Category: Dr. Zakir Naik

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari kera seperti yang dikatakan oleh Charles Darwin. Dan Takuya pun pada keesokan harinya masuk Islam di sesi tanya-jawab Dr. Zakir Naik.

Dr. Zakir: Ya, saudara. Siapa namamu dan apa profesimu?

Takuya: Oke, namaku Takuya Nishikawa. Aku orang Jepang dan non-Muslim. Sebelumnya, terima kasih atas ceramahmu hari ini. Dan juga terima kasih karena kau bersedia datang dari Kyoto. Aku punya pertanyaan, kenapa manusia berevolusi dari kera? Ini pertanyaan yang sederhana tapi aku sangat ingin mengetahui jawabannya.

Dr. Zakir: Saudara ini memiliki pertanyaan yang sederhana namun sangat penting. Saudara ini bertanya kenapa manusia berevolusi? Masalahnya ada sebuah teori yang disebut teori evolusi, tapi tidak ada yang namanya “Fakta evolusi.” Teori evolusi pertama kali diajukan oleh Charles Darwin. Pada dasarnya teori ini mengatakan bahwa kera terus-menerus berevolusi hingga menjadi manusia. Tapi ini bukanlah fakta sains, melainkan hanya teori. Jadi yang benar adalah kita tidak berevolusi, melainkan diciptakan Tuhan.

Dan Charles Darwin sendiri menulis sebuah buku berjudul “The Voyage of the Beagle” dimana dia membicarakan tentang teori evolusi. Dia bercerita dalam bukunya bahwa dia berlayar dengan kapal bernama HMS Beagle ke sebuah kepulauan yang disebut Kepulauan Galapagos. Dan di pulau itu dia menemukan burung-burung yang mematuk-matuk kayu. Dan berdasarkan dari jenis kayu yang dipatuknya, paruh dari burung-burung itu ada yang panjang dan pendek. Berdasarkan penemuannya, dia mengajukan teori evolusi. Kemudian dia menulis surat kepada temannya yang bernama Thomas Thompton dan berkata, “Aku TIDAK PUNYA BUKTI untuk teori evolusiku, tapi hal ini membantuku dalam mengklasifikasi embriologi dan penelitian terhadap organ .” Oleh karena itulah dia mengajukannya. Namun teori evolusi ini sendiri punya kelemahan karena ada rantai yang hilang (missing links). Itulah mengapa ketika aku sekolah dulu, aku bersama teman-temanku seringkali mengejek seorang teman dengan mengatakan padanya, “Jika kau hidup di masa Charles Darwin, teorinya akan terbukti benar!” Kami berkata demikian untuk mengejek bahwa dia adalah monyet.

Dan sekarang kita tahu bahwa ada 4 humanoid. Yang pertama adalah manusia purba yang dikenal sebagai Australopithecus, lalu muncullah Cro Magnon, lalu manusia Neanderthal, dan seterusnya. Tapi kesemua tahap perkembangan manusia purba ini tidak ada penghubungnya satu sama lain karena ada rantai yang hilang. Itulah mengapa sampai sekarang ini masih disebut sebagai teori evolusi, bukan fakta evolusi. Dan sekarang teori ini diajarkan di sekolah-sekolah seakan-akan merupakan fakta.

Begitu juga jika kau membaca tulisan P.P Grasse yang merupakan ketua ahli mikrobiologi, dia berkata, “Imajinasimu terlalu liar jika kau percaya bahwa kita telah berevolusi dari kera hanya karena penemuan beberapa tengkorak manusia purba.” Jadi di zaman sekarang, tidak ada bukti bahwa kita berevolusi, ini hanya dugaan. Itulah mengapa ini disebut sebagai teori (bukan fakta).

Menurut Quran, kita telah diciptakan oleh Tuhan. Dan manusia pertama di muka bumi adalah Adam dan Hawa. Allah berfirman dalam surat Hujurat[49]: 13,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujuraat[49]: 13)

Aku telah memberikan jawaban lebih mendetil tentang teori evolusi ini dalam ceramahku yang berjudul “Quran and Modern Science.” Disana diberikan jawaban lebih detil bahwa teori evolusi masih merupakan dugaan. Aku adalah seseorang yang percaya pada fakta ilmiah, bukan teori. Semoga itu bisa menjawab pertanyaanmu.

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia mempercayai bahwa ajaran-ajaran dalam Konfusianisme adalah ajaran yang baik. Kim berpendapat bahwa Konfusianisme mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Karenanya Kim ingin tahu bagaimana pandangan Islam terhadap Konfusianisme.

Kim: Dr. Zakir, merupakan suatu kehormatan untuk bisa berbicara denganmu. Senang bertemu denganmu. Namaku Kim. Aku bekerja di biro perjalanan Majestic Travel. Namaku memang seperti orang Korea karena aku lahir di Korea. Aku sebenarnya orang Korea namun pindah ke Jepang.

Aku sebagai orang Korea, termasuk orang-orang Asia Timur lainnya kebanyakan menganut Konfusianisme atau Buddhisme. Aku ingin berfokus pada Konfusianisme. Konfusianisme adalah sebuah jalan hidup. Di dalamnya diajarkan untuk menghormati orangtua, peduli pada yang masih muda dan anak-anak, bagaimana kita harus menghormati sesama, dan sebagainya. Jadi kesimpulannya ini adalah jalan hidup yang benar.

Tapi sepanjang yang kutahu, dalam Konfusianisme tidak dijelaskan tentang konsep ketuhanan. Sedangkan kutahu bahwa Islam dan Kekristenan mempunyai konsep ketuhanan.

Jadi aku ingin tahu pendapatmu, bagaimana pandangan Islam terhadap kepercayaan (filosofi) yang tidak mempunyai konsep ketuhanan? Terima kasih.

Dr. Zakir: Saudara ini mengajukan pertanyaan yang sangat bagus. Dia adalah orang Korea yang tinggal di Jepang, dan dia mempercayai Konfusianisme. Dia juga berkata bahwa Konfusianisme lebih merupakan sistem etika. Ini dikarenakan di dalam Konfusianisme tidak terdapat konsep ketuhanan seperti dalam Islam, Keristenan, atau Hinduisme. Karena lebih mengarah kepada sistem etika yang mengatur bagaimana manusia harus berperilaku dalam hidupnya, karenanya Konfusianisme tidak dianggap sebagai agama oleh para pakar kebudayaan. Ini karena agama secara definisi berarti “kepercayaan pada Tuhan” sedangkan Konfusianisme tidak percaya adanya Tuhan. Konfusianisme lebih tepat disebut sebagai sistem etika dan bukan sebuah agama.

Dan apa yang kau sebutkan tadi bahwa Konfusianisme mengajarkan agar kau berperilaku baik, mencintai orang lain, menghormati orangtua, dan sebagainya, semua ini juga diajarkan dalam Islam. Allah berfirman dalam Quran di surat Isra’[17]: 23-24,

“Jangan menyembah selain Allah dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu. Jika salah seorang atau kedua-duanya sampai berumur lanjut, janganlah kamu berkata “ah” pada mereka, jangan membentak mereka dan ucapkan pada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkan dirimu pada mereka dengan penuh kasih sayang dan berdo’alah “Tuhanku, kasihilah mereka, sebagaimana mereka telah mendidik aku sewaktu kecil.” (Qs. Isra’[17]: 23-24)

Jadi dalam Islam kau harus menghormati orangtua. Jika salah seorang atau keduanya telah mencapai usia lanjut, kau dilarang berkata “ah” pada mereka. Kau tidak bisa menitipkan mereka ke panti jompo seperti yang sering dilakukan oleh banyak orang. Jadi banyak aturan-aturan etika dalam Konfusianisme yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dan saudara, tadi aku sudah berceramah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Apa kau mendengar ceramahnya?

Kim: Sejujurnya ceramahmu sulit untuk kupahami.

Dr. Zakir: Sulit untuk kau pahami? Aku tahu bahwa bicaraku cepat. Ini kulakukan untuk menghemat waktu. Dalam ceramahku tadi, aku membuktikan tentang keberadaan Tuhan. Jadi siapapun yang percaya pada logika dan sains harus percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi apapun yang kau tangkap dari ceramahku, entah kau memahami seperempatnya, setengahnya, atau berapapun, aku ingin bertanya padamu, apakah kau percaya akan adanya Tuhan atau tidak?

Kim: Pak, sejujurnya aku kagum pada ceramahmu. Kau telah menjelaskan tentang penemuan-penemuan sains di zaman modern, dan bagaimana penemuan-penemuan itu telah dijelaskan dalam Quran pada 1.400 tahun yang lalu.

Dr. Zakir: Sekarang setelah kau mengetahui faktanya dan mengaguminya, apa kau menerimanya atau tidak? Jika kau kagum dan merasa yakin, kau harus mengikutinya. Karena Quran telah menjelaskan begitu banyak fakta sains yang baru kita ketahui sekitar 50 – 300 tahun lalu, apa kau setuju bahwa Quran adalah firman Tuhan? Apa kau setuju bahwa kitab ini berasal dari Sang Pencipta?

Kim: Aku ingin mempelajarinya lebih lanjut dahulu.

Dr. Zakir: Jadi aku memintamu untuk membaca terjemahan Quran.  Dan kau juga telah mendengar ceramahku, insya Allah kau akan yakin tentang keberadaan Tuhan.

Berbuat baik dalam hidup itu bagus. Tapi bayangkan misalnya kau punya karyawan yang sangat baik kepada karyawan lainnya, tapi dia tidak menghormatimu, tidak mematuhimu, dan tidak berterima kasih padamu. Dia sangat baik kepada teman-temannya dan orang-orang di sekelilingnya dan bekerja di perusahaanmu. Kau bosnya, tapi dia tidak berterima kasih padamu dan tidak menghormatimu. Mana yang lebih penting? Apakah lebih penting jika dia menghormatimu atau orang lain? Jika kau yang membayar gajinya, harusnya dia mematuhimu atau tidak?

Kim: Ya, aku tidak akan senang jika dia tidak menghormatiku.

Dr. Zakir: Benar. Begitu juga Tuhan tidak senang jika kau tidak patuh pada-Nya. Dia tidak senang jika kau tidak bersyukur pada-Nya. Kau harus bersyukur pada-Nya, harus mematuhi-Nya, dan tidak menyembah siapapun selain-Nya.

Jadi aku memintamu untuk membaca terjemahan Quran dan insya Allah aku berdo’a pada Tuhan untuk memberimu hidayah sehingga kau berada di jalan yang lurus selain menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang baik. Sejatinya, nilai kemanusiaan yang terbaik adalah dengan bersyukur pada Pencipta kita. Jika kau tidak bersyukur kepada Pencipta, hanya baik pada sesama manusia, maka apa gunanya? Orang lain mungkin menolongmu dan berbaik hati padamu, tapi mereka tidak selalu begitu di setiap kesempatan. Kadangkala mereka mengecewakanmu dan menyakitimu. Di sisi lain, Tuhanlah yang memberimu kehidupan, memberimu udara untuk bernapas, memberimu makanan, minuman, harta, dan segalanya, jadi merupakan kewajiban kita untuk menyembahnya sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Quran di surat Dzaariyat[50]: 56,

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat[50]: 56)

Jadi kewajiban utama kita adalah menyembah Pencipta kita dan tidak menyekutukan-Nya.

Semoga itu menjawab pertanyaanmu. Terima kasih saudara

Kim: Terima kasih.

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria yang bernama Canner itu bertanya kenapa kalimat syahadat yang kedua (Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah) penting diucapkan bagi seorang Muslim. Selain itu, Canner juga bertanya apakah Charles Darwin (pencetus teori evolusi) merupakan utusan Iblis yang sengaja menyebarkan pahamnya untuk menyesatkan umat manusia.

Dr. Zakir: Ya saudara. Siapa nama dan apa profesimu?

Canner: Namaku Canner. Aku seorang pengusaha. Aku baru menjadi Muslim beberapa bulan yang lalu dimana aku bersyahadat di masjid di Tokyo. Aku punya pertanyaan tentang dua kalimat syahadat. Aku paham kenapa kalimat yang pertama penting untuk menjadi seorang Muslim. Tapi aku tidak paham dengan kalimat yang kedua. Kenapa kalimat yang kedua penting diucapkan untuk menjadi Muslim?

Dan aku juga punya pertanyaan tentang Charles Darwin. Sebagian orang berpikir bahwa dia diajarkan oleh Lucifer untuk menyebarkan kebutaan spiritual di antara umat manusia, untuk menjauhkan manusia dari kerajaan Tuhan. Aku ingin tahu bagaimana pandangan Islam tentang itu?

Dr. Zakir: Saudara ini punya dua pertanyaan. Masya Allah dia masuk Islam beberapa bulan yang lalu di Tokyo. Pertanyaan pertamanya adalah dia memahami bagian pertama dari syahadat, yaitu kalimat “La Ilaha Illallah – tiada yang patut disembah selain Allah.” Namun dia kurang paham kenapa bagian keduanya adalah “Ashyadu anna Muhammadar Rasulullah – Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”?

Mengenai pertanyaanmu bahwa kau paham tentang kalimat syahadat yang pertama yaitu “Tiada yang patut disembah selain Allah”, jadi apa perlunya kalimat kedua? Kalimat keduanya adalah “Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Ini diperlukan karena Tuhan berfirman dalam Quran di surat Fathir[35]: 24,

“Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (Qs. Fathir[35]: 24)

Itu artinya Tuhan telah mengutus para nabi di setiap zaman untuk setiap bangsa. Allah berfirman dalam surat Raad[13]: 7, “Bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”

Ada 25 nabi yang disebutkan namanya di dalam Quran, mulai dari Adam, Nuh, Abraham (Ibrahim), Musa, Yesus (Isa), sampai Muhammad, semoga kedamaian menyertai mereka semua. Dan Islam adalah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan sejak awal waktu. Nabi Adam a.s mengajarkan Islam, nabi Daud a.s mengajarkan Islam, nabi Musa a.s mengajarkan Islam, Nabi Isa a.s mengajarkan Islam, hingga Nabi Muhammad sebagai nabi yang terakhir dan penutup.

Islam berasal dari kata Arab “salam” yang berarti “damai.”  Ia juga berasal dari kata Arab “silm” yang berarti “kedamaian yang didapat dengan menundukkan diri pada Tuhan.” Jadi Islam berarti “kedamaian yang didapat dengan menundukkan diri pada Tuhan.” Banyak orang salah paham bahwa Islam adalah agama baru yang baru muncul 1.400 tahun yang lalu, dan Nabi Muhammad adalah pendiri agama ini. Faktanya, Islam sudah ada sejak awal waktu, sejak manusia pertama menjejakkan kaki di bumi.

Dan Nabi Muhammad bukanlah pendiri Islam, melainkan nabi terakhir dan penutup. Di sepanjang zaman, Tuhan telah mengirimkan wahyu kepada umat manusia, tapi seiring berjalannya waktu, wahyu itu menjadi rusak. Kemudian Tuhan mengirim nabi dan wahyu yang baru sampai wahyunya rusak kembali. Begitu seterusnya. Quran berfirman dalam surat Rad[13]: 38

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul di setiap zaman.”

Di setiap zaman, Tuhan telah menurunkan kitab-kitab. Ada 4 kitab yang disebutkan namanya dalam Quran: Taurat, Zabur, Injil, dan Quran. Meski begitu, ada banyak wahyu lainnya. Jadi seiring Tuhan menurunkan wahyu-Nya dan mengutus para nabi, manusia kemudian merusaknya. Lalu Tuhan menurunkan kitab dan wahyu yang baru lagi. Akhirnya 1.400 tahun yang lalu Tuhan menurunkan wahyu dan kitab terakhir berupa Al-Qur’an dengan nabi terakhir Nabi Muhammad s.a.w.

Kau mungkin bertanya padaku, “Kenapa Tuhan tidak langsung menurunkan Quran sejak awal waktu?” Alasannya adalah karena Tuhan ingin agar umat manusia bisa memahami pesan-Nya. Pesan dasar Islam di semua kitab adalah sama: Tuhan itu satu dan kita tidak boleh menyekutukan-Nya. Tapi poin mendetilnya, misalnya tentang cara beribadah, larangan mabuk, dan sebagainya, semua ini datang belakangan.

Misalnya, anakku ingin menjadi dokter. Lalu aku berkata padanya, “Oke, masuklah sekolah perawatan dulu.” Dia berkata “Tidak. Aku langsung ingin kuliah kedokteran.” Aku katakan, “Pertama masuklah sekolah perawatan, kemudian tingkat pertama, tingkat kedua, tingkat ketiga, barulah ke kuliah kedokteran.” Ada tahapnya!

Jadi karena Tuhan yang menciptakan manusia, Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menurunkan wahyu yang tepat. Dia tahu bahwa 1.400 tahun yang lalu manusia telah berkembang sehingga bisa memahami pesan-Nya. Barulah saat itu Dia mengutus nabi terakhir. Itulah mengapa semua nabi dan wahyu sebelumnya hanya diperuntukkan untuk kaum tertentu dan periode waktu tertentu.

Yesus Kristus a.s menurut Quran dalam surat Ali Imran[3]: 49 dan surat Shaff[61]: 9 hanya diutus untuk bangsa Yahudi. Bibel menyebutkan dalam Gospel Matius 10: 5-6 bahwa Yesus berkata kepada murid-muridnya, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Yesus Kristus berkata dalam Gospel Matius 15: 24, “Aku tidak diutus melainkan kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

Jadi semua utusan yang datang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk kaum mereka,
dan pesan yang mereka bawa hanya untuk kaum mereka dan periode waktu tertentu saja. Oleh karenanya, Tuhan tidak menjaga keasliannya. Dan ketika Tuhan akhirnya menurunkan pesan terakhir (Quran) dan nabi terakhir, pesan terakhir ini (Quran) tidak diperuntukkan untuk Muslim atau bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh manusia. Tentang hal ini disebutkan dalam surat Ibrahim[14]: 1, surat Ibrahim[14]: 52, surat Baqarah[2]: 185, dan surat Zumar[13]: 41. Begitu juga nabi terakhir dan penutup, nabi Muhammad s.a.w bukan hanya untuk umat Muslim atau bangsa Arab, dia diutus untuk seluruh umat manusia. Ini disebutkan dalam surat Anbiyya[21]: 107. Karena ini adalah pesan terakhir, Tuhan berfirman dalam surat Hijr[15]: 9 “Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Kami benar-benar memeliharanya dari kerusakan.”

Jadi kenapa begitu penting menyebut nama Nabi Muhammad? Ini untuk mengingatkan bahwa semua nabi yang datang sebelumnya, pesan dasar mereka sama yaitu “beriman pada Tuhan yang Esa”, meskipun ada hal-hal lain yang tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Semua pesan yang datang sebelumnya sudah tidak dalam bentuk aslinya lagi. Quran adalah pesan dan wahyu terakhir dimana Tuhan menjaga keasliannya. Itulah mengapa selain mengucapkan “Tiada tuhan selain Allah”, kita harus mengucapkan “Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.”

Jadi ada dua alasan kenapa namanya harus disebutkan. Yang pertama, agar kita ingat bahwa kita harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad, karena Quran berfirman “Taati Allah dan rasul-Nya.” Jadi ajaran Islam berdasarkan Quran dan sabda Nabi Muhammad dalam hadits-hadits sahih.

Dan alasan kedua adalah karena syahadat lengkapnya adalah “Ashyadu anla Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadur Rasulullah – Tidak ada yang patut disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.” Jadi ketika kita mengucapkan dia adalah hamba dan utusan Allah, kita jadi ingat bahwa dia bukan Tuhan. Karena hampir semua agama lainnya menjadikan nabi mereka sebagai Tuhan. Misalnya hampir semua orang Kristen mempercayai Yesus adalah Tuhan padahal dia bukan Tuhan. Dengan begitu menjadi wajib untuk menyebutkan bagian keduanya.

Mengenai pertanyaanmu tentang Charles Darwin, aku tidak tahu apakah Charles Darwin diajarkan oleh Lucifer untuk menyesatkan umat manusia. Tapi aku tahu dengan pasti bahwa sekarang sains membuktikan bahwa teori evolusi itu salah. Beberapa dekade sebelumnya para ilmuwan mempercayai teori evolusi. Bahkan ketika aku sekolah, aku diajarkan teori evolusi seakan-akan ini adalah fakta. Tapi di zaman sekarang banyak ilmuwan yang tidak setuju dengan teori evolusi. Jadi ini adalah ujian. Tuhan berfirman bahwa dia menguji manusia dengan ujian yang berbeda-beda. Jadi menurutku ini adalah ujian bagi manusia untuk mengetes apakah kau lebih percaya pada Sang Pencipta atau kau lebih percaya pada teori evolusi.

Francis Bacon pernah berkata “Sedikit pengetahuan tentang sains membuatmu jadi ateis, pengetahuan yang mendalam tentang sains menjadikanmu seorang yang beriman pada Tuhan.” Kesimpulannya, aku tidak tahu apakah Charles Darwin diajarkan Lucifer atau tidak, tapi sekarang kita tahu bahwa teori evolusi itu salah.

Semoga itu menjawab pertanyaanmu saudara.

Canner: Terima kasih banyak.

Dr. Zakir: Jadi kuharap sekarang imanmu semakin bertambah.

Canner: Ya, kupikir juga begitu.

Dr. Zakir: Kau jadi lebih yakin tentang bagian pertama dan bagian kedua.

Canner: Ya, ya

Dr. Zakir: Ya, terima kasih banyak.

Canner: Terima kasih.

Dr. Zakir: Jazakallah.

Kenapa Manusia Sering Ditimpa Masalah dalam Hidupnya? – Dr. Zakir Naik Menjawab

Seorang gadis ateis asal Jepang bertanya kepada Dr. Zakir tentang kenapa Tuhan memberikan kesulitan-kesulitan hidup kepada manusia di dunia ini? Lalu bagaimana pandangan seorang Muslim terhadap problematika kehidupan yang silih-berganti menimpanya?
Gadis Ateis: Terima kasih atas ceramahmu yang memukau. Aku seorang non-Muslim. Aku hanya ingin tahu bagaimana pandangan seorang Muslim dalam menyikapi problematika kehidupan? Apakah kau pikir kesulitan-kesulitan dalam hidup adalah semacam ujian dari Tuhan?

Dr. Zakir: Terkadang ada masalah yang datang dalam hidup kita. Lalu apakah ini ujian dari Allah? Quran berfirman dalam surat Mulk[67]: 2, “Allah-lah yang telah menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antaramu yang paling baik amalnya.” Jadi saudari, hidup ini adalah ujian untuk akhirat. Dan buku panduan untuk menjalani kehidupan ini adalah Quran dan hadits sahih. Quran adalah firman Allah dan hadits adalah perkataan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai nabi terakhir dan penutup. Quran berfirman dalam surat Baqarah[2]: 155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” Dengan begitu Tuhan telah berfirman bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan hilangnya nyawa.

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah dan Al-An’am bahwa anak-anak, istri, dan kekayaanmu adalah ujian untukmu. Jika kau mencintai anakmu dan dia melakukan sesuatu yang menentang Tuhan, apa yang akan kau lakukan? Kau tahu seringkali orangtua akan melakukan apapun untuk putra atau putri mereka, bahkan sampai menentang Allah. Jadi beginilah cara Tuhan mengujimu.

Kesulitan dan kemudahan dalam hidup ini adalah ujian untuk mengetahui apakah kau beriman pada Allah? Dan seorang Muslim yang baik bersyukur kepada Allah baik ketika mendapatkan nikmat maupun ketika ditimpa kesulitan hidup. Sebagaimana seorang pebisnis yang baik mengucapkan syukur ketika mendapat keuntungan, dan dia tetap bersyukur ketika mendapat kerugian. Ini karena dalam hatinya dia berkata, “Untunglah aku hanya rugi kecil, dan tidak terlalu besar.” Kau tahu bahwa ada orang yang mengeluh karena dia tidak punya sepatu sampai dia melihat seorang pria yang tidak punya kaki. Jadi Muslim yang baik selalu bersyukur kepada Allah.

Gadis Ateis: Terkadang, orang-orang bergantung dan meminta bantuan pada orang lain ketika merasa kesulitan, tapi apakah ini dibolehkan dalam Islam?
Dr. Zakir: Tempat bergantung yang utama adalah Tuhan, karena Tuhanlah yang Maha pemberi pertolongan. Tapi seseorang boleh-boleh saja meminta bantuan kepada orang lain. Misalnya aku boleh-boleh saja meminta bantuan temanku untuk memindahkan sebuah meja yang berat. Tapi pertolongan yang paling utama hanyalah pada Tuhan. Karena Quran berfirman dalam surat Imran[3]: 160, “Jika Allah menolongmu, tiada yang dapat mengalahkanmu. Jika Allah meninggalkanmu, tiada yang dapat menolongmu. Karenanya hendaklah orang beriman percaya pada Allah.”

Jadi kami sebagai Muslim harus percaya penuh pada Allah karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dan seorang Muslim yakin bahwa jika dia mendapat masalah, dia akan mendapat pahala yang besar jika dia dapat bersabar menerimanya. Sebagaimana ujian sekolah dasar itu mudah, namun ujian untuk sarjana jauh lebih sulit. Tapi jika aku lulus, aku dapat hadiah lebih besar berupa gelar dokter. Jadi jika ujiannya sulit tapi aku lulus, aku mendapat hadiah lebih besar di akhirat, aku mendapat jannah (surga) tingkat yang lebih tinggi.

Jadi ketika tesnya lebih sulit, seorang beriman merasa bahagia, karena dia berpikir “Mungkin Tuhan ingin memberiku hadiah yang lebih besar.”

Gadis Ateis: Terima kasih.

Dr. Zakir: Saudari, kau beriman pada Tuhan yang Esa?

Gadis Ateis: Umm, tidak.

Dr. Zakir: Kau tidak percaya Tuhan itu ada? Saudari, kau telah mendengar ceramahku. Bukankah ceramahnya sudah meyakinkan bahwa pasti ada Sang Pencipta?

Gadis Ateis: Ya, tapi aku tidak dapat menemukan jawaban dalam pikiranku. Jadi sangat sulit untuk mempercayainya.

Dr. Zakir: Kalau begitu aku memintamu untuk membaca terjemahan Quran. Aku meminta panitia untuk memberinya terjemahan Quran sehingga dia bisa merenungkannya. Dan aku berdo’a pada Allah, semoga Dia menuntunmu ke jalan yang lurus. Terima kasih saudari.

Umat Islam Juga Beriman Pada Yesus – Renungan Untuk Umat Kristen

Ditulis Oleh: Dr. Zakir Naik dari irf.net

Islam adalah satu-satunya agama non-Kristen, yang mewajibkan pengikutnya untuk mengimani Yesus Kristus (Nabi Isa). Seseorang tidak bisa menjadi Muslim apabila dia tidak beriman pada Yesus (Nabi Isa). Kami percaya bahwa ia adalah salah satu Rasul terkuat Allah (swt). Kami percaya bahwa ia lahir secara mukjizat, tanpa seorang ayah, dimana banyak orang Kristen modern tidak mempercayainya. Kami percaya dia adalah sang Messiah yang diterjemahkan sebagai Kristus a.s. Kami percaya bahwa ia menghidupkan orang mati atas izin Tuhan. Kami percaya bahwa ia menyembuhkan orang-orang buta dan penderita kusta atas izin Tuhan.

KONSEP TUHAN DALAM KEKRISTENAN:

1. Yesus Kristus (AS) tidak pernah mengaku ilahi

Seseorang mungkin bertanya, jika umat Muslim dan Kristen sama-sama mencintai dan menghormati Yesus (as), di mana letak perbedaannya? Perbedaan utama antara Islam dan Kristen adalah bahwa umat Kristen menganggap Yesus sebagai Tuhan, sedangkan umat Islam menganggap Yesus sebagai nabi Tuhan tetapi BUKAN Tuhan. Namun jika kita meneliti secara mendalam kitab suci umat Kristen (Bibel), terungkap bahwa Yesus (as) tidak pernah mengaku ilahi. Bahkan tidak ada satu pernyataan tegas pun di dalam keseluruhan Bibel dimana Yesus (as) sendiri berkata, “Akulah Tuhan” atau dimana dia berkata, “Sembahlah aku”. Bahkan perkataan-perkataan Yesus (as) dalam Bibel bertentangan dengan anggapan bahwa Yesus adalah Tuhan. Berikut ini pernyataan-pernyataan dalam Bibel yang diucapkan Yesus Kristus (as):

(I) “Bapa lebih besar daripada aku.” (Bibel, Yohanes 14:28)

(II) “Bapa lebih besar daripada siapapun.” (Bibel, Yohanes 10:29)

(III) “…Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah…” (Bibel, Matius 12:28)

(IV) “…Aku mengusir setan dengan kuasa Allah…” (Bibel, Lukas 11:20)

(V) “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.” (Bibel, Yohanes 5:30)

2. Misi Yesus Kristus (as) adalah memenuhi hukum Taurat

Yesus (as) tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Dia dengan jelas menyatakan misinya. Yesus (as) diutus oleh Allah untuk memenuhi hukum Yahudi yang sebelumnya. Hal ini jelas terlihat dalam perkataan Yesus (as) di Injil Matius:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”

“Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

“Maka aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Bibel, Matius 5: 17-20)

3. Allah mengutus Yesus (as) sebagai nabi
Bibel menyebutkan sifat kenabian Yesus (as) misi dalam ayat-ayat berikut:

(I) “…dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari padaku, melainkan dari Bapa yangmengutus aku.” (Bibel, Yohanes 14:24)

(II) “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku.” (Bibel, Yohanes 17: 3)

4. Yesus bahkan menyanggah klaim ketuhanannya

Pertimbangkan kejadian berikut dalam Bibel:

“Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” (Bibel, Matius 19: 16-17)

Yesus (as) tidak mengatakan bahwa untuk memiliki hidup yang kekal dari surga, manusia harus percaya dia sebagai Tuhan atau menyembah Dia sebagai Tuhan, atau percaya bahwa Yesus (as) akan menebus dosa-dosa umat manusia di tiang salib. Sebaliknya dia mengatakan bahwa jalan menuju keselamatan adalah dengan mematuhi perintah-perintah Tuhan. Dengan demikian terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara kata-kata yang diucapkan Yesus Kristus (as) dengan dogma Kekristenan yang diajarkan gereja yang mengatakan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan Yesus (as).

5. Yesus (as) dari Nazareth – Seorang manusia yang disetujui Allah

Pernyataan berikut dari Bibel sesuai dengan keimanan Islam bahwa Yesus (as) hanyalah seorang manusia dan seorang nabi Allah.

“Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” (Bibel, Kisah Para Rasul 2:22)

6. Perintah yang utama adalah bahwa Allah itu Satu

Yesus tidak pernah mengajarkan trinitas. Bahkan kata trinitas itu sendiri tidak ada dalam Bibel. Salah satu ahli Taurat pernah bertanya kepada Yesus (as) mengenai apakah yang merupakan perintah yang utama, dimana Yesus (as) hanya mengulangi apa yang pernah dikatakan Musa (as) sebelumnya:

“Shama Israelu Adonai Ila Hayno Adonai Ikhad.”

Ini adalah kutipan bahasa Ibrani, yang berarti:

“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (Bibel, Markus 12:29)

Dengan demikian ajaran-ajaran dasar Gereja seperti trinitas dan penebusan dosa sama sekali tidak ada dasarnya dalam Bibel, dan bahkan bertentangan dengan perkataan Yesus sendiri. Bahkan, ayat-ayat Bibel menjelaskan tentang misi Yesus (as) yang sebenarnya, yaitu untuk memenuhi hukum yang telah diwahyukan kepada Nabi Musa (as). Dan Yesus (as) mengatakan bahwa dirinya tidak bersifat ilahi, dan menjelaskan bahwa mukjizat-mukjizat yang dilakukannya hanyalah karena kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kesimpulannya adalah Yesus (as) menegaskan pesan tauhid yang disampaikan oleh semua nabi yang diutus Tuhan sebelumnya.

KONSEP TUHAN DALAM PERJANJIAN LAMA:

1. Tuhan itu satu
Berikut ayat dari kitab Ulangan yang berisi nasihat dari Musa (as):

“Shama Israelu Adonai Ila Hayno Adna Ikhad.” Ini adalah kutipan bahasa Ibrani yang berarti:

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Bibel, Ulangan 6: 4)

2. Keesaan Tuhan dalam Kitab Yesaya
Ayat-ayat berikut ini berasal dari Kitab Yesaya:

(I) “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku..” (Bibel, Yesaya 43:11)

(II) “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku.” (Bibel, Yesaya 46: 9)

3. Perjanjian Lama menentang penyembahan berhala

(I) Perjanjian Lama menentang penyembahan berhala dalam ayat-ayat berikut:

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”

“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.” (Bibel, Keluaran 20: 3-5)

(II) Pesan yang sama diulang dalam kitab Ulangan:

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”

“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu.” (Bibel, Ulangan 5: 7-9)

Sumber: irf.net

Mengenal Konsep Tuhan yang Benar (Untuk Muslim dan Non-Muslim)

Ditulis Oleh: Dr. Zakir Naik

Berkenalan dengan Islam

Islam adalah agama Semit, yang memiliki lebih dari satu miliar penganut di seluruh dunia. Islam artinya “menundukkan diri kepada kehendak Tuhan.” Umat Muslim menganggap Qur’an sebagai firman Tuhan yang diturunkan kepada nabi terakhir dan penutup, Muhammad (saw). Dalam perspektif Islam, Tuhan mengutus para nabi di sepanjang zaman untuk menyebarkan pesan tentang Keesaan Tuhan dan pertanggungjawaban manusia di akhirat. Islam dengan demikian mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani semua nabi yang diutus di muka bumi, dimulai dari Adam, Nuh, Abram (Ibrahim), Ishmael (Ismail), Ishak, Yakub, Musa, Daud, Yohanes Pembaptis (Yahya a.s), Yesus (Isa a.s), dan banyak lagi yang lainnya (semoga Tuhan merahmati mereka semua).

Definisi Tuhan

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang serupa dengan-Nya.” [Al-Qur’an 112: 1-4]

Kata ‘As-Samad’ dalam surat Al-Ikhlas[112]: 2 sulit diterjemahkan. Ia berarti ‘eksistensi yang mutlak’, yang hanya menjadi sifat dari Allah (swt), sementara eksistensi makhluk atau ciptaan lainnya bersifat sementara. Ini juga berarti bahwa Allah (swt) tidak bergantung pada makhluk atau hal apapun, tapi semua makhluk dan semua hal bergantung pada-Nya.

Surat Al-Ikhlas – pondasi penting teologi:
Surat Al-Ikhlas (surat ke-112) Al-qur’an, adalah pondasi penting teologi. ‘Theo’ dalam bahasa Yunani berarti Tuhan dan ‘logi’ berarti studi. Jadi Teologi berarti studi tentang Tuhan, dan umat Islam menganggap empat ayat tentang Tuhan dalam surat Al-Ikhlas berfungsi sebagai pondasi penting untuk mengenal Tuhan. Setiap kandidat keilahian harus diuji dengan tes ini. Karena sifat Allah yang digambarkan dalam surat ini begitu unik, tuhan-tuhan palsu dan orang yang berpura-pura sebagai tuhan dapat dengan mudah dieliminasi dengan menggunakan ayat-ayat dari Surat Al-Ikhlas ini.
Bagaimana pandangn Islam tentang “tuhan berwujud manusia?”

India sering disebut sebagai negerinya para tuhan berwujud manusia. Hal ini disebabkan banyaknya orang-orang yang bergelar master keruhanian di India. Banyak dari para ‘orang suci’ ini memiliki banyak pengikut di banyak negara, dimana para pengikut mereka menganggap mereka memiliki sifat ketuhanan/sifat ilahi. Islam menentang setiap manusia yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Untuk memahami bagaimana pandangan Islam terhadap orang yang berpura-pura memiliki sifat ketuhanan, mari kita analisis seseorang yang mengaku punya sifat ilahi, yaitu Osho Rajneesh.

Mari kita menguji kandidat ini, ‘Bhagwan’ Rajneesh, dengan tes Surat Al-Ikhlas sebagai pondasi penting teologi:

1. Persyaratan pertama adalah “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” Apakah Rajneesh bersifat maha esa (hanya satu-satunya)? Tidak! Rajneesh adalah salah satu di antara banyak ‘guru spiritual’ yang ada di India. Meski begitu, murid dari Rajneesh mungkin masih berpendapat bahwa Rajneesh adalah satu-satunya.

2. Persyaratan kedua adalah, “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” Kita tahu dari biografi Rajneesh bahwa ia menderita diabetes, asma, dan sakit punggung kronis. Dia menuduh bahwa Pemerintah AS memberinya racun dalam penjara. Bayangkanlah Tuhan diracuni! Dengan demikian, segala sesuatunya tidak bergantung pada Rajneesh karena dia membutuhkan bantuan orang lain untuk keluar dari kesulitan-kesulitan yang dialaminya.

3. Persyaratan ketiga adalah ‘Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan’. Kita tahu bahwa Rajneesh lahir di Jabalpur di India dan memiliki seorang ibu serta ayah yang kemudian menjadi muridnya.

Pada bulan Mei 1981 ia pergi ke Amerika Serikat dan mendirikan sebuah komunitas yang disebut ‘Rajneeshpuram’. Dia kemudian menjadi buronan di Amerika Serikat dan akhirnya tertangkap dan diminta untuk meninggalkan negara itu. Dia kembali ke India dan menciptakan sebuah komunitas di Pune yang sekarang dikenal sebagai komunitas ‘Osho’. Dia meninggal pada tahun 1990. Para pengikut Osho Rajneesh percaya bahwa dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Pada kuburannya di Pune seseorang dapat menemukan tulisan berikut tercetak pada batu nisannya:

“Osho – tidak pernah lahir, tidak pernah mati, melainkan hanya mengunjungi planet Bumi pada tanggal 11 Desember 1931 hingga 19 Januari 1990.”

Mereka lupa untuk menyebutkan bahwa ia tidak diberikan visa untuk masuk ke 21 negara di dunia. Dapatkah anda membayangkan bahwa ‘Tuhan’ mengunjungi bumi, dan membutuhkan visa untuk memasuki sebuah negara!? Uskup Agung Yunani mengatakan bahwa jika Rajneesh belum dideportasi, mereka akan membakar rumahnya dan rumah murid-muridnya.

4. Tes keempat, yang merupakan tes paling ketat adalah, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”. Tepat pada momen Anda bisa membayangkan atau membandingkan ‘Tuhan’ dengan apapun, maka ia (kandidat tersebut) bukanlah Tuhan. Hal ini dikarenakan tidak mungkin manusia bisa membayangkan gambaran dari Tuhan Yang Sejati. Kita tahu bahwa Rajneesh adalah seorang manusia, memiliki dua mata, dua telinga, hidung, mulut dan memiliki janggut putih. Foto-foto dan poster Rajneesh tersedia di banyak tempat. Tepat pada momen Anda bisa membayangkan atau mengilustrasikan suatu entitas, maka entitas itu bukanlah Tuhan.

Banyak yang tergoda untuk membuat perbandingan antropomorfik dari Tuhan. Ambil contoh, Arnold Schwarzenegger, binaragawan dan aktor Hollywood terkenal, yang memenangkan gelar ‘Mr. Universe ‘ atau ‘orang terkuat di dunia.’ Mari kita anggap bahwa seseorang mengatakan bahwa Tuhan berkekuatan seribu kali lebih kuat daripada Arnold Schwarzenegger. Tepat pada saat Anda dapat membandingkan entitas apapun dengan Tuhan, entah membandingkannya dengan Schwarzenegger atau King Kong, entah itu seribu kali atau sejuta kali lebih kuat, maka ia telah gugur dalam tes Al-Qur’an, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”.

Dengan demikian, ‘tes’ ini tidak bisa dilalui oleh siapapun kecuali Tuhan Yang Sejati. Ayat Al-Qur’an berikut menyampaikan pesan yang serupa:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segalanya; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Al-Qur’an 6: 103] Dengan nama apa kita menyebut Tuhan?

Umat ​​Islam lebih suka memanggil Sang Pencipta, dengan kata Allah, daripada menggunakan kata bahasa Inggris ‘God’ atau kata bahasa Indonesia ‘Tuhan.’ Hal ini dikarenakan kata Arab ‘Allah’ bersifat murni dan unik, tidak seperti kata bahasa Inggris ‘God’, yang dapat dimain-mainkan (dipelesetkan).
Jika Anda menambahkan ‘s’ pada kata ‘God’, ia menjadi ‘Gods’, yang merupakan bentuk jamak dari kata Tuhan. Allah itu satu dan esa, tidak ada bentuk jamak dari Allah.
Jika Anda menambahkan ‘Dess’ pada kata ‘God’, ia menjadi ‘Goddess’ yang berarti Tuhan perempuan. Tidak ada yang namanya Allah laki-laki atau Allah perempuan. Allah tidak memiliki gender.
Jika Anda menambahkan kata ‘father’ pada kata ‘God’ ia menjadi ‘God-father’. God-father berarti seorang wali. Tidak ada yang namanya ‘Allah-Abba’ atau ‘Allah-ayah’.
Jika Anda menambahkan kata ‘mother’ pada ‘God’, ia menjadi ‘God-mother.’ Tidak ada yang namanya ‘Allah-ummi’ atau ‘Allah-ibu’ dalam Islam. Allah adalah kata yang unik.
Jika Anda memberi awalan ‘tin’ sebelum kata ‘God’, ia menjadi ‘tin-God’, yang berarti Tuhan palsu.

Allah adalah kata yang unik, yang tidak membuat seseorang membayangkan gambaran mental apapun juga tidak bisa dimain-mainkan. Oleh karena itu umat Islam lebih memilih menggunakan kata Arab ‘Allah’ untuk Sang Pencipta. Kadang-kadang, bagaimanapun, ketika berbicara dengan non-Muslim kita perlu menggunakan kata yang kurang tepat untuk Allah, yaitu dengan menyebutnya “Tuhan.” Karena pembaca dari artikel ini terdiri baik dari Muslim maupun non-Muslim, saya menggunakan kata Tuhan di beberapa tempat dalam artikel ini.

Tuhan tidak berwujud manusia:
Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa Tuhan tidak menjadi manusia tetapi hanya menyamar menjadi wujud manusia. Jika Tuhan hanya mengambil bentuk manusia tetapi tidak menjadi manusia, Dia harusnya tidak memiliki sifat manusia apapun. Kita tahu bahwa semua ‘Tuhan berwujud manusia’ yang ada dalam kitab suci agama-agama besar di dunia, memiliki sifat seperti manusia dan kelemahan-kelemahan manusia. Mereka mempunyai semua kebutuhan manusia seperti kebutuhan untuk makan, tidur, dll.

Oleh karena itu menyembah Tuhan dalam bentuk manusia adalah kesalahan logis dan harus ditentang dalam segala bentuk dan manifestasinya.

Itulah alasan mengapa Al-Qur’an berbicara menentang segala bentuk antropomorfisme. Allah berfirman dalam ayat berikut:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” [Al-Qur’an 42:11]

Tuhan tidak melakukan tindakan yang tidak ilahi:
Sifat-sifat Tuhan menghalangi-Nya melakukan kejahatan apapun karena Tuhan adalah sumber keadilan, kasih, dan kebenaran. Tuhan tidak mungkin melakukan tindakan yang tidak mencerminkan keilahian-Nya. Oleh karena itu kita tidak bisa membayangkan Tuhan berbohong, bersikap tidak adil, membuat kesalahan, melupakan hal-hal, atau memiliki kebutuhan layaknya manusia. Tuhan memang dapat melakukan ketidakadilan jika Dia ingin melakukannya, tetapi Dia tidak akan pernah melakukannya karena menjadi tidak adil bukanlah sifat ketuhanan.

Allah berfirman:

“Allah tidak pernah tidak adil walau sedikit pun.” [Al-Qur’an 4:40]

Tuhan dapat menjadi tidak adil jika Dia menghendaki, tapi saat Tuhan melakukan ketidakadilan, Ia tidak lagi menjadi Tuhan.

Tuhan tidak berbuat kesalahan
Tuhan bisa melakukan kesalahan jika Dia ingin, tetapi Dia tidak melakukan kesalahan karena melakukan kesalahan adalah tindakan yang tidak ilahi. Al-Qur’an berfirman:

“… Tuhan kami tidak pernah melakukan kesalahan tidak pula lupa.” [Al-Qur’an 20:52]

Saat Tuhan melakukan kesalahan, ia tidak lagi menjadi Tuhan.

Tuhan tidak melupakan
Tuhan bisa melupakan jika Dia ingin. Tapi Tuhan tidak melupakan apapun karena lupa adalah tindakan yang tidak ilahi, yang mencerminkan sifat dan keterbatasan manusia. Al-Qur’an berfirman:

“… Tuhan kami tidak pernah melakukan kesalahan tidak pula lupa.” [Al-Qur’an 20:52]

Tuhan hanya melakukan tindakan Ilahi:

Konsep Tuhan dalam Islam adalah bahwa Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah berfirman di beberapa ayat (Al -Qur’an 2: 106; 2: 109; 2: 284; 3:29; 16:77; dan 35: 1):

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Selanjutnya, Allah berfirman:

“Allah Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Qura’n 85:16]

Kita harus paham bahwa Tuhan hanya melakukan tindakan yang mencerminkan sifat ilahi-Nya dan tidak melakukan tindakan yang tidak ilahi.

FILOSOFI dari ANTROPOMORFISME
Banyak agama meyakini filosofi antropomorfisme baik secara langsung atau tidak langsung. Filosofi ini mengatakan bahwa Tuhan menjadi manusia. Argumen mereka adalah bahwa Tuhan begitu murni dan suci sehingga Dia tidak bisa memahami sepenuhnya kesulitan, kekurangan, dan perasaan manusia. Dalam rangka untuk menetapkan aturan bagi manusia, Dia turun ke bumi sebagai manusia. Logika yang salah ini telah menipu jutaan manusia dari sepanjang zaman. Mari kita menganalisis argumen ini dan melihat apakah itu masuk akal atau tidak.

Pencipta mempersiapkan instruksi manual
Misalkan saya menciptakan sebuah DVD player. Apakah saya harus menjadi DVD player untuk mengetahui apa yang baik atau yang buruk bagi DVD player? Yang akan saya lakukan adalah menulis sebuah instruksi manual: “Jika anda ingin menonton sebuah film, masukkan kepingan DVD dan tekan tombol putar. Untuk berhenti, tekan tombol stop. Jika Anda ingin mempercepatnya tekan tombol FF. Jangan jatuhkan dari tempat yang tinggi atau ia akan rusak. Jangan direndam dalam air karena dapat menyebabkan kerusakan.” Saya menulis sebuah instruksi manual yang berisi petunjuk tentang tata cara merawat DVD player tersebut.
Al-Qur’an adalah instruksi manual bagi manusia:

Demikian pula, Pencipta kita yaitu Allah (swt) tidak perlu mewujud menjadi manusia untuk mengetahui apa yang baik atau buruk bagi manusia. Dia memilih untuk mewahyukan sebuah instruksi manual. Instruksi manual yang terakhir dan penutup bagi manusia adalah Al-Qur’an. Yang “boleh” dan “tidak boleh dilakukan” manusia disebutkan dalam Al Qur’an.

Jika kita membandingkan manusia dengan mesin, tentu saja manusia lebih rumit daripada mesin yang paling rumit sekalipun di dunia ini. Bahkan komputer yang paling canggih, yang sangat rumit, jauh sekali bila dibandingkan dengan faktor fisik, psikologis, genetik, sosial dan segudang faktor lainnya yang mempengaruhi kehidupan manusia di tingkat individu maupun kolektif. Semakin canggih mesin, semakin besar kebutuhannya akan instruksi manual. Dengan logika yang sama, bukankah manusia memerlukan instruksi manual untuk mengatur kehidupan mereka?

Tuhan memilih para nabi:
Tuhan tidak perlu turun ke bumi secara pribadi untuk memberikan instruksi manual-Nya. Dia memilih orang-orang pilihan di antara umat manusia untuk menyampaikan pesan-Nya dan berkomunikasi dengan-Nya di tingkat yang lebih tinggi melalui medium berupa wahyu. Orang-orang pilihan ini disebut nabi-nabi Tuhan.
Sebagian orang ‘buta’ dan ‘tuli’:

Meskipun filosofi antropomorfisme tidak masuk akal, banyak pengikut agama-agama yang mengajarkan antropomorfisme mempercayainya dan mengkhotbahkannya kepada orang lain. Bukankah ini menghina kecerdasan manusia dan Sang Pencipta yang telah memberikan kita kecerdasan? Orang-orang seperti itu benar-benar ‘tuli’ dan ‘buta’ meskipun pendengaran dan penglihatan telah diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Allah berfirman:

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),” [Al-Qur’an 02:18]

Bibel memberikan pesan serupa dalam Injil Matius:

“Sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” [Bibel, Matius 13:13]

Pesan serupa juga diberikan dalam Kitab Suci Hindu di Rigweda.

“Mungkin ada seseorang yang melihat kata-kata namun sesungguhnya tidak melihatnya; Mungkin ada orang lain yang mendengar kata-kata tapi sesungguhnya tidak mendengarnya.” [Rigweda 10: 71: 4]

Semua kitab suci ini memberitahu para pembacanya bahwa meskipun hal-hal itu begitu jelas namun banyak orang yang berpaling jauh dari kebenaran.

Sifat-sifat Tuhan:
Untuk kepunyaan Allah-lah nama yang paling indah. Allah berfirman:

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).” [Al-Qur’an 17: 110]

Pesan yang sama tentang nama-nama/sifat-sifat indah Allah (swt) diulang dalam Al-Qur’an dalam Surat Al-A’raf[7]: 180, dalam Surat Taha[20]: 8) dan dalam Surat Al-Hasyr[59]:24.

Al-Qur’an menyebutkan tidak kurang dari sembilan puluh sembilan nama untuk Allah SWT. Al-Qur’an menyebut Allah sebagai Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana) di antara banyak nama lainnya. Anda dapat memanggil Allah dengan nama apapun tetapi haruslah nama atau sifat-Nya yang indah dan tidak boleh mendatangkan bayangan mental apapun.

Setiap nama Tuhan itu unik dan dimiliki oleh-Nya saja:
Tuhan memiliki nama yang unik, dan juga setiap nama Tuhan sudah cukup agar kita dapat mengenali-Nya. Saya akan menjelaskan hal ini secara rinci. Mari kita ambil contoh dari seorang sosok terkenal, misalnya Neil Armstrong. Neil Armstrong adalah seorang astronot. Pribadinya yang menjadi astronot sudah benar, tetapi tidak dimiliki oleh Neil Armstrong sendiri. Jadi, ketika seseorang bertanya, “siapakah yang merupakan astronot?” Jawabannya adalah, ada ratusan orang di dunia yang berprofesi sebagai astronot. Neil Armstrong adalah orang Amerika. Atribut Amerika yang dimiliki oleh Neil Armstrong sudah benar, tetapi tidak cukup untuk mengidentifikasi dirinya. Jadi, ketika seseorang bertanya, “Siapakah orang Amerika?” Jawabannya adalah, ada ratusan juta orang yang berkebangsaan Amerika. Untuk mengidentifikasi keunikan seseorang, kita harus mencari sifat unik yang dimiliki oleh orang itu saja dan tidak dimiliki orang lain. Misalnya, Neil Armstrong adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Jadi, ketika seseorang bertanya, “Siapa orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan?” Jawabannya hanya satu, yaitu Neil Armstrong. Demikian pula sifat dari Tuhan Yang Maha Esa harus unik. Jika saya berkata bahwa Tuhan bisa membangun sebuah bangunan, hal ini benar, tetapi tidak unik. Ribuan orang dapat membangun sebuah bangunan. Tapi setiap sifat dari Allah itu unik dan tertuju hanya kepada Allah. Misalnya, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Jika seseorang bertanya “Siapakah pencipta alam semesta?”, jawabannya hanya satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa adalah Penciptanya. Demikian pula, berikut ini adalah sebagian dari banyak sifat unik yang hanya dimiliki oleh Pencipta alam semesta, Allah SWT:
“Ar-Rahim”, Maha Penyayang
“Ar-Rahman”, yang Maha Pengasih
“Al-Hakim”, yang Maha Bijaksana

Jadi, ketika seseorang bertanya, “Siapakah ‘Ar-Rahim’, (Maha Penyayang)?”, Hanya ada satu jawaban: “Allah SWT”.

Salah satu sifat Tuhan tidak boleh bertentangan dengan sifat lainnya:
Selain sifat yang unik, sifat-Nya tidak boleh bertentangan dengan sifat lainnya. Melanjutkan dari contoh sebelumnya, misalkan seseorang mengatakan bahwa Neil Armstrong adalah astronot Amerika yang merupakan manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan dan berkebangsaan India. Sifat yang dimiliki oleh Neil Armstrong sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan adalah benar. Tapi sifat yang terkait sebagai seorang India, adalah salah. Demikian pula jika seseorang mengatakan bahwa Allah adalah Pencipta Alam Semesta yang memiliki satu kepala, dua tangan, dua kaki, dll, sifat-Nya sebagai Pencipta Alam Semesta sudah benar tetapi sifat yang terkait dengan wujudnya (berwujud manusia) adalah salah.

Semua sifat harus menunjuk kepada satu-satunya Tuhan:
Karena hanya ada satu Tuhan, semua sifat harus merujuk kepada satu-satunya Tuhan. Dengan mengatakan bahwa Pencipta alam semesta adalah Tuhan yang Maha Esa sementara yang merawat alam semesta adalah Tuhan yang lain adalah tidak masuk akal karena Tuhan memiliki semua sifat ini (menciptakan, merawat, menjaga alam semesta, dsb).
Keesaan Tuhan

Sebagian penyembah berhala berpendapat bahwa keberadaan lebih dari satu Tuhan itu logis. Logikanya, jika ada lebih dari satu Tuhan, mereka akan saling bertengkar satu sama lain, masing-masing Tuhan berusaha untuk memaksakan kehendak-Nya terhadap kehendak Tuhan-tuhan lainnya. Hal ini dapat dilihat dalam mitologi agama politeistik dan panteistik (misalnya mitologi Yunani). Jika ada ‘Tuhan’ yang dikalahkan atau tidak mampu mengalahkan yang lain, dia tentunya bukanlah Tuhan yang benar. Juga populer di kalangan agama-agama politeistik adalah gagasan tentang banyaknya dewa-dewa, yang memiliki tanggung jawab masing-masing. Setiap dari mereka bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan hidup umat manusia, misalnya ada Dewa Mahatari, Dewa Hujan, dll. Hal ini menunjukkan bahwa ‘Tuhan’ tidak kompeten untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu dan Dia juga tidak mengetahui tentang kekuatan, tugas, fungsi, dan tanggung jawab Tuhan/dewa-dewa yang lainnya. Seharusnya Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Melakukan Sesuatu. Jika ada lebih dari satu Tuhan pastinya akan menimbulkan kekacauan, gangguan, perselisihan, dan kehancuran di alam semesta. Kenyataannya, alam semesta kita berjalan selaras dan teratur. Allah berfirman:

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” [Al-Qur’an 21:22]

Jika ada lebih dari satu Tuhan, mereka akan saling berselisih dan menjatuhkan yang lain. Allah berfirman:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” [Al-Qur’an 23:91]

Dengan demikian keberadaan satu Tuhan yang Maha Benar, Unik, Agung, dan Maha Kuasa, adalah satu-satunya konsep Tuhan yang logis.

Sekian artikel kali ini.