Tanda Cinta Kepada Allah Dan Rasul

Kata Sahl bin Abdullah:

“Alamat cinta kepada Allah ialah cintakan al-Qur`an, alamat cinta kepada al-Qur`an ialah cinta kepada Rasulullah ﷺ,

Alamat cinta kepada Rasulullah ﷺ ialah cinta kepada sunnah dan alamat cinta kepada sunnah ialah cinta kepada akhirat,

Alamat cinta kepada akhirat ialah bencikan dunia dan alamat benci dunia ialah tidak menyimpan harta dunia melainkan sebagai bekalan dan alat penyampai kepada akhirat.”

(Qadi ‘Iyad, al-Shifa` Bi Ta’rif Huquq al-Mustafa, hal. 571)

CARA MERAIH CINTA ALLAH

CARA MERAIH CINTA ALLAH : INGKISARUL QALBI (LULUHNYA HATI) DI HADAPAN ALLAH AZZA WA JALLA

Banyak sekali kata atau ibarat yang menunjukkan makna inkisarul qalbi, di antaranya adalah khusyu’, tadzallul (merendahkan diri), iftiqâr (perilaku yang menunjukkan bahwa dia sangat membutuhkan). Diantara kata-kata ini, khusyu’ dalam cakupan maknanya secara umum lebih mendekati makna inkisar dibandingkan dengan yang lainnya. Oleh karena itu, pada pembahasan ini, kita lebih fokuskan pada pembahasan khuyu’

Pengertian Khusyu’

Secara bahasa, khusyu’ secara bahasa ialah : rendah hati, tunduk dan tenang, terkadang juga bermakna; menundukkan pandangan dan merendahkan suara, dan terkadang juga bermakna hancur atau pecah.

Secara Istilah

Secara syar’i para salaf memiliki pengertian yang berbeda-beda, diantaranya :

Ketundukan hati di hadapan Allâh Azza wa Jalla

Tunduk dan patuh terhadap kebenaran. Indikasinya, mampu menerima nasehat yang awalnya ia selisihi.

Redupnya gejolak syahwat, dan tenangnya gemuruh di dada, serta tumbuhnya rasa pengagungan dalam hati.

Pengertian-pengertian di atas semuanya menunjukkan bahwa khusyu’ tempatnya di dalam hati, kemudian menyebarkan pengaruhnya kepada anggota tubuh.

Di hati, khusyu’ dapat memberikan pengaruh pada diri seseorang. Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan bahwa khusyu’ yaitu perpaduaan antara pengagungan, rasa cinta, dan ketundukan.

Khusyu’ ialah suatu keadaan yang ada pada seseorang yang sedang mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Saat  itu, seseorang dituntut untuk khusyu’ dalam semua keadaan, bukan hanya ketika shalat. meskipun shalat merupakan tempat terlihatnya pengaruh dari khusyu’, karena khusyu’ merupakan ruh dari shalat seseorang, serta sebaik-baik adab yang harus ia perhatikan di dalam shalatnya. Maka khusyu’ selalu berkaitan baik di dalam maupun di luar shalat. Adapun jika seseorang lalai sepanjang waktu, namun ia ingin mendapatkan kekhusu’an di dalam shalat maka ini sangat mustahil dia dapatkan. Karenanya Allâh Azza wa Jalla berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya.[Al Mu’minûn/23:1-2]

Karena mereka telah mewujudkan keimanan terlebih dahulu, baru kemudian mereka merasakan khusyu’ di dalam hati, lalu muncul lah penguruhnya dalam shalat mereka, serta pada ibadah-ibadah lain yang disebutkan di ayat selanjutnya, Imam Mujahid mengatakan :“orang-orang yang khusyu’, mereka adalah orang-orang mukmin yang sesungguhnya”.

Para pendahulu kita dari generasi pertama ummat ini telah memberikan contoh yang sempurna tentang kekhusyu’an di hadapan Allâh , diantaranya ialah apa yang diceritakan tentang Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu apa bila sedang melaksanakan shalat terlihat seperti tiang, karena saking khusyu’nya. Dan ketika ia sujud, burung-burung hinggap di punggungnya.

Baca Juga  Musuh-Musuh Manusia

Sungguh mereka telah mendirikan shalat dengan sebenarnya sehingga hiduplah hati-hati mereka dan ketenangan serta kebahagiaan yang mereka dapatkan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ((dan dijadikan shalat sebagai ketenangan hatiku)).

Bagaimana Agar Bisa Khusyu’ Dalam Shalat?

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengajarkan langkah-langkah agar kita bisa khusyu’ di dalam shalat, secara ringkasnya adalah jika seseorang mendengar adzan anggaplah itu seakan panggilan hari kiamat;

Ketika ia menutup auratnya hendaknya ia mengingat keburukan-keburukan hatinya yang juga harus ditutup di hadapan Allâh Azza wa Jalla

Ketika ia menghadapkan wajahnya kearah kiblat maka hendaknya ia hadapkan hatinya kepada Allâh Azza wa Jalla

Ketika engkau mengucapkan “Allâhu Akbar” maka jangan sampai hatimu berbeda dengan lisanmu yaitu dengan meyakini sesuatu yang lebih besar dari Allâh Azza wa Jalla

Dan ketika engkau meminta perlindungan pada-Nya, lalu membaca ayat-ayat dalam surat al-Fâtihah maka resapilah maknanya dengan hatimu, hadirkan tawadhu’ dan merendah di hadapan-Nya

Ketika ruku’ dan sujud, resapi makna dari bacaan-bacaan yang engkau baca, dan yakinlah apabila engkau laksanakan itu semua niscaya engkau akan merasakan jernihnya hati dan mendapatkan cahaya yang meneranginya.

Beliau rahimahullah juga menyebutkan beberapa faktor yang menjadikan shalat kita hidup dan berarti, di antaranya adalah :

Pertama;

Menghadirkan hati ketika shalat, yaitu dengan mengosongkan hati dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi. Hal itu bisa ia dapatkan dengan tekat yang kuat. Dan tekad seseorang akan kuat ketika imannya bertambah, begitu pula sebaliknya. Oleh karenanya, yang menjadikan sulitnya menghadirkan hati dalam shalat adalah lemahnya iman.

Kedua;

Berusaha memahami bacaan-bacaan yang ia baca dalam shalat, yaitu dengan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasinya ketika shalat.

Ketiga;

Menghadirkan pengagungan dan rasa takut kepada Allâh, dan yang seperti ini bersumber dari dua hal:pertama: mengerti akan keagungan dan keluhuran Allâh Azza wa Jalla , dan yang kedua adalah mengakui kehinaan dirinya dihadapan Allâh Azza wa Jalla .

Menghadirkan Khusyu’ Disetiap Ibadah

Diantara hal yang bisa menghadirkan kekhusyu’an adalah rasa optimis terhadap pahala dari Allâh Azza wa Jalla . Jadi,  orang yang melaksanakan shalat harus benar-benar mengharapkan balasan dari Allâh Azza wa Jalla semata. Namun, perlu kita fahami bahwa khusyu’ tidak hanya dituntut dalam shalat saja, akan tetapi seorang Muslim harus senantiasa menghadirkan kekhusyu’an setiap saat. Dan hal itu tidak bisa digambarkan atau diungkapkan dengan kata-kata, karena khusyu’ merupakan keadaan seseorang dihadapan Allâh Azza wa Jalla , dan hanya Allâh lah yang mengetahuinya.

Baca Juga  Zuhud Yang Banyak Disalah Fahami

Ibrahim an Nakha’i rahimahullah menjelaskan bahwa khusyu’ bukan sekedar memakan makanan yang tidak enak atau memakai pakaian yang jelek, akan tetapi khusyu’ ialah ketika engkau melihat bahwa orang yang mulia maupun hina, keduanya memiliki hak yang sama, dan engkau khusyu’ karena Allâh Azza wa Jalla ketika melaksanakan kewajiban-Nya. Dan sungguh para salaf dahulu mereka menjauhi khusyu’ berlebihan yang dibuat-buat.

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu pernah bertutur, “Berhati-hatilah kalian dari khusyu’ yang munafik, yaitu hanya badan nya yang khusyu’ namun hatinya tidak. Dan  Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu adalah orang yang telah mewujudkan makna khusyu’ yang sesungguhnya, sehingga ia disegani oleh manusia bahkan syaitan pun takut kepadanya. Meski demikian Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan tentangnya, “Umar bin Khathab adalah orang yang cepat jalannya, kencang suaranya, keras pukulannya, dan memberi makan sampai kenyang, beliau adalah seorang hamba yang sesungguhnya”.

Tiga Tingkatan Khusyu’

Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu’ menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan Pertama :

Tunduk terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla, dan ini bisa dilakukan oleh seorang hamba dengan benar-benar tunduk, menerima dan menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla , serta menunjukkan bahwa ia butuh terhadap hidayah dan pertolongan-Nya, dan juga berharap agar amalannya diterima di sisi-Nya. Ditambah lagi ia benar-benar pasrah terhadap hukum Allâh Azza wa Jalla , baik hukum syar’i maupun hukum kauni yaitu takdir, sehingga ia tidak berpaling dari perintah Allâh Azza wa Jalla , dan tidak pula murka terhadap ketentuan-Nya.

Tingkatan Kedua :

Berhati-hati terhadap penyakit-penyakit hati yang bisa merusak amalan, seperti : sombong, ujub, riya, lemahnya keyakinan, muncul keraguan dalam hati, serta rusaknya niat.

Tingkatan Ketiga :

Berusaha untuk tidak merasa bangga terhadap amal yang ia kerjakan, atau merasa bahwa ia berhak untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allâh Azza wa Jalla , serta berusaha untuk menyembunyikan amalan-amalan ibadah dari manusia agar selamat dari hal-hal yang bisa merusak niatnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Referensi : https://almanhaj.or.id/11129-cara-meraih-cinta-allah-ingkisarul-qalbi-luluhnya-hati-di-hadapan-allah-azza-wa-jalla.html

JALAN TAQARUB DAN MENDAPAT KECINTAAN ALLAH SWT

JALAN TAQARUB DAN MENDAPAT KECINTAAN ALLAH SWT

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.  Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Tidaklah seseorang itu sentiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan  sunat, kecuali Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pengelihatannya yang ia jadikan untuk melihat dengannya, dan tangannya yang ia jadikan untuk melakukan sesuatu, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau dia memohon kepada Ku, pasti akan Aku akan memberinya, dan jika meminta perlindungan daripada Ku, pasti Aku melindunginya.  (HR Bukhari No: 6021) Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.Wali Allah adalah orang yang taat dan ikhlas dalam beramal,  beriman dan bertaqwa, beramal dengan al-Quran dan Sunnah.

2.Orang yang menyakiti mukmin yang bertakwa maka Allah akan membinasakannya.

3.Melaksanakan amal fardhu adalah yang paling afdal dan disukai Allah.

4.Meninggalkan maksiat adalah sebahagian daripada melaksanakan kefardhuan.

5.Mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan fardhu juga melalui amalan sunat akan melayakkan seseorang hamba mendapat kecintaan Allah.

6.Ibnu Rajab menyatakan: sesiapa yang berusaha bersungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan fardu dan sunat, darjatnya akan diangkat di sisi Allah. Jika dia bertutur, dia bertutur kerana Allah. Jika dia melihat, dia melihat kerana Allah.

7.Diantara penghormatan yang Allah kurniakan  kepada orang yang dicintai Allah ialah Allah akan memperkenankan doanya jika dia meminta. 

ALLAH TUTUPI  AIB

ALLAH TUTUPI  AIB 🍃🌻

Setiap kita memiliki aib, seandainya Allah tidak menutupi (aib-aib kita, sungguh akan malu diri-diri kita ini).

Kita ini dianggap baik oleh orang lain, bukan karena kebaikan-kebaikan kita, tetapi karena Allah menutupi aib-aib kita.

Ketika seseorang memujinya, dia senang dan bergembira. Hatinya berbunga-bunga. Jiwanya melambung ke angkasa. Bahkan kalau dia memberi sesuatu, akan ditambah pemberiannya, kepada orang yang memujinya, karena nuraninya senang dengan pujian.

Berbeda dengan seseorang yang merasa dirinya tidak layak dipuji dan tidak layak disanjung, karena dirinya merasa banyak kekurangan dan aibnya dan dirinya penuh dengan kesalahan dan dosa.

Seseorang memuji Imam Ahmad rahimahullah, lantas Imam Ahmad rahimahullah berkata :

ﺃﺷﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ،ﻭﺍﻟﻠﻪ ، ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ . ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Aku persaksikan kepada Allah. Sungguh aku murka atas ucapanmu ini. Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahan yang ada pada diriku, pastilah engkau akan menaburi kepalaku dengan pasir.”

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Andai saja aku tidak terkenal seperti ini. Andai aku berada di satu lembah di lembah-lembah kota Mekkah, tak ada seorangpun mengenaliku.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181)

Seorang salaf, murid sekaligus sahabat Imam Ahmad rahimahullah, dia bercerita, Imam Ahmad rahimahullah tidak pernah membanggakan diri, apalagi memuji kelebihan dan kebaikan dirinya.

Berkata Yahya bin Ma’in rahimahullah :

ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻣﺎ ﺍﻓﺘﺨﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :

ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ

Aku tidak pernah melihat seorang seperti Ahmad bin Hambal. Kami bersahabat dengannya 50 tahun, namun tak pernah sekalipun ia membanggakan suatu kebaikan atau kemaslahatan di hadapan kami. Bahkan beliau rahimahullah berkata:  “Kami adalah kaum miskin.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

Suatu ketika, Imam Ahmad rahimahullah pergi ke pasar, orang-orang pun tidak mengenalnya, dia pikul sendiri kayu bakarnya, ketika ada seseorang mengenalnya, lantas  semua orang  di pasar tersebut berdiri untuk membantu memikulkan kayu bakar yang dipikul Imam Ahmad rahimahullah, namun Imam Ahmad rahimahullah menolaknya.

Berkata Para hafidz rahimahumullah :

ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓﺎﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ ، ﻓﻬﺯ ﻳﺪﻩ ،ﻭﺍﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ ،ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ : نحن ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ

Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke sebuah pasar di kota Baghdad. Di sana beliau membeli seikat kayu bakar, kemudian memikulnya di atas bahu beliau. Tatkala orang-orang mengetahui beliau, para pedagang pun meninggalkan barang dagangan mereka, para pemilik warung meninggalkan warung-warung mereka dan orang-orang lewat turut berhenti di jalan-jalan mereka. Mereka pun mengucapkan salam kepada beliau dan berkata:  “Kami akan membawakan kayu bakar ini untukmu.”

Beliau pun menolak dengan lambaian tangan, wajahnya memerah dan matanya tiba-tiba berlinang air mata. Beliau pun berkata:

“Kami adalah kaum faqir. Andai saja Allah tidak menutupi, niscaya Allah akan menyingkap (aib) kami.”

(Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

‘Abdullah Al Muzani mengatakan,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.

(Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310)

Bagaimana dengan diri-diri kita yang penuh dengan aib. Penuh dengan noda-noda dosa dan berlumuran kesalahan?

Sebagian kita masih suka membanggakan dan menyombongkan diri, masih suka disanjung dan dipuji, masih suka dan merasa terhormat jika barangnya dipikulkan orang lain. Malu rasanya diri ini, yang telah mengklaim mengikuti salaf, namun masih jauh dari amalan salaf.

JANGAN TAKUT MENGHADAPI CINTA

JANGAN TAKUT MENGHADAPI CINTA.

Ketahuilah bahwa Allah yang menjadikan matahari dan memberinya cahaya.

Allah yang menjadikan bunga dan memberinya wangi.

Allah yang menjadikan tubuh dan memberinya nyawa.

Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan.

Maka Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta.

Jika hatimu diberiNya nikmat, dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali.

Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh.

Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain.

Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan.

Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi.

(Buya Hamka)

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

ALLAH SWT TIDAK PERNAH MENZALIMI HAMBANYA

  🔮RENUNGAN-NASIHAT💧

📌 Beberapa hal ini yang harus kita ingat agar hati terasa lapang saat mendapat musibah :🔥

💙1). Semua terjadi atas izin Allah.

💎”Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Tagabun: 11)

💧2). Kamu bukan satu-satunya yang uji.

🔮“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

💦3). Musibah adalah penghapus dosa.

❄️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

🌷Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).

🌹4). Allah tidak membebani melebihi kemampuan kita

🍃“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286

🌴5). Bersama kesulitan ada kemudahan.

🪴“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“ (Qs. Al-Insyirah: 5-6)

🌿6). Musibah adalah tanda cinta Allah.

🍀Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

🍂7). Sarana meraih banyak pahala.

🥀Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no.918)

🍁8). Mendapat kedudukan yang tinggi disurga.

❣️Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga -pent) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga -pent) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2686 dengan sanad yang shahih)

💞9). Selalu ada hikmah terbaik dibalik musibah.

💐“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Itulah mereka yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya).’ . Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)

💖10). Lihat kebawah, banyak yang jauh lebih susah dari kita.

⭐Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,

🌷“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

💥“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

🔥Semoga Allah ﷻ memberikan kita kesabaran, kekuatan dan pahala yang besar disetiap ujian atau musibah yg kita alami. Aamiin

HAKIKAT KASIH SAYANG

HAKIKAT KASIH SAYANG

🌴🌴🌴

Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَضَعُ اللَّهُ رَحْمَتَهُ إِلَّا عَلَى رَحِيمٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُلُّنَا يَرْحَمُ، قَالَ: لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ، يُرْحَمُ النَّاسَ كَافَّةً

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan meletakkan kasih sayang-Nya kecuali kepada orang yang berjiwa penyayang..”

Mereka berkata, “Semua kita ada sifat kasih sayang..”

🌴🌴🌴

Beliau bersabda, “Bukan menyayangi temannya saja, akan tetapi menyayangi seluruh manusia..”

(HR Abu Ya’la dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah shohihah no 167)

Sayang itu hakikatnya adalah usaha untuk memberi manfaat dan menolak mudhorot kepada yang disayangi..

🌴🌴🌴

Sayang itu hendaknya dengan ilmu bukan dengan semata perasaan..

Allah sayang kepada hamba-Nya terkadang dengan cara menyusahkannya..

Agar ia terhindar dari berbagai macam fitnah dunia..

🌴🌴🌴

Kita sayang kepada anak bukan dengan cara memanjakannya..

Namun mendidiknya agar ia disiplin dan bersungguh sungguh..

MENCINTAI SESEORANG  SEMATA KERANA ALLAH SWT

MENCINTAI SESEORANG  SEMATA KERANA ALLAH

“Mencintai seseorang hanya karena Allah Ta’ala adalah cinta yang tidak boleh dinodai oleh unsur- unsur keduniaan”.

“Dan hendaknya ketika mencintai seseorang itu karena ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan dalam meninggalkan larangan-laranganNya”.

“Dan orang-orang yang saling mencintai karena Allah, karena mengharapkan pahala dari Allah, bukan karena harta benda, atau keturunan, namun mereka saling mencintai karena Allah Ta’ala semata”.

Saling mencintai karena Allah Ta’ala memiliki keutamaan yang sangat besar, mereka akan dikumpulkan dan diberikan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bahwasanya Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat nanti:

أَيْنَ المُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي؟ اليَوم أُظِلُّهُم فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي

“Di manakah orang-orang yang saling mencintai dengan keagunganKu, maka pada hari ini aku menaungi mereka di bawah naunganku pada hari tidak ada naungan kecuali naunganKu”.

(HR. Muslim).‎

Hadits ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya.

Mudah-mudahan kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya.

Aamiin…

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

UJIAN MU TANDA ALLAH  CINTA, SAKIT MU TANDA ALLAH RINDU

 UJIAN MU TANDA ALLAH  CINTA, SAKIT MU TANDA ALLAH  RINDU

💙Cara Allah mencintai hambanya seringkali tak dapat di jangkau oleh akal

💎Karena akal terbatas, sedangkan cinta Allah teramat sangat luas.

💦Maka di butuhkan hati yg bersih, ketulusan iman dan ikhlas untuk membaca pesan cinta-Nya

🔮Jika seorang ayah kadang baru menegur anaknya kala ia sudah mendekati ujung jalan yg ramai,

💧Jika seorang ibu kadang baru menegur anaknya kala di lihatnya ia sudah mulai nakal,

❄️Namun tidak demikian dengan cinta Allah, karena cinta Allah kepada hambanya melebihi cinta orang tua pada anaknya,

🍃Maka jangan terburu-buru berburuk sangka kepada Allah, jika hidupmu kadang terasa sesak, ada masalah, kecewa, sakit dan hal2 tidak kamu sukai menimpa mu,

🍂Karena mungkin itu cara Allah mencintai mu dan Allah ingin agar engkau berubah menjadi lebih baik lagi.

🥀Semisal…

🌴Ketika kamu terlalu berharap pada manusia, kadang Allah berikan kekecewaan,

🍃Ketika kamu terlalu semangat mengejar dunia, kadang Allah berikan kegagalan,

🍂Ketika kamu terlalu bersenang-senang, kadang Allah berikan air mata,

🥀Ketika kamu terlalu mencintai sesuatu yg kamu miliki, kadang Allah berikan kehilangan.

🍃Ketika kamu terlalu banyak melakukan dosa , kadang Allah berikan musibah dan ujian.

🌴Begitulah, kadang Allah berikan hal-hal yg tidak kita sukai menimpa kita, karena Allah mencintai kita.

💎Sebab bisa jadi dengan berbagai ujian dan masalah yg menimpa kita, itu adalah cara Allah ingin menghapus dosa2 kita, sehingga kelak ketika di akhirat kita mendapat derajad yg tinggi.

💦Karena itu, bila segala sesuatu yg tidak kita harapkan terjadi menimpa kita, Maka biasakan diri untuk belajar sabar dan ikhlas, Sebab barangkali dengan cara itu Allah ingin menyampaikan pesan cinta-Nya.

💎Karena Allah sebaik-sebaiknya pemilik rencana, dan Allah Maha tahu hikmah di balik semua itu,

💧Maka tiada kerendahan hati seorang hamba yg beriman selain ia akan memohon pertolongan kepada Allah atas ketidak berdayaannya menghadapi masalah.

❄️Dan selanjutnya….

🔮Ia akan meminta kemampuan hati agar dapat bersabar dlm setiap episode ujian yg ia lalui serta kepekaan rasa untuk dapat mengenali kasih sayang-Nya

💙Agar setiap luka yang dirasa, kita sikapi dengan syukur dan doa.

💧Agar setiap kesulitan yang mendera, kita sikapi dengan lapang dada dan berbaik sangka.

💧Agar kita mengerti setiap rasa sakit dan perih yg kita rasa adalah sebagai penghapus dosa,

🔮Sebab Allah tak akan pernah menyakiti hambaNya

💙Karena sesungguhnya rahmat Allah lebih mengalahkan kemurkaan-Nya.

Create your website with WordPress.com
Get started