PERBEZAAN OTAK MANUSIA DAN OTAK BINATANG

Perbedaan Otak Manusia Dan Binatang

Dalam bahasa Arab ada ungkapan yang sangat terkenal, yakni Al insaanu hayawaan naatiq, yang bermakna: manusia adalah haiwan yang berakal. Dengan kata lain, jika manusia tidak menggunakan akalnya akan menjadi seperti binatang. Itu pula yang disebut al Qur’an dalam QS. 7: 179, yakni orang-orang yang tidak menggunakan Hati (Qalb), penglihatan (bashar), dan pendengaran (sama’) untuk memahami dan mengerti suatu masalah yang dihadapinya.

Maka dalam konteks pembahasan otak, kita lantas boleh mencari keterkaitan antara bagian-bagian otak dengan fungsi akal pada manusia. Binatang punya otak, manusia juga punya otak. Tetapi, kenapa binatang yang punya otak itu dikatakan tidak punya akal? Kalau begitu, tidak selalu makhluk yang punya otak disebut berakal. Jadi rupanya, fungsi akal itu terkait erat dengan keberadaan sesuatu di otak manusia yang tidak terdapat pada binatang. Apakah bahagian di otak manusia yang tidak terdapat pada otak binatang?

Secara sederhana, perbedaan yang mendasar antara otak binatang dan manusia terdapat pada lapisan terluar otaknya. Inilah yang disebut sebagai Cortex Cerebri, atau sering disebut Cortex saja. Disinilah pusat aktifitas pikiran manusia berada. Dan, ternyata seluruh peradaban manusia dihasilkan oleh aktifitas kulit otak ini. Itu pula, kenapa dunia binatang tidak memiliki peradaban seperti manusia – tidak punya sains, teknologi, seni budaya, bahkan agama – karena mereka tidak mempunyai Cortex tersebut di otaknya.

Lebih jauh, adalah menarik mendapati kenyataan bahawa pusat penglihatan dan pendengaran manusia ternyata juga terdapat di Cortex-nya. Pusat penglihatan berada di kulit otak bahagian belakang, sedangkan pusat pendengaran berada di bahagian samping. Berarti, proses melihat dan mendengar itu sebenarnya identik dengan proses berpikir. Orang yang melamun, meskipun boleh melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga, dia tidak boleh memahami apa yang sedang dilihat dan didengarnya. Pada saat demikian, dia tidak sedang mengaktifkan daya pikir Cortexnya secara utuh, sehingga boleh disebut setara dengan binatang. Itulah orang yang disebut lalai oleh al Qur’an.

Penyetaraan manusia dengan binatang bukan hanya dikaitkan dengan fungsi melihat dan mendengar yang tanpa berpikir, melainkan juga terkait dengan merasakan getaran Qalb yang melahirkan kefahaman. Seperti sudah kita bicarakan, getaran Qalb yang ada di jantung merupakan resonansi getaran yang berasal dari Sistem Limbik di otak tengah. Dengan kata lain, Qalb merupakan cerminan apa yang terjadi di Sistem Limbik. Masalahnya, getaran apakah yang paling dominan sedang mengisi Sistem Limbik, maka itulah yang diresonansikan ke jantung.

Apakah Sistem Limbik hanya berisi getaran emosional yang bersumber dari Amygdala? Ternyata tidak, kerana Sistem Limbik juga merujuk ke getaran rasional yang bersumber dari Hipocampus. Getaran yang muncul di otak tengah ini sebenarnya sudah merupakan perpaduan antara emosi dan rasio. Itulah yang dikenal sebagai perasaan yang kemudian menggetarkan jantung.

Pada kenyataannya, Hipocampus merupakan pusat memori yang menyimpan kesimpulan proses-proses rasional yang terjadi di Cortex. Secara fisiologis, Hipocampus terbentuk dari perluasan kulit otak yang melipat ke bahagian dalam otak tengah. Bentuknya seperti huruf C. Dengan demikian, meskipun Hipocampus berada di bahagian dalam otak, sebenarnya ia adalah bahagian dari Cortex yang bekerja secara rasional, logis, dan analitis pula.

Maka, proses berpikir lewat penglihatan dan pendengaran yang terjadi di Cortex pun bakal masuk dan tersimpan di Hipocampus. Dan setelah dikoordinasikan dengan fungsi Amygdala, beserta komponen Sistem Limbik lainnya, ia akan menjadi getaran yang diteruskan ke jantung sebagai desiran Qalb. Saat itulah kita merasakan sensasi perasaan.

Sehingga, sungguh menarik memahami mekanisme otak terkait dengan yang disebut AKAL. Ternyata akal adalah PERPADUAN antara fungsi utama otak manusia yang ada di kulit luar alias Cortex, dengan emosi yang ada di dalam Amygdala, dan kemudian menimbulkan getaran perasaan yang terasa di jantung (Qalb). Dengan kata lain, di Cortex-lah terjadi proses berpikir, di Sistem Limbik terjadi percampuran antara pikiran rasional dan perasaan emosional, dan di jantunglah indikasi maksimum-tidaknya proses berakal tersebut.

Yang demikian ini diceritakan di dalam al Qur’an, bahwa orang-orang yang berakal adalah orang-orang yang memadukan fungsi antara pikiran (Cortex) dan perasaan (sistem limbik) secara maksimum, sehingga ketika memperoleh keyakinan (kesimpulan tertinggi berupa keimanan) bakal menggetarkan jantung-hati (Qalb), yang berada di dalam dada.

QS. Ali Imran (3): 191

(Orang yang berakal adalah) orang-orang yang mengingat (yadzkuruna) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka berpikir (yatafakkaruna) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS. Al Anfaal (8): 2

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (yakin seyakin-yakinnya) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati (Qalb) mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,

Maka apakah kesimpulan yang boleh diambil terkait dengan Akal dan Otak?

Ternyata peran akal sangat dipengaruhi oleh keberadaan kulit otak yang disebut sebagai Cortex. Otak binatang tidak memiliki bagian ini, sehingga dia tidak mempunyai akal. Sedangkan perasaan, muncul di otak tengah yang dikenal sebagai Sistem Limbik. Sistem ini tidak hanya terdiri dari emosi yang bersumber pada Amygdala belaka, melainkan juga dipengaruhi oleh pikiran-pikiran rasional yang berasal dari Hipocampus.

Kerana itu, kita lantas mengenal adanya perasaan yang rasional dan perasaan yang emosional. Misalnya, ada perasaan sedih yang tidak jelas jluntrungannya, tetapi ada juga perasaan sedih yang jelas penyebabnya. Ada perasaan gembira yang tidak jelas asal-usulnya, tetapi ada pula yang jelas penyebabnya. Ada perasaan takut dan khawatir yang muncul tiba-tiba, tapi ada yang didahului suatu peristiwa sebelumnya. Dan seterusnya. Namun, sangat jelas bahawa semua perasaan itu tetap sahaja muncul menjadi getaran Qalb di dalam dada kita…!

Wallahu a’lam bishshawab

http://catatan-agha.blogspot.com/2012/01/perbedaan-otak-manusia-dan-binatang.html

ANGIN TANDA KEDATANGAN HUJAN

KEAJAIBAN HUJAN

Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.


Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, (40):48)

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama: “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.
Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum, (40):48)

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama: “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

http://catatan-agha.blogspot.com/2011/07/keajaiban-hujan.html

KEAJAIBAN SAINS TENTANG AL-QURAN

ADAKAH benar bahawa al-Quran bukanlah satu kitab yang hanya menceritakan tentang hukum-hakam agama, tetapi la juga menceritakan tentang alam semesta dan kehidupan manusia?

Al-Quran diturunkan kepada kita untuk dijadikan petunjuk supaya kita mendapat penjelasan tentang setiap suatu kesulitan sepertimana firman Allah s.w.t. dalam surah al-Nahi, ayat 89 yang bermaksud: “Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran bagi menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang Islam. Al-Quran bukan hanya kitab yang menceritakan tentang hukum-hakam agama, tetapi ia juga menceritakan tentang sains.

Sains adalah penemuan berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan oleh manusia. Secara amnya, penemuan penemuan yang sahih tentang kejadian alam semesta ini tidak akan sekali-kali bercanggah dengan apa yang terkandung dalam al-Quran. Hal ini disebabkan kedua-duanya diciptakan oleh Allah s.w.t. Oleh itu, kedua-dunya saling berhubung kait.

“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas kepada mereka bahawa al-Quran adalah benar. Belumkah ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahawa Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan tiap-tiap sesuatu??

Angguk Ge

Dr. Maurice Bucaille telah mengarang sebuah buku yang bertajuk Le Bible, le Coran et la Science. Dalam buku itu, beliau membandingkan ayat-ayat tentang sains dalam Bible dan dalam al-Quran. Beliau mendapati ayat sains dalam al-Quran tidak bercanggah langsung dengan kajian serta penemuan sains.

Ramai saintis yang mengakui kebenaran al-Quran, antaranya Profesor E.Marshall Johnson. Beliau berkata: “Al-Quran menerangkan bukan sahaja tentang pembangunan bentuk luaran, tetapi juga menekankan peringkat dalaman, tahap perkembangan embrio, penciptaan dan pembangunan, menekankan peristiwa-peristiwa besar yang diiktiraf oleh sains kontemporari. Di sini, jelaslah bahawa al-Quran dan sains saling berhubung. Penemuan penemuan sains yang sahih akan menampakkan lagi kebenaran al-Quran.

Kejadian awan dan hujan mengikut sains adalah apabila dalam udara terdapat lebih banyak wap air kerana air lebih cepat tersejat. Udara panas yang sarat dengan wap air ini akan naik tinggi sehingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, wap-wap air ini akan mencair dan terbentuklah awan, dan awan adalah molekul-molekul air yang banyak.

Apabila keadaan atmosfera menjadi lembap, udara dan wap air akan menjadi semakin tepu. Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan graviti bumi akan menariknya ke bawah sehingga sampai di satu peringkat, titik-titik itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan, Bolehkah kejadian ini dibuktikan di dalam al-Quran?

Allah s.w.t. telah berfirman dalam surah al-A’raf, ayat ke-57 yang bermaksud: “Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (iaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halakannya ke negeri yang mati (ke daerah yang kering kontang), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan. Demikianlah pula Kami mengeluarkan (menghidupkan semula) orang yang telah mati, supaya kamu beringat (mengambil pelajaran daripadanya).”

Allah s.w.t. juga berfirman dalam surah al-Hijr, ayat 22 yang bermaksud: “Dan Kami hantarkan angin sebagai pembawa air dan pemindah benih, maka dengan itu, Kami menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian Kami berikan kamu meminumnya. Bukan kamu yang (berkuasa menurunkannya atau) menyimpannya.”

Di sini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang ayat: “Kami hantarkan angin sebagai pembawa air… Sains telah mengesahkan bahawa terdapat perkara saintifik yang disebut dalam ayat di atas seperti angin membawa zarah air ke dalam atmosfera. Ini terbukti bahawa angin bukan sahaja membawa air yang tersejat dari bumi, tetapi juga membawa habuk yang terkumpul di dalamnya kerana sudah menjadi lumrah alam, habuk akan sentiasa berkumpul di mana ada tiupan angin.

Awan pula terbentuk daripada wap air yang terkondensasi di sekeliling habuk di udara. Titisan titisan air dalam awan yang sangat kecil berdiameter antara 0.01-0.02 mm menyebabkan awan tergantung di udara, dan tersebar ke seluruh langit. Oleh sebab itu, langit dipenuhi dengan awan. Zarah air yang mengelilingi habuk di udara menebal dan membentuk titisan hujan. Titisan yang menjadi lebih berat daripada awan akan jatuh ke bumi sebagai hujan..

Ahli meteorologi hanya menemui tentang pembentukan awan, bentuk awan dan fungsinya dengan menggunakan alatan moden seperti kapal terbang, satelit, komputer, belon kaji cuaca, dan lain-lain peralatan lagi. Padahal, Allah s.w.t. telah menyatakannya dalam al Quran sejak dahulu lagi. Ini menunjukkan bahawa al-Quran adalah sebuah kitab yang mengandungi semua jenis Ilmu. Gambar rajah di bawah menunjukkan tentang kejadian awan dan hujan.

Bagaimana tentang awan kumulonimbus? Adakah al-quran menerangkan tentangnya juga? Ya. Ahli meteorologi mendapati bahawa awan kumulonimbus yang membawa hujan batu mencapai ketinggian 25,000 hingga 30,000 kaki iaitu 4.7 hingga 5.7 batu seperti gunung ganang.

Allah berfirman yang bermaksud: “…Dan Allah pula menurunkan hujan batu dari langit, dari

gunung-ganang (awan) yang ada padanya…” (Surah al-Nur 24:43)

“Gunung-ganang” yang dinyatakan oleh Allah s.w.t. dalam ayat di atas adalah satu bentuk awan yang besar yang digelarkan oleh ahli sains sebagai awan kumulonimbus. Kumulonimbus adalah sejenis kumpulan awan yang berlapis-lapis dan tinggi serta tebal

sepertimana firman Allah S.W.T yang bermaksud: “… kemudian Dia menjadikannya tebal

berlapis-lapis..” (Surah al-Nur 24: 43)

Pembentukan awan ini adalah hasil daripada ketidakstabilan atmosfera. Awan ini boleh membentuk dengan sendiri, dalam kelompok atau di sepanjang front sejuk di garisan squall (badai). Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: “Tidakkah engkau melihat bahawasanya Allah mengarahkan awan bergerak perlahan-lahan, kemudian Dia mengumpulkan kelompok kelompoknya…” (Surah al-Nur 24: 43) Ayat Allah s.w.t. di atas ini menerangkan tentang peringkat pembentukan awan kumulonimbus.

Peringkat pertama pembentukan awan kumulonimbus adalah apabila angin menolak awan awan kecil ke kawasan awan-awan ini bertumpu. Kemudian pada peringkat kedua, awan awan kecil ini akan bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

Peringkat ketiga ialah penimbunan awan-awan kecil.

Penggabungan awan-awan kecil menyebabkan updrafts dalam awan yang besar itu bertambah. Updrafts yang berada di tengah-tengah awan lebih kuat daripada updrafts yang berada di tepi awan. Updrafts ini menyebabkan awan membesar secara menegak. Pembesaran menegak ini menyebabkan fizikal awan menganjal ke bahagian lebih sejuk dalam atmosfera, dan titisan air dan air batu terbentuk dan mulai membesar. Apabila titisan titisan air dan air batu ini menjadi sangat berat untuk updrafts membawanya, ia mulai jatuh dari awan ini sebagai hujan dan hujan batu.

Peringkat kejadian awan ini telah Allah s.w.t. nyatakan dalam surah al-Nur, ayat 43 secara lengkapnya: “Tidakkah engkau melihat bahawa Allah mengarahkan awan bergerak perlahan lahan, kemudian Dia mengumpulkan kelompok-kelompoknya, kemudian Dia menjadikannya tebal berlapis-lapis? Selepas itu engkau melihat hujan turun dari celah-celahnya. Dan Allah pula menurunkan hujan batu dari langit, dari gunung-ganang (awan) yang ada padanya; lalu Ia menimpakan hujan batu itu kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan menjauhkannya daripada sesiapa yang dikehendakiNya. Sinaran kilat yang terpancar dari awan yang demikian keadaannya, hampir-hampir menyambar dan menghilangkan pandangan.”http://www.addeen.my/index.php/rohani/islam-sains?start=8

KEAJAIBAN SAINS TENTANG AL-QURAN

KEAJAIBAN SAINS TENTANG AL-QURAN

ADAKAH benar bahawa al-Quran bukanlah satu kitab yang hanya menceritakan tentang hukum-hakam agama, tetapi la juga menceritakan tentang alam semesta dan kehidupan manusia?

Al-Quran diturunkan kepada kita untuk dijadikan petunjuk supaya kita mendapat penjelasan tentang setiap suatu kesulitan sepertimana firman Allah s.w.t. dalam surah al-Nahi, ayat 89 yang bermaksud: “Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran bagi menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang Islam. Al-Quran bukan hanya kitab yang menceritakan tentang hukum-hakam agama, tetapi ia juga menceritakan tentang sains.

Sains adalah penemuan berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan oleh manusia. Secara amnya, penemuan penemuan yang sahih tentang kejadian alam semesta ini tidak akan sekali-kali bercanggah dengan apa yang terkandung dalam al-Quran. Hal ini disebabkan kedua-duanya diciptakan oleh Allah s.w.t. Oleh itu, kedua-dunya saling berhubung kait.

“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas kepada mereka bahawa al-Quran adalah benar. Belumkah ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahawa Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan tiap-tiap sesuatu??

Angguk Ge

Dr. Maurice Bucaille telah mengarang sebuah buku yang bertajuk Le Bible, le Coran et la Science. Dalam buku itu, beliau membandingkan ayat-ayat tentang sains dalam Bible dan dalam al-Quran. Beliau mendapati ayat sains dalam al-Quran tidak bercanggah langsung dengan kajian serta penemuan sains.

Ramai saintis yang mengakui kebenaran al-Quran, antaranya Profesor E.Marshall Johnson. Beliau berkata: “Al-Quran menerangkan bukan sahaja tentang pembangunan bentuk luaran, tetapi juga menekankan peringkat dalaman, tahap perkembangan embrio, penciptaan dan pembangunan, menekankan peristiwa-peristiwa besar yang diiktiraf oleh sains kontemporari. Di sini, jelaslah bahawa al-Quran dan sains saling berhubung. Penemuan penemuan sains yang sahih akan menampakkan lagi kebenaran al-Quran.

Kejadian awan dan hujan mengikut sains adalah apabila dalam udara terdapat lebih banyak wap air kerana air lebih cepat tersejat. Udara panas yang sarat dengan wap air ini akan naik tinggi sehingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, wap-wap air ini akan mencair dan terbentuklah awan, dan awan adalah molekul-molekul air yang banyak.

Apabila keadaan atmosfera menjadi lembap, udara dan wap air akan menjadi semakin tepu. Apabila awan telah terbentuk, titik-titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan graviti bumi akan menariknya ke bawah sehingga sampai di satu peringkat, titik-titik itu akan terus jatuh ke bawah dan turunlah hujan, Bolehkah kejadian ini dibuktikan di dalam al-Quran?

Allah s.w.t. telah berfirman dalam surah al-A’raf, ayat ke-57 yang bermaksud: “Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (iaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halakannya ke negeri yang mati (ke daerah yang kering kontang), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan. Demikianlah pula Kami mengeluarkan (menghidupkan semula) orang yang telah mati, supaya kamu beringat (mengambil pelajaran daripadanya).”

Allah s.w.t. juga berfirman dalam surah al-Hijr, ayat 22 yang bermaksud: “Dan Kami hantarkan angin sebagai pembawa air dan pemindah benih, maka dengan itu, Kami menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian Kami berikan kamu meminumnya. Bukan kamu yang (berkuasa menurunkannya atau) menyimpannya.”

Di sini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang ayat: “Kami hantarkan angin sebagai pembawa air… Sains telah mengesahkan bahawa terdapat perkara saintifik yang disebut dalam ayat di atas seperti angin membawa zarah air ke dalam atmosfera. Ini terbukti bahawa angin bukan sahaja membawa air yang tersejat dari bumi, tetapi juga membawa habuk yang terkumpul di dalamnya kerana sudah menjadi lumrah alam, habuk akan sentiasa berkumpul di mana ada tiupan angin.

Awan pula terbentuk daripada wap air yang terkondensasi di sekeliling habuk di udara. Titisan titisan air dalam awan yang sangat kecil berdiameter antara 0.01-0.02 mm menyebabkan awan tergantung di udara, dan tersebar ke seluruh langit. Oleh sebab itu, langit dipenuhi dengan awan. Zarah air yang mengelilingi habuk di udara menebal dan membentuk titisan hujan. Titisan yang menjadi lebih berat daripada awan akan jatuh ke bumi sebagai hujan..

Ahli meteorologi hanya menemui tentang pembentukan awan, bentuk awan dan fungsinya dengan menggunakan alatan moden seperti kapal terbang, satelit, komputer, belon kaji cuaca, dan lain-lain peralatan lagi. Padahal, Allah s.w.t. telah menyatakannya dalam al Quran sejak dahulu lagi. Ini menunjukkan bahawa al-Quran adalah sebuah kitab yang mengandungi semua jenis Ilmu. Gambar rajah di bawah menunjukkan tentang kejadian awan dan hujan.

Bagaimana tentang awan kumulonimbus? Adakah al-quran menerangkan tentangnya juga? Ya. Ahli meteorologi mendapati bahawa awan kumulonimbus yang membawa hujan batu mencapai ketinggian 25,000 hingga 30,000 kaki iaitu 4.7 hingga 5.7 batu seperti gunung ganang.

Allah berfirman yang bermaksud: “…Dan Allah pula menurunkan hujan batu dari langit, dari

gunung-ganang (awan) yang ada padanya…” (Surah al-Nur 24:43)

“Gunung-ganang” yang dinyatakan oleh Allah s.w.t. dalam ayat di atas adalah satu bentuk awan yang besar yang digelarkan oleh ahli sains sebagai awan kumulonimbus. Kumulonimbus adalah sejenis kumpulan awan yang berlapis-lapis dan tinggi serta tebal

sepertimana firman Allah S.W.T yang bermaksud: “… kemudian Dia menjadikannya tebal

berlapis-lapis..” (Surah al-Nur 24: 43)

Pembentukan awan ini adalah hasil daripada ketidakstabilan atmosfera. Awan ini boleh membentuk dengan sendiri, dalam kelompok atau di sepanjang front sejuk di garisan squall (badai). Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud: “Tidakkah engkau melihat bahawasanya Allah mengarahkan awan bergerak perlahan-lahan, kemudian Dia mengumpulkan kelompok kelompoknya…” (Surah al-Nur 24: 43) Ayat Allah s.w.t. di atas ini menerangkan tentang peringkat pembentukan awan kumulonimbus.

Peringkat pertama pembentukan awan kumulonimbus adalah apabila angin menolak awan awan kecil ke kawasan awan-awan ini bertumpu. Kemudian pada peringkat kedua, awan awan kecil ini akan bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

Peringkat ketiga ialah penimbunan awan-awan kecil.

Penggabungan awan-awan kecil menyebabkan updrafts dalam awan yang besar itu bertambah. Updrafts yang berada di tengah-tengah awan lebih kuat daripada updrafts yang berada di tepi awan. Updrafts ini menyebabkan awan membesar secara menegak. Pembesaran menegak ini menyebabkan fizikal awan menganjal ke bahagian lebih sejuk dalam atmosfera, dan titisan air dan air batu terbentuk dan mulai membesar. Apabila titisan titisan air dan air batu ini menjadi sangat berat untuk updrafts membawanya, ia mulai jatuh dari awan ini sebagai hujan dan hujan batu.

Peringkat kejadian awan ini telah Allah s.w.t. nyatakan dalam surah al-Nur, ayat 43 secara lengkapnya: “Tidakkah engkau melihat bahawa Allah mengarahkan awan bergerak perlahan lahan, kemudian Dia mengumpulkan kelompok-kelompoknya, kemudian Dia menjadikannya tebal berlapis-lapis? Selepas itu engkau melihat hujan turun dari celah-celahnya. Dan Allah pula menurunkan hujan batu dari langit, dari gunung-ganang (awan) yang ada padanya; lalu Ia menimpakan hujan batu itu kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan menjauhkannya daripada sesiapa yang dikehendakiNya. Sinaran kilat yang terpancar dari awan yang demikian keadaannya, hampir-hampir menyambar dan menghilangkan pandangan.”

http://www.addeen.my/index.php/rohani/islam-sains?start=8

PENGARUH PERADABAN ISLAM TERHADAP DUNIA MATEMATIK

PENGARUH PERADABAN ISLAM TERHADAP DUNIA MATEMATIK

Pada awal kurun ke-7, satu tamadun baru muncul di tanah Arab. Dibawah pimpinan Muhammad s.a.w, dakwah yang bawa Rasulullah tersebar pesat dan luas menambat hati dan iman penduduk Semenanjung Arab. Kurang satu abad selepas kota Mekah dibuka semula pada tahun 630, kerajaan Islam telah berjaya menyebar luaskan agama Islam sehingga ke India dan hingga ke tengah benua Asia bagi bahagian timur.

Di bahagian barat, penyebaran agama Islam lebih cepat berlaku terutamanya dibahagian utara benua Afrika. Pada Tahun 711, Islam berjaya sampai ke Sepanyol. Hasil daripada penyebaran agama Islam hingga hampir dua per tiga dunia memberi perkembangan dan kemajuan kepada kerajaan Islam. Budaya Islam menjadi cara hidup manusia pada ketika itu.

Inilah titik permulaan kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Agama Islam telah membawa satu budaya yakni budaya cintakan ilmu yang sangat besar peranannya kepada dunia ilmu pengetahuan. Itulah cantiknya Islam, tidak pernah menolak bulat-bulat ilmu pengetahuan di dalam kehidupan.

Sejarah Matematik Islam

Ahli sejarah dan Ahli Matematik barat lebih suka merujuk perkembangan sejarah Matematik ditanah Arab sebagai Matematik Islam kerana ia adalah kesinambungan daripada ajaran Islam yang bawa Rasulullah yang mementingkan soal ilmu pengetahuan. Perkembangan Ilmu pengetahuan banyak berlaku di zaman pemerintahan Abbasiyyah yang dalam masa yang sama Eropah masih di Zaman Gelap. Oleh itu ilmu lebih banyak terbudaya dikalangan orang Islam manakala orang Eropah disekat hak untuk berfikir. Jadi, Matematik Islam lebih sesuai dengan daripada Matematik Arab.

Pada tahun 766, Khalifah Al-Mansur membuka kota Baghdad yang selepas itu menjadi tempat perkembangan Ilmu termasyhur didunia. Cendiakawan dan cerdik pandai dialu-alukan kedatangan mereka ke Kota Baghdad. Khalifah Harun al-Rashid yang memerintah dari tahun 786 hingga 809 telah menubuhkan perpustakaan di Baghdad. Manuskrip-manuskrip dikumpulkan dari pelbagai bidang dan akademi-akademi di timur barat terutamanya dari tamadun Yunani termasuk manuskrip Matematik Yunani Klasik dan teks-teks saintifik. Kemudian ia diterjemahkan ke bahasa Arab. Penganti Harun al-Rashid, Khalifah Al-Ma’mun meneruskan usaha ini pada skala yang lebih besar dan sehingga tertubuhnya Baitul Hikmah yang bertahan selama 200 tahun. Ilmuan-ilmuan dari seluruh bahagian dalam pemerintahan dijemput untuk menterjemahkan bahasa Greek dan India dan juga menjalankan penyelidikan.

Pada akhir kurun ke-9, pelbagai kertas-kertas kerja cendiakawan seperti Euclid, Archimedes, Apollionius, Diophantus, Plotemy dan ramai lagi ahli matematik Yunani diterjemahkan kebahasa arab untuk kegunaan ilmuan-ilmuan disana. Ilmuan-ilmuan islam bukan hanya mengumpul kajian-kajian lama, bahkan mereka telah mengembangkan ilmu-ilmu kepada satu perspektit baru yang lebih releven. Ini kerana ahli matematik sebelum mereka mengunakan matematik untuk perkara-perkara yang tidak penting kepada manusia seperti menghitung cinta dan sebagainya. Di dalam Matematik Islam, ia lebih banyak digunakan untuk perkara-perkara yang praktikal dan berguna untuk manusia, dan juga disebut sebagai Sunnatullah. Para Ilmuan Islam mengkaji dan berakhir dengan bertemu dengan Kebesaran Allah. Inilah beza antara saintis Islam dan saintis. Tujuan mereka adalah Allah.

Ilmuan Islam sentiasa memulakan kerja dengan lafaz “Basmalah”.

“The mathematicians responded by always invoking the name of God at the beginning and end of their works and even occasionally referring to Divine assistance throughout the texts” -(Victor J. Katz)

Terpegun membaca ayat ini. Subhanallah, begitulah akhlak ilmuan Islam dahulu yang sentiasa mengingati Allah dalam setiap perkerjaan yang mereka lakukan. Sentiasa memulakan dan mengakhiri dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, serta segala apa yang mereka berjaya hasilkan, mereka dikembalikan pujian hanya kepada Allah.

Tidak seperti ahli matematik Yunani, Ilmuan Islam tidak hanya berdasarkan teori, bahkan juga secara praktikal untuk memudahkan kehidupan seharian manusia, atau hari ini dikenali sebagai Applied Math atau matematik gunaan.

Hari ini, satu sejarah lengkap tentang Matematik Islam masih belum ditulis, kerana masih banyak tinggalan manuskrip Ilmuan Islam yang masih belum dikaji di perpustakaan seluruh dunia. Oleh kerana kepentingan politik yang memeningkan, akses kepada hasil kajian mereka yang penting disekat dan dilarang. Namun, fakta asas tentang dunia Matematik Islam masih diketahui. Antara sebab penyekatan ini adalah untuk mengelak umat Islam sedar yang tamadun Islam sangat banyak menyumbang kepada percambahan ilmu pengetahuan pada masa ini. Ia juga antara rancangan musuh Islam untuk melenyapkan kehebatan Islam dari pengetahuan umat Islam di Zaman ini.

Ahli matematik Islam banyak menyumbang untuk secara khususnya dalam penggunaan titik perpuluhan, dan juga mengembangkan topik Algebra secara tersusun dan juga dalam topik Geometri. Beberapa penambahbaikan dalam topik Trigonometri. Apabila Eropah keluar dari Zaman Gelap, mereka tidak memerlukan masa yang banyak untuk mengejar apa yang mereka terkebelakang kerana semuanya hampir lengkap. Hanya perlukan penjenamaan semula dan kembangkan ilmu itu.

(Olahan semula dari buku A History Of Mathematics: An Introduction; Victor J. Katz: Chapter The Mathematics of Islam)

Sejarah ditulis oleh pemenang

Hari ini, banyak formula-formula dan tajuk-tajuk matematik terabadi nama ilmuan barat didalamnya. Walaupun hakikatnya mereka hanya menjenamakan semula apa yang telah ada dalam dunia matematik Islam. Nama-nama ilmuan Islam tidak terabadi dalam sebarang teori-teori dan formula-formula matematik. Hanya nama-nama seperti Euclid, Newton, Einstein, Diophantus, Sarrus, Fibonacci dan sebagainya lebih banyak diabadikan. Mungkin nama-nama ilmuan Islam tidak diabadikan bertujuan untuk menjauhkan Islam daripada disebut dalam lecture dan supaya Islam dilihat tidak significant dengan Ilmu.Sekadar pandangan.

Ayuh budayakan semula budaya cintakan Ilmu supaya kita turut maju kehadapan dan kita hapuskan salah tanggapan dunia kepada Islam. Kembalilah kepada Islam. Hujung Akal, pangkal Agama. Ilmu ditimba diakhirnya bertemu dengan Kebesaran Allah, Tuhan Yang Mengetahui.

-Artikel iluvislam.com

http://catatan-agha.blogspot.com/2012/01/pengaruh-peradaban-islam-terhadap-dunia.html

CARA NABI SAW MENJAGA KESIHATAN  DIRI

CARA NABI SAW MENJAGA KESIHATAN  DIRI

BAGAIMANA cara hidup yang dilakukan Rasulullah saw yang perlu umat Islam contohi?Mencontoh Nabi bukan sekedar serpihan, tetapi harus dalam semua aspek kehidupan kita.Kali ini penulis ingin berbagi bersama cara hidup sehat Nabi Muhammad amalkan.Bukan berarti nabi terhindar dari penyakit, tetapi beliau sebenarnya hanya pernah sakit beberapa kali saja.Beliau selalu berada dalam kondisi sehat meskipun mengemban tugas berat dan menantang. Perhatikan perbedaan dengan diri kita yang mengidap berbagai penyakit dan penderitaan.

Badan kita sehat, tetapi kebanyakan hati berpe nyakit. Antara beberapa cara hidup sehat yang Beliau amalkan adalah:

SELALU BANGUN SEBELUM SHUBUHRasulullah mengajak ummatnya untuk bangun sebelum Subuh untuk melaksanakan shalat sunat, shalat fardhu dan shalat Subuh secara berjamaah.Hal ini memberi hikmah yang mendalam antara mendapat limpahan pahala, kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk merawat penyakit tibi serta memperkuat akal pikiran.

AKTIF MENJAGA KEBERSIHANRasulullah selalu bersih dan rapi. Setiap Kamis atau Jumat, Beliau mencuci rambut halus di pipi, memotong kuku, bersikat dan memakai parfum.”Mandi pada hari Jumat adalah sangat dituntut untuk setiap orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan pemakai harum-haruman. “(HR. Muslim)

TIDAK PERNAH Makan BerlebihanSabda Rasulullah w yang berarti: “Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).” (Muttafaq Alaih)Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk tiga benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.Bahkan ada satu pendidikan khusus untuk umat Islam yaitu dengan berpuasa pada Ramadan untuk menyeimbangkan kesehatan selain Nabi selalu berpuasa sunat.

GEMAR BERJALAN KAKIRasulullah berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan mengunjungi rumah sahabat.Bila berjalan kaki, keringat pasti mengalir, roma terbuka dan peredaran darah berjalan lancar.Ini penting untuk mencegah penyakit jantung. Dibandingkan kita sekarang yang lebih nyaman naik kendaraan. Kalau mau menempatkan kendaraan, harus parkir tepat di depan tempat yang ingin kita pergi.

TIDAK PEMARAHNasihat Rasulullah ‘jangan marah’ diulangi sampai tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa.Ada terapi yang tepat untuk menahan perasaan marah yaitu dengan mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka harus kita duduk dan ketika sedang duduk, maka harus berbaring.Kemudian membaca ta’awwudz karena marah itu dari setan, segera mengambil wudhu dan shalat dua rakaat untuk mendapatkan ketenangan dan menghilang kan gundahdi hati.

OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASASikap optimis memberikan efek emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa selain harus banyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakal kepada Allah

TIDAK PERNAH IRI HATIUntuk menjaga stabilitas hati dan kesehatan jiwa, harus kita harus menjauhi dari sifat iri hati. “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat-sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat-sifat mahmudah.”

PEMAAFPemaaf adalah sifat yang sangat dituntut untuk mendapatkan ketentraman hati dan jiwa.Memaafkan orang lain membebaskan diri kita dari dibelenggu rasa marah.Jika kita marah, maka marah itu melekat pada hati. Justru, jadilah seorang yang pemaaf karena yang pasti badan sehat.Bahagia sebenarnya bukan mendapat tetapi dengan memberi. Sebenarnya, ba nyak lagi cara hidup sehat rasul semoga hati kita semakin dekat dengan Nabi yang sangat kita rindukan pertemuan dengannya.

Oleh Ustadz Zawawi Yusoh

http://catatan-agha.blogspot.com/2012/01/cara-nabi-saw-menjaga-kesehatan-diri.html

Create your website with WordPress.com
Get started