Category: HARTA HARAM MENGUNDANG BALA BENCANA

Hukum sedekah guna duit haram

2011/11/27

SAYA ingin bertanya, kawan saya menang judi, bolehkah dia bersedekah dengan wang hasil judi? Apakah kelebihan bersedekah? Harap ustaz dapat beri penjelasan.

MAN,

Seremban.

ALHAMDULILLAH wassolatu wassalam ‘ala rasulillah waba’d.

Pertamanya, saya ingin menyentuh berhubung dosa judi. Allah SWT berfirman bermaksud: Wahai orang beriman, sesungguhnya (meminum) arak, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan itu agar kamu beruntung. ( Surah surah al-Maidah ayat 91)

Dalam hadis riwayat al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Sesungguhnya ada orang berusaha mendapatkan harta dengan cara tidak benar. Maka nerakalah bagi mereka pada hari kiamat.

Kepada saudara yang bertanya, Allah tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Justeru, orang bersedekah dengan barang haram tidak akan diterima amalannya.

Dalam hadis riwayat Muslim, daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan kepada Mukmin sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul.

Allah SWT berfirman: Hai para Rasul, makanlah sesuatu yang baik dan kerjakanlah amalan salih. (Surah al-Mukminun, ayat 51)

Allah juga berfirman bermaksud: “Hai orang beriman, makanlah apa-apa yang baik daripada yang Kami rezekikan kepadamu.” (Surah al-Baqarah, ayat 172)

Kemudian Rasulullah SAW menceritakan perihal seseorang yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan penuh debu. Dia menadahkan kedua-dua tangannya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan perutnya dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana diterima permohonannya (doanya).

Sesuatu yang baik itu adalah dinilai baik di sisi Allah. Seseorang hanya memakan makanan halal, doanya mudah dimakbulkan. Begitu juga seseorang menjauhkan diri daripada melakukan maksiat kepada Allah.

Orang melakukan maksiat tidak dimakbulkan doanya kecuali mereka yang Allah SWT kehendaki. Antara sebab dimakbulkan doa iaitu ketika musafir, hati yang sentiasa mengharap, mengangkat kedua-dua tangan ke langit, merayu dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, memakan makanan dan minuman halal.

Jika dinyatakan kelebihan sedekah ada banyak tetapi barang yang hendak disedekahkan itu mestilah elok. Jika kita sedekahkan sesuatu yang kita tidak tergamak menggunakannya, maka tak perlu sedekahkan barang itu.

Kedua, jika hendak bersedekah pastikan juga daripada hasil halal. Orang bersedekah dengan perkara halal mendatangkan pahala dan menggugurkan dosa. Namun sekiranya ia bersedekah daripada hasil haram, dibimbangi membawa kepada azab neraka.

Ketiga, sedekah terbaik adalah memberi barang disayangi. Allah SWT berfirman bermaksud: Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu membelanjakan (infak) sebahagian harta kamu cintai. Dan apa saja kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. ( Surah Ali Imran ayat 92)

Keempat, sedekah tidak dihebahkan lebih baik berbanding sedekah dihebahkan. Allah SWT berfirman bermaksud: “Jika kamu menampakkan sedekahmu (bertujuan menunjukkan contoh), maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapuskan sebahagian kesalahanmu.” (Surah al-Baqarah, ayat 271)

Kelima, bersedekah dapat menghilangkan sifat bakhil dan menyucikan jiwa. Dalam hadis riwayat al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah para hamba pada waktu pagi, melainkan ada dua malaikat turun. Satu daripada mereka berdoa, “Ya, Allah. Berikanlah kepada orang yang menafkahkan hartanya balasan lebih baik,” sedangkan malaikat lain berdoa,”Ya, Allah. Berikanlah kebinasaan kepada orang menahan hartanya (tidak mau menafkahkannya).

Demikianlah, wallahua’lam.

Share this:https://muafaqatpondok.wordpress.com/2011/11/29/hukum-sedekah-guna-duit-haram/

Harta Haram Menjadi Halal Setelah Dikeluarkan Zakat.

zakat harta haram

Haram Menjadi Halal setelah Dizakati

Ustadz mau tanya, apakah benar semua harta apabila sudah zakat menjadi suci atau halal? walaupun itu hasil dari korupsi, rampok, mencuri dan sebagainya

Dari D. Setiawan via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Beberapa orang meyakini bahwa harta haram, jika dizakati akan menjadi halal. Alasan mereka, harta haram itu kotor, dan zakat berfungsi menyucikan harta. Setelah dizakati, harta akan menjadi suci dan halal. Demikian ’logika’ sederhana mereka.

Yang memprihatinkan, ternyata logika ini tidak hanya dalam dataran teori, tapi hingga menjadi praktek. Ada salah satu penanya di konsultasisyariah.com yang pernah mengingatkan temannya agar keluar dari bank riba. Tapi dia mengelak dan beralasan, tidak masalah berpenghasilan riba, toh nanti kalo sudah dizakati jadi halal.

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun…

Awas! Setan Membisikkan..

Bagian penting yang perlu kita sadari, tidak ada kemaksiatan di alam ini yang dilakukan tanpa alasan.

Ketika Allah mengharamkan bangkai, orang-orang musyrik beralasan, bagaimana mungkin bangkai yang disembelih Allah kalian haramkan, sementara hewan yang kalian sembelih sendiri kalian halalkan.??

Di sebuah kompleks kos-kosan orang Indonesia timur, beberapa anak kos menangkapi ayam tetangga dan menyembelihnya. Ketika diminta tanggung jawab, mereka beralasan, Inikan milik tuhan, dan tuhan ciptakan ini untuk dinikmati bersama, mengapa kamu larang.?? (ini kisah nyata)

Ketika orang diilarang onani, mereka beralasan, onani itu menyehatkan organ reprosuksi, karena jika tidak dibuang akan terjadi tumpukan sperma yang bisa membahayakan tubuh.

Ketika khamr diharamkan, mereka beralasan, khamr bisa menghangatkan badan dan bisa untuk jamu. ??

Ketika nonton porno dilarang, mereka beralasan, ini untuk berbagi cara berfantasi, menyegarkan kehidupan rumah tangga.??

Ketika syirik dilarang, mereka koar-koar, ini bagian kearifan lokal, yang selayaknya kita pertahankan dan kita lestarikan.??

Ketika mereka dilarang mencari penghasilan yang haram, mereka beralasan, nanti kalo sudah dizakati kan jadi halal.??

Dan masih ada sejuta alasan lainnya, sebagai pembelaan terhadap kemaksiatan.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ . وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan  jin, satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (QS. Al-An’am: 112 – 113)

Para ulama menyebut bisikan-bisikan ini sebagai syubhat. Alasan yang merusak pemikiran manusia, sehingga mereka bisa menikmati yang halal tanpa beban dosa.

Zakat dan Harta Haram

Allah menyatakan bahwa fungsi zakat adalah mensucikan harta dan jiwa orang yang menunaikannya,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (QS. At-Taubah: 103)

Dan kita tahu, suatu benda bisa dibersihkan dan disucikan, jika asal benda itu adalah suci, kemudian kecampuran sedikit kotoran. Bagian kotoran ini yang kita bersihakan.

Berbeda dengan benda yang sejak awalnya kotor atau dia sumber kotoran, dibersihkan dengan bagaimanapun caranya, akan tetap kotor.

Sebagai ilustrasi – tapi mohon maaf, agak jorok – Tinja kering, meskipun dibersihkan dan digosok sampai mengkilap, statusnya tetap najis. Karena tinja seluruhnya najis dan bahkan sumber najis. Sehingga treatment apapun tidak akan mengubahnya menjadi suci.

Harta haram, seluruhnya kotoran dan ini sumber kotoran. Jika dicampur dengan harta yang halal, justru mengotori harta yang halal itu. Karena ituah, zakat dari harta haram tidak diterima.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan tidak pula sedekah dari harta ghulul (HR. Muslim 224, Nasai 139, dan yang lainnya).

Karena Allah hanya menerima zakat dari harta yang baik dan halal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَل

Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik, Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik, maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung”. (Muttafaq ’alaih).

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan, ‏

والمال الحرام كله خبث لا يطهر، والواجب في المال الحرام رده إلى أصحابه إن أمكن معرفتهم وإلا وجب إخراجه كله ‏عن ملكه على سبيل التخلص منه لا على سبيل التصدق به، وهذا متفق عليه بين أصحاب المذاهب

Harta haram semuanya kotor, sehingga tidak bisa dibersihkan. Yang wajib dilakukan terhadap ‎harta haram adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya, jika memungkinkan untuk ‎mengetahui siapa pemiliknya. Jika tidak, wajib mengeluarkan semua harta haram itu dari‎wilayah kepemilikannnya, dalam rangka membebaskan diri dari harta haram, dan bukan ‎diniatkan untuk bersedekah. Ini yang disepakati diantara semua ulama dari berbagai madzhab. ‎(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/249)

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/22758-harta-haram-menjadi-halal-setelah-dizakati.html

Macam Mana Baru Boleh Kata Itu Rasuah?

Baru-baru ini, kita telah dikejutkan oleh Skandal Rasuah AirAsia Yang Menyebabkan Harga Saham Jatuh Menjunam. Saham AirAsia telah jatuh sebanyak 31% dalam masa sebulan ekoran daripada perkara ini.

Nak tahu apa yang dimaksudkan dengan rasuah dan cara untuk menanganinya, kita akan rujuk kepada buku kerja bertajuk How To Bribe: A Typology Of Bribe Paying And How To Stop It yang diterbitkan oleh Transparency International.

Siapa Transparency International?

Kalau nak tahu, Transparency International (TI) adalah merupakan NGO anti-rasuah terkemuka dunia. Mereka ini mempunyai kepakaran global bagi memahami rasuah yang berlaku di seluruh dunia.

Jadi Apa Itu Rasuah?

Kalau ikut definisi rasuah dalam Bahasa Inggeris:

Merujuk kepada gambar di atas, ada banyak jenis-jenis atau klasifikasi rasuah. Ada yang biasa kita dengar, namun ada juga beberapa istilah yang mungkin baru kepada kita.

Mengikut buku kerja bertajuk How To Bribe: A Typology Of Bribe Paying And How To Stop It yang diterbitkan oleh Transparency International ini, ada 8 jenis rasuah utama yang diamalkan di seluruh dunia.

1. Rasuah Secara Tunai

Ini mesti kita tahu kan, ada yang bagi ‘duit kopi’ secara tunai. Tak kira nilainya besar atau kecil, masih dianggap rasuah.

2. Layanan Baik Yang Keterlaluan

Mesti kita pernah dengar ‘lawatan sambil bermain golf’ di negara jiran, belanja makan di tempat yang mewah, pergi karaoke di kelab bangsawan dan bermacam-macam lagi contoh layanan baik yang disifatkan sebagai keterlaluan.

3. Rasuah Dalam Bentuk Hadiah

Kadang-kadang dapat pemberian jam mahal, pen mahal, beg tangan mahal dan bermacam-macam lagi rasuah yang diberikan dalam bentuk hadiah.

4. Awak Garu Belakang Saya, Saya Garu Belakang Awak

Dalam kes ini, kita saling bertukar-tukar pertolongan. Biasanya masing-masing akan menggunakan ‘kabel’ masing-masing bagi membuatkan sesuatu perkara tersebut jadi.

5. Pemudah Sesuatu Urusan

Rasuah juga boleh diberi sebagai ‘pelincir’ dalam memudahkan atau mempercepatkan sesuatu urusan. Orang lain mungkin ambil masa 2-3 minggu untuk setel, tapi dengan adanya ‘pelincir’ ini boleh kawtim dalam masa hanya beberapa hari.

6. Amal Kebajikan

Siapa yang tak suka menyumbang dengan tujuan untuk membuat amal kebajikan? Namun sumbangan jenis ini biasanya ada ‘udang di sebalik mee’ dan bukannya sumbangan yang ikhlas.

7. Tujuan Melobi

Sumbangan berunsur politik biasanya dilakukan oleh pihak yang menjalankan perniagaan dalam sesebuah negara. Dengan sumbangan kepada pihak kerajaan, menteri berkenaan akan memperjuangkan kepentingan perniagaan syarikat yang menyumbang tadi.

8. Komisen 5 Peratus

Ada juga rasuah yang berselindung di sebalik komisen, terutamanya yang melibatkan pembelian sesuatu barang atau perkhidmatan. Walaupun tak salah untuk menerima komisen, tetapi kadang-kadang kita dapat lihat invois yang dikenakan adalah lebih tinggi daripada asalnya.

Sekarang kita dah tahu serba sedikit mengenai definisi rasuah, akan datang kita akan lihat pula bagaimana rasuah ini dibayar. Yang biasa kita dengar, ianya melalui orang tengah, sub-kontraktor dan pembayaran ke akaun bank luar negara atau offshore account.

5 Perkara Yang Dilarang Dalam Muamalat Islam

5 Perkara Yang Dilarang Dalam Muamalat Islam

Muamalat adalah urusan yang melibatkan hukum syariat dan bersangkut paut dengan urusan dunia dimana aktiviti manusia pada hari ini adalah jual beli, pinjam meminjam dan sebagainya.

Sama ada daripada sudut kepentingan individu, ekonomi atau sosial Islam, muamalat merupakan proses atau tatacara perhubungan manusia dalam memenuhi keperluan masing-masing dengan berlandaskan syariat Islam.

Muamalat perlu dilakukan berteraskan keimanan dan ketawaan kepada Allah Swt disamping ia dapat memberi keuntungan kepada ekonomi individu dan masyarakat. Urusan muamalat juga mementingkan akhlak mulia seperti jujur, adil, amanah dan lain-lain lagi.

Krisis akan berlaku sekiranya terdapat unsur-unsur yang dilarang dalam muamalat sesama manusia. Urusan tidak diredhai, ekonomi tidak berkembang dan banyak lagi risiko yang bakal terjadi.

Oleh itu, penting untuk kita ketahui apakah unsur yang dilarang dalam muamalat Islam yang perlu kita jauhi.

#1 Riba’

Riba’ berlaku apabila telah berlakunya perjanjian yang menyebabkan jumlah tambahan perlu dibayar lebih banyak kadar sepatutnya dari jumlah pinjaman.

Keuntungan yang berlebih-lebihan ini amat ditegah dalam Islam untuk urusan perbankan dan apa juga jenis transaksi.

#2 Gharar

Gharar bermaksud ketidakpastian seseorang atau kedua-duanya berkaitan sesuatu produk atau perkhimatan dari segi ciri-ciri dan sifat objek tersebut pada masa kontrak dilakukan. 

Perniagaan yang ada unsur gharar amat ditegah.

#3 Judi

Judi adalah salah satu unsur yang dilarang dalam Muamalat Islam. Ia dikenali dengan nama al-maisir atau al-qimar dalam bahasa Arab. 

Judi bermaksud pertaruhan di mana salah seorang akan mengaut keuntungan tetapi ia bersifat sia-sia.

#4 Tipu Atau Khianat

Penipuan dalam sesebuah muamalat sangat dimurka Allah SWT.  Di antara contoh penipuan yang berlaku pada hari ini termasuklah memaksa, menindas, memonopoli, menyembunyikan kecacatan dan membuat persepakatan secara senyap.

#5 Barang Atau Perkhidmatan Yang Haram

Unsur yang dilarang dalam Islam juga termasuklah membuat jual beli atau transaksi yang melibatkan barang atau perkhidmatan yang haram di sisi Agama. 

Di antaranya adalah aktiviti pelacuran, judi, tilik nasib, barangan makanan babi, arak dan sebagainya lagi.

Itulah dia 5 unsur yang dilarang dalam muamalat Islam yang harus kita jauhi dalam apa jua transaksi. Sekiranya kita membuat urusan jual beli atau pelaburan sekalipun, semuanya haruslah berkonsepkan syariah dan menjauhi unsur-unsur yang

Sumber Rujukane-Muamalat

Ada Duit Atau Harta Daripada Sumber Yang Haram? Ini Dia Cara Pengurusan Wang Tidak Patuh Syariah

Masa zaman gelap atau zaman jahiliah dulu, ada di kalangan kita yang telah memperolehi rezeki daripada sumber yang tak syariah-compliant. Atau dalam erti kata lain, sumber yang haram.

Tapi sekarang dah insaf, apa kita nak buat dengan duit atau harta daripada sumber yang haram tersebut? Berikut merupakan jalan penyelesaian yang diberikan oleh pihak Majlis Agama Islam Selangor (MAIS).

Apa Itu Wang atau Harta Tidak Patuh Syariah?

Prof. Dr. Muhammad Nabil Ghanayim, Profesor di Kuliyyah Syariah Universiti Kaherah, telah mentakrifkan wang atau harta tidak patuh syariah sebagai harta haram yang diperolehi melalui jalan-jalan yang tidak syarie iaitu mengambil harta yang terdapat larangan ke atasnya atau terdapat balasan (had) ke atas pelakunya, atau terdapat janji buruk berkaitannya, atau yang dinamakan sebagai batil oleh Allah S.W.T.

Pandangan Imam Al-Syafie juga telah menyatakan bahawa syariah telah melarang lapan perkara pokok iaitu riba, gharar, perjudian, penipuan, rampasan, ihtikar (monopoli barangan), rasuah dan perniagaan yang tidak patuh syariah serta mendatangkan kemudaratan (seperti arak, babi, bangkai, makanan yang memudaratkan, pendapatan daripada pelacuran dan seumpamanya).

Manakala kebanyakan fuqaha’ mutakhir ini mentakrifkan harta tidak patuh syariah ialah harta yang dimiliki dan diperolehi melalui wasilah yang tidak diiktiraf oleh syarak seperti rompakan, rampasan, hasil jualan barang curi, rasuah, perjudian, loteri, transaksi riba, perlindungan insurans konvensional, keuntungan pelaburan di dalam sekuriti tidak patuh syariah dan seumpamanya.

Menurut Suruhanjaya Sekuriti (SC) Malaysia, sesebuah pelaburan atau syarikat diklasifikasikan sebagai sekuriti yang tidak patuh syariah sekiranya syarikat atau pelaburan itu menjalankan aktiviti yang tidak selaras dengan syariah seperti berikut:

i.     Perkhidmatan kewangan yang berteraskan riba (faedah);
ii.    Perjudian dan pertaruhan;
iii.   Pengeluaran atau penjualan barangan yang tidak halal;
iv.   Insurans konvensional;
v.    Aktiviti hiburan yang tidak selaras dengan syariah;
vi.   Pengeluaran atau penjualan barangan yang berasaskan tembakau atau barangan yang berkaitan;
vii.  Pembrokeran atau jual beli sekuriti tidak patuh syariah; dan
viii. Aktiviti lain yang didapati tidak selaras dengan syariah.

Kaedah Pelupusan Wang Tidak Patuh Syariah

Imam Al-Nawawi

Imam Al-Nawawi di dalam kaedah penyelesaian harta haram telah menukilkan pandangan al-Ghazali yang menyatakan jika seseorang lelaki itu memiliki harta haram dan hendak bertaubat serta melepaskan tanggungan daripada harta haram tersebut, maka harta tersebut mestilah diserahkan kepada pemiliknya atau wakil pemilik tersebut. Sekiranya pemilik tersebut telah meninggal dunia, berkewajipan untuk menyerahkan kepada ahli warisnya. Sekiranya pemilik harta tersebut tidak dapat dikenal pasti, maka harta tersebut mestilah diserahkan (dibelanjakan) untuk tujuan maslahah umum seperti membiayai pembinaan jambatan, jalan raya dan seumpamanya.

Syeikh Atiyyah Saqar

Manakala Syeikh Atiyyah Saqar, mantan Ketua Lajnah Fatwa Al-Azhar telah menyatakan kaedah melupuskan harta haram ketika bertaubat adalah mengikut kaedah berikut:

i.    Memulangkan kembali harta itu kepada si pemilik asal atau waris pemilik apabila diketahui pemilik harta tersebut; dan

ii.   Apabila tidak diketahui pemilik asal harta tersebut, maka harta tersebut hendaklah diserahkan kepada fakir miskin bagi memisahkan dirinya daripada harta haram yang diperolehinya. Penyerahan harta tersebut kepada fakir miskin bukanlah untuk mendapatkan pahala daripada serahan tersebut.

Hal di atas bersandarkan kepada hadis Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: “Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah S.A.W. telah bersabda: Barangsiapa yang menzalimi kehormatan atau apa sahaja harta saudaranya hendaklah ia meminta halal daripadanya pada hari ini sehingga jangan berbaki satu dinar atau dirham. Jika tidak, sekiranya dia mempunyai amal soleh, maka akan diambil amal solehnya dengan kadar kezaliman yang dilakukannya, dan kiranya tiada lagi kebaikan, maka akan dipertanggungjawabkan kejahatan orang yang dizaliminya itu pula.”
(Riwayat Al-Bukhari)

Dalam sebuah hadis lain yang bermaksud: “Daripada Samurah katanya, Nabi S.A.W. bersabda: Kewajipan di atas tangan (mencuri) apa-apa yang diambilnya sehinggalah ia memulangkannya.”
(Riwayat al-Tirmizi)

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Berkenaan dengan kedudukan wang-wang faedah yang diperolehi secara haram, Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitabnya Fatawa Mu’asirah telah memutuskan wang-wang faedah yang diperolehi secara haram adalah haram secara yakin untuk ditinggalkan begitu sahaja di bank-bank konvensional.

Menurut beliau, ia seolah-olah seperti menolong bank-bank konvensional yang akan turut menggunakan wang-wang faedah yang ditinggalkan itu untuk tujuan yang bertentangan dengan hukum syarak.
 
Beliau menegaskan, tidak harus seseorang menggunakannya (wang faedah) tersebut kerana tindakan menggunakan wang tersebut adalah termasuk di dalam kategori memakan harta yang diperolehi melalui jalan kezaliman. Tidak boleh dimanfaatkan melalui jalan makanan, minuman, tempat tinggal, membayar cukai dan sebagainya.

Menurut Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi juga, sesuatu yang haram itu tidak boleh dimiliki sebaliknya ia menjadi milik maslahah umum seperti dibelanjakan kepada perkara-perkara kebajikan seperti membantu anak-anak yatim, perkembangan dakwah Islam, pembinaan masjid dan pusat Islam, penyediaan para pendakwah, penerbitan kitab-kitab agama dan seumpamanya yang bersifat kebajikan.

Kaedah Fiqh

Timbul persoalan sekiranya wang yang halal dan wang yang haram bercampur aduk dan tidak dapat dibezakan, contohnya wang simpanan yang halal di dalam bank bercampur dengan wang faedah yang haram dalam akaun yang sama, bagaimanakah ianya dapat dijernihkan?

Dalam kaedah fiqh, terdapat satu kaedah yang berkaitan iaitu: “apabila berkumpul perkara yang halal dengan perkara yang haram, maka dimenangkan (dikira) yang haram.”

Menurut kaedah di atas, apabila perkara yang halal dan yang haram bercampur aduk dalam sesuatu perkara itu, maka ia dianggap sebagai haram.

Dalam konteks ini, apa yang jelas adalah sesuatu yang halal tersebut (wang pokok) boleh digunakan manakala yang haram itu (faedah) hendaklah dilupuskan dengan menyerahkannya kepada pihak Baitulmal bagi tujuan maslahah umum.

Namun sekiranya nilai yang halal dan haram itu tidak dapat dipastikan, maka kaedah berijtihad nilai (al-ihtiyath) boleh digunakan bagi menentukan pembahagian yang betul antara kedua-duanya.

Dengan cara ini, perkara yang halal dapat diasingkan daripada perkara yang haram dan masih dapat dimanfaatkan walaupun telah berlaku campur aduk antara kedua-duanya.

Penggunaan dan Pengagihan Wang Tidak Patuh Syariah

Keharusan penggunaan harta yang haram digunakan untuk tujuan maslahah umum juga dapat dilihat berdasarkan peristiwa sewaktu Rasulullah S.A.W. menyuruh menyedekahkan kambing yang diberikan kepadanya. Kambing tersebut diambil dari sumber yang haram (diambil tanpa diketahui siapa pemiliknya), lalu Rasulullah S.A.W. menyuruh kambing tersebut disembelih dan diberikan kepada tawanan perang.

Sesuatu harta yang diperolehi dari sumber yang haram juga tidak wajar dimusnahkan terutamanya sekiranya harta-harta tersebut mempunyai manfaat. 

Walau bagaimanapun, dalam apa jua keadaan orang yang bersedekah dengan harta yang haram atau syubhah ke jalan kebajikan tetap tidak mendapat pahala sedekah, sebaliknya akan mendapat pahala dari sudut lain iaitu beroleh pahala disebabkan usahanya untuk melupuskan harta yang haram dan tidak menggunakan harta tersebut untuk dirinya dan ini adalah pahala disisi Allah S.W.T.

Manakala sumbangannya adalah mekanisme kebajikan yang menyampaikan harta yang mengambil faedah dari sedekah itu dan inilah pahala atas usahanya dengan izin Allah S.W.T.

Keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa, Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam 1971

Di negara kita Malaysia, ketetapan berkenaan penyaluran wang-wang haram telah diputuskan sejak dahulu lagi iaitu melalui keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa, Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam Kali Ke-3 pada 21hb. Jun 1971 yang telah memutuskan:

i.    Faedah yang diperolehi daripada wang simpanan yang dibuat oleh institusi Islam atau perniagaan atau badan kebajikan yang dianggotai oleh orang-orang Islam dalam mana-mana bank harus diterima oleh badan-badan itu atas alasan kecemasan ekonomi orang-orang Islam pada masa ini.

ii.   Faedah yang diperolehi daripada wang simpanan seseorang Muslim dalam mana-mana bank harus diterima olehnya atas alasan kerana kecemasan itu juga, tetapi wang faedah itu hendaklah dimasukkan dalam Baitulmal atau untuk kegunaan maslahah umum.

Keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa, Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam 2009

Melalui keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa ke-87, Majlis Kebangsaaan bagi Hal Ehwal Islam pada 23-25 Jun 2009, telah dinyatakan iaitu:

“Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah berpandangan bahawa di dalam Islam harta-harta yang diperolehi dengan cara yang tidak mematuhi syariah seperti riba, gharar, perjudian, penipuan, rompakan, rampasan, rasuah dan seumpamanya adalah haram dan tidak boleh digunakan untuk manfaat dan kepentingan diri sendiri serta perlu dibersihkan melalui kaedah-kaedah berikut:

i. Diserahkan kepada baitulmal untuk maslahah umum umat Islam seperti membiayai pembinaan atau penyelenggaraan jambatan, jalan, tandas dan seumpamanya;

ii.   Diserahkan kepada golongan fakir miskin; atau

iii. Jika harta tersebut merupakan harta rompak, curi dan seumpamanya, maka harta tersebut perlu diserahkan semula kepada pemiliknya. Jika pemiliknya telah meninggal dunia atau tidak dapat dijumpai, maka harta tersebut mestilah dikembalikan kepada ahli warisnya. Sekiranya tidak dapat diketahui pemilik atau ahli waris pemilik, maka harta tersebut hendaklah diserahkan kepada baitulmal”.

Keputusan Majlis Penasihat Syariah Suruhanjaya Sekuriti

Baitulmal juga telah disenaraikan oleh Majlis Penasihat Syariah Suruhanjaya Sekuriti dalam ketetapannya berkenaan Senarai Sekuriti Patuh Syariah pada 20hb. November 2008 yang mana antara lain menyebut:

i.    “Sekuriti patuh syariah” yang kemudiannya bertukar status kepada “tidak patuh syariah”        
“… Walau bagaimanapun, sebarang lebihan keuntungan modal yang diperoleh daripada penjualan selepas hari pengumuman pada harga pasaran yang lebih tinggi daripada harga penutup pada hari pengumuman, hendaklah disalurkan kepada badan kebajikan atau baitulmal”.

ii.    Sekuriti patuh syariah
“… Sebarang keuntungan dalam bentuk keuntungan modal atau dividen yang diperoleh ketika atau selepas pelupusan sekuriti berkenaan hendaklah disalurkan kepada badan kebajikan atau baitulmal. Pelabur hanya berhak untuk memperoleh kembali kos pembelian asal sahaja”. 

Pengklasifikasian sesuatu pelaburan yang mematuhi syariah (shariah-compliant securities) boleh dilihat dengan jelas melalui Senarai Sekuriti Patuh Syariah yang dikeluarkan Majlis Penasihat Syariah, Suruhanjaya Sekuriti Malaysia (SC) bertarikh 26hb. November 2010. Lebih dari itu, dinyatakan juga dalam senarai tersebut bagaimana aras sesuatu sekuriti itu diukur dari segi kehalalan dan kepatuhan prinsip syariahnya. Bukan itu sahaja, senarai tersebut juga dinyatakan syarikat-syarikat yang terkeluar atau tidak mematuhi syariah dengan jelas.

Selain dari itu, Majlis Penasihat Syariah Suruhanjaya Sekuriti juga telah mengeluarkan Senarai Sekuriti Patuh Syariah (List of Shariah-Compliant Securities) pada 25hb. Nov 2011 dan List of launched funds in relation to unit trust funds yang dikemaskini pada 31hb. Oktober 2011 yang mana jelas menyatakan dana-dana amanah yang mematuhi syariah dan tidak mematuhi syariah.

Titah DYMM Sultan Selangor

Di negeri Selangor, DYMM Sultan Selangor telah bertitah semasa Perasmian Dewan Undangan Negeri Selangor pada 10 Mac 2009 iaitu:

“Beta juga dengan sukacitanya mengambil kesempatan ini menyeru kerajaan negeri menyokong usaha Majlis Agama Islam Selangor (MAIS) memastikan penyaluran wang syubhah daripada mana-mana orang dan syarikat-syarikat yang beroperasi di Selangor ke akaun Baitulmal, MAIS. Wang syubhah ialah wang yang dihasilkan daripada aktiviti yang tidak diketahui status halal atau haram dan bercampur dengan perkara yang dilarang oleh syariah. Pengumpulan wang syubhah oleh MAIS ini akan digunakan untuk kepentingan umum masyarakat seperti pembinaan kemudahan awam yang manfaatnya kepada orang Islam dan juga bukan Islam. Keputusan untuk menyalurkan wang syubhah ini ke akaun Baitulmal telah dipersetujui dalam Mesyuarat Jawatankuasa  Baitulmal Kebangsaan Pada 19 Februari 2009 dan Majlis Penasihat Syariah (MPS) Suruhanjaya Sekuriti juga telah menyenaraikan Baitulmal sebagai badan penerima wang syubhah di dalam “Senarai Sekuriti Patuh Syariah Oleh Majlis Penasihat Syariah Suruhanjaya Sekuriti” bertarikh 28 November 2008.”

Keputusan Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Selangor

Sejajar dengan itu, satu ketetapan berkenaan penyaluran wang tidak patuh syariah atau wang haram ini juga telah dibuat melalui keputusan Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Selangor Bil. 1/2009 pada 18hb. Mac 2009 yang menyatakan:

i.    Wang tidak patuh syariah yang diperolehi boleh dijadikan sumber baitulmal dan harus dimasukkan ke dalam akaun baitulmal.

ii.   Penggunaan wang tidak patuh syariah harus untuk kegunaan menjalankan operasi perjalanan kerja di MAIS seperti pembinaan, penyelenggaraan bangunan, emolumen, pendidikan, pertanian, penyelidikan, perubatan, kemudahan asas seperti pembinaan dewan, tandas, jambatan dan lain-lain untuk kegunaan umum.

Peranan Majlis Agama Islam Selangor (MAIS)

Sebagai sebuah organisasi ulung yang bertanggungjawab mentadbir dan memegang amanah harta-harta orang Islam, MAIS berperanan untuk menyampaikan maklumat dan pengetahuan kepada seluruh umat Islam berkenaan peri pentingnya mengurus harta secara bijaksana sebagaimana yang dituntut oleh hukum syarak.

Hal ini bertepatan Firman Allah S.W.T. yang bermaksud: “Dan janganlah kamu makan harta-harta sesama kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim-hakim dengan tujuan supaya kamu dapat memakan sebahagian dari harta orang lain dengan cara yang berdosa, sedangkan kamu mengetahui”.
(Surah Al-Baqarah: Ayat 188)

Firman Allah S.W.T. yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
(Surah Al-Baqarah: Ayat 275)

Firman Allah S.W.T. yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”.
(Surah Al-Nisa’: Ayat 29)

Pelbagai cabang pengurusan harta Islam telah diteroka dan hasilnya ia direalisasikan untuk manfaat seluruh umat Islam negeri ini. Aplikasi pelaksanaan sesuatu perkhidmatan itu dikaji dari segenap segi bagi memastikan perjalanan atau proses perkhidmatan yang dilaksanakan sentiasa bersandarkan kepada hukum syarak.

Mengambil pendekatan di atas, salah satu terimaan yang diperolehi di MAIS adalah melalui serahan wang tidak patuh syariah. Wang tidak patuh syariah boleh dikatakan sebagai istilah baru bagi mengambil pakai penggunaan nama wang haram atau wang syubhah yang bersesuaian dengan arus kemodenan masyarakat ketika ini.

Penyerahan kepada Baitulmal, Majlis Agama Islam Selangor merupakan pilihan cara pelupusan yang utama, selamat dan meyakinkan serta mampu menyumbang kepada peningkatan sosio-ekonomi umat Islam sebagaimana yang diperuntukkan di dalam Seksyen 7, Enakmen Pentadbiran Agama Islam (Negeri Selangor) 2003: “maka hendaklah menjadi kewajipan majlis untuk menggalakkan, mendorong, membantu dan mengusahakan kemajuan dan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat Islam di dalam negeri Selangor selaras dengan hukum syarak.”

Sehubungan dengan itu, satu akaun khas telah dibuka di MAIS bagi memudahkan masyarakat Islam menyalur dan melupuskan wang tidak patuh syariah agar hasil tersebut dapat dimanfaatkan sebaiknya oleh masyarakat Islam dan dikongsikan bersama dengan masyarakat bukan Islam.

Anda Memiliki Wang Atau Harta Yang Diterima Melalui Sumber Yang Haram Atau Tidak Diketahui Statusnya?

Penyaluran wang tidak patuh syariah ini boleh dibuat secara tunai atau cek di kaunter Baitulmal, Majlis Agama Islam Selangor, Tingkat 9, Menara Utara, Bangunan Sultan Idris Shah, 40000 Shah Alam atau disalurkan ke akaun Bank Islam Malaysia Berhad, no. akaun 12-038-01-009567-6 atau cek atas nama “Majlis Agama Islam Selangor” atau pindahan wang melalui e-mais di laman web http://www.mais.gov.my.

Sebarang pertanyaan, sila hubungi:

Seksyen Tazkiyah Mal dan Khairat, Unit Amanah, Bahagian Harta Baitulmal
MAJLIS AGAMA ISLAM SELANGOR, TINGKAT 10, MENARA UTARA
BANGUNAN SULTAN IDRIS SHAH, 40000 SHAH ALAM, SELANGOR DARUL EHSAN
Tel: 03-5514 3773 atau 3772     Email: info@mais.gov.my

SumberLaman Web MAIS

Duit Sumbangan Hasil Judi. Halalkah?

Duit Sumbangan Hasil Judi. Halalkah?

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Di bawah ini disertakan, tulisan dua ilmuan Islam berkaitan isu duit sumbangan daripada hasil judi. Semoga ia menjadi pencerah kepada kita semua di dalam isu ini:

drmaza.com

Soalan: Dr Asri, sekarang ini heboh tentang hukum menerima sumbangan dari hasil haram. Saya pun baca kenyataan Dr Asri yang menyatakan tidak mengapa selagi traksaksi itu atas bantuan, bukan judi. Cumanya, masyarakat kita keliru, ada kata boleh dan ada kata sebaliknya. Jika haram, apa hukum pula kakitangan kerajaan yang menerima gaji dari kerajaan yang mempunyai pelbagai sumber termasuk hasil cukai judi dan arak? Bagaimana pula anak-anak yang mendapat wang dari bapa terlibat dengan wang haram seperti riba, rasuah dan seumpamanya? Bagaimana pula persatuan-persatuan yang mendapat bantuan dari syarikat atau bank yang mempunyai sumber haram seperti arak atau riba?

Mazlan, Pulau Pinang.

Jawapan Dr MAZA: Saudara Mazlan, perkara yang penting dalam traksaksi kewangan dan sebagainya, seseorang hendaklah tahu atas asas apa traksaksi itu dibuat. Maksudnya, dia mesti jelas wang atau barang yang diterimanya atas dasar apa. Jika yang diterimanya itu atas penjualan arak yang dia lakukan, atau judi yang dia terlibat atau riba yang berurusan dengannya, atau pelacuran yang terbabit maka ia haram. Jika ia terima atas jual beli, atau bayaran hutang, bantuan, atau pemberian atau hadiah yang dia tidak terbabit dengan urusan kegiatan haram, maka ia pada asalnya adalah halal. Sebagai pendetilannya, saya sebutkan beberapa perkara berikut;

1. Seseorang yang menerima wang dari pihak yang lain hendaklah memastikan atas traksaksi apa wang itu diterima. Adapun urusan sebelum itu, yang tidak membabitkan diri penerima, maka itu tidak pertanggungjawabkan kesalahan itu ke atas penerima tersebut.

Umpamanya, kakitangan kerajaan yang bekerja dalam urusan yang halal dan mendapat gaji, maka gaji itu halal. Sekalipun kemungkinan sumber kerajaan dalam membayar gaji itu diambil dari kegiatan yang haram seperti perjudian atau arak atau seumpamanya. Ini kerana urusan haram itu tidak membabitkan diri penerima gaji berkenaan dan gaji itu diterima atas kerjanya yang halal, bukan aktiviti yang haram.

2. Hal yang sama, jika seseorang berhutang kepada kita, lalu dia datang membayar dari hasil wang haram yang diperolehinya seperti menang loteri. Kita halal mengambil hutang kita sekalipun dia bayar dari wang loteri berkenaan. Ini kerana yang haram ialah pemindahan wang dari syarikat loteri kepada yang berhutang, iaitu atas asas judi. Sedangkan pemindahan wang tersebut kepada kita, atas asas membayar hutang, yang tiada kaitan dengan judi.

Begitu juga, jika pengurus bank riba, atau taukeh judi atau taukeh arak datang ke kedai kita dan membeli barang atau makanan, halal kita menerima wang yang mereka bayar. Ini kerana wang itu diterima atas dasar jual beli, bukan judi, atau riba atau arak. Kegiatan yang salah ditanggung dosanya oleh pelakunya, sedang yang menjual barang halal kepada mereka tidak terlibat.

3. Asas dalam hal ini disebut oleh al-Quran (maksudnya):

“dan tiadalah (kejahatan) yang diusahakan oleh sesuatu jiwa (seorang) melainkan dialah yang menanggung dosanya; dan seseorang yang boleh memikul tidak akan memikul dosa orang lain”. (Surah al-An’am, ayat 164)

4. Dalil yang menunjukkan kenyataan ini, ialah amalan Nabi s.a.w di mana baginda menerima pemberian wanita Yahudi di Khaibar yang menghadiahkan baginda kambing, baginda memakannya. Ini seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Walaupun Yahudi terkenal dengan penipuan, riba dan rasuah tetapi baginda tetap menerima hadiah mereka.

Begitu juga –seperti riwayat al-Bukhari- baginda pernah menggadai baju besi kepada Yahudi dan mengambil gandum untuk keluarga baginda. Baginda juga menerima jemputan makan roti bali dan minyak yang sudah berubah baunya dari seorang yahudi. Ini seperti dalam riwayat al-Bukhari, Ahmad, al-Tirmizi dan lain-lain.

5. Rasulullah s.a.w tidak boleh memakan sedekah. Ini adalah hukum untuk baginda dan Ahlul Bait. Suatu hari Barirah bekas hamba ‘Aisyah telah mendapat sedekah daging. Apabila daging itu dihidangkan kepada Nabi s.a.w, lalu baginda diberitahu bahawa daging tersebut adalah sedekah kepada Barirah. Baginda menjawab:

“Untuk dia sedekah, untuk kita hadiah” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, daging itu disedekah kepada Barirah, kemudian Barirah menghadiahkan kepada Nabi s.a.w. Jika ia disedekah kepada Nabi s.a.w, baginda tidak boleh makan. Walaupun asalnya sedekah, tetapi baginda menerima dari Barirah atas asas hadiah, maka halal untuk baginda. Di sini menunjukkan yang diambil kira transaksi antara pemberi dan penerima, bukan yang sebelum itu.

6. Seorang lelaki bertanya kepada Abdulllah bin Mas’ud:

“Aku ada jiran yang memakan riba dan dia selalu menjemputku makan”. Jawab ‘Abdullah bin Mas’ud: “Engkau dapat makan, dosa ditanggung olehnya”. (Musannaf ‘Abd al-Razzaq, bil: 14675).

Dalam riwayat al-Baihaqi,

seseorang bertanya Ibn ‘Umar bahawa beliau ada jiran yang memakan riba atau mempunyai pekerjaan yang haram, kadang-kala dia jemput makan, bolehkah hadir?. Jawab Ibn ‘Umar: “Ya” (al-Sunan al-Kubra, bil: 11138).

7. Al-Syeikh al-‘Allamah Muhammad Solih ibn al-Uthaimin r.h pernah ditanya mengenai hukum nafkah yang diterima oleh isteri dan anak dari suami yang terlibat dengan bank riba, apakah mereka boleh mengambilnya. Beliau menjawab:

“Ambillah nafkah itu dari bapa kamu. Kamu mendapat kenikmatan, dia pula mendapat dosa. Ini kerana kamu mengambil nafkah tersebut secara berhak. Harta padanya, dan kamu tiada harta. Kamu mengambilkan dengan cara yang benar. Sekalipun kesalahan, balasan dan dosa ke atas bapa kamu, jangan kamu gusar. Nabi s.a.w pun menerima hadiah dari yahudi, memakan makanan yahudi, membeli dari yahudi sedangkan yahudi terkenal dengan riba dan harta haram, tetapi Rasulullah s.a.w memakannya dengan jalan yang halal. Maka, jika seseorang memilikinya dengan jalan yang halal, maka tidak mengapa”  (http://www.estgama.net/estgama_mag/full.php?id=82).

8. Dr Yusuf al-Qaradawi ketika ditanya mengenai wang riba ke mana patut disalurkan, beliau menyebut antaranya:

“Sebenarnya, wang tersebut keji (haram) jika nisbah kepada orang mendapatkan secara tidak halal, tetapi ia baik (halal) untuk fakir miskin dan badan-badan kebajikan…(penyelesaiannya) disalurkan ke badan-badan kebajikan iaitu fakir miskin, anak-anak yatim, orang terputus perjalanan, institusi-institusi kebajikan islam, dakwah dan kemasyarakatan..” (al-Fatawa al-Mu’asarah 2/411, Beirut: Dar Ulil Nuha).

9. Namun diharamkan jika membabitkan kezaliman secara jelas kepada pihak lain (hak al-‘ibad) yang mana dengan kita mengambil, akan ada yang teraniaya tanpa rela, seperti harta curi dan rompakan. Sabda Nabi s.a.w:

“Allah tidak terima solat tanpa bersuci, dan sedekah dari pengkhianat” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Ini kerana penerimaan ini akan menyebabkan pihak yang sedang menuntut atau mencari hartanya yang dirampas atau dicuri terzalim. Melainkan pihak yang dizalimi itu redha. Jika dia menuntut, wajib dikembalikan kepadanya.

10. Walaupun harta atau pemberian dari harta yang haram itu boleh diambil, tetapi jika dengan pemberian itu menunjukkan secara jelas sikap bersekongkol dengan dosa maka ia diharamkan kerana redha dengan maksiat. Ini seperti seseorang membelanja makan dengan wang judi sempena kemenangan judinya. Atau dia mempromosi syarikat judi tersebut secara jelas dengan cara memberi bantuan, maka haram bersekongkol dengan kemaksiatan seperti itu.

11. Maka fakir miskin yang mendapat bantuan kerajaan atau pihak lain dari sumber yang asalnya haram, mereka HALAL menerimanya dan tidak perlu dikembalikan. Dengan syarat mereka tidak terlibat secara langsung dalam mempromosikan aktiviti haram seperti perjudian dan arak.

Ustaz Zaharuddin.

Tindakan penerima wang bantuan kerajaan Pulau Pinang memulangkan kembali wang tersebut boleh dinilai dari dua sudut iaitu sudut politik dan sudut agama atau hukum. Saya tidak berhasrat menyentuh isu terbabit dari sudut politik kerana ia bukan bidang saya. Cuma jika, tindakan tersebut jika dijadikan ikutan, nanti kita akan dapat melihat kebanyakan orang miskin di Malaysia memulangkan wang bantuan yang diberikan oleh kerajaan negeri, kerajaan pusat dan syarikat. Ini kerana sebahagian pendapatan kerajaan negeri dan pusat juga adalah dari sumber haram seperti cukai pusat judi, pelaburan haram, riba, pusat hiburan, rumah urut ‘pelacuran’ dan sebagainya. Justeru bantuan mungkin sahaja diambil dari wang haram tersebut.

DARI SUDUT HUKUM

Jika dilihat dari sudut hukum, jika tindakan warga emas tersebut dibuat atas dasar kononnya wang dipulang kerana ia tidak bersih dan haram, tindakan mereka adalah SALAH  lagi terkeliru dengan cakap-cakap orang yang tiada memahami hukum Islam. Ini kerana dari sudut hukum, faqir dan miskin HARUS menerima sebarang sumbangan yang diberikan oleh pihak kerajaan negeri, walaupun diketahui kerajaan negeri mempunyai sumber wang yang HARAM.

Fakta berikut perlu difahami:

1. Wang kerajaan China, Israeil ( dan lain-lain tentunya) adalah bercampur.

Para ulama telah membahaskan persoalan penerimaan sumbangan, derma atau menikmati juadah makanan dari individu yang mempunyai pendapatan bercampur antara halal dan haram. Majoriti ulama telah sepakat bahawa selagi mana harta si pemberi itu bercampur selagi itulah kita orang biasa boleh menerima hadiah, sumbangan, derma, menikmati makanan yang disediakan mereka.

Hal yang sama terpakai untuk sesebuah syarikat dan kerajaan, selagi sumber perolehan mereka bercampur, selagi itu HARUS untuk kita menerima gaji atau upah atau apa jua dari kantung mereka, selagi tugas dan cara kita memperolehinya adalah betul. Itu adalah hukum untuk orang biasa, maka jika penerima itu adalah warga yang memerlukan seperti faqir dan miskin, ia sudah tentu jauh lebih jelas KEHARUSANNYA. Malah terdapat dalil yang jelas berkenaan keharusan terbabit. Kes yang sama terpakai untuk kerajaan pusat yang menerima sumber pendapatan dari sumber judi, riba, arak, babi, rumah urut pelacuran dan sebagainya.  Selain itu, juga turut menerima sumber halal seperti hasil minyak, jualan komoditi dan sebagainya.

2.   Wang itu sendiri tidak najis atau haram pada zatnya.

Wang dan harta hanya dikira haram atau halal pada cara mendapatkannya dan membelanjankannya, ia dinamakan haram dari sudut hukmi bukan ‘hissi’. Ia tidak berpindah dari seorang kepada yang lain. Ia bukan seperti najis yag berpindah apabila disentuh oleh seeorang.

3. Bagaimana jika benar-benar sumbangan dari terus dari kantung wang judi, riba dan rasuah?.

Jika keadaan itu berlaku, ia masih lagi HARUS DITERIMA oleh Faqir, miskin dan digunakan untuk maslahat umum seperti sumbangan warga emas, pembinaan jalanraya, pembersihan dan sebagainya. Itu adalah ijtihad majoriti mazhab silam dan ulama kontemporari. Termasuklah, Majlis Fiqh Antarabangsa OIC, Majlis Fatwa Eropah, Majma Buhuth Mesir[1], Al-Lajnah Al-Daimah, Arab Saudi[2] dan ribuan ulama perseorangan seperti Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi, Syeikh Al-Qaradawi , Syeikh Az-Zarqa[3], Syeikh Faisal Al-Maulawi dan ramai lagi. Derma bagi wang haram tidak mampu dipulangkan semula kepada tuannya ini hendaklah disedeqahkan kepada orang faqir miskin telah difatwakan harus oleh majoriti mazhab utama Islam ( Hasyiah Ibn ‘Abidin, 6/443 ; Fatawa Ibn Rusyd, 1/632 ; Al-Qawaid, Ibn Rejab, hlm 225 )

Begitu juga fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Fatwa kebangsaan Malaysia pada 25 Jun 2009. Buka sini http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/penyaluran-harta-tidak-patuh-syariah-ke-baitulmal-dan-institusi-islam-lain

PANDANGAN ULAMA MAZHAB

Ulama hanafi menyebut :-

والملك الخبيث سبيله التصدق به, ولو صرف في حاجة نفسه جاز . ثم إن كان غنيا تصدق بمثله

Ertinya : Pemilikan kotor ( haram) jalan keluarnya adalah disedeqahkannya, malah jika pemilik itu seorang faqir), ia bleh mengambil untuk dirinya sendiri, kemudian, jika selepas itu dia menjadi kaya, hendaklah dia mendermakan wang haram (yang pernah diambilnya sewaktu miskin dahulu) ( Al-Ikhtiyar Li Ta’lil al-Mukhtar, 3/61)

Ulama mazhab Maliki seperti Al-Qarafi dan Ad-Dawudi menjelaskan wang haram tidak hanya terhad untuk diberikan kepada faqir dan miskin sahaja tetapi juga apa-apa pembangunan dan kegunaan yang memberi manfaat kepada umum menurut budi bicara dan penilaian pemerintah adil. Jelasnya, mazhab maliki juga setuju faqir, miskin malah warga emas yang memerlukan boleh menerima wang sedemikian tanpa masalah. ( rujuk Al-Dzakhirah, 5/69)

Ulama Mazhab Syafie, Imam An-Nawawi menukilkan kata-kata Imam al-Ghazali yang berkata:

وإذا دفعه – أي المال الحرام- إلى الفقير لا يكون حراماً على الفقير , بل يكون حلالا طيبا

Ertinya : sekiranya wang haram itu diberikan kepada faqir miskin, ia tidaklah haram ke atas faqir ( dan miskin), bahkan ia adalah halal lagi baik untuk mereka. ( Al-Majmu’ , 9/428)

Imam A-Ghazzali juga menjawab keraguan beberapa ulama lain :-

وقول القائل: لا نرضى لغيرنا ما لا نرضاه لأنفسنا فهو كذلك ولكنه علينا حرام لاستغنائنا عنه وللفقير حلال إذا حلّه دليل الشرع وإذا اقتضت المصلحة التحليل وجب التحليل

Ertinya : Menjawab kata-kata orang yang berkata : “Kita tidak sepatutnya redha untuk diberikan kepada orang lain sesuatu yang kita tidak redha untuk kita”. Memang benar sebegitu, namun dalam kes wang haram yag dimiliki, ia haram ke atas diri kita (pemilik) untuk menggunakannya, namun ia bagi faqir, miskin adalah halal, kerana telah ada dalil syara’ yang menghalalkannya dan di ketika wujud kebaikan dari pemberian tersebut (kepada penerima), maka wajiblah diberikan. (Ihya Ulumiddin, 2/212)

Syeikh al-Qaradawi ketika membicara hal pengagihan wang haram berkata :

إذن ما دام هو ليس مالكا له, جاز له أخذه والتصدق به على الفقراء والمساكين أو يتبرع به لمشروع خيري

Ertinya : Oleh itu, selagi wang haram (yang dimiliki seseorang itu tidak diiktiraf oleh syaraa’ sebagai miliknya), harus bagi pemegang itu untuk ambilnya dan disedeqahkan kepada faqir miskin atau didermakan kepada projek-projek kebaikan (untuk maslahat umum). ( Fatawa Mu’asiroh, 1/606)

RINGKASAN DALIL

Terdapat banyak sekali dalil yang dijadikan sandaran oleh majoriti ulama, terdiri dari hadis-athar, qiyas dan logik aqal. Antara hujjah yang dipegang bagi mengharuskan ‘derma’ wang haram yang tidak diketahui tuannya, cukup sekadar memaklumkan beberapa secara ringkas:-

1. Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq r.a pernah bertaruh (di awal Islam) dengan seorang Musyrik (yang mencabar ketepatan Al-Quran dari surah Ar-Rum ayat pertama dan kedua yang mengisyaratkan kejatuhan Rom) iaitu kerajaan Rom akan tewas. Kemudian apabila Rom benar-benar jatuh, Sayyidina Abu Bakar dikira sebagai pemenang dan telah memperolehi harta pertaruhan itu (ianya haram kerana judi dan tujuan Abu Bakar hanyalah untuk membuktikan kebenaran al-Quran). Apabila Sayyidina Abu Bakar datang kepada Rasulullah s.a.w menceritakan perihal harta perolehan pertaruhan itu, Rasulullah bersabda :

هذا سحت فتصدق به

Ertinya : Ini kotor, sedeqahkan ia. (At-Tirmizi . 16/22 ; At-Tirmizi : Sohih)

Selepas peristiwa ini, barulah turun perintah pengharaman judi secara sepenuhnya sekalipun dengan orang kafir. (Tafsir At-Tabari, 20/16) Kisah ini dengan jelas menunjukkan Nabi tidak mengarahkannya dikembalikan kepada si Kafir, tetapi disedeqahkan untuk tujuan umum dan kebaikan ramai.

2. Selain itu, hujjah utama para ulama dalam hal mendermakan wang haram seperti wang rasuah yang dibawakan oleh Ibn Lutaibah, Nabi meletakkan wang ini di baitul mal dan diagihkan kemudiannya kepada faqir miskin dan kepentingan awam.[4]

3. Terdapat juga athar dari Ibn Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi 6/188 dan banyak lagi.

KESIMPULAN

  • Warga emas, faqir dan miskin di pulau pinang dan mana-mana negeri dan Negara lain, DIHARUSKAN untuk menerima sumbangan dari mana-mana kerajaan negeri, syarikat dan individu selagi mana harta mereka (pemberi sumbangan) itu bercampur antara wang halal dan haram. atau dalam kata lainnya, harta mereka masih ada yang neutral dan halal.
  • Sekiranya mereka ingin memulangkan semula wang tersebut, itu juga harus hukumnya. Kerajaan negeri boleh selepas itu memberikan sumbangan dari poket kanan mereka dan wang dipulang itu masuk poket kiri kerajaan. Ia akan jadi sama sebenarnya.
  • Sebaiknya penyumbang tidak kira kerajaan, syarikat dan sepertinya; tidak mendedahkan sumber pemerolahan harta yang disumbang agar tidak mengelirukan penerima sebagaimana kes yang berlaku ini
  • Mereka juga HARUS untuk menerima wang sumbangan dari penyumbang tadi, walaupun jelas ia adalah dari hasil yang haram seperti judi lumba kuda rasuah, riba dan sebagainya. Tiada kotor pada wang yang diterima oleh mereka, kerana mereka adalah penerima yang diiktiraf oleh syara’. Manakala dosa hasil dari pemerolehan wang itu hanya ditanggung oleh pelaku dosa dan ia tidak merebak kepada penerima dari kalangan faqir miskin dan yang memerlukan.
  • Jika dilihat dari sudut hukum dan agama, warga yang menerima sumbangan terbabit TIDAK PERLU SAMA SEKALI memulangkan semula wang yang diterima.
  • Namun jika dilihat dari strategi politik pihak tertentu, tindakan tersebut di luar fokus artikel ini.

Sekian

Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

30 Sept 2010

p.s : cuba buka link ini untuk melihat gambar yang relevan dengan isu ini. Menarik http://eforum2.cari.com.my/viewthread.php?tid=505706&extra=page%3D1&page=5

https://soaljawab.wordpress.com/2010/10/03/duit-sumbangan-hasil-judi-halalkah/