Category: Jika kamu membela (agama) Allah maka Dia akan membela kamu dan meneguhkan kakimu”

Jika kamu membela (agama) Allah maka Dia akan membela kamu dan meneguhkan kakimu”

Al-Quran adalah kalamullah –Firman Allah- dan harus diyakini. Ketika berinteraksi dengannya seseorang harus percaya dan membenarkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Al-Quran adalah kebenaran, keabsahan dan petunjuk Allah secara mutlak.

Allah berfirman :

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah yang paling benar ucapannya dari (selain) Allah”. (An-Nisa : 87)

Dan firman Allah juga:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Dan siapakah yang paling benar perkataannya dari (selain) Allah”. (An-Nisa : 122)

Sikap pemerhati Al-Quran hendaknya menerima Al-Qur’an secara penuh dan tisqoh terhadap nash-nashnya, membenarkannya secara mutlak akan nilai-nilai yang dibawanya, hakekat dan petunjuk-petunjuk yang dibawa olehnya. Bahwa ayat-ayat yang dikatakan olehnya adalah hak, undang-undang yang ditetapkan olehnya adalah kebenaran, ketentuan-ketentuan yang diisyaratkan olehnya dan disandarkan kepadanya adalah kebaikan, apa-apa yang diperintahkan olehnya adalah petunjuk dan kebenaran dan apa-apa yang dilarang adalah keburukan dan kerusakan.

Demikianlah Al-Quran, bagi siapa yang berkata dengannya akan benar, bagi siapa berhukum dengannya akan adil, bagi siapa yang komitmen kepadanya akan lurus, dan bagi siapa yang membenarkannya akan mendapatkan ketentraman dan petunjuk dan bagi siapa yang mempercayainya akan mendapat petunjuk dan bagi siapa menyeru kepadanya akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Bagaimana mungkin seorang muslim membolehkan dirinya mengajarakan kepada Allah dalam kitab-Nya, menjadikan akalnya yang dangkal melebihi kalam-nya atau sekutu baginya, memperlakukan nash-nash Al-Quran dengan penyimpangan, berlebihan, ta’wil tanpa dasar, perubahan, jiwa yang hampa dan capur aduk. Ragu pada nilai-nilai, ketetapan-ketetapan dan hakekat-hakekatnya, atau bermain filsafat pada dalil-dalil dan wahyu-wahyunya, atau memilah-milah sesuai kehendaknya terhadap hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya?.

Pemerhati yang teliti hendaknya memiliki kejelian terhadap nash Al-Quran, berinteraksi dengannya secara intensif, merasa puas dan menerima secara penuh terhadap ayat-ayatnya, sebagaimana firman Allah :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” . (An-Nisa : 65)

Dan firman Allah :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab : 36) .

Jangan hanya sekedar main-main dalam berinteraksi dengan Al-Quran sehingga berprilaku seperti orang-orang yahudi terhadap taurat, prilaku yang hanya dilakukan dengan main-main dan hawa nafsu, sebagaiman Allah mengecam akan prilaku tersebut :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat”. (Al-Baqoroh : 85)

Dan firman Allah :

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa satu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang  (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al-Baqoroh : 87)

Karena yang demikian memiliki hubungan yang erat dengan sifat orang-orang yahudi yang menjadikan taurat seperti lembaran-lembaran kertas, mencabik-cabik, melempar dan meredupkan cahaya hidayahnya, sebagaimana Firman Allah :

قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا

“Katakanlah : “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu menjadai lembaran-lembaran kertas  yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya)”. (Al- An’am : 91)

Namun ironisnya, betapa banyak kita lihat sebagian kaum muslimin saat ini yang mempermainkan nash-nash Al-Quran dalam kehidupan mereka ! Betapa banyak kita perhatikan mereka yang berhukum dalam pendapat mereka sesuai dengan hawa nafsu, syahwat, kepentingan pribadi dan kecondongan hawa nafsu. Betapa banyak kita lihat mereka yang menjadinya seperti hukum-hukum, susunannya dan undang-undang menjadi lembaran kertas yang hina, tercela seperti kertas kaum Yahudi terhadap kitab mereka –Taurat- mereka sehingga memurtadkan mereka dari agama agama Allah.

Jika diberitakan tentang keberadaan para malaikat dan sifat-sifatnya adalah merupakan kebenaran yang harus diimani dan tsiqoh kepadanya. Pemberitaan tentang bangsa iblis, syetan dan jin, tentang para nabi dan mukjizat mereka, musuh-musuh Allah dan kebinasaan mereka, dzikir dan sujud para makhluk Allah di alam semesta milik Allah, tentang surga dan kenikmatan-kenikmatannya, dan tentang neraka dan azab-azabnya dan lain sebagainya maka harus diyakini dan diimani..!

Jika nash-nash Al-Quran mengandung hukum dan syariat maka harus dipercaya dan diterima secara penuh. Karena itu khamr, daging babi, riba, pandangan yang diharamkan dan zina, dusta dan tipu daya, menjadikan musuh-musuh Allah sebegai pelindung dan pemimpin, berdamai, merendah diri dan hina dihadapan mereka dan menyiksa para Waliyullah dan siksaan mereka. Semuanya adalah haram menurut agama Allah karena mengandung banyak kerusakan, kehancuran dan kebinasaan.

Jika Al-Quran menetapkan satu perkara, atau datang dari Allah sebuah hukum atau janji, menjabarkan sunnah dan hakekat, kemudian pemerhati Al-Quran melihat bahwa realita hidupnya bertentangan dengan ketetapan-ketetapan Al-Quran, bersebrangan dan berbeda pendapat dengannya. Maka janganlah diri anda secara mutlak diterima, sehingga bertentangan dengan nash-nash Al-Quran, jangan ragu dalam mempercayai dan menerimanya secara penuh, jangan terima terhadap ini dengan nash yang menympang, bertenangan dan  bersebrangan, jangan jadikan apa yang dilihatnya dari perbedaan ini sebagai kebenaran, dan apa-apa yang diwahyukan adalah harus diikuti dan tunduk kepadanya dan jangan ditafsirkan sesuai dengan kehendaknya.

Nash Al-Quran adalah sebagai dasar, kaidah dan kebenaran, dan kehidupan realitalah yang harus mengikutinya, jika ada yang bertentangan dengan permasalahan yang utama maka harus diteliti bahwa ada sesuatu dalam perkara tersebut, berarti ada syarat-syarat dan muwashofat -kriteria- yang ditetapkan oleh Al-Quran yang belum direalisasikan, atau ada sebab-sebab yang belum ditemukan. Namun, jika ditemukan sebab-sebabnya secara keseluruhan dan terealisasi syarat-syaratnya secara sempurna maka hendaknya meneliti lagi kesesuaiannya dengan realita. Jadi hendaknya realita yang bersebrangan harus mengikuti ketetapan-ketetapan dan hakekat yang terdapat dalam Al-Quran.

Allah SWT berfirman :

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkankan orang-orang yang beriman”. (An-Nisa : 141) adalah sebagai kebenaran dan realita yang harus diikuti.

Allah juga berfirman :

فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آَخَرِينَ

“Maka Kami binasakan mereka akibat dosa-dosa (yang mereka lakukan)”. (Al-An’am : 6) sebagai sunnatullah yang tidak pernah terabaikan, dan “Al-Bashir” adalah yang mampu melihat masa depan.

Allah berfirman tentang ancaman pemakan harta riba :

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Jika kamu tidak menerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”. (Al-Baqoroh : 279) mengumumkan perang atas mereka dan orang mu’min adalah yang mampu melihat keadan saat ini perang yang diiklankan Allah kepada alam adalah kepada pamakan harta riba.

Sebagaiman firman Allah dalam ayat lain :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (Al-baqoroh : 276)

Allah berfirman tentang orang Yahudi :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (Agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”. (Ali Imron : 112)  sebagai hukum yang qoth’i dan berkesinambungan yang mencakup pada pengecualian tali yang dibentangkan kepada mereka hari-hari ini, tali Allah dengan pengindahan, tali Amerika dengan bantuan-bantuan materi, tali Rusia dengan bantuan kemanusiaan, tali para antek-antek yang melakukan negosisasi dan perjanjian damai, dan tali umat dengan kepengecutan, kehinaan dan meninggalkan jihad.

Allah berfirman :

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jika kamu membela (agama) Allah maka Dia akan membela kamu dan meneguhkan kakimu”. (Muhammad : 7) sebagai dalil tentang rahasia kemenangan umat Islam masa lalu, dalil akan rahasia kekalahan kaum muslimin saat ini, yaitu menetapkan qaidah secara umum, sunnah Rabbaniyah, qoth’I –paten- yang mencakup pada syarat dengan syarat sebagai pelaku dalam mengaplikasikan syarat dan jawabannya.

Wallahu a’lam bisshowab