yang lama. Kami tidak mengetahui dalam sejarah bahwa para khalifah dan penguasanya mereka mengadakan sensus bilangan orang yang dipotong (tangannnya) karena hukuman mencuri pada setiap negara kecil maupun besar. Masalah ini tidak mungkin terjadi, apalagi dikatakan mereka telah mensensus ada Sembilan !!

Yang pasti, bahwa yang dipotong karena hukuman mencuri pada selang waktu yang lama itu sangat banyak lagi. Pendapat ini tidak perlu dilihat dan dijadikan patokan. Kemudian apa maksud yang diinginkan yang melatarbelakangi perkataan ini. Telah ada ketetapan dari Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak ada seorangpun yang dari ahli ilmu dan agama yang berbeda.

Wallahu a’lam.

Disalin dari islamqa

Referensi : https://almanhaj.or.id/2988-rajam-dan-potong-tangan-kaki-termasuk-aturan-allah-yang-disyariatkan-untuk-hamba-nya.html

SYARIAT HUKUM POTONG TANGAN

SYARIAT HUKUM POTONG TANGAN

Salah satu kebutuhan pokok yang harus ada dalam setiap tatanan kehidupan manusia, dari kehidupan yang terkecil sampai yang terbesar adalah adanya peraturan dengan segala konsekuensinya  yang dijadikan sebagai pijakan bagi semuanya. Karenanya, di setiap lini kehidupan pasti ada peraturan atau undang undang yang berlaku, baik tertuang ataupun tidak, tertulis ataupun tidak.

Begitu pula dengan agama ini yang berfungsi sebagai rambu-rambu bagi seluruh manusia, yang telah Allah Azza wa Jalla pilihkan untuk makhluk-Nya yang tercipta di dunia ini. Dia adalah Dzat yang Maha Adil, Maha Mengetahui dan Maha Penyayang kepada para Makhluk-Nya. Apa saja yang telah diatur- dan dipilihkan-Nya buat manusia, tidak mungkin akan menyengsarakan mereka.

Di antara peraturan yang telah ditegaskan-Nya demi kemaslahatan seluruh manusia adalah peraturan tentang hal pencurian, yang berupa sangsi tegas dengan hukuman potong tangan bagi para pelakunya.

Allah Azza wa Jalla menegaskan:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ  ٣٨ فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [al-Mâidah/5:38-39]

Dan apa yang telah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan kepada seseorang yang tertangkap basah ketika mencuri. ‘Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata

أَنّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطَعَ سَارِقًا فِي مِجَنٍّ قِيمَتُهُ ثَلاثَةُ دَرَاهِمٍ.

Bahwa Rasûlullâh memotong tangan seseorang yang mencuri tameng/perisai, yang nilainya sebesar tiga dirham [Muttafaqun `Alaihi]

Ibnu Mundzir rahimahullah dalam hal ini berkata,”Para ulama sepakat bahwa potong tangan bagi pencuri dilakukan bila ada dua orang saksi yang adil, beragama Islam dan merdeka.”[1]

‘Abdurrahmân al-Harîri berkata ,”Hukum had atas pencurian telah ditetapkan oleh al-Kitab dan Sunnah serta kesepakatan para ulama. Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan hukumannya dalam ayatnya yang mulia. Dia telah memerintahkan potong tangan atas pencurinya baik laki-laki atau perempuan, budak atau merdeka, muslim atau non muslim guna  melindungi dan menjaga harta. Hukum potong tangan ini telah diberlakukan pada zaman jahiliyah sebelum Islam. Setelah Islam datang, maka Dia Azza wa Jalla menetapkannya dan menambahnya dengan persyaratan yang telah diketahui.”[2]

Kejamkah Hukum Potong Tangan?

Tudingan bahwa agama Islam kejam, melanggar hak asasi manusia, terbelakang dan sangat primitif dalam penerapan hukuman sudah lama dihembuskan oleh orang orang yang dungu dan tidak mau berfikir jauh ke depan. Yaitu berupa Perasaan sesaat dan hanya memperhatikan kepentingan kelompok kecil yang bersalah dan yang berhak atas hukuman tersebut serta menutup mata dan telinga mereka terhadap masa depan masyarakat banyak dan orang-orang yang telah dirugikan dari pencurian ini.

Perlu di ingat, bahwa harta sangat berharga bagi manusia. Sehingga, dalam hal ini perhatian Islam kepada harta sangatlah besar, begitu pula perintah untuk menjaganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandingkan keharamannya dengan permasalahan nyawa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا ، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian, sebagaimana diharamkannya hari kalian pada saat ini, di tempat ini, dan di bulan ini [HR. Bukhâri][3]

Pernahkah mereka berfikir, bagaimanakah perasaan orang-orang yang kehilangan harta mereka? Terlebih bila harta yang terambil adalah harta yang telah dikumpulkan selama bertahun tahun, kemudian disimpan ditempat yang dianggap aman, ternyata hilang begitu cepat dalam waktu yang cepat?. Berfikirkah mereka, bagaimana dahsyatnya efek jera yang akan memberi keamanan bagi masyarakat luas setelahnya dari hukuman potong tangan yang  mereka anggap sebagai pelanggar norma kehidupan mereka? Hak asasi siapakah yang mereka perjuangkan?

Syariat Islam dalam kasus pencurian ini, berusaha menjaga kepentingan orang banyak daripada menjaga kepentingan si pencuri. Memberi hukuman yang berat berupa memotong tangan bertujuan membasmi sesuatu yang menjadikan kecemasan manusia pada harta mereka. Sehingga Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai cambuk untuk mendapatkan maslahat yang lebih besar dibandingkan dengan kepentingan  si pencuri yang hanya sesaat dan banyak menimbulkan kerusakan. Ini adalah hukuman yang setimpal yang penuh faedah dan hikmah. Bila seseorang mau berfikir, hukuman setimpal bukan berarti menzalimi si pelaku, tetapi ini merupakan keadilan dalam peraturan Allah Azza wa Jalla yang pasti baik bagi makhluk-Nya karena hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatunya. Bila hukuman ini dibiarkan diatur oleh seorang mujtahid atau seorang hakim atau kelompok tertentu, pasti akan menyebabkan saling bertentangan. Dan hasilnya tidak dapat dipastikan akan dapat mewujudkan suatu keadilan yang dapat dirasakan oleh manusia, sehingga merasa tenang dari kezaliman dan kekerasan orang lain.[4]

Setimpalkah Hukuman Potong Tangan Dengan Barang yang Dicuri?

Ibnu Jauzi dan Abdul Wahhâb al-Maliky, mengomentari beratnya hukuman yang diberlakukan dalam had pencurian, yaitu bila dibandingkan antara harta yang tidak seberapa dengan hukuman potong tangan yang harganya bisa jadi berlipat-lipat, mereka mengatakan, “ketika tangan tersebut dapat dijaga maka ia adalah sesuatu yang  berharga, namun bila ia berkhianat maka itu akan menjadi murah”.[5]

Baca Juga  Apakah Boleh Menangguhkan Sebagian Hukum Hudud Dalam Kondisi Darurat

Perampasan Barang Apakah Berlaku Hukuman Potong Tangan?

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ,”Penerapan Hukum potong tangan bagi pencuri senilai seharga tiga dirham dan tidak diterapkannya kepada pelaku pencopetan, perampasan dan pemaksaan merupakan kesempurnaan hikmah  syariat. Juga karena sesungguhnya pencuri tidak mungkin untuk mencegah darinya (pencurian) karena (pencuri) itu telah masuk rumah, merusak penyimpanan dan pengunci. Dan tidak memungkinkan pemilik barang melakukan penyimpanan lebih dari itu.  Kalau seandainya potong tangan tidak disyariatkan, maka akan terjadi saling mencuri antar manusia, kerusakan akan membesar, semakin berbahaya. Berbeda dengan pelaku pencopetan dan perampasan, karena dia mengambil secara terang terangan dengan penglihatan manusia, yang memungkinkan mereka dapat mengambilnya kembali dari kedua tangannya dan mengembalikan hak orang yang dizalimi atau bersaksi di hadapan hakim.[6]

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam syarh Muslim bahwa Qâdhi Iyâd rahimahullah berkata:“Allah Azza wa Jalla menjaga harta dengan mewajibkan potong tangan bagi pencuri, dan tidak memberlakukannya pada selain pencurian seperti penjambretan, pemalakan, atau pemaksaan karena perbuatan-perbuatan tersebut lebih sedikit/ringan daripada pencurian. Dan juga korbannya dimungkinkan  bisa meminta kembali dengan meminta tolong kepada penguasa serta lebih mudah untuk ditegakkan bukti atasnya dibandingkan dengan kasus pencurian, karena jarang sekali ada bukti atasnya. Maka, pencurian itu dianggap merupakan perkara yang besar dan hukumannya lebih berat untuk lebih membuat jera.

Di antara Faedah Hukuman Potong Tangan

Bila hukuman ini dilaksanakan, maka akan menghasilkan empat hal:

Keimanan terhadap Islam, baik dalam akidah, syariah atau manhaj.

Terwujudnya syariat Allah Azza wa Jalla pada seluruh hukum-hukumnya, baik secara politik, ekonomi maupun sosial.

Membuktikan akal dan kenyataan dengan faedah yang dihasilkan dari hukum hudûd.

Semangat untuk mewujudkan kemaslahatan bagi orang banyak daripada kebaikan perorangan.[7]

Sebab dan Syarat Hukum Potong Tangan

Yang menjadi sebab dapat dijatuhkan hukum potong bagi seseorang adalah karena pencurian. Sebagaimana di firmankan oleh Allah Azza wa Jalla.

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ 

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [al-Mâidah/5:38]

Pencurian yang dimaksud di sini adalah pengambilan harta dari pemiliknya, atau wakilnya dengan cara sembunyi sembunyi..

Harta yang dimaksud di atas tidak termasuk harta ditiadakan oleh syariat. Walaupun secara bahasa dianggap sebagai harta. Seperti arak, anjing, dll. Sehingga apabila seseorang mencuri anjing maka tidak akan dikenakan hukum potong tangan.

Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan, …..dan mereka telah sepakat bahwa seorang muslim bila ia mencuri khamer dari saudaranya maka ia tidak dipotong (tangannya).[8]

Dari pengertian di atas dapat dipahami pula bahwa kalimat “pemiliknya atau wakilnya” tidak memasukkan pencurian selain harta yang bukan miliknya, seperti harta yang masih menjadi milik orang lain dari hasil merampas , korupsi, dll. Apabila ada orang yang mencurinya maka tidak sampai kepada hukum potong tangan.

Apakah ini berarti diperbolehkan mencuri dari seorang yang zalim atau orang yang telah melakukan perampasan? Dalam hal ini ada dua keadaan, bila niatnya adalah untuk mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya, maka tidak mengapa. Namun bila untuk kepentingan pribadi atau keluarganya sendiri, maka jelas tidak diperbolehkan.[9]

Syarat Dilaksanakannya Hukuman Pencurian

Hukum potong tangan bukanlah hukuman yang asal dilakukkan tanpa ada kriteria tertentu. Namun ia adalah hukuman yang adil, yang harus dipenuhi kriterianya, sehingga pelakunya benar-benar berhak untuk dipotong tangannya supaya menghasilkan efek jera baginya dan bagi orang lain, tanpa mengabaikan hak si pelakunya.

Syarat yang harus dipenuhi dari pelaku pencurian itu sendiri, antara lain:

Ia seorang yang mukallaf, berniat untuk mencuri, tidak terpaksa dalam mencuri, tidak didapati adanya hubungan antara pencuri dengan yang dicuri dan tidak ada subhat dalam melakukan pencurian. Yang dimaksud dengan mukallaf adalah seorang yang baligh dan berakal.

Tidak terpaksa, bukan seorang yang dipaksa oleh orang lain untuk melaksanakan pencurian, dengan ancaman yang membahayakan nyawanya.

Tidak didapati adanya hubungan kekerabatan, di sini pengertiannya adalah harta yang dicuri bukan harta anaknya sendiri. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Kamu dan harta kamu adalah milik bapak kamu”, atau harta bapak atau orang tuanya sendiri (menurut pendapat mayoritas para ulama). Karena anaknya adalah bagian dari orang yang akan mewarisi hartanya dan ia masih bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepadanya, atau dari harta suaminya atau istrinya. Adapun hubungan keluarga/kekerabatan yang lainnya maka tidak  ada pengaruhnya.

Tidak ada subhat dalam melakukan pencurian. Maksudnya adalah tidak dipaksa dalam melakukannya, misalnya ia lapar, sangat membutuhkan harta, dan sebagainya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Ini adalah subhat yang kuat yang dapat memalingkan hukum had karena ia sangat membutuhkannya. Ini adalah (alasan) yang lebih kuat dibandingkan dengan subhat yang disebutkan oleh banyak para ulama)[10]

Di antara syarat yang harus dipenuhi dalam kriteria pencurian hukuman potong tangan, yang berkaitan dengan barang yang dicuri antara lain:

Pencurian dilakukan dari tempat /penyimpanan yang terjaga

Baca Juga  Zina, Bahaya Dosa Dan Hukumannya

Ibnu Mundzir berkata,”Mereka sepakat bahwa potong tangan diberlakukan kepada orang mencuri dari tempat penyimpanan.“Yang dimaksud tempat penyimpanan/yang terjaga di sini adalah adalah tempat penunjang yang dapat menjaga dengan benar, harta yang dimaksudkan; misalnya rumah yang terkunci, lemari, atau toko yang ditutup dan semisalnya.

Pengarang ar-Raudhah Nâdiyah (2/277) berkata: “Al-hirzu/tempat simpanan adalah yang  dianggap masyarakat sebagai tempat penyimpanan harta tersebut, sepert lumbung untuk menyimpan gabah, kandang untuk menyimpan binatang dan keranjang untuk menyimpan buah-buahan.

Tempat ini berbeda antara daerah/negara satu dengan yang lainnya; disesuaikan dengan bentuk barang, tempat yang biasa digunakan untuk penyimpanan dan penguasa. Bila pencurian yang dilakukan bukan pada tempat yang terjaga, seperti uang yang ditaruh di depan pintu rumah, maka pelakunya tidak sampai terkena hukuman potong tangan.[11]

Harta yang dicuri adalah harta yang terhormat, punya pemiliknya atau wakilnya.

Barang yang dicuri mencapai nishâbnya ketika diambil dari tempatnya.

Yang dimaksudkan nishâb di sini adalah adalah nishâb/batasan minimal dalam masalah pencurian,, yaitu tiga dirham atau seperempat dinar atau yang senilai dengan salah satu dari keduanya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist `Aisyah, bahwa Nabi n bersabda,”Tidak dipotong tangan (pencuri) terkecuali pada seperempat dinar atau lebih”

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukum potong tangan terhadap pencurian perisai yang senilai tiga dirham (HR. Muslim:1687), Tirmidzi (1446).

Bila dinilai dengan uang rupiah maka bisa di lihat dengan harga emas yang sekarang berlaku. Syaikh Utsaimîn berkata:“Jumlah seperempat dinar yang dimaksudkan pada zaman sekarang, sedikit sekali, yakni dinar sebesar mitsqâl–dinar Islam-, kemudian ia menanyakan orang pemilik emas, berapa ukuran mitsqâl/berat dari emas? Sedikit sekali yakni sekitar dua puluh riyal. (satu riyal sekitar dua ribu sampai tiga ribu rupiah). Lihat liqâ` maftûh (28/201)

Terbuktinya pencurian oleh si pelaku. Baik dengan cara bukti dua orang saksi yang menyatakan bahwa pelakulah yang mengambil atau dengan cara pengakuan dari si pelaku. Dalam masalah saksi tidak diperbolehkan adanya saksi wanita, walaupun bersaksi terhadap dua orang wanita atau lebih dengan seorang laki laki. Karena dalam masalah hukum hudûd , saksi wanita tidak di gunakan.[12]

Siapakah yang Melaksanakan Hukuman ini?

Yang melaksanakannya adalah penguasa pemerintah atau orang yang yang ditugasinya.

Apakah Tangannya yang Telah Terpotong Digantungkan?

Imam Syafi`i dan Ahmad berpendapat bolehnya dalam hal ini, bila dimaksudkan untuk membuat jera, berdasarkan riwayat dari Turmuzi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika didatangkan kepadanya seorang pencuri yang telah terpotong tangannya, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengalungkannya di lehernya . [13]

Bagaimana Cara Pelaksanaan Hukuman Potong Tangan?

Dinukil oleh Syaikh Abdul Adzîm Badawi, dari  penulis kitab ar-Raudhatun Nâdiyah: para ulama sepakat; seorang pencuri pada pencurian yang pertama dipotong tangan sebelah kanannya. Bila ia mencuri kedua kalinya, maka  dipotong kaki kirinya. Kemudian mereka berbeda pendapat bila ia mencuri untuk ketiga kalinya; setelah dipotong tangan kanan dan kaki kirinya, mayoritas mereka berpendapat dipotong tangan kirinya. Dan bila ia mencuri lagi setelahnya maka dipotong kaki kanannya. Kemudian bila mencuri lagi, maka ia dihukum ta`zîr dan dikurung.[14]

Terhindarnya Pencuri Dari Potong Tangan

Seorang pencuri yang dimaafkan oleh orang yang dicurinya dan belum sampai diangkat perkara/diajukan ke hakim, maka dapat menghindarkan si pencuri dari hukaman potong tangan.[15]

 Akhirnya, apa yang dibutuhkan manusia adalah apa yang telah ditetapkan oleh Dzat yang telah menciptakan mereka. Karena tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum-Nya. Dan dalam melaksanakan konsekuensi ini, seorang tidak hanya mengedepankan pikiran pendeknya dan perasaan yang bukan pada tempatnya. Tetapi lebih mengedapankan kepastian hasil yang akan didapat bila benar benar dijalankan sesuai dengan prosedur dan tata cara yang diatur dalam agama ini. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [al-Baqarah/2/216]

Wallâhu a`lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

_______

Footnote  

[1] Kitab al-Ijmâ` : 261/140, Lihat kitab al-Wajîz hal. 443

[2]  Kitab Madzâhibul arba`ah , Abdurrahmân al-Harîri, : 5/153

[3] lihat Majalah al-Bukhûs al-Islâmiyah:22/317

[4] Lihat Majalah Jâmi`ah Islâmiah:4/484

[5] Ahmad  al-Hasary, Al-Hudûd Wal Asyribah Fil Fiqh Islâmy : 374 – 375, Tafsîr Ibnu Katsîr:3/110

[6] I`lâmul Muwaqqi`în hal 44

[7] Al-fiqh Islâmy wa adillatuhu:219-222

[8] lihat kitab al-Wajîz hal 443

[9] Al-Jâmi`li Ahkâm Fiqhis Sunnah li fadhîlati Muhammad Bin Shâlih al-Utsaimîn: 4/20

[10] (lihat al-Mausû`atul fiqhiyyatul kuwaitiyyah:2/8608-8609)

[11] Lihat kitab al-Wajîz hal. 443

[12] Al-Jâmi` li Ahkâm Fiqhis Sunnah li fadhîlah Muhammad Bin Shâlih Al-Utsaimîn:4/206-210

[13] (lihat Asna`al Mathâlib : 4/153, al-Mughni :10/266)

[14] lihat kitab al-Wajîz hal 444

[15] Lihat al-Wajîz hal 444

Referensi : https://almanhaj.or.id/3132-syariat-hukum-potong-tangan.html

HUDÛD, MEWUJUDKAN MASLAHAH DAN MENANGKAL MAFSADAH

HUDÛD, MEWUJUDKAN MASLAHAH DAN MENANGKAL MAFSADAH

Oleh

Ustadz Musyaffa Ad-Dariny MA

Segala puji bagi Allâh Azza wa Jalla , yang telah menciptakan manusia. Dia-lah Yang Maha Tahu tentang segala hal yang dapat mendatangkan maslahat dan mafsadat bagi hamba-Nya. Dia-lah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga tidak akan memberikan batasan hukum, kecuali atas dasar kasih-sayang-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Hikmah, sehingga tidak mungkin menentukan sesuatu kecuali ada hikmah yang besar di baliknya.

Shalawat dan salam, kita haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seorang Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, sehingga tidaklah mungkin beliau menuntunkan sesuatu, melainkan nilai rahmat dan kasih sayang tersebut memenuhi tuntunan-tuntunanya.

Sebagai seorang muslim, kita harus bangga dengan ajaran Islam, ajaran yang telah dijadikan sempurna oleh Allâh Azza wa Jalla , dan diridhai-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. [al-Mâidah/5:3]

Tidak boleh merasa rendah diri dalam mengemban ajaran ini, dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya, dan bagaimanapun keadaannya. Jangan sampai kita menerapkan ajaran ini setengah-setengah. Kita harus masuk Islam dan menerapkan ajarannya secara kaffah. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [al-Baqarah/2:208]

Inilah konsekuensi ikrar kita dengan syahadatain. Sebagaimana kita ketahui bersama, Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah, tetapi juga mengatur segala sisi kehidupan manusia, baik tentang kenegaraan, perbisnisan, pernikahan, kehakiman, bahkan dalam sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh manusia yaitu adab makan dan minum, bahkan adab dalam buang hajat.

Islam tidak hanya memberikan rambu-rambu peraturan dalam hal-hal yang dipandang baik, tapi Islam juga menggariskan sanksi-sanksi apabila ada pelanggaran, tidak lain agar peraturan tersebut berjalan dengan baik. Diantara sanksi-sanksi tersebut adalah apa yang diistilahkan dalam bahasa Fikih Islam sebagai Hudûd. Hudûd itu berarti Sanksi-sanksi karena maksiat yang kadarnya ditentukan oleh Syariat dengan tujuan agar pelanggaran berat itu tidak terjadi lagi serta untuk menebus dosa pelakunya. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 14/206). Misalnya, hukuman qishash (hukum mati bagi pelaku pembunuhan bila sudah memenuhi persyaratan-red), cambuk, rajam (hukum mati bagi pezina yang sudah pernah menikah dengan pernikahan yang sah-red), potong tangan. Yang semua hukuman tersebut, mengandung maslahat yang jauh lebih besar dibanding mafsadatnya.

Paling tidak, kita dapat melihat besarnya maslahat tersebut dari hal-hal berikut ini:

Hukuman tersebut hanya diberlakukan pada sebagian kecil orang saja, demi melindungi kesalamatan umat manusia yang sangat banyak, baik dalam agama, jiwa, kehormatan, akal, dan hartanya.

Hukuman tersebut hanya diberlakukan pada orang yang bersalah dan memenuhi syarat saja , dengan tujuan memberikan peringatan kepada umat manusia yang sangat banyak agar tidak nekad melakukan atau mengulangi kesalahan yang sama.

Hukuman tersebut hanya diberikan kepada para pelaku pelanggaran-pelanggaran tertentu yang dampak buruknya sangat besar bagi manusia, baik di dunia maupun akhirat. Belum lagi ada syarat-syarat yang banyak dan semuanya harus terpenuhi dalam setiap hukuman yang ada tersebut. Sehingga terwujudlah keadilan dari dua belah pihak; pihak yang bersalah, dan pihak yang disalahi.

Tanpa mengetahui hal-hal diatas pun, kita harusnya yakin bahwa tidaklah Allâh Azza wa Jalla menentukan sesuatu dalam syariat, kecuali maslahatnya lebih besar daripada mafsadatnya. Karena bagaimana mungkin Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Tahu, Yang Maha Penyayang, dan Yang Maha Hikmah, menentukan sesuatu yang akibat buruknya lebih besar. Sungguh ini sangat bertentangan dengan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla yang maha baik dan mulia.

Tergerak dengan banyaknya argumen dan pandangan miring tentang syariat hudûd ini, baik yang berasal dari kaum kafir yang ingin menjatuhkan kemuliaan Islam, ataupun dari sebagian kaum Muslimin yang membeo kepada orang-orang kafir –hadâhumullâh (semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada mereka-red)-, maka sudah seharusnya kita menjawabnya dan meluruskan opini-opini miring tersebut. Ini demi membela agama Allâh Azza wa Jalla ini dan melindungi kaum Muslimin dari pengaruh buruk argumen tersebut.

Berikut ini, argumen-argumen miring dan jawaban-jawabannya, semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita semua :

1. Hukuman potong tangan adalah hanya menimbulkan keburukan bagi pencuri, dan menjadikannya cacat dan beban bagi masyarakat

Jawaban :

Allâh Azza wa Jalla telah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dan Allâh Azza wa Jalla Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Mâidah/5:38]

Jika Allâh Azza wa Jalla telah memutuskan sesuatu, maka tidak ada yang berhak menentang putusan-Nya. Jika putusan dari raja saja, tidak boleh ada yang menentang, bagaimana bila keputusan itu turun dari rajanya para raja. Sungguh tidak ada yang menentang keputusan-Nya, kecuali orang yang merendahkan kemuliaan-Nya.

Hukuman tersebut tidak hanya menimbulkan dampak buruk semata bagi pencuri, karena hal tersebut bisa menjadi pelebur dosanya. Apakah peleburan dosa ini merupakan keburukan bagi sang pencuri ? Juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi dia, sehingga memudahkan baginya untuk bertaubat dari kesalahannya. Apalagi bila ia mau mengingat-ingat beratnya hukuman maksiat di dunia ini yang tidak seberapa atau jauh lebih ringan dibandingkan hukuman di akhirat nantinya. Dengan begitu ia akan banyak taubat dari segala dosa yang dilakukannya di dunia. Munculnya kesadaran seperti ini merupakan maslahat yang sangat besar baginya.

Seandainya pun benar, hukuman itu murni keburukan bagi pencuri (namun anggapan ini tidak benar sebagaimana penjelasan di atas), namun jika pelaksanaan hukuman itu akan menimbulkan kebaikan murni bagi masyarakat luas, maka hukuman itu tetap harus dijalankan. Karena mengorbankan satu orang karena kesalahannya demi melindungi masyarakat luas dari kejahatannya, lebih diutamakan.

Bila benar, orang yang dipotong tangannya karena mencuri akan menjadi beban bagi masyarakat, karena dia tidak bisa bekerja[1]. Namun kondisi dia yang lemah pasca menerima hukuman berat itu masih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan keadaannya bila ia tetap sempurna badannya, tapi terus melakukan pencurian dan makan harta haram, sehingga menjadikan masyarakat terus dihantui rasa takut akan keselamatan hartanya.

Sungguh sangat mengherankan, bagaimana satu orang yang salah dibela mati-matian untuk tidak dihukum dengan hukum Allâh Azza wa Jalla , sedangkan masyarakat luas yang tidak bersalah dibiarkan begitu saja, tanpa diperhatikan haknya untuk mendapatkan keamanan. Adilkah tindakan ini, sungguh sangat jauh dari keadilan. Sungguh maha benar firman Allâh Azza wa Jalla :

Baca Juga  Zina, Bahaya Dosa Dan Hukumannya

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allâh Azza wa Jalla , bagi orang-orang yang yakin ?! [al-Maidah/5:50]

Adapun hukuman penjara, sungguh tidak pantas dijadikan sebagai ganti potong tangan yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla , karena beberapa hal :

Ia semakin membebani masyarakat, karena selama mereka di penjara, mereka harus dihidupi oleh Lembaga Pemasyarakatan yang tidak lain uangnya dari masyarakat. Semakin lama masa buinya, semakin banyak biaya yang dikeluarkan, padahal untuk orang yang telah terbukti melakukan kesalahan.

Banyak dari para pencuri tidak jera dengan tindak kriminalnya, bahkan sebaliknya. Mereka malah mendapatkan banyak pelajaran praktek kriminal dari teman-teman seprofessinya yang kebetulan berada dalam satu penjara. Sehingga ketika keluar, banyak dari mereka akan beraksi lagi dengan kriminal yang lebih besar dari sebelumnya.

Orang lain yang melihat mereka keluar dari penjara, tidak akan takut melakukan hal yang sama, karena sanksi yang terlalu ringan, apalagi di zaman sekarang ini, saat rasa malu telah banyak terkikis dari hati banyak orang, apalagi dari hati para pelaku kejahatan. WAllâh Azza wa Jalla ul musta’an.

Perlu digarisbawahi pula, bahwa hukum potong tangan ini, -begitu pula hukuman hudûd yang lainnya- memiliki banyak syarat, sehingga tidak setiap terjadi pencurian harus dipotong tangannya, tidak setiap terjadi perzinaan harus dirajam, tidak setiap terjadi pembunuhan harus dibunuh pelakunya, dan seterusnya.

2. Penegakan Hudud, tidak selaras dengan Hak Asasi Manusia untuk melangsungkan hidup

Jawaban:

Tuduhan diatas telah jauh hari terjawab oleh firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal. [al-Baqarah/2:179]

Dalam ayat ini, kita bisa memahami bahwa qishâsh tidaklah disyariatkan kecuali untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Tidak ada orang yang membantah ayat Allâh Azza wa Jalla ini, kecuali orang yang kurang panjang akalnya.

Sungguh tidak ada aturan yang lebih menghargai hidup melebihi penghargaan Islam. Tidakkah kita tahu, diyât[2] 100 unta bagi mereka yang terbunuh tanpa sengaja. Bahkan dalam pembunuhan terencana diyât dari orang yang terbunuh bisa tanpa batas, sesuai permintaan wali orang yang terbunuh !… Bahkan bisa haddul qatl (hukum mati) itu sendiri, memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bagaimana Islam sangat menghargai hidup seseorang, karena terkadang nyawa itu terlalu murah bila dihargai dengan harta betapapun banyaknya, sehingga nyawa yang seperti ini, harus ditebus dengan nyawa pula. Begitulah Islam menghargai nyawa orang yang tidak bersalah.

Dalam Syariat Islam hukuman mati, bukanlah diterapkan pada orang yang bebas dari kesalahan, sehingga bisa dikatakan bahwa hukuman mati tersebut, bertentangan dengan hak asasi manusia. Akan tetapi Islam menerapkan hukuman mati itu, pada orang yang telah melanggar hak asasi orang lain atau telah merampas hak hidup orang lain. Jika mereka konsekuen dengan landasan HAM, maka tidakkah mereka membela HAM-nya orang yang sudah terbunuh tersebut ?! Jika mereka ingin membela, bukanlah orang yang disalahi dan dibunuh atau keluarganya lebih berhak untuk dibela?!. Maha suci Allâh Azza wa Jalla dengan segala keputusan-Nya.

Islam adalah agama yang adil, Islam tidak menyamakan orang yang salah dengan orang yang tidak salah. Tidak menyamakan si pembunuh dengan yang lainnya. Memang orang yang bersih harus mendapatkan haknya untuk hidup, akan tetapi apakah orang yang telah membunuh orang lain dengan sengaja, berhak mendapatkan hak yang sama?! Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka, bahwa Kami akan menjadikan mereka sama seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan itu. [al-Jatsiyah/45:21]

Jika mereka menentang hukuman mati ini, harusnya mereka juga tidak menerapkan hukuman mati kepada siapa pun, tapi nyatanya mereka juga menerapkan hukuman mati pada orang-orang tertentu, yang menurut mereka pantas dibunuh. Bukankah dengan begitu, mereka juga melanggar HAM ?! Jawablah pertanyaan ini, maka jawabannya sama dengan jawaban mengapa Islam menerapkan hukuman mati pada sebagian orang.

3.Membunuh pezina muhshân[3] dengan batu, adalah penghinaan terhadap martabat kemanusiaan, bukankah ada cara yang lebih cepat dan lebih halus dari itu?!.

Baca Juga  Pembunuhan Mirip Disengaja

Jawaban.

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu ketika sedang berada di atas mimbar mengatakan:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَطُولَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ حَتَّى يَقُولَ قَائِلٌ: مَا أَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللَّهِ، فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، أَلَا وَإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ، إِذَا أُحْصِنَ الرَّجُلُ وَقَامَتِ الْبَيِّنَةُ، أَوْ كَانَ حَمْلٌ أَوِ اعْتِرَافٌ، وَقَدْ قَرَأْتُهَا الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ، رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ.

Sungguh aku khawatir, seiring berjalannya waktu, ada orang yang mengatakan: aku tidak menemukan hukum rajam di dalam Kitabullah, sehingga mereka menjadi sesat karena telah meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban Allâh Azza wa Jalla . Camkanlah, bahwa sesungguhnya rajam itu benar-benar ada jika orang itu dalam keadaan muhshân dan telah terbukti (melakukannya), atau bila terjadi kehamilan, atau ada pengakuan. Aku dulu telah membaca ayat al-Qur’an itu, (yang artinya) “Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan jika keduanya berzina, maka rajamlah mereka berdua tanpa ampun”. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, dan kami juga pernah merajam setelahnya. [HR. Ibnu Majah: 2553, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam tindakan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu yang mengumumkan hukum rajam ketika beliau berada di atas mimbar, dan keadaan para sahabat yang tidak mengingkarinya, terdapat dalil yang menunjukkan adanya hukuman rajam” [Syarah Shahih Muslim 11/191]

Tujuan hukuman Rajam, bukanlah hanya untuk mematikan pelaku zina muhshân, tetapi juga untuk memberikan gambaran kepada orang lain, betapa perbuatan zina yang dilakukan si pelaku sangat keji dan buruk, sehingga tidak ada lagi yang tergoda untuk melakukan hal yang sama. Itulah sebabnya mengapa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar hukuman tersebut disaksikan oleh banyak orang. Juga karena dorongan untuk melakukan zina biasanya sangat kuat, maka untuk mencegahnya juga membutuhkan hukuman yang keras pula.

Hukuman yang berat itu, disamping karena sangat buruk dan kejinya perbuatan itu, juga karena besarnya pengaruh buruk dari perbuatan itu. Lihatlah bagaimana perbuatan itu menyumbangkan banyak penyakit berbahaya, merusak kehormatan korbannya, melahirkan banyak anak yang tidak jelas, menurunkan martabat masyarakat yang dihuninya, dan masih banyak lagi bencana lainnya.

Lalu pantaskah orang yang demikian dibela ?! Manakah yang lebih pantas diperhatikan haknya, satu orang yang bersalah, ataukah masyarakat luas yang tidak melakukan kesalahan itu ?!

4.Hukum Hudûd sudah tidak relevan lagi dengan zaman modern ini, karena itu adalah hukuman yang dijalankan pada zaman klasik, yang hanya akan mengantarkan umat manusia kembali lagi ke abad pertengahan yang ke abad yang kelam

Jawaban:

Pernyataan bahwa hukum hudud sudah tidak relevan lagi di zaman ini, hanyalah tuduhan dan dugaan belaka. Karena faktanya, kejahatan yang terjadi di Negara yang menerapkan Syariat Hudûd dengan baik ternyata jauh lebih sedikit, bila dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi di Negara yang tidak menerapkan syariat hudûd. Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali orang yang sengaja menutup matanya dari fakta dan kenyataan.

Tidak semua yang lama, harus kita tinggalkan, bahkan betapa banyak hal-hal yang lama harus terus dipertahankan, karena manfaatnya begitu besar bagi masyarakat luas.

Apakah kita akan meninggalkan air, karena itu sesuatu yang lama?!

Apakah kita akan meninggalkan bahasa kita, karena itu sesuatu yang lama?!

Apakah kita tidak perlu lagi berdoa, karena itu adalah sesuatu yang lama?!

Tentu jawabannya adalah tidak, dan seribu tidak! Kita tidak akan meninggalkan sesuatu yang telah terbukti masih terus mendatangkan maslahat bagi kita, begitu pula syariat hudûd ini.

Memang abad pertengahan adalah zaman yang kelam bagi kaum kuffar, tapi tidak bagi kaum Muslimin. Justru saat itulah kaum Muslimin mencapai kejayaannya, saat itulah Islam menguasai dunia, karena masih dekatnya kaum Muslimin dengan ajaran Islam yang diantaranya adalah syariat hudûd. Inilah rahasia kekuatan kaum Muslimin, yaitu pada penerapan Syariat Islam dalam kehidupan mereka, kita tentunya masih ingat dengan perkatan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu :

إنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإسْلامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ العِزَّ بِغَيْرِ مَا أعَزَّنا الله بِهِ أذَلَّنا الله

Kita dulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allâh Azza wa Jalla memuliakan kita dengan ajaran Islam, maka selama kita mencari kemuliaan dari selainnya, Allâh Azza wa Jalla akan menghinakan kita. [Lihat Silsilah Shahîhah, 1/118]

Dari sini kita juga tahu, mengapa setiap ada suatu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, selalu dihalang-halangi untuk menjadikan Syariat Islam sebagai dasar negaranya. Itu disebabkan karena musuh Islam takut bila Kaum Muslimin menjadi kuat kembali, padahal Syariat Islam adalah syariat yang rahmatan lil alamin, aturan menaungi seluruh umat, dan menjamin keadilan bagi seluruh umat manusia.

Semoga tulisan ringkas ini sedikit bisa menggugah kesadaran kita terhadap berbagai makar orang-orang yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali, sehingga kita semakin waspada. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

_______

Footnote

[1] Ini praduga yang belum tentu benar, karena betapa banyak orang yang cacat masih bisa berprestasi dan berkarya-red

[2] Denda yang harus dibayar oleh pelaku atau keluarga pelaku pembunuhan kepada ahli waris korban bila tidak dilaksanakan hukum qishash-red

[3]  Pezina yang masih berstatus sebagai suami atau istri orang lain atau pernah melaksanakan akad nikah yang sah-red Referensi : https://almanhaj.or.id/3915-hudud-mewujudkan-maslahah-dan-menangkal-mafsadah.html

FUNGSI HUDUD DALAM SYARIAT ISLAM

FUNGSI HUDUD DALAM SYARIAT ISLAM

Oleh

Ustadz Musyaffa Ad-Dariny MA

Sungguh, Syariat Islam adalah syariat yang indah, karena membedakan orang yang berbuat baik dengan orang berbuat buruk. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan para pelaku dosa [ al-Qalam/68:35]

Islam juga merupakan syariat yang mulia dan perkasa, karena ia akan menjadi sangat ramah dan penuh rahmat terhadap pemeluknya yang taat, sebaliknya menjadi tegas, adil, dan bijaksana terhadap pemeluknya yang tidak menjalankan syariatnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴿٤٩﴾وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. [al-Hijr/15:49-50]

Dan Islam juga merupakan syariat yang rahmatan lil alamin, penuh rahmat dalam segala aturannya. Hanya saja bentuk rahmat tersebut berbeda-beda, antara mereka yang taat, dengan mereka yang maksiat. Ingatlah kembali firman-Nya :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Rahmat-Ku itu meliputi segala sesuatu [al-A’râf/7:156]

Begitu pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْء

Sesungguhnya Allâh menggariskan kebaikan pada segala sesuatu [HR Muslim, no. 3615]

Inilah kemuliaan dan keagungan Syariat Islam, namun demikian, para musuh Allâh Azza wa Jalla selalu ingin menjatuhkan Agama Islam, diantaranya dengan cara mencari-cari Syariat Islam yang dapat mereka jadikan sebagai sasaran kritikan untuk menjatuhkan, yang salah satunya adalah Syariat Hudûd.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, yang merupakan usaha kecil dari penulis untuk menjawab banyak syubuhat yang dikemukakan para musuh Allâh dalam menjatuhkan Syariat Hudûd tersebut. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita semua.

1. Penegakan Hudûd, hanya menambah bencana dan tidak akan memperbaiki keadaan.

Misalnya pada kasus pembunuhan, hukuman qishash tidak akan mengembalikan nyawa orang yang sudah mati, bahkan akan menambah jumlah kematian. Pada kasus perzinaan, hukuman cambuk atau rajam, tidak akan mengembalikan kehormatan si pelaku. Pada kasus orang yang murtad, hukuman potong leher, tidak akan mengembalikan agamanya.

Jawaban:

Sebagai seorang yang beriman, kita harus yakin bahwa Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya tidak akan memutuskan suatu hal, kecuali kemaslahatannya jauh lebih besar, dari pada mafsadatnya. Setiap ada perintah, pasti ada hikmah dan maslahat yang besar di baliknya, walaupun kadang akal sebagian orang tidak mampu menalarnya, karena keterbatasannya.

Kita harus tahu, bahwa syariat hudûd ini adalah keputusan Allâh Yang Maha Hikmah, dan keputusan itu tidak lain bersumber dari pengetahuan-Nya Yang Maha Luas, belum lagi Dia juga sangat menyayangi makhluknya melebihi sayangnya ibu kepada anaknya sebagaimana ditegaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Bukhari: 5999 dan Muslim: 2754). Sungguh tidak mungkin, Allâh Yang Maha Hikmah, Yang Maha Luas Ilmu-Nya, dan sangat menyayangi makhluk-Nya, memutuskan sesuatu yang hanya menambah bencana saja. Sungguh tidak mungkin Dia memutuskan sesuatu yang mafsadatnya lebih besar daripada maslahatnya.

Sedangkan pemahaman yang mengatakan; bahwa syariat hudûd ini hanya menambah bencana, datangnya dari makhluk yang tidak ma’shum, nalarnya terbatas, dan sering menilai sesuatu berdasarkan kapasitas dan lingkungannya.

Jika demikian keadaannya, tentunya keputusan Allâh harus didahulukan, dan diyakini kemaslahatannya. Adapun ketidak-tahuan manusia tentang hikmah dan maslahat tertentu di baliknya, maka itu semua bersumber dari keterbatasan nalar manusia.

Dalam Syariat Islam -begitu pula dalam peraturan lainnya- suatu hukum tidak harus murni kemaslahatan, tapi sudah cukup apabila kemaslahatannya lebih besar daripada mafsadatnya. Misalnya ketika menerangkan tentang khamr dan judi yang diharamkan, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan perjudian ? Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. [al-Baqarah/2:219]

Dari ayat ini, kita dapat memahami bahwa diharamkannya khamr dan judi, tidak murni karena kemaslahatan, tapi ada juga mafsadatnya, walaupun prosentasinya lebih kecil. Mafsadat itu berupa hilangnya beberapa manfaat yang ada pada keduanya akibat dari larangan ini.

Begitu pula Syariat hudûd, itu tidaklah murni kemaslahatan, tapi ada mafsadatnya yang prosentasinya lebih kecil. Jika boleh dimisalkan dalam dunia dagang, maka itu seperti orang yang ingin meraih untung 100 juta dengan mengorbankan 10 juta, tentunya ia tetap melihat hal tersebut sebagai keuntungan besar, dan akan melangkah untuk mendapatkannya.

Lihatlah pada hukuman potong leher dalam qishash, memang harus ada yang dikorbankan, tapi itu akan menjaga nyawa orang banyak. Karena jika qishash tidak ditegakkan, sangat mungkin terjadi pertumpahan darah antara kedua belah pihak, dan tentunya akan mengorbankan lebih banyak jiwa yang tidak bersalah. Jika qishash tidak ditegakkan, maka pembunuhan akan mudah dan sering terjadi, karena minimnya rasa takut saat melakukan pembunuhan. Bukankah ini merupakan mafsadat yang sangat besar ? Tak diragukan lagi, mengorbankan satu nyawa yang bersalah, lebih baik daripada membiarkan nyawa banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban ?!

Baca Juga  Hukum Rajam Bagi Pezina

Belum lagi maslahat untuk pelaku pembunuhan, dengan dibunuhnya ia sebagai qhisash, maka dosa akibat pembunuhannya telah tertebus, sehingga dia tidak akan disiksa lagi di akhirat karena dosa pembunuhannya itu, padahal kita tahu; siksa di akhirat jauh lebih berat dari pada siksa di dunia.

Juga, orang yang menyadari dan tahu pasti bahwa dirinya akan di bunuh atau diekskusi mati, biasanya akan mengisi sisa hidupnya dengan banyak beribadah dan banyak bertaubat. Ini juga merupakan maslahat lain yang sangat besar bagi si pelaku … Dan tentunya masih banyak maslahat lain yang tidak mungkin disebutkan semua dalam tulisan ini.

Lihat pula pada kasus perzinaan, hukuman cambuk dan rajam, akan bermanfaat bagi pelakunya, dan juga bagi masyarakat luas.

Dengan ditegakkannya hukuman itu kepada pelaku perzinaan, maka pelakunya akan terhapus dosa besarnya, dan pada hukuman cambuk, bila pelaku masih hidup, tentu ia juga akan jera untuk mengulanginya lagi.

Sedang diantara maslahatnya untuk masyarakat luas; mereka akan terbebas dari keburukan pelaku perzinaan. Mereka juga akan menjadi masyarakat terhormat, aman, dan tidak tergoda melakukan keburukan yang sama.

Adapun pada hukuman mati bagi orang yang murtad, maka hukuman mati itu akan berguna untuk menghentikan perbuatan buruknya. Kita sudah tahu, perbuatan buruk orang kafir akan semakin menambah siksanya di akhirat, sedang perbuatan baiknya akan sia-sia tanpa pahala.

Hukuman itu juga sangat berguna untuk melindungi agama dan akidah masyarakat luas, hukuman itu akan melindungi mereka dari kekufuran. Sehingga dengan demikian, berarti mereka akan terlindungi dari azab neraka yang abadi. Sungguh ini merupakan maslahat yang sangat besar bagi mereka. Bukankah tujuan utama hidup di dunia ini untuk beribadah ? Padahal setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibadah tidak akan diterima kecuali dengan agama Islam yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Ada juga hudud yang dapat mengembalikan kehormatan seseorang, misalnya haddul qadzf (hukuman cambuk 80 kali bagi orang yang menuduh orang lain berbuat zina, tapi dia tidak bisa mendatangkan 4 saksi saat diminta). Saat seseorang dituduh melakukan perzinaan, tentu nama baik orang itu akan jatuh dan hancur. Namun nama baiknya akan kembali saat tuduhan itu tidak terbukti, dan si penuduh mendapat hukuman cambuk di depan halayak ramai.

Begitu pula hukuman rajam, ia bahkan dapat meninggikan derajat orang yang dirajam tersebut menjadi sangat mulia. Renungkanlah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita dari Kabilah Ghamidi yang meminta ditegakkan hukuman rajam untuk dirinya :

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى؟!

Sungguh dia (wanita ini) telah bertaubat dengan suatu taubat yang jika taubat itu dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah, tentu akan cukup bagi mereka. Adakah engkau dapati taubat yang lebih afdhal (lebih baik) daripada taubatnya dengan menyerahkan dirinya kepada Allâh Azza wa Jalla ? [HR. Muslim: 3209]

2. Penegakan hudûd bertentangan dengan kebebasan hidup bermasyarakat, dan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat dengan hukum itu.

 Jawaban:

Islam sangat menghargai kebebasan, tapi kebebasan untuk berbuat baik, bukan kebebasan untuk berbuat buruk atau kejahatan. Dan penulis yakin, tidak ada aturan yang memberi kebebasan kepada semua orang untuk melakukan kejahatan. Itulah sebabnya banyak kita temukan sanksi-sanksi dalam setiap peraturan dan undang-undang.

Jadi tidak benar, jika dikatakan bahwa penegakan hudûd bertentangan dengan kebebasan hidup bermasyarakat secara mutlak. Yang benar, penegakan hudûd bertentangan dengan kebebasan melakukan kejahatan, dan itu ada dalam semua peraturan. Yang berbeda adalah, manakah yang dianggap sebagai perbuatan buruk ? Tentunya tidak ada yang lebih tahu jawaban dari pertanyaan ini melebihi Allâh Azza wa Jalla . Sehingga jika Allâh Azza wa Jalla telah memutuskan bahwa perbuatan ini buruk, dosa besar, dan ada hukumannya secara khusus, maka itulah yang benar dan harus didahulukan.

Demikianlah syariat hudûd ini, semua hukuman tersebut datang dari Allâh Azza wa Jalla , dan tidak ada yang lebih tahu tentang hukuman yang paling pantas untuk kejahatan itu melebihi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sehingga sudah seharusnya syariat hudûd ini diterapkan, tidak lain untuk mewujudkan kemaslahatan tertinggi bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun pernyataan, “Penegakan hudûd ini merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat”, maka itu hanyalah tuduhan yang berat sebelah. Kenapa hanya ditujukan kepada syariat hudûd ? Bukankah semua peraturan harus diterapkan pada semua individu yang berada di bawahnya ?! Siapakah yang rela kehilangan nyawa ibu, atau bapak, atau istri, atau suami, atau orang-orang tercinta lainnya tanpa ada balasan setimpal kepada pembunuhnya ?! Bukankah dengan menerapkan hukuman kurungan penjara saja juga merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat ?!

Baca Juga  Syariat Hukum Potong Tangan

Bukankah memaksakan kehendak Allâh Azza wa Jalla – yang sudah pasti benarnya – itu lebih pantas, daripada memaksakan kehendak makhluk -yang sudah pasti salahnya jika menyelisihi keputusan Allâh Azza wa Jalla -?! Sungguh segalanya telah jelas, bagi mereka yang berpikir dengan hati nurani yang jernih.

3. Penegakan hudûd untuk mereka yang murtad, bertentangan dengan norma kebebasan beragama, dan pendorong tumbuhnya sifat munafik dan orang-orangnya.

Jawaban:

Tidak ada pertentangan antara norma kebebasan beragama dengan hukuman mati bagi orang yang murtad. Karena Islam tidak memaksa mereka yang belum masuk Islam untuk masuk Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. [al-Baqarah/2:256]

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jikalau Rabbmu menghendaki, pastilah semua orang yang ada dimuka bumi beriman seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?! [Yunus/10:99]

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [al-Kahfi/18:29]

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. [al-Kafirun/109:6]

Adapun bagi orang yang sudah masuk Islam, maka syariat Islam harus berlaku baginya, siapapun dia tanpa pandang bulu, dan diantara syariat tersebut adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia [HR. Bukhâri, no. 2794]

Hukuman itu juga baru akan diterapkan, apabila si pelaku murtad telah dinasehati dan diminta untuk bertaubat, dengan harapan ia akan kembali menjadi muslim yang baik kembali.

Penegakan syariat Islam -yang diantaranya syariat hudûd-, adalah suatu keniscayaan. Itu tidak bisa ditinggalkan hanya karena akan menimbulkan sifat munafik dan orang-orangnya. Itulah yang dicontohkan oleh Rasûlullâh n semasa hidupnya, meski ada orang-orang munafik, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menegakkan syariat hudûd ini.

Tidak benar pula, bahwa penegakan syariat hudûd ini, dapat mendorong sifat munafik dan orang-orangnya. Yang benar, jika Islam semakin kuat, maka semakin banyak orang yang takut menampakkan permusuhannya terhadap syariat Islam. Sebaliknya, saat Islam melemah, maka semakin banyak orang yang berani terang-terangan menjatuhkan Islam.

Dan kenyataan itu tidak menjadikan kita berusaha melemahkan Islam. Karena mafsadah lemahnya Islam dan terang-terangnya para musuh Allâh Azza wa Jalla menjatuhkan Islam, jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

4. Hukuman dalam syariat hudûd sangat identik dengan kekerasan

Jawaban.

Kita tahu bahwa hukum hudûd merupakan hukuman bagi pelaku dosa-dosa besar. Hukuman-hukuman itu hanya dijatuhkan kepada pelaku kejahatan-kejahatan kelas tinggi, sehingga sangat tidak adil dan sangat tidak bijaksana, apabila hukumannya tidak keras.

Syariat Islam juga telah menempuh cara yang halus, dengan banyak memberikan nasehat dan menjanjikan pahala bagi mereka yang meninggalkan kejahatan-kejahatan tersebut, begitu pula memberikan ancaman-ancaman siksa akhirat bagi mereka yang tetap nekad melakukannya. Sehingga syariat hudûd ini memang dikhususkan bagi mereka yang sudah tidak mempan lagi dengan cara yang halus, sehingga memang harus diberikan hukuman yang keras.

Kita harus tahu juga bahwa hukuman dalam syariat Islam, tidak hanya berupa hudûd, ada juga hukuman ta’zîr yang bentuk dan penentuan kadarnya dikembalikan kepada keputusan seorang qadhi (hakim). Ta’zîr ini bisa berupa hukuman ringan, bisa pula berupa hukuman berat, tergantung jenis pelanggaran yang dilakukan. Namun syariat ta’zîr ini, hanya boleh diterapkan pada pelanggaran-pelanggaran yang belum ditentukan hukumannya dalam syari’at hudûd.

Intinya : orang yang mengatakan; “Hukuman dalam syariat hudûd sangat identik dengan kekerasan”, sama dengan orang yang mengatakan: “Hukuman untuk kejahatan kelas tinggi sangat identik dengan kekerasan”. Dan ini bukanlah kekurangan, sebaliknya ini merupakan kelebihan, karena itu berarti menentukan sanksi sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukan, dan tentunya Allâh-lah yang paling tahu tentang bentuk dan kadar hukuman tersebut.

Sekian tulisan tentang penegakan syariat hudûd dalam ajaran Islam. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikannya bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya, dan semoga Allâh Azza wa Jalla akan menjadikannya terwujud di negeri ini. Sungguh segalanya ada di Tangan-Nya, dan Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, serta Maha Mendengar doa para hamba-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Referensi : https://almanhaj.or.id/4048-fungsi-hudud-dalam-syariat-islam.html

ZINA, BAHAYA DOSA DAN HUKUMANNYA

ZINA, BAHAYA DOSA DAN HUKUMANNYA

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tentang ciri orang-orang yang bahagia yaitu yang menjaga dirinya dan kehormatannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ﴿٤﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Mu’minûn/23:1-7]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung adalah orang yang dapat menjaga kemaluannya. Maka sebaliknya, orang yang tidak menjaga kemaluannya berarti terjatuh dalam tiga ancaman:

Pertama: menjadi orang yang tidak beruntung.

Kedua: Menjadi orang yang tercela.

Ketiga: Menjadi orang yang melampaui batas.[1]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ﴿٢٩﴾إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ﴿٣٠﴾فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina dan homoseks), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Ma’ârij/70:29-31]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui dosa yang paling besar setelah membunuh manusia melainkan zina.”[2]

Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan bahwa dosa zina ini dikaitkan dengan dosa syirik dan dikaitkan dengan dosa membunuh jiwa serta membawa kepada kejelekan, kerusakan, dan kehinaan di dunia dan akhirat. Allâh Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ﴿٦٨﴾ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ﴿٦٩﴾ إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan Allâh dengan sembahan lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti oleh Allâh dengan kebaikan. Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [al-Furqân/25: 68-70]

Bahaya Zina

Saudaraku sesama Muslim, camkanlah bahwa perbuatan zina sangat besar bahayanya. Di antaranya[3]:

Menghilangkan kemaslahatan alam.

Maksiat yang melemahkan pengagungan terhadap Allâh .

Maksiat yang menyebabkan Allâh mengabaikan hamba-Nya.

Maksiat yang mengeluarkan hamba dari wilayah ihsân.

Menyebabkan tercampurnya nasab (keturunan).

Menyebabkan kehancuran rumah tangga.

Membawa kerusakan dunia dan agama si pelaku.

Membawa siksa di kuburnya dan diancam masuk

Banyak kehormatan yang terinjak-injak dan terjadinya kezhaliman.

Menyebabkan kefakiran dan rizki tidak barokah.

Memendekkan umur.

Menghitamkan wajah

Mencerai-beraikan hati dan membuat hati menjadi sakit.

Mendatangkan kegelisahan, kesedihan, dan ketakutan hati.

Menghilangkan kebaikan dan amal taat.

Menghilangkan nikmat dan mendatangkan adzab.

Memalingkan hati dari istiqâ

Menjadikan pelakunya berada dalam tawanan setan dan penjara syahwat.

Menjatuhkan derajat dan kedudukannya di sisi Allâh dan di sisi makhluk-Nya.

Melemahkan fungsi akal.

Menghapus keberkahan agama dan dunia.

Memutuskan hubungan hamba dengan Rabb-nya.

Menyebabkan berbagai makhluk berani mengganggu pelakunya.

Maksiat adalah bantuan manusia kepada musuhnya, yaitu setan.

Menyebabkan hamba melupakan dan melalaikan diri sendiri dan keluarganya.

Menghambat perjalanan hati menuju kepada Allâh .

Malaikat-malaikat rahmat akan menjauh darinya.

Mendekatkan kepada setan-setan yang terlaknat.

Menjerumuskan kepada seburuk-buruk maksiat.

Menghilangkan rasa malu.

Menghilangkan rasa cemburu.

Maksiat penyebab kebinasaan di dunia dan di akhirat.

Menyebabkan penyakit Gonorhea (kencing nanah), Siphilis, dan Aids yaitu penyakit yang membuat rusak kemaluan dan tubuhnya. Indikasi fisik penyakit ini ialah munculnya luka bernanah di sekitar kemaluan. Sementara itu, indikasi bagian dalam tubuh ditandai dengan infeksi pada hati, usus, lambung, tenggorokan, paru-paru, dan testis (buah zakar). Belum lagi dampak-dampak yang diakibatkan penyakit ini pada jantung dan saluran pembuluh darah sehingga keduanya dapat menyebabkan kelumpuhan, penebalan saluran pembuluh darah, kebutaan, rasa nyeri pada dada, kondisi fisik yang terus memburuk, kanker lidah, dan terkadang TBC.[4]

Saudaraku Muslim, tumbuhkanlah rasa cemburu di dalam hatimu untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat.

Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiyallahu anhu berkata, “Sekiranya aku melihat seorang pria bersama dengan isteriku, tentu aku akan  memenggal lehernya dengan pedang (dengan bagian yang tajam)!” Lalu perkataan ini terdengar oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَتَـعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْـرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَـا أَغْيَـرُ مِنْهُ ، وَاللّٰـهُ أَغْـيَــرُ مِنّـِيْ

Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad ?  Sungguh aku ini lebih cemburu dari dia, dan Allâh lebih cemburu dari aku.”[5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ اللّٰـهَ يَغَارُ ، وَإِنَّ الْـمُؤْمِنَ يَغَـارُ ، وَغَيْـرَةُ اللّٰـهِ أَنْ يَأْتِـيَ الْـمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allâh itu cemburu, dan sesungguhnya seorang Mukmin itu juga cemburu. Dan kecemburuan Allâh itu akan timbul bila seorang hamba melakukan apa yang diharamkan oleh Allâh atasnya.”[6]

Saudaraku Muslim, Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengaitkan sifat cemburu kepada orang-orang yang beriman, dimana mereka akan merasa cemburu jika melihat hamba Allâh melakukan hal yang diharamkan. Lantas masihkah tersisa rasa cemburu ini di hatimu apabila justru dirimu sendiri yang mengerjakan perbuatan keji ini???

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dalam shalat gerhana (kusuf), kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أُمَّةَ مُـحَمَّدٍ ! وَاللّٰـهِ مَـا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَـرُ مِنَ اللّٰـهِ أَنْ يَـزْنِـيَ عَبْدُهُ أَوْ تَـزْنِـيَ أَمَتُـهُ ، يَا أُمَّةَ مُـحَمَّدٍ ! وَاللّٰـهِ لَوْ تَـعْـلَمُوْنَ مَـا أَعْلَمُ لَضَحِكْـتُمْ قَـلِيْـلًا وَلَبَـكَيْـتُمْ كَـثِـيْـرًا.

Wahai umat Muhammad! Demi Allâh , tidak ada yang lebih cemburu daripada Allâh jika hamba-Nya yang laki-laki atau perempuan melakukan zina. Wahai umat Muhammad! Demi Allâh , sekiranya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”[7]

Baca Juga  Terjerat Kebiasaan Onani (Masturbasi)

Dalam penyebutan dosa besar ini, yaitu zina secara khusus seusai shalat gerhana terdapat suatu rahasia indah yang hanya dapat diketahui dan diamati oleh orang-orang yang mengamatinya secara seksama, yaitu fenomena perbuatan zina merupakan tanda kehancuran alam sekaligus satu tanda-tanda hari Kiamat.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Sungguh, aku akan menyampaikan suatu hadits yang aku dengar dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan ada orang lain yang mendengar darinya yang akan menyampaikannya kepada kalian,

إِنَّ مِـنْ أَشْـرَاطِ السَّاعَـةِ أَنْ يُـرْفَعَ الْعِلْمُ ، وَ يَـظْهَـرَ الْـجَـهْـلُ ، وَيَفْشُوَ الـزِّنَـى ، وَيُـشْـرَبَ الْـخَـمْـرُ ، وَيَذْهَبُ الـرِّجَالُ ، وَتَبْقَى النّـِسَاءُ ، حَتَّى يَـكُوْنَ لِـخَمْسِيْـنَ امْـرَأَةً قَـيّـِمٌ وَاحِدٌ.

Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah hilangnya ilmu, tampaknya kebodohan, banyak diminumnya khamr, maraknya (banyaknya) perzinaan, perginya (sedikitnya) pria, dan tersisa (banyaknya) wanita. Sampai-sampai, lima puluh orang wanita diurus oleh seorang pria.[8]

Tingkatan Dosa Zina

Perbuatan zina adalah dosa besar, dan dosa besar zina bertingkat-tingkat sesuai dengan kerusakannya:

Seseorang yang berzina dengan banyak orang lebih bobrok (rusak) dan lebih besar dosanya daripada yang berzina dengan satu orang saja.

Seseorang yang berzina terang-terangan lebih bobrok (rusak) dan lebih besar dosanya daripada yang berzina secara sembunyi-sembunyi.

Seseorang yang berzina dengan wanita yang bersuami lebih bobrok (rusak) dan lebih besar dosanya daripada yang berzina dengan wanita yang tidak bersuami; Karena dalam perbuatan tersebut terdapat kezhaliman, permusuhan dan merusakan istri orang.

Seseorang yang berzina dengan istri tetangga lebih bobrok (rusak) dan lebih besar dosanya daripada orang yang berzina dengan selain tetangga; karena itu menimbulkan gangguan terhadap tetangga dan penyimpangan terhadap wasiat Allâh dan Rasul-Nya.

Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata :

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَـمُ ؟ قَالَ : أَنْ تَـجْعَلَ لِلّٰـهِ نِـدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ، قَالَ : قُلْتُ لَهُ : إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيْمٌ. قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ: أَنْ تَـقْـتُـلَ وَلَـدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَـطْعَـمَ مَعَكَ. قَالَ : قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : أَنْ تُـزَانِـيَ حَـلِـيْـلَـةَ جَارِكَ

Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menyekutukan Allâh padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu.” Aku katakan kepada beliau, “Itu dosa yang sangat besar.” Kemudian aku bertanya kembali, “Kemudian dosa apa lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya kembali, “Kemudian dosa apa lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”[9]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَأَنْ يَزْنِـيَ الرَّجُلُ بِعَشْـرَةِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْـهِ مِنْ أَنْ يَـزْنِـيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ

Sekiranya seorang laki-laki berzina dengan sepuluh orang wanita itu lebih ringan daripada ia berzina dengan istri tetangganya[10]

Seorang yang berzina dengan istri mujâhid (orang yang berjihad) di jalan Allâh lebih bobrok (rusak dan lebih besar dosanya) daripada yang berzina dengan wanita lainnya; Karena pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepada si mujâhid, “Ambillah dari kebaikan pezina itu sesuka hatimu!”[11]

Seseorang yang berzina dengan mahramnya (seperti ibunya, kakak perempuan, adik perempuan) lebih jahat, lebih bobrok (rusak dan lebih besar dosanya) daripada yang berzina dengan selainnya.

Hukuman bagi orang yang berzina dengan mahramnya, menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah adalah dibunuh. Beliau rahimahullah berkata, “Jika perbuatan keji itu dilakukan dengan orang yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dari para mahramnya, itu adalah perbuatan yang sangat membinasakan. Dan wajib dibunuh pelakunya bagaimana pun keadaannya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan yang selainnya.” [12]

Imam Ahmad berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya dari Bara’ bin Azib Radhiyallahu an hu, ia berkata, “Aku bertemu dengan pamanku dan ia membawa bendera, lalu aku berkata, “Mau kemana engkau wahai paman ?” Dia berkata, “Aku diutus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenggal leher seorang laki-laki dan mengambil hartanya yang telah berzina dengan istri bapaknya (ibu tiri).” [13]

Dosa zina juga bertingkat-tingkat sesuai dengan waktu, tempat, dan kondisi :

Orang yang berzina pada malam atau siang bulan Ramadhân lebih besar dosanya daripada yang berzina pada selain waktu tersebut.

Orang yang berzina di tempat-tempat yang mulia dan utama lebih besar dosanya daripada yang berzina di selain tempat-tempat tersebut.

Pelaku zina juga bertingkat-tingkat:

Seorang yang sudah menikah lebih jelek (buruk) dan lebih besar dosanya daripada yang belum menikah.

Orang yang sudah tua lebih jelek dan lebih besar dosanya daripada

Orang yang alim (orang yang yang berilmu/guru) lebih jelek (buruk) dan lebih besar dosanya daripada orang yang bodoh.

Thâlibul ilmi (Penuntut ilmu) lebih jelek (buruk) dan lebih besar dosanya daripada orang awam.

Orang yang mampu (kaya) lebih jelek (buruk) lebih besar dosanya dari orang yang fakir dan lemah.[14]

Hukuman Bagi Orang Yang Melakukan Zina

Hukuman di Dunia

1. Hukuman bagi orang yang berzina dan ia belum pernah menikah:

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢﴾ الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allâh , jika kamu beriman kepada Allâh dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nûr/24:2-3]

Islam adalah agama hanîf, agama tauhid, agama yang bersih dari syirik, agama yang bersih dan menjaga kehormatan manusia. Agama Islam adalah agama yang adil dan memandang perbuatan zina sebagai perbuatan kotor, jorok, menjijikkan, sangat memalukan, merusak kehormatan dan nasab. Oleh karena itu, Islam menjatuhkan sanksi yang sangat berat bagi pelakunya, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas dan hadits-hadits shahih, sebagai berikut:

Berhak mendapatkan murka Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Berhak mendapatkan hukuman yang berat.

Berhak mendapat cambukan sebanyak seratus kali.

Tidak boleh berbelas kasihan kepada pelaku zina.

Harus diasingkan selama setahun.

Hanya boleh menikah dengan pezina atau orang yang musyrik.

Pezina haram dinikahkan dengan seorang mukmin.

Berhak mendapatkan ancaman dengan dilipatgandakan adzab dan terhina pada hari Kiamat.

Baca Juga  Kecelakaan Lalu Lintas, Bagaimana Islam Menghukuminya?

2. Hukuman bagi pezina yang telah menikah:

Apabila pezina tersebut adalah orang yang sudah menikah, baik duda atau janda, maka hukumannya adalah hukuman rajam (dilempari batu sampai mati).

Dari ‘Ubâdah bin ash-Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خُذُوْا عَنّـِيْ ، خُذُوْا عَنّـِيْ ، قَـدْ جَعَـلَ اللّٰـهُ لَـهُنَّ سَبِـيْـلًا : اَلْبِكْـرُ بِالْبِكْرِ جَـلْـدُ مِائَـةٍ وَنَـفْيُ سَنَـةٍ ، وَ الثَّـيّـِبُ بِالثَّـيّـِبِ جَلْـدُ مِائَـةٍ وَالـرَّجْمُ.

Ambillah dariku, ambillah dariku. Allâh telah menetapkan ketentuan bagi mereka; Perjaka yang berzina dengan perawan (hukumannya) dicambuk seratus kali dan dibuang selama setahun, dan laki-laki yang sudah pernah menikah (yang berzina) dengan perempuan yang sudah pernah menikah (hukumannya) adalah dicambuk seratus kali[15] dan dirajam.[16]

Hukuman rajam adalah hukuman bagi orang yang berzina, dimana ia dibenamkan ke dalam tanah sampai sebatas dadanya[17], kemudian dilempari dengan batu beramai-ramai sampai mati !

Hukuman di Akhirat

Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu yang mengisahkan tentang mimpi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…فَانْطَـلَـقْـنَا فَأَتَـيْـنَـا عَلَـى مِثْلِ التَّـنُّوْرِ ، قَالَ: وَأَحْسِبُ أَنَّـهُ كَانَ يَـقُوْلُ: فَإِذَا فِـيْـهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ. قَالَ: فَاطَّـلَعْنَا فِيْهِ فَإِذَا فِـيْـهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُـرَاةٌ ، وَإِذَا هُمْ يَأْتِـيْهِمْ لَـهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْـهُمْ ، فَإِذَا أَتَـاهُمْ ذٰلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا. قَالَ: قُلْتُ لَـهُمَـا-أَيْ الْـمَلَـكَيْـنِ-: مَا هـٰـؤُلَاءِ…؟ قَالَا: وَأَمَّا الِـرّجَالُ وَالنّـِسَاءُ الْعُـرَاةُ الَّذِيْنَ فِـيْ مِـثْـلِ بِـنَاءِ التَّـنُّـوْرِ ، فَـهُمُ الزُّنَـاةُ وَالزَّوَانِـيْ.

… Lalu kami (Nabi dan malaikat yang menemani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) pergi kemudian mendatangi suatu tempat mirip pembakaran (tungku). Dia (perawi) berkata : Aku kira Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ternyata di dalamnya terdengar suara gaduh dan teriakan.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka kami melihat di dalamnya terdapat kaum laki-laki dan wanita yang telanjang. Tiba-tiba datang api yang menyala-nyala dari bawah mereka, ketika api itu mendatangi mereka maka mereka berteriak-teriak.” Beliau bersabda, “Aku berkata kepada keduanya (dua malaikat), “Siapa mereka itu…?” Keduanya berkata, “Adapun kaum laki-laki dan wanita yang telanjang yang berada dalam tungku itu, mereka adalah para pezina.’”[18]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَـلَاثَةٌ لَا يُـكَـلّـِمُـهُمُ اللّٰـهُ يَوْمَ الْقِـيَـامَـةِ وَلَا يُـزَكّـِيْهِمْ (وَلَا يَـنْـظُـرُ إِلَيْهِمْ) وَلَـهُمْ عَـذَابٌ أَلِـيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَـلِـكٌ كَـذَّابٌ ، وَعَائِـلٌ مُسْتَـكْبِـرٌ.

Ada tiga golongan manusia yang pada hari Kiamat kelak, Allâh tidak akan berbicara kepada mereka, tidak akan mensucikan mereka (tidak akan memandang mereka), dan mereka mendapatkan siksa yang pedih, yaitu orang lanjut usia yang berzina, raja (penguasa) yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.[19]

Itulah hukuman berat yang akan diterima oleh pezina di akhirat.

Semoga naskah singkat ini bisa mengingatkan kita terhadap besarnya resiko dan beratnya hukuman yang harus diterima oleh pelakunya. Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua dan senantiasa menjaga kita dari perbuatan-perbuatan dosa.

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَصَابَ ذَنْبًا أُقِيْمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذلِكَ الذَّنْبِ ، فَهُوَ كَفَّارَتُـهُ.

Barangsiapa yang melakukan suatu dosa lalu ditegakkan atasnya hukuman atas dosa tersebut, maka hukuman itu merupakan kaffarat (penebus dosa) baginya.”[20]

Jadi, hukuman hadd yang ditegakkan secara syar’i oleh ulil amri (pemerintah) adalah sebagai penghapus dosa tersebut. Namun apabila hukuman hadd tersebut tidak dilaksanakan, maka hukumannya di akhirat tergantung kehendak Allâh , jika Allâh berkehendak maka Allâh akan mengampuninya, dan jika Allâh kehendaki maka Allâh mengadzabnya (menyiksanya).

Wallaahul Musta’aan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVI/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

_______

Footnote

[1] Diringkas dari ad-Dâ’ wad Dawâ’ (hlm. 231).

[2] Ad-Dâ’ wad Dawâ’ (hlm. 230).

[3] Ad-Dâ’ wad Dawâ’ (hlm. 250-251), Min Mafâsidiz Zinâ, karya Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm al-Hamd, dan beberapa tambahan dari kitab-kitab yang lain.

[4] Fâhisyah Qaumi Lûth, karya Abu ‘Abdirrahman ‘Ali bin ‘Abdul ‘Azîz Musa.

[5] Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 6846, 7416) dan Muslim (no. 1499).

[6] Shahîh: HR. Bukhâri (no. 5223) dan Muslim (no. 2761).

[7] Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 1044) dan Muslim (no. 901), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha.

[8] Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 80, 81, 5231, 5577, 6808) dan Muslim (no. 2671 (9)), dari Anas bin Mâlik Radhiyallahgu anhu. Ini lafazh Muslim.

[9] Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 4477 dan 6811), Muslim (no. 86), at-Tirmidzi (no. 3182), dan an-Nasâ-i (VII/89).

[10] Shahîh: HR. Al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 103), Ahmad (IV/8), dan selainnya.

[11]  Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 1897) (139-140).

[12] Lihat Raudhatul Muhibbîn (hlm. 318).

[13] Shahîh: HR. Abu Dâwûd (no. 4457), at-Tirmidzi (no. 1362), an-Nasa-i (VI/109), Ibnu Majah (no. 2607), al-Baihaqi (VIII/237), dan Ahmad (IV/292). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwâ-ul Ghalîl (no. 2351).

[14] Dinukil dengan sedikit tambahan dari Rasâ-il fii Abwâb Mutafarriqah (hlm. 253-254), karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

[15] Akan tetapi hukuman cambuk seratus kali bagi pezina yang sudah menikah telah dimansûkh (dihapus) sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syâfi’i dalam kitabnya ar-Risâlah (no. 380-382).

[16] Shahîh: HR. Ahmad (V/313, 317, 318, 320), Muslim (no. 1690), Abu Dawud (no. 4415), at-Tirmidzi (no. 1434), dan lainnya dengan sanad yang shahih.

[17] Sebagaimana dalam hadits Muslim (no. 1695 (23)).

[18] Shahîh: HR. Bukhâri (no. 7047).

[19] Shahîh: HR. Muslim (no. 107), an-Nasa-i (V/86), dan Ahmad (II/433).

[20] Shahîh: HR. Ahmad (V/214, 215), dari Khuzaimah bin Tsâbit z . Hadits ini shahih dengan beberapa syawâhid (penguat)nya dari shahabat lain.

Referensi : https://almanhaj.or.id/14158-zina-bahaya-dosa-dan-hukumannya.html

APAKAH BOLEH MENANGGUHKAN SEBAGIAN HUKUM HUDUD DALAM KONDISI DARURAT

Apakah Boleh Menangguhkan Sebagian Hukum Hudud Dalam Kondisi Darurat

APAKAH BOLEH MENANGGUHKAN SEBAGIAN HUKUM HUDUD DALAM KONDISI DARURAT

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah seorang penguasa muslim boleh menangguhkan sebagian hukum hudud pada waktu-waktu darurat sebagaimana yang pernah diperbuat Umar bin al-Khaththab, ketika menggugurkan hukum had mengenai pencurian pada waktu musim paceklik?

Jawaban

Kaum Muslimin wajib menegakkan kewajiban yang telah Allah syari’atkan pada hukum-hukum hudud sebagaimana Umar bin al-Khaththab, sendiri pernah berkata ketika sedang di atas mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menyinggung tentang hukum rajam bagi pezina yang sudah beristeri (muhshan), “Dan aku khawatir jika lama-lama orang-orang akan mengatakan, ‘kami tidak mendapatkan hukum rajam di dalam Kitabullah.’ Sehingga dengan begitu, mereka menjadi sesat karena meninggalkan satu kewajiban yang telah diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Di sini, dia menjelaskan bahwa hal ini adalah merupakan suatu kewajiban dan tidak dapat disangkal lagi bahwa ia adalah kewajiban, karena Allah telah memerintahkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam firman-firmanNya,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya. ” [Al-Ma’idah/5 : 38]

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah ” [An-Nur/24 :2]

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا

Baca Juga  Mengapa Tidak Menempuh Solusi Politik Dan Revolusi Dalam Perbaikan Masyarakat?

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia.” [Al-Ma’idah/5 :33]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا أهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيِهمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena bila ada orang terpandang diantara mereka yangmencuri, mereka membiarkannya ; dan bila orang lemah yang mencuri, maka mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, andaikata Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”[1]

 Jadi, tidak seharusnya hukum-hukum hudud ini tidak difungsikan, apapun situasi dan kondisinya. Riwayat mengenai Umar yang menggugurkan hukum ketika terjadi kelaparan, perlu diberi catatan dengan dua hal penting. Pertama, keshahihan riwayatnya. Jadi, kita menuntut kepada setiap siapa saja yang mengklaim hal ini agar membuktikan keshahihan riwayatnya, bahwa ia berasal dari Umar. Kedua, bahwa Umar tidak memberlakukan hukum had tersebut karena mencuatnya syubhat, sebab orang-orang dalam kondisi kelaparan. Jadi, terkadang seseorang mengambil sesutu karena tuntutan kondisi, bukan sengaja untuk mengenyangkan perutnya dengan itu.

Seperti telah diketahui bersama, bahwa wajib bagi kaum muslimin memberi makan kepada saudaranya yang membutuhkan. Dari sini, Umar khawatir bila pencuri itu nantinya butuh kepada makanan, namun dia tidak mendapatkannya (karena terhalang), maka dia mencari-cari kesempatan untuk mencuri. Tindakan seperti inilah yang pantas dilakukan Umar, jika atsar yang dinisbahkan kepadanya memang shahih bahwa dia telah menggugurkan atau menghapus hukum had, yaitu had terhadap pencuri pada tahun paceklik.

Baca Juga  Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil

Sedangkan terhadap para penguasa kita, yakni kebanyakan mereka tidaklah dapat dipercaya komitmen keagamaan mereka, demikian juga kewajiban mereka di dalam memberikan nasehat kepada umat. Andaikata dibukakan pintu ke arah itu, niscaya sebagian mereka akan mengatakan, “Menegakkan hukum had dizaman ini sudah tidak relevan lagi karena orang-orang kafir, musuh kita akan menuduh kita sebagai orang-orang bengis dan manusia liar dan kita menentang apa yang wajib diperhatikan dari sisi hak-hak asasi manusia.” Kemudian hukum hudud dihapus secara keseluruhan sebagaimana -sangat disayangkan sekali- realitas saat ini di kebanyakan negeri muslimin di mana hukurn-hukum hudud tidak difungsikan demi menjaga perasaan musuh-musuh Allah.

Oleh karena itu, manakala hukum-hukum hudud tersebut tidak difungsikan lagi, terjadilah banyak sekali tindak kriminal dan orang-orang –bahkan hingga kepada para penguasa yang selalu mengekor dalam hal ini– menjadi linglung, apa tindakan yang harus dilakukan terhadap tindakan kriminal tersebut.

(Dari Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin)

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama. Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia, Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

_______

Footnote

[1] HR. Al-Bukhari, Ahadits al-Anbiya’ (3475); Muslim, al-Huduud (1688).

Referensi : https://almanhaj.or.id/18288-apakah-boleh-menangguhkan-sebagian-hukum-hudud-dalam-kondisi-darurat-2.html

PENGUASA MUSLIM MENANGGUHKAN SEBAGIAN HUKUM HUDUD

PENGUASA MUSLIM MENANGGUHKAN SEBAGIAN HUKUM HUDUD

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah seorang penguasa muslim boleh menangguhkan sebagian hukum hudud pada waktu-waktu darurat sebagaimana yang pernah diperbuat Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘ahu, ketika menggugurkan hukum had mengenai pencurian pada waktu musim paceklik?

Jawaban:

Kaum Muslimin wajib menegakkan kewajiban yang telah Allah syari’atkan pada hukum-hukum hudud sebagaimana Umar bin al-Khaththab, sendiri pernah berkata ketika sedang di atas mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menyinggung tentang hukum rajam bagi pezina yang sudah beristeri (muhshan), “Dan aku khawatir jika lama-lama orang-orang akan mengatakan, ‘kami tidak mendapatkan hukum rajam di dalam Kitabullah.’ Sehingga dengan begitu, mereka menjadi sesat karena meninggalkan satu kewajiban yang telah diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Di sini, dia menjelaskan bahwa hal ini adalah merupakan suatu kewajiban dan tidak dapat disangkal lagi bahwa ia adalah kewajiban, karena Allah telah memerintahkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam firman-firmanNya,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya. ” [al-Ma’idah/5 :38]

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah” [an-Nur/24 : 2]

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا

Baca Juga  Adakah Hukuman Yang Sepadan Cambuk?

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia.” [al-Ma’idah/5 :33].

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena bila ada orang terpandang diantara mereka yang mencuri, mereka membiarkannya; dan bila orang lemah yang mencuri, maka mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, andaikata Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” [Hadits Riwayat Al-Bukahri, Ahdits Al-Anbiya 3475. Muslim, Al-Hudud 1688]

Jadi, tidak seharusnya hukum-hukum hudud ini tidak difungsikan, apapun situasi dan kondisinya. Riwayat mengenai Umar yang menggugurkan hukum ketika terjadi kelaparan, perlu diberi catatan dengan dua hal penting.

Keshahihan riwayatnya. Jadi, kita menuntut kepada setiap siapa saja yang mengklaim hal ini agar membuktikan keshahihan riwayatnya, bahwa ia berasal dari Umar.

Bahwa Umar tidak memberlakukan hukum had tersebut karena mencuatnya syubhat, sebab orang-orang dalam kondisi kelaparan. Jadi, terkadang seseorang mengambil sesutu karena tuntutan kondisi, bukan sengaja untuk mengenyangkan perutnya dengan itu.

Seperti telah diketahui bersama, bahwa wajib bagi kaum muslimin memberi makan kepada saudaranya yang membutuhkan. Dari sini, Umar Radhiyallahu ‘anhu khawatir bila pencuri itu nantinya butuh kepada makanan, namun dia tidak mendapatkannya (karena terhalang), maka dia mencari-cari kesempatan untuk mencuri. Tindakan seperti inilah yang pantas dilakukan Umar, jika atsar yang dinisbahkan kepadanya memang shahih bahwa dia telah menggugurkan atau menghapus hukum had, yaitu had terhadap pencuri pada tahun paceklik.

Baca Juga  Zina, Bahaya Dosa Dan Hukumannya

Sedangkan terhadap para penguasa kita, yakni kebanyakan mereka tidaklah dapat dipercaya komitmen keagamaan mereka, demikian juga kewajiban mereka di dalam memberikan nasehat kepada umat. Andaikata dibukakan pintu ke arah itu, niscaya sebagian mereka akan mengatakan, “Menegakkan hukum had dizaman ini sudah tidak relevan lagi karena orang-orang kafir, musuh kita akan menuduh kita sebagai orang-orang bengis dan manusia liar dan kita menentang apa yang wajib diperhatikan dari sisi hak-hak asasi manusia.” Kemudian hukum hudud dihapus secara keseluruhan sebagaimana -sangat disayangkan sekali- realitas saat ini di kebanyakan negeri muslimin di mana hukurn-hukum hudud tidak difungsikan demi menjaga perasaan musuh-musuh Allah.

Oleh karena itu, manakala hukum-hukum hudud tersebut tidak difungsikan lagi, terjadilah banyak sekali tindak kriminal dan orang-orang -bahkan hingga kepada para penguasa yang selalu mengekor dalam hal ini- menjadi linglung, apa tindakan yang harus dilakukan terhadap tindakan kriminal tersebut.

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

Referensi : https://almanhaj.or.id/3502-penguasa-muslim-menangguhkan-sebagian-hukum-hudud.html

HUDÛD, MEWUJUDKAN MASLAHAH DAN MENANGKAL MAFSADAH

HUDÛD, MEWUJUDKAN MASLAHAH DAN MENANGKAL MAFSADAH

Oleh

Ustadz Musyaffa Ad-Dariny MA

Segala puji bagi Allâh Azza wa Jalla , yang telah menciptakan manusia. Dia-lah Yang Maha Tahu tentang segala hal yang dapat mendatangkan maslahat dan mafsadat bagi hamba-Nya. Dia-lah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga tidak akan memberikan batasan hukum, kecuali atas dasar kasih-sayang-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Hikmah, sehingga tidak mungkin menentukan sesuatu kecuali ada hikmah yang besar di baliknya.

Shalawat dan salam, kita haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seorang Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, sehingga tidaklah mungkin beliau menuntunkan sesuatu, melainkan nilai rahmat dan kasih sayang tersebut memenuhi tuntunan-tuntunanya.

Sebagai seorang muslim, kita harus bangga dengan ajaran Islam, ajaran yang telah dijadikan sempurna oleh Allâh Azza wa Jalla , dan diridhai-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. [al-Mâidah/5:3]

Tidak boleh merasa rendah diri dalam mengemban ajaran ini, dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya, dan bagaimanapun keadaannya. Jangan sampai kita menerapkan ajaran ini setengah-setengah. Kita harus masuk Islam dan menerapkan ajarannya secara kaffah. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [al-Baqarah/2:208]

Inilah konsekuensi ikrar kita dengan syahadatain. Sebagaimana kita ketahui bersama, Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah, tetapi juga mengatur segala sisi kehidupan manusia, baik tentang kenegaraan, perbisnisan, pernikahan, kehakiman, bahkan dalam sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh manusia yaitu adab makan dan minum, bahkan adab dalam buang hajat.

Islam tidak hanya memberikan rambu-rambu peraturan dalam hal-hal yang dipandang baik, tapi Islam juga menggariskan sanksi-sanksi apabila ada pelanggaran, tidak lain agar peraturan tersebut berjalan dengan baik. Diantara sanksi-sanksi tersebut adalah apa yang diistilahkan dalam bahasa Fikih Islam sebagai Hudûd. Hudûd itu berarti Sanksi-sanksi karena maksiat yang kadarnya ditentukan oleh Syariat dengan tujuan agar pelanggaran berat itu tidak terjadi lagi serta untuk menebus dosa pelakunya. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 14/206). Misalnya, hukuman qishash (hukum mati bagi pelaku pembunuhan bila sudah memenuhi persyaratan-red), cambuk, rajam (hukum mati bagi pezina yang sudah pernah menikah dengan pernikahan yang sah-red), potong tangan. Yang semua hukuman tersebut, mengandung maslahat yang jauh lebih besar dibanding mafsadatnya.

Paling tidak, kita dapat melihat besarnya maslahat tersebut dari hal-hal berikut ini:

Hukuman tersebut hanya diberlakukan pada sebagian kecil orang saja, demi melindungi kesalamatan umat manusia yang sangat banyak, baik dalam agama, jiwa, kehormatan, akal, dan hartanya.

Hukuman tersebut hanya diberlakukan pada orang yang bersalah dan memenuhi syarat saja , dengan tujuan memberikan peringatan kepada umat manusia yang sangat banyak agar tidak nekad melakukan atau mengulangi kesalahan yang sama.

Hukuman tersebut hanya diberikan kepada para pelaku pelanggaran-pelanggaran tertentu yang dampak buruknya sangat besar bagi manusia, baik di dunia maupun akhirat. Belum lagi ada syarat-syarat yang banyak dan semuanya harus terpenuhi dalam setiap hukuman yang ada tersebut. Sehingga terwujudlah keadilan dari dua belah pihak; pihak yang bersalah, dan pihak yang disalahi.

Tanpa mengetahui hal-hal diatas pun, kita harusnya yakin bahwa tidaklah Allâh Azza wa Jalla menentukan sesuatu dalam syariat, kecuali maslahatnya lebih besar daripada mafsadatnya. Karena bagaimana mungkin Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Tahu, Yang Maha Penyayang, dan Yang Maha Hikmah, menentukan sesuatu yang akibat buruknya lebih besar. Sungguh ini sangat bertentangan dengan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla yang maha baik dan mulia.

Tergerak dengan banyaknya argumen dan pandangan miring tentang syariat hudûd ini, baik yang berasal dari kaum kafir yang ingin menjatuhkan kemuliaan Islam, ataupun dari sebagian kaum Muslimin yang membeo kepada orang-orang kafir –hadâhumullâh (semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada mereka-red)-, maka sudah seharusnya kita menjawabnya dan meluruskan opini-opini miring tersebut. Ini demi membela agama Allâh Azza wa Jalla ini dan melindungi kaum Muslimin dari pengaruh buruk argumen tersebut.

Berikut ini, argumen-argumen miring dan jawaban-jawabannya, semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita semua :

1. Hukuman potong tangan adalah hanya menimbulkan keburukan bagi pencuri, dan menjadikannya cacat dan beban bagi masyarakat

Jawaban :

Allâh Azza wa Jalla telah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dan Allâh Azza wa Jalla Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [al-Mâidah/5:38]

Jika Allâh Azza wa Jalla telah memutuskan sesuatu, maka tidak ada yang berhak menentang putusan-Nya. Jika putusan dari raja saja, tidak boleh ada yang menentang, bagaimana bila keputusan itu turun dari rajanya para raja. Sungguh tidak ada yang menentang keputusan-Nya, kecuali orang yang merendahkan kemuliaan-Nya.

Hukuman tersebut tidak hanya menimbulkan dampak buruk semata bagi pencuri, karena hal tersebut bisa menjadi pelebur dosanya. Apakah peleburan dosa ini merupakan keburukan bagi sang pencuri ? Juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi dia, sehingga memudahkan baginya untuk bertaubat dari kesalahannya. Apalagi bila ia mau mengingat-ingat beratnya hukuman maksiat di dunia ini yang tidak seberapa atau jauh lebih ringan dibandingkan hukuman di akhirat nantinya. Dengan begitu ia akan banyak taubat dari segala dosa yang dilakukannya di dunia. Munculnya kesadaran seperti ini merupakan maslahat yang sangat besar baginya.

Seandainya pun benar, hukuman itu murni keburukan bagi pencuri (namun anggapan ini tidak benar sebagaimana penjelasan di atas), namun jika pelaksanaan hukuman itu akan menimbulkan kebaikan murni bagi masyarakat luas, maka hukuman itu tetap harus dijalankan. Karena mengorbankan satu orang karena kesalahannya demi melindungi masyarakat luas dari kejahatannya, lebih diutamakan.

Bila benar, orang yang dipotong tangannya karena mencuri akan menjadi beban bagi masyarakat, karena dia tidak bisa bekerja[1]. Namun kondisi dia yang lemah pasca menerima hukuman berat itu masih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan keadaannya bila ia tetap sempurna badannya, tapi terus melakukan pencurian dan makan harta haram, sehingga menjadikan masyarakat terus dihantui rasa takut akan keselamatan hartanya.

Sungguh sangat mengherankan, bagaimana satu orang yang salah dibela mati-matian untuk tidak dihukum dengan hukum Allâh Azza wa Jalla , sedangkan masyarakat luas yang tidak bersalah dibiarkan begitu saja, tanpa diperhatikan haknya untuk mendapatkan keamanan. Adilkah tindakan ini, sungguh sangat jauh dari keadilan. Sungguh maha benar firman Allâh Azza wa Jalla :

Baca Juga  Zina, Bahaya Dosa Dan Hukumannya

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allâh Azza wa Jalla , bagi orang-orang yang yakin ?! [al-Maidah/5:50]

Adapun hukuman penjara, sungguh tidak pantas dijadikan sebagai ganti potong tangan yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla , karena beberapa hal :

Ia semakin membebani masyarakat, karena selama mereka di penjara, mereka harus dihidupi oleh Lembaga Pemasyarakatan yang tidak lain uangnya dari masyarakat. Semakin lama masa buinya, semakin banyak biaya yang dikeluarkan, padahal untuk orang yang telah terbukti melakukan kesalahan.

Banyak dari para pencuri tidak jera dengan tindak kriminalnya, bahkan sebaliknya. Mereka malah mendapatkan banyak pelajaran praktek kriminal dari teman-teman seprofessinya yang kebetulan berada dalam satu penjara. Sehingga ketika keluar, banyak dari mereka akan beraksi lagi dengan kriminal yang lebih besar dari sebelumnya.

Orang lain yang melihat mereka keluar dari penjara, tidak akan takut melakukan hal yang sama, karena sanksi yang terlalu ringan, apalagi di zaman sekarang ini, saat rasa malu telah banyak terkikis dari hati banyak orang, apalagi dari hati para pelaku kejahatan. WAllâh Azza wa Jalla ul musta’an.

Perlu digarisbawahi pula, bahwa hukum potong tangan ini, -begitu pula hukuman hudûd yang lainnya- memiliki banyak syarat, sehingga tidak setiap terjadi pencurian harus dipotong tangannya, tidak setiap terjadi perzinaan harus dirajam, tidak setiap terjadi pembunuhan harus dibunuh pelakunya, dan seterusnya.

2. Penegakan Hudud, tidak selaras dengan Hak Asasi Manusia untuk melangsungkan hidup

Jawaban:

Tuduhan diatas telah jauh hari terjawab oleh firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal. [al-Baqarah/2:179]

Dalam ayat ini, kita bisa memahami bahwa qishâsh tidaklah disyariatkan kecuali untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Tidak ada orang yang membantah ayat Allâh Azza wa Jalla ini, kecuali orang yang kurang panjang akalnya.

Sungguh tidak ada aturan yang lebih menghargai hidup melebihi penghargaan Islam. Tidakkah kita tahu, diyât[2] 100 unta bagi mereka yang terbunuh tanpa sengaja. Bahkan dalam pembunuhan terencana diyât dari orang yang terbunuh bisa tanpa batas, sesuai permintaan wali orang yang terbunuh !… Bahkan bisa haddul qatl (hukum mati) itu sendiri, memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bagaimana Islam sangat menghargai hidup seseorang, karena terkadang nyawa itu terlalu murah bila dihargai dengan harta betapapun banyaknya, sehingga nyawa yang seperti ini, harus ditebus dengan nyawa pula. Begitulah Islam menghargai nyawa orang yang tidak bersalah.

Dalam Syariat Islam hukuman mati, bukanlah diterapkan pada orang yang bebas dari kesalahan, sehingga bisa dikatakan bahwa hukuman mati tersebut, bertentangan dengan hak asasi manusia. Akan tetapi Islam menerapkan hukuman mati itu, pada orang yang telah melanggar hak asasi orang lain atau telah merampas hak hidup orang lain. Jika mereka konsekuen dengan landasan HAM, maka tidakkah mereka membela HAM-nya orang yang sudah terbunuh tersebut ?! Jika mereka ingin membela, bukanlah orang yang disalahi dan dibunuh atau keluarganya lebih berhak untuk dibela?!. Maha suci Allâh Azza wa Jalla dengan segala keputusan-Nya.

Islam adalah agama yang adil, Islam tidak menyamakan orang yang salah dengan orang yang tidak salah. Tidak menyamakan si pembunuh dengan yang lainnya. Memang orang yang bersih harus mendapatkan haknya untuk hidup, akan tetapi apakah orang yang telah membunuh orang lain dengan sengaja, berhak mendapatkan hak yang sama?! Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka, bahwa Kami akan menjadikan mereka sama seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan itu. [al-Jatsiyah/45:21]

Jika mereka menentang hukuman mati ini, harusnya mereka juga tidak menerapkan hukuman mati kepada siapa pun, tapi nyatanya mereka juga menerapkan hukuman mati pada orang-orang tertentu, yang menurut mereka pantas dibunuh. Bukankah dengan begitu, mereka juga melanggar HAM ?! Jawablah pertanyaan ini, maka jawabannya sama dengan jawaban mengapa Islam menerapkan hukuman mati pada sebagian orang.

3.Membunuh pezina muhshân[3] dengan batu, adalah penghinaan terhadap martabat kemanusiaan, bukankah ada cara yang lebih cepat dan lebih halus dari itu?!.

Baca Juga  Pembunuhan Mirip Disengaja

Jawaban.

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu ketika sedang berada di atas mimbar mengatakan:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَطُولَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ حَتَّى يَقُولَ قَائِلٌ: مَا أَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللَّهِ، فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، أَلَا وَإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ، إِذَا أُحْصِنَ الرَّجُلُ وَقَامَتِ الْبَيِّنَةُ، أَوْ كَانَ حَمْلٌ أَوِ اعْتِرَافٌ، وَقَدْ قَرَأْتُهَا الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ، رَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ.

Sungguh aku khawatir, seiring berjalannya waktu, ada orang yang mengatakan: aku tidak menemukan hukum rajam di dalam Kitabullah, sehingga mereka menjadi sesat karena telah meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban Allâh Azza wa Jalla . Camkanlah, bahwa sesungguhnya rajam itu benar-benar ada jika orang itu dalam keadaan muhshân dan telah terbukti (melakukannya), atau bila terjadi kehamilan, atau ada pengakuan. Aku dulu telah membaca ayat al-Qur’an itu, (yang artinya) “Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan jika keduanya berzina, maka rajamlah mereka berdua tanpa ampun”. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, dan kami juga pernah merajam setelahnya. [HR. Ibnu Majah: 2553, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam tindakan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu yang mengumumkan hukum rajam ketika beliau berada di atas mimbar, dan keadaan para sahabat yang tidak mengingkarinya, terdapat dalil yang menunjukkan adanya hukuman rajam” [Syarah Shahih Muslim 11/191]

Tujuan hukuman Rajam, bukanlah hanya untuk mematikan pelaku zina muhshân, tetapi juga untuk memberikan gambaran kepada orang lain, betapa perbuatan zina yang dilakukan si pelaku sangat keji dan buruk, sehingga tidak ada lagi yang tergoda untuk melakukan hal yang sama. Itulah sebabnya mengapa Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar hukuman tersebut disaksikan oleh banyak orang. Juga karena dorongan untuk melakukan zina biasanya sangat kuat, maka untuk mencegahnya juga membutuhkan hukuman yang keras pula.

Hukuman yang berat itu, disamping karena sangat buruk dan kejinya perbuatan itu, juga karena besarnya pengaruh buruk dari perbuatan itu. Lihatlah bagaimana perbuatan itu menyumbangkan banyak penyakit berbahaya, merusak kehormatan korbannya, melahirkan banyak anak yang tidak jelas, menurunkan martabat masyarakat yang dihuninya, dan masih banyak lagi bencana lainnya.

Lalu pantaskah orang yang demikian dibela ?! Manakah yang lebih pantas diperhatikan haknya, satu orang yang bersalah, ataukah masyarakat luas yang tidak melakukan kesalahan itu ?!

4.Hukum Hudûd sudah tidak relevan lagi dengan zaman modern ini, karena itu adalah hukuman yang dijalankan pada zaman klasik, yang hanya akan mengantarkan umat manusia kembali lagi ke abad pertengahan yang ke abad yang kelam

Jawaban:

Pernyataan bahwa hukum hudud sudah tidak relevan lagi di zaman ini, hanyalah tuduhan dan dugaan belaka. Karena faktanya, kejahatan yang terjadi di Negara yang menerapkan Syariat Hudûd dengan baik ternyata jauh lebih sedikit, bila dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi di Negara yang tidak menerapkan syariat hudûd. Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali orang yang sengaja menutup matanya dari fakta dan kenyataan.

Tidak semua yang lama, harus kita tinggalkan, bahkan betapa banyak hal-hal yang lama harus terus dipertahankan, karena manfaatnya begitu besar bagi masyarakat luas.

Apakah kita akan meninggalkan air, karena itu sesuatu yang lama?!

Apakah kita akan meninggalkan bahasa kita, karena itu sesuatu yang lama?!

Apakah kita tidak perlu lagi berdoa, karena itu adalah sesuatu yang lama?!

Tentu jawabannya adalah tidak, dan seribu tidak! Kita tidak akan meninggalkan sesuatu yang telah terbukti masih terus mendatangkan maslahat bagi kita, begitu pula syariat hudûd ini.

Memang abad pertengahan adalah zaman yang kelam bagi kaum kuffar, tapi tidak bagi kaum Muslimin. Justru saat itulah kaum Muslimin mencapai kejayaannya, saat itulah Islam menguasai dunia, karena masih dekatnya kaum Muslimin dengan ajaran Islam yang diantaranya adalah syariat hudûd. Inilah rahasia kekuatan kaum Muslimin, yaitu pada penerapan Syariat Islam dalam kehidupan mereka, kita tentunya masih ingat dengan perkatan Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu :

إنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإسْلامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ العِزَّ بِغَيْرِ مَا أعَزَّنا الله بِهِ أذَلَّنا الله

Kita dulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allâh Azza wa Jalla memuliakan kita dengan ajaran Islam, maka selama kita mencari kemuliaan dari selainnya, Allâh Azza wa Jalla akan menghinakan kita. [Lihat Silsilah Shahîhah, 1/118]

Dari sini kita juga tahu, mengapa setiap ada suatu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, selalu dihalang-halangi untuk menjadikan Syariat Islam sebagai dasar negaranya. Itu disebabkan karena musuh Islam takut bila Kaum Muslimin menjadi kuat kembali, padahal Syariat Islam adalah syariat yang rahmatan lil alamin, aturan menaungi seluruh umat, dan menjamin keadilan bagi seluruh umat manusia.

Semoga tulisan ringkas ini sedikit bisa menggugah kesadaran kita terhadap berbagai makar orang-orang yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali, sehingga kita semakin waspada. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

_______

Footnote

[1] Ini praduga yang belum tentu benar, karena betapa banyak orang yang cacat masih bisa berprestasi dan berkarya-red

[2] Denda yang harus dibayar oleh pelaku atau keluarga pelaku pembunuhan kepada ahli waris korban bila tidak dilaksanakan hukum qishash-red

[3]  Pezina yang masih berstatus sebagai suami atau istri orang lain atau pernah melaksanakan akad nikah yang sah-red

Referensi : https://almanhaj.or.id/3915-hudud-mewujudkan-maslahah-dan-menangkal-mafsadah.html