Category: ISLAM DIHINA

Demokrasi Suburkan Penghina Nabi?

Demokrasi Suburkan Penghina Nabi?

Oleh: Ummu Irul

Di bulan Robi’ulawal ini,
suka cita menyelimuti seluruh kaum Muslim di dunia sebab bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi SAW. Berbagai acara di gelar dalam memeriahkan hari lahirnya baginda Nabi SAW. Mulai dari lomba membaca tartil al-Qur’an, tadarus (mengkhatamkan Al-Qur’an), sholawatan, pawai hingga menggelar tablig akbar meski via online dan masih banyak bentuk lainnya.

Hal ini menunjukkan kecintaan umat Islam kepada Nabinya, manusia yang telah membawakan obor penerang untuk menjalani hidup di dunia ini. Tatanan kehidupan umat manusia yang dulu penuh dengan kerusakan dan kehinaan, menjelma menjadi sebuah peradaban yang mulia, hingga menjadi mercusuar dunia, melalui risalah yang beliau bawa. Mencintai Nabi merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT.

Dan memang sudah selayaknya kaum Muslim mencintai dan meneladani Nabi SAW. Sebagaimana telah difirmankan Allah di dalam kitab-Nya, “Laqod kaana lakum fii Rosuulillaahi uswatun hasanah.”
Sungguh telah terdapat di dalam diri Rosullah suri tauladan yang baik bagimu (QS. Al -Ahzab (33): 21

Dengan ayat ini, sudah jelas bagi kita siapa yang harus dijadikan model/tauladan tatkala menghadapi berbagai masalah hidup ini.

Allah telah perintahkan pula mencintainya, di atas kecintaan kepada yang lain. Sebagaimana firman-Nya, di QS. Taubah: 24

قل إن كان ابآؤكم و أبنآؤكم و إخوانكم و أزواجكم و عشيرتكم و أموال اقترفتموها و تجارة تخشون كسادها و مساكن ترضونها أحب إليكم من الله و رسوله و جهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدى القوم الفاسقين ٢٤

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS. At-Taubah (09): 24)

Peringatan Allah di ayat ini, membuat kita orang beriman tidak cukup nyali untuk mencintai yang ada di dunia ini melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali “sendiko dawuh” dengan perintah Allah tersebut (mencintai Allah dan Rosul-Nya).

Penghina Nabi Yang Hadir Kembali

Di tengah suka cita kaum muslim di Robiul Awwal ini, harus dinodai dengan terjadinya pelecehan terhadap manusia mulia, Nabi Allah Muhammad SAW, oleh orang kafir di Perancis sana, yang dilegitimasi oleh sang Presiden Emanuel Macron, atas nama kebebasan berekspresi.

Peristiwa ini memantik kemarahan seluruh kaum Muslim sedunia. Di berbagai negara, kaum Muslim mengecam tindakan hina tersebut. Di negeri muslim terbesar ini, aksi bela Nabi digelar hampir seluruh kota, mereka menuntut agar pelaku dihukum berat.

Meski penodaan dan pelecehan terhadap manusia mulia itu telah mendapatkan kecaman dan protes dari seluruh muslim di dunia, namun hal itu terus terjadi, dari waktu ke waktu, semakin banyak saja ragamnya. Sepertinya tidak ada rasa jera kepada penghina dan pelecehan terhadap syari’at Islam. Mengapa? Kurang galakkah seluruh kaum Muslim, sehingga para penghina Nabi berani dan dengan jumawanya, melaksanakan aksinya? Atau karena kaum Muslim kini hanya seperti singa yang sudah tidak memiliki taring/
senjata untuk membalasnya? Apa sebenarnya akar permasalahannya?

Demokrasi Menyuburkan Penghina Nabi

Di alam demokrasi yang selalu mendewakan empat kebebasan, ( bebas beragama, berpendapat, berkepemilikan dan berperilaku). Kebebasan berperilaku, inilah yang memayungi perilaku penghina Nabi. Dengan dalih kebebasan berekspresi, termasuk membuat kartun yang melecehkan Nabi, memberikan ungkapan-ungkapan yang melecehkan Nabi dan sejenisnya, lahir dari slogan yang senantiasa didengungkan di negara demokrasi, yakni HAM (Hak Asasi Manusia). Atas nama HAM mereka bebas menghina panutan seluruh manusia di bumi. Bahkan manusia yang berhak memberikan pertolongannya/ syafa’atnya di kehidupan abadi kelak.

Inilah hebatnya demokrasi, HAM di luar Islam mereka junjung tinggi, namun hak asasi manusia untuk umat Islam tak satupun diperhatikan. Buktinya? Peristiwa di bulan ini, meski seluruh kaum Muslim di dunia mengutuk perbuatan penghinaan kepada Nabi, namun Sang Presiden tak bergeming, untuk menghentikan seluruh aktivitas yang menghina Nabi tersebut, sekali lagi atas nama kebebasan berekspresi (berperilaku).

Negara Perancis memang tidak kali ini saja menghina junjungan umat Islam. Sudah berkali-kali, majalah Charlie Hebdo melukai dan memancing kemarahan umat Muhammad. Mereka tahu banget bahwa kini umat yang berjumlah hampir 2 milyar itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah tidak punya pemimpin lagi. Dengan demikian jelaslah! Kaum Muslim tidak bisa berharap pada demokrasi untuk menghentikan para penghina Nabi.

Khalifah Hentikan Penghina Nabi

Islam akan memberikan rahmat bagi seluruh alam, ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, dalam suatu sistem Ilahiah yakni sistem Khilafah, di mana kepala negaranya disebut Khalifah. Negara Islam akan mampu menyelesaikan seluruh permasalahan umatnya, termasuk menghentikan para penghina Nabi SAW ini.

Khalifah diangkat umat Islam untuk menjalankan syariat yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi siapapun yang menghina Nabi, baik perorangan, kelompok atau bahkan sebuah negara jika melakukan tindakan apapun bentuknya untuk menghina junjungan umat Islam, akan dikasih sangsi yang tegas. Dengan sangsi tersebut akan memberikan efek jera bagi pelakunya, dan akan mencegah siapapun yang berniat melakukannya.

Sebagaimana dulu, pernah terjadi pula, negara Perancis akan menampilkan sebuah teater yang menghina Nabi Allah. Maka Khalifah Sulthan Hamid II dengan tegasnya melarang sekaligus mengancam, jika tetap dilakukan penghinaan tersebut.

Dengan tegasnya, maka sang Khalifah segera memanggil duta Perancis serta menyuruhnya untuk menghentikan rencana penayangan teater tersebut. Jika tidak!
Maka Khalifah akan mengerahkan pasukan kaum Muslim untuk memerangi Perancis!

Dengan ketegasan sikap Sang Khalifah maka negara penghina Nabi tersebut (Perancis) segera membatalkan pertunjukannya. Perancis takut luar biasa, sebab adanya Khalifah kaum Muslim yang luar biasa pula. Berani, benar dan tegas, terhadap para penghina Nabi.

Disamping ketegasan dan wibawa pemimpinnya, negara Khilafah juga memiliki kekuatan militer yang hebat dan besar yang menjadikan para penghina Nabi tunduk dan takut. Sebab ancaman Khalifah bukan hanya gertakan sambal belaka.

Seperti itulah keadaan kaum Muslim jika memiliki seorang pengayom, yakni seorang Khalifah. Mereka tidak dilecehkan, nabinyapun tidak ada yang berani menghina dan melecehkan. Sebab Rosulullah telah bersabda, “Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kaum Muslim menghendaki lenyapnya para penghina Nabi dan pelaku pelecehan serta penodaan kepada Islam, pemeluk dan ajarannya, maka kita butuh tegaknya kembali Khilafah minhajjin Nubuwwah, sebagaimana bisyaroh baginda Nabi SAW, “…Selanjutnya akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (HR. Ahmad dalam Musnadnya (no. 1830), Abu Dawud Al-Thayalisi dalam musnad-nya (no. 439), Al-Bazzar dalam Sunannya (no.2796).

Wallahua’lam bish Ashowab

CINTA NABI, TEGAKKAN SYARIAH TANPA TAPI, TANPA NANTI

CINTA NABI, TEGAKKAN SYARIAH TANPA TAPI, TANPA NANTI

Dalam momentum Maulid Nabi 1442 H, hari ini (29/10) telah di adakan acara Maulid Akbar online terbesar seluruh Indonesia dengan tema Cinta Nabi, Tegakkan Syariah, Wujudkan Keadilan, Lenyapkan Kezaliman.

Acara yang diselenggarakan via zoom dan live streaming di tv.maxbuzz.com ini diikuti oleh para tokoh masyarakat, ustadz, ustadzah dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia Maulid Akbar menyatakan peserta yang terdaftar dalam acara ini tak kurang dari 70 ribu orang.

Dalam pembukaannya KH Rokhmat S Labib menyampaikan bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. “Artinya, barang siapa yang mengaku cinta Allah SWT tetapi tidak mengikuti Rasulullah SAW maka cintanya palsu!” tegas beliau.

Ustaz Labib, begitu sapaan akrabnya, pun mengutip firman Allah Subhanahu wa Taala dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 31, yang artinya, “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.”

Beliaupun menjelaskan tema acara, “Cinta Nabi, Tegakkan Syariah”. Menurutnya, itu adalah wujud dari cinta kepada Rasulullah, tentu syariah yang diambil tidak pilih-pilih sekehendak hati seperti prasmanan tetapi harus diambil secara keseluruhan. Tidak hanya syariah dalam mengatur individu tetapi juga dalam perkara bernegara karena Rasulullah tak hanya memberi teladan sebagai individu, berkeluarga, dan bersosial semata. Namun, beliau juga mengajarkan berpolitik dan bernegara sesuai tuntunan Islam.

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Ismail Yusanto juga menjelaskan bahwa di dalam sistem demokrasi saat ini tampak jelas bahwa hukum hanya tajam kebawah dan tumpul keatas, dan wakil rakyat yang semestinya bekerja sebagai pelayan rakyat malah membuat kebijakan yang sangat merugikan rakyat. Begitupun kapitalisme, sistem ini selalu menciptakan kesenjangan, tidak seperti Islam yang penuh dengan keadilan dan keberkahan. Kapitalisme masih berdiri saat ini karena ada negara yang menopangnya. Saat ini umat Islam tidak diperbolehkan memiliki negara Islam padahal negara komunis dan kapitalis tidak dilarang. Dan yang lebih miris apabila yang menolak negara Islam itu adalah dari umat Islam sendiri.

Dr. Ihsanuddin Noorsy, BSC, SH, MSI (Pengamat Politik dan Ekonomi), Prof. Dr. Suteki, S.H.,M.HUM (Guru Besar Ilmu Hukum), KH. Thoha Cholili (Pengasuh Ponpes Al Muntaha Al Kholiliyah, Madura), dan Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.SI (Wakil Sekjen MUI pusat) turut mengisi dalam sisi Talkshow acara ini.

Dr. Ihsanuddin Noorsy sangat heran kenapa para penguasa muslim saat ini tidak merujuk pada kepemimpinan nabi? adahal Michael H.Hart pengarang buku 100 orang yang paling berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam diperingkat satu dalam bukunya. Kalau saat ini ada pemimpin muslim yang menolak bahkan malah menghalang-halangi dalam penerapan syariat seperti yang di dicontohkan oleh nabi maka hal ini sangat aneh sekali, kalau bukan nabi Muhammad sebagai panutan lalu siapa yang lebih baik dari beliau?

Gejolak yang terjadi di dunia saat ini membuat KH. Thoha Cholili merasa sangat prihatin dan sedih, dimana saat momentum maulid nabi malah ada negara yang menistakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penghinaan yg dilakukan perancis ini membuat seluruh muslim di seluruh dunia geram dan marah karena umat Islam tidak rela nabi mereka dinistakan dan dihina begitu pula dengan ajaran Islam karena Islam adalah petunjuk, ideologi, pemikiran dan jalan hidup agar menjadi hamba Allah seutuhnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Umat Islam harus bersatu dan tidak termakan perpecahan yang didengungkan oleh kelompok lain.

Begitupun dengan Wakil Sekjen MUI pusat, Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.SI
MUI. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah tegas dalam hal kezholiman. Cinta tidak sekedar cinta tapi mempraktekkan apa yang telah dicontohkan nabi dengan menegakkan syariat Islam sesuai dengan sila pertama yaitu ketuhanan yang maha esa serta menolak perilaku kedzoliman dan ketidakadilan sesuai sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita harus mencintai nabi Muhammad lebih dari yang lain karena nabi sangat mencintai kita, buktinya beliau meminta agar bisa memberi syafaat kepada umatnya di hari kiamat kelak. “Maka kita bisa membuktikan rasa cinta kita dengan cara ikut memperjuangkan menegakkan syariah, tanpa nanti, tanpa tapi” pungkas prof. Suteki.

Oleh Evi Sulistiani
(Karyawan Swasta)

Ideologi Penghina Nabi Cukupkah Diselesaikan Hanya dengan Boikot?

Ideologi Penghina Nabi Cukupkah Diselesaikan Hanya dengan Boikot?

Oleh : Isti Qomariyah

Sebagaimana yang kita tau, kaum muslim saat ini ibarat sebuah ikan yang tidak berada pada habitatnya. Kita dipimpin oleh pranata sosial selain islam, yakni sistem demokrasi kapitalis. Sebagian ruh dan cabang ide kebebasan yang lahir dari ideologi ini yakni kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan berkeyakinan/beragama dan kebebasan kepemilikan. Sebagaimana yang kita tau umat muslim saat ini di buat marah lagi oleh negara Perancis, negeri menara Eiffel yang memiliki semoboyan kebebasan, keadilan.
Namun,.kekacauan makin tak terbendung.

Masih, teringat di kepala, atas dalih kebebasan berpendapat, bolehnya menghinda dan merendahkan ajaran agama lain yakni Islam. Presiden Perancis, Immanuel Macron, menyatakan bahwa menggambar karikatur Nabi Muhammad bukanlah hal yang salah. Karena itu bagian dari kebebasan berekspresi.
Seperti yang dilakukan oleh Samuel Paty seorang guru di Perancis yang menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW kepada murid-muridnya. Perbuatan tersebut sangat menyulut kemarahan ummat Nabi Muhammad.

Seperti yang dilansir Palembang tribunnews.com (2020/10/28), pejabat dalam negeri Perancis menyatakan, “Posisi yang dipertahankan oleh Prancis (adalah) mendukung kebebasan hati nurani, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan penolakan panggilan untuk kebencian.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa dari pejabat sampai masyarakat pun membenarkan tindakan tersebut.

Hal inilah yang memicu aksi boikot produk Perancis di berbagai negara. Negara berpenduduk muslim mengecam Macron hingga memboikot produksi perancis. Boikot itu sendiri menandakan konsekuensi keimanan yg ada pada diri ummat muslim.

Apa yang terjadi di Perancis karena negara tersebut menganut semuah paham sekulerisme. Sebuah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Agama tidak boleh ikut campur dalam sektor negara dan kehidupan. Urusan agama merupakan urusan individu, apakah individu tersebut benar atau baik, terserah individunya. Beginilah, bahaya dari pada sekulerisme. Bahkan bisa dikatakan lebih berbahaya dari pada komunisme. Mereka beragama bamun tak mengindahkan dan membuang aturan agama. Mereka akan melakukan apa saja yang bertentangan dengan hati nurani, meskipun itu menyakiti dan membuat kerusakan.

Oleh karena itu, pemboikotan produk saja itu tidak cukup, jika tidak didukung oleh peran negara. Seharusnya yang perlu diboikot adalah, sekulerisme-liberalisme serta sistem kapitalisme. Karena sistem inilah yang mengijinkan penghinaan ini terjadi, dan bahkan memproduksi manusia-manusia tidak beradab lebih banyakagi dan orang-orang penghina nabi Muhammad lebih banyak lagi.

Maka untuk totalitas menbungkam mulut kebencian Perancis dan seluruh imperialis Barat (Eropa). Diperlukan persatuan seluruh umat muslim dunia dan kekuasaan Islam dalam bentuk naungan sistem Islam (Khilafah) yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut Kholifah atau amirul mukminin. Hal ini dulu pernah dilakukan oleh Sultan Hamid II. Kholifah terakhir yang menerapkan sistem islam/khilafah pada masa kekilafahan Turki Usmani.Sultan hamid II, marah besar karena Perancis ajang menggelar teater yg menampilkan tokoh utama Nabi muhammad SAW. Sultan Hamid II berkata “akulah khalifah umat Islam abdul hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitar mu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut”!
Maka Perancis pun ketakutan dan tidak jadi memerankan pertunjukan tersebut.

Selain Khalifah Abdul Hamid II, Khalifah Umar bin Kaththab ra yang terkenal sebagai Sahabat Nabi Saw tegas juga pemberani. Sebagai Khalifah yang adil beliau pernah mengatakan, “ Barangiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!”. Atsiar ini diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimaihullah.

Maka sudah seharusnya mengembalikan kemuliaan Islam dengan menegakkan Khilafah. Allahu A’lam Bishshawab.