Design a site like this with WordPress.com
Mulakan

AHLI NERAKA YANG MENDAPAT SYAFAAT

PEMBERIAN SYAFAAT SEORANG MUKMIN KEPADA SEORANG MUKMIN YANG TERJATUH KE DALAM NERAKA KETIKA HARI AKHIRAT DAN SYARAT MENDAPATKAN SYAFAAT. ⚙🟡

.

.

Ketika nanti setelah selamat dari jembatan Shirath, orang-orang Mukmin yang selamat melewati Shirath akan memberikan syafaat kepada seorang mukmin yang jatuh ke Neraka ketika melewati Jembatan Shirath untuk mengeluarkan mereka dari Neraka dan menuju Surga, begitu juga Para Nabi, Malaikat dan terakhir adalah Syafaat Allah Azza Wa Jalla

.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Allaits bin Sa’d dari Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abu Hilal dari Zaid dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata : “Kami bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat ?” 

Nabi balik bertanya : “Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari dan bulan ketika terang benderang ?” 

Kami menjawab, “Tidak.” 

Nabi meneruskan,

.

“Begitulah kalian tidak kesulitan melihat Rabb kalian ketika itu, selain sebagaimana kesulitan kalian melihat keduanya.” 

Kemudian beliau berkata : “Lantas ada seorang penyeru memanggil-manggil : “Hendaklah setiap kaum pergi menemui yang disembahnya !” Maka pemuja Salib pergi bersama Salib mereka, dan pemuja patung menemui patung-patung mereka, dan setiap pemuja Tuhan bersama tuhan-tuhan mereka hingga tinggal orang-orang yang menyembah Allah, entah baik atau durhaka dan Ahli Kitab terdahulu. Kemudian Jahannam didatangkan dan dipasang, ia seolah-olah fatamorgana, lantas orang-orang Yahudi ditanya : “Apa yang dahulu kalian sembah ?” Mereka menjawab : “Kami dahulu menyembah Uzair anak Allah.” Lalu ada suara : “Kalian dusta ! Allah sama sekali tidak mempunyai istri dan tidak pula anak.” Lalu apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab : “Kami ingin jika Engkau memberi kami minuman!” Lantas ada suara, “Minumlah kalian !” Lalu mereka berjatuhan di Neraka Jahannam. Lantas orang-orang Nashara diseru : “Apa yang kalian dahulu sembah ?” Mereka menjawab : “Kami dahulu menyembah Isa al Masih, Anak Allah.” Mereka dijawab : “Kamu semua bohong ! Allah sama sekali tidak mempunyai istri atau bahkan anak, dan apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab : “Kami ingin agar Engkau memberi kami minuman !” Lalu dijawab : “Minumlah kalian !” Dan langsung mereka berjatuhan di Neraka Jahannam hingga tersisa manusia yang menyembah Allah, entah yang baik atau berbuat durhaka. Mereka ditanya : “Apa yang menyebabkan kalian tertahan padahal manusia lainnya sudah pergi ?” Mereka menjawab : “Kami memisahkan diri dari mereka dan kami adalah manusia yang paling membutuhkan-Nya, kami dengar ada seorang juru seru menyerukan diri : “Hendaklah setiap kaum menemui yang mereka sembah ! Hanya saja kami menunggu-nunggu Rabb kami.” Beliau melanjutkan : “Lantas Allah (Al Jabbar) mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat pertama kali, lalu Allah firmankan : “Akulah Rabb kalian.” Mereka menjawab : ‘Engkau adalah Rabb kami, dan tidak ada yang berani mengajak-Nya bicara selain Para Nabi, lantas Para Nabi berkata : “Bukankah di antara kalian dan Allah ada tanda yang kalian mengenalnya ?” Mereka menjawab : ‘Ya, yaitu Betis” maka Allah pun menyingkap betis-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. Lalu tersisalah orang-orang yang sujud kepada Allah karena riya dan sum’ah sehingga ia pergi sujud dan punggungnya kembali menjadi satu bagian, kemudian TITIAN (JEMBATAN) DI ATAS JAHANNAM didatangkan dan dipasang antara dua tepi jahannam.

Kami (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, memang jembatan jahannam tersebut misterinya apa ?” 

Nabi menjawab : “Jembatan itu licin (bisa menggelincirkan), menjatuhkan, ada pengait-pengait besi, ada duri-duri yang lebar dan tajam, durinya besok yang terbuat dari kayu berduri namanya Sa’dan (kayu berduri tajam). Orang mukmin yang melewatinya sedemikian cepat, ada yang bagaikan kedipan mata, ada yang bagaikan kilat, ada yang bagaikan angin, dan ada yang bagaikan kuda pilihan. Ada yang bagaikan kuda tunggangan, ada yang selamat dengan betul-betul terselamatkan, namun ada juga yang selamat setelah tercabik-cabik oleh besi-besi pengait itu, atau terlempar karenanya di Neraka Jahannam, hingga manusia terakhir kali melewati dengan diseret seret, dan kalian tidak bisa sedemikian gigihnya menyumpahiku terhadap kebenaran yang jelas bagi kalian daripada terhadap seorang mukmin ketika itu kepada Allah Al Jabbar. JIKA MEREKA MELIHAT BAHWASANYA MEREKA TELAH SELAMAT DI KALANGAN TEMAN-TEMAN MEREKA, MEREKA BERKATA : “YA RABB KAMI, SESUNGGUHNYA KAWAN-KAWAN KAMI MENDIRIKAN SHALAT BERSAMA KAMI DAN BERPUASA BERSAMA KAMI, DAN BERAMAL BERSAMA KAMI !” ALLAH TA’ALA BERFIRMAN : “PERGILAH KALIAN, SIAPA DIANTARA KALIAN DAPATKAN DALAM HATINYA MASIH ADA SEBERAT DZARRAH KEIMANAN, MAKA KELUARKANLAH DIA” DAN ALLAH MENGHARAMKAN BENTUK MEREKA DALAM NERAKA. MAKA MEREKA DATANGI KAWAN-KAWAN MEREKA SEDANG SEBAGIAN MEREKA TELAH TERENDAM DALAM NERAKA ADA YANG SAMPAI TELAPAK KAKINYA, SETENGAH BETISNYA, SEHINGGA MEREKA KELUARKAN SIAPA SAJA YANG MEREKA KENAL BERIMAN, KEMUDIAN MEREKA KEMBALI DAN ALLAH BERKATA : “PERGILAH KALIAN SEKALI LAGI, DAN SIAPA YANG KALIAN TEMUKAN DALAM HATINYA SEBERAT DZARRAH KEIMANAN, MAKA KELUARKANLAH DIA.” Maka mereka keluarkan siapa saja yang mereka kenal.” 

Rasulullah berkata : “Jika kalian tidak mempercayaiku, maka bacalah : “Allah tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika ada kebaikan, maka Allah melipatgandakan balasannya (QS. An Nisa [4]: 40), MAKA PARA NABI, MALAIKAT DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN, KESEMUANYA MEMBERI SYAFAAT. Kemudian Allah Al Jabbar berkata : “Syafaat-Ku masih ada.” Lantas Allah menggenggam segenggam dari Neraka dan mengentaskan beberapa kaum yang mereka telah terbakar, lantas mereka dilempar ke sebuah sungai di pintu surga yang namanya “Sungai kehidupan” sehingga mereka tumbuh dalam kedua tepinya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam genangan sungai yang kalian sering melihatnya di samping batu karang dan samping pohon, apa yang diantaranya condong kepada matahari, maka berwarna hijau, dan apa yang diantaranya condong kepada bayangan, maka berwarna putih, lantas mereka muncul seolah-olah mutiara dan dalam tengkuk mereka terdapat cincin-cincin. Mereka kemudian masuk Surga hingga penghuni surga berkata : “Mereka adalah ‘utaqa’ Ar Rahman (orang-orang yang dibebaskan Arrahman), Allah memasukkan mereka bukan karena amal yang mereka lakukan, dan bukan pula karena kebaikan yang mereka persembahkan sehingga mereka memperoleh jawaban ‘Bagimu yang kau lihat dan semisalnya.”

.

– HR. Bukhari no. 6886 | Fathul Bari no. 7439 dan Muslim no. 269 | Syarh Shahih Muslim no. 188. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari

.

SYARAT MENDAPATKAN SYAFAAT

NAMUN yang perlu diperhatikan adalah syarat untuk mendapatkan Syafaat, dan ini berlaku umum :

.

1. Tidak melakukan Syirik, atau tidak wafat di atas kesyirikan dan tidak membawa keyakinan syirik meski kecil ketika wafat

.

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Sa’id dari Qatadah dari Abu Al Malih dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Ada yang mendatangiku dari Rabbku lalu memberiku pilihan antara separuh dari ummatku masuk surga atau syafaat lalu aku memilih Syafaat, Syafaat tersebut untuk orang yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan apa pun.”

.

– HR. Tirmidzi no. 2365 | no. 2441 dan Ahmad no. 18792, 21017, 22852, 22877

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib : telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Setiap nabi mempunyai do’a yang mustajab (terkabul) dan aku menyimpan do’aku, demi Syafa’at untuk umatku kelak dan Insya Allah umatku akan mendapatkannya, yaitu bagi siapa saja yang meninggal diantara mereka, sedangkan ia tidak berbuat Syirik kepada Allah sama sekali.”

.

– HR. Tirmidzi no. 3526 | no. 3206

.

2. Tidak menjadi pemimpin yang dzalim, tidak melakukan Bid’ah-Bid’ah dalam Syariat, baik itu dalam amal perbuatan atau i’tiqad, atau tidak wafat dengan masih terdapat Bid’ah-Bid’ah dalam Syariat, dan tidak wafat di atas kekafiran, kemunafikan, kemurtadan dan kesyirikan…

.

Telah menceritakan dari Al Mu’li bin Ziyad, dari Abu Ghalib dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

.

“Ada dua golongan umatku yang tidak akan mendapatkan Syafaatku, pemimpin yang zalim lagi kejam serta setiap orang yang bersikap melampaui batas (orang yang tersesat) dan menyimpang dari agama (keluar dari agama –murtad-).”

.

– HR. Abu Ishaq Al Harbi, Gharibul Hadits, V/120/2, Al Jurjani, Al Fawid, I/112, Ibnu Abil Hadid As Sulami, Haditsu Abil Fadhal As Sulami, I/2 dan Abu Bakar Al Kilabadzi, Mifathul Ma’anu, II/360. Ash Shahihah no. 470 (2618)

.

Dalam dua hadits di atas, memang dinisbatkan pemberi Syafaat adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Syafaat itu terjadi karena izin Allah Azza Wa Jalla. Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja yang atas izin Allah Azza Wa Jalla tidak memberikan Syafaat kepada kriteria yang terdapat dalam hadits tersebut, bagaimana dengan kita yang sangat jauh derajatnya dibawah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?

.

3. dan di dalam hadits di atas yang mendapatkan syafaat dari orang mukmin adalah yang masih ada keimanan sebesar dzarrah, maka ini juga haruslah berada di atas keimanan dan Tauhid yang benar, karena Tauhid adalah fondasi dasar semuanya, dan juga tidak terdapat kesombongan di dalam hatinya ketika hidup, atau tidak wafat dengan masih terdapat kesombongan di dalam dirinya meski kecil, yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain …

.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar serta Ibrahim bin Dinar semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibnu Al Mutsanna berkata : telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail Al Fuqaimi dari Ibrahim An Nakha’i dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

.

“TIDAK AKAN MASUK SURGA ORANG YANG DI DALAM HATINYA TERDAPAT SEBERAT BIJI SAWI DARI KESOMBONGAN.”

.

Seorang laki-laki bertanya : “Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” 

Beliau menjawab,

.

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

.

– HR. Muslim no. 131 | Syarh Shahih Muslim no. 91 dan Tirmidzi no. 1922 | no.  1999. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim

.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Bakr -maksudnya Abu Bakr Ibnu Ayyasy- dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Tidak akan masuk Surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi, dan tidak akan masuk ke dalam Neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan sebesar biji sawi.”

.

– HR. Abu Dawud no. 3568 | no. 4091, Ibnu Majah no. 58, 4163 | no. 59, 4173 dan Tirmidzi no. 1921 | no.  1998. Lafazh dan sanad di atas milik Abu Dawud

.

DIPERHATIKAN ! dan Hisablah diri sebelum dihisab oleh Allah Azza Wa Jalla.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: