“HATI ITU”

                        “HATI ITU”

♦️ Hati itu indah jika disulami dengan keimanan.

♦️ Hati itu kotor jika tersimpan dengan kedengkian.

♦️ Hati itu cantik jika teradun dengan kesopanan.

♦️ Hati itu busuk jika terpendam dengan kebencian.

♦️ Hati itu tenang jika dihiasi dengan kesyukuran.

♦️ Hati itu bahagia jika ditanam dengan ketaqwaan.

Jangan Buruk Sangka

Manusia hari ini suka bersangka-sangka.

Ada sangka baik.

Ada sangka buruk.

Orang beribadah disangka riak.

Orang rileks disangka malas.

Orang berpakaian baru disangka menunjuk.

Orang berpakaian buruk disangka hina.

Orang makan banyak disangka pelahap.

Orang makan sedikit disangka diet.

Orang yang senyum disangka mengejek.

Orang yang masam disangka merajuk.

Orang berbincang disangka mengumpat.

Orang yang diam disangka menyendiri.

Orang yang menawan disangka menggoda.

Orang yang ceria disangka mengada.

Orang yang bertanya disangka menyibuk.

Hakikatnya, mana tahu.

Yang senyum itu kerana bersedekah.

Yang masam itu kerana mengenang dosa.

Yang berbincang itu memberi pendapat.

Yang diam itu kerana beribadah.

Yang menawan itu bersih wataknya.

Yang ceria itu cerdas mindanya.

Yang bertanya itu prihatin orangnya.

Justeru, sesuatu perkara yang kita lihat, jangan suka sangka-sangka.

Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa.

Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang.

Dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati?”

Al-Hujuraat 49:12

“Jangan kamu membuat sangkaan terhadap satu kalimah yang keluar daripada seorang saudara mukminmu kecuali kebaikan selagi kamu masih ada cara untuk meletakkannya di tempat yang baik.”

Umar bin al-Khattab r.a

7 TANDA-TANDA ALLAH SAYANG

TANDA-TANDA ALLAH SAYANG

▶️ 1. DIBERIKAN KESEDIHAN

– Dengan Kesedihan Itu Kita Akan Sering Menyebut Nama-Nya.

 ▶️ 2. DIBERIKAN KESAKITAN

– Dengan Kesakitan Itu Kita Akan Sentiasa Memohon Kesembuhan Dari Nya.

▶️ 3. DIBERIKAN KEHILANGAN

– Dengan Kehilangan Itu Kita Meminta Yang Terbaik Dari Nya.

▶️ 4. DIBERIKAN KESUSAHAN

– Dengan Kesusahan Itu Kita Akan Menjadi redha.

▶️ 5. DIBERIKAN PENDERITAAN

– Kerana Hanya Jiwa Yang Menderita Akan Selalu Dekat Pada Nya.

▶️ 6. DIBERIKAN KEMISKINAN

– Kerana Allah Mau Kita Meminta Kepada Nya.

▶️ 7. DIBERIKAN KEHINAAN

– Kerana Allah Mau Kita Mohon Kemuliaan Dari Nya.

JIKA KAMU AHLI IBADAH JANGAN PANDANG RENDAH ORANG YANG TAK BERIBADAH

JIKA KAMU AHLI IBADAH JANGAN PANDANG RENDAH ORANG YANG TAK BERIBADAH

===========================

1.  Jika Allah Memudahkan Bagimu Mengerjakan Sholat Malam, Maka Jangan Lah Memandang Rendah Orang-Orang Yang Tidur.

2.  Jika Allah Memudahkan Bagimu Melaksanakan Puasa, Maka Jangan Lah Memandang Rendah Orang-Orang Yang Tidak Berpuasa Dengan Tatapan Menghinakan.

3.  Jika Allah Memudahkan Bagimu Membuka Pintu Untuk Berjihad, Maka Jangan Lah Kamu Memandang Rendah Orang-Orang Tidak Berjihad Dengan Pandangan Meremehkan.

4.  Jika Allah Memudahkan Diri Mu Dalam Mengais Rezeki Bagi Mu, Maka Jangan Memandang Rendah Orang-Orang Yang Berhutang Dan Kurang Rizki Nya Dengan Pandangan Yang Mengejek Dan Mencela.

Karena Itu Semua Adalah Titipan Allah Yang Suatu Saat Akan Kau Pertanggung Jawabkan Kelak.

5.  Jika Allah Memudahkan Pemahaman Agama Bagi Mu, Maka Jangan Lah Kamu Meremehkan Orang-Orang Yang Belum Faham Agama Dengan Pandangan Hina.

6.  Jika Allah Memudahkan Ilmu Bagi Mu, Maka Jangan Lah Kamu Sombong Dan Bangga Diri, Karena Allah Lah Yang Memberi Mu Pemahaman Itu.

Boleh Jadi Orang Yang Tidak Mengerjakan Qiyamul Lail, Puasa (Sunnah) Tidak Berjihad Dll, Mereka Itu Lebih Dekat Kepada Allah Dari Pada Diri Mu.

Terkadang Seseorang Yang Tidak Memiliki Banyak Amal Tapi Batin Nya Bersih, Tak Ada Benci, Dengki, Dan Juga Penyakit Hati Dll.

Orang Seperti Itu Akan Mendapatkan Banyak Rahasia Kebaikan, Melebihi Seorang Yang Banyak Amal Nya, Akan Tetapi Batin Nya Penuh Dengan Penyakit Hati.

8 Cara Penyucian Jiwa

1 . Bila Hari Ini Belum dapat Memberi Kebahagiaan pada Sesama, usahakan Hari Ini Tidak Menyakiti Orang lain.

2 . Bila Hari Ini Belum dapat Melakukan Amal Sholeh, usahakan Hari Ini Tidak Melakukan Dosa.

3 . Bila Hari Ini Belum dapat Berakhlak Mulia, usahakan Hari Ini Tidak Menyimpan Hati Buruk pada Sesama.

4 . Bila Hari Ini Belum dapat Menghargai Orang lain, usahakan Hari Ini Tidak Memberi nilai Berlebih pada Diri Sendiri.

5 . Bila Hari Ini Belum dapat Memberi Manfaat, usahakan Hari Ini Tidak Memberi Mudharat bagi Sesama.

6 . Bila Hari Ini Belum dapat Menciptakan Suasana yang Menyenangkan bagi Orang lain, usahakan Hari Ini Tidak Melakukan Kemarahan dan Kebencian pada Sesama.

7 . Bila Hari Ini Belum dapat Mengingat Kebaikan Orang, usahakan Hari Ini dapat Melupakan Keburukan Orang lain.

8 . Bila Hari Ini Belum dapat Beramal dengan Ikhlas, usahakan Hari Ini dapat Membebaskan Diri dari Pujian Org lain.

Makna dari Kehidupan Bukan Terletak pada seberapa Bernilainya Diri Kita, Tetapi seberapa Besar Bermanfaatnya Kita bagi Orang lain

Semoga kita dapat Menjadi Berkah dan juga bagi Banyak Orang

آمين يارب العالمين

” BILA ALLAH SUDAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI “

” BILA ALLAH SUDAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI “

Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan dan harta.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan mengejar karir, pangkat dan jabatan.

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah Subhana Wa Ta’alla dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi,

Tentu mereka akan memilih untuk memperbanyak amal ibadah.

Sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia, yang sudah jelas-jelas tidak bisa dibawa mati.

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, beramal dan beribadah kepada Allah.

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, mobil mewah.

Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu agama orang lain lebih dari kita.

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di 1/3 ( sepertiga ) malam, sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain setiap hari sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kita.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain ganti kendaraan dengan yang lebih mewah.

Kita cemburu apabila melihat orang lain bisa setiap tahun liburan.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain bergelimang harta, tahta dan Wanita.

Cemburu karena dia bisa jadi Gubernur, Bupati ataupun Walikota.

Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al-Quran sebulan dua kali.

Kita jarang cemburu apabila melihat mualaf yang Faham isi Al-Qur’an.

Kita jarang cemburu apabila melihat orang lain berbuat untuk menegakkan Akidah Islam.

Kita jarang cemburu kepada orang yang berjihad di jalan Allah.

Kita jarang cemburu kepada orang yang mewakafkan dirinya dan semua Hartanya dijalan Allah.

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin,

tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita.

Maka panggilan Illahi makin bertambah dekat.

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya.

Karena Hidup di dunia menentukan kehidupan yg kekal nanti di akhirat.

Sesungguhnya…

MATI ITU PASTI DATANG.

ALAM KUBUR ITU BENAR.

HISAB ITU BENAR.

PADANG MAHSYAR ALLAH itu BENAR.

SYURGA dan NERAKA itu BENAR.

Penyesalan itu selalu terlambat.

Menunda Taubat menunggu usia Tua.

Itupun kalau masih sempat.

Sebab syarat MATI ngak harus tua, ngak harus sakit.

Penyelesaian masalah hidup adalah melalui iman dan amal.

Iman sebesar zarrah pun, Allah muliakan dgn syurga 100x dunia”.

Lalu mengapa kita tak mau menambah bekal hidup kita dengan Iman, Ibadah dan Amalan baik…???

Mudah-mudahan hidup kita selamat di dunia dan Akhirat dan selalu bermanfaat untuk Ummat dan kita termasuk orang-orang yang Allah ridhoi, untuk masuk ke syurgaNya

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.

Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”

(QS. Yusuf: 86)

Ibnul Jauzi Rahimahullah  menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata:

وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.

“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang”

(Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat,  hal.55)

Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus ridha dengan semua takdir-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya”

(HR. Tirmidzi).

Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat”

(HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)

Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”

(QS. Ar-Rad: 27-28)

Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata:

وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : (ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك

Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan.

Dalam hadits disebutkan, “hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas”

(Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48)

Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”

(QS. Al-Imran: 159)

Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui”

(QS. An-Nahl: 43)

Demikian.

Semoga bermanfaat.

EMPAT CARA UNTUK MENGETAHUI KEKURANGAN SENDIRI

EMPAT CARA UNTUK MENGETAHUI KEKURANGAN SENDIRI

​Imam Al-Ghazali mengatakan;

إعلم أن الله عز وجل إذا أراد الله بعبد خيرا… بصره بعيوب نفسه، فمن كانت بصيرته نافذة… لم تخف عليه عيوبه، فإذا عرف العيوب… أمكنه العلاج، ولكن أكثر الخلق جاهلون بعيوب أنفسهم، يرى أحدهم القذى فى عين أخيه ولا يرى الجذع فى عين نفسه.

Ketahuilah bahawa Allah Azza wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hambanya Allah menunjukkan kekurangan dirinya, maka siapa yang mata hatinya terbuka pasti akan melihat kekurangan dirinya, jika dia mengetahui kekurangan dirinya maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya, akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka, salah seorang dari mereka boleh mengetahui kekurangan orang lain tapi tidak boleh mengetahui kekurangan dirinya.

فمن أراد أن يقف على عيب نفسه… فله أربعة طرق 😗

Maka barangsiapa yang ingin mengetahui kekurangan dirinya… maka baginya empat jalan atau cara:

الأول : أن يجلس بين يدي شيخ بصير بعيوب النفس، مطلع على خفايا الآفات.

1. Duduk di hadapan seorang guru yang mengetahui kekurangan dirinya dan dapat melihat hal-hal buruk yang samar sanar.

الثاني : أن يطلب صديقا صدوقا بصيرا متدينا، فينصبه رقيبا على نفسه ليلاحظ أحواله وأفعاله، فما كرهه من أخلاقه وأفعاله، وعيوب الباطنة والظاهرة… ينبهه عليه.

2. Mencari teman yang jujur, mengerti kekurangan dirinya dan menjalankan perintah agama, maka dia menjadikannya pemantau dirinya untuk memerhatikan keadaan dan perbuatan-perbuatannya, apa yang dia lihat tidak baik dari akhlak, perbuatan dan kekurangan zahir dan bathin dia mengingatkannya atas hal itu.

الطريق الثالث : أن يستفيد معرفة عيوب نفسه من ألسنة أعدائه.

3. Hendaknya dia mengambil faedah untuk mengetahui kekurangan dirinya dari lisan-lisan musuhnya.

الطريق الرابع : أن يخالط الناس، فكل ما رآه مذموما فيما بين الخلق فليطالب نفسه به وينسبها إليه؛ فإن المؤمن مرآة المؤمن، فيرى من عيوب غيره عيوب نفسه،

4. Berkumpul dengan orang, maka setiap apa yang dilihatnya dari orang lain tercela hendaknya dia menuntut dirinya dengannya dan menjauhinya karena seorang mukmin cermin untuk mukmin lainnya, melihat kekurangan orang lain sama dengan melihat kekurangan yang ada pada dirinya.

قيل لعيسى عليه السلام : من أدبك؟ قال : ما أدبني أحد، رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته.

Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ditanya: Siapa yang mengajarkan adab kepadamu? Beliau menjawab: Tidak ada yang mengajari aku adab, aku melihat kebodohan orang bodoh itu buruk maka aku menjauhinya.

📚Kitab: Ihya’Ulumuddin

TAUFIK UNTUK BERAMAL

TAUFIK UNTUK BERAMAL

Bismillaah…

Salah satu nikmat agung yang sering dilupakan adalah nikmat berupa taufik atau kemudahan dalam beramal. Tidaklah diragukan bahwa amal salih merupakan sebab untuk meraih kebahagiaan. Amal salih yang dibangun di atas ilmu.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” [QS. al-’Ashr : 1-3]

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman niscaya Kami akan berikan kepada mereka kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan berikan kepada mereka balasan yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. an-Nahl : 97]

Kemudahan untuk beramal ini salah satunya adalah berupa nikmat kesehatan dan waktu luang. Dua buah nikmat yang telah disalahgunakan oleh kebanyakan orang sehingga membuat mereka harus menanggung kerugian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua nikmat yang membuat tertipu dan merugi kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari]

Abu Hazim rahimahullah mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah maka sesungguhnya itu adalah musibah/malapetaka.” Sungguh benar apa yang beliau ungkapkan. Banyak orang ketika diberikan nikmat justru menelantarkannya. Dia tidak mensyukurinya, bahkan sekedar memuji Allah dengan lisan pun seolah beratnya bukan main.

Banyak orang lupa akan siapa yang memberikan nikmat itu kepada mereka. Hanyut dalam samudera nikmat membuat orang merasa bahwa nikmat ini adalah miliknya sendiri; terserah dia gunakan untuk apa. Padahal sejatinya tidak demikian. Apa yang kita miliki berupa harta, kedudukan, fasilitas kehidupan, adalah pemberian dari Allah.

Nikmat yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Untuk apa nikmat itu digunakan. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” [QS. al-Mulk : 2]

Manusia akan merasakan berharganya nikmatnya kesehatan ketika nikmat itu tercabut, demikian pula nikmat waktu luang. Begitu pula nikmat-nikmat yang lain semacam keamanan, ketenangan, dan terbebas dari ancaman wabah.

Maka demikian pula nikmat kehidupan di alam dunia ini akan benar-benar dirasakan ketika orang sudah masuk ke alam akhirat. Ketika itu . kafir berdoa kepada Allah agar dikembalikan ke alam dunia; untuk apa? Untuk beramal salih; sesuatu yang dahulu dia telantarkan dan dia tinggalkan. Penyesalan yang tiada lagi berguna…

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menasihatkan, “Dunia ini berangkat pergi sedangkan akhirat sedang datang dari arah depan. Maka jadilah kalian sebagai anak-anak pengikut akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak pemuja dunia. Karena sesungguhnya hari ini/dunia adalah kesempatan untuk beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok/akhirat adalah waktu penghisaban/penghitungan amal dan tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.”

Inilah kehidupan dunia yang sekarang sedang kita jalani bersama. Anda hari ini masih bisa melihat terbitnya matahari dari arah timur. Anda bisa menghirup udara segar tanpa harus membayar biaya sepeser pun. Anda masih bisa mendengar kicauan burung dan gemercik air sungai. Anda bisa menikmati makanan dan minuman.

Sementara sebagian orang di dunia ini telah tercekam oleh rasa khawatir, penyakit yang menakutkan, dan wabah yang membinasakan. Sesungguhnya kesusahan di dunia ini adalah sebentar dan sementara. Adapun kesusahan dan azab di akhirat itu sangatlah lama. Ia lebih menyakitkan dan lebih pahit. Apabila orang yang sakit di dunia ini terhalang dari makan dan minuman kemudian diganti dengan infus, maka kelak di akhirat para penghuni neraka terhalang dari kenikmatan surga, seteguk minuman nikmat pun tak bisa mereka dapatkan…

Allah berfirman (yang artinya), “Dan para penghuni neraka berteriak memanggil penduduk surga; ‘Hendaklah kalian berikan kepada kami sedikit air (dari surga) atau sebagian dari apa-apa yang Allah berikan rezeki itu kepada kalian.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.’.” [QS. al-A’raf : 50]

Saudaraku yang dirahmati Allah, makanan dan minuman yang setiap hari kita konsumsi adalah nikmat dari Allah. Apabila nikmat-nikmat itu tidak kita syukuri maka energi yang dihasilkan dari makanan dan minuman itu justru akan menjelma menjadi malapetaka di hari kiamat…

Orang sering lupa akan siapa yang memberikan nikmat dan rezeki kepada mereka. Mereka sering lalai memuji Allah. Sebagaimana orang sering lalai dari mensyukuri nikmat melanjutkan hidup setelah terlelap dalam tidur.

Dan yang lebih memprihatinkan banyak orang lalai dan melupakan nikmat Allah berupa diutusnya para nabi dan rasul. Padahal Allah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar; sesuatu yang akan membimbing manusia untuk masuk ke dalam surga…

Dari sinilah kita bisa menyadari bahwa kesempatan dan kemudahan dalam beramal adalah anugerah dari Allah yang luar biasa besar dan berharga. Karena dengan nikmat itulah manusia menyadari tujuan penciptaan dirinya. Dengan nikmat itulah dia bisa mewujudkan rasa syukur atas nikmat diutusnya para nabi dan rasul. Bukankah kemudahan untuk beramal itu semakin terasa mahal dan sangat berharga pada saat kita mulai terhalang dari melakukan amalan-amalan ?

Akan tetapi (Maha Suci Allah dan kita mohon ampun kepada-Nya) sungguh betapa banyak kita jumpai orang dengan mudah meremehkan nikmat-nikmat Allah itu. Bahkan yang lebih parah apabila orang menganggap nikmat itu adalah beban bagi kehidupannya.

Orang yang telah diberi nikmat syari’at tetapi dia justru memusuhi dan enggan mengamalkannya. Orang yang diberi nikmat berupa kesempatan mengabdi dan memperjuangkan agama tetapi dia justru menukarnya dengan harga rendah (dunia) yang tidak lebih berharga dari sehelai sayap seekor nyamuk !!

Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan dan murka-Nya. Wahai para pecinta dakwah; bukankah jalan dakwah ini adalah jalan terbaik yang anda jalani. Mengapa anda justru ingin meninggalkannya ? Apakah anda hendak menukar surga yang penuh kenikmatan tiada tara dengan rendahnya dunia dengan segala kerepotannya ?

Bukankah dakwah tauhid ini yang membuat orang mulia ? Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” [QS. Yusuf : 108]

Tetaplah berjalan di atas kebenaran, wahai saudaraku yang mulia. Sebagaimana telah dikatakan oleh para pendahulu kita, “Hendaklah kamu berjalan di atas kebenaran, dan jangan merasa gelisah karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan-jalan kebatilan; dan janganlah kamu menjadi gentar karena banyaknya orang yang binasa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing seperti ketika ia datang. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” [HR. Muslim]

Demikian sedikit catatan sebagai pengingat dan nasihat bagi diri kami dan segenap pembaca. Kita mohon kepada Allah taufik untuk bisa mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Dan kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Wallahul musta’an. C&P.