10 PERKARA MELAPANGKAN HATI KETIKA DITIMPA MUSIBAH

HAL YANG HARUS KITA INGAT AGAR HATI LAPANG SAAT MUSIBAH

•••┈••••○❁●🌻🌻●❁○••••┈•••

      ••✽•✽•🌻•✽•✽••

📌 Beberapa hal ini yang harus kita ingat agar hati terasa lapang saat mendapat musibah :

1). Semua terjadi atas izin Allah.

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Tagabun: 11)

2). Kamu bukan satu-satunya yang uji.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

3). Musibah adalah penghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).

4). Allah tidak membebani melebihi kemampuan kita

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286

5). Bersama kesulitan ada kemudahan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“ (Qs. Al-Insyirah: 5-6)

6). Musibah adalah tanda cinta Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

7). Sarana meraih banyak pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no.918)

8). Mendapat kedudukan yang tinggi disurga.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga -pent) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga -pent) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2686 dengan sanad yang shahih)

9). Selalu ada hikmah terbaik dibalik musibah.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Itulah mereka yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya).’ . Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)

10). Lihat kebawah, banyak yang jauh lebih susah dari kita.

Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Semoga Allah ﷻ memberikan kita kesabaran, kekuatan dan pahala yang besar disetiap ujian atau musibah yg kita alami. Aamiin

KEBAL DAN TENAGA DALAM ⁉️

KEBAL DAN TENAGA DALAM ⁉️

Ilmu kebal dan tenaga dalam, disebagian tempat masih dipelajari. Bahkan masih ada pesantren yang mengajarkan ilmu kebal dan tenaga dalam. Seandainya kedua ilmu itu memang ada dan dapat dipelajari serta bermanfaat, tentulah negeri-negeri islam tidak mudah ditaklukkan dan dijajah negeri kafir. Tetapi buktinya banyak negeri islam yang dijajah berabad-abad lamanya. 

Kalau memang kebal, tentunya senjata dan peluru tidak akan menembus badannya. Seandainya punya tenaga dalam, peluru, mortil dan bom akan didorong balik kembali kepada musuh, ternyata tidak, justru musuh menguasai dan menaklukkan dengan senjata-senjata mereka. 

Cobalah tengok Rasulullah, para sahabatnya dan para salaf, mereka perang pakai baju besi dan penutup kepala dari besi pula, tidak telanjang dada. Walau demikian (memakai baju dan helm dari besi), mereka tetap terluka dan terbunuh. Perhatikan riwayat-riwayat dibawah ini. 

Di dalam kitab Asy Syamil Muhammadiyyah yang ditulis oleh At Tirmidzi, 

ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥﻋﻠﻴﻪ ﻳﻮﻡ ﺃﺣﺪ ﺩﺭﻋﺎﻥ، ﻗﺪ ﻇﺎﻫﺮ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ».

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, pada waktu Yaum Uhud (perang Uhud) memakai dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara rangkap. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Shufyan bin`Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, yang bersumber dari Saib bin Yazid). 

Berkata Sahl radhiyallahu anhu, 

” لَمَّا كُسِرَتْ بَيْضَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِهِ، وَأُدْمِيَ وَجْهُهُ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ، وَكَانَ عَلِيٌّ يَخْتَلِفُ بِالْمَاءِ فِي المِجَنِّ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَغْسِلُهُ، فَلَمَّا رَأَتِ الدَّمَ يَزِيدُ عَلَى المَاءِ كَثْرَةً، عَمَدَتْ إِلَى حَصِيرٍ فَأَحْرَقَتْهَا وَأَلْصَقَتْهَا عَلَى جُرْحِهِ، فَرَقَأَ الدَّمُ

“Tatkala pecah pelindung kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajah beliau berdarah dan pecah gigi seri beliau Ali bolak-balik mengambil air dengan menggunakan perisai (sebagai wadah air) dan Fatimah mencuci darah yang ada di wajah beliau. Tatkala Fatimah melihat darah semakin banyak lebih daripada airnya maka Fatimahpun mengambil hasir (yaitu tikar yang terbuat dari daun) lalu diapun merobeknya dan menempelkan robekan tersebut pada luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berhentilah aliran darah” (HR. Bukhari). 

Sahabat-sahabat Nabi yang mulia, termasuk Hamzah radhiyallahu anhu, paman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, terbunuh pada perang Uhud diakibatkan tombak yang menembus tubuhnya. 

Berkata Qatadah rahimahullah, 

 مَا نَعْلَمُ حَيًّا مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ أَكْثَرَ شَهِيدًا أَعَزَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ قَتَادَةُ وَحَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّهُ قُتِلَ مِنْهُمْ يَوْمَ أُحُدٍ سَبْعُونَ وَيَوْمَ بِئْرِ مَعُونَةَ سَبْعُونَ وَيَوْمَ الْيَمَامَةِ سَبْعُونَ قَالَ وَكَانَ بِئْرُ مَعُونَةَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَوْمُ الْيَمَامَةِ عَلَى عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ يَوْمَ مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ

“Aku belum pernah mendapati diperkampungan orang Arab yang penduduknya lebih banyak mati syahid dan lebih mulia (kedudukannya) pada hari Kiamat daripada orang-orang Anshar.” Qatadah berkata; telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik bahwa di antara mereka yang gugur pada perang Uhud sejumlah tujuh puluh orang, pada peristiwa Bi’rul Ma’unah sejumlah tujuh puluh orang, dan pada perang Yamamah berjumlah tujuh puluh orang.” Anas melanjutkan, “Peristiwa Bi’rul Ma’unah terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, sementara perang Yamamah terjadi pada masa Abu Bakr, yaitu peristiwa (pembangkangan) Musailamah Al Kaddzab.” (HR. Bukhari). 

Demikian pula sahabat yang mulia, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu anhum, mereka pun tertumpah darahnya karena ditikam. 

Berkata Miswar Bin Makhramah rahimahullah mengabarkan bahwasanya, 

دخل على عمر بن الخطاب من الليلة التي طعن فيها فأيقظ عمر لصلاة الصبح فقال عمر نعم ولا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة فصلى عمر وجرحه يثعب دما 

Dia masuk menemui ‘Umar pada malam dia ditikam, aku membangunkannya untuk salat Subuh berjamaah. ‘Umar kemudian berkata,

“Iya, tidak ada bagian dari Islam bagi orang-orang yang meninggalkan salat.”

Lalu Umar shalat dalam kondisi darah yang masih terus mengalir.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’).

Oleh karena itu bersumber darimana ilmu kebal dan tenaga dalam, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat dan para salaf, sedangkan mereka tidak mengajarkannya dan tidak memilikinya? Yang pasti, kedua ilmu tersebut bukan bersumber dari islam.

Seandainya ada cerita tentang seorang yang sholeh ketika ditikam tidak tembus tubuhnya, tentulah itu bukan ilmu yang dipelajari, namun kekuatan itu datang dengan sendirinya karena pertolongan Allah Ta’ala, tidak dapat dipelajari dan diperoleh oleh oran.

Tauhid dan Aqidah Yang Benar, Melahirkan Adab dan Benar

Tauhid dan Aqidah Yang Benar, Melahirkan Adab dan Benar

◉◉═══ ༻❀○❁○❀༺═══ ◉◉

[Rubrik: Sekedar Sharing]

Apabula kita merasa sudah lama ngaji

Sudah merasa jadi ikhwan senior

Sudah selesai belajar beberapa kitab tauhid dan aqidah

Merasa sebagai pembawa bendera dakwah tauhid

Sudah sekian lama berdakwah tauhid

Ini semua Alhamdulillah

Akan tetapi apabila adab semakin buruk, akhlak semakin kasar, lisan semakin pedas dan hati semakin keras

Ketauhilah bahwa ada yang salah dengan tauhid dan keimanan kita

Karena tauhid dan keimanan berbanding lurus dengan akhlak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya (HR At-Thirmidzi no 1162)

Mukmin yg paling baik iman dan tauhidnya adalah yang paling baik akhlaknya

lihat, iman disejajarkan dengan akhlak

Iman itu apa yang ada di dalam dada, sedangkan akhlak adalah output atau keluarannya

Jika teko isinya kopi, pasti yang keluar kopi, tidak mungkin teh

Apabila akhlak rusak itulah cerminan tauhid dan imannya

Syarah Rukun Iman

Syarah Rukun Iman – Mukadimah 1

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Allah mengabarkan bahwa surga yang merupakan dambaan tiap insan itu hanyalah diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

Berlomba-lombalah kamu terhadap ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. (QS Al-Hadid: 21)

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. (QS Al-Baqarah : 25)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar (QS Al-Buruuj : 11)

Dengan demikian, merupakan hal krusial bagi tiap orang untuk menguatkan dan menambah keimanannya. Untuk itu, masing-masing individu harus mengenal pokok-pokok keimanan yang disebut dengan Rukun Iman. Semakin kuat landasan keimanan berimplikasi dan berbanding lurus terhadap semakin kuatnya cabang-cabang keimanan yang ada pada diri seseorang.

A. مَرَاتِبُ الدِّيْن (Tingkatan Agama)

Agama Islam memiliki tingkatan-tingkatan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jibril ‘alaihis salam yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu. Beliau bertutur,

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ»، قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»

“Suatu ketika, kami (para Sahabat) duduk di dekat Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki yang sangat putih bajunya dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan. Tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’

Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Islam adalah, engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan salat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah apabila engkau mampu.’ 

Lelaki itu berkata, ‘Engkau benar.’ 

Kami heran, ia yang bertanya namun ia pula yang membenarkan. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Iman.’ 

Nabi menjawab, ‘Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.’ 

Ia berkata, ‘Engkau benar.’ Lalu ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’ 

Nabi ﷺ menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ 

Lelaki itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang terjadinya Kiamat?’ 

Nabi menjawab, ‘Yang ditanya tidak lebih tahu dibandingkan yang bertanya.’ 

Maka ia berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ 

Nabi menjawab, ‘Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian dan penggembala kambing telah saling berlomba dalam meninggikan bangunan.’ 

Kemudian lelaki tersebut pergi, dan aku pun termenung. Lalu Nabi bertanya kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?’ 

Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ 

Beliau bersabda, ‘Dia adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.’” (HR Muslim dalam Shahih-nya no. 8)

Hadis ini menjelaskan tentang maraatib ad-diin (tingkatan-tingkatan agama) yaitu Islam, lalu Iman, kemudian Ihsan. Hal ini karena di akhir kisah hadis di atas Nabi berkata kepada para sahabat, “Dia adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.”

Berdasarkan hadis ini maka para ulama membagi مَرَاتِبُ الدِّيْن (Tingkatan Agama) menjadi:

Pertama: Islam

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Islam maka beliau menjawab dengan Rukun-rukun Islam, yaitu:

● Syahadatain

● Menegakkan salat

● Membayar zakat

● Puasa Ramadhan

● Haji bagi yang mampu

Kedua: Iman

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Iman maka beliau menjawab dengan rukun-rukun Iman, yaitu:

● Beriman kepada Allah (الإِيْمَانُ بِاللهِ),

● Beriman kepada malaikat (الإِيْمَانُ بِالْمَلاَئِكَةِ)

● Beriman kepada kitab-kitab suci (الإِيْمَانُ بِالْكُتُبِ)

● Beriman kepada para rasul (الإِيْمَانُ بِالرُّسُلِ)

● Beriman kepada hari akhir (الِإيْمَانُ بِالْيَوْمِ الآخِرِ)

● Beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk (الإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ).

Keenam perkara inilah yang oleh para ulama dinamakan dengan أَرْكَانُ الْإِيْمَانِ (Rukun-rukun Iman) yang insya Allah akan kita bahas secara detail

Ketiga: Ihsan

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Ihsan maka beliau menjawab bahwa Ihsan ada 2 tingkatan, yaitu:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ “Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”.

B. Korelasi antara Islam, Iman dan Ihsan (العَلاَقَةُ بَيْنَ الإِسْلاَمِ وَالإِيْمَانِ وَالإِحْسَانِ)

Dari hadis Jibril ‘alaihis salam di atas maka tampak bahwa Rukun Islam adalah amal-amal zahir. Adapun rukun-rukun iman semuanya adalah amal batin. Apa kaitan antara Islam, Iman, dan Ihsan? Para ulama menjelaskan bahwa Islam adalah derajat pertama, iman adalah derajat kedua, dan Ihsan adalah derajat ketiga. Artinya orang yang mencapai tingkatan Islam belum tentu mencapai tingkatan beriman. Jadi, di antara orang-orang Islam ada yang telah mencapai derajat beriman dan ada yang belum mencapainya. Lalu di antara orang yang beriman ada yang mencapai derajat Ihsan dan ada pula yang belum. Dengan demikian, yang mencapai derajat Ihsan jumlahnya lebih sedikit. Seseorang tidak mungkin mencapai derajat Iman kecuali setelah dia masuk Islam, dan seseorang tidak mungkin bisa mencapai derajat Ihsan kecuali dia telah mencapai derajat Iman.

Oleh karena itu, Allah menjelaskan dalam al-Quran bahwa Iman lebih tinggi derajatnya dibandingkan Islam jika keduanya disebutkan dalam satu konteks.

SHALAWAT BID’AH KARANGAN SUFI “YA SAYYIDI YA RASULULLAH” ADALAH SYIRIK AKBAR ‼️

SHALAWAT BID’AH KARANGAN SUFI “YA SAYYIDI YA RASULULLAH” ADALAH SYIRIK AKBAR ‼️

.

Salah satu Shalawat Bid’ah karangan manusia “Yaa Sayyidi Ya Rasulullah” ini mengandung Syirik Akbar yang dapat membatalkan keislaman seseorang dan mengeluarkan seseorang dari Islam tanpa sadar, pasalnya, di dalamnya terdapat Isti’anah, yakni berdoa memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah Azza Wa Jalla di dalam redaksi,

.

إِنَّ الْمُسِيْئِيْنَ قَدْ جَاؤُكْ * لِلذَّنْبِ يَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهْ

“Yaa Rasulullah, sungguh orang yang berdosa ini telah datang kepadamu, Dengan membawa tumpukan dosa-dosa, dan kini berharap engkau memintakan kami ampunan Allah.”

.

Ini berdoa memohon dan meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah wafat agar beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam memohon ampunan kepada Allah Azza Wa Jalla terhadap orang yang membaca Shalawat Bid’ah tersebut.

.

Ini merupakan Syirik Akbar, yang Isti’anah, yakni memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah Azza Wa Jalla, yaitu kepada mayyit.

.

Doa, baik itu Istighatsah, Isti’adzah ataupun Isti’anah adalah Ibadah

.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca : “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir [40] : 60.”

.

– HR. Abu Dawud no. 1264 | no. 1479, Tirmidzi no. 2895, 3170, 3294 | no. 2969, 3274, 3372, Ibnu Majah no. 3818 | no. 3828 dan Ahmad no. 17629, 17660, 17665, 17705, 17709 

.

Dan ketika dikatakan Ibadah, maka harus dimurnikan, ditujukan, diperuntukan dan diikhlaskan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya serta tandingan bagi-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ  

.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

.

– QS. Al Fatihah [1] : 5

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ  

.

“Hanya kepada-Nya kamu minta tolong. Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).

.

– QS. Al An’am [6] : 41

.

Dan barangsiapa yang berdoa meminta dan memohon kepada selain Allah Azza Wa Jalla, maka ia telah melakukan Syirik Akbar, batal keislamannya dan wajib bertaubat serta melakukan Syahadah lagi. Jika tidak bertaubat dan wafat dalam keadaan Syirik, maka ia kekal di Neraka, dan tidak akan masuk Surga meski sejengkal.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman,

.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا  

.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”

.

– QS. An Nisa [4] : 48

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا  

.

“Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.”

.

– QS. An Nisa [4] : 116

.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda beberapa kalimat yang aku tambahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru (berdoa kepada) selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk Neraka.” Sedangkan aku berkata : “Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk Surga”

.

– HR. Bukhari no. 4137 | Fathul Bari no. 4497

.

Memang benar para Ahli Ilmu mengatakan bahwasannya Bid’ah adalah sarana-sarana menuju kepada kekafiran.

.

Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah berkata,

.

“Oleh karena itu, Ahli Ilmu berkata, “Bid’ah itu sarana menuju kekafiran.”

.

– Mauqif Ahlu Sunnah Wal Jama’ah min Ahlu Ahwa wa Bida, II/126-128.

SYIRIK, Kezaliman terbesar

SYIRIK, Kezaliman terbesar ❌‼️

Kezaliman terbesar bukanlah korupsi, bukan harga sembako mahal, bukan pendidikan mahal, bukan pelanggaran HAM, bukan kriminalisasi orang tak bersalah, bukan semua itu.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al An’am: 82).

Ketika turun ayat ini, para sahabat bersedih, karena mereka semua merasa pernah berbuat zalim kepada dirinya sendiri. 

Disebutkan dalam hadits:

قُلْنَا: يا رَسولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لا يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قالَ: ليسَ كما تَقُولونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إيمَانَهُمْ بظُلْمٍ} [الأنعام: 82] بشِرْكٍ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إلى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ يا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ باللَّهِ إنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim pada dirinya sendiri? Maka Nabi menjelaskan: makna ayat [tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman] tidak sebagaimana yang kalian pahami, namun maksudnya kesyirikan. Bukankah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: “sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman terbesar?” (Muttafaqun ‘alaih).

Yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah surat Luqman ayat 13.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Luqman: 13).

Dalam berbagai nash (dalil tegas) disebutkan dosa kesyirikan adalah dosa dan kezaliman yang terbesar.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)

Meskipun mereka (orang kafir) adalah orang yang baik akhlaknya dan bagus muamalahnya, akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkan mereka adalah seburuk-buruk makhluk.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Walau mereka seburuk-buruk makhluk, tentu kita tidak boleh menzalimi mereka, tetap bergaul dan bermuamalah yang baik selama mereka tidak mengganggu kita dan memerangi Islam.

Minta pertolongan kepada mayat yang tak mampu menjaga kuburnya ⁉️

Minta pertolongan kepada mayat yang tak mampu menjaga kuburnya ⁉️

Hal yang paling menggelikan adalah orang meminta pertolongan ke mayyit di dalam kubur yang diyakini dapat mendatangkan pertolongan, namun sayangnya mayyit itu tidak bisa menjaga kuburannya sendiri.

.

Kenapa ?

.

Coba tengok dan lihat, setiap kotak amal yang terdapat di setiap kuburan keramat pasti digembok atau dikunci semuanya. Seandainya mayyat itu dapat mendatangkan pertolongan tentu kotak amalnya tidak digembok karena pasti dijaga oleh si mayyat yang katanya dapat mendatangkan pertolongan. Akal sehat tolong dijaga. Cobalah buka kotak amal tersebut, dapatkah mayyit mendatangkan pertolongan kepada areal kuburannya sendiri ?.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

.

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَا سْتَمِعُوْا لَهٗ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَا بًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗ وَاِ نْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَا بُ شَيْـئًـا لَّا يَسْتَـنْـقِذُوْهُ مِنْهُ ۗ ضَعُفَ الطَّا لِبُ وَا لْمَطْلُوْبُ

.

“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.”

.

– QS. Al-Hajj [22] : 73

.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (QS. Yuunus: 106).

Imam Ibnu Katsir Asy Syafii  ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/ sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maaidah: 35).

Beliau berkata, “Wasiilah adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/73).

Tawasul Terlarang

Tawasul yang terlarang adalah tawasul yang dilakukan oleh kaum musyrikin, sebagaimana Allah sebutkan dalam Al Quran “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.” (QS. Az Zumar:3). 

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah” (QS. Yunus:18).

Istighatsah di ambil dari kata Al Ghauts – الغوث, yang artinya pertolongan.

Secara istilah ia bermakna:

طلب الغوث والنصر

Meminta pertolongan dan bantuan (Tafsir Al Qurthubi, 5/278)

Istighatsah adalah meminta pertolongan ketika dalam keadaan susah dan sempit. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat perang Badar. 

Dimana Allah Ta’ala berfirman:

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu beristighatsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal, Ayat 9).

Yang mampu mengabulkan do’a ketika seseorang dalam kesulitan (baca: istighosah) hanyalah Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62)

ALLAH TUTUPI  AIB

ALLAH TUTUPI  AIB 🍃🌻

Setiap kita memiliki aib, seandainya Allah tidak menutupi (aib-aib kita, sungguh akan malu diri-diri kita ini).

Kita ini dianggap baik oleh orang lain, bukan karena kebaikan-kebaikan kita, tetapi karena Allah menutupi aib-aib kita.

Ketika seseorang memujinya, dia senang dan bergembira. Hatinya berbunga-bunga. Jiwanya melambung ke angkasa. Bahkan kalau dia memberi sesuatu, akan ditambah pemberiannya, kepada orang yang memujinya, karena nuraninya senang dengan pujian.

Berbeda dengan seseorang yang merasa dirinya tidak layak dipuji dan tidak layak disanjung, karena dirinya merasa banyak kekurangan dan aibnya dan dirinya penuh dengan kesalahan dan dosa.

Seseorang memuji Imam Ahmad rahimahullah, lantas Imam Ahmad rahimahullah berkata :

ﺃﺷﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ،ﻭﺍﻟﻠﻪ ، ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ . ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Aku persaksikan kepada Allah. Sungguh aku murka atas ucapanmu ini. Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahan yang ada pada diriku, pastilah engkau akan menaburi kepalaku dengan pasir.”

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Andai saja aku tidak terkenal seperti ini. Andai aku berada di satu lembah di lembah-lembah kota Mekkah, tak ada seorangpun mengenaliku.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181)

Seorang salaf, murid sekaligus sahabat Imam Ahmad rahimahullah, dia bercerita, Imam Ahmad rahimahullah tidak pernah membanggakan diri, apalagi memuji kelebihan dan kebaikan dirinya.

Berkata Yahya bin Ma’in rahimahullah :

ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻣﺎ ﺍﻓﺘﺨﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :

ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ

Aku tidak pernah melihat seorang seperti Ahmad bin Hambal. Kami bersahabat dengannya 50 tahun, namun tak pernah sekalipun ia membanggakan suatu kebaikan atau kemaslahatan di hadapan kami. Bahkan beliau rahimahullah berkata:  “Kami adalah kaum miskin.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

Suatu ketika, Imam Ahmad rahimahullah pergi ke pasar, orang-orang pun tidak mengenalnya, dia pikul sendiri kayu bakarnya, ketika ada seseorang mengenalnya, lantas  semua orang  di pasar tersebut berdiri untuk membantu memikulkan kayu bakar yang dipikul Imam Ahmad rahimahullah, namun Imam Ahmad rahimahullah menolaknya.

Berkata Para hafidz rahimahumullah :

ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓﺎﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ ، ﻓﻬﺯ ﻳﺪﻩ ،ﻭﺍﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ ،ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ : نحن ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ

Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke sebuah pasar di kota Baghdad. Di sana beliau membeli seikat kayu bakar, kemudian memikulnya di atas bahu beliau. Tatkala orang-orang mengetahui beliau, para pedagang pun meninggalkan barang dagangan mereka, para pemilik warung meninggalkan warung-warung mereka dan orang-orang lewat turut berhenti di jalan-jalan mereka. Mereka pun mengucapkan salam kepada beliau dan berkata:  “Kami akan membawakan kayu bakar ini untukmu.”

Beliau pun menolak dengan lambaian tangan, wajahnya memerah dan matanya tiba-tiba berlinang air mata. Beliau pun berkata:

“Kami adalah kaum faqir. Andai saja Allah tidak menutupi, niscaya Allah akan menyingkap (aib) kami.”

(Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

‘Abdullah Al Muzani mengatakan,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.

(Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310)

Bagaimana dengan diri-diri kita yang penuh dengan aib. Penuh dengan noda-noda dosa dan berlumuran kesalahan?

Sebagian kita masih suka membanggakan dan menyombongkan diri, masih suka disanjung dan dipuji, masih suka dan merasa terhormat jika barangnya dipikulkan orang lain. Malu rasanya diri ini, yang telah mengklaim mengikuti salaf, namun masih jauh dari amalan salaf.

Keutamaan Menahan Amarah

Keutamaan Meredam Amarah

~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masuk pada hadīts ke-25 tentang “Keutamaan Meredam Amarah”.

Al Hafizh Ibnu Hajar membawakan hadīts dari ‘Annas bin Mālik. Shahābat ‘Annas bin Mālik berkata:

… مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَنْهُ عَذَابَهُ

”Barangsiapa menahan amarahnya maka Allāh akan menahan adzab-Nya (yaitu) Allāh akan mencegah adzab-Nya.”

(Hadīts riwayat At Thabrani dalam kitābnya Al Mu’jamu Al Ausath)

==> Menahan adzab-Nya (yaitu) Allāh akan mencegah dan adzab-Nya tidak mengenai orang ini, sebagai balasan kalau dia meredam amarahnya.

Kata Ibnu Hajar rahimahullāh, hadīts ini memiliki sahid (penguat yang datang dari shahābat yang lain).

Berbeda dengan muta’bi’, kalau ada mutāba’ah berarti datang lewat jalan yang lain tetapi shahābatnya sama.

Dan ada penguat dari hadīts Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya.

Hadīts ini menjelaskan tentang keutamaan meredam amarah, memiliki keutamaan khusus.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengkhususkan penyebutannya di dalam Al Qur’ān, yaitu antara ciri-ciri penghuni surga adalah:

…… وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

”Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

(QS Āli Imrān: 134)

Sebagaimana disebutkan oleh para ahli bahasa: كظم الغيظ, yaitu mengikat (menutup) tempat air (al kirbah) tatkala air sudah penuh.

Al kirbah adalah tempat air zaman dahulu yang terbuat dari kulit.

الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

Maksudnya adalah orang yang memendam amarah tatkala amarahnya sudah memuncak.

Ini hebat, bukan diawal kemarahan tetapi tatkala penyebab amarahnya sudah luar biasa, amarahnya sudah berada dipuncaknya, kemudian dia tahan maka ini orang yang hebat.

Dan telah lalu pembahasan tentang orang-orang yang meredam amarah dan pahalanya sangat banyak (kita tidak akan mengulang lagi).

Di dalam hadīts ini dikatakan barangsiapa meredam amarahnya maka Allāh akan menahan adzab-Nya.

Tetapi hadīts ini secara sanad merupakan hadīts yang dhaif karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Khālid Ibnu Burdin.

Perawi ini adalah perawi yang lemah, Imām Bukhāri tatkala menyebutkan biografi Khālid Ibnu Burdin dalam At tarikh Al Kabir beliau berkata, “Dia tidak bisa diikuti,” artinya tidak bisa dikuatkan (lemah).

Adz Dzahabi juga mengomentari Khālid Ibnu Burd dengan mengatakan bahwa dia perawi yang majhul sehingga hadīts ini adalah hadīts yang lemah.

Demikian juga syahid yang didatangkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullāh, sanadnya lemah sehingga kita tidak bisa menjadikan dua hadīts ini sebagai dalīl.

Namun telah kita ketahui bahwasanya meredam amarah akan mendatangkan pahala yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantaranya orang yang meredam amarah adalah termasuk dari ciri-ciri penghuni surga, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS Āli Imrān: 133)

Diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa tersebut kata Allāh:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

”(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS Āli Imrān: 134)

Dan keutamaan menahan amarah sangat baik.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita orang-orang yang mudah untuk meredam amarah, Aaamiin

Alhamdulillah. Selesai 111 pembahasan kitabul jami bulughul maram tentang adab, silaturahim, zuhud – wara’ dan akhlak buruk.

TINGKAT HAKIKAT MAKRIFAT, SUDAH TIDAK LAGI MELAKSANAKAN SYARIAT

TINGKAT HAKIKAT MAKRIFAT, SUDAH TIDAK LAGI MELAKSANAKAN SYARIAT.

Sebagian shufi ekstrim yang katanya sudah tingkat hakikat makrifat, sudah tidak lagi melaksanakan syariat, misalkan sudah tidak shalat lagi. Mereka berdalih dengan sebuah ayat dalam alquran yang mereka pahami melalui pengajaran guru-gurunya. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14). 

Mereka yang menyelisihi syariat Islam dalam menafsirkan ayat ini menyatakan, “Shalat itu kan untuk mengingat Allah, kalau sudah ingat Allah, buat apalagi shalat, Sing Penting Eling Marang Gusti Allah.” 

Disinilah pentingnya belajar manhaj salaf supaya tidak sesat dan menyimpang. Yakni memahami dalil alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salaf, pemahaman generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in). 

Contoh ayat diatas, dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14), bagaimana para salaf memahaminya. 

Berkata Ibnu Katsir Asy Syafii rahimahullah, 

قيل : معناه : صل لتذكرني . وقيل : معناه : وأقم الصلاة عند ذكرك لي .

ويشهد لهذا الثاني ما قال الإمام أحمد : حدثنا عبد الرحمن بن مهدي ، حدثنا المثنى بن سعيد ، عن قتادة ، عن أنس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” إذا رقد أحدكم عن الصلاة ، أو غفل عنها ، فليصلها إذا ذكرها; فإن الله تعالى قال : ( وأقم الصلاة لذكري ) .

وفي الصحيحين عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من نام عن صلاة أو نسيها ، فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها ، لا كفارة لها إلا ذلك ” .

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah shalatlah kamu untuk mengingat-Ku.

Menurut pendapat lain, maksudnya ialah dirikanlah shalat bilamana kamu ingat kepada-Ku.

Makna yang kedua ini diperkuat oleh hadis yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan:

Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna ibnu Sa’id, dari Qatadah, dari Anas, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian tertidur hingga meninggalkan (terlewat) shalatnya atau lupa kepada shalatnya, hendaklah ia mengerjakannya saat MENGINGATNYA. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui sahabat Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

Barang siapa tidur meninggalkan (terlewat) shalat (nya) atau lupa kepadanya, maka kifaratnya ialah mengerjakannya (dengan segera) manakala ingat kepadanya, tiada kifarat lain kecuali hanya itu. (HR Bukhari Muslim, Tafsir Ibnu Katsir). 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya dan para salaf, tidak pernah meninggalkan syariat shalat, dalam keadaan bagaimana pun. Dalam keadaan sakit atau sehat, diperjalanan atau mukim, dikendaraan, di rumah atau di masjid, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak bisa maka duduklah, dan jika tidak bisa maka shalat dengan berbaring”. (HR. Bukhari). 

Berkata tabi’in Abdullah bin Utbah rahimahullah, 

دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَلَا تُحَدِّثِينِي عَنْ مَرَضِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ بَلَى ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ قَالَ ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ قَالَتْ فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ قَالَتْ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ أَصَلَّى النَّاسُ فَقُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَام لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَنْتَ أَحَقُّ بِذَلِكَ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ تِلْكَ الْأَيَّامَ ثُمَّ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ بَيْنَ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا الْعَبَّاسُ لِصَلَاةِ الظُّهْرِ وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكْرٍ ذَهَبَ لِيَتَأَخَّرَ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ لَا يَتَأَخَّرَ قَالَ أَجْلِسَانِي إِلَى جَنْبِهِ فَأَجْلَسَاهُ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ فَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي وَهُوَ يَأْتَمُّ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ.. 

“Aku masuk menemui [‘Aisyah] aku lalu berkata kepadanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sakit?” ‘Aisyah menjawab, “Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum, mereka masih menunggu tuan.” Beliau pun bersabda: “Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana.” Maka kamipun melaksanakan apa yang diminta beliau. Beliau lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan. Ketika sudah sadarkan diri, beliau kembali bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi: “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri kembali, beliau berkata: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab lagi, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi: “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh dan pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid untuk shalat ‘Isya di waktu yang akhir. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar dan memintanya untuk mengimami shalat. Maka utusan tersebut menemui Abu Bakar dan berkata, kepadanya, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan anda untuk mengimami shalat jama’ah!” Lalu Abu Bakar -orang yang hatinya lembut- berkata, “Wahai ‘Umar, pimpinlah orang-orang melaksanakan shalat.” Umar menjawab, “Anda lebih berhak dalam masalah ini.” Maka Abu Bakar memimpin shalat pada hari-hari sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati tubuhnya lebih segar, beliau pun keluar rumah sambil berjalan dipapah oleh dua orang laki-laki, satu diantaranya adalah ‘Abbas untuk melaksanakan shalat Zhuhur. Ketika itu Abu Bakar sedang mengimami shalat, ketika ia melihat beliau datang, Abu Bakar berkehendak untuk mundur dari posisinya namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat supaya dia tidak mundur. Kemudian beliau bersabda: “Dudukkanlah aku disampingnya.” Maka kami mendudukkan beliau di samping Abu Bakar.” Perawi berkata, “Maka jadilah Abu Bakar shalat dengan mengikuti shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sementara orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar, dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sambil duduk”. HR. Bukhari. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوٓا۟ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا۟ فَلْيَكُونُوا۟ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا۟ فَلْيُصَلُّوا۟ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا۟ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَٰحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓا۟ أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا۟ حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu salatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kalian lengah terhadap senjata kalian dan harta benda kalian, lalu mereka menyerbu kalian dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atas kalian meletakkan senjata kalian, jika kalian mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kalian memang sakit; dan siap siagalah kalian. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu. Surah An Nisa 102.

Kalau ada kelompok yang MENINGGALKAN SYARIAT SHALAT dengan alasan yang penting sudah ingat Allah, maka segera tinggalkan, karena mereka kelompok yang menyelisihi alquran, assunnah dan pemahaman para salaf. Mereka kelompok yang sesat dan menyesatkan. 

Create your website with WordPress.com
Get started