Category: BIMBINGAN ROHANI

BOLEHKAH KITA MENGELUH ?

BOLEHKAH KITA MENGELUH ?

Takutlah kamu untuk mengeluh dan dan takutlah dari perkataan “Seandainya, kenapa, dan bagaimana”

Karena segala sesuatu apa yang telah dan akan terjadi berjalan sesuai dengan Takdir-Nya Allah dan Qadha’ yang terdahulu dalam ilmunya Allah Swt.

Dan katakanlah yang membuat Tuhanmu Ridha :

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN

( Sesungguhnya Kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya )

Supaya engkau termasuk orang-orang yang ada pada Firman Allah Swt :

عليهم صلاوات من ربهم ورحمة وألئك هم المفلحون (١٥٧)

Artinya :

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

( Qs.al-Baqarah, 2 : 157 )

BERDAKWAHLAH DENGAN CARA LEMAH LEMBUT.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

🍁♥🍑🍑🍎🍇🌺🍉

Ali Imran, ayat 159

فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.  (ali imran: 159).

🔻 tafsir ibnu Kathir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada rasul-Nya seraya menyebutkan anugerah yang telah dilimpahkan-Nya kepada dia, juga kepada orang-orang mukmin; yaitu Allah telah membuat hatinya lemah lembut kepada umatnya yang akibatnya mereka menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, Allah juga membuat tutur katanya terasa menyejukkan hati mereka.

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ}

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159)

Yakni sikapmu yang lemah lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan oleh Allah buatmu sebagai rahmat buat dirimu dan juga buat mereka.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yaitu berkat rahmat Allah-lah kamu dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka.

Huruf ma merupakan silah; orang-orang Arab biasa menghubungkannya dengan isim makrifat, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

فَبِما نَقْضِهِمْ مِيثاقَهُمْ

Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. (An-Nisa: 155)

Dapat pula dihubungkan dengan isim nakirah, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

عَمَّا قَلِيلٍ

Dalam sedikit waktu. (Al-Mu’minun: 40)

Demikian pula dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ}

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali Imran: 159) Yakni karena rahmat dari Allah.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa begitulah akhlak Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam yang diutus oleh Allah, dengan menyandang akhlak ini. Makna ayat ini mirip dengan makna ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَيْوة، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنِي أَبُو رَاشِدٍ الحُبْراني قَالَ: أَخَدَ بِيَدِي أَبُو أمَامة الْبَاهِلِيُّ وَقَالَ: أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم فقال: “يَا أبَا أُمامَةَ، إنَّ مِنَ الْمُؤْمِنينَ مَنْ يَلِينُ لِي قَلْبُه”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad, telah menceritakan kepadaku Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa Abu Umamah Al-Bahili pernah memegang tangannya, lalu bercerita bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam pernah memegang tangannya, kemudian bersabda: Hai Abu Umamah, sesungguhnya termasuk orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya.

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

*******

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imran: 159)

Al-fazzu artinya keras, tetapi makna yang dimaksud ialah keras dan kasar dalam berbicara, karena dalam firman selanjutnya disebutkan:

{غَلِيظَ الْقَلْبِ}

lagi berhati kasar. (Ali Imran: 159)

Dengan kata lain, sekiranya kamu kasar dalam berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar darimu dan meninggalkan kamu. Akan tetapi, Allah menghimpun mereka di sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap mereka sehingga mereka menyukaimu, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Amr: Sesungguhnya aku telah melihat di dalam kitab-kitab terdahulu mengenai sifat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa beliau tidak keras, tidak kasar, dan tidak bersuara gaduh di pasar-pasar, serta tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, melainkan memaafkan dan merelakan.

وَرَوَى أَبُو إِسْمَاعِيلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ، أَنْبَأَنَا بشْر بْنُ عُبَيد الدَّارِمِيُّ، حَدَّثَنَا عَمّار بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَة، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إنَّ اللَّهَ أمَرَنِي بِمُدَارَاةِ النَّاس كَمَا أمَرني بِإقَامَة الْفَرَائِضِ”

Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Ubaid, telah menceritakan ke-pada kami Ammar ibnu Abdur Rahman, dari Al-Mas’udi, dari Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku agar bersikap lemah lembut terhadap manusia sebagaimana Dia memerintahkan kepadaku untuk mengerjakan hal-hal yang fardu.

YAKINLAH DENGAN NIKMAT PEMBERIAN ALLAH SWT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

🍁♥🍑🍑🍎.

Ali imran ayat 174-175

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (174) إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (175)

 Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka; tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman. (ali imran: 174-175).

🔻tafsir ibnu Kathir.

Karena itulah maka dalam firman selanjutnya disebutkan:

{فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ}

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran: 174)

Yakni ketika mereka bertawakal kepada Allah, maka Allah memberikan kecukupan kepada mereka dari semua masalah yang menyusahkan mereka dan menolak dari mereka rencana orang-orang yang hendak berbuat makar terhadap mereka. Akhirnya mereka kembali ke tempat tinggalnya: dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran: 174)

Yaitu bencana yang telah direncanakan oleh musuh-musuh mereka terhadap diri mereka.

{وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ}

mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali Imran: 174)

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Daud Az-Zahid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Na’im, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Hakam, telah menceritakan kepada kami Mubasysyir ibnu Abdullah ibnu Razin, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Husain, dari Ya’la ibnu Muslim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. (Ali Imran: 174) Yang dimaksud dengan nikmat ialah mereka kembali dengan selamat. Yang dimaksud dengan karunia ialah ada serombongan kafilah yang lewat pada hari-hari musim, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membelinya (dan menjualnya kembali di Madinah) hingga mendapat keuntungan yang cukup banyak, lalu beliau membagi-bagikannya di antara sahabat-sahabatnya.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka.” (Ali Imran: 173) Yang dimaksud adalah Abu Sufyan. ia mengatakan kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, “Kalian kami tunggu di Badar tempat kalian telah membunuh teman-teman kami.” Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Baiklah.” Maka berangkatlah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memenuhi janji Abu Sufyan, hingga turun istirahat di Badar dan secara kebetulan beliau menjumpai pasar yang sedang menggelarkan barang dagangannya, maka beliau berbelanja di pasar tersebut. Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. (Ali Imran; 174)

Menurutnya peristiwa ini terjadi dalam Perang Badar kecil (yakni sebelum Perang Badar Kubra).

Ibnu Jarir meriwayatkannya, dan dia meriwayatkannya pula dari Al-Qasim, dari Al-Husain, dari Hajjaj, dari Abu Juraij yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menuju tempat yang telah dijanjikan oleh Abu Sufyan, maka beliau dan para sahabatnya setiap bersua dengan orang-orang musyrik selalu menanyakan kepada mereka apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy. Maka mereka yang ditanya menjawab, ”Orang-orang Quraisy telah menghimpun pasukan untuk menghadapi kalian.” Mereka menjawab demikian dengan maksud untuk menakut-nakuti Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan pasukan kaum muslim. Akan tetapi, orang-orang mukmin menjawabnya dengan ucapan, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Hingga mereka tiba di Badar dan ternyata mereka menjumpai pasar-pasarnya dalam keadaan aman, tidak seorang pun yang menyaingi mereka.

Lalu datanglah seorang lelaki dari kalangan kaum musyrik ke Mekah dan memberitahukan kepada penduduk Mekah tentang pasukan berkuda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam ia mengatakan hal tersebut kepada mereka melalui bait-bait syairnya seperti berikut:

نَفَرَتْ قَلُوصِي مِنْ خُيول مُحَمَّدٍ … وَعَجْوَةٍ منْثُورةٍ كالعُنْجُدِ …

واتَّخَذَتْ مَاءَ قُدَيْدٍ مَوْعدي

“Unta kendaraanku menjadi lari ketakutan karena pasukan berkuda Muhammad. Dan pasukan untanya yang sangat banyak, maka aku mengambil Qadid sebagai tempat tujuanku.”‘

Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikianlah apa yang dikatakan oleh Al-Qasim. Sebenarnya hal ini keliru, Sesungguhnya yang benar adalah seperti berikut:

قَد نَفَرَتْ مِنْ رفْقَتي مُحَمَّدٍ … وَعَجْوَة مِنْ يَثْربٍ كَالعُنْجُد …

تَهْوى عَلَى دِينِ أبِيها الأتْلَد … قَدْ جَعَلَتْ مَاءَ قُدَيْدٍ مَوْعدي …

“Aku terpisah dari teman-temanku karena Muhammad, dan pasukan untanya yang dari Yasrib begitu banyak jumlahnya. Mereka membela agama ayahnya yang dahulu (Nabi Ibrahim ‘alaihissalam), maka aku menjadikan Qadid sebagai tujuanku.”

*******

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّما ذلِكُمُ الشَّيْطانُ يُخَوِّفُ أَوْلِياءَهُ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya. (Ali Imran: 175)

Yakni meneror kalian dengan kawan-kawannya dan memberikan kesan kepada kalian bahwa mereka adalah pasukan yang mempunyai kekuatan dan keperkasaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلا تَخافُوهُمْ وَخافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka; tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 175)

Jika setan menggoda kalian dan menakut-nakuti kalian dengan ilusi-nya, maka bertawakallah kalian kepada-Ku dan mohonlah perlindungan kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku pasti mencukupi kalian dan menolong kalian dari mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ [الزمر: 36] إِلَى قَوْلِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ [الزُّمَرِ: 38]

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakuti kalian dengan (sesembahan-sesembahan) selain Allah? (Az-Zumar: 36) sampai dengan firman-Nya: Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (Az-Zumar: 38)

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَقاتِلُوا أَوْلِياءَ الشَّيْطانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطانِ كانَ ضَعِيفاً

Sebab itu, perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.(An-Nisa: 76)

أُولئِكَ حِزْبُ الشَّيْطانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطانِ هُمُ الْخاسِرُونَ

Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al-Mujadilah: 19)

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Mujadilah: 21)

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (Al-Hajj: 40)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian. (Muhammad: 7), hingga akhir ayat.

نَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهادُ. يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (Al-Mu’min: 51-52)

🔺 tafsir ibnu Kathir.

C&P.

APA ITU ALLAH ?

JIKA DITANYA APA ITU ALLAH?

SOALAN :

Kalau orang tanya Allah itu apa macamana kita nak beri jawapannya?

Kadang-kadang terbayang dalam hati tuhan itu mungkin seperti kita semua cuma dia sangat berkuasa.

Macamana nak yakinkan hati apa yang terbayang itu tidak benar?

JAWAPAN :

Sebagai jawapan pertanyaan tuan ini adalah sangat sesuai dan elok saya lampirkan apa yang telah disebut oleh Syeikh Ba’lawi pada muqaddimah kitab Sullam Taufiq.

Berkata Al-Faqih Syeikh Abdullah Ba’lawi Al-Hadhrami As-Syafie :

مِنَ المُهِمِّ أَنْ يَعْرِفَ المُسْلِمُ كَيْفَ يُجِيبُ مَنْ يَسْأَلُ: “ما هُوَ اللهُ؟”، فَهَذا سُؤالٌ يَطْرَحُهُ كَثِيرٌ مِنَ الصِّغارِ، ولا يُحْسِنُ الإِجابَةَ عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الكِبارِ؛ ويُمْكِنُ إجابَتُهُ إجابَةً صَحِيحَةً بِأَنْ يُقالَ: اللهُ تَعالَى مَوْجُودٌ لا يُشْبِهُ غَيْرَهُ مِنَ المَوْجُوداتِ، فَمَهْما تَصَوَّرْتَ بِبالِكَ فَاللهُ لا يُشْبِهُ ذٰلك، ولا يَعْلَمُ أَحَدٌ غَيْرُهُ تَعالَى حَقِيقَتَهُ، ولٰكِنَّنا بِناءً على الأَدِلَّةَ القَطْعِيَّةَ نَعْلَمُ يَقِينًا عَنِ اللهِ تَعالَى أُمُورًا مِنْها:

حَقِيقَةُ اللهِ تَعالَى لَيْسَتْ كَحَقِيقَةِ أَحَدٍ غَيْرِهِ، فَلَيْسَ تَعالَى مِنْ أَفْرادِ الكَوْنِ أي العالَمِ؛

لَيْسَ اللهُ تَعالَى في أيِّ مَكانٍ أو جِهَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ ذا جِسْمٍ وحَجْمٍ وشَكْلٍ؛

لا يَحْتاجُ الله تعالى إِلى شَيْءٍ، ولا يَتَضَرَّرُ بشيءٍ، ولا يَنْتَفِعُ بِشَيْءٍ؛ لِأَنَّ لَهُ الكَمالَ المُطْلَقَ؛

اللهُ تَعالَى لا بِدايَةَ لِوُجُودِهِ، فَلَيْسَ لَهُ خالِقٌ كَغَيْرِهِ؛

اللهُ تَعالَى خالِقُ كُلِّ ما سِواهُ، أيِ كُلِّ ما في العالَمِ؛

ما أَوْهَمَتْ ظَواهِرُهُ مِنَ الآياتِ الكَرِيمَةِ والأَحادِيثِ الشَّرِيفَةِ اتِّصافَ اللهِ تَعالَى بِصِفَةٍ مِنْ صِفاتِ المَخْلُوقاتِ، كَالجِسْمِ والمَكانِ والحَرَكَةِ والسُّكُونِ، فَتَفْسِيرُهُ الصَّحِيحُ غَيْرُ ذٰلك قَطْعًا

Artinya : “Dan setengah dari perkara yang sangat penting bahawa diketahui olih orang Islam bagaimana menjawab orang yang bertanya : Apakah itu Allah?. Maka soalan ini banyak dilontarkan oleh budak-budak yang tidak dapat menjawabnya dengan baik oleh kebanyakkan orang dewasa. Dan mungkin oleh jawabnya sebagai jawapan yang sahih dengan bahawa berkata ia :

Allah itu wujud tanpa menyerupai akan selainnya dari segala yang ada ini. Maka apa sahaja yang tergambar pada hatimu maka Allah itu tidak menyerupai yang demikian itu. Dan tiada seorang jua selain Allah yang tahu akan hakikat-Nya akan tetapi kita yang berasaskan dalil-dalil yang pasti dapat kita ketahui secara yakin daripada Allah Taala beberapa perkara.

Setengah daripadanya :

Hakikat Allah itu tidak seperti hakikat selain-Nya. Maka tiadalah Allah itu sebahagian daripada alam ini. Tiadalah Allah itu pada mana-mana tempat atau arah dari kerana sungguhnya Dia bukan empunya tubuh dan badan dan bentuk.

Allah tidak memerlukan kepada suatu dan tidak termudarat oleh suatu dan tiada mengambil menafaat dengan suatu kerana sungguhnya bagi-Nya kesempurnaan yang mutlak.

Allah Taala tiada permulaan bagi wujud-Nya maka tiadalah bagi-Nya pencipta seperti lainnya.

Allah Taala yang mencipta segala sesuatu yakni segala yang ada pada alam ini.

Sekelian ayat-ayat Quran yang mulia dan hadith-hadith yang pada zahirnya memberi sangkaan bersifatnya Allah dengan satu sifat dari sekelian sifat makhluk seperti bertubuh dan bertempat dan bergerak dan diam maka tafsirannya yang sahih ialah bukan yang demikian itu sama sekali.” (Kitab Sullam At-Taufiq)

InsyaAllah inilah jawapan yang elok sebagai menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya apa itu Allah dan inilah juga perisai yang ampuh bagi menolak lintasan syaitan yang datang pada hati manusia menyerupakan Allah dengan makhluk yang tiada lain tujuannya melainkan hendak menyesatkan manusia.

wallahua’lam

ustaz azhar idrus

APABILA KITA SUDAH BERSARA.

BILA KITA BERSARA, AKAN PERGI SELAMANYA, YG MASIH BEKERJA, AKAN FIKIR BILA NAK BERSARA

Bila kita dah PENCEN;

•• Selesai sudah tugas kita puluhan tahun punya masa.

•• Tiada lagi pangkat kita.

•• Kita dah semakin tua.

•• Tak perlu lagi bekerja cari harta dunia.

•• Anak, menantu, cucu ada merata-rata.

•• Usah lah cuba berbini 2.

•• Makan dan pakai ala kadar saja.

•• Kita semakin dekat dengan kubur.

•• Orang dah tak kenal kita.

•• Kita cepat jadi pelupa.

•• Baru nak bermula cari amalan sebab dulunya kita alpa.

•• Terbayang amalan belum cukup untuk ke sana.

•• Mula dah tak suka dengan hiburan dan yang melekakan.

•• Selalu teringat kenangan kisah lama juga kawan2 lama.

•• Kita sememangnya dah tua.

••• Ingat2lah akan sampai harinya

kita akan dijemput ke sana.

Penyakit datang walaupun dijaga.

Hanya amalan akan dibawa.

Mengharap anak isteri @ suami doakan kita.

Semoga kita damai di sana.

Menanti tiba hari kebangkitan.

Amal dosa semuanya dikira.

Penentu syurga atau neraka.

PERINGATAN UNTUK DIRI SENDIRI DAN SAHABAT2. JANGAN BERKELAHI TENTANG ISU2 SEMASA YG PENTING SALING MEMAAFKAN ANTARA KITA SEBAB KITA TAK TAU BILA AJAL KITA AKAN TIBA. SEKARANG MASIH BOLEH BERWASAP BERFB, MUNGKIN ESUK DAH TIADA. C&P.

5 PESANAN NABI IBRAHIM A.S KEPADA KITA SEMUA

PESANAN NABI IBRAHIM A.S KEPADA KITA SEMUA :

Rasulullah SAW memberitahu para Sahabat; “Aku melihat ketika berjumpa dengan Nabi Ibrahim a.s., wajahnya seiras dengan wajahku dan wajahku seiras dengan wajahnya. Aku adalah cucunya.”

.

Nabi Ibrahim berkata kepada Rasulullah SAW;”Wahai Muhammad! Katakan kepada umatmu, sampaikan salam kepada mereka.”

.

Siapa yang menyampaikan salam? Nabi Ibrahim a.s. ialah seorang Nabi Ulul Azmi. Kepada siapa disampaikan salam? Sudah tentu kepada umat Nabi SAW yakni kita semua. Ada seorang nabi yang merindu kita di langit ketujuh.

Nabi Ibrahim mengatakan:

1. “Wahai Muhammad! Sampaikan salamku kepada umatmu dan katakan kepada mereka bahawa tanah syurga itu begitu subur, harum dan juga mewangi.

2. “Katakan kepada mereka bahawa kelazatan syurga itu sangat indah, kebun-kebun di syurga lapangannya sangat indah.

3. “Katakan kepada umatmu agar menanam seberapa banyak pohon syurga supaya ia bertambah indah, dan katakan kepada mereka bahawa pohon-pohon itu ialah ucapan:

“Subhanallah wal hamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar wa la haulawala quwwataillah billahil aliyil azhim.’

4. “Beritahu kepada umatmu supaya memperbanyakkan ucapan tersebut kerana dengan sekali ucapan Subhannallah, maka satu pohon syurga telah ditanam, sekali ucapan alhamdulillah, satu lagi pohon ditanam di syurga.”

5. Seorang yang mempunyai tanah, manakah satu yang dia suka? Adakah tanah yang lapang dan tidak mempunyai apa-apa? Ataupun tanah yang mempunyai kebun-kebun dengan tanaman pohon yang rendang, yang indah dengan keindahan sungai yang mengalir di tepi-tepi pohon? Inilah keindahan syurga.”

– Ustaz Iqbal Zain al jauhari –

AMALAN YG BOCOR

AMALAN YG BOCOR

@ Kita ambil wuduk dgn sempurna tapi membazir air. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita solat, sedekah, baca Al Quran, pergi menunaikan haji dan umrah banyak kali tapi kita sering memfitnah atau mengumpat orang. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita memberi banyak sedekah dengan belanja kawan dan orang miskin tapi kita bangga diri dan riak. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita bangun tahajud, berpuasa dan taat kepada ALLAH tapi kita putuskan tali silaturrahim dengan keluarga dan orang yang kita benci. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita kuat beramal membaca Al Quran, berzikir pagi dan petang tapi kita selalu menyakiti hati jiran tetangga, saudara mara dan sahabat handai serta selalu lepas cakap hingga menyingung perasaan mereka. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita berhias-hias pakai cantik-cantik dengan wangian semerbak bukan untuk isteri atau suami malah kepada org lain, atau jika kita belum berkahwin berbuat demikian dengan tujuan memikat. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita muliakan tetamu malah kita juga suka memberi tapi kita suka memburuk-buruk tetamu dibelakangnya dan mengungkit pemberian. ia umpama bekas yang BOCOR.

@ Kita berkorban masa, wang ringgit dan tenaga demi anak-anak, suami atau isteri tapi kita sering merungut sehingga membuatkan mereka merasa serba salah. ia umpama bakes yang BOCOR.

@ Kita kerap berdoa mohon keampunan tapi bila diuji dengan kesakitan, kesusahan dan kesempitan lalu kita merungut menyalahkan kenapa ALLAH jadikan hidup kita terseksa begini. ia umpama bekas yang BOCOR.

Marilah kita segera sedar bahawa segala amal baik umpama terisi dalam bekas.

Jangan diBOCORkan bekas itu Jangan diBOCORkan pahala baik disebabkan perbuatan buruk

Jangan sampai kita jadi orang yang MUFLIS dihadapan ALLAH SWT di akhirat kelak.

Aamiin…

7 PEDOMAN meraih KEBAHAGIAAN

7 PEDOMAN meraih KEBAHAGIAAN

1 -لَا تكْرَه أَحَدا مهما أَخْطَأ فِي حَقِّك

1.Jangan membenci siapapun sekalipun ia melanggar hakmu.

2 -لَا تَقْلَق أَبَدا مَهْمَا بَلغْت الْهُمُوْم

2. Jangan panik meski penderitaanmu sedang besar.

3 -عِش فِي بَسَاطَة مَهْمَا عَلَا شَأْنُك

3. Hiduplah sederhana meski statusmu tinggi.

4 -تَوَقَّع خَيْرَا مَهْمَا كَثُر الْبَلَاء

4. Berharaplah kebaikan walaupun engkau sedang ditimpa bencana bertubi2.

5 -أعْطِ كَثِيْرَا و لَو حُرِمْت

5. Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan.

6 -ابْتَسِم و لَو الْقَلْب يَقْطُر دَما

6. Senyumlah meski hatimu mengucurkan darah {karena derita}

7 -لَا تَقْطَع دُعَاءَك لِأَخِيْك الْمُسْلِم بِظَهْر الْغَيب

7. Jangan hentikan doamu untuk saudaramu sesama Muslim meski ia tidak sedang bersamamu {di luar sepengetahuannya}

Untuk Apa Kita Menangis ?

°°KARENA APA ENGKAU MENANGIS°°

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan…

Menangis karena Allah terjadi manakala seorang hamba melihat kelalaian pada dirinya, atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk…

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata,

🕋 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثَةٌ لاَ تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ: عَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللهِ, عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ, وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ

“Tiga golongan yang mata mereka tidak akan melihat Neraka, mata yang berjaga-jaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan oleh Allah”

(📖HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.1231)

Wahai Saudaraku…

Air mata apakah yang selalu menetes darimu…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan siksa kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan Surga dan Neraka Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta yang dikeluarkan untuk sedekah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di berbagai majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum shubuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?

Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Wahai Saudaraku…

Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit…

Datangilah majelis tangis…majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat…

majelis yang dapat menyuburkan iman dan takwa…

majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah…

majelis yang dibacakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…yang semua itu menyebabkan air matamu berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Tetapi janganlah engkau tertipu dengan tangisan pelaku kebid’ahan dan kesesatan, meskipun terlihat darinya kekhusyu’an dan banyaknya ibadah…

🕌 Imam al-Auza’i rahimahullah berkata :

بلغني أن من ابتدع بدعة ضلالة آلفه الشيطان العبادة، أو ألقى عليه الخشوع و البكاء كي يصطاد به، كما نقل عن الخوارج

“Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa yang melakukan sebuah bid’ah yang sesat, maka syaitan pun akan menjadikannya semangat beribadah, atau menjadikannya khusyu’ dan banyak menangis, agar syaitan bisa menjerat korban lain melalui orang tersebut (membelanya dan menjadi pengikutnya), sebagaimana telah diriwayatkan tentang keadaan kelompok Khawarij”

(📖Al-I’tisham I/22)

Ya Allah, jadikanlah tangisan kami di atas ridho-Mu yang dapat mendatangkan ampunan…

Amalan – amalan Pada Masa Tua

Amalan amalan pada masa Tua

Setiap manusia dinilai dengan akhir kehidupannya, apakah menutup hidupnya dengan kebaikan atau keburukan.

Maka, pada masa tua, atau seiring usia bertambah, seyogyanya seseorang semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan dunia dan menyadari untuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal hal membuatnya merugi, lantaran kematian bisa datang setiap hari, tanpa menunggu kita bertaubat dan mensucikan amalan dan hati.

Berikut Ini Ringkasan Petunjuk Amalan Bagi Orang Yang Sudah Tua:

1. Lebih memperhatikan amalan-amalan wajib, sebab, ibadah-ibadab yang bersifat wajib (fardhu) merupakan kewajiban yang bersifat individual yang harus ditegakkan sendiri sendiri oleh setiap Muslim dan Muslimah hingga ajal datang, selain itu, amal amal wajib adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla .

2. Menghindari hal-hal yang diharamkan oleh syariat.

3. Menambah amalan amalan sunnah.

4. Banyak bertahmid, membaca istighfar dan bertaubat.

5. Bersedekah.

6. Memperbanyak amal amal ringan, tapi berpahala besar, seperti berdzikir dan membaca shalawat.

7. Rutin membaca dzikir pagi dan sore, membaca dzikir pagi dan sore ditekankan di sini, karena secara umum itu merupakan rutininas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apalagi, banyak keutamaan yang termuat dalam dzikir pagi dan sore, di antaranya: terhindar dari godaan setan, amalan ringan berpahala besar, husnul khatimah, memperoleh syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan lain lain.

8. Tetap aktif dalam thalabul ilmi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً

Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya  hingga mencapai 60 tahun  

[HR. Al-Bukhari no.641]

“Bila seseorang dipanjangkan usianya hingga 60 tahun,  sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menegakkah hujjah atas dirinya dan menolak adanya alasan alasan”.

“Sebab dalam kurung waktu 60 tahun seseorang dipanjangkan usianya selama itu, ia dapat mengetahui ayat-ayat Allah, apalagi bila seseorang hidup di negeri Islam, tidak diragukan lagi, masa yang panjang ini menyebabkan seseorang tidak punya alasan lagi untuk membela diri bila berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla “.

Maka, dengan tetap menghadiri majlis ilmu, ia bisa mengejar ketinggalan bila di masa mudanya acuh tak acuh dengan ilmu dan amal shaleh. Ilmunya menjadi bertambah dan otomatis ada kesempatan untuk mengamalkan ibadah ibadah tertentu yang belum diketahui sebelumnya, dan jika ajal dating kepadanya, ia dalam keadaan yang lebih baik, berada di majlis ilmu, mengulang ulang ilmu atau mengamalkan ilmu.

9. Rutin membaca Al-Quran dan mentadaburinya, membaca Al-Quran menjadi salah satu lumbung pahala bagi orang yang rutin membacanya.

Selain itu, kandungan Al-Qur`an yang ia renungi akan meningkatkan keimanannya terhadap kebesaran Allah Azza wa Jalla.

10. Berpesan kepada anak anak dan keturunan agar menjadi shaleh dan shalehah, gemar mendoakan orang tua baik saat masih hidup atau setelah meninggal, dan membantu mentalqin orang tua ketika akan meninggal. 

https://t.me/cahayasunnah

Demikianlah uraian ringkas tentang menyikapi masa tua yang akan mendatangi setiap manusia.

Intinya, dengan mengisi masa tua dengan amal amal shaleh dan menjalin kedekatan yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla , bukan dengan lari dari kenyataan yang datang, juga bukan dengan melawan ketua’an, karena usaha apapun untuk melawan fase tua hanya akan sia sia belaka.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ