Design a site like this with WordPress.com
Mulakan

Sudah Tahu Apa Hakikat Tauhid ⁉️

Sudah Tahu Apa Hakikat Tauhid ⁉️

Tauhid merupakan akidah paling mendasar yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Tak ada kewajiban di dalam berislam yang melebihi kewajiban tauhid.

Karenanya Al-Qur’an mayoritas isinya berbicara tentang tauhid, peringatan terhadap syirik yang menjadi lawan tauhid, kedudukan orang-orang yang bertauhid, keadaan orang-orang yang meninggalkan tauhid, hak-hak tauhid, yang semua itu menjadi misi utama dakwah para nabi dan para Rosul.

Namun apakah bertauhid cukup dengan meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam, yang menghidupkan dan mematikan?

Simak penjelasan Al-‘Allamah Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh rohimahullah beliau berkata,

“Hakikat tauhid bukan sekedar meyakini Allah semata sebagai pencipta seperti yang diakui oleh ahli kalam maupun kalangan tasawwuf. Menurut persangkaan mereka siapa yang menetapkan hal itu berarti telah menetapkan tauhid yang paling tinggi.

Pemahaman seperti itu tentu jauh dari kebenaran karena siapa saja yang mengakui sifat-sifat mulia bagi Allah, mensucikan-Nya dari segala hal yang tidak patut, mengakui hanya Allah yang menciptakan segala sesuatu, maka dia belum dianggap bertauhid hingga dirinya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan hanya Allah yang pantas diberikan penghambaan.” 

(Fat-hul Majid 1/110 tahqiq Al-Utaibi)

Maka tauhid hakikatnya mengesakan Allah dalam seluruh penghambaan. Dengan kata lain, memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata, meyakini hanya Allah yang kuasa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, hanya Allah yang menjadi tujuan bergantung dan sandaran hati.

Tidak ada satu pihak pun yang patut diberikan penghambaan selain Allah, tidak ada satu pihak pun yang kuasa mendatangkan keberuntungan dan menolak bahaya selain Allah, tidak ada satu pihak pun yang mengetahui perkara ghoib selain Allah, tidak ada satu pihak pun yang menjadi sandaran hati selain Allah, dan tidak boleh seseorang mengadakan loyalitas dan permusuhan kecuali karena Allah.

Sebab itu Allah melabeli musyrik kepada orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan tetapi mereka juga menyekutukan Allah dalam penghambaan. 

Allah ta’ala berfirman,

وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan musyrik mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan yang lain).” (Yusuf: 106)

Sebanyak apapun ibadah dan ketaatan yang dikerjakan seorang hamba dari ibadah sholat, puasa, zakat, haji, umroh, sedekah, dakwah, berbakti kepada orang tua, apabila tidak dibangun di atas tauhid dan membersihkan hati dari syirik, maka semua itu tidak akan berguna di sisi Allah.

Jangan surut dari belajar tauhid, mengamalkannya dan mendakwahkannya kepada manusia. Bersabarlah, meski di sana banyak suara-suara sumbang yang melontarkan tuduhan radikal dan wahabi. 

Semua tuduhan itu tipu daya syaithon yang hendak memelihara kedunguan dan mengambil pelindung selain Allah. Ibarat laba-laba yang membuat rumah, padahal rumah laba-laba adalah rumah yang paling rapuh sekiranya mereka mengetahui.

https://t.me/manhajulhaq

Sempurnanya Sifat Allah ﷻ Dan Syubhatnya

Sempurnanya Sifat Allah ﷻ Dan Syubhatnya

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah ﷻ memperkenalkan diri-Nya dalam Al-Qur’an hampir dalam setiap lembarannya. Di dalamnya Allah ﷻ menyebutkan nama-nama-Nya. Setiap nama Allah ﷻ mengandung sifat-sifat-Nya. Dengan semakin seseorang mengenal nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya maka dia akan semakin bertakwa kepada Allah ﷻ, sebagaimana yang diungkapkan oleh para salaf,

وَمَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفَ؛ كَانَ مِنْهُ أَخْوَفَ

“barang siapa yang semakin mengenal Allah ﷻ maka dia akan semakin takut kepada Allah ﷻ.” ([1])

Syaikh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahumallah berkata,

وَكُلَّمَا كَانَ العَبْدُ بِاللهِ أَعْرَف كَانَ لِعِبَادَتِهِ أَطْلَب، وَعَن مَعصِيَتِهِ أَبْعَد

“ketika seorang hamba lebih mengenal Allah ﷻ maka dia juga akan lebih semangat dalam beribadah kepada Allah ﷻ dan semakin jauh dari berbuat maksiat kepada-Nya.” ([2])

Barang siapa yang lebih mengenal Allah ﷻ maka akan semakin mudah baginya untuk khusyuk di dalam salat. Semakin mudah baginya untuk merasakan kelezatan manisnya iman ketika beribadah kepada Allah ﷻ. Hal ini dikarenakan dia tahu siapa yang dia sembah. Sungguh benar pepatah orang Indonesia “tak kenal maka tak sayang”. Oleh karena itu hendaknya seseorang berusaha untuk mengenal sifat-sifat Allah ﷻ. Semakin banyak sifat-sifat Allah ﷻ yang dia pelajari, yang dia yakini, dan yang dia pahami maka dia akan semakin mengagungkan Allah ﷻ.

Kita tahu bahwasanya sifat-sifat Allah ﷻ semuanya adalah maha sempurna. Oleh karenanya ketika orang-orang musyrikin mendatangi Nabi Muhammad ﷺ kemudian berkata,

صِفْ لَنَا رَبّكَ

“berikanlah kepada kami sifat-sifat tuhanmu.” ([3])

Turunlah surat Al-Ikhlas kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Surat ini disebut dengan Al-Ikhlas (murni) karena kandungan dari surat ini adalah murni untuk menjelaskan sifat-sifat Allah ﷻ. 

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah ﷻ, Yang Maha Esa. Allah ﷻ tempat meminta segala sesuatu. (Allah ﷻ) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Maksud dari Allah الصَّمَدُ adalah Allah ﷻ maha sempurna dari segala sisi. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu menjelaskan tentang الصَّمَدُ dengan perkataan beliau,

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“Dialah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, Dialah yang mulia yang sempurna dalam kemulian-Nya, Dialah yang agung yang sempurna keagungan-Nya, Dialah yang lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Dialah yang kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Dialah yang Maha Kuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Dialah maha mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, Dialah yang maha bijak yang sempurna dalam kebijakan-Nya, Dialah yang telah sempurna di segala macam kemuliaan dan kepemimpinan-Nya, Dialah Allah ﷻ, inilah sifat-Nya yang tidak pantas kecuali hanya untuk Dia.” ([4])

Inilah surat yang turun khusus untuk menjelaskan kesempurnaan sifat-sifat Allah ﷻ. Karena begitu agungnya surat Al-Ikhlas sampai Rasulullah ﷺ menyatakan siapa yang membaca surat Al-Ikhlas maka dia seakan-akan telah membaca sepertiga Al-Qur’an. 

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, ”Bagaimana kami bisa membaca seperti Al-Qur’an?” Lalu Nabi Muhammad ﷺ bersabda, ”Qul huallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” ([5])

Mengapa disebut sepertiga Al-Qur’an? Karena dia spesifik membahas sifat-sifat Allah ﷻ, sehingga surat tersebut menjadi agung. Sama seperti ayat kursi, Nabi Muhammad ﷺ bersabda ketika bertanya kepada seorang sahabat,

«يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟» قَالَ: قُلْتُ: {اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَالَ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: «وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ»

“Hai Abu Mundzir! tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur`an yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata; saya menjawab, “Allah ﷻ dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bertanya lagi: “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang ada padamu yang paling utama?” Abu Mundzir berkata, Saya menjawab, “ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM.” Abu Mundzir berkata, lalu beliau menepuk dadaku seraya bersabda: “Demi Allah ﷻ, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir.” ([6])

Ayat kursi dikatakan ayat yang paling agung dikarenakan semuanya berisi tentang pengagungan kepada Allah ﷻ dari sifat-sifat-Nya dan kemahaan-Nya. 

Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah ﷻ tanpa izin-Nya? Allah ﷻ mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah ﷻ melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah ﷻ meliputi langit dan bumi. Dan Allah ﷻ tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah ﷻ Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Surat Al-Ikhlas menjadi sepertiga Al-Qur’an dan ayat Al-Kursi menjadi ayat teragung di dalam Al-Qur’an karena keduanya bercerita tentang keagungan Allah ﷻ. Oleh karenanya, seseorang jika merenungkan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ maka dia akan mendapatkan pahala yang tinggi. Jangan sampai kita hanya sekedar membaca dengan melewatinya begitu saja. Hendaknya kita merenungkan ketika membaca tentang ayat-ayat di mana Allah ﷻ menceritakan dan mengenalkan tentang diri-Nya. Kita harus berusaha untuk mengenal diri-Nya, karena Allah ﷻ menciptakan alam semesta ini agar kita tahu keagungan-Nya. 

Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah ﷻ berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ﷻ ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq: 12)

Hendaknya kita mempelajari tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ karena ini adalah ilmu yang agung. Kita tahu bahwasanya sifat Allah ﷻ adalah sifat yang sempurna, sehingga kita selalu menggunakan kata “maha”. Ketika manusia memiliki sifat mendengar dan melihat maka Allah ﷻ memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Antara Allah ﷻ dan manusia sama-sama memiliki sifat melihat dan mendengar dari segi makna, akan tetapi untuk Allah ﷻ kita tambahkan dengan memberikan kata “maha” karena sifat Allah ﷻ maha agung.

Jika kita kembali kepada makna الصَّمَدُ, maka Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan maknanya,

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“Dialah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, Dialah yang mulia yang sempurna dalam kemuliaan-Nya, Dialah yang agung yang sempurna keagungan-Nya, Dialah yang lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Dialah yang kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Dialah yang Maha Kuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Dialah maha mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, Dialah yang maha bijak yang sempurna dalam kebijakan-Nya, Dialah yang telah sempurna di segala macam kemuliaan dan kepemimpinan-Nya, Dialah Allah ﷻ subhanahu, inilah sifat-Nya yang tidak pantas kecuali hanya untuk Dia.” ([7])

Tafsir Ibnu Abbas ini menjelaskan bahwasanya antara Allah ﷻ dan manusia memiliki sifat-sifat yang sama akan tetapi Allah ﷻ memiliki sifat yang paling sempurna. Seperti yang disebutkan di atas tentang sifat-sifat Allah ﷻ seperti sifat ilmu, keagungan, dan kemuliaan. Maka kita katakan bahwasanya manusia juga memiliki sifat-sifat tersebut. Contohnya sifat agung manusia, di mana Nabi rahimahullah ketika menulis surat kepada Heraklius beliau menulis,

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ

“dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi.” ([8])

Dari sini kita dapati manusia disifati dengan agung dan Allah ﷻ juga disifati dengan agung. Akan tetapi keagungan Allah ﷻ maha sempurna. Kita tahu bahwa sifat-sifat Allah ﷻ seluruhnya maha sempurna. Kita ambil contoh “sifat mendengar”. Pendengaran kita terbatas, kita hanya bisa mendengar pada frekuensi tertentu adapun pada frekuensi yang lebih tinggi maka kita tidak mampu untuk mendengar. Ada suara-suara yang tidak mampu untuk kita dengar namun bagi sebagian hewan-hewan bisa didengar. Kita tidak mampu untuk mendengar suara yang sangat jauh. Kita tidak kuat mendengar suara yang melengking. Oleh karenanya di antara yang menyebabkan manusia meninggal pada hari kiamat adalah tiupan sangkakala yang sangat besar. Hal ini dikarenakan pendengaran manusia tidak mampu untuk mendengarnya. 

Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).” (QS. ‘Abasa: 33)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia pada hari kiamat akan mati dikarenakan suara yang sangat keras. Termasuk contoh yang menjelaskan tentang terbatasnya pendengaran manusia adalah jika ada 10 orang yang bersuara secara bersamaan maka kita tidak bisa menangkap isi semua pembicaraan, karena suara tersebut tercampur baur. Walaupun kita memang mendengar suara-suara tersebut akan tetapi kita tidak mampu untuk menguasainya. Kita mampu mendengar karena pada asalnya kita diciptakan bisa mendengar.

Allah ﷻ berfirman,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا. إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan:1-2)

Inilah pendengaran manusia, Allah ﷻ menjadikan manusia mendengar dan melihat akan tetapi pendengaran dan penglihatannya terbatas. Berbeda dengan pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ yang tanpa batas.

Bayangkan ketika di musim Arafah yaitu di musim haji, di mana manusia yang berjumlah mungkin sekitar 3 sampai 4 juta orang dan semuanya menengadahkan tangan ke langit berdoa kepada Allah ﷻ dengan berbagai macam permintaan, dengan berbagai macam permohonan, dan dengan berbagai macam bahasa, akan tetapi semuanya bisa di dengar oleh Allah ﷻ dalam satu waktu. Allah ﷻ maha mendengar suara makhluk-makhluk-Nya di mana pun. Bahkan suara hati pun Allah ﷻ dapat mendengarnya.

Ini semua menjadi contoh di mana Allah ﷻ dan makhluk-Nya sama-sama memiliki sifat yang sama. Akan tetapi sifat Allah ﷻ maha agung sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas radhillahu ‘anhuma pada kata Ash-Shamad. Manusia memiliki sifat agung maka Allah ﷻ memiliki sifat yang lebih agung. Manusia memiliki sifat ilmu maka Allah ﷻ maha berilmu. Manusia memiliki sifat mulia maka Allah ﷻ memiliki sifat lebih mulia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ berusaha untuk mendekatkan pemahaman ini. Contohnya ketika Nabi membacakan ayat,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا، وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالعَدْلِ، إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah ﷻ menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah ﷻ memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Nabi Muhammad ﷺ memberikan isyarat dengan kedua jarinya kepada mata dan telinganya([9]). Ini menunjukkan bahwasanya Allah ﷻ benar-benar melihat dan mendengar. Akan tetapi dibandingkan dengan pendengaran dan penglihatan manusia maka pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ maha sempurna. Berbeda dengan pendengaran dan penglihatan kita yang terbatas.

Demikian juga ketika Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan sifat rahmat, di mana Allah ﷻ dan manusia sama-sama memiliki sifat kasih sayang. Akan tetapi kasih sayang Allah ﷻ jika dibandingkan dengan kasih sayang manusia maka sungguh jauh berbeda. 

Suatu hari Nabi Muhammad ﷺ melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, kemudian mencari-carinya. Ketika ia mendapatkan anaknya maka ia memeluk dan menyusuinya. Ini adalah bentuk kasih sayang tertinggi di alam semesta, yaitu kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi terhadap anak yang baru ditemukan yang sebelumnya hilang, maka itulah puncak dari kasih sayang. Ketika Nabi Muhammad ﷺ melihat suasana seperti ini maka beliau ﷺ berkata kepada para sahabat,

أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah ﷻ, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah rahimahullah berkata, “Sungguh Allah ﷻ lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” ([10])

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya rahmat Allah ﷻ lebih agung dari manusia. Manusia memiliki sifat rahmat begitu juga Allah ﷻ, akan tetapi rahmat Allah ﷻ lebih agung dari rahmat manusia. Ini semua berlaku pada setiap sifat-sifat Allah ﷻ. 

Contoh lainnya ketika Nabi menggambarkan tentang kegembiraan Allah ﷻ, yaitu ketika seseorang yang berjalan di tengah padang pasir dengan untanya,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ “

“Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat salah seorang dari kalian tatkala ia bertobat kepada-Nya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada di atas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. Ia pun putus asa untuk mendapatkan untanya. Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring di bawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa. Di tengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri di dekatnya. Segera ia pun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembira: “wahai Allah ﷻ kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu” keliru berucap karena terlalu gembira” ([11])

Hamba ini gembira dengan kegembiraan yang sangat luar biasa, dia merasa akan segera mati namun tiba-tiba diberikan kesempatan untuk hidup. Maka kegembiraan Allah ﷻ lebih dari kegembiraan hamba ini

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ

“Sungguh Allah ﷻ lebih gembira dengan tobat salah seorang dari kalian tatkala ia bertobat kepada-Nya”

Jadi Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat gembira, sayang, melihat, dan mendengar. Semua ini Rasulullah ﷺ jelaskan agar kaum muslimin bisa menerima dan memahaminya. Akan tetapi perbedaan antara sifat makhluk dengan sifat Allah ﷻ adalah semua sifat Allah ﷻ itu “maha”. Para sahabat juga dahulu memahami ini semua, ketika dijelaskan tentang sifat Allah ﷻ maka tidak kemudian timbul pertanyaan dari benak mereka. Mereka tidak mengatakan “jika Allah ﷻ bisa melihat, lalu bagaimana cara melihat-Nya?”. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan demikian. Mereka juga tidak ada yang mengatakan “jika Allah ﷻ mendengar berarti Allah ﷻ memiliki telinga dan lainnya”. Mereka juga tidak mengatakan “jika Allah ﷻ berbicara apakah Allah ﷻ memiliki pita suara dan lainnya?”. Para sahabat tidak pernah bertanya tentang kaifiah sifat Allah ﷻ, karena mereka tahu itu bukanlah urusan mereka. Namun mereka semua tahu bahwasanya Allah ﷻ berbicara, melihat, mendengar, menyayangi, gembira, dan yang lainnya. Ini semua dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk menekankan kepada kita bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat-sifat yang sifat-sifat tersebut menunjukkan keagungan Allah ﷻ. Semakin banyak sifat yang kita ketahui maka semakin kita mengerti tentang Allah ﷻ, seperti Allah ﷻ memiliki sifat marah, magfirah, dan memaafkan yang ini semua adalah sifat-sifat Allah ﷻ.

Lalu datanglah Ahli Bidah yang mereka tidak bisa menerima sifat-sifat Allah ﷻ. Logika mereka tidak sampai untuk menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ. Mereka memiliki syarat Tuhan yang ini memiliki pembahasan yang sangat panjang. Inti dari kesimpulannya adalah karena mereka tenggelam pada ilmu filsafat, mereka mempelajari buku Aristoteles, Plato, dan buku-buku filsafat lainya yang kemudian membuat mereka terjebak dalam syubhat ahli filsafat. Akhirnya mereka mengatakan bahwasanya Tuhan memiliki syarat, syarat Tuhan harus statis dan tidak boleh mengalami perubahan sama sekali. Ini disampaikan oleh Plato dalam bukunya The Laws Of Plato yang kemudian juga disampaikan oleh Aristoteles. Dengan syubhat logika mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan harus statis tidak boleh ada gerakan atau perubahan sama sekali.

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap sifat-sifat yang telah disebutkan di atas? Mereka bingung dalam menghadapi sifat-sifat tersebut. Seperti sifat melihat, maka sifat melihat butuh kepada objek yang dilihat, sedangkan objek yang dilihat berubah-ubah. Contohnya Allah ﷻ meliat kita dan kita bergerak-gerak, maka ini menunjukkan bahwa objek yang dilihat Allah ﷻ berubah-ubah sehingga penglihatan Allah ﷻ mengalami perubahan. Mereka menolak hal yang seperti ini dan mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penglihatan Allah ﷻ adalah ilmu Allah ﷻ, yaitu Allah ﷻ mengetahui tentang yang terlihat. Jadi mereka terjebak dengan logika bahwasanya Tuhan harus statis, tidak boleh dinamis, tidak boleh mengalami perubahan, dan tidak boleh ada heterogen pada zat Allah ﷻ. Mereka terjebak pada syubhat mereka yang syubhat tersebut dijadikan sebagai syarat Tuhan. Entah dari mana mereka mendatangkan syarat tersebut? Mengapa juga Tuhan harus mengikuti syarat mereka?

Begitu juga pada sifat mendengar, Ahlusunah mengimani bahwasanya Allah ﷻ maha mendengar. 

Allah ﷻ berfirman,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا “dan Allah ﷻ mendengar soal jawab antara kamu berdua” antara Nabi Muhammad ﷺ dengan wanita yang sedang mengadukan suaminya. Ketika mereka sedang berbicara maka Allah ﷻ sedang mendengarnya. Akhirnya ayat ini membuat mereka kembali bingung, jika Allah ﷻ mendengar maka ada objek yang didengar sedangkan suara berubah-ubah. Lalu bagaimana cara mereka menggabungkan hal ini dengan sifat Allah ﷻ sedangkan sifat Allah ﷻ menurut mereka harus statis dan tidak boleh mengalami perubahan. Mereka pun mengatakan bahwa tidak ada sifat mendengar bagi Allah ﷻ dan yang ada hanya sifat mengetahui sesuatu yang terdengar. Mereka menakwil sifat mendengar dan melihat kepada ilmu. Hal inilah yang menyebabkan kebingungan, karena hal ini tidak bisa dipahami oleh masyarakat umum. Ini hanya dilakukan oleh orang Asya’irah yang terjebak di dalam filsafat yang mereka sendiri tidak paham akan akidah mereka. Jika mereka ingin mengabarkan kepada masyarakat maka masyarakat hanya bertambah bingung.

Akidah Islam yang sesungguhnya sangat mudah dan logis tidak sesulit akidah mereka yang aneh. Allah ﷻ menyebutkan diri-Nya melihat dan mendengar maka ini berbeda dengan ilmu. Ilmu mewakili sifat tertentu, mendengar sifat tertentu, dan mendengar mewakili sifat tertentu. Bagaimana mungkin kemudian mendengar dan melihat ditakwil menjadi sifat ilmu? Ini semua dikarenakan otak mereka yang tidak bisa memahami hal ini dengan membuat Tuhan harus memiliki syarat statis.

Contoh lainnya adalah sifat rahmat (kasih sayang), mereka tidak bisa menerima Allah ﷻ memiliki sifat rahmat, karena menurut mereka sifat rahmat adalah kecenderungan hati dan lainnya sehingga mereka menolak sifat rahmat. Mereka menakwil sifat rahmat dengan iradah (berkehendak) untuk berbuat baik kepada makhluk-Nya. Hal ini dikarenakan mereka hanya menetapkan 7 sifat saja, adapun sifat-sifat lainnya mereka takwilkan kepada 7 sifat tersebut karena menurut mereka hanya 7 sifat ini yang masuk logika mereka. Intinya mereka membuat syarat untuk Tuhan dan syarat tersebut mereka pertahankan. Sifat-sifat yang tidak sesuai dengan syarat tersebut mereka takwilkan. Adapun kita tidak seperti itu dan kita semua mengetahui makna kasih sayang. Juga Rasulullah ﷺ telah menjelaskan ketika seorang ibu yang menyayangi anaknya maka kasih sayang Allah ﷻ lebih besar dari pada kasih sayang ibu kepada anaknya. Itu semua benar, karena terkadang kita dapati sebagian ibu tidak memaafkan anaknya yang meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Adapun Allah ﷻ maka sebesar apa pun seorang hamba melakukan kemaksiatan jika dia memohon maaf kepada Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan memaafkannya. Allah ﷻ lebih rahmat dari seorang ibu kepada anaknya. Akan tetapi ketika kita memasuki koridor ahli bidah kita dapati mereka tidak bisa menerima Allah ﷻ memiliki sifat kasih sayang disebabkan syubhat-syubhat yang mereka miliki.

Contoh berikutnya adalah sifat ketinggian Allah ﷻ, Allah ﷻ berfirman,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“dan Allah ﷻ Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Tinggi berbeda dengan agung. Tinggi mewakili atribut tersendiri dan agung mewakili atribut tersendiri. Ketika seorang dari ahli bidah mengatakan bahwa tinggi sama dengan agung maka tidak ada bedanya antara tinggi dan agung, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Allah ﷻ membedakan kedua hal tersebut dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“dan Allah ﷻ Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Ini menunjukkan bahwa antara tinggi dan agung ada perbedaan. Kemudian mereka dengan logika mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak di atas, tidak di bawah, tidak bisa ditunjuk, tidak di mana-mana, dan lainnya. Semua hadis-hadis dan ayat-ayat mereka takwil. Ini semua dikarenakan mereka terjebak di dalam syubhat filsafat yang mengatakan Allah ﷻ statis dan tidak boleh mengalami perubahan. Dari syubhat ini muncul syubhat-syubhat berikutnya yang tentunya tidak lebih logis lagi.

Jadi intinya kita sebagai Ahlusunah meyakini bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat yang banyak. Semakin kita mengenal sifat-sifat Allah ﷻ maka kita semakin sayang dan semakin cinta kepada Allah ﷻ dan juga semakin membuat kita mengagungkan Allah ﷻ. Sifat-sifat Allah ﷻ masing-masing memiliki makna tersendiri. Para ulama menjelaskan secara detail tentang sifat-sifat tersebut, seperti membedakan antara sifat al-maghfiah dan al-‘afwu, antara sifat al-qawi dan al-matin. Karena sangat detailnya sifat-sifat Allah ﷻ maka para ulama pun membahasnya. Sementara ahli bidah hanya mengakui 7 sifat saja yaitu al-‘ilmu, al-iradah, as-sama’, al-basar, al-hayat, al-kalam, dan qudrah. Hanya 7 sifat ini saja yang mereka yakini. Di luar dari 7 sifat ini di mana selain dari 7 sifat ini sangat banyak maka mereka takwil kepada 7 sifat ini. Seperti hal-hal yang mereka tidak pahami maka mereka kembalikan kepada sifat ilmu atau sifat iradah misalnya.

——

Footnote:

([1]) At-Taudiih Ar-Rasyiid Fii Syarh At-Tauhiid (1/120)

([2]) https://khutabaa.com/khutabaa-section/corncr-speeches/173187

([3]) Tafsir al-Qurthubi (20/246)

([4]) Tafsir ath-Thabari (24/736)

([5]) HR. Bukhari No. 5015 dan Muslim No. 811.

([6]) HR. Muslim No. 810.

([7]) Tafsir ath-Thabari (24/736).

([8]) HR. Ahmad No. 2370 dan dikatakan oleh Syuaib Al-Arnauth Hadis ini sahih.

([9]) HR. Abu Dawud No. 4728

([10]) HR. Bukhari No. 5999 dan Muslim No. 2754.

([11]) HR Muslim No. 2747.

Hakikat guru menurut ulamak Salaf

Hakikat guru menurut ulamak Salaf

ليس شيخك من سمعت منه

Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja.

وإنما شيخك من أخذت عنه

Tapi,

dia adalah seorang yang menjadi tempatmu didalam mengambil hikmah dan akhlaq.

و ليس شيخك من واجهتك عبارته

Bukanlah guru sejati,

seseorang yang hanya membimbingmu sekedar makna dari kata-kata.

وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته

Tapi,

orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu.

وليس شيخك من دعاك الى الباب

Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu.

وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب

Tapi,

yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya.

وليس شيخك من واجهك مقاله

Bukanlah gurumu,

orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu.

وإنما شيخك الذى نهض بك حاله

Tapi,

yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat.

شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى

Gurumu yang sejati adalah yang membebaskan mu dari penjara hawa nafsu, lalu memasukkan mu ke ruangan Tuhan mu.

شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك

Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa menjernihkan cermin hatimu, sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.

Untaian Mutiara Dari Ulamak Salafi

Untaian Mutiara Dari Ulamak Salafi

من غرس العلم إجتنى النباهة،

Siapa yang menanam ilmu maka ia akan memetik kecerdasan,

ومن غرس الزهد إجتنى العزة،

Siapa yang menanam rasa zuhud ( tidak cinta dunia ) maka ia akan memetik kemuliaan,

ومن غرس الإحسان إجتنى المحبة،

Siapa yang menanam kebaikan maka ia akan memetik cinta,

ومن غرس الفكرة إجتنى الحكمة،

Siapa yang menanam pemikiran maka ia akan memetik hikmah,

ومن غرس الوقار إجتنى المهابة،

Siapa yang menanam ketenangan maka ia akan memetik wibawa,

ومن غرس المداراة إجتنى السلامة،

Siapa yang menanam keramahan maka ia akan memetik kesalamatan,

ومن غرس الكبر إجتنى المقت،

Siapa yang menanam kesombongan maka ia akan memetik kebencian,

ومن غرس الحرص إجتنى الذل،

Siapa yang menanam kerakusan maka ia akan memetik kerendahan,

ومن غرس الطمع إجتنى الخزي،

Siapa yang menanam keserakahan maka ia akan memetik kehinaan,

ومن غرس الحسد إجتنى الكمد.

Dan siapa yang menanam iri maka ia akan memetik kesedihan.

PELAJARAN AQIDAH DARI PERISTIWA ISRA MIKRAJ

PELAJARAN AQIDAH DARI PERISTIWA ISRA MIKRAJ

https://t.me/CintaTauhid

* Penetapan keyakinan bahwa Dzat Allah berada di atas, bukan di mana-mana.

* Allah memiliki sifat kalam (berbicara) dan Rasul Muhammad adalah termasuk kalimurrahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).

* Penetapan bahwa surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi telah melihat keduanya ketika Mi’raj.

* Dalam peristiwa Mi’raj Nabi tidak melihat Dzat Allah secara langsung, ini menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia, namun kelak bisa dilihat di akhirat.

* Nabi mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga dan bukan mimpi.

* Peristiwa ini termasuk tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, serta menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad di atas seluruh Nabi dan Rasul.

* Mengimani adanya perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits Isra’ Mi’raj seperti : Buraaq, para malaikat penjaga langit, adanya pintu langit, sidratul muntaha beserta sifat-sifatnya, surga dan neraka, dll.

* Penetapan bahwa jumlah para malaikat sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.

Wallahu a’lam.

ANTARA MEREBUT NAMA ALLAH DAN MEMPERTAHANKAN AKIDAH

ANTARA MEREBUT NAMA ALLAH DAN MEMPERTAHANKAN AKIDAH

BANYAK pihak mendesak saya memberi pandangan tentang penggunaan nama Allah oleh agama lain khususnya Kristian di Malaysia. Pada awalnya, saya selalu mengelak, cuma memberi pandangan ringkas dengan berkata: “Ini bukan isu nas Islam, ianya lebih bersifat pentadbiran atau tempatan. Peraturan ini mungkin atas alasan-alasan setempat seperti kenapa sekarang baru ditimbulkan isu ini? Kenapa hanya Bible bahasa Melayu sahaja yang hendak menggunakan panggilan Allah, tidak edisi Inggerisnya? Adakah ada agenda tersembunyi? Maka wujudnya tanda soal dan beberapa prasangka yang mungkin ada asasnya. Maka lahirlah kebimbangan terhadap kesan yang bakal timbul dari isu itu

Didesak

Namun, akhir-akhir ini saya terus didesak. Saya kata: “Jika anda hendak tahu pendirian Islam bukanlah dengan falsafah-falsafah tentang akar bahasa itu dan ini yang diutamakan. Rujuk terdahulu apa kata al-Quran dan al-sunah. Lepas itu kita bincang hukum berkenaan bertitik tolak dari kedua sumber tersebut. Kadangkala kesilapan kita dalam mempertahankan perkara yang tidak begitu penting, boleh melupakan kita kepada isu yang lebih penting. Isu terpenting adalah kefahaman mengenai keadilan dan kerahmatan Islam yang mesti sampai kepada setiap Muslim atau bukan Muslim di negara ini. Supaya gambaran negatif yang salah terhadap Islam dapat dikikis. Di samping itu, hendaklah kita jelas bahawa yang membezakan akidah Islam dan selainnya bukanlah pada sebutan, atau rebutan nama Allah, sebaliknya pada ketulusan tauhid dan penafian segala unsur syirik. Di samping, kita mesti bertanya : Mengapakah kita sentiasa merasakan akan menjadi pihak yang tewas jika orang lain memanggil Tuhan Allah? Mengapakah tidak dirasakan itu lebih memudahkan bagi menyampaikan kepada mereka tentang akidah Islam? Maka apakah isu ini bertitik tolak dari nas-nas Islam atau kebimbangan disebabkan kelemahan umat Islam?”

Jika kita membaca al-Quran, kita dapati ia menceritakan golongan musyrikin yang menentang Nabi Muhammad s.a.w. juga menyebut nama Allah dan al-Quran tidak membantah mereka, bahkan itu dijadikan landasan untuk memasukkan akidah Islam yang sebenar. Firman Allah: (maksudnya) Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” Sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah! (jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan? Dan (Dialah Tuhan Yang mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman! (Surah al-Zukhruf ayat 87-88). Firman Allah dalam ayat yang lain: (maksudnya) Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “Siapakah yang menurunkan hujan dari langit, lalu dia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya?” Sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah.” Ucapkanlah (wahai Muhammad): “Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian), bahkan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal (untuk memahami tauhid) (surah al-Ankabut ayat 63). Ayat-ayat ini, bahkan ada beberapa yang lain lagi menunjukkan al-Quran tidak membantah golongan bukan Muslim menyebut Allah sebagai Pencipta Yang Maha Agung. Bahkan Nabi Muhammad s.a.w. disuruh mengucapkan kesyukuran kerana mereka mengakui Allah. Apa yang dibantah dalam ayat-ayat ini bukanlah sebutan Allah yang mereka lafazkan, sebaliknya ketidak tulusan tauhid yang menyebabkan akidah terhadap Allah itu dipesongkan atau bercampur syirik. Justeru, soal bukan Muslim mengakui Allah tidak dibantah oleh Islam, bahkan kita disuruh bersyukur kerana pengakuan itu. Cuma yang dibantah ialah kesyirikan mereka. Umpamanya, jika kita mendengar bukan muslim menyebut “Allah yang menurunkan hujan, atau menumbuhkan tumbuhan”, maka kita tentu gembira kerana dia mengakui kebesaran Allah. Apakah patut kita kata kepadanya: “Awak jangan kata Allah yang menurunkan hujan, atau mencipta itu dan ini, awak tidak boleh kata demikian kerana awak bukan Muslim, sebaliknya awak kena kata tokong awak yang menurun hujan.” Apakah ini tindakan betul? Tidakkah itu menjauhkan dia dari daerah ketuhanan yang sebenar? Kita sepatutnya berusaha mendekatkan dia kepada ajaran yang benar. Namun, jika dia berkata: “Tokong ini adalah Allah.” Saya kata: “Awak dusta, itu tidak benar! Maha Suci Allah dari dakwaan awak.”

Keamanan

Maka, ketika Allah menceritakan peranan peperangan dalam mempertahankan keamanan dan kesejahteraan manusia, Allah menyebut: (maksudnya)… Dan kalaulah Allah tidak mendorong setengah manusia menentang (pencerobohan) setengah yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja (kaum Nasrani), dan tempat-tempat sembahyang (kaum Yahudi), dan juga masjid-masjid (orang Islam) yang sentiasa disebut nama Allah banyak-banyak dalam semua tempat itu dan sesungguhnya Allah akan menolong sesiapa yang menolong agamanya (agama Islam); Sesungguhnya Allah Maha Kuat, lagi Maha Perkasa. (Surah al-Hajj ayat 40). Ayat ini mengakui tempat-tempat ibadah itu disebut nama Allah. Adapun berhubung dengan orang Kristian, Allah menyebut: (maksudnya) Sesungguhnya telah kafirlah mereka yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah salah satu dari yang tiga (triniti).” Padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa. (Surah al-Maidah ayat 73). Ayat ini tidak membantah mereka menyebut Allah, tetapi yang dibantah adalah dakwaan bahawa Allah adalah satu dari yang tiga.

Justeru itu kita lihat, orang-orang Kristian Arab memang memakai perkataan Allah dalam Bible, juga buku-buku doa mereka. Tiada siapa di kalangan ulama Muslimin sejak dahulu yang membantah. Jika ada bantahan di Malaysia, saya fikir ini mungkin atas alasan-alasan setempat. Cuma yang diharapkan, janganlah bantahan itu akhirnya memandulkan dakwah Islam dan menjadikan orang salah faham terhadap agama suci ini. Saya selalu bertanya sehingga bilakah kita di Malaysia akan begitu defensive, tidak memiliki antibodi dan tidak mahu berusaha menguatkannya dalam diri? Akhirnya, kita terus bimbang dan takut kepada setiap yang melintas. Padahal itu bukan sifat Islam. Islam agama yang ke hadapan, misi dan intinya sentiasa disebarkan. Sehingga Allah menyebut (maksudnya): Dan jika seseorang dari kalangan musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka berilah perlindungan kepadanya sehingga dia sempat mendengar keterangan-keterangan Allah (tentang hakikat Islam itu), kemudian hantarlah dia ke tempat yang selamat. Demikian itu (perintah tersebut) ialah kerana mereka itu kaum yang tidak mengetahui (hakikat Islam). (Surah al-Taubah ayat 6).

Ada orang tertentu yang berkata kepada saya: Nanti orang Islam keliru kerana sebutan nama Allah itu sama antara mereka dan Islam. Lalu rosak akidah orang Islam kita nanti. Saya berkata: “Jika sebutan nama Tuhan itulah yang menentukan akidah Islam, tentulah golongan musyrikin Mekah tidak memerlukan akidah yang dibawa oleh Nabi s.a.w. Mereka sekian lama memanggil Tuhan dengan panggilan Allah. Lihatlah bapa Nabi kita Muhammad bernama ‘Abdullah yang bermaksud hamba Allah. Tentu sekali bapa baginda lahir pada zaman jahiliah sebelum kemunculan baginda sebagai rasul. Nama itu dipilih oleh datuk nabi, Abdul Muttalib yang menjadi pemimpin Quraisy dahulu. Quraisy pada zaman jahiliah juga bertawaf dengan menyebut: Labbaikallahhumma yang bermaksud: Menyahut seruan-Mu ya Allah! Al- Imam Muslim dalam sahihnya meriwayatkan hadis mengenai perjanjian Hudaibiah antara Nabi s.a.w. dengan Quraisy Mekah, seperti berikut: “Sesungguhnya Quraisy membuat perjanjian damai dengan Nabi s.a.w. Antara wakil Quraisy ialah Suhail bin ‘Amr. Sabda Nabi s.a.w: Barangkali aku boleh tulis Bismillahirrahmanirrahim. Kata Suhail: Adapun Bismillah (dengan nama Allah), maka kami tidak tahu apa itu Bismillahirrahmanirrahim. Maka tulislah apa yang kami tahu iaitu BismikalLahumma (dengan nama-Mu Ya Allah!).” Dalam riwayat al-Bukhari, Nabi s.a.w. menerima bantahan tersebut. Ternyata mereka menggunakan nama Allah.

Maka yang membezakan akidah Islam dan selainnya adalah tauhid yang tulus yang menentang segala unsur syirik. Ketidak jelasan dalam persoalan inilah yang menggugat akidah generasi kita. Mereka yang berakidah dengan akidah Islam sangat sensitif kepada sebarang unsur syirik agar tidak menyentuh akidahnya. Bukan semua yang mengakui Allah akan dianggap beriman dengan iman yang sah selagi dia tidak membersihkan diri dari segala unsur syirik. Lihat, betapa ramai yang memakai serban dan jubah, berzikir sakan tetapi pada masa yang sama menyembah kubur-kubur tok wali tertentu. Ini yang dilakukan oleh sesetengah tarekat yang sesat. Apa beza mereka ini dengan yang memanggil nama-nama berhala yang asalnya dari nama orang- orang saleh juga, yang mati pada zaman dahulu. Firman Allah: (maksudnya) Ingatlah! Untuk Allah agama yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung (sambil berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya. Sesungguhnya Allah akan menghukum antara mereka tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik). (Surah al-Zumar ayat 3). Di Malaysia kita pun ada yang memakai gelaran agama menentang pengajaran tauhid rububiah, uluhiah, asma dan sifat. Mereka ini menyimpan agenda musuh-musuh dakwah. Padahal pengajaran tauhid yang sedemikianlah yang mampu menjadikan Muslim memahami dengan mudah hakikat tauhid. Mampu membezakan antara; sekadar mempercayai kewujudan Allah dengan mentauhidkan Allah dalam zat-Nya, ibadah kepada-Nya dan sifat-sifat-Nya.

Mudah

Persoalan tauhid antisyirik ini begitu mudah dan ringkas untuk memahaminya. Nabi s.a.w. telah menyebarkannya dengan begitu pantas dan mudah. Seorang Badwi buta huruf yang datang berjumpa baginda mampu memahami hanya dalam beberapa sesi ringkas. Bahkan mampu pulang dan mengislamkan seluruh kaumnya dengan akidah yang teguh. Namun, di kalangan kita, pengajaran akidah yang dinamakan ilmu kalam begitu berfalsafah dan menyusahkan. Bukan sahaja Badwi, orang universiti pun susah nak faham. Sehingga seseorang bukan bertambah iman, tetapi tambah serabut. Bertahun-tahun masih kesamaran. Diajar Allah ada, lawannya tiada, dengar lawannya pekak, lihat lawannya buta… lalu ditokok tambah dengan falsafah-falsafah dan konsep-konsep yang menyusahkan. Padahal penganut agama lain juga menyatakan Tuhan itu ada, melihat, tidak buta, mendengar, tidak pekak dan seterusnya. Apa bezanya jika sekadar memahami perkara tersebut? Maka anak-anak orang Islam kita gagal memahami hakikat tauhid antisyirik yang sebenar. Padahal ianya begitu mudah semudah memahami kalimah-kalimah akidah dalam surah al-Ikhlas yang ringkas. Kata Dr. Yusuf al-Qaradawi: “Tambahan pula, perbahasan ilmu kalam, sekalipun mendalam dan kepenatan akal untuk memahami dan menguasainya, ia bukannya akidah… Lebih daripada itu perbahasan ilmu kalam telah terpengaruh dengan pemikiran Yunan dan cara Yunan dalam menyelesaikan masalah akidah. Justeru itu imam-imam salaf mengutuk ilmu kalam dan ahlinya serta berkeras terhadap mereka.” (Al-Qaradawi, Thaqafah al-Da‘ iyah, m.s. 92 Beirut: Muassasah al-Risalat). Dahulu kelemahan ini mungkin tidak dirasa, tetapi apabila kita hidup dalam dunia persaingan, kita mula menderitai kesannya.

Jika akidah generasi kita jelas, apakah mereka boleh keliru antara ajaran Islam dan Kristian? Adakah mereka tidak tahu beza antara ajaran yang menyebut Tuhan bapa, Tuhan anak dan ruhul qudus dengan akidah Islam yang antisyirik, hanya disebabkan adanya sebutan Allah? Begitu jauh sekali perbezaan itu! Bagaimana mungkin sehingga mereka tidak dapat membezakan antara malam dan siang? Apakah nanti kita tidak membenarkan pihak lain menyebut nama Nabi Ibrahim, Ishak, Ya‘kub, Daud dan lain-lain kerana budak-budak akan keliru lagi. Akidah apakah yang mereka belajar di KAFA, JQAF dan pelbagai lagi sehingga begitu corot. Kalau begitu, sama ada sukatan itu lemah, atau tenaga pengajarnya perlu dibetulkan.

Maka sebenarnya, ini adalah isu kelemahan umat Islam memahami akidah yang sebenar. Generasi kita tidak mempunyai benteng akidah yang kukuh. Lalu kita bimbang mereka keliru dengan akidah orang lain. Untuk mengatasi masalah ini, kita cuba mengambil pendekatan undang-undang. Agar dengan halangan undang-undang, kelemahan akidah generasi kita dapat dipertahankan. Persoalan yang patut kita fikirkan, sehingga bila kita mampu terus hidup hanya berbekalkan oksigen dari saluran undang-undang sehingga kita yang majoriti, dengan segala peruntukan yang ada; TV, radio, pelbagai institusi dan agensi yang dilindungi, masih takut kepada gerakan minoriti? Di manakah kehebatan Islam yang selalu kita sebut dan ceritakan sejarah kegemilangannya? Atau sebenarnya, kita tidak memiliki Islam seperti hari ia diturunkan? Maka kempen Islam kita selalu tidak berkesan. Bagi saya, bukan soal nama Allah itu yang terlalu perlu untuk direbut atau dijadikan agenda besar. Tetapi, gerakan membina semula akidah yang sejahtera dan memahamkan generasi kita wajah Islam yang sebenar agar mampu bersaing dan menghadapi cabaran zaman.

MENYEMBELIH BINATANG BUKAN KARENA ALLAH

MENYEMBELIH BINATANG BUKAN KARENA ALLAH.

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لاشريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين[

          “Katakanlah, bahwa sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al An’am, 162-163).

] فصل لربك وانحر[

“Maka dirikanlah sholat untuk Rabbmu, dan sembelihlah korban(untukNya)” (QS. Al Kautsar, 2)

          Ali bin Abi Tholib Radhiallahu’anhu berkata :

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku tentang empat perkara :

“لعن الله من ذبح لغير الله، لعن الله من لعن والديه، لعن الله من آوى محدثا، لعن الله من غير منار الأرض”

          “Allah melaknat orang-orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah, Allah melaknat orang-orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang-orang yang melindungi orang yang berbuat kejahatan, dan Allah melaknat orang-orang yang merubah tanda batas tanah”. (HR. Muslim)

Thoriq bin Syihab Radhiallahu’anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“دخل الجنة رجل في ذباب, ودخل النار رجل في ذباب، قالوا : وكيف ذلك يا رسول الله ؟، قال : مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئا، فقالوا لأحدهما قرب، قال : ليس عندي شيء أقرب، قالوا له : قرب ولو ذبابا، فقرب ذبابا فخلوا سبيله فدخل النار، وقالوا للآخر : قرب، فقال : ما كنت لأقرب لأحد شيئا دون الله U، فضربوا عنقه فدخل الجنة ” رواه أحمد.

          “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula, para sahabat bertanya : bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah, Rasul menjawab : “Ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya lebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu diantara kedua orang tadi : persembahkanlah sesuatu untuknya, ia menjawab : saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan untuknya,  mereka berkata lagi : persembahkan untuknya walaupun dengan seekor lalat, maka iapun persembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka lepaskan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk kedalam neraka karenanya, kemudian mereka berkata lagi pada seseorang yang lain : persembahkalah untuknya sesuatu, ia menjawab : aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah, maka merekapun memenggal lehernya, dan iapun masuk kedalam surga”. (HR. Ahmad).

 Kandungan bab ini :

Penjelasan tentang makna ayat قل إن صلاتي ونسكي …

Penjelasan tentang makna  ayat فصل لربك وانحر ….

Orang yang pertama kali dilaknat oleh Allah berdasarkan hadits diatas adalah orang yang menyembelih karena selain Allah.

Dilaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, hal itu bisa terjadi bila ia melaknat kedua orang tua seseorang, lalu orang tersebut melaknat kedua orang tuanya.

Dilaknat orang yang melindungi pelaku kajahatan, yaitu orang yang memberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan kejahatan yang wajib diterapkan kepadanya hukum Allah.

Dilaknat pula orang yang merubah tanda-batas tanah, yaitu merubah tanda yang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganya, dengan digeser maju atau mundur.

Ada perbedaan antara melaknat orang tertentu dengan melaknat orang-orang ahli maksiat secara umum.

Adanya kisah besar dalam hadits ini, yaitu kisah seekor lalat.

Masuknya orang tersebut kedalam neraka disebabkan karena mempersembahkan seekor lalat yang ia sendiri tidak sengaja berbuat demikian, tapi ia melakukan hal tersebut untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu.

Mengetahui kadar kemusyrikan yang ada dalam hati orang-orang mukmin, bagaimana ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lahiriyah saja.

Orang yang masuk neraka dalam hadits ini adalah orang Islam, karena jika ia orang kafir, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak akan bersabda : “ … masuk neraka karena sebab lalat …”

Hadits ini merupakan suatu bukti bagi hadits shoheh yang mengatakan :

                                    “الجنة أقرب إلى أحدكم من شراك نعله والنار مثل ذلك”

“Sorga itu lebih dekat kepada seseorang dari pada tali sandalnya sendiri, dan neraka juga demikian”

Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang sangat penting, walaupun bagi para pemuja berhala.

MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH DILARANG DILAKUKAN

MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH DILARANG DILAKUKAN

DI TEMPAT PENYEMBELIHAN YANG BUKAN KARENA ALLAH

Firman Allah  Subhanahu wata’ala :

]والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا وتفريقا بين المؤمنين وإرصادا لمن حارب الله ورسوله من قبل وليحلفن إن أردنا إلا الحسنى والله يشهد إنهم لكذبون لا تقم فيه أبدا لمسجد أسس على التقوى من أول يوم أحق أن تقوم فيه فيه رجال يحبون أن يتطهروا والله يحب المتطهرين[

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharotan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu). Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadikan saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu dirikan sholat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. At Taubah, 107 –108)

          Tsabit bin Dhohhak Radhiallahu’anhu berkata :

نذر رجل أن يذبح إبلا ببوانة، فسأل النبي فقال :” هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد ؟” قالوا : لا، قال :” فهل كان فيها عيد من أعيادهم ؟” قالوا : لا، فقال رسول الله :” أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله ولا فيما لا يملك ابن آدم”. رواه أبو داود وإسناده على شرطهما.

          “Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih onta di Buwanah([1]), lalu ia bertanya kepada Rasulullah, maka Nabi bertanya : “Apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah oleh orang-orang jahiliyah ? para sahabat menjawab : tidak, dan Nabipun bertanya lagi : “Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka ? para sahabatpun menjawab : tidak, maka Nabipun menjawab : “Laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang” (HR. Abu Daud, dan Isnadnya menurut persyaratan Imam Bukhori dan Muslim).

Kandungan bab ini :

Penjelasan tentang firman Allah Subhanahu wata’ala yang telah disebutkan di atas ([2]).

Kemaksiatan itu bisa berdampak negatif, sebagaimana ketaatan berdampak positif.

Masalah yang masih meragukan hendaknya dikembalikan kepada masalah yang sudah jelas, agar keraguan itu menjadi hilang.

Diperbolehkan bagi seorang mufti untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum berfatwa untuk mendapatkan keterangan yang jelas.

Mengkhususkan tempat untuk bernadzar tidak dilarang selama tempat itu bebas dari  hal-hal yang terlarang.

Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat, jika di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah pada masa jahiliyah, walaupun semuanya sudah dihilangkan.

Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat untuk bernadzar, jika tempat itu pernah digunakan untuk melakukan perayaan orang-orang jahiliyah, walaupun hal itu sudah tidak dilakukan lagi.

Tidak diperbolehkannya melakukan nadzar di tempat-tempat tersebut, karena nadzar tersebut termasuk kategori nadzar maksiat.

Harus dihindari perbuatan yang menyerupai orang-orang musyrik dalam acara-acara keagamaan dan perayaan-perayaan mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.

Tidak boleh bernadzar untuk melaksanakan kemaksiatan.

Tidak boleh seseorang bernadzar dalam hal yang tidak menjadi hak miliknya.

([1])    Buwanah : nama suatu tempat di sebelah selatan kota Makkah, sebelum Yalamlam; atau anak bukit sebelah Yanbu’.

([2])   Ayat ini menunjukkan pula bahwa menyembelih binatang dengan niat karena Allah dilarang dilakukan di tempat yang dipergunakan oleh orang-orang musyrik untuk menyembelih binatang, sebagaimana sholat dengan niat karena Allah dilarang dilakukan di masjid yang didirikan atas dasar maksiat kepada Allah.

BERNAZAR UNTUK SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

BERNAZAR UNTUK SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا[

“Mereka menepati nadzar  dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan, 7)

]وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه[

“Dan apapun yang kalian nafkahkan, dan apapun yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Al Baqarah, 270).

          Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله فلا يعصه”

“Siapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka ia wajib mentaatinya, dan barang siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka ia tidak boleh bermaksiat kepadaNya (dengan melaksanakan nadzarnya itu).”

        Kandungan bab ini :

Menunaikan nadzar adalah wajib.

Apabila sudah menjadi ketetapan bahwa nadzar itu ibadah kepada Allah, maka memalingkannya kepada selain Allah adalah syirik.

Dilarang melaksanakan nadzar yang maksiat.

MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا[

“Bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan” (QS. Al jin, 6).

Khaulah binti Hakim menuturkan : aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من نزل منـزلا فقال : أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرحل من منـزله ذلك “.  رواه مسلم

“Barang siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia berdo’a :

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

(aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) maka tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu” (HR. Muslim).

        Kandungan bab ini :

Penjelasan tentang maksud ayat yang ada dalam surat Al Jin ([1]).

Meminta perlindungan kepada selain Allah (jin) adalah syirik.

Hadits tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah itu bukan makhluk, karena minta perlindungan kepada makhluk itu syirik.

Keutamaan doa ini walaupun sangat singkat.

Sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia, baik dengan menolak kejahatan atau mendatangkan keberuntungan tidak berarti sesuatu itu tidak termasuk syirik.

([1])   Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa ada di antara manusia yang meminta perlindungan kepada jin agar merasa aman dari apa yang mereka khawatirkan, akan tetapi jin itu justru menambah dosa dan rasa khawatir bagi mereka, karena mereka tidak meminta perlindungan kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa isti’adzah (meminta perlindungan(  kepada selain Allah adalah termasuk syirik dan terlarang.