” BILA ALLAH SUDAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI “

” BILA ALLAH SUDAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI “

Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan dan harta.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan mengejar karir, pangkat dan jabatan.

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah Subhana Wa Ta’alla dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi,

Tentu mereka akan memilih untuk memperbanyak amal ibadah.

Sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia, yang sudah jelas-jelas tidak bisa dibawa mati.

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, beramal dan beribadah kepada Allah.

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, mobil mewah.

Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu agama orang lain lebih dari kita.

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di 1/3 ( sepertiga ) malam, sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain setiap hari sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kita.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain ganti kendaraan dengan yang lebih mewah.

Kita cemburu apabila melihat orang lain bisa setiap tahun liburan.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain bergelimang harta, tahta dan Wanita.

Cemburu karena dia bisa jadi Gubernur, Bupati ataupun Walikota.

Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al-Quran sebulan dua kali.

Kita jarang cemburu apabila melihat mualaf yang Faham isi Al-Qur’an.

Kita jarang cemburu apabila melihat orang lain berbuat untuk menegakkan Akidah Islam.

Kita jarang cemburu kepada orang yang berjihad di jalan Allah.

Kita jarang cemburu kepada orang yang mewakafkan dirinya dan semua Hartanya dijalan Allah.

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin,

tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita.

Maka panggilan Illahi makin bertambah dekat.

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya.

Karena Hidup di dunia menentukan kehidupan yg kekal nanti di akhirat.

Sesungguhnya…

MATI ITU PASTI DATANG.

ALAM KUBUR ITU BENAR.

HISAB ITU BENAR.

PADANG MAHSYAR ALLAH itu BENAR.

SYURGA dan NERAKA itu BENAR.

Penyesalan itu selalu terlambat.

Menunda Taubat menunggu usia Tua.

Itupun kalau masih sempat.

Sebab syarat MATI ngak harus tua, ngak harus sakit.

Penyelesaian masalah hidup adalah melalui iman dan amal.

Iman sebesar zarrah pun, Allah muliakan dgn syurga 100x dunia”.

Lalu mengapa kita tak mau menambah bekal hidup kita dengan Iman, Ibadah dan Amalan baik…???

Mudah-mudahan hidup kita selamat di dunia dan Akhirat dan selalu bermanfaat untuk Ummat dan kita termasuk orang-orang yang Allah ridhoi, untuk masuk ke syurgaNya

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.

Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”

(QS. Yusuf: 86)

Ibnul Jauzi Rahimahullah  menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata:

وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.

“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang”

(Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat,  hal.55)

Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus ridha dengan semua takdir-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya”

(HR. Tirmidzi).

Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.

Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat”

(HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)

Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”

(QS. Ar-Rad: 27-28)

Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata:

وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : (ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك

Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan.

Dalam hadits disebutkan, “hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas”

(Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48)

Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”

(QS. Al-Imran: 159)

Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui”

(QS. An-Nahl: 43)

Demikian.

Semoga bermanfaat.

EMPAT CARA UNTUK MENGETAHUI KEKURANGAN SENDIRI

EMPAT CARA UNTUK MENGETAHUI KEKURANGAN SENDIRI

​Imam Al-Ghazali mengatakan;

إعلم أن الله عز وجل إذا أراد الله بعبد خيرا… بصره بعيوب نفسه، فمن كانت بصيرته نافذة… لم تخف عليه عيوبه، فإذا عرف العيوب… أمكنه العلاج، ولكن أكثر الخلق جاهلون بعيوب أنفسهم، يرى أحدهم القذى فى عين أخيه ولا يرى الجذع فى عين نفسه.

Ketahuilah bahawa Allah Azza wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hambanya Allah menunjukkan kekurangan dirinya, maka siapa yang mata hatinya terbuka pasti akan melihat kekurangan dirinya, jika dia mengetahui kekurangan dirinya maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya, akan tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui kekurangan diri mereka, salah seorang dari mereka boleh mengetahui kekurangan orang lain tapi tidak boleh mengetahui kekurangan dirinya.

فمن أراد أن يقف على عيب نفسه… فله أربعة طرق 😗

Maka barangsiapa yang ingin mengetahui kekurangan dirinya… maka baginya empat jalan atau cara:

الأول : أن يجلس بين يدي شيخ بصير بعيوب النفس، مطلع على خفايا الآفات.

1. Duduk di hadapan seorang guru yang mengetahui kekurangan dirinya dan dapat melihat hal-hal buruk yang samar sanar.

الثاني : أن يطلب صديقا صدوقا بصيرا متدينا، فينصبه رقيبا على نفسه ليلاحظ أحواله وأفعاله، فما كرهه من أخلاقه وأفعاله، وعيوب الباطنة والظاهرة… ينبهه عليه.

2. Mencari teman yang jujur, mengerti kekurangan dirinya dan menjalankan perintah agama, maka dia menjadikannya pemantau dirinya untuk memerhatikan keadaan dan perbuatan-perbuatannya, apa yang dia lihat tidak baik dari akhlak, perbuatan dan kekurangan zahir dan bathin dia mengingatkannya atas hal itu.

الطريق الثالث : أن يستفيد معرفة عيوب نفسه من ألسنة أعدائه.

3. Hendaknya dia mengambil faedah untuk mengetahui kekurangan dirinya dari lisan-lisan musuhnya.

الطريق الرابع : أن يخالط الناس، فكل ما رآه مذموما فيما بين الخلق فليطالب نفسه به وينسبها إليه؛ فإن المؤمن مرآة المؤمن، فيرى من عيوب غيره عيوب نفسه،

4. Berkumpul dengan orang, maka setiap apa yang dilihatnya dari orang lain tercela hendaknya dia menuntut dirinya dengannya dan menjauhinya karena seorang mukmin cermin untuk mukmin lainnya, melihat kekurangan orang lain sama dengan melihat kekurangan yang ada pada dirinya.

قيل لعيسى عليه السلام : من أدبك؟ قال : ما أدبني أحد، رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته.

Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ditanya: Siapa yang mengajarkan adab kepadamu? Beliau menjawab: Tidak ada yang mengajari aku adab, aku melihat kebodohan orang bodoh itu buruk maka aku menjauhinya.

📚Kitab: Ihya’Ulumuddin

TAUFIK UNTUK BERAMAL

TAUFIK UNTUK BERAMAL

Bismillaah…

Salah satu nikmat agung yang sering dilupakan adalah nikmat berupa taufik atau kemudahan dalam beramal. Tidaklah diragukan bahwa amal salih merupakan sebab untuk meraih kebahagiaan. Amal salih yang dibangun di atas ilmu.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” [QS. al-’Ashr : 1-3]

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman niscaya Kami akan berikan kepada mereka kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan berikan kepada mereka balasan yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. an-Nahl : 97]

Kemudahan untuk beramal ini salah satunya adalah berupa nikmat kesehatan dan waktu luang. Dua buah nikmat yang telah disalahgunakan oleh kebanyakan orang sehingga membuat mereka harus menanggung kerugian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua nikmat yang membuat tertipu dan merugi kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari]

Abu Hazim rahimahullah mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah maka sesungguhnya itu adalah musibah/malapetaka.” Sungguh benar apa yang beliau ungkapkan. Banyak orang ketika diberikan nikmat justru menelantarkannya. Dia tidak mensyukurinya, bahkan sekedar memuji Allah dengan lisan pun seolah beratnya bukan main.

Banyak orang lupa akan siapa yang memberikan nikmat itu kepada mereka. Hanyut dalam samudera nikmat membuat orang merasa bahwa nikmat ini adalah miliknya sendiri; terserah dia gunakan untuk apa. Padahal sejatinya tidak demikian. Apa yang kita miliki berupa harta, kedudukan, fasilitas kehidupan, adalah pemberian dari Allah.

Nikmat yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Untuk apa nikmat itu digunakan. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” [QS. al-Mulk : 2]

Manusia akan merasakan berharganya nikmatnya kesehatan ketika nikmat itu tercabut, demikian pula nikmat waktu luang. Begitu pula nikmat-nikmat yang lain semacam keamanan, ketenangan, dan terbebas dari ancaman wabah.

Maka demikian pula nikmat kehidupan di alam dunia ini akan benar-benar dirasakan ketika orang sudah masuk ke alam akhirat. Ketika itu . kafir berdoa kepada Allah agar dikembalikan ke alam dunia; untuk apa? Untuk beramal salih; sesuatu yang dahulu dia telantarkan dan dia tinggalkan. Penyesalan yang tiada lagi berguna…

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu menasihatkan, “Dunia ini berangkat pergi sedangkan akhirat sedang datang dari arah depan. Maka jadilah kalian sebagai anak-anak pengikut akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak pemuja dunia. Karena sesungguhnya hari ini/dunia adalah kesempatan untuk beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok/akhirat adalah waktu penghisaban/penghitungan amal dan tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.”

Inilah kehidupan dunia yang sekarang sedang kita jalani bersama. Anda hari ini masih bisa melihat terbitnya matahari dari arah timur. Anda bisa menghirup udara segar tanpa harus membayar biaya sepeser pun. Anda masih bisa mendengar kicauan burung dan gemercik air sungai. Anda bisa menikmati makanan dan minuman.

Sementara sebagian orang di dunia ini telah tercekam oleh rasa khawatir, penyakit yang menakutkan, dan wabah yang membinasakan. Sesungguhnya kesusahan di dunia ini adalah sebentar dan sementara. Adapun kesusahan dan azab di akhirat itu sangatlah lama. Ia lebih menyakitkan dan lebih pahit. Apabila orang yang sakit di dunia ini terhalang dari makan dan minuman kemudian diganti dengan infus, maka kelak di akhirat para penghuni neraka terhalang dari kenikmatan surga, seteguk minuman nikmat pun tak bisa mereka dapatkan…

Allah berfirman (yang artinya), “Dan para penghuni neraka berteriak memanggil penduduk surga; ‘Hendaklah kalian berikan kepada kami sedikit air (dari surga) atau sebagian dari apa-apa yang Allah berikan rezeki itu kepada kalian.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.’.” [QS. al-A’raf : 50]

Saudaraku yang dirahmati Allah, makanan dan minuman yang setiap hari kita konsumsi adalah nikmat dari Allah. Apabila nikmat-nikmat itu tidak kita syukuri maka energi yang dihasilkan dari makanan dan minuman itu justru akan menjelma menjadi malapetaka di hari kiamat…

Orang sering lupa akan siapa yang memberikan nikmat dan rezeki kepada mereka. Mereka sering lalai memuji Allah. Sebagaimana orang sering lalai dari mensyukuri nikmat melanjutkan hidup setelah terlelap dalam tidur.

Dan yang lebih memprihatinkan banyak orang lalai dan melupakan nikmat Allah berupa diutusnya para nabi dan rasul. Padahal Allah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar; sesuatu yang akan membimbing manusia untuk masuk ke dalam surga…

Dari sinilah kita bisa menyadari bahwa kesempatan dan kemudahan dalam beramal adalah anugerah dari Allah yang luar biasa besar dan berharga. Karena dengan nikmat itulah manusia menyadari tujuan penciptaan dirinya. Dengan nikmat itulah dia bisa mewujudkan rasa syukur atas nikmat diutusnya para nabi dan rasul. Bukankah kemudahan untuk beramal itu semakin terasa mahal dan sangat berharga pada saat kita mulai terhalang dari melakukan amalan-amalan ?

Akan tetapi (Maha Suci Allah dan kita mohon ampun kepada-Nya) sungguh betapa banyak kita jumpai orang dengan mudah meremehkan nikmat-nikmat Allah itu. Bahkan yang lebih parah apabila orang menganggap nikmat itu adalah beban bagi kehidupannya.

Orang yang telah diberi nikmat syari’at tetapi dia justru memusuhi dan enggan mengamalkannya. Orang yang diberi nikmat berupa kesempatan mengabdi dan memperjuangkan agama tetapi dia justru menukarnya dengan harga rendah (dunia) yang tidak lebih berharga dari sehelai sayap seekor nyamuk !!

Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan dan murka-Nya. Wahai para pecinta dakwah; bukankah jalan dakwah ini adalah jalan terbaik yang anda jalani. Mengapa anda justru ingin meninggalkannya ? Apakah anda hendak menukar surga yang penuh kenikmatan tiada tara dengan rendahnya dunia dengan segala kerepotannya ?

Bukankah dakwah tauhid ini yang membuat orang mulia ? Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” [QS. Yusuf : 108]

Tetaplah berjalan di atas kebenaran, wahai saudaraku yang mulia. Sebagaimana telah dikatakan oleh para pendahulu kita, “Hendaklah kamu berjalan di atas kebenaran, dan jangan merasa gelisah karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan-jalan kebatilan; dan janganlah kamu menjadi gentar karena banyaknya orang yang binasa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing seperti ketika ia datang. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” [HR. Muslim]

Demikian sedikit catatan sebagai pengingat dan nasihat bagi diri kami dan segenap pembaca. Kita mohon kepada Allah taufik untuk bisa mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Dan kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Wallahul musta’an. C&P.

KISAH AMANAH YANG MENAKJUBKAN

KISAH AMANAH YANG MENAKJUBKAN

Amanah merupakan sifat mulia dan termasuk budi pekerti yang luhur. Amanah hukumya wajib. Seorang yang tidak tersifati dengan amanah begitu dekat dengan sifat khianat.

Khianat hukumnya haram di dalam Islam, dan khianat merupakan salah satu sifat orang munafik.

Berikut ini ada kisah menarik seputar amanah. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita:

اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِيْ اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيْهَا ذَهَبٌ، فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي، إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِيْ لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيْهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ. فَقَالَ الَّذِيْ تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ. قَالَ أَحَدُهُمَا: لِيْ غُلَامٌ. وَقَالَ الْآخَرُ: لِيْ جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوْا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ، وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا.

Ada seorang laki-laki yang membeli sebidang tanah dari orang lain, lalu orang yang membeli itu menemukan sebuah guci berisi emas di dalam tanahnya itu.

Orang yang beli itu berkata: “Ambilah emasmu ini dariku, sebab aku hanya membeli sebidang tanahnya saja dan tidak membeli emasnya.”

Pemilik tanah itu lalu berkata: “Sesungguhnya aku menjual kepadamu tanah tersebut beserta apa yang ada di dalamnya.”

Akhirnya mereka bersepakat untuk memutuskan masalah itu kepada seseorang.

Pemutus perkara itu bertanya: “Apakah kalian berdua punya anak?”

Seorang dari mereka menjawab: “Aku punya anak laki-laki.”

Yang satunya lagi berkata: ”Aku punya anak perempuan.”

Akhirnya pemutus perkara itu berpendapat: “Nikahkanlah anak perempuan tersebut dengan anak laki-laki itu, lalu nafkahkan dan sedekahkanlah emas itu untuk keduanya.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

💧 PETIKAN FAEDAH:

1. Pentingnya dan mahalnya amanah.

2. Menyelesaikan masalah dengan meminta pendapat kepada seorang alim yang paham al-Quran dan as-Sunnah.

3. Tercelanya sifat tamak terhadap harta yang bukan miliknya.

4. Muslim yang baik adalah yang qonaah dengan rezeki yang halal meski sedikit.

5. Keputusan adil membuat ridho dua pihak yang bersengketa.

6. Rezeki telah diatur oleh Allah Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengokohkan amanah pada diri kita kaum muslimin. Aamiin. C&P.

TEMPAT-TEMPAT RIYA’

TEMPAT-TEMPAT RIYA’

Riya’ melalui fizikal – Contohnya memperlihatkan dirinya kurus dan pucat agar dipandang sebagai seorang yang kuat beribadah. Jika bukan kerana riya’, tidak mengapa.

Riya’ melalui pakaian – Contohnya meniru ahli-ahli agama dengan memakai pakaian-pakaian kemuliaan ataupun dengan memakai pakaian-pakaian yang buruk. Jika bukan kerana riya’, tidak mengapa.

Riya’ melalui kata-kata – Contohnya dengan memberi nasihat, berkata-kata dengan gaya berhikmah, memperdengarkan hafazan untuk menunjukkan banyak ilmu, menunjuk-nunjuk beramar ma’ruf dan nahi munkar, berdebat di hadapan orang, dan sebagainya. Jika bukan kerana riya’ , tidak mengapa.

Riya’ melalui amalan – Contohnya melamakan sujud di depan orang lain, bercakap dengan penuh sopan santun seperti ahli agama, dan asyik menundukkan kepala. Jika bukan kerana riya’, tidak mengapa.

Riya’ melalui pergaulan – Contohnya menunjukkan yang dia punya hubungan baik dengan orang-orang alim dan para pemimpin, selalu mengunjungi dan dikunjungi orang-orang hebat, menceritakan senarai nama guru-gurunya dan sebagainya. Jika bukan kerana riya’, tidak mengapa. Ada pula yang meninggalkan pergaulan lalu beruzlah ke hutan dan gunung. Tujuannya agar dia disebut-sebut orang sebagai orang soleh. Ini pun riya’ juga. Tetapi jika dilakukan bukan kerana riya’, tidak mengapa.

– Buku Anugerah Berwangian Cinta untuk Tetamu Taman Cahaya (Petikan, Ringkasan & Rumusan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin), ms 112

BAHAYA UJUB

Waspadalah dari sifat tercela, karena sekecil apa pun pasti akan membawa akibat buruk terhadap urusan dunia dan akhirat. Dan segeralah membersihkan diri darinya, karena semua penyesalan pasti tiada guna.

      Ada satu sifat tercela yang banyak menjangkiti para pemimpin dan orang-orang yang Allah Azza wa Jalla amanatkan kepemimpinannya diatas pundak mereka.  Itulah  perasaan  takjub atau bangga diri terhadap kekuatan dan kebesaran namanya. Bangga diri adalah salah satu tipu daya setan., marilah kita simak kisah seorang nabi yang takjub kepada kepemimpinannya dan akibat yang harus dialami oleh diri dan kaumnya. Wallahul Muwaffiq.
        Sahabat Shuhaib (Ar-Rumi) ra. telah meriwayatkan sebuah hadist dari Rasulullah saw. dia mengatakan : “Setiap usai sholat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membaca sesuatu dengan suara pelan yang aku (Shuhaib ra.) tidak memahami apa yang beliau baca dan beliau juga (sebelum-nya) tidak mengabarkan kepada kami tentang hal itu. Lalu beliau Rasulullah saw.mengatakan : “Apakah kalian ingin tahu apa yang aku baca?” Para Sahabat menjawab : “Iya.” Beliau melanjutkan :
“Sesungguhnya aku teringat kisah seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu yang memiliki pasukan perang yang sangat banyak . Lalu sang Nabi tersebut mengatakan : “Siapakah yang dpat menandingi mereka?” atau “Siapakah yang bias mengalahkan mereka?” atau perkataan (lain) yang sejenisnya.”
Lalu Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya : “Pilihlah untuk kaummu salah satu diantara tiga pilihan berikut : akan dikuasakan atas mereka musuh-musuh mereka, atau merka akan ditimpa kelaparan, atau mereka ditimpa kematian.” Lalu ia bermusyawarah dengan kaumnya untuk menentukan pilihan tersebut, maka kaumnya mengatakan : “Engkau adalah Nabi Allah Azza wa Jalla maka segala keputusan adalah ditanganmu, pilihkan saja  untuk kami (yang terbaik). Ia pun beranjak melakukan sholat, dan mereka (para nabi) apabila sedang ditimpa kegelisahan akan bersegera melakukan sholat. Lalu ia pun sholat dengan bentuk shlat yang Allah Azza wa Jalla perintahkan.
Rasulullah saw.melanjutkan : Lalu dia (Sang Nabi) berkata : “Wahai Rabbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah saja kematian.” Maka kemudian mereka pun ditimpa kematian, sehingga (dalam sehari) meninggallah dai kaumnya tersebut tujuh puluh ribu orang.(Rasulullah saw. melanjutkan) : Maka bacaan lirihku yang kalian lihat adalah karena aku membaca :
“Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dan dengan-Mu pula aku menyerbu, serta tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah.”Kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Nabi saw. mengkisahkan bahwa ada nabi Allah yang diberi nikmat berupa pengikut yang banyak. Karena melihat seolah-olah kekuatan mereka tidak terkalahkan oleh musuh, timbullah rasa bangga dalam hatinya. Ia menyangka bahwa tidak ada lagi yang dapat mengalahkan kekuatannya. Namun, tidaklah demikian seharusnya sikap seorang nabi.Sesungguhnya bangga terhadap diri sendiri, harta, dan anak keturunan adalah penyakit yang sangat jelek karena seorang mukmin yang sesungguhnya tidak akan terpedaya dengan banyaknya jumlah pasukan tatkala menghadapi musuh dan tidak menyiutkan nyalinya tatkala minimnya persiapan dan personil mereka karena kemenangan datang dari pemberian Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman :
“…Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allh yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS.Ali Imron [3] : 126)
“…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.al-Baqoroh [2] : 249)Dan bahkan pada sebagian keadaan, kebanggaan dengan jumlah yang besar adalah satu sebab kekalahan. Allah Azza wa Jalla berfirman :
“….Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS.at-Taubah [9] : 25)
Sang Nabi dalam kisah diatas dihukum akibat berbuat kesalahannya. Allah Azza wa Jalla menawarkan kepadanya untuk memilih salah satu dari tiga pilihan terkait dengan kaumnya yaitu memilih bahwa akan ada suatu kaum lain yang bisa mengalahkan mereka, atau mereka akan ditimpa paceklik panjang, atau memilih ditimpakan kematian atas kaumnya.Sungguh tiga pilihan yang sama-sama berat, karena semuanya akan dapat menyebabkan kelemahan dan hilangnya kekuatan mereka dan juga akan menghilangkan rasa bangga. Seandainya ada kaum lain yang dapat mengalahkan mereka maka kaum tersebut akan menghinakan mereka.
Apabila mereka ditimpa kelaparan maka beratnya rasa lapar akan menghilangkan kekuatan mereka sehngga musuh akan sangat mudah menghancurkan dan mengalahkan mereka. Demikian juga, apabila mereka ditimpakan kematian, hal itu pun akan mengurangi jumlah dan kekuatan pasukan mereka. Maka memilih salah satu dari ketiga pilihan tersebut bukan masalah ringan karena berkonsekuensi pada kelemahan mereka. Pertimbangan yang ekstra hati-hati sangat dibutuhkan. Oleh karenanya, Sang Nabi memanggil kaumnya dan bermusyawarah menentukan pilihan terbaik untuk mereka. Namun, kaumnya tersebut justru menyerahkan segala urusan kepadanya. Mereka mengatakan : “Engkau adalah seorang Nabi, maka segala putusan ada di tanganmu.”
Para Nabi dan Rasul adalah orang yang diberi petunjuk dan berkata benar. Nabi tersebut memilih untuk mereka sebuah pilihan yang paling tepat dan terbaik karena ia memilih pilihan ketiga yaitu ditimpakan kematian atas kaumnya. Ia tidak memilih untuk ditimpakan atas mereka kelaparan atau dikalahkan oleh musuh. Alasannya, kalaupun tidak mati hari ini mereka pun pasti akan mati pada hari-hari yang lain karena kematian adalah sebuah kepastian yang siapapun tidak akan bisa mengelak dimana pun dia berada dan kapan pun juga. Orang-orang yang lebih dahulu diwafatkan akan berharap bahwa segala amal perbuatan mereka dapat diterima  di sisi-Nya sedang orang-orang yang masih tinggal setelahnya akan menjadikannya sebagai sebuah nasihat dan peringatan baginya. Demikian pula, bisa jadi Allah Azza wa Jalla akan menambah lagi jumlah mereka yang sekarang tinggal sedikit karena segala perkara berada di tangan Allah Azza wa Jalla.
Sang Nabi segera sujud kepada Allah Azza wa Jalla, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla untuk dipilihkan pilihan terbaik untuknya. Demikianlah kebiasa-an para Nabi dan orang-orang yang sholih. Tatkala ditimpa kegundahan mereka bersegera menegakkan sholat. Sang Nabi sholat dengan bentuk sholat yang Allah kehendaki. Maka Allah memilihkan baginya pilihan yang paling ringan.
Dia berkata kepada Robbnya: “Wahai Robbku, janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh kami atas kami, jangan pula Engkau timpakan kelaparan (atas kaumku), tetapi berilah kami kematian.”
Maka tibalah saatnya musibah kematian datang kepada mereka sehingga meninggallah dari kaumnya tersebut dalam sehari sebanyak 70.000 orang.Sungguh akibat buruk dari perasaan bangga Sang Nabi sungguh menakutkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun sangat khawatir akan terjadi pada kaumnya semisal apa yang telah terjadi pada kaum nabi tersebut.sebabitu, selesai sholat dan seusai mengisahkan kisah nabi tersebut kepada para sahabatnya, beliau mengucapkan – dengan suara lirih – do’a diatas.
Beliau berlepas diri dari segala perasaan bangga serta menyerahkan segala daya dan kekuatan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau berlepas diri dari sekadar bersandar pada kekuatan para sahabat. Tatkala menghadang musuh beliau hanya bersandar kepada Allah Azza wa Jalla semata karena dari-Nya-lah saja pertolongan  dan dari-Nya-lah pula kemenangan. Sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya milik Allah Azza wa Jalla. Wallahul Muwaffiq. C&P.

Bahaya sifat bakhil atau kikir

Di dalam kekayaan dan kemiskinan memiliki banyak jebakan yang sangat luar biasa bahayanya apalagi ketika manusia berada dalam posisi kaya raya. Di antara jeratan yang bisa menyerat manusia terjerumus ke dalam lembah siksa yang pedih adalah terinfeksi penyakit bakhil.
      Sifat bakhil atau kikir atau pelit adalah merupakan penyakit yang biasa muncul dengan sendirinya begitu manusia telah banyak memperoleh harta benda. Termasuk yang menjadi pemicu utama berkembang biaknya virus ini adalah pemikiran-pemikiran sesat yang telah dikelabui oleh setan. Di dalam benak mereka sering timbul perasaan dan statemen “Buat apa kami menghambur-hamburkan harta yang telah kami peroleh dengan susah payah untuk hal-hal yang tidak bisa membuat kami senang”. Tak jarang juga mereka beranggapan “Kalau Alloh memang berkehendak menja-dikan mereka hidup sudah barang tentu Alloh-lah yang akan menjamin kehidupan mereka. Kami tidak ada hubungan dengan mereka. Masalah mereka makan atau tidak itu urusan mereka dengan Alloh”.
     Orang yang punya karakter bakhil alias kikir memang sangat egois dengan kehidupan sekelilingnya. Sehingga manusia yang memiliki tabiat ini cenderung dan sering diisolasikan oleh masyarakat sekitar-nya. Bahkan Allah sendiri melalui Rasul-Nya telah mengancam mereka yang kikir akan selalu dijauhkan dari sisi-Nya, dari manusia dan surganya Allah. Dan sifat inilah yang pernah menjadi momok menakutkan yang menjadikan mereka orang-orang tempo dulu dimusnahkan dari muka bumi ini. Karena pada masa lalu sifat ini telah jadi biang keladi mereka untuk saling bunuh, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah. Kalaupun untuk mempertahankan apa yang mereka punya itu harus ditempuh dengan berdusta, menga-niaya orang lain atau bahkan memutuskan hubungan sanak saudara semua itu pasti akan mereka lakukan.
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya  di hari kiamat. (Q.S. Al-‘Imron : 180)
      Bakhil memang merupakan sifat yang sangat berbahaya dan menakut-kan. Sehingga ia bisa menggagalkan seseorang yang mati berperang di jalan Alloh (jihad) untuk menda-patkan predikat Syahid. Hal ini pernah terjadi pada masanya Rosululloh. Suatu ketika seorang sahabat tewas di dalam medan pertempuran hingga banyak orang yang menangisinya, termasuk seorang perempuan yang selalu merintih-rintih dan beranggapan dia akan masuk sorga karena mati membela agama Allah (Syahid). Mengetahui ini Rosulullah langsung berkata kepada perempuan itu “Bagaimana engkau tahu kalau dia ini seorang yang Syahid? Karena bisa jadi semasa dia hidup pernah berbicara hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya atau ia berlaku kikir terhadap harta yang sebenarnya tidak menjadikan ia kekurangan”.
      Rasulullah sangat khawatir sekali akan dihinggapi sifat tercela ini. Sampai beliau tidak pernah sekalipun menolak permintaan orang lain. Bagi beliau seorang mukmin yang benar-benar beriman adalah orang yang di dirinya tidak memiliki perasaan kikir. Bahkan Allah lebih senang terhadap orang yang sangat bodoh tetapi mempunyai sifat dermawan dari pada orang yang khusyu’ beribadah namun memelihara perbuatan bakhil.
      Yang lebih menakutkan lagi adalah ancaman neraka bagi mereka yang bersifat bakhil. Rosululloh sendiri pernah menyuruh seseorang yang punya pekerti ini untuk meyingkir dari dekat beliau saat bertemu. Beliau sangat takut terbakar oleh api yang dibawa orang tersebut. Menurut beliau manusia yang ber-laku bakhil adalah seorang pendosa dengan kotoran dosa yang sangat besar sekali. Bisa jadi lebih besar dari tujuh lapis bumi, langit, gunung atau laut. Sebagaimana sabda rosululloh kepada orang tesebut “Demi dzat yang mengutus diriku dengan membawa petunjuk dan keagungan atau kedermawanan. Andaikan engkau beribadah diantara Rukun Yamani dan Maqom Ibrohim selama dua juta tahun lalu kau menangis sehingga air matamu mampu mengaliri sungai-sungai dan dapat menyirami pepohonan sedangkan keadaanmu masih terhina (kikir) maka niscaya Alloh akan menjeru-muskanmu ke neraka. Celakalah dirimu! Apa engkau tidak tahu kalau kebakhilan adalah kekufuran? Apa engkau juga tidak tahu jika kekufuran itu berarti neraka.   Alangkah celakanya orang yang bakhil. Gara-gara tabiatnya itu amal ibadah selama berjuta-juta tahun ternyata tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya dari siksa neraka.
    Dampak yang ditimbulkan oleh sifat ini tidak hanya bisa dirasakan pemiliknya saja. Bahkan orang lain pun bisa terkena getahnya. Seseorang yang terlalu sering melihat orang bakhil atau malah bergaul dengannya maka hatinya bisa menjadi keras sekeras baja dan yang pasti dia bisa tertular. Dan merupakan ciri khas orang mukmin adalah selalu merasa susah kalau bertemu orang bakhil. Karena bakhil adalah kekasih syetan.
     Untuk memberantas penyakit ini hanya ada satu penawar, yaitu manusia harus membekali diri dengan sifat sakho’. Sakho’ atau dermawan adalah perasaan suka memberi orang lain tanpa didasari pamrih sama sekali. Dan menjadi kebalikan dari sifat bakhil, orang yang punya sifat ini akan senantiasa disenangi masyarakat sekitar, lebih dicintai oleh Allah meski dia bukanlah tipe orang yang giat beribadah dan dia akan lebih berpeluang untuk masuk surga dari pada orang bakhil yang gemar beramal ibadah.
      Sifat dermawan ini sebenarnya juga memiliki beberapa tahapan dan tingkatan. Namun seseorang itu telah dapat mencapai klimaknya jika ia telah mempunyai sifat itsar (mengede-pankan orang lain). Itsar ialah mendermakan hartanya walaupun sebenarnya ia sangat membutuh-kannya. Namun karena ada orang lain yang memerlukannya juga maka ia mendahulukan orang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu. Demikian pula orang yang bakhil. Ia akan dapat mencapai puncak kebakhilannya jika masih saja menahan hartanya walaupun untuk kebutuhan pribadinya. Sehingga seandainya dia sakit, dia tidak akan mengeluarkan hartanya sepeserpun untuk berobat kecuali jika ia mendapatkan obat tersebut secara gratis.
      Dari banyaknya penjelasan yang telah diterangkan oleh syara’ mungkin kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa bakhil adalah termasuk sifat tercela yang bisa mengakibatkan kehancuran pemiliknya. Tapi apakah kesimpulan tersebut sudah dapat menjawab pertanyaan apa sebenarnya hakikat bakhil itu dan bagaimana pula seseorang itu bisa mendapat status bakhil? Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa dirinya adalah seorang dermawan dan orang lain semuanya bakhil. Dan juga tidak jarang orang selalu berbeda-beda dalam menilai orang lain. Terkadang menurut si A dia adalah orang yang dermawan namun menurut si B dia adalah seorang bakhil.
    Bakhil bukanlah berarti orang yang menahan hartanya. Karena setiap manusia pasti memiliki sifat cinta harta benda. Dan karena kecintaan inilah maka dia akan selalu berusaha menjaga dan menahan hartanya. Dan kalau ini dianggap sebagai sifat bakhil maka tidak akan ada orang yang bisa selamat dari kebakhilan ini.
      Pengertian bakhil dan sakho’ menurut pandangan agama pada hakikatnya lebih sederhana dari pada pengertian yang biasa dipahami oleh masyarakat umum. Bakhil bukan berarti menahan harta benda saja tetapi bakhil adalah mencegah diri untuk mengeluarkan harta benda yang semestinya dan wajib ia keluarkan. Seperti halnya ketika seseorang itu seharusnya wajib memberi nafkah keluarganya sebesar Rp. 1.000 rupiah, namun ternyata yang ia berikan hanya Rp. 900 rupiah.
      Orang yang bakhil juga tidak bisa diartikan sebagai orang yang tidak mau memberi. Karena sebakhil apapun seseorang pasti ia mau memberi walau hanya sedikit jumlahnya. Dan sebaliknya orang yang dermawan juga pasti akan berpikir seribu kali kalau ada orang lain yang meminta semua harta bendanya. C&P.

MUSAHABA DIRI

MUSAHABA DIRI❄️

🤍☘️Hati yang bersih, tak akan pernah menyakiti hati orang lain, jika ia di sakiti sekalipun, ia membalasnya dengan Sebuah senyuman kebaikan…

🤍☘️Hati yang suci, tak akan pernah mengecewakan orang lain, jika ia dikecewakan, ia akan membalasnya dengan kesabaran Dan do’a2 untuk kebaikannya..

🤍☘️Hati yang baik, ia tak akan pernah merasa dirinya paling baik karena baginya semuanya punya kebaikan Dan kekurangn

🤍☘️Hati yang ikhlas akan terpancar dari raut wajah, ia sentiasa kelihtan ramah Dan mesra dalam berbicara..

🤍☘️Hati yang tulus akan Menenangkan jiwa, menghadirkan secebis perkataan yang lembut, memiliki kesederharnaan dalam bersikap

🤍☘️Ingatlah ☘️🤍

Kita takkan pernah sempurnah dimata manusia

🤍☘️Biarlah Allah yang menilai kita.. Karena Allah tahu apa yang ada dihati kita. 🤲Semoga kita menjadi pribadi yang baik Dan memiliki hati yang terbaik 🤍