Design a site like this with WordPress.com
Mulakan

ORANG YANG PALING LETIH

ORANG YANG PALING LETIH 💧💦🔥

Orang yang paling lelah, capai dan letih adalah orang yang hidupnya hanya mengejar dunia dan berambisi untuk meraihnya. Karena dunia itu, semakin dikejar, semakin dia berlari. Setiap kali dia memperoleh satu nikmat, maka jiwanya akan meronta untuk memperoleh lagi kenikmatan yang lebih besar. 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

لا تجد أتعب ممن الدنيا أكبر همه وهو حريص بجهده على تحصيلها.

“Kamu tidak akan dapati orang yang paling letih, dari orang yang dunia menjadi tujuan terbesarnya dan sangat berambisi untuk meraihnya dengan segenap kemampuannya.” (Ighatsatul Lahafan, I/36). 

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, 

محب الدنيا لا ينفك من ثلاث : هم لازم و تعب دائم و حسرة لا تنقضي و ذلك أن محبها لا ينال منها شيئا إلا طمحت نفسه إلى ما فوقه كما في الحديث الصحيح عن النبي ـ صلى الله عليه و سلم ـ : “لو كان لابن آدم واديان من المال لابتغى لهما ثالثا”

Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: KESEDIHAN (kegelisahan) yang terus-menerus, KECAPAIAN (keletihan) yang berkelanjutan, dan KERUGIAN  yang tidak pernah berhenti, sebab setiap kali dia memperoleh satu nikmat maka jiwanya akan meronta untuk memperoleh lagi kenikmatan yang lebih besar. Berkata Nabi-sallallahu alaihi wa salam-seandainya anak Adam telah memiliki dua lembah emas,niscaya ia akan ambisi memiliki lembah emas lainnya”. (Igatsatul Lahafan 87).

Bahkan hidupnya akan terus disibukkan dengan berbagai macam urusan. Waktunya habis tercurahkan untuk mengejar dunia. Istirahatnya kurang, tidur pun sedikit, bahkan tidak bisa tidur sama sekali.

Berkata Al Hasan Al Bashri Rahimahullah, 

إياكم وما شغل من الدنيا، فإن الدنيا كثيرة الأشغال، لا يفتح رجل على نفسه باب شغل إلا أوشك ذلك الباب أن يفتح عليه عشرة أبواب

“Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia itu sangatlah menyibukkan. Tidaklah seseorang membukakan satu pintu kesibukan untuk dirinya, melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.” (Hilyatul Auliyaa’, II/153). 

MEREKA YANG MEMBAWA SIAL ⁉️

MEREKA YANG MEMBAWA SIAL ⁉️

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/09/orang-pembawa-sial.html

Ada seseorang, tidak mau mengikuti adat istiadat di kampungnya, yang bertentangan dengan syariat padahal orang tuanya ini pemangku adat di daerah itu. 

Akhirnya, setiap kejadian musibah yang menimpa orang kampungnya, dilimpahkan padanya. Ada orang celaka, ada orang sakit dan yang lainnya, orang kampung mengatakan, “Itu gara-gara si pulan yang tidak mau mengikuti adat.” 

Hal seperti itu pun pernah terjadi di zaman Nabi Musa alaihissalam, mereka orang-orang kafir menuduh, bahwa segala kesialan yang menimpa itu akibat Musa. Padahal musibah, bencana, kekeringan, paceklik dan apa saja yang menimpa itu merupakan ketetapan Allah Ta’ala, bukan karena Musa alaihissalam. 

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُون

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

Dan jika mereka ditimpa kesusahan. (Al-A’raf: 131)

Yakni kekeringan dan paceklik.

Mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. (Al-A’raf: 131)

Maksudnya, hal tersebut terjadi karena ulah Musa dan para pengikutnya serta apa yang dibawa oleh mereka.

Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah. (Al-A’raf: 131)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah (Al-A’raf: 131) Yakni musibah yang menimpa mereka itu berdasarkan ketetapan dari Allah. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-A’raf: 131). (Tafsir Ibnu Katsir). 

Keyakinan masyarakat jahiliyah di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga seperti itu. Mereka menyakini ada sesuatu yang membuat sial atau untung. Ada hari baik, ada hari sial, ada bulan baik ada bulan sial. Ada burung hantu, itu pertanda sial. Burung terbang ke arah kanan, ini keberuntungan, kalau terbang ke arah kiri, ini kesialan, tabrak kucing, ini kesialan dan lain sebagainya. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر،

Tidak ada adwa (penularan penyakit. kecuali atas kehendak Allah), tidak ada thiyarah (merasa bernasib sial atau nasib buruk), tidak ada hamah (merasa bernasib sial apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah) dan tidak ada shafar (orang-orang beranggapan bahwa bulan tersebut adalah bulan sial). (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyakini bahwa sesuatu itu membawa sial atau keberuntungan, itu namanya tathayyur. Dan tathayyur adalah suatu kesyirikan. 

Berkata An Nawawi rahimahullah rahimahullah, 

والتطير: التشاؤم، وأصلُهُ الشيءُ المكروه من قول، أو فعل، أو مرئي

“At tathayyur adalah merasa sial, dan dasarnya sesuatu yang dibenci, baik berupa perkataan, perbuatan atau sesuatu yang dilihat” (Syarah Shahih Muslim, 4/2261). 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah (merasa sial atau meramal ada kesialan) itu SYIRIK, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Bukhari di  Al-Adabul Mufrad dan Abu Daud).

Seseorang mengurungkan pernikahannya, mengurungkan kepergiannya, dan apa saja karena anggapan ada tanggal sial, hari sial, bulan sial dan sesuatu apa saja yang menjadikannya mengurungkan niatnya,  maka ini pun jatuh pada kesyirikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah (merasa sial atau meramal ada kesialan), maka ia telah berbuat syirik.” 

Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (penyebab sial atau untung) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” ( HR. Ahmad. Berkata Syaikh Ahmad Syakir  : Hadits Shahih).

Bertawakkal dan berserah dirilah kepada Allah Ta’ala dan mesti siap menerima dengan apa yang Allah Ta’ala tetapkan dan kehendaki, baik kebaikan maupun keburukan kalau mengaku beriman dengan qadha dan qadarnya Allah Ta’ala. 

KEBODOHAN TERSEBAR DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT

KEBODOHAN TERSEBAR DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT 🔴

Jika ilmu agama tersebar di suatu daerah atau ditengah-tengah masyarakat, maka akan sedikit keburukan di daerah tersebut. Berkurang maksiat, kebid’ahan dan kesyirikan. Namun sebaliknya jika kebodohan terhadap agama merata hampir diseluruh daerah dan segenap masyarakat, maka yang akan timbul keburukan dan kerusakan. Kemaksiatan, kebid’ahan dan kesyirikan merajalela. 

Berkata Syekh Utsaimin rahimahullah, 

« إذا فُقد العلم حلّ الجهل محله ، وإذا حلّ الجهل فلا تسأل عن حال الناس » . [ القول المفيد (٣٩٥/١) ]

Apabila ilmu itu hilang, kebodohan itu muncul di tempatnya dan apabila kebodohan itu muncul, maka jangan kamu tanya bagaimana kondisi masyarakat. (Al Qaulul Mufid 1/395). 

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah,

فَمَا خَرَابُ الْعَالِمِ إلَّا بِالْجَهْلِ، وَلَا عِمَارَتُهُ إلَّا بِالْعِلْمِ، 

Maka tidaklah runtuh kepandaian kecuali karena kebodohan dan tidaklah terbangun (kepandaian) kecuali dengan ilmu. 

وَإِذَا ظَهَرَ الْعِلْمُ فِي بَلَدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قَلَّ الشَّرُّ فِي أَهْلِهَا،

Apabila ilmu (agama) tampak (tersebar) disuatu negeri atau suatu kampung, sedikit keburukan pada penghuninya (masyarakatnya).

وَإِذَا خَفَى الْعِلْمُ هُنَاكَ ظَهَرَ الشَّرُّ وَالْفَسَادُ. 

Apabila ilmu (agama) sepi (tidak tersebar) disana, keburukan dan kerusakan akan tampak. 

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ هَذَا فَهُوَ مِمَّنْ لَمْ يَجْعَلْ اللَّهُ لَهُ نُورًا». إعلام الموقعين (٥٦٩/٣)

Dan barangsiapa tidak mengetahui hal ini, maka dia termasuk orang yang tidak Allah jadikan cahaya baginya. (I’lamul Muqi’in 3/569)

Adil itu hanya nyata bila dibangun di atas iman dan taqwa. ✅

Adil itu hanya nyata bila dibangun di atas iman dan taqwa. ✅

Menunggu keadilan dari orang yang tidak beriman dan bertaqwa apalagi dengan anggapan bahwa mereka akan suka rela memberikannya kepada anda, bagaikan menanti tumbuhnya jamur di musim kemarau.

Kawan! Tegakkan kepala anda dengan iman dan taqwa, sehingga tidak pernah menunduk di hadapan selain Allah, niscaya saat itu anda dapat mewujudkan mimpi menegakkan keadilan kepada semua orang, yang beriman kepada Allah, maupun yang tidak beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan karib kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An Nisa’ 135)

Bagi ummat Islam, keadilan adalah tuntutan iman, bukan kepentingan politik atau organisasi atau perdagangan.

Janji gombal para pemuja kepentingan pribadi atau golongan atau suku, terbukti selalu diingkari. 

Darah dan harta Saudara kita di india, palestina, cina dan bahkan di negri eropa atau amerika yang dianggap sebagai kiblat kebebasan dan keadilan, terus berkisah dengan fasih tentang kepalsuan janji janji mereka.

Yahudi Khaibar menjalin kerjasama “penggarapan lahan pertanian” dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Mereka yang mengelola, dan hasilnya dibagi dua bersama pemilik kebun, yaitu Nabi   shallallahu alaihi wa sallam dan kaum musimin.

Menjelang musim panen tiba, Rasul shallallahu alaihi wa sallam mengirim sahabat  Abdullah bin Rawahah Radhiallahu anhu untuk menaksir bagi hasil yang akan didapat.

Setiba di Khaibar, kaum Yahudi bermaksud MENYUAP Abdullah bin Rawahah, agar dia memberikan prosentase ke Yahudi lebih banyak. Tentu saja Sahabat yang mulia itu menolak keras, lalu ia berkata kepada mereka:

والله إنكم لمن أبغض خلق الله إليَّ، وما ذاك بحاملي على أن أحيف عليكم، فأمَّا ما عرضتم من الرشوة فإنها سحت، وإنَّا لا نأكلها.

Sungguh demi Allah kalian adalah makhluq makhluq Allah yang paling aku benci, namun demikian kebencianku kepada kalian tidak menjadikanku berbuat curang kepada kalian. 

Adapun tawaran suap yang kalian sampaikan, maka itu haram dan kita tidak sudi menerimanya. (Riwayat Imam Malik dll)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dan memerintahkan agar kita berbuat adil,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).

Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al Maidah: 8).

Jadi, yuk satukan barisan satukan iman dan amalan, agar kepala kita tetap tegak kecuali di hadapan Allah semata, sehingga kita mampu menegakkankan keadilan bagi semua ummat manusia bukan mengemis keadilan kepada orang lain.

Allah Melihat Kejahatan Kita

Allah Melihat Kejahatan Kita

=========

1. Ketika Abu Jahal merancang untuk menghalang dan memijak tengkuk Rasulullah yang sedang solat, Allah memelihara Baginda dengan mendatangkan malaikat yang mengawalnya. Sehingga Abu Jahal berundur dan Qurasyh terkejut melihat kelakuan Abu Jahal tersebut. Lalu Qurasyh bertanya, mengapa engkau mundur dari memijak lehernya? Abu Jahal menjawab:

فَقَالَ إِنَّ بَيْنِي وَبَيْنَهُ لَخَنْدَقًا مِنْ نَارٍ وَهَوْلًا وَأَجْنِحَةً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا

(Aku melihat tiba-tiba) Ada di antara aku dan dia parit dari api, huru-hara dan banyak sayap. Rasulullah bersabda: “Andai dia mendekatiku, malaikat akan menyambar anggota badannya satu persatu.” (HR Muslim)

2. Menurut al-Imam al-Tabari, peristiwa ini menyebabkan turunnya ayat-ayat yang mencela kejahatan Abu Jahal sehingga Allah menurunkan ayat yang menyebutkan:

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

Tidakkah dia mengetahui bahawa Allah melihat (segala amal perbuatannya dan membalasnya)? (Tafsir al-Tabari & Muharrar fi Asbab al-Nuzul)

3. Insiden ini memberi kita pengajaran bahawa setiap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang itu akan sentiasa diperhatikan oleh Allah. Malah ayat ini turut mengingatkan bahawa Allah sentiasa memerhatikan kelakuan jahat manusia sekalipun dilakukan dalam keadaaan tersembunyi.

4. Ini kerana manusia suka melakukan maksiat secara bersembunyi. Baginda Nabi pernah menjelaskan tabiat ini dalam sabdanya yang berbunyi:

وَالإِثْمُ مَا حاكَ في نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Dan dosa maksiat itu adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka orang melihatnya.” (HR Muslim)

5. Oleh yang demikian, renungi ayat ini sebaik-baiknya. Tampallah ia di dalam bilik sekiranya perlu untuk mengingatkan kita bahawa Allah sentiasa memerhati kelakuan kita.

Semoga Allah membimbing kita.

Membiasakan Yang betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah سُبْحَانَ اللَّهِ

Membiasakan Yang betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah  سُبْحَانَ اللَّهِ

Kalimah  سُبْحَانَ اللَّهِ  (SUBHANALLAH)

Ertinya: Maha Suci Allah

Zikir bacaan tasbih سُبْحَانَ اللَّهِ  (Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.

Subhanallah yang tepat adalah ketika seseorang menyaksikan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan Allah, maka seseorang dianjurkan untuk mengungkapkan “Subhanallah” atau Mahasuci Allah. Tujuannya adalah untuk menyucikan Allah dari berkurangnya keagungan-Nya, Mahasuci Allah dari sifat-sifat kekurangan.

Rasulullah SAW, hairan dengan kesalahfahaman sahabatnya, kemudian baginda menyatakan, Subhanallah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ وَهْوَ جُنُبٌ فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ : كُنْتُ جُنُبًا فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ.

Daripada Abu Hurairah RA, suatu ketika Rasulullah SAW bertemu dengannya di sebuah jalan di Madinah, ketika itu Abu Hurairah dalam keadaan junub. “Kemudian aku bersembunyi dari Rasulullah, lalu beliau pergi dan mandi kemudian menemuinya kembali.” Baginda bertanya: “Kamu ke mana tadi wahai  Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Aku tadi sedang junub, dan aku tidak selesa duduk bersamamu dalam keadaan tidak suci (junub).” Jawab Abu Hurairah. Kemudian Rasulullah bersabda: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis.” (HR Bukhari No: 283)

Contoh yang lain apabila kita merasa hairan bila ada orang yang masih tak menunaikan solat lagi walaupun waktu solat telah berlalu: “Subhanallah, awak belum solat lagi?” atau “Subhanallah, kenapa boleh jadi macam tu?”

Dalam solat, untuk menegur kesalahan imam, maka makmum lelaki dianjurkan untuk menggunakan ungkapan Subhanallah. Di satu sisi makmum ingin menunjukkan kesalahan imam, di sisi yang lain makmum ingin mengagungkan Allah dari sifat lalai.

Perintah untuk bertasbih kepada Allah adalah bentuk menyucikan Allah dari segala macam kekurangan dan keburukan (di satu sisi), dan menetapkan kesempurnaan sifat yang dimiliki Allah (di sisi lain) dengan begitu tasbih bererti menyucikan dan mengagungkan Allah.

Di dalam tasbih juga terdapat ta’zhim (mengagungkan Allah), maka disebutkan di dalam Ithaf al-Kiram, bahawa ungkapan Subhanallah digunakan dalam dua keadaan, yang pertama adalah pengingkaran (atau hairan) yang kedua adalah untuk kekaguman (ta’ajjub).

Kalimah ini biasa juga diucapkan ketika melihat sesuatu perkara yang  hebat dan menakjubkan. Contohnya ketika kita melihat orang yang tidak cedera walaupun terlibat di dalam kemalangan yang teruk.

Kalimah Tasbih ini termasuk zikir yang dianjurkan kepada setiap Muslim. Baginda SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.

Daripada Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan namun berat timbangan (pahala) nya, dan dicintai oleh Allah, yakni subhaanallah al-adzim subhaanallah wabihamdihi.” (HR. Ibnu Majah No: 3806)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْر.

Daripada Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca subhanallah wa bihamdih seratus kali dalam sehari, maka akan dihapuskan kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Bukhari No: 6405).

Amalkan yang sahih dan biasakan yang betul.

Membiasakan Yang betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah  مَا شَاءَ ٱللَّهُ

Membiasakan Yang betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah  مَا شَاءَ ٱللَّهُ

Kalimah  مَا شَاءَ ٱللَّهُ  (MA SYAA ALLAH)

Ertinya : Apa Yang Allah Kehendaki

Kalimah ini diucapkan untuk perkara yang menggambarkan keindahan, ketakjuban yang positif terhadap sesuatu perkara. Sebagai contoh, kejayaan seseorang dalam pelajarannya atau bidangnya.

“MasyaAllah, hebatnya dia dapat 20 A1 dalam SPM”

Ungkapan “Masyaallah” diperuntukkan ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang indah, menakjubkan, atau yang luar biasa, maka seseorang dianjurkan untuk mengucapkan “Masyaallah”. Ia berdasarkan kepada firman Allah SWT:

وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا ٣٩

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ayat di atas memberikan gambaran bahawa ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan seperti kebun yang indah, rumah yang cantik, bayi yang comel maka ungkapan yang tepat adalah masyaallah.

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahawa sebahagian ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang merasa kagum pada sesuatu, misalnya keadaan dirinya sendiri, hartanya atau anaknya, maka hendaklah ia berkata: “Masyaallah, la haula wala quwwata illa billah“.

Rasulullah SAW menjelaskan:

 ما أَنْعَم اللهُ تعالى على عَبدٍ نعمةً مِن أهلٍ ومالٍ وولدٍ فيقول: “ما شاء اللّهُ لا قُوَّةَ إلَّا بالله” فيرى فيه آفةً دُونَ المَوتِ

“Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba, baik berupa keluarga, harta atau pun anak, lalu ia mengucap: “Masyaallah, la quwwata illa billah” melainkan orang tersebut tidak akan mendapatkan musibah apa pun kecuali kematian”, (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Anas ibn Malik RA).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa ucapan “masyaallah la quwwata illa billah” untuk sesuatu yang menakjubkan pada diri, anak dan harta kita sendiri.

Disebutkan pula bahawa ketika imam Malik memasuki rumah, beliau mengucapkan masyaallah, ketika ditanya beliau mengatakan bahawa yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Kahfi ayat 39.

Kalimah MasyaAllah seringkali digandingkan dengan laa quwwata illa billah (tidak ada kekuatan kecuali dengan kehendak Allah) sebagaimana dalam surah al-Kahfi di atas, menunjukkan bahawa segala sesuatu jika sudah dikehandaki oleh Allah pasti akan terjadi kerana tidak ada kekuatan kecuali atas kehendak Allah.

Daripada Abdillah bin Amir bin Rabiah, bahawa Nabi SAW bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Apabila kalian melihat ada sesuatu yang mengagumkan pada saudaranya atau dirinya atau hartanya, hendaknya dia mendoakan keberkatan untuknya. Kerana serangan ain (penyakit ain) itu benar. (HR. Ahmad 15700, Bukhari dalam at-Tarikh 2/9 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apabila kita melihat kelebihan nikmat yang ada pada seseorang seperti melihat bayi atau kanak-kanak yang comel, maka ucapkan kalimah:

  مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ 

kerana ia boleh menghindari seseorang mendapat penyakit “ain” atau sumpahan mata.

Di samping bacaan di atas, kita dianjurkan untuk mendoakan keberkatan untuknya dengan mengucapkan, بَارَكَ اللهُ فِيْكَ  semoga Allah memberkati mu.

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah:  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah:  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kalimah:  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ  (LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH)

Ertinya : Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan kehendak Allah.

Zikir ini disebut al-Hawqalah.

Diucapkan apabila melihat perkara-perkara yang tidak disukai ataupun apabila kita tidak terdaya atau berkemampuan untuk melakukan sesuatu.

Zikir kalimah ini merupakan kalimah isti’anah (memohon pertolongan) bukan kalimah istrija’ (ucapan innaa lillahi wainnaa ilaihi roji’un). Dianjurkan membaca zikir ini ketika meminta pertolongan kepada Allah SWT bukan dibaca ketika ditimpa musibah. (Lihat: AI-Istiqomah 2/81).

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Makna Ungkapan al-Hawqalah: Tiada keupayaan bagi kami untuk melakukan ketaatan melainkan dengan (bantuan dan kehendak) dari Allah, dan tiada kekuatan bagi kami untuk menjauhi kemaksiatan melainkan dengan (bantuan dan kehendak) dari Allah.” (Ibn ‘Abbas dalam al-Durr al-Mathur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur oleh al-Suyuthi 5/393)

Ungkapan zikir ini berupa pelengkap hidup seseorang muslim. Orang yang menyebutnya bererti mengaku, dia tidak memiliki sebarang keupayaan dan kekuatan sama ada untuk mendapatkan apa-apa kebaikan atau menolak apa-apa keburukan, tiada sebarang upaya untuk mengelak maksiat dan melakukan ketaatan, tiada upaya untuk membebaskan diri dari sebarang penyakit dan berada dalam keadaan sihat, tiada upaya untuk bebas dari lemah kepada memperolehi kekuatan, hatta dia tiada upaya melaksanakan sesuatu di dalam hidupnya, melainkan dengan bantuan dan kehendak dari Allah Yang Maha Agung.  

Zikir kalimah al-Hawqalah ini mempunyai kelebihan. Dalam hadis Abu Musa al-Asy’ari RA ia sebagai perbendaharaan Syurga:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُوْنَ فِيْ التَّكْبِيْرِ فَقَالَ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم-:”أَيُّهَا النَّاس ارْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُوْنَ أَصُمَّ وَلَا غَائِبًا ولكن تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا بصيرا ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُول فِيِ نَفْسِي: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ! قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

Maksudnya: “Kami dahulu pernah bersama dengan Nabi SAW (dalam suatu permusafiran). Orang ramai bertakbir dengan kuat. Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai kalian semua, kasihanilah diri kami sendiri, sesungguhnya kamu semua bukan memohon kepada zat yang pekak dan jauh, sebaliknya kamu semua berdoa kepada tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha memerhatikan. Kemudian baginda datang kepadaku, ketika itu aku membaca

 لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Baginda bersabda kepadaku: “Wahai ‘Abd Allah bin Qais, ucapkanlah:

 لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kerana sesungguhnya ia adalah salah satu perbendaharaan (harta bernilai yang tersimpan) di dalam syurga.” (HR Bukhari, No: 6384)

Berkata Imam Nawawi, “Makna perbendaharaan di sini adalah simpanan pahala di Syurga yang sangat berharga, seperti simpanan harta kalian yang paling bernilai.” (Syarah Sahih Muslim 17/26).

Kalimah zikir ini juga menjadi pelindung dari Syaitan berdasarkan hadis Anas bin Malik RA, Nabi SAW bersabda:

إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: فَقَالَ: بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا باللَّهِ فَيُقَالُ لَهُ: حَسْبُكَ قَدْ كُفِيتَ وَهُدِيتَ وَوُقِيتَ فَيَلْقَى الشَّيْطَانُ شَيْطَانًا آخَرَ فَيَقُولُ لَهُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ كُفِيَ وَهُدِيَ وَوُقِيَ

Maksudnya:  “Apabila seseorang itu keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

 بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا باللَّهِ 

akan dikatakan kepadanya: “memadai bagimu, sesungguhnya kamu telah dikurniakan kecukupan, hidayah dan perlindungan.” Lalu satu syaitan bertemu dengan syaitan yang bekerja menyesatkan orang itu seraya berkata: “Bagaimana kamu (hendak menyesat dan mengganggu) orang itu yang telah diberi kecukupan, hidayah dan perlindungan?” (HR Abu Daud No: 4249) Status: Hadis Sahih.

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا 

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا 

Kalimah: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا  (JAZAKALLAHU KHAIRAN)

Ertinya : Semoga Allah membalas jasa baikmu itu dengan kebaikan

Bersyukur atas nikmat dari Allah adalah sebuah kewajiban seorang hamba. Barangsiapa yang mensyukuri nikmat yang diperolehi, nescaya Allah SWT akan menambah anugerah  nikmat kepadanya. Namun, barangsiapa yang mengkufuri nikmat-Nya, maka Allah SWT mengancam dengan azab-Nya.

Allah SWT berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian memberitahukan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7)

Berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita termasuk akhlak mulia yang dianjurkan dalam Islam dan merupakan sebahagian daripada cara bersyukur kepada Allah. Hal ini kerana nikmat Allah itu kita perolehi melalui orang yang berbuat baik kepada kita tersebut.

Termasuk bentuk syukur yang terbaik adalah mengucapkan rasa terimakasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita dengan menyatakan kepadanya kalimah:

جزاك الله خيراً

Kalimah ini lebih bernilai kerana mengandungi doa di dalamnya. Baginda Nabi SAW bersabda:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Daripada Usamah bin Zaid RA bahawasanya Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan “jazaakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR. Tirmidzi No:1958) Status Hadis: Sahih.

Sebagai seorang Muslim, kita dianjurkan agar membalas kebaikan dengan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَلْيُكَافِئْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَلْيَذْكُرْهُ فَمَنْ ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ تَشَبَّعَ بِمَا لَمْ يَنَلْ فَهُوَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

Daripada Aisyah RA bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan kebaikan maka balaslah dengan kebaikan yang serupa, dan barangsiapa yang tidak mampu maka sebutlah (semacam terima kasih) kebaikan tersebut. Barangsiapa yang menyebutnya (mengucapkannya) sungguh ia telah bersyukur dan barangsiapa yang membangga-banggakan diri dengan (menggunakan) sesuatu yang ia tidak berikan maka ia seperti orang yang memakai pakaian keburukan.” (HR Ahmad No: 23452) Status : Sahih dalam al-Adab al-Mufrad (215)

Kita juga diingatkan, dari Abu Hurairah RA, baginda SAW  bersabda,

لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah (dengan baik) orang yang tidak berterimakasih kepada orang (lain).” (HR. Abu Daud No: 4811) Status: Hadis Sahih

Imam al-Khattabi berkata: Sesiapa yang tabiat dan kebiasaannya adalah kufur terhadap nikmat (kebaikan) orang dan tidak bersyukur atas kebaikan mereka, maka nescaya termasuk kebiasaannya adalah kufur terhadap nikmat Allah SWT dan tidak bersyukur kepada-Nya.

Saidina Umar RA  berkata,

لو يعلم أحدكم ما له في قوله لأخيه: جزاك اللهُ خيراً، لأكثرَ منها بعضُكم لبعضٍ

“Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui kebaikan yang didapatkan pada ucapan yang ditujukan kepada saudaranya, “jazaakallahu khairan”, tentulah satu sama lain akan memperbanyak ucapan tersebut di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Syaibah dalam Al-Mushannaf)

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah:   حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ 

Membiasakan Yang Betul, Membetulkan Yang Biasa- Kalimah:   حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ 

Kalimah:   حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ  (HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL)

Ertinya : Cukuplah bagi kami bahawa Allah itu sebagai sebaik-baik pelindung atau penolong.

Diucapkan sebagai tanda kita berserah diri dan bergantung harap (bertawakkal) kepada Allah SWT semata-mata.

Kalimah ini juga merupakan ucapan “pembakar” semangat keberanian orang-orang yang beriman.

Allah SWT menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.  (Ali ‘Imran: 173).

Ibnu ‘Abbas berkata bahawa kalimah “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim AS ketika beliau ingin dicampakkan ke dalam api.

Nabi SAW bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ } قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا { إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }

Daripada  Ibnu ‘Abbas حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ  adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke dalam api. Juga diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ”(Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”) (HR Bukhari No:4197)

Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya menyatakan, “Maksud ‘hasbunallah‘ adalah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan ‘ni’mal wakiil’ adalah Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar segala urusan hamba dan yang mendatangkan maslahat.”

Allah-lah yang mencukupkan keperluan makhluk. Firman Allah:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath Tholaq: 3).

Al Qurtubhi menjelaskan tentang surah Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”

Nabi SAW bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya” (HR. Tirmidzi no. 2072) Status: Hadis Hasan

Maksudnya, barangsiapa yang menjadikan makhluk sebagai sandaran hatinya, maka Allah akan membuat makhluk tersebut jadi sandarannya. Iaitu urusannya akan disulitkan. Hati seharusnya bergantung pada Allah, bukan pada makhluk. Jika Allah menjadi sandaran hati, tentu urusan akan semakin mudah.

Rasulullah SAW bersabda;

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa yang mencari reda Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari redha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia”. Riwayat Tirmizi (2414)