Muslim Paling Baik

Muslim Paling Baik

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Daripada Abdullah bin Amru RA, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi SAW menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (Sahih Bukhari No: 12) Dar Ibn Kathir. Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.Muslim yang paling baik ialah yang memberi makan kepada orang lain sama ada yang dikenali atau tidak.

2.Mengucapkan salam kepada orang Islam yang lain sama ada kita kenal atau tidak termasuk dalam kategori Muslim yang paling baik.

3.JANGAN hanya memberi salam kepada orang yang kita kenal sahaja!

Jadilah kita muslim paling baik dengan sering menjadi pemberi kepada orang lain sama ada dalam bentuk makanan mahupun ucapan salam tanpa mengira orang yang dikenali ataupun tidak.

BERJALAN DENGAN TENANG KE MASJID

BERJALAN DENGAN TENANG KE MASJID

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat, dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 117 dan Muslim no. 602)

Dari Abu Qatadah -radhiallahu anhu- dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ. فَلَمَّا صَلَّى, قَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قَالَ: فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh beberapa orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat.” Beliau pun bersabda, “Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 599 dan Muslim no. 603)

Penjelasan ringkas:

Ketika seorang muslim keluar dari rumahnya menuju masjid untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya dia tengah keluar untuk mendatangi sebuah ibadah yang agung, dimana dia akan berdiri di hadapan Rabbnya. Karenanya sifat berjalannya dia menuju shalat hendaknya dalam keadaan khusyu’ dan tenang, hendaknya dia menghadirkan di dalam hatinya akan keagungan ibadah yang akan dia kerjakan tersebut. Yang mana hal ini bisa membantunya untuk bisa khusyu’ atau menambah khusyu’ di dalam shalatnya.

Maka kedua hadits di atas tegas memerintahkan untuk berjalan dengan tenang (bukan lambat) ke masjid atau ke tempat shalat. Sebagaimana kedua dalil di atas juga melarang dengan tegas sikap tergesa-gesa dalam menuju ke tempat shalat, walaupun dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan rakaat atau jangan sampai menjadi masbuk. Bahkan beliau memberikan menyatakan, “Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” Maka ini termasuk dari dalil yang menunjukkan kemudahan syariat Islam.

Hal itu karena inti dari mengerjakan shalat adalah khusyu’ dan tenang, bukan semata-mata ditinjau dari harus mengikut imam dari awal. Sementara orang yang terburu-buru ke masjid kebanyakannya mereka nafas mereka terengah2 di awal shalatnya dan itu pasti akan berpengaruh pada kekhusyuan dan konsentrasi dia dalam shalat.

Kedua dalil di atas juga menunjukkan kelirunya amalan sebagian kaum muslimin tatkala mereka masbuk bersama-sama. Setelah imam salam, maka mereka semua berdiri untuk menambah rakaat yang tertinggal, lalu salah seorang di antara mereka ini maju ke depan menjadi imam yang baru. Ini adalah kekeliruan yang nyata, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan bagi orang-orang yang masbuk, “Dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah,” yakni: Sempurnakanlah rakaat yang tertinggal oleh kalian sendiri-sendiri. Beliau tidak menyatakan, “Dan apa yang kalian tertinggal maka buatlah jamaah yang baru.” Wallahu a’lam.

http://al-atsariyyah.com/?p=1920#more-1920

Allah Membuka Aib Kepada Pembuka Aib

Allah Membuka Aib Kepada Pembuka Aib

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

Daripada Abu Barzah Al Aslami ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan orang lain, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah tetap akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya.” (Sunan Abu Daud No: 4236) Status: Hadis Hasan

Pengajaran:

1.Orang yang beriman wajib memelihara lisannya dari mengumpat dan mencari kelemahan orang lain, sama ada sesuatu yang dituturkan mahupun yang diterjemahkan dalam bentuk tulisan.

2.Islam adalah agama rahmah yang mengajar umatnya untuk tidak mengumpat dan membuka aib orang lain.

3.Sesiapa yang menutup aib saudaranya sesama muslim, nescaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Rasulullah bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (Sunan Ibnu Majah)

4.Barangsiapa yang mencari-cari kesalahan saudara muslimnya, maka Allah akan membuka kesalahan dan aibnya walaupun yang ada di dalam rumahnya.

5.Orang yang gemar membicarakan aib orang lain, sebenarnya tanpa ia sedari ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar itu. Allah mengingatkan dengan nada keras kepada golongan ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

Sesungguhnya orang-orang yang suka menghebah tuduhan-tuduhan yang buruk dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya di dunia dan di akhirat dan (ingatlah) Allah mengetahui (segala perkara) sedang kamu tidak mengetahui (yang demikian). (An-Nur: 19)

Kepada pencela dan pembuka aib, ingatlah azab Allah di dunia dan akhirat.

Makan Daging Saudara SeIslam

Makan Daging Saudara SeIslam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْن مَسْعُودٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ رَجُلٌ فَوَقَعَ فِيهِ رَجُلٌ مِنْ بَعْدِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تَخَلَّلْ” قَالَ: وَمَا أَتَخَلَّلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكَلْتُ لَحْمًا قَالَ: “إِنَّكَ أَكَلْتَ لَحْمَ أَخِيكَ

Daripada Abdullah ibn Masud RA beliau berkata : Kami berada di sisi Nabi SAW, kemudian berdirilah seorang lelaki, dan seorang lelaki lain menceritakan keaibannya selepas dia pergi, berkata Nabi SAW : “Keluarkanlah ia (baki-baki makanan) dari celah-celah gigimu!”, kemudian dia berkata : Apa yang perlu aku keluarkan? Aku tidak makan apa-apa daging! Baginda berkata : “Sesungguhnya engkau telah memakan daging saudaramu.” (HR Thabarani  No: 13145) Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.Mengumpat adalah perbuatan yang dilarang oleh Islam.

2.Orang yang mengumpat diumpamakan seperti memakan daging saudara Islam yang lain. Firman Allah:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani. (al-Hujurat: 12)

3.Ibn Kathir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan; mengumpat adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan suatu apa pun dari itu melainkan terdapat maslahah (kebaikan) pada mengumpat lebih kuat daripada mafsadahnya (kerosakan) (Ahmad Syakir, ‘Umdat al-Tafsir, 3/359)

4.Al-Nawawi dan Ibn Qudamah menyebut Enam keadaan mengumpat yang diharuskan oleh syarak:

a.Membuat aduan mengenai kezaliman kepada pihak berkuasa atau  hakim agar kezaliman dapat dibanteras dan diadili.

b.Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan maksiat

c.Meminta fatwa

d.Memberikan peringatan kepada orang lain terhadap kejahatan seseorang agar setiap orang terhindar daripada kejahatannya.

e.Seseorang yang terang-terang melakukan kemungkaran.

f.Dibolehkan jika dia memang dikenali dan dipanggil dengan gelaran-gelaran tertentu seperti si buta dan dia redha dengannya

Bermanfaat Bukan Pembeban

Bermanfaat Bukan Pembeban

Sebagai Muslim, setiap kita perlu sentiasa berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat. Keberadaan kita dalam keluarga, dalam organisasi juga dalam masyarakat sentiasa dirasai dan bermanfaat kepada orang lain.  Jangan sekali-kali kita menjadi pembeban kepada keluarga, organisasi dan masyarakat. Firman Allah:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٧٦)

“Dan Allah (pula) membuat perumpamaan: dua lelaki yang seorang bisu, atas tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan satu kebajikan pun, samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (An-Nahl : 76)

Ayat ini membuat perumpamaan perbandingan antara orang yang tidak dapat melakukan apa-apa malah menjadi beban kepada orang lain dengan orang yang melakukan amal kebaikan dan mendatangkan manfaat.

Islam mahukan agar seorang Muslim tidak menjadi beban kepada orang lain atau kepada organisasi mahupun masyarakat, sebaliknya menjadi seorang yang bermanfaat.

Falsafah hidup seorang Muslim harus sentiasa menjadi seorang yang bermanfaat, penyumbang dan relevan kepada organisasi, keluarga, masyarakat dan negara. Tidak hanya kewujudannya menambah pada angka semata-mata atau menjadi beban kepada keluarga, masyarakat, negara dan organisasinya.

Tidak wajar bagi seorang Muslim menjadi seperti melukut di tepi gantang atau sesuatu yang wujudnya tidak dirasai dan ketiadaannya tidak merugikan. Lebih buruk lagi, jika ketiadaannya itu melegakan hati.

Allah menggambarkan manusia pembeban dalam ayat di atas dengan ‘ke mana sahaja dia pergi, dia tidak mendatangkan suatu kebajikan pun’.

Justeru,  kebaikan kita hendaklah meluas dalam konteks apa jua bukan hanya dalam sudut-sudut tertentu sahaja. Dalam erti kata yang lain contohnya, kita mungkin hanya bermanfaat bagi keluarga tetapi dalam masa yang sama menjadi beban pula kepada organisasi.

Seorang itu dikatakan bermanfaat apabila dia mendatangkan kebaikan, menyuruh kepada keadilan dan berada di jalan yang lurus. Namun Allah tetap menggunakan kata kebaikan dan keadilan secara berasingan, kata yang bersifat umum dan universal  بِخَيْرٍ بِالْعَدْلِ

Bermanfaatnya seorang Muslim mestilah juga dirasai dalam konteks nilai-nilai sejagat. Kita bukan bersuara atas dasar agama sahaja tetapi juga nilai-nilai luhur  dan sejagat yang dikongsi bersama oleh manusia.

Salah satu sifat bermanfaat ialah kekal relevan dan memberi impak di mana sahaja kita berada. Kalau kebaikan yang dibawa dan diseru oleh kita tidak relevan atau tidak dirasakan relevan atau tidak memberi kesan atau impak kepada orang lain, maka hampir samalah dengan tidak bermanfaat.

Mengasihi Muslim Tuntutan Iman

Mengasihi Muslim Tuntutan Iman

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Daripada Anas RA, Nabi SAW, bersabda: “Tidak sempurna Iman seseorang dari kamu sehingga ia suka saudaranya mendapat kebaikkan seperti apa yang ia sendiri suka mendapatnya”. (HR Bukhari No: 12 ) Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.  Mengasihi sesama Muslim adalah pra syarat kesempurnaan iman seseorang.

2.  Menyayangi dan mengasihi saudara Muslim yang lain walau dimana mereka berada, bangsa apapun mereka adalah antara kriteria sifat berukhuwah dan tanda kesempurnaan iman seseorang.

3.  Ibn Qayyim menyatakan kasih sayang dalam berukhuwah:

a.  Kasih sayang itu adalah sifat memberikan manfaat kepada orang lain

b.  Sifat bersusah payah demi memberikan kemudahan kepada sahabat atau menjauhkannya daripada bencana.

4.  Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap prihatin dan saling mengambil berat terhadap orang lainadalah amat dituntut.  Adakah kita memiliki sifat ukhuwah dan sanggup bersusah payah demi mereka?

5.  Jangan jadikan perbezaan pemikiran, pandangan dan kumpulan sebagai pemisah antara kita. Banyak titik persamaan yang boleh dicari untuk berada di bawah payung keimanan, toleransi dan berkasih sayang sesama kita.

Mari kita saling membantu agar saudara Muslim kita mendapat kebaikan dan kebahagiaan seperti mana kita juga memperolehinya. Buktikan kesempurnaan iman kita dengan saling berkongsi senang dan susah serta bersifat kasih sayang sesama Muslim.  Kemenangan Dirai Silaturrahim Bersemi.

BERSIFAT LEMAH LEMBUT DAN PENYAYANG

BERSIFAT LEMAH LEMBUT DAN PENYAYANG

عَنْ جَرِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ

Daripada Jarir RA dari Nabi SAW bersabda: Barang siapa dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), berarti ia dijauhkan dari kebaikan. (HR Muslim  No: 4694) Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.  Sifat penyayang dan lemah lembut dituntut ke atas setiap Muslim

2.  Orang yang tidak mempunyai sifat penyayang atau lemah lembut terhadap orang lain akan dijauhkan dari rahmat Allah.

3.  Saling menyayangi dan mengasihi adalah tanda kesempurnaan iman. Rasul SAW. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Kalian tidak masuk syurga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai (HR Muslim No: 81).

Sempena kita masih berada dibulan Syawal ini, marilah kita suburkan sifat rahmah dengan berlemah lembut dan penyayang terhadap orang lain.

Moga kita menjadi warganegara yang saling menyayangi. Kemenangan Dirai Silaturrahim Bersemi.

Jadilah Cerminan Mukmin

Jadilah Cerminan Mukmin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

Daripada Abu Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin yang lain, dan seorang mukmin itu saudara bagi mukmin yang lain; ia membantu saudaranya ketika kehilangan (ikut menanggung kesusahannya) serta menjaganya (membelanya) dari belakang.” (HR Abu Daud No: 4272) Status: Hadis Hasan

Pengajaran:

1.  Seorang Mukmin apabila melihat akhlak mulia pada diri saudara mukminnya, maka dia akan mencontohinya. Jika dia melihat berbagai sifat tercela dalam diri saudaranya, dia mengetahui bahawa dirinya memiliki keburukan yang sama, maka dia segera berusaha membersihkan dan menyingkirkan sifat-sifat tercela itu dari dirinya.

2.  Seorang Mukmin apabila melihat sifat tercela pada diri saudara mukminnya, dia akan segera menasihatkan saudaranya itu untuk menghilangkannya. Dia menjadi cermin bagi saudara Mukminnya. Dengan nasihat yang diberi diharap dia sendiri dapat melihat aibnya, seperti cermin yang menampakkan keburukan wajah seseorang.

3.  Seorang Mukmin akan memandang Mukmin yang lain sesuai dengan keadaan hatinya. Jika hatinya baik, suci, jujur dan bersih dari sifat tercela, maka dalam pandangannya semua Mukmin yang lain juga baik. Dia berprasangka baik kepada seluruh Mukmin dan sama sekali tidak akan berfikiran buruk terhadap orang lain.

4.  Seorang mukmin akan saling bertolong bantu sesama mukmin jika berada di dalam kesusahan dan membela mukmin yang lain jika mereka dianiaya atau dizalimi.

Marilah kita jadi cerminan kepada saudara Mukmin kita yang lain. Kemenangan Dirai Silaturahim Bersemi.

Jadilah Hamba Allah Yang Bersaudara

Jadilah Hamba Allah Yang Bersaudara

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Daripada Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, kerana prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Sahih Bukhari No: 5717) Dar Ibn Kathir. Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.  Islam mengajar agar kita menjauhi prasangka buruk kepada orang lain

2.  Islam menyuruh agar tidak mendiamkan diri jika kemungkaran berlaku di hadapan kita (perlu dicegah atau dinasihat)

3.  Muslim dilarang mencari-cari isu atau kelemahan orang lain.

4.  Setiap kita juga dilarang saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci.

5.  Muslim dituntut agar berusaha menjaga tali persaudaraan sesama Muslim.  Menjaga persaudaraan dengan menjauhi sangka buruk, tidak mencari kelemahan orang lain, jangan berdengki, elakkan membenci, tidak membelakangkan orang lain dan bantu sahabat dengan mencegah dia daripada melakukan maksiat.

Amal Islam Dengan Permulaan Yang Selamat

Amal Islam Dengan Permulaan Yang Selamat

Dalam melaksanakan amal di dalam Islam, Al-Banna memulakannya dengan pembinaan individu, keluarga dan masyarakat ke arah daulah Islamiyah.

Membina sesuatu yang agung bermula dengan asas yang ampuh. Allah SWT berfirman;

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keredaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam.  (At-Taubah 109).

Permulaan yang baik dan selamat bermula dengan:

1.  Kefahaman yang sahih, sempurna dan sejahtera.

Sesuai dengan matlamat menegakkan daulah dan khilafah Islamiyah di muka bumi, ia memerlukan kefahaman yang sempurna agar Islam yang  tertegak adalah yang benar. Apatah lagi setiap kita adalah anasir yang terlibat secara langsung dalam proses ke arah amal Islam yang lebih besar bermula dengan membina individu yang soleh sehinggalah penegakan daulah Islam.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berilmu dan faham itu lebih menyukarkan syaitan berbanding seribu ahli ibadat.” (at Tarmizi 5/46, No 2681)

Kelebihan bukan hanya diukur dengan banyaknya pengetahuan dan amalan, akan tetapi ia diukur dengan kefahaman yang sahih lagi sejahtera.

Kita lihat apa kata seorang ulama ketika memberi komentar terhadap golongan Khawarij: “Meskipun mereka terkenal dengan wara`, zuhud serta kuat beribadat, namun kefahaman yang menyeleweng dari apa yang sepatutnya membuatkan mereka terseleweng jauh dari kebenaran.” [Majmuk al Fatawa, juzuk 28].

2.  Keperluan amal

Orang beriman yang faham, dituntut untuk beramal. Namun untuk beramal, perlu kefahaman yang jelas.

Kaedah Syariah menyebutkan:

مَا لا يَتِمُ الوَاجب إلا به فهو واجب

Tidak sempurna sesuatu yang wajib kecuali dengannya, maka ia adalah wajib.

Perbandingan kefahaman jika tidak sempurna, umpama si buta bercerita tentang gajah. Sudah pasti amal bercanggah dan tidak tepat.

Justeru dalam melaksanakan amal memerlukan kefahaman yang benar dan betul.

3.  Memelihara garisan penyelewengan.

Dalam melaksanakan amal pastikan bertepatan dengan panduan al-Quran dan al-Hadis bagi mengelakkan penyelewengan atau ikut nafsu.

Saidina Umar RA berpesan kepada utusan atau wakil yang dihantar ke luar dari wilayah;

“Ikutlah al-Quran, bukannya al-Quran yang mengikut kamu. Sesiapa yang al-Quran mengikutnya, al-Quran akan menolak belakangnya hingga jatuh ke dalam neraka. Sesiapa yang ikut al-Quran, al-Quran akan memimpinnya masuk ke dalam Syurga”

Sebagai mereka yang hidup kerana Islam dan untuk Islam, kita akan bekerja juga semata-mata untuk Islam bagi melaksanakan fungsi sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Antara perkara yang menjadi asas keperluan ialah perlu memiliki kefahaman yang betul dan sahih terhadap Islam.

Create your website with WordPress.com
Get started