PERBANYAK DOA KETIKA BUKA PUASA

PERBANYAK BERDOA KETIKA BERBUKA PUASA

Berdoalah, Allah Akan Mengabulkannya

Secara umum Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa, memohon dan memelas kepada-Nya. Allah juga telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba tersebut. Allah berfirman,

ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Merasa Doa Tidak Dikabulkan?

Jika tidak terkabulkan di dunia, maka pasti akan dikabulkan di akhirat dan disimpan sebagai satu kebaikan,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ «اللَّهُ أَكْثَرُ»

“Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah dosa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, [1] baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau [2]dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau [3] dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (pengabulan doanya).”[1]

Oleh karena itu Allah malu jika hambanya berdoa kemudian kembali dengan tangan hampa. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

إن ربكم تبارك وتعالى حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفرا

“Sesunguhnya Rabb kalian tabaraka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.”[2]

Berdoa Memiliki Waktu-Waktu Mustajab

Perlu diketahui bahwa doa memiliki waktu-waktu yang mustajab. Artinya ketika berdoa di waktu tersebut akan lebih mudah dan lebih cepat terkabulkan. Salah satunya adalah berdoa ketika berbuka puasa. Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

ﺛﻼﺙ ﻻ ﺗﺮﺩ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﺩﻝ ﻭ ﺍﻟﻤﻈﻠﻮﻡ

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi.”[3]

Ini juga salah satu kebahagiaan ketika berbuka puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak.”[4]

Waktu mustajab Sebelum atau Sesudah Berbuka Puasa?

Terkadang menjadi pertanyaan adalah apakah waktu mustajab berbuka puasa itu sebelum berbuka puasa (menjelang berbuka) atau setelah berbuka puasa. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa asalnya waktu mustajab adalah sebelum berbuka puasa (menjelang berbuka) karena inilah keadaan seorang hamba masih berpuasa, badan mungkin ada sedikit lemah dan butuh makanan serta butuh dengan Rabb-nya. Akan tetapi, ada hadits membaca doa buka puasa setelah berbuka, sehingga bisa saja doa tersebut adalah setelah berbuka. Beliau berkata,

ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺒﻞ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ ؛ ﻷﻧﻪ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻧﻜﺴﺎﺭ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﻟﺬﻝ ﻭﺃﻧﻪ ﺻﺎﺋﻢ ، ﻭﻛﻞ ﻫﺬﻩ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻟﻺﺟﺎﺑﺔ ﻭﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻗﺪ ﺍﺳﺘﺮﺍﺣﺖ ﻭﻓﺮﺣﺖ ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺣﺼﻠﺖ ﻏﻔﻠﺔ ، ﻟﻜﻦ ﻭﺭﺩ ﺩﻋﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻮ ﺻﺢ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻭﻫﻮ : ” ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻈﻤﺄ ﻭﺍﺑﺘﻠﺖ ﺍﻟﻌﺮﻭﻕ ﻭﺛﺒﺖ ﺍﻷﺟﺮ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ” } ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺣﺴﻨﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ‏( 2066 ‏) { ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ،

“Doa (yang mustajab) adalah sebelum/menjelang berbuka yaitu ketika akan terbenam matahari. Karena saat itu terkumpul (sebab-sebab mustajabnya doa) berupa hati yang tunduk dan perasaan rendah (di hadapan Rabb) karena ia berpuasa. Semua sebab ini adalah penyebab doa dikabulkan. Adapun setelah berbuka puasa, badan sudah segar lagi dan nyaman. Bisa jadi ia lalai (akan sebab-sebab mustajab). Akan tetapi terdapat hadits yang seandainya shahih maka doa mustajab itu setelah buka puasa yaitu doa: Dzahabaz dzama’ wabtallail ‘uruq wa tsabatal ajru insyaallah. Maka doa mustajab itu setelah berbuka.”[5]

Secara umum doa orang berbuka puasa mustajab akan tetapi waktu berbuka ada keutamaannya lagi. Doa orang selama berpuasa adalah mustajab sebagaimana hadits,

 ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺮَﺩُّ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻬُﻢُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻝُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ ‏

“Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) doa pemimpin yang adil, (2) doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) doa orang yang terzhalimi.”[6]

An-Nawawi menjelaskan,

ﻳﺴﺘﺤﺐّ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻓﻲ ﺣَﺎﻝِ ﺻَﻮْﻣِﻪِ ﺑِﻤُﻬِﻤَّﺎﺕِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻪُ ﻭَﻟِﻤَﻦْ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

“Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa sepanjang waktu puasanya (selama ia berpuasa) dengan doa-doa yang sangat penting bagi urusan akhirat dan dunianya, bagi dirinya, bagi orang yang dicintai dan untuk kaum muslimin.”[7]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:[1] HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1633

[2] HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shahih

[3] HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi

[4] HR. Muslim, no.1151

[5] Liqa-usy Syahriy no. 8 syaikh Al-‘Utsaimin

[6] HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar [7] Syarh Al-Muhaddzab An-Nawawi

Beruntung Orang Yang Sering Puasa

💧Beruntung Orang Yang Sering Puasa💦

💙Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar, Sehingga sel yg lapar ini akan berusaha memakan sel-sel dirinya yg sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yg telah rusak/mati, agar tidak menumpuk dan menjadi sampah dalam tubuh.

🔮Dengan demikian sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sesuatu yg bisa membahayakan tubuh, sebaliknya ia justru melakukan proses pembersihan, membuang semua sel yg sakit, kanker, sel-sel yg menua, dan Alzheimer, menjaga peremajaan/awet muda dan melawan diabetes, Dan penciptaan protein khusus ini hanya dapat terbentuk dalam keadaan tertentu seperti pada saat lapar.

💧Maka beruntunglah bagi seorang muslim yg rajin melakukan puasa, sebab tubuh orang yg berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri secara otomatis.

💦Ilmuwan bernama Yoshinori Ohsumi ini telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (PUASA) dalam jangka waktu tidak kurang dari 8 jam dan tidak lebih dari 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yg disebut autophagisom

💎Autophagisom tersebut bisa dianalogkan sebagai suatu sapu raksasa yg mengumpulkan sel-sel mati yg tidak berguna dan bisa membahayakan tubuh untuk dikeluarkan. Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel kanker dan sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit. Protein autophagisom tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya.

❄️Sebagai kesimpulan dari riset ini, dokter Yoshinori Ohsumi menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (PUASA) dua atau tiga kali dalam seminggu.

🍃Penelitian ini telah memenangkan penghargaan NOBEL KEDOKTERAN kepada dokter Yoshinori Ohsumi atas riset yg ia namakan AUTOPHAGI.

🌴Dan tentunya metode ini tidak asing bagi seorang muslim, sebab dalam islam memang di anjurkan banyak puasa, seperti disunnahkan untuk puasa Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Syawal, dan puasa sunnah-sunnah lainnya serta puasa wajib yg dilakukan selama 1 bulan di bulan Ramadhan.

🪴Artinya bahwa konsep AUTOPHAGI sesungguhnya sudah diajarkan dalam islam dan telah di praktekan sejak 15 abad yg lalu oleh teladan terbaik kita yaitu Rasulullah ﷺ

♥️Masyaa Allah…

🌹Dengan adanya penelitian dan ilmu pengetahuan ini kita sebagai seorang muslim harusnya semakin bangga dan semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah Ta’ala serta semangat mengamalkan syariat-syariat yg diperintahkannya, sebab setiap aturan syariat pasti ada kemuliaan dan manfaat untuk manusia.

Source : dr. Zaidul Akbar

JENIS-JENIS PUASA DAN TINGKATANNYA

JENIS-JENIS PUASA DAN TINGKATANNYA

Ketahuilah bahawa puasa itu ada tiga darjatnya.

1.   Puasa umum: iaitu berpuasa dengan menahan perut dan faraj (kemaluan) dari mengecap kesyahwatannya, seperti yang telah berlalu huraiannya.

2.   Puasa khusus: iaitu puasa disertakan dengan mengekang pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota dari melakukann perkara-perkara yang haram atau dosa.

3.   Puasa khususul–khusus: iaitu berpuasa dengan menyertakan semua yang tersebut di atas tadi dan menambah lagi dengan berpuasanya hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran-pemikiran keduniaan dan memesongkan perhatian dari selain Allah azzawajalla sama sekali.

KITAB RAHSIA PUASA – PENDAHULUAN

KITAB RAHSIA PUASA – PENDAHULUAN

Sebesar-besar nikmat yang pernah dikurniakan Allah ke atas hamba-hambaNya ialah dengan menjadikan puasa itu benteng bagi para wali dan perlindungan bagi mereka dari segala tipu daya syaitan dan angan-angannya, sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Puasa itu separuh kesabaran”

Allah telah berfirman:

“Hanyasanya orang-orang yang sabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.”   (az-Zumar: 10)

Kalau begitu pahalanya kesabaran itu telah melampaui batas-batas perkiraan dan perhitungan dan memadailah kalau kita mengetahui keutamaannya dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang berikut:

“Demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, bahawa bau mulut seorang yang berpuasa adalah lebih harum pada sisi Allah dari bau-bauan minyak kasturi. Allah azzawajalla berkata: Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumannya kerana Aku. Puasa itu (dilakukan) kerana Aku, dan Akulah yang akan memberikan balasannya sendiri.”

Orang yang berpuasa itu dijanjikan Allah akan bertemu denganNya untuk menerima balasan puasanya itu.

Rasulullah s.a.w telah bersabda:

“Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan: Kegembiraan yang pertama ketika masa berbuka puasanya, dan kegembiraan yang lain ialah ketika masa menemui Tuhannya.”

Dalam penafsiran makna ayat yang berikut:

“Tiada seorang pun yang mengetahui apa-apa yang telah disembunyikan daripada mereka itu dari cahaya mata, iaitu sebagai pembalasan terhadap segala yang mereka kerjakan.”(as-Sajdah:17)

Yakni amalan yang mereka kerjakan itu ialah berpuasa sebab Allah berfirman pula pada ayat yang lain:

“Hanyasanya orang-orang yang bersabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

BEZANYA PUASA DENGAN IBADAT LAIN

BEZANYA PUASA DENGAN IBADAT LAIN

Nyatalah orang yang berpuasa itu akan diberikan balasan secukup-cukupnya dan dilipat-gandakan pahalanya tanpa dapat diragukan lagi atau diperhitungkan banyaknya. Sudah sewajarnyalah ia menerima balasan yang begitu besar, sebab puasa itu adalah dikerjakan kerana Allah semata-mata dan ditujukan kepadaNya, tiada lain. Walaupun ibadat-ibadat yang lain itu pun ditujukan kepada Allah jua, tetapi ada dua perbedaannya:

Bahawasanya puasa itu adalah menahan diri dan meninggalkan hawa nafsu, dan ia adalah rahsia di dalam diri seseorang dan bukan merupakan amalan yang boleh dilihat. Semua ketaatan dibuat di mata ramai dan dapat diketahui, melainkan puasa saja, tiada yang melihatnya selain Allah azzawajalla. Ia adalah suatu amalan dalam kebatinan yang disertai dengan kesabaran semata-mata.

Bahawasanya puasa itu merupakan suatu jalan penentangan terhadap musuh Allah azzawajalla, sebab jalan syaitan itu, ialah melalui syahwat dan hawa nafsu yang meminta banyak makan dan minum. Jadi dalam menekan dan menentang kemahuan musuh Allah itu adalah suatu pertolongan kepada Allah Ta’ala sedangkan pertolongan Allah kepada kita itu tergantung atas pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah telah berfirman:

“Jika kamu sekalian menolong Allah (menurut perintah Allah), tentulah Allah akan menolong kamu dan akan menetapkan kaki kamu (kedudukan kamu).” (Muhammad: 7)

Dengan jalan inilah puasa itu menjadi pintu bagi segala peribadatan dan perlindungan dari hawa nafsu. Jika kita telah mengetahui keutamaannya begitu besar sekali, maka hendaklah kita menuntut syarat-syaratnya yang lahir dan batin dengan mempelajari rukun-rukunnya, sunat-sunatnya dan syarat-syarat kebatinannya.

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN LAHIRIAH PUASA

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN LAHIRIAH PUASA

Adapun kewajiban lahiriah puasa enam perkara:

1.   Meneliti datangnya permulaan bulan Ramadhan dengan rukyah, iaitu dengan melihat anak bulan. Jika tiada terlihat, maka genapkanlah bulan Sya’ban 30 hari. Kami maksudkan, rukyah atau melihat itu, mestilah melalui ilmu pengetahuan dan ini dapat disahkan dengan penyaksian seorang adil (orang yang terkenal lurus perjalanannya dan tiada diragui boleh berbohong). Ini kalau penyaksian maksudnya Ramadhan.

Tetapi untuk penyaksian permulaan Syawal atau anak bulan Syawwal, dihukumkan tidak sah, melainkan dengan dua orang saksi adil, mengambil hukum yang lebih berat untuk menyempurnakan ibadat puasa. Barangsiapa mendengar seorang adil dan ia percaya dengan yakin apa yang disaksikannya tentang anak bulan itu tanpa apa-apa keraguan lagi bagi dirinya, maka wajiblah dia berpuasa meskipun kadhi atau hakim tiada menghukumkan sah penyaksiannya itu.

2.   Niat puasa pada setiap malam – mestilah dia berniat yang khas dan tetap bagi kefardhuan puasa kerana Allah Ta’ala.

3.   Menahan diri dari menyampaikan sesuatu benda ke dalam perutnya dengan sengaja tidak terlupakan dirinya sedang berpuasa. Kalau dilakukan yang demikian, maka rosaklah puasanya; iaitu dengan makan atau minum, memasukkan sesuatu melalui lubang hidung atau dubur.

Tidak batal dengan bersuntik, berbekam, bercelak, memasukkan pembersih ke dalam telinga atau melalui zakar ataupun apa yang sampai ke perut tanpa disengajakan seperti debu jalan, ataupun seekor lalat termasuk ke dalam perutnya.

Kalau air masuk ke dalam perut disebabkan berkumur-kumur tidak membatalkan puasa, kecuali jika dia terlalu berlebihan-lebihan dalam berkumur-kumur, maka perbuatan serupa membatalkan disebabkan kecuaian. Itulah yang dimaksudkan dengan perkataan dengan sengaja. Adapun perkataan tidak terlupa – dimaksudkan supaya ia terselamat dari lupa, kiranya ia terlupa, maka tidaklah dikira batal puasanya.

4.   Menahan diri dari persetubuhan tetapi kiranya dia bersetubuh dengan terlupa maka tiadalah dikira telah berbuka. Kiranya dia bersetubuh di sebelah malam, ataupun dia bermimpi, sehingga dia menjadi seorang junub di sebelah paginya, maka tiadalah ia dikirakan berbuka.

5.   Menahan diri dari sengaja mengeluarkan air mani dengan tujuan untuk bersetubuh ataupun tidak bersetubuh, sebab kelakuan yang demikian itu adalah membatalkan puasa. Bercium-ciuman dengan isteri atau bercumbu-cumbu dengannya tiada membatalkan puasa selagi tiada mengeluarkan mani, tetapi perbuatan semacam itu adalah makruh hukumnya kecuali jika dia seorang yang sudah tua, atau orang yang dapat menguasai dirinya (tidak takut keluar mani) maka bolehlah dia bercium-ciuman. Walau bagaimanapun meninggalkan kelakuan serupa ini adalah utama.

6.   Menahan diri dari muntah, sebab sengaja mengeluarkan muntah dari perutnya membatalkan puasa tetapi kalau termuntah dengan tidak sengaja, maka tidaklah batal puasanya. Dan sekiranya tertelan kahak dari kerongkongnya atau dari dadanya, tiadalah batal puasanya, kerana keringanan sebab tidak dapat ditahan, melainkan kalau dia menelannya sesudah kahak itu sampai ditengah mulutnya maka hal itu akan membatalkan puasanya.

PERKARA YANG HARUS DILAKUKAN BILA BATAL PUASA

PERKARA YANG HARUS DILAKUKAN BILA BATAL PUASA

Orang yang batal puasanya harus melakukan empat perkara:

1.   Qadha’: Kewajibannya umum ke atas setiap Muslim Mukallaf yang meninggalkan puasa dengan uzur ataupun tanpa uzur. Umpamanya, perempuan yang datang darah haidh harus mengqadha’kan puasanya, demikian pulalah orang yang murtad. Adapun orang kafir, anak kecil dan orang gila tidak wajib mengqadha’kan puasanya. Dan hukum mengqadha’kannya tidak wajib berturut-turut, tetapi bolehlah mengqadhakannya sesuka hatinya sama ada terpisah-pisah ataupun terkumpul.

2.    Kaffarah: Kewajibannya berlaku hanya ke atas orang yang bersetubuh pada siang Ramadhan, selainnya tidak dikenakan kaffarah. Adapun kaffarahnya ialah memerdekakan seorang hamba. Kiranya ia tidak mempunyai wang untuk menebus seorang hamba, maka berpuasalah ia dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia memberi makan kepada 60 orang miskin setiap seorang satu mud.

3.   Berhenti dari makan-minum dan sebagainya pada sisa harinya. Ini diwajibkan ke atas orang yang menderhaka perintah Allah, kerana tiada berpuasa ataupun kerana cuai pada perintah puasa (berbuka tanpa sebab atau seumpamanya). Maka hendaklah ia berhenti dari makan-minum, apabila ternyata ada seorang adil yang menyaksikan anak bulan pada hari syak (iaitu 30 Sya’ban), sedangkan orang ramai semuanya tiada berpuasa pula, maka hendaklah sekaliannya berhenti dari makan-minum dan sebagainya. Bagi orang yang sedang dalam pelayaran, berpuasalah adalah lebih utama daripada berbuka.

4.   Mengeluarkan fidyah, iaitu bagi orang yang mengandung atau ibu yang masih menyusukan bayinya, kerana khuatir kemudharatan ke atas bayi jika ia berpuasa. Maka dikeluarkan fidyah kerana tiada berpuasa itu, setiap hari satu mud gandum/beras kepada seorang miskin, kemudian puasa itu diqadha’kan. Begitu pula dengan orang tua yang sudah lanjut umurnya, tiada mampu untuk berpuasa, dikeluarkan fidyah satu mud juga.

https://bimbinganmukmin.wordpress.com/2010/02/19/perkara-yang-harus-dilakukan-bila-batal-puasa/

SUNNAT-SUNNAT PUASA

SUNNAT-SUNNAT PUASA

Sunnat bagi orang yang berpuasa melewatkan sahur dan menyegerakan berbuka, iaitu dengan buah kurma atau dengan air sebelum bersembahyang.

Sunnat baginya juga banyak bersedekah dalam bulan Ramadhan, banyak membaca Al-Quran, duduk beri’tikaf dalam masjid pada 10 hari yang terakhir dari Ramadhan dan tiada keluar dari masjid itu, melainkan kerana sesuatu hajat saja.

Tiada mengapa dia memakai bau-bauan yang wangi di dalam masjid, berakad nikah di situ, makan-minum dan tidur di dalamnya, membasuh tangan di dalam besin, yang semua itu mungkin diperlukan ketika ber’iktikaf di dalam masjid.

RAHSIA-RAHSIA PUASA DAN SYARAT-SYARAT KEBATINANNYA

RAHSIA-RAHSIA PUASA DAN SYARAT-SYARAT KEBATINANNYA

Rahsia-rahsia puasa dan syarat-syarat kebatinannya ada enam iaitu:

1.  Memejamkan mata dan menahannya dari meluaskan pemandangan kepada segala perkara yang tercela dan dibenci oleh agama dan juga kepada segala sesuatu yang boleh menganggu hati, seperti melalaikannya dari berzikir dan mengingat kepada Allah.

2.  Memelihara lidah dari bersembang kosong, berbohong, mencaci maki, bercakap kotor, menimbulkan permusuhan dan riya’.

3.  Memelihara pendengaran dari mendengar hal-hal yang dilarang dan dibenci, sebab setiap yang haram diucapkan haram pula didengarkan. Dan kerana itu jugalah Allah s.w.t telah menyamakan pendengaran kepada sesuatu semacam itu dengan memakan barang-barang yang diharamkan, sebagaimana dalam firmanNya:

“Mereka itu suka mendengar perkara yang bohong dan memakan barang yang haram.”   (al-Maaidah: 42)

4.  Memelihara seluruh anggota yang lain dari membuat dosa seperti tangan dan kaki dan memeliharanya juga dari segala yang dibenci. Demikian pula menahan perut dari memakan barang-barang yang bersyubhat waktu berbuka puasa. Apalah gunanya berpuasa dari makanan yang halal, kemudian dia berbuka pula, dia memakan makanan yang haram. Orang berpuasa seperti ini, samalah seperti orang yang membangunkan sebuah istana yang indah, kemudian dia menghancurkan sebuah kota. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Ada banyak orang yang berpuasa tetapi ia tiada memperolehi dari puasaya itu selain dari lapar dan dahaga (yakni tiada mendapat pahala).”

Ada yang mengatakan bahawa orang itu adalah orang yang berbuka puasanya dengan makanan yang haram. Yang lain pula mengatakan orang itu ialah orang yang menahan dirinya berpuasa dari makanan yang halal, lalu ia berbuka dengan memakan daging manusia; iaitu mencaci maki orang kerana yang demikian itu adalah haram hukumnya. Ada yang mengertikannya dengan orang yang tiada memelihara anggota-anggotanya dari dosa.

5.  Janganlah dia membanyakkan makan waktu berbuka puasa, sekalipun dari makanan yang halal, sehingga terlampau kenyang, kerana tidak ada bekas yang paling dibenci oleh Allah s.w.t. daripada perut yang penuh dari makanan yang halal. Cubalah renungkan, bagaimanakah dapat menentang musuh Allah (syaitan) dan melawan syahwat kiranya apa yang dilakukan oleh orang yang berpuasa waktu berbuka itu, ialah mengisikan perut yang kosong itu dengan berbagai makanan semata-mata kerana dia tidak mengisikannya di waktu siang tadi. Kadangkala makanan-makanan yang disediakan itu berbagai-bagai rencamnya sehingga menjadi semacam adat pula kemudiannya.

Akhirnya dikumpulkanlah bermacam ragam makanan untuk persediaan menyambut Ramadhan, dan dihidangkan pula dalam satu bulan itu bermacam-macam makanan yang tidak pernah dihidangkan dalam bulan-bulan sebelumnya. Sebagaimana yang termaklum bahwa maksud puasa itu adalah menahan selera dan mengekang nafsu, agar diri menjadi kuat untuk taat dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi kalaulah hanya sekadar mengekang perut di siang hari hingga ke masa terbuka, lalu membiarkan syahwat berlonjak-lonjak dengan kemahuannya kepada makanan, dan dihidangkan pula dengan berbagai-bagai makanan yang lazat-lazat, sehingga perut kekenyangan, tentulah perut akan bertambah keinginannya kepada makanan-makanan itu. Malah akan timbul syahwat pula keinginan yang baru, yang kalau tidak dibiasakan sebelumnya mungkin ia tetap pada kebiasaannya.

Semua ini adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa yang sebenarnya. Sebab hakikat puasa dan rahsianya adalah untuk melemahkan kemahuan dan keinginan, yang digunakan oleh syaitan sebagai cara-cara yang menarik manusia kepada berbagai kejahatan. Padahal kemahuan dan keinginan ini tidak dapat ditentang, melainkan  dengan mengurangkan syahwat. Barangsiapa yang menjadikan di antara hatinya dan dadanya tempat untuk dipenuhi dengan makanan, maka ia terlindung dari kerajaan langit.

6.  Hendaklah hatinya merasa bimbang antara takut dan harap kerana ia tiada mengetahui apakah amalan puasanya itu diterima oleh Allah, sehingga tergolongnya ia ke dalam puak muqarrabin (hampir kepada Allah) ataupun puasanya tertolak maka terkiralah ia ke dalam golongan orang yang terjauh dari rahmat Allah Ta’ala. Perasaan seumpama ini seharusnya sentiasa ada pada diri seseorang, setiap kali selesai melakukan sesuatu ibadat kepada Allah Ta’ala.

Create your website with WordPress.com
Get started