SEDIKIT TETAPI BERKAT

SEDIKIT TETAPI BERKAT

‘Seorang lelaki datang menemui Imam Syafie mengadukan tentang kesempitan hidup yang dia alami. Dia memberitahu bahawa dia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji sebanyak 5 dirham, dan gaji itu tidak mencukupi untuknya.

Namun anehnya, Imam Syafie langsung menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangkan gajinya menjadi 4 dirham. Lelaki itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafie sekalipun dia tidak faham apa maksud dari suruhan itu.

Setelah berlalu beberapa lama lelaki itu datang kembali menemui Imam Syafie mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafie memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangkan lagi gajinya menjadi 3 dirham. Lelaki itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafie dengan perasaan sangat hairan.

Setelah berlalu sekian hari lelaki itu kembali lagi menemui Imam Syafie dan berterima kasih atas nasihatnya. Dia menceritakan bahawa wang 3 dirham itu dapat mencukupkan semua keperluan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Dia menanyakan apa rahsia di sebalik semua itu..?

Imam Syafie menjelaskan bahawa pekerjaan yang dia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkatan harta yang dia miliki ketika bercampur dengannya.

Lalu Imam Syafie membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره

دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.

Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merosakkannya.

Barangkali kisah ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana, dan jangan berbangga mendapat gaji besar, padahal kerja buat kita sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, ertinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkatan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkat akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lengkap. Wang banyak di bank tapi setiap hari bergaduh dengan isteri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan. Dengan teman dan jiran sekeliling tidak sehaluan.

Kenderaan selalu bermasalah. Ketaatan kepada ALLAH semakin hari semakin melemah. Fikiran hanya dunia dan dunia,  harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap minit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakit datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke-hospital dan periksa ke-klinik. Tidak ada yang dapat dibahagikan untuk sedekah, infak dan amal-amal demi tabung masa depan di-akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah tapi sifat kedekutnya juga semakin menguasai.

Semoga ALLAH mengurniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja, hingga rezeki kita menjadi berkat dunia dan akhirat…! ‘ C&P.

PANDUAN KESIHATAN UNTUK USIA 50 KEATAS

INILAH  PANDUAN KESIHATAN  UNTUK USIA 50 KEATAS

utk sahabat2 di tahun 2021

A. Empat hal untuk diperiksa! sekerap mungkin:

(1)  Tekanan darah

(2)  Gula dlm darah

(3)  Fungsi Ginjal

(4)  Cholesterol

B. Tiga hal yang perlu dikurangi:

(1)  Garam

(2)  Gula

(3)  Produk bertepung

C. Tiga hal yang perlu di amalkan:

(1)  Sayur-sayuran

(2)  Kekacang

(3)  Buah-buahan

D. Tiga hal yang perlu dilupakan:

(1)  Usia

(2)  Masa lalu

(3)  Keluh kesah

E. Empat hal yang harus Anda miliki:

(1)  Teman yang mencintaimu

(2)  Keluarga yg ambil tahu

(3)  Fikiran positif

(4)  Rumahtangga yang hangat & harmonis

F. Lima hal yang perlu Anda lakukan untuk tetap sihat:

(1)  Berjemur matahari pagi

(2)  Tersenyum

(3)  Olah raga ringan

(4)  Kurangi berat badan

(5)  Lakukan pekerjaan anda minat secara sukarela

G. Enam hal yang tidak harus Anda lakukan:

(1) Jangan menunggu sampai Anda lapar untuk makan

(2) Jangan menunggu sampai Anda haus baru minum

(3) Jangan menunggu sampai Anda mengantuk baru tidur

(4) Jangan menunggu sampai Anda merasa penat baru beristirahat

(5) Jangan menunggu sampai Anda sakit baru melakukan control

(6) Jangan menunggu sampai Anda memiliki masalah baru nak berdoa kepada Allah SWT.

Saya suka berkongsi kerana  saya punya banyak teman usianya 50 keatas🥰🥰🥰

JAGA DIRIMU SELAGI SEHAT !!!.😍😍

Banyak berdoa dan mensyukuri Nikmat yg Allah berikan kepada kita.

Salam Sehat Semangat.

AGAR RUMAH TERASA LAPANG

AGAR RUMAH TERASA LAPANG

Berkata Sahabat Nabi, Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- :

‏ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﺘَّﺴِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ. ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﻀِﻴﻖُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻘِﻞُّ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ

“Sesungguhnya sebuah rumah benar-benar akan terasa lapang bagi penghuninya, dan didatangi oleh para malaikat, dijauhi oleh para setan, serta banyak kebaikannya, dengan dibacakan Al-Qur-an di dalamnya.

Dan sesungguhnya sebuah rumah benar-benar akan terasa sempit bagi penghuninya, dijauhi oleh para malaikat, dan didatangi oleh para setan, serta sedikit kebaikannya, dengan tidak dibacakan Al-Qur-an di dalamnya.”

Atsar Shahih, diriwayatkan oleh Ad-Darimiy, Sunan Ad-Darimiy no. 3352 (Silsilah Al-Atsar Ash-Shahihah no. 147)

Lapangkan rumahmu dengan banyak membaca Al-Qur-an padanya.. C&P.

KISAH ALI BIN ABI THALIB MELAMAR FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW

KISAH ALI BIN ABI THALIB MELAMAR FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW

Dalam Diam Ada Cinta

Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon syaithanpun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.

Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.

Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.

Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.

Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini.

Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dengan Abu Bakar kedudukannya disisi nabi.

Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.

Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?

Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.

Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.

Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.

Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.

Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.

Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah.

Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affanpun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.

Tidak disangkaa tidak diduga, ternyata Rasulullahpun menolak lamaran Usman bin Affan.

Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW.

“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?”, seru sahabat Ali,

“Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

“Aku?”, tanyanya tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku!”

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”

Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan!

Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya ” wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”

Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar iapun menjawab, ” Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut. “Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”

Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.

Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda “Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?

Alipun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi”

Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWT dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besimu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku” Wahai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum aku menikahkan engakau di Bumi” Diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra.

Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tsb dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.

Setelah segala-galannya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya

Kemudian Nabi SAW bersabda:”Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib,Maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram(nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho(menerima)mahar tersebut.

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya

Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,

Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.

Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya.

Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam,menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan Maa Syaa Allah.

Semoga Allah SWT mempertmukan kita semua dengan orang yang sunguh-sunguh mencintai kita seperti Fatimah dan Ali.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin. C&P.

JANGAN JUAL AKHIRAT UNTUK DUNIA

JANGAN JUAL AKHIRAT UNTUK DUNIA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:

“Jadikanlah hidup setelah mati sebagai modal dan kehidupan dunia sebagai keuntungan. Jika masih ada sisa waktu, pergunakan untuk kehidupan duniamu, carilah nafkahmu.

Jangan jadikan hidup pada kehidupan duniamu sebagai modal dan kehidupan akhirat sebagai keuntungan sehingga kau menunaikan kewajiban shalatmu hanya di sisa waktumu.

Jangan menjual akhiratmu untuk duniamu sehingga kau menjadi budak nafsu duniamu.

Sungguh, engkau diperintahkan untuk mengendalikan nafsu agar ia mematuhi Rabbnya. Tapi, kau malah tak patuh kepada-Nya dengan menuruti dorongan nafsu. Kau malah menyerahkan kendali hidupmu kepada nafsumu, mengikuti keinginan rendahnya, dan bersekuti dengan iblis dalam dirimu hingga kau kehilangan kebaikan dunia dan akhiratmu.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Futuhul Ghaib.

LISAN ANTARA AZAB DAN NIKMAT

⚠ LISAN ANTARA ADZAB DAN NIKMAT ⚠

Lidah tak bertulang. Itulah pepatah yang sarat akan makna dan nasehat. Mengajarkan agar kita tidak mudah mengobral janji dan menetapi sifat jujur. Sebab manusia dipegang perkataannya bukanlah paras dan bentuknya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berucap yang jujur. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar.”

(QS. Al- Ahdzab: 70)

LISAN ADALAH NIKMAT YANG BESAR

Lisan merupakan nikmat yang Allah Ta’ala karuniakan kepada manusia. Ia memiliki kedudukan yang tinggi dalam anggota tubuh. Sebab ia merupakan anggota tubuh yang paling mulia setelah hati. Dengan lisan seseorang bisa mengungkapkan keinginannya kepada orang lain dan menyampaikan apa yang ada di dalam dirinya. Maha Suci Allah yang telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita semua.

Oleh karenanya, seorang hamba sepantasnya untuk banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikannya lisan yang sangat bermanfaat untuknya. Allah berfirman,

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir.”

(QS. Al-Balad: 8-9)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia lah Allah Ta’ala yang telah memberikan lisan dan mengajarkan manusia pandai berbicara. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4) 

“(Tuhan) yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. mengajarnya pandai berbicara.”

(QS. Ar-Rahman: 1-4)

Lisan ibarat pedang. Tergantung orang yang memegangnya. Jika ia gunakan untuk kebaikan, maka ia akan mendapatkan manfaat dengannya. Namun jika sebaliknya, maka ia akan mendapatkan keburukan.

Begitu pula lisan, terkadang dapat mengantarkan pemiliknya ke tingkat tertinggi, apabila ia gunakan untuk kebaikan seperti berdoa, mengaji, berdakwah di jalan Allah Ta’ala, amar ma’ruf nahi mungkar, dan lain-sebagainya. Namun, jika ia gunakan untuk perkara yang tidak di ridhai oleh Allah Ta’ala, dibenci dan dimurkai-Nya, maka hal tersebut akan menjerumuskan pemiliknya pada derajat yang paling rendah. Allah Azza Wa Jalla berfirman tentang penduduk surga bertanya kepada penduduk neraka,

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada Kami kematian”.

(QS. Al-Muddatstsir: 42-47)

Sisi pendalilan dari ayat ini yaitu dijadikannya Al–Khaudh (berbicara dalam kebatilan) sebagai salah satu sebab yang memasukkan mereka ke dalam neraka.

Oleh karenanya, seyogyanya seorang muslim untuk berhati-hati dalam berbicara dan menjaga lisannya dari berbagai macam kerusakan seperti Ghibah, dusta, Namimah (adu domba), menyebarkan rahasia, mencaci, suka melaknat, sering mengeluh, berdebat dalam hal yang tidak benar bahkan berkata tentang Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Ini semua dapat menyeret sorang hamba ke dalam neraka yang menyala-nyala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِق

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan, yang ia tidak menyangka jika perkataan tersebut menyeretnya kedalam neraka yang lebih jauh daripada jauhnya timur dan barat.”

(Muttafaqun ‘alaihi).

Maka seorang mukmin hendaknya menjaga segala ucapan dan perkataannya. Sebab tidak ada satupun ucapan yang keluar dari mulut seorang anak adam melainkan akan dicatat oleh dua malaikat yang ditugaskan untuk itu. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.”

(QS. Qof: 18)

⚠ JAGALAH LISAN ‼

Menjaga lisan merupakan termasuk kesempurnaan iman seorang hamba. Sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang mulia,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik. (Jika ia tidak mampu) maka hendaknya ia diam”

(HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan derajat muslim yang terbaik akan didapatkan bagi orang yang mampu menjaga gangguan lisannya kepada orang lain.

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ

“Para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, islam manakah yang paling baik? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, (yaitu islamnya) orang yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisannya dan tangannya.”

[HR. Al–Bukhari (11)]

Seorang penyair pernah berkata,

Wahai manusia jagalah lisanmu

Karena dia itu ular, jangan sampai menggigitmu

Betapa banyak penghuni kubur adalah korban lisannya

Seorang pemberanipun takut menemuinya.

Oleh karenanya, menjaga lisan merupakan perkara yang sangat penting dan harus mendapatkan perhatian. Sebab sebagaimana kita menjaga segala sesuatu yang masuk ke mulut kita dengan baik, begitu pula kita menjaga apa yang keluar darinya dengan baik pula. Maka gunakanlah lisan anda untuk kebaikan. C&P.

MUKMIN CERDAS, BERUSAHA MEMPERBERAT TIMBANGAN KEBAIKANNYA

MUKMIN CERDAS, BERUSAHA MEMPERBERAT TIMBANGAN KEBAIKANNYA

✍️  Mukmin yang cerdas, ialah mereka yang faham dan sadar betul bahwa detik-detik kehidupan yang dilaluinya di dunia ini, akan berakhir dengan kematian.

Maka orientasi kehidupannya akan berfokus kepada kehidupan kekal di akhirat.

Jangan sampai terjerumus kedalam neraka.

✍️ Berupaya keras agar timbangan kebaikannya menjadi lebih berat kelak di hari pembalasan.

✍️ Upaya itu antara lain ialah:

📍Pertama, beramal sebaik mungkin.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 1-2:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”. (1)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun”. (2)         

         👇

Seperti apakah amalan yang terbaik itu? Salah satu indikatornya adalah, pekerjaan itu dilakukan dengan istiqamah. Dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Sesungguhnya sebaik-baik pekerjaan adalah yang rutin (berkelanjutan), meskipun itu sedikit. Dan ikhlas.

📍 Yang kedua, menyiapkan amal yang terus mengalir pahalanya.

Diantara yang dapat kita persiapkan adalah dengan memperbanyak amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh yang dapat mendoakan kita kelak. Sebagaimana hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَ))؛ رواه مسلم

 “Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

”Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya.” (HR. Muslim).

📍 Yang ketiga, berdoa agar diberikan husnul khatimah

Apakah itu husnul khatimah? Diantara tanda utama husnul khatimah ialah apabila ia mengucap kalimat “laa ilaaha illallaah” di akhir hayatnya. Dalam sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

‏” مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ‏”‏

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallaah’ maka dia akan masuk Surga.”

Jangan Pandang Rendah Orang Yang Tak Beribadah

Jangan Pandang Rendah Orang Yang Tak Beribadah

 Jika Allah memudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, Maka janganlah memandang rendah orang-orang yg tidur.

 Jika Allah memudahkan bagimu melaksanakan puasa ,Maka janganlah memandang rendah orang-orang yg tidak berpuasa dgn tatapan yg menghinakan.

 Jika Allah memudahkam bagimu membuka pintu untuk berjihad, Maka janganlah kamu memandang rendah orang-orang yg tidak berjihad dgn pangangan meremehkan.

 Jika Allah memudahkan darimu dalam mengais rejeki bagimu , Maka janganlah memandang rendah orang-orang yg berhutang dan kurang rejekinya dgn pangangan yg mengejek dan mencela.

Karena itu semua adalah titipan Allah yg suatu saat akan kau pertanggungjawabkan kelak .

 Jika Allah memudahkan pemahaman Agama bagimu, Maka janganlah kamu meremehkan orang-orang yg belum faham Agama dgn pandangan hina.

 Jika Allah memudahkan ilmu bagimu, Maka janganlah kamu sombong dan bangga diri.

Karena Allahlah yg memberimu pemahaman itu.

” Boleh jadi orang yg tidak mengerjakan Qiyamul lail , Puasa ( sunnah) tidak Berjihad dan sebagainya mereka lebih dekat kepada Allah daripada dirimu 

 Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kelancaran dalam segala urusan kita , keberkahan rejeki kita ,dijauhkan dari segala marabahaya serta ditutupkan umur kita dalam keadaan Husnul Khatimah. C&P.