Hakikat guru menurut ulamak Salaf

Hakikat guru menurut ulamak Salaf

ليس شيخك من سمعت منه

Guru sejati bukanlah orang yang engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja.

وإنما شيخك من أخذت عنه

Tapi,

dia adalah seorang yang menjadi tempatmu didalam mengambil hikmah dan akhlaq.

و ليس شيخك من واجهتك عبارته

Bukanlah guru sejati,

seseorang yang hanya membimbingmu sekedar makna dari kata-kata.

وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته

Tapi,

orang yang disebut guru sejati bagimu adalah orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu.

وليس شيخك من دعاك الى الباب

Dia bukan hanya seorang yang mengajakmu sampai kepintu.

وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب

Tapi,

yang disebut guru bagimu itu adalah orang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya.

وليس شيخك من واجهك مقاله

Bukanlah gurumu,

orang yang ucapan-ucapannya membimbingmu.

وإنما شيخك الذى نهض بك حاله

Tapi,

yang disebut guru bagimu adalah orang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat.

شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى

Gurumu yang sejati adalah yang membebaskan mu dari penjara hawa nafsu, lalu memasukkan mu ke ruangan Tuhan mu.

شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك

Guru sejati bagimu adalah orang yang senantiasa menjernihkan cermin hatimu, sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.

Untaian Mutiara Dari Ulamak Salafi

Untaian Mutiara Dari Ulamak Salafi

من غرس العلم إجتنى النباهة،

Siapa yang menanam ilmu maka ia akan memetik kecerdasan,

ومن غرس الزهد إجتنى العزة،

Siapa yang menanam rasa zuhud ( tidak cinta dunia ) maka ia akan memetik kemuliaan,

ومن غرس الإحسان إجتنى المحبة،

Siapa yang menanam kebaikan maka ia akan memetik cinta,

ومن غرس الفكرة إجتنى الحكمة،

Siapa yang menanam pemikiran maka ia akan memetik hikmah,

ومن غرس الوقار إجتنى المهابة،

Siapa yang menanam ketenangan maka ia akan memetik wibawa,

ومن غرس المداراة إجتنى السلامة،

Siapa yang menanam keramahan maka ia akan memetik kesalamatan,

ومن غرس الكبر إجتنى المقت،

Siapa yang menanam kesombongan maka ia akan memetik kebencian,

ومن غرس الحرص إجتنى الذل،

Siapa yang menanam kerakusan maka ia akan memetik kerendahan,

ومن غرس الطمع إجتنى الخزي،

Siapa yang menanam keserakahan maka ia akan memetik kehinaan,

ومن غرس الحسد إجتنى الكمد.

Dan siapa yang menanam iri maka ia akan memetik kesedihan.

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 12

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 12 – Tauhid Asma wa Shifat 2B

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

قَوَاعِدُ فِي صِفَاتِ اللهِ

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Ahlusunah menetapkan seluruh sifat-sifat Allah ﷻ yang ditetapkan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah sesuai dengan keagungan-Nya. Dimana hal ini dibangun di atas dua hal :

Pertama : Tidak berharap mengetahui sifatnya secara hakiki

Ketika bertemu dengan ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah ﷻ maka hal yang paling pertama dilakukan oleh seorang Ahlusunah adalah memutuskan segala harapannya untuk mengetahui bagaimana hakikat dari sifat-sifat Allah ﷻ tersebut. Hal ini karena,

Pembicaraan tentang sifat adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat

Berdasarkan kaidah ini, maka sebagaimana Dzat Allah ﷻ tidak diketahui maka tentu kaifiah sifat Allah ﷻ lebih tidak diketahui, karena pembicaraan tentang sifat adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat.

Contoh lainnya, ruh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana dzat ruh dan dia terbuat dari apa. Andai didatangkan seribu ahli dan mencoba berbicara tentang ruh, niscaya akan muncul pula seribu pendapat tentang ruh tersebut. Sebagaimana dzat ruh tidak diketahui, demikian pula sifat-sifat tersebut tidak akan diketahui kecuali hanya beberapa saja yang dikabarkan oleh Nabi di dalam hadis.

Sehingga jika ruh saja yang diyakini adanya dan dekat dengan kita tetapi kaifiahnya tidak diketahui maka bagaimana lagi dengan Dzat Al-Khaliq (Sang Pencipta). Lebih dari itu, apabila Dzat Khaliq saja tidak diketahui maka bagaimana lagi dengan sifat-sifat-Nya. Dari sini, maka seseorang tidak mungkin mengetahui bagaimana istiwa’ Allah ﷻ, bagaimana turunnya Allah ﷻ, dan sifat-sifat lainnya.

Persamaan dalam nama dan sifat tidak mengharuskan kesamaan pada hakikat pemilik nama dan sifat tersebut

Kaidah ini berlaku dalam segala hal. Kita melihat gajah memiliki tangan, kaki, dan mulut, demikian pula kucing juga memiliki hal yang sama, tetapi kita saksikan kedua makhluk tersebut benar-benar berbeda. Apabila persamaan pada nama dan sifat untuk kedua makhluk tidak mengharuskan kesamaan pada hakikatnya (padahal keduanya sama-sama makhluk), maka bagaimana lagi dengan perbandingan antara makhluk dan Sang Khaliq yaitu Allah ﷻ, tentu lebih mustahil untuk memiliki kesamaan. Ditambah lagi Allah ﷻ juga menafikan hal tersebut di dalam Al-Qur’an.

Misalnya di dalam masalah penglihatan dan pendengaran, Allah ﷻ berfirman tentang Diri-Nya,

إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah ﷻ memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa: 58)

Allah ﷻ kemudian berfirman tentang manusia,

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2)

Lalu Allah ﷻ menafikan kesamaan antara diri-Nya Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dengan makhluk yang mendengar dan yang melihat. 

Allah ﷻ berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah ﷻ adalah Yang Maha Mendengar, adapun manusia pendengarannya terbatas. Manusia tidak bisa mendengar dari jarak jauh, adapun Allah ﷻ mendengar segalanya, bahkan pembicaraan dalam hati Allah ﷻ juga mendengarnya. Seseorang apabila dihadapkan dengan tiga orang saja lalu mereka bertiga berbicara secara bersamaan kepadanya, maka dia tidak akan bisa menangkap pembicaraan mereka semua secara sekaligus. Adapun Allah ﷻ, jutaan manusia di Padang ‘Arafah yang berdoa dalam satu waktu, semuanya bisa didengar oleh Allah ﷻ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya Risalah Tadmuriyyah memberikan contoh tentang na’imul jannah (kenikmatan surga), yaitu tentang perbandingan antara makhluk-makhluk Allah ﷻ di surga dengan makhluk-makhluk Allah ﷻ di dunia. Allah ﷻ mengabarkan bahwa di surga ada makanan, minuman, pakaian, para istri, buah-buahan, daging, khamar, susu, madu, air, perhiasan dari emas, perak, mutiara dan lainnya. Nama-nama tersebut juga ada wujudnya di dunia dari sisi makna, akan tetapi berbeda dengan yang ada di akhirat dari sisi hakikatnya.

Tentang kesamaannya dari sisi makna adalah karena Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 3)

Penamaan yang diberikan oleh Allah ﷻ untuk nama benda-benda tersebut baik yang ada di dunia ataupun yang ada di surga adalah sama, sebab sama-sama menggunakan bahasa Arab, sehingga semuanya bisa dimaknai dalam satu makna.

Akan tetapi dari sisi hakikat benda-benda yang memiliki kesamaan nama tersebut berbeda, dimana Allah ﷻ berfirman,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 17)

Juga firman Allah ﷻ dalam hadis qudsi,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia.” ([3])

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

لا يُشْبِهُ شَيءٌ مِمَّا فِي الْجَنَّةِ مَا فِي الدُنْيَا إِلَّا فِي الأَسْمَاءِ

“Tidak ada yang serupa antara apa yang ada di surga dengan apa yang ada di dunia, selain nama.” ([4])

Jika saja sesama makhluk memiliki suatu sifat yang sama namanya namun ternyata hakikatnya berbeda, maka perbedaan hakikat antara makhluk dan Khaliq tentu lebih nyata.

——-

Footnote:

([3]) HR. Bukhari No. 3244 dan Muslim No. 2824.

([4]) Tafsir Ibn Katsir (1/205).

JANGAN BERALASAN MENGIKUTI MAZHAB SYAFI’I

JANGAN BERALASAN MENGIKUTI MAZHAB SYAFI’I ATAU MENGAKU MAZHAB SYAFI’I LANTARAN INGIN MENINGGALKAN SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID. 💦 SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID ADALAH WAJIB. ‼️

.

.

Banyak orang yang mengaku bermazhab Syafi’iyah namun mengatakan Shalat Wajib 5 waktu itu TIDAK WAJIB BERJAMA’AH di Masjid dengan beralasan bahwa mazhab Syafi’i tidak mengatakan wajib. Dan yang mengatakan shalat 5 waktu berjama’ah itu wajib di masjid adalah Mazhab Hambali.

.

Padahal Shalat Wajib 5 waktu itu hukumnya wajib berjama’ah di masjid adalah Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika telah berhadapan dengan Sunnah, maka para ulama Mazhab pun membuang pendapat Mazhab (pandangan) nya sejauh mungkin demi mengikuti Sunnah. Jadi, Shalat Wajib 5 waktu itu hukumnya WAJIB BERJAMA’AH di Masjid bagi laki-laki.

.

Sekarang, yang kedua, mereka beralasan bahwa Shalat 5 waktu TIDAK WAJIB berjama’ah di Masjid beralasan dengan Mazhab Syafi’i.

.

Padahal ! Imam Asy Syafi’i rahimahullah saja MEWAJIBKAN shalat 5 waktu berjama’ah di Masjid, begitu pun juga para Ulama pembesar Mazhab Syafi’i. Jadi Jangan mengarang bebas demi mengikuti hawa nafsu.

.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang adzan dalam firman-Nya

.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya sasaran ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah mereka benar-benar kaum yang tidak mempergunakan akal. “

.

– QS Al Ma’idah [5] : 58

.

Allah berfirman pula

.

“Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual-beli.”

.

– QS Al Jumu’ah [62] : 9

.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan shalat Jum’at, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mensunahkan adzan bagi shalat-shalat yang diwajibkan. Kemungkinan diwajibkannya mengerjakan shalat berjamaah pada selain shalat Jum’at adalah sebagaimana diperintahkan mengerjakan shalat Jum’at dan meninggalkan jual-beli.

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengerjakan shalat berjamaah, baik saat safar (dalam perjalanan) maupun saat mukim (berdomisili), baik saat kondisi keamanan tidak menentu maupun di saat keadaan terkendali (aman). 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.”

.

– QS. An-Nisa [4] : 102

.

Imam Syafi’i berkata,

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kepada orang yang mengerjakan shalat agar mengerjakannya dalam keadaan tenang, dan beliau memberikan keringanan untuk tidak berjamaah jika ada halangan seperti yang akan saya sebutkan, Insya Allah.

.

KESIMPULAN YANG DAPAT SAYA (IMAM ASY-SYAFI’I) KEMUKAKAN BERDASARKAN KITABULLAH DAN SUNNAH ADALAH TIDAK HALAL MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH PADA SETIAP PELAKSANAAN SHALAT FARDHU, SEHINGGA TIADA SUATU KELOMPOK PUN DARI ORANG-ORANG YANG MUKIM (DOMISILI) MAUPUN YANG SAFAR MELAINKAN MENEGAKKANNYA DI ANTARA MEREKA.

.

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku bermaksud untuk menyuruh mengumpulkan kayu bakar. Kemudian aku perintahkan mereka untuk mengerjakan shalat, lalu dikumandangkan adzan untuk shalat. Kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang banyak. Kemudian aku berpaling kepada orang-orang yang terlambat hadir dan aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging gemuk pada tulang atau daging yang menempel di antara tapak kaki kambing, niscaya ia akan menghadiri Shalat Isya.”

.

Imam Syafi’i berkata,

.

Serupa pula apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berkeinginan untuk membakar rumah-rumah suatu kaum yang meninggalkan shalat Isya karena kemunafikan, Wallahu a’lam

.

SAYA TIDAK MEMBERI KERINGANAN KEPADA ORANG-ORANG YANG SANGGUP MELAKSANAKAN SHALAT JAMAAH UNTUK MENINGGALKANNYA, KECUALI KARENA UDZUR.

.

Apabila seseorang meninggalkan shalat berjamaah lalu ia mengerjakannya sendiri, maka ia tidak perlu mengulanginya, baik ia mengerjakan sebelum imam memulai shalat atau sesudahnya selain shalat Jum’at. Sesungguhnya orang yang mengerjakan shalat Zhuhur sebelum imam mengerjakan shalat Jum’at, maka ia harus mengulanginya, karena shalat Jum’at dengan berjamaah adalah fardhu.

.

Allahu a’lam

.

Setiap shalat jamaah yang dikerjakan oleh seseorang, baik di rumahnya atau di masjid kecil atau besar, sedikit jamaahnya atau banyak, maka hal itu telah memadai.

.

– Kitab Al-Umm 5/149. Bab Pembahasan Tentang Shalat. Shalat Berjamaah

.

Dapat disimpulkan dari perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah sendiri yaitu

.

“KESIMPULAN YANG DAPAT SAYA (IMAM ASY-SYAFI’I) KEMUKAKAN BERDASARKAN KITABULLAH DAN SUNNAH ADALAH TIDAK HALAL MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH PADA SETIAP PELAKSANAAN SHALAT FARDHU”

.

Dan

.

“SAYA TIDAK MEMBERI KERINGANAN KEPADA ORANG-ORANG YANG SANGGUP MELAKSANAKAN SHALAT JAMAAH UNTUK MENINGGALKANNYA”

.

Bahwasannya ini menunjukkan Imam asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) SANGAT MEWAJIBKAN UNTUK SHALAT BERJAMA’AH bagi setiap pelaksanaan Shalat Fardhu dan haram untuk meninggalkannya.

.

Dan lucunya banyak yang mengaku-aku bermazhab Syafi’iyah dan mengaku-aku berfiqh Syafi’iyah yang notabene Mazhab terbesar di Indonesia TAPI ENGGAN UNTUK SHALAT BERJAMA’AH DI SETIAP PELAKSANAAN SHALAT FARDHU ?

.

CATATAN :

.

Hadits yang dibawakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah terdapat dalam HR. Bukhari no. 608, 2242, 6683| Fathul Bari no. 644, 2420, 7224, Muslim no. 1040, 1043 | Syarh Shahih Muslim no. 651, 652, Abu Dawud no. 461, 462 | no. 548, 549, Tirmidzi no. 201 | no. 217, Nasa’i no. 839 | no. 848, Ibnu Majah no. 783 | no. 791, Malik no. 266 | no. 296 dan Ahmad no. 7026,  8535, 8549, 9720, 10383, 10539

.

BAGAIMANA PENDAPAT ULAMA PEMBESAR MAZHAB SYAFI’I SENDIRI ?

.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

.

“Hukum shalat berjamaah adalah FARDHU ‘AIN namun bukan syarat sah shalat. Pendapat ini merupakan pendapat dari dua ulama besar mazhab syafi’i yang memiliki kemampuan mendalam dalam bidang fiqh dan hadits yaitu Abu Bakar Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Mundzir.”

.

– Al-Majmu’, IV/75

.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata

.

“Hukum shalat berjamaah FARDLU ‘AIN merupakan pendapat sejumlah ulama pakar hadits yang bermazhab syafi’i, yaitu Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Mundzir dan Ibnu Hibban.”

.

– Fathul Baari, II/126

.

Abu Tsaur rahimahullah berkata

.

“SHALAT BERJAMAAH ITU WAJIB. Tidak boleh seorang pun meninggalkannya kecuali karena ada uzur yang menghalanginya.”

.

– Al-Ausath fi As-Sunan wa Al-Ijma’ wa Al-Ikhtilaf, IV/138

.

Imam Tirmidzi rahimahullah (wafat 279 H) yang merupakan MURID DARI AL-HUMAIDI RAHIMAHULLAH (WAFAT 219 H), YANG MERUPAKAN MURIDNYA IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH (WAFAT 204 H) berkata,

.

Hadits Abu Hurairah ini derajatnya shahih. Telah diriwayatkan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan banyak jalur, mereka mengatakan,

.

“Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak memenuhi panggilannya, maka tidak ada shalat baginya.”

.

Dan sebagian para ahli ilmu berkata,

.

“Hal ini sangat ditekankan dan tidak dan keringanan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat berjama’ah kecuali dengan udzur.”

.

– HR. Tirmidzi no. 201 | no. 217

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 12 – Tauhid Asma wa Shifat

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 12 – Tauhid Asma wa Shifat 2A

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

قَوَاعِدُ فِي صِفَاتِ اللهِ

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Selanjutnya penulis akan menyebutkan kaidah-kaidah yang urgen yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Kaidah-kaidah tersebut adalah :

Kaidah Pertama

صِفَاتُ اللهِ كُلُّهَا كَامِلَةٌ لاَ نَقْصَ فِيْهَا بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ

Semua sifat-sifat Allah ﷻ sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun dari sisi mana pun

Contoh, sifat الْحَيَاةُ (Maha Hidup) adalah sifat Allah ﷻ yang bermakna kehidupan sempurna yang azali dan abadi, tidak didahului dengan ketiadaan dan juga tidak diakhiri dengan kematian. 

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيءٌ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Allah ﷻ ada tanpa permulaan, tidak suatu apa pun selain Dia.” ([1])

Berbeda dengan manusia yang bermula dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kematian. Allah ﷻ berfirman,

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?.” (QS. Al-Insan: 1)

Begitu juga perkataan Allah ﷻ kepada Nabi Zakariya ‘alaihissalam,

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

” (Allah ﷻ) berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam: 9)

Demikian juga ketika manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat lalu diberikan kehidupan abadi -apakah di surga atau di neraka- maka keabadian mereka bukan independent (لِذَاتِهِ) akan tetapi karena diabadikan oleh Allah. Lain halnya dengan Allah yang hidupNya dan keabadianNya adalah secara dzatNya sendiri.

Kaidah Kedua

ظَوَاهِرُ نُصُوْصِ الصِّفَاتِ تُفْهَمُ مَعَانِيْهَا لاَ كَيْفِيَّتُهَا

Dzahir dari nas-nas sifat dari sisi maknanya bisa dipahami tapi dari sisi kaifiahnya tidak bisa dipahami

Contoh : sifat السَّمْعُ (mendengar) Allah ﷻ bisa dipahami maknanya yaitu mendengar sesuatu yang didengar, namun kaifiah mendengar-Nya Allah ﷻ tidak bisa dipahami.

Dalam menyikapi dzahir nas-nas berkaitan dengan sifat Allah ﷻ maka manusia terbagi ke dalam tiga golongan:

● Muawwilah (para penakwil), mereka mengatakan bahwa yang diinginkan oleh Allah ﷻ bukan dzahirnya, sehingga ayat-ayat tersebut harus ditakwil. Seperti sifat istiwa’ dimaknai dengan istaula (menguasai)

● Mufawwidhah, mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Allah ﷻ bukan dzahirnya dan juga maknanya tidak mungkin untuk diketahui, sehingga semuanya diserahkan kepada Allah ﷻ. Seperti sifat istiwa’ tidak mereka maknai dengan sesuatu apa pun.

● Ahlusunah, mereka membiarkan makna ayat sesuai dzahirnya tanpa membagaimanakan, atau dengan kata lain bahwa yang Allah ﷻ maksud adalah sesuai dzahir ayat, hanya saja kita serahkan kepada Allah ﷻ bagaimana kaifiahnya. Seperti sifat istiwa’ mereka maknai dengan “di atas” dan beberapa makna lainnya sesuai konsekuensi bahasa Arab, akan tetapi “di atas”nya Allah ﷻ tidak diketahui bagaimana kaifiahnya.

Kesimpulan manhaj Akidah Ahlusunah dalam menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ adalah

“Menetapkannya secara hakikatnya dan meyakini bahwa hakikatnya tidak mungkin diketahui, namun pasti menyelisihi hakikat sifat-sifat makhluk”. Hal ini terangkum dalam penjelasan Abu Ísa At-Tirmidzi rahimahullah dalam sunannya. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَال سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ((أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ)) وَ((يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ))

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنْ الرِّوَايَاتِ مِنْ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِي هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلَا يُتَوَهَّمُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتْ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الْآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَاهُنَا الْقُوَّةُ، وقَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ ((لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ))

“Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin ‘Ala’ telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Manshur telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Muhammad dia berkata, saya mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Allah ﷻ menerima sedekah dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk kalian sebagaimana kalian membesarkan anak kuda kalian, sampai-sampai sesuap makanan akan menjadi sebesar gunung Uhud’. Dan Hal ini dibenarkan di dalam Al-Qur’an pada firman Allah ﷻ  ‘Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah ﷻ menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat’ (At-Taubah: 104) dan firman Allah ﷻ, ‘Allah ﷻ memusnahkan riba dan menyuburkan (mengembangkan) sedekah.’ (QS. Al-Baqarah: 276)

Abu ‘Isa berkata, ‘ini adalah hadis hasan sahih’. Dan telah diriwayatkan dari ‘Aisyah dari Nabi Muhammad ﷺ seperti hadis di atas. Para ulama telah memberi penjelasan tentang hadis di atas dan hadis-hadis lain yang memuat sifat-sifat Rabb dan tentang turun-Nya Allah ﷻ setiap malam ke langit dunia, mereka berkata, riwayat-riwayat tersebut semuanya sahih dan wajib untuk diimani serta tidak boleh dikhayalkan dan tidak dipertanyakan bagaimana hakikat sifat tersebut. Demikian diriwayatkan dari Malik bin Anas, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarak mereka semuanya berkata tentang sifat-sifat Allah ﷻ, أَمِرُّوهَا بِلَا كَيْفٍ ‘Tetapkanlah/Imanilah sifat-sifat tersebut sebagaimana telah diriwayatkan tanpa mengatakan bagaimana hakikatnya’, demikianlah perkataan para ulama Ahlusunah wal Jamaah.

Adapun golongan Jahmiyah, mereka mengingkari riwayat-riwayat tersebut bahkan mengatakan bahwa menetapkan sifat untuk Allah ﷻ merupakan tasybih (menyerupakan Allah ﷻ dengan hamba-Nya). Padahal Allah ﷻ telah menyebutkan dalam banyak ayat sifat tangan, pendengaran, dan penglihatan, maka Jahmiyah pun menakwil sifat-sifat tersebut dan menafsirkannya tidak seperti penafsiran para ulama. Jahmiyah berkata, ‘Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menciptakan Adam dengan tangan-Nya’, dan mereka mengatakan makna tangan ialah kekuatan. Ishaq bin Ibrahim berkata, ‘Yang dinamakan dengan tasybih ialah jika dia mengatakan tangan Allah ﷻ seperti tangan makhluk, pendengaran Allah ﷻ seperti pendengaran makhluk. Jika ternyata dia mengatakannya maka itu merupakan tasybih. Adapun jika dia mengatakan sebagaimana Allah ﷻ berfirman, bahwa Allah ﷻ memiliki tangan, pendengaran, dan penglihatan tanpa menyatakan bagaimana hakikatnya serta tidak menyamakannya dengan sifat makhluk, maka hal ini tidak termasuk tasybih dan ini sesuai dengan firman Allah ﷻ, ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS Asy-Syuraa : 11) ([2])

Kesimpulan dari pernyataan At-Tirmidzi di atas :

Pertama : Manhaj Ahlusunah, yaitu manhaj para ulama adalah mengimani ayat-ayat sifat dan juga hadis-hadis sifat tanpa menanyakan bagaimananya.

Kedua : Manhaj Jahmiyah adalah menafsirkan ayat-ayat sifat tersebut tidak sebagaimana penafsiran para ulama, seperti menyatakan bahwa Allah ﷻ tidak punya tangan, Allah ﷻ tidak pernah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya, namun makna tangan adalah kekuatan atau kenikmatan.

Ketiga : Jahmiyah menakwil ayat-ayat sifat tersebut karena takut terjerumus dalam tasybih, akan tetapi para ulama menjelaskan bahwa yang dinyatakan tasybih adalah jika menyatakan bahwa sifat Allah ﷻ seperti sifat makhluk.

—–

([1]) HR. Bukhari No. 3191.

([2]) HR. Tirmidzi No. 662.

WARNAI ANAK MUDA DENGAN SUNNAH RASULULLAH SAW

WARNAI ANAK MUDA DENGAN SUNNAH RASULULLAH 🌿🌼

Seorang dai hendaklah menyibukkan diri untuk membina masyarakat, terutama generasi mudanya dengan memahamkan mereka dengan sunnah dan manhaj salaf. Kalau para pemuda telah terwarnai dengan sunnah dan manhaj salaf niscaya dengan sendirinya akan tegak islam. 

Kalau islam telah tegak dan sunnah tersebar luas mewarnai mayoritas negeri, keberkahan pun akan turun di negeri ini. 

Berkata Syekh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, 

‏إذا سادت السُّنة ومنهج السلف في شباب الأمه قامت دولة الإسلام قطعاً .الإجابات الجليَّة عن القضايا المنهجيَّة ٢١

“Apabila as-Sunnah dan Manhaj Salaf menguasai (mewarnai) para pemuda umat ini, maka pasti akan tegaklah Daulah Islamiyah.” (al-Ijabaat al-Jaliyyah ‘an al-Qadhaya al-Manhajiyyah, 21).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

قال : ( ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم ) أي : باتباعكم للرسول صلى الله عليه وسلم يحصل لكم هذا كله ببركة سفارته ” 

Allah Taala berfirman: niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu..” mengandung penjelasan bahwa dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, kalian akan memperoleh KEBERKAHAN.” (Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali Imran 31).

Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah :

“عوّد نفسك على تطبيق السنة ففيها البركة” شرح كتاب إغاثة اللهفان ١/١١/١٤٣٦

Biasakanlah dirimu untuk mengerjakan sunnah karena ada KEBERKAHAN di dalamnya (padanya).(“Syarh Kitab Ighatsatul Lahafan 1/11/1436).  

Tetapi jika pemuda-pemudinya sibuk dengan nyanyian, asik dengan musik, enjoy dan senang fashion show sambil hilir mudik mondar mandir lenggak lenggok menyeberangi zebra cross semacam di Citayam dan kegiatan lainnya yang tidak ada manfaatnya untuk agama ini, maka datangnya keberkahan hanya angan-angan belaka. 

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 11 – Tauhid Asma wa Shifat

Syarah Rukun Iman – Iman Kepada Allah 11 – Tauhid Asma wa Shifat 1F

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

قَوَاعِدُ فِي أَسْمَاءِ اللهِ الْحُسْنَى

Kaidah-kaidah dalam Memahami Nama-nama Allah ﷻ

Kaidah Kelima

Nama-nama Allah ﷻ ada yang datang dengan bentuk mufrad (tunggal), bergandengan dengan nama lain, dan bergandengan dengan lawannya

Di dalam Al-Qur’an maupun hadis akan dijumpai beberapa bentuk bagaimana datangnya nama Allah ﷻ dalam lafaz.

Di dalam Al-Qur’an maupun hadis akan dijumpai beberapa bentuk lafaz penyebutan nama-nama Allah ﷻ.

Pertama : Mufrad (bersendirian), yaitu penyebutan nama Allah ﷻ dalam nas secara bersendirian.

Seperti nama الْقَادرُ (Al-Qadir) dalam ayat,

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

“Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain’.” (QS. Al-An’am: 65)

Atau nama الْقَاهِرُ (Al-Qahir) dalam ayat,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18)

Nama-nama yang datang dalam bentuk seperti ini banyak dijumpai dalam nas-nas.

Kedua : Bergandengan, yaitu nama Allah ﷻ yang datang secara bersendirian dan juga bergandengan dengan nama lain.

Seperti nama السَّمِيعُ (As-Sami’) bergandengan الْبَصِيرُ (Al-Bashir) dalam ayat,

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Nama-nama seperti ini yang paling banyak dalam Al-Qur’an, seperti nama Al-‘Aziiz digandengkan dengan banyak nama-nama Allah ﷻ yang lain : العَزِيْزُ الْحَكْيِمُ, الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ, الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ, الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ, الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ, الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ, الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ ,الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ, dan الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

Dalam ayat-ayat yang lain nama-nama tersebut juga datang secara bersendirian dan tidak bergandengan. Contoh firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah ﷻ maha melihat atas apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 110)

إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Sesungguhnya Engkau maha pemberi anugerah.” (QS. Ali Ímran: 8)

Untuk nama-nama Allah ﷻ seperti ini, maka boleh seseorang berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebut nama-nama tersebut secara bersendirian dan juga secara bergandengan. Seperti berdoa dengan berkata, “Ya Aziz” atau “Ya Hakim”.

Ketiga : Bergandengan dengan lawannya, yaitu nama Allah ﷻ yang datang bergandengan dengan lawan dari nama tersebut

Seperti nama اَلْقَابِضُ (Al-Qabidh) dan الْبَاسِطُ (Al-Basith).

Suatu ketika para sahabat mengeluh kepada Rasulullah ﷺ tentang mahalnya harga barang-barang dengan berkata, “Ya Rasulullah ﷻ, tetapkanlah harga untuk kami.” Rasulullah kemudian bersabda,

إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، اَلْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ

 “Sesungguhnya Allah ﷻ-lah yang membuat ketetapan harga, Dia adalah Al-Qabidh (Maha menahan/menyempitkan rezeki), Al-Basith (Maha membentangkan/meluaskan rezeki), Ar-Raziq (Maha menganugerahkan rezeki). Dan sesungguhnya aku berharap menjumpai Allah ﷻ dalam keadaan tiada seorang pun yang menuntut kepadaku (di hadapan Allah ﷻ) karena suatu kezaliman yang aku lakukan, baik berkaitan dengan darah maupun harta.” ([39])

Nama-nama Allah ﷻ yang seperti ini disebut dengan الأَسْمَاءُ الْمُزْدَوِجَةُ (al-Asma’ al-Muzdawijah/sepasang).

Contoh yang lain,

 الْمَانِعُ الْمُعْطِي (Al-Mani’ Al-Mu’thi) yaitu yang Maha menghalangi, Yang Maha memberi.

 النَّافِعُ الضَّارُّ (An-Nafi’ Ad-Dhar) yaitu Yang Maha memberi manfaat, Yang Maha memberi mudarat.

 الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ (Al-Muntaqim Al-‘Afuw) yaitu Yang Maha membalas, Yang Maha memaafkan.

 الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ (Al-Muhyi Al-Mumit) yaitu Yang Maha menghidupkan, Yang Maha mematikan.

 الرَّافِعُ الْخَافِضُ (Ar-Rafi’ Al-Khafid) yaitu Yang Maha mengangkat, Yang Maha merendahkan.

 الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ (Al-Mu’iz Al-Mudzil) yaitu Yang Maha memuliakan, Yang Maha menghinakan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

فَهِذِهِ الْأَسْمَاءُ الْمُزْدَوِجَةُ تَجْرِي الَأسْمَاءُ مِنْهَا مَجْرَى الاِسْمِ الْوَاحِدِ الَّذِي يَمْتَنِعُ فَصْلُ بَعْضِ حُرُوْفِهِ عَنْ بَعْضٍ

“Maka ini adalah nama-nama yang sepasang disikapi seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan huruf-hurufnya.” ([40])

Nama-nama Allah ﷻ yang datang sepasang seperti ini (berlawanan satu sama lain) harus disebutkan secara bersamaan. Hal ini karena “kekuatan” masing-masing nama ini akan sempurna bila disebutkan secara bersama-sama, yaitu untuk menunjukkan rububiyah Allah ﷻ, bahwasanya yang mengatur di alam semesta ini hanyalah Allah ﷻ semata. Jika disebutkan salah satunya saja, maka akan mengurangi kesempurnaan. Maka tidak boleh seseorang mengatakan, “Ya Dhaar (Wahai Maha Pemberi kemudaratan)”, “Ya Maani’ (Wahai Maha Penghalang)”, “Ya Mudzil (Wahai Maha Yang menghinakan makhluk-Nya)”. Karena jika disebutkan sisi ini saja maka ada kesan sifat buruk bagi Allah ﷻ, maka tidak boleh disebut kecuali dengan menyebutkan lawannya. 

Ketika seseorang berkata, “Yaa Naafi’ Dhaar (Wahai maha pemberi manfaat dan maha pemberi kemudaratan)”, maka akan memunculkan makna yang sempurna akan rububiyah Allah ﷻ, yaitu hanya Allah ﷻ yang mengatur alam semesta.

Faedah dari kaidah ini:

Pertama : Tidak boleh seseorang bernamakan عَبْدُ الضَّارِّ (hamba Dzat Yang Memberi kemudharatan), atau عَبْدُ الْمَانِعِ (hamba Dzat Yang Menahan), atau عَبْدُ الْمُمِيْتِ (hamba Dzat Yang mematikan), atau عَبْدُ الْمُذِلِّ (hamba Dzat Yang Menghinakan), atau عَبْدُ الْخَافِضِ (hamba Dzat Yang Merendahkan), atau عَبْدُ الْقَابِضِ (hamba Dzat Yang Menahan), karena nama-nama ini memberi kesan makna negatif (tidak sempurna) bagi Allah ﷻ.

Adapun jika penamaan dengan melihat sisi yang menunjukkan sisi positif dan sempurna maka tidak mengapa. Seperti عَبْدُ الْمُعْطِي (hamba Dzat Yang Maha Pemberi), atau Abdul ‘Afuwwu (hamba Dzat Yang Maha Pemaaf), atau عَبْدُ الْبَاسِطِ (hamba Dzat Yang Maha Membentangkan rezeki), atau عَبْدُ الْمُعِزِّ (hamba Dzat Yang Maha Memuliakan), karena nama-nama Allah ﷻ tersebut tidak memberikan kesan negatif. Bahkan sebagian nama-nama tersebut telah datang secara bersendirian. Seperti Al-Mu’thi, dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَاللَّهُ المُعْطِي

“Dan Allah ﷻ maha pemberi.” ([41])

Demikian juga Al-‘Afuwwu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah ﷻ sesungguhnya Engkau adalah maha memaafkan, Engkau mencintai pemaafan maka maafkanlah aku.” ([42])

Kedua : Setiap nama Allah ﷻ pada asalnya memiliki makna yang sempurna, ketika digandengkan dengan nama Allah ﷻ yang lain maka akan memunculkan makna sempurna yang lain.

Contoh seperti nama Allah الْعَزِيْزُ (Al-Aziz) yang digandengkan dengan الْحَكِيْمُ (Al-Hakim). Nama Allah الْعَزِيْزُ (Al-Aziz) sendiri mengandung makna yang sempurna yaitu sempurnanya sifat ‘izzah (kekuasaan) Allah ﷻ, dan nama الْحَكِيْمُ (Al-Hakim) menunjukkan kesempurnaan sifat hikmah bagi Allah ﷻ dan kesempurnaan hukum Allah ﷻ. Ketika kedua nama ini digabung maka akan menunjukkan makna yang baru yaitu :

Bahwasanya kekuasaan Allah ﷻ bergandengan dengan hikmah, maka kekuasaan-Nya tidak menimbulkan kezaliman, ketidakadilan, dan buruknya tindakan sebagaimana yang sering timbul dari orang-orang yang berkuasa. Sesungguhnya seorang penguasa sering mengantarkannya melakukan dosa, maka ia pun berbuat zalim, tidak adil, dan buruk dalam mengambil tindakan.

Demikian pula hukum Allah ﷻ dan hikmah Allah ﷻ bergandengan dengan kekuasaan yang sempurna, berbeda dengan hukum makhluk dan hikmah makhluk yang keduanya masih terkontaminasi dengan kerendahan/kehinaan. ([43])

Contoh lain nama الغَنِيُّ (yang maha kaya) digandengkan dengan الكَرِيْمُ (yang maha baik), seperti firman Allah ﷻ,

فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40)

Digandengkannya dua nama ini maka memunculkan sisi pujian dan kesempurnaan yang lain. Pada manusia, bisa jadi ada seseorang yang kaya namun si miskin tidak mendapatkan faedah dari kekayaannya karena ternyata si kaya adalah orang yang bakhil (pelit) dan tidak karim. Demikian juga, ada orang yang karim akan tetapi ia tidak kaya (miskin), dan ini pun tidak ada faedahnya bagi si miskin. Berbeda dengan Allah ﷻ, Allah ﷻ menggabungkan dua sifat ini secara sempurna, yang berarti Allah ﷻ Maha kaya sekaligus Maha baik/dermawan.

Contoh lain, digabungkan dua nama Allah العَفُوُّ (Maha memaafkan) dan القَدِيْرُ (Maha kuasa) dalam firman-Nya,

فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Maka sesungguhnya Allah ﷻ maha pemaaf dan maha kuasa.” (QS. An-Nisa: 149)

Digandengkannya dua nama ini memunculkan kesempurnaan makna yang lain, yaitu Allah ﷻ memaafkan bukan karena kelemahan, akan tetapi meskipun Allah ﷻ mampu membalas dengan kekuasaan-Nya namun Allah ﷻ tetap maha memaafkan, ([44]) dan ini adalah bentuk memaafkan yang sempurna. Tidak sebagaimana pada sebagian manusia yang mana mereka memaafkan karena ketidakmampuan untuk membalas.

Contoh lain, digabungkannya nama الْغَفُورُ (Yang Maha mengampuni) dengan nama الْوَدُودُ (Yang Maha mencintai) dalam firman Allah ﷻ,

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

“Dan Dialah yang maha mengampuni dan maha mencintai.” (QS. Al-Buruj: 14)

Digandengkannya dua nama ini memunculkan makna yang sangat indah yaitu menunjukkan bahwasanya para pendosa jika bertobat kepada Allah ﷻ dan kembali kepada-Nya maka Allah ﷻ akan mengampuni mereka dan akan mencintai mereka. Bahkan Allah ﷻ begitu sangat gembira dengan hamba-Nya tatkala bertaubat kepada-Nya. ([45]) Dari sini, tidaklah dikatakan bahwa “Allah ﷻ hanya mengampuni mereka namun kecintaan Allah ﷻ kepada mereka tidak kembali lagi” sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang yang keliru.

Contoh lain digabungkannya nama الوَاسِعُ (Yang Maha luas) dengan nama العَلِيْمُ (Yang Maha mengetahui) dalam firman Allah ﷻ,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ﷻ adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah ﷻ melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah ﷻ Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Yaitu janganlah seseorang merasa aneh jika saja amal sedikit bisa dilipat gandakan pahalanya dengan penggandaan yang sangat banyak, karena di antara nama Allah ﷻ adalah الوَاسِعُ (Al-Wasi’) yang artinya adalah yang maha luas karunia-Nya. Begitu juga, jangan seseorang menyangka bahwa setiap orang yang berinfak pasti dilipat gandakan pahalanya, karena di antara nama Allah ﷻ adalah العَلِيْمُ (Al-‘Alim) yang artinya adalah Yang Maha mengetahui), yang berarti Allah ﷻ mengetahui isi hati seseorang apakah ia ikhlas ataukah tidak.

Inilah makna kesempurnaan akan sifat Allah ﷻ yang tampak tatkala digandengkan kedua nama tersebut. Allah ﷻ melipat gandakan pahala bagi orang yang Allah ﷻ kehendaki yang memang pantas untuk dilipat gandakan pahalanya ([46]).

Inilah beberapa kaidah yang penting yang berkaitan dengan nama-nama Allah, tentu masih banyak kaidah yang lain, tapi penulis hanya mencukupkan dengan kaidah-kaidah di atas yang menurut penulis urgen untuk diketahui.

——–

Footnote:

([39]) HR. Abu Dawud No. 3451.

([40]) Lihat Badaai’ al-Fawaaid1/167

([41]) HR. Bukhari No. 3116.

([42]) HR. At-Tirmidzi No. 3513.

([43]) Al-Qawaaíd al-Mutslaa (8).

([44]) Fath al-Qadiir (1/612-613), Adwa’ al-Bayaan (5/488).

([45]) Tafsir as-Sa’di (918).

([46]) Thariqot al-Hijratain, Ibnul Qayyim (364)

Apakah Penting Menuntut Ilmu Syariah dalam Kehidupan Kita?

Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?

Muhammad Idris, Lc.

Khotbah Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu syar’i dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.

Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu syar’i. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)

Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman,

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu syar’i ini terhadap semua hal duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ

“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam Shohihul Jami’, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).

Imam Syafi’i rahimahullah bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau rahimahullah berkata,

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2: 139)

Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,

Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما

“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.” (HR. Tirimidzi no. 1650)

Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (Hadis hasan ghariib, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)

Menuntut ilmu adalah tanda Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” (HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)

Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu syar’i, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah Ta’ala bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.

Pentingnya menuntut ilmu syar’i dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah Ta’ala telah menjadikan tholibul ilmi/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah Ta’ala telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu syar’i. Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.

لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. Untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu syar’i ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, asatidzah, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu syar’i, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,

إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ

“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)

Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah Ta’ala menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Jemaah yang berbahagia.

Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,

إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu syar’i yang sudah pernah kita pelajari.

Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)

Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ

“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 689)

Marilah kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu syar’i yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah Ta’ala menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: www.muslim.or.id

Memahami Sisi Pendalilan Ulama dalam Khilaf yang Mu’tabar

Memahami Sisi Pendalilan Ulama dalam Khilaf yang Mu’tabar 🌿

Silang pendapat dalam masalah fikih tidak hanya kita jumpai terjadi antara imam madzhab semisal Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad, Al-Awza’i, Ats-Tsawri, Dawud Adzh-Dzhohiri dan yang lain. Akan tetapi perselisihan itu dialami juga oleh generasi terbaik umat ini yaitu para shohabat Nabi bahkan ketika Rosulullah ﷺ masih ada di tengah-tengah mereka.

Perselisihan itu terjadi karena dilatari perbedaan interpretasi dalam memahami dalil meski dalilnya sama atau sama-sama shohih. Ini yang dimaksud dengan istidlal (cara berdalil) atau pemaknaan terhadap dalil yang kemungkinannya lebih rojih dari yang marjuh sehingga yang satu menganggap pendapatnya lebih kuat dari yang lain. 

Poin dari perselisihan itu tidak selalu bicara mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kedua-duanya boleh jadi benar atau kedua-duanya tidak bisa dipersalahkan. Karena yang satu lebih mendekati dalil dari satu sisi, sedangkan yang lain lebih mendekati dalil dari sisi yang berbeda.

Langsung saja kita cek riwayat perselisihan para shohabat yang disebutkan Abdullah bin Umar bahwa Rosulullah ﷺ bersabda dalam peristiwa Ahzab,

“Janganlah salah seorang dari kalian sholat ashar kecuali di kampung Bani Quroidzhoh.” Ketika mendapati waktu ashar di tengah jalan sebagian mereka berkata, “Kita tidak sholat sampai tiba di lokasi.” Sebagian yang lain mengatakan, “Bukan itu yang beliau inginkan dari kita bahkan kita sholat saat ini juga.” Kejadian itu disampaikan kepada Rosulullah ﷺ akan tetapi beliau tidak mencela salah satu dari keduanya.”

(HR. Al-Bukhori 4119 dan Muslim 1770)

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam “Al-Fath” menjelaskan alasan kedua golongan shohabat yang berselisih dalam kisah ini, 

“Sebagian shohabat memahami larangan Rosulullah ﷺ tersebut secara tersurat yakni tetap sholat di kampung Bani Quroidzhoh meski waktu ashar telah habis. Sedangkan sebagian shohabat yang lain memahaminya secara tersirat yaitu sebagai perintah untuk bersegera mendatangi kampung Bani Quroidzhoh.”

Meski kontras perbedaan antara yang tersurat dan tersirat akan tetapi Rosulullah ﷺ tidak menyalahkan keduanya lantaran masing-masing punya sudut pandang yang mu’tabar tidak keluar dari dalil.

Dalam kisah yang lain diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata, 

“Ada dua orang yang pergi safar ketika masuk waktu sholat keduanya tidak mendapatkan air, maka mereka bertayammum dengan tanah yang suci lalu mereka sholat. Tak lama berselang mereka mendapatkan air sedang waktu sholat belum habis, lantas salah seorang dari keduanya mengulangi sholatnya dengan berwudhu, sedangkan temannya tidak mengulangi sholatnya. Kemudian mereka mendatangi Rosulullah ﷺ dan menceritakan pengalaman mereka. Maka beliau ﷺ bersabda kepada orang yang tidak mengulang sholatnya, “Engkau telah menepati sunnah dan sholatmu sah.” Adapun kepada orang yang mengulang sholatnya beliau bersabda, “Engkau mendapatkan dua pahala.” 

(HR. Abu Dawud 338 dan An-Nasa’i 433 dishohihkan Syaikh Nashir)

Menepati sunnah karena yang dikerjakannya sesuai petunjuk syariat dan sholatnya sah. Adapun yang mendapat dua pahala karena satu pahala dari sholat yang dikerjakan dengan tayammum dan satu pahala lagi yang dia kerjakan dengan berwudhu.

Mungkin kalau kita yang berselisih sudah cekcok gak karuan yang satu bilang sholatnya gak sah dan yang lain gak terima, akhirnya debat kusir dan ujung ceritanya kegaduhan dan perpecahan. Padahal perbedaan itu sebetulnya masalah fikih, khilaf yang mu’tabar, bukan masalah akidah.

Berbeda dengan para imam, mereka berselisih pendapat meski salah satunya tancap gas tetapi mereka bisa tetap rukun. Itu karena luasnya ilmu mereka, bersihnya hati mereka, cermatnya istidlal mereka, dan tingginya adab mereka. Sehingga Al-Imam Asy-Syafii mengatakan kepada Abu Musa Yunus Ash-Shodafi,

يا أبا موسى ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meski kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’ 10/16)

Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari ucapan Asy-Syafii di atas, “Itu menunjukkan sempurnanya akal beliau dan kefaqihan beliau, dan para ulama senantiasa berbeda pendapat.” 

Semoga kita dapat meneladani para salaf ketika berselisih pendapat dalam masalah khilaf yang mu’tabar. Meski yang kita ikuti tarjih sebagian ulama terhadap salah satu pendapat maka kita dituntut bijaksana memahami sisi pendalilan pihak lain dan berlapang dada terhadap orang yang berbeda walau terkadang dilabeli bid’ah. 

Dan contoh dari para ulama mu’ashirin banyak kita jumpai antara lain khilaf yang terjadi antara Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Albani rohmatullah ‘alaihima. Meski Syaikh Al-Albani berpandangan bersedekap ketika i’tidal itu bid’ah tetapi jika beliau bermakmum di belakang Syaikh bin Baz maka beliau ikut bersedekap karena memahami istidlal Syaikh bin Baz dan mengompromikannya dengan dalil-dalil yang lain.

Namun perlu diingat, khilaf fikih yang mu’tabar ini jangan diseret ke ranah akidah sehingga tidak ada lagi tamayyuz membedakan tauhid dari syirik, sunnah dari bid’ah, ahlussunnah dari ahlul bid’ah.

KESALAHAN DALAM MEMAHAMI IKHTILAF MU’TABAR

KESALAHAN DALAM MEMAHAMI IKHTILAF MU’TABAR

Sebagian orang memandang bahwa bila ikhtilafnya mu’tabar, berarti boleh dilakukan semua.

=====

Misalnya, “Qunut Subuh”, ketika dikatakan ikhtilafnya mu’tabar, maka kita boleh melakukan dua-duanya, yakni: boleh qunut boleh tidak, meski menurut kita pendapat yang tidak membolehkannya lebih kuat.

Sungguh ini kesalahan dalam memahami konsekuensi dari “ikhtilaf yang mu’tabar” .. kesalahan dalam hal ini akan menyeret kita kepada sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam berpendapat, misalnya:

– Menyentuh wanita yang bukan mahram, apakah membatalkan wudhu atau tidak..?

– Membaca alfatihah bagi makmum ketika imamnya mengeraskan bacaannya, apakah wajib ataukah tidak..?

– Nikah tanpa wali, apakah boleh atau tidak..?

– Isbal, apakah boleh atau tidak..?

– Shalat berjama’ah, apakah wajib atau tidak..?

Ikhtilaf dalam masalah-masalah ini adalah mu’tabar, apakah itu berarti kita boleh melakukan dua-duanya..? Bayangkan bahayanya kesalahan pemahaman ini..!

Padahal ikhtilaf yang mu’tabar dalam fikih itu banyak .. begitu pula dalam masalah akidah.

🏵🌸🌼

● Yang benar bahwa seseorang tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalil dalam pandangannya, meskipun ikhtilafnya mu’tabar.

● Kenyataan bahwa itu ikhtilaf yang mu’tabar, hanya mengharuskan kita untuk toleran di dalamnya dan tidak merendahkan pendapat lain .. bukan membenarkannya dan menjadikan kita boleh melakukan dua-duanya.

Karena bila ikhtilafnya bertentangan dan saling menafikan, tidak mungkin dua-duanya benar .. dan bila tidak mungkin dua-duanya benar, maka berarti salah satunya salah, dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menurut kita salah.

Yang dibolehkan adalah melakukan salah satunya saja yang menurut dia dalilnya lebih kuat, wallahu a’lam.

Demikian, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/58617

Ditulis oleh,

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Create your website with WordPress.com
Get started