Al-Quran untuk mereka yang masih hidup, bukan yang sudah meninggal

Al Quran untuk mereka yang masih hidup, bukan yang sudah meninggal

Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Itulah Kitab (Alqur’an) yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”.

(Qur’an Surat Shad: 29.)

Para sahabat dahulu telah berlomba lomba dalam mengamalkan Al-Qur’an sehingga mereka menjadi orang-orang yang bahagia di dunia dan akherat.

Dan ketika kaum muslimin meninggalkan Al-Qur’an dan menjadikannya untuk para mayit, mereka membacanya ketika di kuburan dan pada hari hari takziah kematian, maka kehinaan dan perpecahan menimpa mereka, dan tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala (yang artinya):

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Rasul (Muhammad) mengatakan: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alqur’an ini diabaikan”.

(QS. Al furqan: 30).

Sungguh Allah menurunkan Al-Qur’an ini untuk mereka yang masih hidup, agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan mereka.

Jadi Alqur’an itu bukan untuk para mayit, sungguh amalan mereka telah terputus, makanya mereka tidak bisa membacanya dan mengamalkannya, dan pahala bacaannya tidak akan sampai kepada mereka kecuali bacaan Qur’an dari anaknya, karena itu termasuk amalan yang diusahakan ayahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Jika seseorang mati, semua amalnya akan terputus kecuali tiga: sedekah jariyah (wakaf), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”.

(HR. Muslim: 1631).

Ibnu Katsir -ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Manusia itu hanya memperoleh apa yang diusahakannya”.

(Surat Annajm: 39) menyebutkan:

“Maksudnya; sebagaimana dosa orang lain tidak dipikulkan kepadanya, begitu pula seseorang tidak bisa mendapatkan pahala kecuali dari apa yang dilakukannya untuk dirinya”.

Dari ayat mulia ini, Imam Syafi’i rahimahullah menyimpulkan bahwa:

“Bacaan Al-Qur’an tidak akan sampai pahalanya kepada para mayit, karena itu bukan amalan mereka dan juga bukan usaha mereka, oleh karenanya Rasulullah tidak mengajak umatnya untuk melakukannya, tidak mendorong mereka mengerjakannya, dan tidak pula mengarahkan mereka kepadanya baik dengan perintah yang tegas maupun dengan isyarat”.

Hal itu juga tidak pernah dinukil dari satu sahabat pun, jika itu merupakan amal yang baik tentunya mereka sudah mendahului kita, dan dalam bab bab ibadah seseorang dibatasi pada hal-hal yang diterangkan dalam nash-nash, dan tidak boleh diutak-atik dengan aneka macam qiyas dan pendapat.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

Terus Semangat Menuntut Ilmu

Terus Semangat Menuntut Ilmu

Di bulan Ramadhan, banyak majelis ilmu yang bisa kita hadiri.

Seiring berakhirnya bulan Ramadhan, bukan berarti berakhir pula kegiatan kita menuntut ilmu.

Ketahuilah saudaraku, menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban setiap muslim. Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.“

(HR. Ibnu Majah)

Kebutuhan kita akan ilmu sangatlah urgen, melebihi kebutuhan kita terhadap makan dan minum, dengan berilmu, seseorang akan mendapatkan banyak kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkan baginya ilmu agama.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

SANDAL ATAU SELIPAR JEPIT ⁉️

SANDAL JEPIT ⁉️

Ahlussunnah sudah jelas dalam berprinsip. Segala perintah atau intruksi dari penguasa selama perintah tersebut bukan kemaksiatan atau kemungkaran, tetap taat dan patuh kepada penguasa.

Termasuk dalam perkara perintah jangan pakai sandal JEPIT ketika naik motor, jangan naik motor lebih dari dua orang, harus pakai helm dan lain sebagainya. Perintah-perintah itu semua adalah perintah yang makruf, untuk meminalisir kecelakaan di jalan. 

Allah Ta’ala berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ …(النساء : 59).

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian… (An Nisa : 59).

Didalam tafsir al Muyassar berkenaan dengan ayat ini disebutkan :

يا أيها الذين صدَّقوا الله ورسوله وعملوا بشرعه, استجيبوا لأوامر الله تعالى ولا تعصوه, واستجيبوا للرسول صلى الله عليه وسلم فيما جاء به من الحق, وأطيعوا ولاة أمركم في غير معصية الله

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNYA serta melaksanakan syariatNYA, laksanakanlah perintah-perintah Allah dan janganlah kalian mendurhakaiNYa, dan penuhilah panggilan rasulNYA dengan mengikuti kebenaran yang dibawanya, dan taatilah para penguasa kalian dalam perkara selain maksiat kepada Allah. (Tafsir Al Muyassar).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أطاعني فقد أطاع الله ومن يعصني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني ومن يعص الأمير فقد عصاني

“Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang TAAT pada PEMIMPIN sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang DURHAKA pada PEMIMPIN sungguh ia telah durhaka padaku” (HR. Muslim no. 1835).  

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ ، وَلاَ طَاعَة.

Mendengar dan taat diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk MAKSIAT. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat. (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ.

Tidak ada ketaatan di dalam MAKSIAT, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang baik. (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوف

ِ

Tidak ada ketaatan dalam BERMAKSIAT kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya kepada hal yang baik. (HR. Muslim dari Ali radhiyallahu anhu).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam MAKSIAT kepada Allah Azza wa Jalla (HR. Ahmad dari Ali radhiyallahu anhu. Berkata Syekh Arnuth isnad shahih atas syarat Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, dalam hal aturan berlalu lintas hendaklah kaum muslimin mentaati pemimpin, penguasa atau pemerintah, karena itu perkara yang makruf, bukan perkara maksiat.

SIBUK MEMIKIRKAN AIB SENDIRI

SIBUK MEMIKIRKAN AIB SENDIRI 🍃

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/58417 

June 20, 2020

🌴🌴🌴

Imam Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Wajib bagi orang yang berakal untuk senantiasa menetapi (mencari) keselamatan dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus (mencari-cari aib orang lain), hendaklah ia senantiasa sibuk memperbaiki aibnya sendiri.. 

🌴🌴🌴

Karena sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan aibnya sendiri dan melupakan aib orang lain, maka hatinya akan menjadi tenteram dan tidak akan merasa lelah.. 

🌴��🌴

Maka setiap kali dia melihat aib yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa ringan tatkala melihat aib yang serupa ada pada saudaranya.. 

🌴🌴🌴

Sementara orang yang senantiasa sibuk dengan mencari aib orang lain dan melupakan aibnya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya..”

[ Roudhotul ‘Uqola – 131 ]

Waspada Musuh dalam Selimut

Waspada Musuh dalam Selimut 🔥‼️

Umat Islam yang berusaha taat dan istiqomah menjalankan agamanya tidak hanya mendapat gangguan dari luar tetapi juga dihalang-halangi dari dalam yaitu dari kalangan munafikin.

Disebut munafik karena mereka pandai menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran. Namun adakalanya mereka tunjukkan kebenciannya dengan terang-terangan terhadap Islam dan kaum muslimin.

Allah telah menyebutkan watak orang-orang munafik di dalam Al-Qur’an,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi ini!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.” (Al-Baqoroh: 11-12)

Al-‘Allamah Abdurrohman bin Nashir As-Si’di berkata, 

“Orang-orang munafik itu apabila dilarang berbuat kerusakan di muka bumi dari kekufuran dan kedurhakaan; dan di antara perbuatan itu adalah mengumbar kelemahan kaum mukminin kepada musuh-musuh mereka serta memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir; mereka para munafik itu berkilah, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan” sehingga mereka mengumpulkan antara membuat kerusakan di muka bumi dan menampakkan sikap tersebut sebagai perbaikan padahal itu pemutarbalikan fakta dan bentuk kejahatan terbesar.”

(Taisirul Karim hlm. 42)

Sepak terjang orang-orang munafik sejak dulu selalu memojokkan kaum muslimin dan berpihak kepada orang-orang kafir dan selalu menjadi penyokong mereka.

Orang-orang munafik selalu tampil dengan isu toleransi terhadap orang kafir seolah mereka kelompok yang paling toleran. Sedangkan kepada kaum muslimin mereka tunjukkan sikap “moderat” dan di saat yang sama umat Islam selalu dibenturkan dengan isu Wahabi, radikal, Khilafah, anti Pancasila dan anti kerukunan umat beragama.

Namun bagaimanapun hebatnya makar orang-orang munafik dan tipu daya mereka kelak Allah akan balas tipu muslihat mereka dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Allah akan menolong kaum muslimin dan mengangkat kewibawaan mereka selama kaum muslimin kembali kepada agamanya, memperbaiki hubungannya dengan Allah, mengikuti nasihat para ulama dalam memperbaiki aqidah dan istiqomah menjunjung tauhid dan sunnah.

HATI-HATI DENGAN CERITA DONGENG

HATI-HATI DENGAN CERITA DONGENG

#HATI_HATI!!

#DONGENG_yang_viral

Banyak tersebar video dibawah ini dan beberapa ikhwah bertanya tentang kisah ini karena dzahirnya menakjubkan, tetapi kisah ini ada beberapa catatan :

1. Dalam kisah ini tidak diceritakan siapa dai Maroko yang bermimpi tersebut, [Mubham dalam istilah ilmu hadits].

Seharusnya disebutkan namanya agar kita dapat mengoreksi dan mengetahui jujur tidaknya orang tersebut. 

Dalam jalur lain dikisahkan bahwa dai yang bermimpi tersebut berasal dari Kuwait, tetapi juga tidak disebutkan namanya.

Kisah tersebut dari jalur yang majhul [tidak diketahui rawi-rawinya].

2. Mimpi bukanlah dalil untuk menentukan suatu hukum, terlebih dalam memastikan seseorang dengan surga. 

Kecuali mimpinya dizaman Nabi shallallahu alaihi wasallam maka dapat disampaikan kepada Nabi dan menunggu taqrirnya (persetujuan beliau) seperti kisah mimpinya shahabat tentang lafadz adzan.

3. Kita tidak mengingkari jika ada yang bermimpi Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena beliau bersabda :

مَن رَآنِي فِي المَنامِ فَقَدْ رَآنِي؛ فَإنَّ الشَّيْطانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam tidur (bermimpi) sungguh ia melihatku, Sesungguhnya syaithan tidak bisa menyerupai bentukku”. (HR. Bukhari no. 6197 dan Muslim no. 2134).

dalam lafadz lain :

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُ بِي

“Sesungguhnya syaithan tidak bisa menyerupai aku”. (HR. Muslim no. 2266).

Tapi tidak semua yang mengaku bermimpi Nabi shallallahu alaihi wasallam dapat kita percaya, kecuali orang yang jujur dan dapat menyebutkan bentuk fisik Nabi seperti dalam banyak riwayat shahih.

4. Kisah yang tersebar ini banyak diingkari oleh masyayikh, bahkan mereka menghukumi sebagai kisah khurafat dan bathil. 

5. Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat berhati-hati dalam menerima kabar dan menyebarkannya, sampai benar jalur riwayatnya dan benar isinya tidak menyelisihi syariat.

6. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa tidak boleh memastikan seseorang dengan surga dan neraka kecuali berdasarkan dalil Al Quran dan Sunnah yang shahih.

7. Cara dakwah yang banyak dibumbui dengan kisah-kisah dongeng yang tidak diketahui kebenarannya adalah cara kaum harakiyyun zaman ini, dan ini telah dilakukan oleh pendahulu mereka dari para qushash (ahli dongeng). 

Para qushash telah dicela oleh ulama salaf, karena tidak berdasarkan riwayat yang shahih hanya dongeng-dongeng menarik saja. 

Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah mengatakan :

“Retorika dakwah dengan -banyak- membawa dongeng telah dikritik para ulama dari zaman dahulu. Para shahabat, tabi’in dan setelahnya memperingatkan -bahaya- tukang dongeng yang banyak menyandarkan ceramah dan wejangan mereka kepada kisah-kisah palsu dan dusta. 

Retorika dakwah para ulama adalah retorika yang benar, karena membawakan ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Nabi dan hukum yang bersumber dari para ulama terdahulu”. (Al Fatawa Al Jaliyyah anil Manahij Ad Da’wiyyah 2/148).

Syaikh Al ‘Allamah Shaleh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah ditanya : Apakah membawakan berbagai dongeng dalam dakwah termasuk manhaj salaf? ataukah mencukupkan kisah-kisah yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah saja?

Beliau hafidzahullah menjawab : “Na’am, hendaknya seseorang mencukupkan kisah-kisah yang terdapat dalam Al Quran dari kisah umat terdahulu dan kisah-kisah yang terdapat dalam Sunnah tentang umat terdahulu sebagai wejangan dan pelajaran, selain dari itu maka janganlah seseorang menyibukkan dirinya dengan berbagai kisah yang tidak terdapat dalam Al Quran dan Sunnah, juga jangan menyibukkan orang lain dengan kisah-kisah paslu”. (Al Ijaabat Al Muhimmah fil Masyakil Al Mulimmah, hal. 183).

8. Para ulama tidak melarang membawakan kisah dan dongeng dalam suatu kajian atau khutbah, dengan syarat kisah tersebut shahih sumbernya dan bukan menjadi inti utama materi dakwah sehingga melalaikan dalil-dalil syar’i yang dibutuhkan umat dalam ibadah mereka. 

Sebagaimana firman Allah :

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Qs. Al A’raf : 176).

Juga firmanNya :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”. (Qs. Yusuf : 111).

                                  —-  *  —-

WaAllahu A’lam.

وفقني الله وإياكم للعلم النافع والعمل الصالح،.

SIFAT LUPA MANUSIA ⁉️

SIFAT LUPA MANUSIA ⁉️

Salah satu sifat manusia itu adalah lupa. Oleh karena itu mesti sering-sering diingatkan. 

Menurut para pakar bahasa, manusia itu berasal dari kata إنسان, jamaknya الناس, yang diambil dari kata نسيان, yang artinya lupa. 

لا يسمي الإنسان بالإنسان إلا لنسيانه

Manusia tidaklah dinamakan dengan insan, kecuali karena (sifat) lupanya. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ… 

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) (QS. Thaha: 115)

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, 

إِنَّمَا سُمِّيَ الإنْسَانَ؛ لأنَّهُ عُهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ

“Sesungguhnya (manusia) dinamakan insan karena diambil janji kepadanya, lalu ia lupa.” (Tafsir ath-Thabari: 16/183). 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ 

Dan Adam dibuat lupa dan keturunannya juga dibuat lupa.” (HR. Tirmidzi: 3076) .

Berkata Imam Syafi’i rahimahullah,

وَمَا سُمِّيَ الإنْسَانُ إِلا لِنَسْيِهِ. وَ سُمِّيَ القلبُ لأنه يتقلَبُ

Tidak dinamakan insan melainkan karena (sifat) lupanya. Dan dinamakan qalbu (hati) karena ia berubah-ubah. (Diwan Imam Syafii). 

Untuk itu, hendaklah saling mengingatkan, karena kadang lupa. Supaya kembali ingat. Terutama lupa mengingat Allah, lupa larangan Allah dan lupa perintah-perintah Allah untuk memperbanyak amal shaleh. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

Yaitu janganlah kamu lupa dari mengingat Allah, yang akhirnya kamu akan lupa kepada amal saleh yang bermanfaat bagi diri kalian di hari kemudian, karena sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatannya. Maka disebutkanlah dalam firman berikutnya:

Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)

Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Allah, yang akan binasa di hari kiamat lagi merugi di hari mereka dikembalikan. (Tafsir Ibnu Katsir). 

Termasuk lupa kalau punya utang. Kalau ada utang saya, tolong diingatkan. Yang punya utang, semoga ingat utangnya. Jangan pura-pura lupa atau melupakan utang, karena perkaranya berat, sampai dituntut di akhirat kelak kalau sengaja tidak mau bayar utang.

HAKIKAT DUKA-CITA

HAKIKAT DUKA-CITA

Imam Asy-Syafi’i bersyair:

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ

ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada kebahagiaan yang abadi. Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, begitu pula kemakmuran.

إذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ

 فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

Jika sifat qana’ah selalu berada pada dirimu. Maka antara engkau dan raja dunia, sama saja.

وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ الْمَنَايَا

 فلا أرضٌ تقيهِ ولا سماءُ

Siapapun yang dihampiri oleh janji kematian. Maka tak ada bumi dan tak ada langit yang bisa melindunginya.

وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً وَلَكِنْ

 إذَا نَزَلَ الْقَضَا ضَاقَ الْفَضَاءُ

Bumi Allah itu sangat luas, tapi saat takdir (kematian) datang, maka tempat manapun pasti terasa sempit.

–Dîwân al-Imâm asy-Syâfi’i

5 CIRI RENDAH HATI

Rendah hati adalah sikap hati yg merupakan hasil dari pilihan dan keputusan manusia sendiri. Oleh karena untuk menjadi orang rendah hati diperlukan PROSES BELAJAR.

Apa saja ciri ciri orang yg rendah hati ?

1. Tidak mudah tersinggung.

Orang yg mudah tersinggung biasanya disebabkan karena adanya kesombongan “terselubung.”

Orang yg banyak mengalami kegagalan dalam hidupnya, bukan hanya rentan terhadap perasaan negatif, seperti rasa rendah diri, tetapi juga terhadap kesombongan.

Orang seperti ini akan menjadi sombong sebagai REAKSI emosi negatif untuk menunjukkan bahwa ia jangan dianggap rendah sebagai orang gagal !

2. Mudah meminta maaf dan mengampuni.

Orang yg rendah hati mudah menyadari kesalahannya dan ia mudah untuk meminta maaf.

Oleh karena itu ia juga menjadi mudah untuk mengampuni orang yg bersalah kepadanya.

3. Tidak suka meremehkan orang lain.

Ia mudah menghargai perbuatan dan karya orang lain. Orang yg rendah hati selalu menyadari bahwa ia memiliki keterbatasan, dan orang lain memiliki kelebihan. Ia bukan orang yg suka meremehkan orang lain.

4. Tidak suka membanggakan dirinya.

Orang yg rendah hati sadar bahwa kemampuan dan keberhasilannya bukan semata2 karena dirinya sendiri. Ia tahu adanya keterlibatan orang lain yg menyebabkan ia mampu dan berhasil.

5. Tidak mudah menjadi kecewa. Kerendahan hati selalu membuat seseorang mudah untuk bersyukur dan melihat hidup ini adalah anugerah dan pemberian, yg merupakan sekolah kehidupan yg perlu dijalani dengan sukacita.

Orang yg rendah hati tidak mudah menjadi kecewa dengan apa yg terjadi pada dirinya, karena ia sadar bahwa ia perlu banyak belajar dari kehidupan, baik melalui peristiwa dan persoalan hidup, maupun melalui orang2 di sekitarnya.

Semoga kita bisa BELAJAR KERENDAHAN HATI dan TIDAK SOMBONG dalam hidup

10 CIRI ORANG DURHAKA – IMAM ALI.

SEPULUH CIRI DAN SIFAT ORANG DURHAKA MENURUT – IMAM ALI AS.

1). Mereka yang berbicara tentang Dunia laksana orang yang zuhud,Namun berbuat seperti orang yg sangat mencintai Dunia.

2). Mereka yang mencintai orang orang saleh,Namun tidak melakukan Amal yang mereka kerjakan.

3). Mereka yang takut mati karena banyaknya Dosa, Namun tidak mau meninggalkan Dosa perbuatan yang boleh mendatangkan Dosa dalam Hidupnya.

4) .Mereka yang sa’at sakitnya menyesali kelalainya dalam beramal, Namun setelah sembuh dia kembali merasa Aman lagi dan ia tertipu lagi.

5). Mereka yang menunda nunda Amal selama sehat dan suka merasa takjub dengan dirinya,namun sa’at mendapat coba’an dia putus Asa.

6). Mereka yang meminta ditambah kenikmatan Namun tidak bersyukur.

7). Mereka yang sa’at syahwat menghampirinya,dia melakukanya dengan Harapan boleh bertaubat,padahal mereka tidak tau Apa yang Akan terjadi (setelah itu).

8,) Mereka yang menganggap banyak Dosa orang lain, namun ia menganggap sedikit dosanya yang lebih banyak.

9). Mereka yang meyukai dan merasa nyaman tidur dengan orang orang kaya daripada Ruku’ dengan orang orang lemah (miskin).

10). Mereka yang takut kepada mahkluk bukan karena ALLAH TA’ALA,dan tidak takut kepada ALLAH TA’ALA dalam Urusan mahkluknya.

[Abu muhammad Al-Hassani bin ‘Ali bin Al-Hussain bin syu’bah Al-Harrani.Tuhaf Al-‘Uqul ‘An Ali Al-Rasul.Halaman 110-111].

Create your website with WordPress.com
Get started