7 PEDOMAN meraih KEBAHAGIAAN

7 PEDOMAN meraih KEBAHAGIAAN

1 -لَا تكْرَه أَحَدا مهما أَخْطَأ فِي حَقِّك

1.Jangan membenci siapapun sekalipun ia melanggar hakmu.

2 -لَا تَقْلَق أَبَدا مَهْمَا بَلغْت الْهُمُوْم

2. Jangan panik meski penderitaanmu sedang besar.

3 -عِش فِي بَسَاطَة مَهْمَا عَلَا شَأْنُك

3. Hiduplah sederhana meski statusmu tinggi.

4 -تَوَقَّع خَيْرَا مَهْمَا كَثُر الْبَلَاء

4. Berharaplah kebaikan walaupun engkau sedang ditimpa bencana bertubi2.

5 -أعْطِ كَثِيْرَا و لَو حُرِمْت

5. Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan.

6 -ابْتَسِم و لَو الْقَلْب يَقْطُر دَما

6. Senyumlah meski hatimu mengucurkan darah {karena derita}

7 -لَا تَقْطَع دُعَاءَك لِأَخِيْك الْمُسْلِم بِظَهْر الْغَيب

7. Jangan hentikan doamu untuk saudaramu sesama Muslim meski ia tidak sedang bersamamu {di luar sepengetahuannya}

Untuk Apa Kita Menangis ?

°°KARENA APA ENGKAU MENANGIS°°

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan…

Menangis karena Allah terjadi manakala seorang hamba melihat kelalaian pada dirinya, atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk…

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata,

🕋 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثَةٌ لاَ تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللهِ, عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ, وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ

“Tiga golongan yang mata mereka tidak akan melihat Neraka, mata yang berjaga-jaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan oleh Allah”

(📖HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.1231)

Wahai Saudaraku…

Air mata apakah yang selalu menetes darimu…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan siksa kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan Surga dan Neraka Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta yang dikeluarkan untuk sedekah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di berbagai majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum shubuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?

Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Wahai Saudaraku…

Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit…

Datangilah majelis tangis…majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat…

majelis yang dapat menyuburkan iman dan takwa…

majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah…

majelis yang dibacakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…yang semua itu menyebabkan air matamu berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Tetapi janganlah engkau tertipu dengan tangisan pelaku kebid’ahan dan kesesatan, meskipun terlihat darinya kekhusyu’an dan banyaknya ibadah…

🕌 Imam al-Auza’i rahimahullah berkata :

بلغني أن من ابتدع بدعة ضلالة آلفه الشيطان العبادة، أو ألقى عليه الخشوع و البكاء كي يصطاد به، كما نقل عن الخوارج

“Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa yang melakukan sebuah bid’ah yang sesat, maka syaitan pun akan menjadikannya semangat beribadah, atau menjadikannya khusyu’ dan banyak menangis, agar syaitan bisa menjerat korban lain melalui orang tersebut (membelanya dan menjadi pengikutnya), sebagaimana telah diriwayatkan tentang keadaan kelompok Khawarij”

(📖Al-I’tisham I/22)

Ya Allah, jadikanlah tangisan kami di atas ridho-Mu yang dapat mendatangkan ampunan…

Amalan – amalan Pada Masa Tua

Amalan amalan pada masa Tua

Setiap manusia dinilai dengan akhir kehidupannya, apakah menutup hidupnya dengan kebaikan atau keburukan.

Maka, pada masa tua, atau seiring usia bertambah, seyogyanya seseorang semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan dunia dan menyadari untuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal hal membuatnya merugi, lantaran kematian bisa datang setiap hari, tanpa menunggu kita bertaubat dan mensucikan amalan dan hati.

Berikut Ini Ringkasan Petunjuk Amalan Bagi Orang Yang Sudah Tua:

1. Lebih memperhatikan amalan-amalan wajib, sebab, ibadah-ibadab yang bersifat wajib (fardhu) merupakan kewajiban yang bersifat individual yang harus ditegakkan sendiri sendiri oleh setiap Muslim dan Muslimah hingga ajal datang, selain itu, amal amal wajib adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla .

2. Menghindari hal-hal yang diharamkan oleh syariat.

3. Menambah amalan amalan sunnah.

4. Banyak bertahmid, membaca istighfar dan bertaubat.

5. Bersedekah.

6. Memperbanyak amal amal ringan, tapi berpahala besar, seperti berdzikir dan membaca shalawat.

7. Rutin membaca dzikir pagi dan sore, membaca dzikir pagi dan sore ditekankan di sini, karena secara umum itu merupakan rutininas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apalagi, banyak keutamaan yang termuat dalam dzikir pagi dan sore, di antaranya: terhindar dari godaan setan, amalan ringan berpahala besar, husnul khatimah, memperoleh syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan lain lain.

8. Tetap aktif dalam thalabul ilmi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً

Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya  hingga mencapai 60 tahun  

[HR. Al-Bukhari no.641]

“Bila seseorang dipanjangkan usianya hingga 60 tahun,  sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menegakkah hujjah atas dirinya dan menolak adanya alasan alasan”.

“Sebab dalam kurung waktu 60 tahun seseorang dipanjangkan usianya selama itu, ia dapat mengetahui ayat-ayat Allah, apalagi bila seseorang hidup di negeri Islam, tidak diragukan lagi, masa yang panjang ini menyebabkan seseorang tidak punya alasan lagi untuk membela diri bila berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla “.

Maka, dengan tetap menghadiri majlis ilmu, ia bisa mengejar ketinggalan bila di masa mudanya acuh tak acuh dengan ilmu dan amal shaleh. Ilmunya menjadi bertambah dan otomatis ada kesempatan untuk mengamalkan ibadah ibadah tertentu yang belum diketahui sebelumnya, dan jika ajal dating kepadanya, ia dalam keadaan yang lebih baik, berada di majlis ilmu, mengulang ulang ilmu atau mengamalkan ilmu.

9. Rutin membaca Al-Quran dan mentadaburinya, membaca Al-Quran menjadi salah satu lumbung pahala bagi orang yang rutin membacanya.

Selain itu, kandungan Al-Qur`an yang ia renungi akan meningkatkan keimanannya terhadap kebesaran Allah Azza wa Jalla.

10. Berpesan kepada anak anak dan keturunan agar menjadi shaleh dan shalehah, gemar mendoakan orang tua baik saat masih hidup atau setelah meninggal, dan membantu mentalqin orang tua ketika akan meninggal. 

https://t.me/cahayasunnah

Demikianlah uraian ringkas tentang menyikapi masa tua yang akan mendatangi setiap manusia.

Intinya, dengan mengisi masa tua dengan amal amal shaleh dan menjalin kedekatan yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla , bukan dengan lari dari kenyataan yang datang, juga bukan dengan melawan ketua’an, karena usaha apapun untuk melawan fase tua hanya akan sia sia belaka.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

RUMUS MENGHADAPI KESULITAN HIDUP

TAK ADA YANG ABADI DI DUNIA INI, SEMUA HANYA SEMENTARA

PESAN POSITIF.

RUMUS MENGHADAPI KESULITAN HIDUP.

RUMUS PERTAMA :

Kamu tidak sendirian (banyak yang lebih susah darimu).

RUMUS KEDUA :

Allah tidak mungkin menakdirkan sesuatu melainkan pasti ada hikmahnya.

RUMUS KETIGA :

Satu-satunya yang kuasa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat adalah Allah, karena itu jangan bergantung kecuali kepada Allah.

RUMUS KEEMPAT :

Apa yang telah ditetapkan untukmu tak akan meleset darimu dan apa yang tak ditetapkan untukmu tidak akan mengenaimu.

RUMUS KELIMA :

Kenalilah hakikat dunia, pasti kamu tenang. (Ini dunia bukan surga, pasti tidak luput dari masalah. Yang enak terus itu adanya hanya di surga dan yang tidak enak terus itu adanya di neraka).

RUMUS KEENAM :

Berprasangka baiklah kepada Rabbmu, Allah. (Allah tidak pernah membencimu apalagi meninggalkanmu).

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.”

(QS. Adh-Dhuhaa : 3)

RUMUS KETUJUH :

Yang dipilihkan Allah untukmu pasti lebih baik daripada pilihanmu untuk dirimu sendiri.

(Orang yg diuji masalah itu orang istimewa-Nya. Jika sabar maka surga menanti).

RUMUS KEDELAPAN :

Semakin sulit ujian berarti semakin dekat jalan keluar.

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. al-Insyirah : 5-6)

RUMUS KESEMBILAN :

Jangan berpikir tentang bagaimana jalan keluar karena sesungguhnya Allah jika menghendaki sesuatu pasti menyiapkan solusinya, ada cara yg tdk terbayangkan (taqwakan diri dan terus bertawakkal).

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tdk disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

(QS. Ath-Thalaq : 2-3)

RUMUS KESEPULUH :

Jangan berhenti berdoa kepad a Dzat yang di tangan-Nya semua kunci jalan keluar.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang² yg sabar.”

(QS. al-Baqarah : 153) C&P.

SURAT CINTA DARIPADA ALLAH TENTANG SOLAT

SURAT CINTA DARIPADA ALLAH TENTANG SOLAT

                 SOLAT

… Apabila engkau anggap solat itu hanya sebagai kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya & tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.

… Anggaplah solat itu pertemuan yg kau nanti dgn Tuhanmu … Allahuakbar.

… Anggaplah solat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah … Allahuakbar.

… Anggaplah solat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau mengadu segala keluh kesah dgn Allah SWT … Allahuakbar.

..Anggaplah solat itu sebagai spt mana seriusnya kau dlm bermimpi … Allahuakbar.

… Bayangkan ketika “Azan berkumandang,” Allah melambai-lambai kepadamu utk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya … Allahuakbar.

… Bayangkan ketika kau “Takbir,” Allah melihatmu, Allah tersenyum untukmu dan Allah berbangga dengan mu … Allahuakbar.

… Bayangkanlah ketika “Rukuk,” Allah menampung badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau merasakan damai dalam sentuhan-Nya … Allahuakbar.

… Bayangkan ketika “Sujud,” Allah mengalas kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua-dua telingamu: “Aku mencintaimu wahai hamba-Ku.” … Allahuakbar.

… Bayangkan ketika kau “Duduk di antara 2 sujud,” Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan: “Aku tak akan diam apabila orang mengusikmu.” … Allahuakbar.

… Bayangkan ketika kau memberi “Salam,” Allah menjawabnya, lalu kau jadi manusia berhati bersih … Subhanallah.

Masya Allah … sungguh nikmat solat yg kita lakukan. Tak akan sia-sia orang yang menyebarkannya.

Maka sebarkanlah wahai teman-temanku. Allahuma, saksikanlah …

#Ingatan dan muhasabah buat diriku sendiri, saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku. Kita insan biasa yg sering terleka dek urusan dunia yg sentiasa menghambat kita…😭😭😭

☝🏼Dapat drp seorang  hamba Allah yg sgt mulia hatinya. Oleh itu mari kita muliakan hati kita pula dgn menghantar kpd insan yang kita sayangi. Aamin Ya Rabbal Alamin. Allahuakbar…

TIPS UNTUK ANAK-ANAK SUPAYA TAK MENYESAL BILA MAK AYAH DAH TAK ADA

TIPS UNTUK ANAK-ANAK SUPAYA TAK MENYESAL BILA MAK AYAH DAH TAK ADA

𝙼𝚞𝚑𝚊𝚜𝚊𝚋𝚊𝚑 𝙳𝚒𝚛𝚒 🔃

1. Duduk dekat atau jauh dari mak/ayah, luangkan masa sebanyak mungkin dgn depa. Call lah slalu. Skurang²nya tanya khabar depa. Jika yg mak ayah pndai wssp, rajin²lah pm/ ajak mak ayh berborak kt dlm group.

2. Mak/ayah nak atau berkenan barang² anda? Bagi! Biaq kita beli lain pun xpa..

Biasanya mak ayah kita klo nak apa² depa xkn ckp scara direct. Depa akan berkias…

Contoh: hmm.. Selesa no pakai kasut hg ni…

Haa.. Dia berkenan la maknanya tu.

3. Bagilah duit belanja kt mak ayah walaupun rm10 sebulan. Berkat tau rezki yg kita dpt bila kita berkongsi dgn mak ayh.

4. Peluk lah.. Ciumlah pipi mak ayah kita sementara depa masih ada. Bila depa dh xdak satu hari nanti, mesti kita akn rindu nak peluk cium depa.

5. Bahagiakan mak ayah selalu. Buat depa tersenyum dan senang hati. In shaa Allah doa depa utk kita akan sentiasa mengiringi.

6. Selalu² lah wefie ngan mak ayah kita. Rakamkan setiap detik terindah supaya ada gambar kenangan kita gn depa sebanyak² nya. Bila depa dah xada, gmbq² tu lah yg akan jd pengubat rindu.

7. Mak/ayah sakit? Inilah klimaks kasih syg seorang anak terhadap ibu bapa. Ikhtiarlah utk sembuhkan penyakit depa dgn apa cara skalipun slagi berlandaskan Islam. Cari ubt & cara rawatan terbaik. Masa kita kecik dulu, bintat bekas kna gigit nyamuk pun mak ayah kita kalut nk sapu ubat. Takkan kita sanggup nak tgk mak ayah tanggung sakit, kan? Kita xtahu mgkn sakit itu akan jd asbab utk depa tinggalkan kita. Kita pasti xa kan rasa terkilan skiranya hayat mak ayah kita xpanjang sbb kita dah berusaha yg terbaik utk depa.

8. Selalu mintak maaf dan memaafkan mak ayah kita walau apa sekalipun yang depa buat pada kita. Kita kena ingat, depa juga manusia biasa. Kerana jasa depa lah kita dpt tgk dunia dan jd manusia berjaya.

Kepada yg masih ada mak ayah, amalkan tips² yg sy share ni.. In shaa Allah, anda x akan menyesal kemudian hari.. 🙂

Smoga bermanfaat.

JODOH : DIPILIH ATAU MEMILIH?

JODOH : DIPILIH ATAU MEMILIH?

Pertama.

• Satu hal yang sering dilupakan oleh wanita adalah kemuliaan wanita tidak bergantung pada lelaki yang mendampinginya. Kenapa? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al-Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah isteri dari manusia yang sangat kejam, Firaun. Apakah pangkat itu mengurangi kemuliaan mereka? Tidak.

Kedua.

• Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh; akhirat, syurga, redha Allah, bukan semata-mata dunia.

Ketiga.

• Jodoh itu sudah tertulis. Tak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beza cara, beza rasa. Dan tentu saja, beza keberkatannya.

Keempat.

• Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mahu meletakkan rezeki itu dimana, itu kerja Allah. Dan jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Tentang Allah mahu mempertemukan di mana, itu kerja Allah.

Kelima.

• Cara Allah memberi jodoh bergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahawa yang baik untuk yang baik. So, jadilah yang terbaik!

Keenam.

• Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Dan yang penting, jangan expect berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan tentang pasangan.

Ketujuh.

• Salah satu cara terbaik mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat caranya dengan empat pihak; iaitu Allah, agama, keluarga, dan kawan-kawannya.

Ada lagi?

Tanyakan pada hati sendiri. Mana di antara semua faktor itu yang paling mungkin membawa kamu dan keluarga kamu ke syurga?

Ada satu perkara yang sering orang lupa tentang jodoh; iaitu jodoh bukan hanya mencari dan menunggu, tetapi ketika memang sudah waktunya, walaupun dengan apa cara dan keadaannya, dua insan itu akan Allah pertemukan. Jodoh memang rahsia; sekalipun begitu tak perlu risau menantinya, kerana janji Allah itu pasti. – Gadis Monolog.

Antara nasihat saya untuk kalian;

Buat kaum Adam yang mencari cinta Hawa.

Buat kaum Hawa yang menanti cinta Adam.

Adam, andai mahu mencari Hawa.

1. Jangan dilihat pada purdah mahupun tudung semata, kerna Hawa hari ini tidak lagi seperti dahulu. Lihatlah pada pergerakan tangannya. Andai mudah tangan lembutnya menyentuh pada lelaki lain tanpa lapik, fikirlah semasaknya untuk menyuntingnya. “Sesungguhnya memegang bulu anjing itu lebih baik dari menyentuh kulit lelaki / wanita yang boleh kita kahwini.” .

2. Jangan dilihat pada baju labuh mahupun jubahnya semata. Lihatlah pada alis bibirnya. Andai kata-katanya berbisa atau kuat suaranya, fikirlah semasaknya andai hati masih teringin menyuntingnya. Khuatir kelak dia membawa fitnah (menabur buruk) buat suami.

3. Jangan dilihat pada cantik ayu wajahnya semata. Lihatlah pada sepasang indah mata miliknya. Andai tidak redup menunduk pandangan, fikirlah semasaknya andai ingin terus menyuntingnya. Khuatir bila sudah bersuami matanya masih liar melihat segak rupa lelaki lain yang bukan bernama suami.

Hawa, andai mahu menerima Adam.

1. Jangan dilihat pada kereta mewahnya semata. Lihatlah pada aktiviti malamnya, andai liar hidupnya tika malam menjelma, fikirlah sebaiknya andai mahu menerima, kerna maksiat lebih mudah jika malam sudah tiba. Khuatir, subuhnya leka dibuai mimpi nan indah.

2. Jangan dilihat pada pakaian berjenama semata. Lihatlah pada bahagian kakinya. Andai mudah lututnya ditayangkan tatkala lincah di padang bola, fikirlah sebaiknya andai masih mahu menerima kerna aurat suami hanya selayaknya untuk isteri.

3. Jangan dilihat pada tampan semata, lihatlah pada mulutnya tika berbicara. Andai mudah menghambur carutan dan kemarahan, fikirlah sebaiknya andai masih tegar memilihnya, risau hanya kerana kesalahan kecil, isteri akan dimarah kasar.

Lelaki dan wanita hari ini tidak lagi seperti dahulu.

Tenang-tenanglah.

Semakin hebat amal dan pendekatan seseorang kepada Allah, semakin Allah sayang. Bila Allah semakin sayang, pastinya Allah nak serahkan diri kita pada jodoh yang paling terbaik. Yang akan menyayangi dan menghargai kita sepenuh hati kelak.

https://t.me/sindiransigadis

Kehidupan Setelah Kematian

Kehidupan setelah Kematian

      📚🔭🌒📖

      Kematian mengantarkan kita pada kehidupan Barzakhi, yaitu kehidupan yg berada di antara kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat.

     Al-Qur’an walau sekilas memberikan isyarat tentang alam ini :

      “Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”

         (QS 23:100)

   Barzakh adalah perantara yang menjepit kehidupan manusia.

     Dimana tidak ada kesempatan lagi bagi manusia tersebut untuk kembali ke alam dunia dan dirinya merasakan efek-efek akhirat.

      Ada dinding tebal yg memisahkan kedua kehidupan tersebut :

   “Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

       (QS 55:20)

    Ruh manusia terus berkembang naik, setelah kematiannya ia menyaksikan peristiwa-peristiwa yg belum pernah tersaksikan sebelumnya karena kesempurnaan yg ada di Alam Barzakh.

    Banyak pemikir Islam memberikan gambaran bahwa Alam Barzakh berkali lipat lebih sempurna dari Alam Dunia ini.

     Bahkan ada yg mengibaratkan sebagai berikut :

    “Perbandingan antara kehidupan dunia dengan kehidupan Alam Barzakh bagaikan perbandingan antara kehidupan Alam Rahim dengan kehidupan Dunia. Jika Alam Rahim adalah fase persiapan dan Alam Dunia adalah alam nyatanya maka demikian juga bahwa Alam Dunia merupakan alam persiapan sedangkan Alam Barzakh adalah alam nyatanya”

    Sehingga apa yg akan dirasakan manusia pada Alam tersebut berkali lipat jika dibandingkan dengan apa yg dirasakan dalam kehidupan dunia ini.

   Kerapkali Alam Barzakh juga dimaknai sebagai Alam Kubur :

   Dalam salah satu hadist disebutkan :

   “Demi Allah, Takutlah kalian terhadap Barzakh.! Aku bertanya apa itu Barzakh ? Kemudian dikatakan : al-Qubur mulai dari kematian hingga hari Kiamat”

    Seperti do’a yg diajarkan Nabi Saw :

    “Ya Allah jadikan kubur ini sebagai taman di antara taman surga dan jangan Engkau jadikan tetesan dari tetasan Neraka”

     Ini menggambarkan bahwa Alam tersebut merupakan penggambaran dan manifestasi dari Alam Akhirat.

     Penghuninya telah terbagi di antara mereka yg beriman dengan beragam kesenangannya dan mereka yg Kafir dengan beragam deritanya.

   Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan :

“Arwah orang-orang yang beriman berada di dalam kamar-kamar di surga, mereka memakan makanan, meminum beragam minuman, berziarah satu dengan lainnya dan berkata : “Duhai Tuhan kami segerakanlah kiamat bagi kami sehingga kami mendapatkan apa yg Engkau janjikan” sedangkan Arwah orang-orang Kafir berada dalam liputan api neraka jahannam dan tenggelam di dalamnya serta mereka berkata “Duhai Tuhan kami jangan hadirkan Kiamat dan jangan Engkau timpakan pada kami apa yg Engkau janjikan dan jangan pertemukan di antara kami baik yg dahulu maupun yg akan datang”

    Al-Nakhjawani dalam Tafsir Sufinya berkata :

     “Barzakh akan menggigitmu dalam ketakutan yg tak pernah kau rasakan. Karena tempat itu seluruh apa yg engkau lakukan akan di hamparkan dihadapanmu sedangkan sanak saudaramu perlahan melupkanmu”

Nabi Saw bersabda :

“Berhati-hatilah atas Alam Kuburmu karena Syafaatku hanya akan ada di akhirat kelak” 📚

         اللهم صل على محمد وآل محمد

KERANGKA PEMIKIRAN ISLAM DALAM KITAB DURR AL-FARA’ID KARYA SYEKH NURUDDIN AL-RANIRY

KERANGKA PEMIKIRAN ISLAM DALAM KITAB DURR AL-FARA’ID KARYA SYEKH NURUDDIN AL-RANIRY

Penulis menyatakan bahwa karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri (w. 1068 H/1658 M) berjudul Durr al-Fara’id bi Sharh al-Aqa’id dan dianggap sebagai karya pertamanya membuktikan sosoknya sebagai ahli kalam dan perencanaan pendidikan sebagai ulama besar di Alam Melayu.

Karya ini selesai ditulis pada tahun 1040 H (1630 M), besar kemungkinan ditulis ketika beliau masih berada di Pahang, beberapa tahun sebelum diundang untuk menjadi mufti di kerajaan Aceh Darussalam.

Kitab ini merupakan karya tentang aqidah (theology) yg khususnya adalah i’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yg meliputi dimensi ontologi, epistemologi, syariah, siyasah dan dianggap melambangkan pemikiran Melayu Islam yg sangat komprehensif.

Kitab ini merupakan terjemahan kitab Sharh al-Aqa’id al-Nasafiyyah karya Sa’d al-Din Mas’ud ibn ‘Umar al-Taftazani (w. 791 H/ 1387 M).

Namun perlu untuk diperhatikan bahwa kitab tersebut yg merupakan kitab terjemahan namun hampir setengah dari isinya bersumber dari pemikiran al-Raniri serta penyesuaian dgn konteks Alam Melayu. Karya ini dianggap dianggap mampu menggambarkan pandangan alam (worldview) umat Islam di Alam Melayu di abad ke-17 dan setelahnya.

Karya ini ditulis pada kurun tahun 1700an yg oleh Al-Attas: (1969) pada era ini Dunia Melayu didominasi karya2 teologi/ilmu kalam dan ilmu tasawwuf yg lebih berperan penting.

Ahmad Daudy menyatakan bahwa al-Raniry menulis sekitar 30 buku, meski banyak yg kini sudah tidak ditemukan lagi.

Kitab Durr al-Fara’id bi sharh al Aqa’id sebagai kitab pertama yg beliau tulis, bagi Wan Daud dan Khalif Muammar, kitab ini sengaja ditulis sebagai karya pertama karena mengingat pentingnya akidah Islam sebelum ia mengarang kitab2 mengenai hukum seperti Sirat al-Mustaqim, Bustan al-Salatin dalam bidang ketatanegaraan dan tasawuf seperti Hujjat al-Siddiq.

Kitab ini digunakan secara luas di Nusantara dalam jangka waktu yg cukup lama sepeninggal pengarangnya. Naskah terakhir yang diperoleh tertulis tanggal 1327 H/ 1909 M. Diperkirakan kitab ini dugunakan paling kurang selama 300 tahun, meski sekarang naskah ini menjadi langka.

Penulisan kitab ini yg diterima secara meluas adalah bukti nyata bahwa al-Raniri ingin umat Islam Dunia Melayu juga ikut berpegang dengan aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (ASWJ). Bagi Wan Mohd Wan Daud dan Khalif Muammar, apa yg dilakukan al-Raniri bukanlah melakukan sesuatu yang baru dan bersendirian.

Beliau ikut membawa khazanah intelektual yang sudah lama mengakar dan dipakai mayoritas umat Islam.

Durr al-Fara’id adalah karya mengenai aqidah Islam yang secara khusus membahas tentang asas2 keyakinan dan metafisika Islam, termasuk epistemologi, ilmu kalam dan falsafah kepemimpinan yg meliputi bahasan hakikat ilmu, alam, sifat2 Allah, al-Qur’an, dosa besar, konsep iman perkara2 yg menyebabkan kekufuran, mukjizat para rasul, malaikat, kitab-kitab, mi’raj Rasulullah, karamah, khilafah imamah, tanda2 kiamat, azab kubur, surga dan neraka, kedudukan orang beriman, dll.

Kitab ini dikatakan sebagai salah satu sumber pandangan alam (worldview) masyarakat dunia Melayu masa itu yg memiliki banyak persamaan dengan ummat muslim di wilayah lain.

Diketahui bahwa aqidah yg berkembang di Alam Melayu adalah aliran Asya’irah, nisbah kepada Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H/935M) yg merupakan kelompok dominan dalam Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Menariknya, karya al-Nasafi dan al-Taftazani yg dibawa dan diterima oleh muslim dunia Melayu ini beraliran Maturidiyah, yg juga merupakan aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Meski al-Raniri menegaskan mazhab dan aqidahnya, namun beliau tidak menafikan aqidah dan mazhab lain yg berada dalam kelompok Ahli Sunnah wal-Jama’ah.

Meski kitab beliau berpanduan pada Sharh al-Aqa’id an-Nasafiyyah karangan al-Taftazani, namun al-Raniri, tidak sepenuhnya mengikuti kandungan dan struktur kitab tersebut. Beliau menyesuaikan kitabnya dgn konteks yg dihadapinya pada masa itu. Beliau menambah hal2 yg dianggap perlu dan meninggalkan perkara yang tidak diperlukan oleh masyarakat dunia Melayu masa itu.

Kebijaksanaan ar-Raniri ini dinyatakan dalam penjelasannya:

“Maka kutambah ia daripada aqidah yang lain daripadanya yg muwafaqat dengan dalil dan hadist yg sepatut kuasa hamba pendapatnya.”

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Durr al-Fara’id yg merupakan terjemahan Sharh al-Aqa’id al-Nasafiyyah juga merupakan syarah (uraian) kitab tersebut.”

Dalam penulisan kitab ini, al-Raniri melihat bahwa hal yg paling utama dilakukan di alam Melayu adalah pemantapan aqidah Islam.

Masyarakat Melayu kala itu belum berhadapan perdebatan filosofis gaya ilmu kalam dan kekeliruan yg ditimbulkan dari interaksi pemikiran Islam dengan filsafat Yunani yg berdampak pada maunculnya kelompok Mu’tazilah, Khawarij dan al-Jahmiyyah, sebagaimana yang dialami oleh al-Taftazani di Timur Tengah. Maka al-Raniri bermaksud tidak ingin memberatkan muslim di alam Melayu dengan hal2 yg tidak berkaitan dgn itu.

Maka, al-Raniri hanya menegaskan hal-hal yang menjadi pegangan Ahli Sunnah wal-Jama’ah beserta alasan dan dalil2nya. Begitupun, al-Raniri turut membincangkan persoalan metafisika secara mendalam dalam karya2 berikutnya untuk menjelaskan berbagai persoalan yg timbul yg timbul di kemudian hari.

Epistemologi Islam

Epistemologi Islam membahas tentang proses untuk mendapatkan pengetahuan. Untuk mencapai ilmu dan pengetahuan, Al-Raniri menjelaskan hal2 yg menjadi sumber ilmu tersebut dalam kitab ini.

Al-Raniri memulai perbincangan dgn menerangkan falsafah ilmu (epistemologi) dalam Islam dgn mengatakan:

“Kata segala orang yg beriktikad sebenarnya: hakikat segala sesuatu itu teguh jua, artinya kebenaran segala sesuatu itu tetap dan teguh jua adanya, dan pada pengetahuan akan dia sebenarnya, artinya kita iktikadkan bahwa segala yg dilihat seperti langit dan bumi dan barang yg dalam keduanya itu yaitu jua pada penglihatan dan pada pengetahuan demikianlah sama jua pada iktikad.”

Ungkapan tersebut menjelaskan bahwa para ulama membedakan antara gologan yg benar (ahlul haq) dan golongan yang salah (ahlul bathil). Golongan benar, Ahli Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat terhadap banyak perkara dan menentang penyelewengan yg dilakukan pahk lain seperti golongan Sofis, Mu’tazilah, Khawarij, Syiah, Jahmiyyah dan yg lainnya.

Golongan ini sesuai dgn pandangan Islam menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kepastian tentang sesuatu hakikat. Baik melalui pancaindera, wahyu atau akal. Tentu kebenaran yg dicapai melalui wahyu yang benar akan lebih otoritatif karena diberikan oleh Allah.

Keberadaan wahyu ini membuat pemisahan mutlak antara ilmu Tuhan dgn ilmu manusia tidak terjadi. Wahyu dan ilmu Tuhan telah diberikan kepada Nabi dan Rasul. Ilmu manusia yg diberikan oleh wahyu ini pasti atau mutlak.

Al-Raniri juga menjelaskan kesesatan kaum sofis yg meragukan dan mengingkari wujudnya hakikat segala sesuatu:

“Adapun pada i’tiqad Sufasta’iyyah (sofis) bersalahan dgn demikian itu, tetapi kata mereka itu cita2 dan wahm dan khayal sia2 jua.

Dan lagi pula katanya segala sesuatu itu mengikut pada i’tiqad jika di i’tiqadkan pada suatu itu kekal maka yaitu kekal jua dan jika di i’tiqadkan baharu maka baharu jua. Dan lagi pula katanya segala sesuatu itu dalam syak jua dan yang syak itu tiada berputusan artinya segala suatu itu bukannya iaitu demikianlah i’tiqad Sufasta’iyyah yg amat sesat itu.”

Al-Raniri membahas tentang sumber-sumber ilmu secara mendalam, juga ketiga sumber ilmu: pancaindera, khabar shadiq (wahyu dan kabar yg benar) dan akal. Lebih lanjut beliau menjelaskan akal sebagai sumber ilmu dan bagaimana penggunaan akal yg sehat dapat mencapai keyakinan atas kewujudan Tuhan.

Ia memberi contoh; jika kita menemui sebuah mahligai di tengah padang pasar yg membuat kita terkagum akan keindahannya, tentu akan terfikir bahwa mahligai tersebut pastilah ada yg membuatnya (tukang/utas), begitu juga dengan alam semesta dan isinya yg begitu indah, yg mencerminkan kehebatan luarbiasa Penciptanya.

Mengenai kewujudan sang Pencipta, al-Raniri menjelaskan:

“utas (pencipta) itu adalah ia nyata seperti suatu yang dapat oleh budi bicara dan tiada dapat ditunjukkan perinya seperti umpama angin dan nyawa sungguhpun ia ada tetapi tidak dapat ditunjukkan perinya maka nyatalah daripada rencana itu yg menjadikan alam itu maujud sebenarnya.”

Disini al-Raniri menggunakan analogi yang tidak membutuhkan pembuktian fisik untuk meyakini kewujudan Tuhan yg dapat diterima akal sehat.

Penggunaan akal ini dicontohkan oleh al-Raniri yg menjelaskan proses berfikir yg dilalui Nabi Ibrahim:

“tatkala dilihat Ibrahim a.s. pada suatu malam akan bintang dan bulan dan pada siang matahari gelang gemilang maka kata Ibrahim a.s. inilah Tuhanku kemudia dari itu maka dilihatnya pada tiap2 sekaliannya itu lenyap dan berubah-rubah maka nyatalah tanda berubah2 itu tiadalah patut akan Tuhannya. Maka kata Ibrahim a.s. “la uhibbu al-afilin” artniya tiadalah ku kasih Tuhan yg lenyap dan berubah2 dan baharu ini.”

Disini menunjukkan bahwa pemikiran Islam yg dikembangkan oleh para ulama adalah pemikiran rasional yg saintifik dan bukan mitos atau legenda. Epistemologi Islam yg bersumber dari khabar shadiq (wahyu) pancaindera dan akal rasional membuktikan bahwa tidak ada pemisahan mutlak antara wahyu dan akal juga agama dan ilmu pengetahuan. Keduanya berfungsi dalam mebangun peradaban yg tinggi. Di sinlah letak perbedaan epistemologi Islam dan Barat.

>>>Narasumber :

Oleh: Jabal Ali Husin Sab

KEMBALILAH KEPADA ALLAH SWT…

KEMBALILAH KEPADA ALLAH SWT…

Orang yang bertaubat itu berada

di antara harapan dan ketidakutan…

di antara kebahagiaan dan kesengsaraan…

di antara keselamatan dan kehancuran…

Jika melihat api yang berkobar, gemetarlah ia kerana takut dicampakkan ke dalam Neraka…

Jika petir menyambar, terguncanglah hatinya kerana takut kepada Allah Ta’ala…

Jika melihat orang yang asyik berbuat dosa, maka ia pun menangis kerana teringat akan dosa-dosa yang pernah ia lakukan…

Jika melihat berbagai kenikmatan, ia khawatir jika kelak diharamkan dari kenikmatan Syurga…

Mereka mengecap manisnya ketaatan…

Merasakan kenikmatan dalam beribadah…

Mampu memetik kelazatan dalam setiap titisan iman dan lembutnya penerimaan…

Menjadi kurus badannya kerana sering kali berpuasa dan kedua kakinya kelelahan kerana banyaknya solat sunnah yang dikerjakan…

Ia selalu disertai rasa tidakut terus-menerus, dan tidak pernah merasa aman dari azab Allah walaupun hanya sekejap mata, sehingga Allah pun mengangkat kedudukannya di sisi-Nya…

Saudaraku, jangan melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah keagungan Allah Taala yang engkau telah bermaksiat kepada-Nya…

Jangan lebih merasa takut kepada manusia dibandingkan tidakut kepada Allah…

Jangan lebih merasa malu di mata manusia dibandingkan malu di mata Allah…

Jangan lebih berharap kepada manusia dibandingkan berharap kepada Allah…

Lisan terpelihara, tetapi hati selalu berdosa…

Lisan selalu memuji Allah, namun hati selalu berpaling dan menjauh dari-Nya…

Allah Ta’ala berfirman :

“Maka larilah (kembalilah) kepada Allah” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 50)

Lari dari hawa nafsu…lari dari maksiat…lari dari dosa-dosa…dari fitnah syahwat…lari dari syaitan…dari jiwa yang buruk…dari fitnah dunia…dari fitnah harta…dari fitnah kedudukan…dari dosa syirik…dari dosa bid’ah…dari semua itu menuju Allah…

Betapa agung dan sayangnya Allah…

Dia membiarkan hamba-Nya melakukan dosa dan kesalahan,  sedangkan Dia melihat…

Dia memberi kesempatan hamba-Nya taubat, dan tetap memberinya nikmat dan rahmat…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa melakukan kebaikan pada usia yang masih tersisa, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan keburukan pada usia yang masih tersisa, maka dia akan disiksa kerana dosa masa lalunya dan pada usia yang tersisa” (HR. Ath-Thabrani, hadits dari Abu Dzar, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3156)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Barangsiapa yang malu kepada Allah di saat dia hendak bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun malu untuk mengazabnya di saat dia berjumpa dengan Allah. Dan barangsiapa yang tidak malu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun tidak akan malu untuk mengazabnya” (Al-Jawabul Kaafi hal 170)

Create your website with WordPress.com
Get started