Awal Mula Munculnya Bid’ah Dalam Islam

Awal Mula Munculnya Bid’ah Dalam Islam

Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ telah mengajarkan akidah yang murni kepada para sahabat hingga beliau wafat. Kemudian para khulafaur rasyidin dan para sahabat berusaha mempertahankan akidah tersebut, hingga di akhir-akhir masa khulafaur rasyidin mulailah tumbuh bibit-bibit bid’ah. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabdanya,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah ﷻ Azza wa Jalla, dan untuk mendengar serta taat (kepada pimpinan) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.” ([3])

Bibit-bibit bid’ah tersebut mulai tumbuh sejak terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan pada tahun 35H, ketika Abdullah bin Saba’ memprovokasi masa untuk membunuh Útsman bin Áffan radhiallahu ‘anhu dan akhirnya beliau dikepung oleh ribuan masa, lalu beliau pun terbunuh di rumah beliau dalam kondisi sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian di masa kekhilafahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mulailah muncul dua jenis bid’ah yaitu bid’ah khawarij yang memerangi ‘Ali dan bid’ah Rafidhah yang berlebihan terhadap ‘Ali.

Setelah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu wafat lalu berlalu masa, di akhir-akhir masa sahabat shighar junior (zaman sahabat berakhir sekitar tahun 110 H ([4])) mulailah muncul bid’ah Qadariyah yang dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani, sebagaimana yang disebutkan di awal kitab Shahih Muslim. 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, beliau mengatakan,

كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ – أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ – فَقُلْنَا: لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ، فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ، فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ، وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ، فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ، فَقُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ، وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ، وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ، قَالَ: «فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي»، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

“Orang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdirrahman kemudian pergi berhaji –atau ‘umrah- dan kami mengatakan, “Seandainya kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ kita akan mengadukan pendapat mereka tentang takdir tersebut”

Kami pun bertemu dengan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang sedang memasuki masjid. Lalu kami menggandeng beliau, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Aku menyangka sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku sehingga aku pun berkata kepada Ibnu ‘Umar, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (panggilan Ibnu ‘Umar), sungguh di daerah kami ada sekelompok orang yang berpandangan takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu itu baru ada ketika terjadinya (tidak tertulis di catatan takdir dan tidak pula diketahui oleh Allah ﷻ sebelumnya).

Maka Ibnu ‘Umar berkomentar, “Kalau kamu bertemu dengan mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi Dzat yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya mereka memiliki emas sebanyak gunung Uhud lantas menginfakkannya, niscaya Allah ﷻ tidak akan menerima infak mereka tersebut sampai mereka mau beriman kepada takdir.” ([5])

Pemahaman Qadariyah tersebut telah dibantah oleh para sahabat junior seperti Ibnu ‘Umar sendiri, Ibnu ‘Abbas, dan selainnya. Namun di kurun waktu ini belum muncul bid’ah tentang tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat.

Lalu di zaman Tabiin yaitu pada zaman Hasan Al-Bashri (zaman tabi’in berakhir sekitar tahun 181 H ([6])), mulailah muncul bid’ah berikutnya yaitu bid’ah Muktazilah yang dipelopori oleh Washil bin ‘Atha yang merupakan murid Hasan Al-Bashri sendiri. Di antara keyakinan Muktazilah yaitu pelaku dosa besar di dunia statusnya fi manzilah baina manzilatain (tidak kafir dan juga tidak mukmin) namun di akhirat statusnya tetap kekal di neraka. Pemahaman inilah yang dibawa oleh Washil bin ‘Atha sehingga ia keluar (iítzal) dari majelis Hasan Al-Bashri karena bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Hasan Al-Bashri yaitu status pelaku dosa besar itu imannya kurang tetapi tidak kafir dan di akhirat kelak di bawah kehendak Allah ﷻ, apakah akan diampuni oleh Allah ﷻ atau diadzab. Inilah Akidah Ahlusunah, dan inilah yang benar sebagaimana firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah ﷻ, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa : 48)

Karena Washil bin Átha keluar (i’tizal/menyempal) dari majelis Al-Hasan maka ia dan para pengikutnya dikenal dengan Muktazilah (golongan yang menyempal).

Washil bin Átha kemudian diikuti oleh seorang yang bernama ‘Amr bin ‘Ubaid. ‘Amr bin ‘Ubaid adalah seorang perawi hadis yang ahli ibadah dan zuhud, sehingga pemahaman ini mulai laris karena manusia tertipu dengan ‘Amr. Namun bid’ah Muktazilah ini masih belum menyentuh masalah tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat, tetapi masih banyak berputar di permasalahan status pelaku dosa besar dan bercampur dengan bid’ah Qadariyah.

——

Footnote:

([3]) HR. Ahmad No. 17142, Abu Dawud No. 4607, At-Tirmidzi No. 2676, dan Ibnu Majah No. 42 dan disahihkan oleh Al-Albani dan Al-Arnauth.

([4]) Yaitu dengan wafatnya sahabat Nabi yang terakhir yaitu Abu at-Thufail Áamir bin Waatsilah pada tahun 110 H.

([5]) HR. Muslim No. 8.

([6]) Yaitu dengan wafatnya tabiín yang terakhir yaitu Kholaf bin Kholiifah al-Kufiy al-Muámmar pada tahun 181 H.

BID’AH ITU HARUS DIMATIKAN SEBELUM BERKEMBANG BIAK

BID’AH ITU HARUS DIMATIKAN SEBELUM BERKEMBANG BIAK ‼️

Awalnya pelaku bid’ah itu satu orang, lantas yang satu orang ini mengajarkan dan menyebarkan hasil inovasi agamanya kepada orang lain, yang pada akhirnya semakin banyak dan semakin bertambah yang mengikutinya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

فالبدع تكون في أولها شبراً ثم تكثر في الأتباع حتى تصير أذرعاً وأميالا وفراسخ . [الفتاوى (٤٢٥/٨)]

“Bid’ah itu awalnya satu jengkal, kemudian semakin banyak pengikutnya sampai satu depa, satu mil, dan satu farsakh” (Fatwa : 2/425).

Yang besar itu awalnya dari yang kecil, yang banyak dari yang sedikit, begitu pula bid’ah. Kalau ini dibiarkan dan tidak dimatikan maka bid’ah akan berkembang biak dan mematikan sunnah.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَن

ُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir).

Berkata Hasan bin ‘Athiyah rahimahullah (penulis kitab Al-Muharrar al-Wajiz fi at-Tafsir al-Kitab al-Wajiz, wafat 542H) :

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu perkara yang diada-adakan dalam urusan agama mereka (bid’ah) melainkan Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunnah itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21)

Berkata Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu anhu :

مَا ابْتُدِعَتْ بِدْعَةٌ إِلا ازْدَادَتْ مُضِيًّا , وَلا تُرِكَتْ سُنَّةٌ إِلا ازْدَادَتْ هَرَبًا 

“Tidak ada suatu bid’ah yang dilakukan kecuali bid’ah tersebut akan bertambah banyak, dan tidaklah sunnah ditinggalkan melainkan sunnah tersebut akan semakin jauh.”  (Al-Ibanah  Ibnu Batthah 1/351)

Selain sunnah akan mati jika bid’ah dilestarikan, juga menyebabkan orang-orang akan mengira dan menuduh orang yang mengamalkan sunnah dianggap membuat perkara baru dalam agama. Dianggap membawa ajaran baru. Ini sangat membahayakan.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu :

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ الفِتْنَةُ يَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ، وَيَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ، وَيَتَّخِذُهَا النَّاسُ سُنَّةً، فَإِنْ غُيِّرَ مِنْهَا شَيْءٌ قِيلَ غُيِّرَتِ السُّنَّةُ» ، قَالُوا: مَتَى يَكُونُ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ ؟ قَالَ : « إِذَا كَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ، وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ، وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ، وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ

“Bagaimana kalian jika di suatu zaman fitnah menyelimuti kalian sehingga membuat besar sebelum waktunya bagi anak kecil, membuat pikun orang dewasa, dan manusia menjadikan fitnah (bid’ah) itu sebagai sunnah sehingga jika sunnah (bid’ah yang dianggap sunnah) tadi diubah, mereka mengatakan: “Sunnah kita telah diubah.”

Lalu beliau ditanya, “Kapan hal itu terjadi, wahai Abu ‘Abdirrohman?”

Beliau menjawab, “Jika semakin banyak para qurroo’ (hanya pandai dalam bacaan alquran), semakin sedikit para fuqoha, semakin melimpah harta kalian, semakin langka orang-orang terpercaya dari kalian dan akhirat dijual dengan dunia.” (HR. Al Hakim – kitab Al Mustadrok (8570)

Untuk ini mari terus bersemangat menyebarkan sunnah agar bid’ah tidak berkembang pesat. Mari hidupkan sunnah agar bid’ah tidak berani unjuk gigi tampil kepermukaan. Mari kita terus peringatkan umat dari bahaya bid’ah dan para tokohnya agar bid’ah tidak merajalela.

TAKUT KEPADA SYIRIK

TAKUT KEPADA SYIRIK

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء[

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendakiNya”. (QS. An Nisa’, 48)

          Nabi Ibrahim berkata :

]واجنبني وبني أن نعبد الأصنام[

“ ……. Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. (QS. Ibrahim, 35)

          Diriwayatkan dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر، فسئل عنه ؟ فقال : الرياء”

          “Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kamu kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau ditanya tentang itu, dan beliaupun menjawab : yaitu riya’. (HR. Ahmad, Thobroni dan Abi Dawud).

          Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار”

          “Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka”. (HR. Bukhori)

          Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النا”

          “Barang siapa yang menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepadaNya, pasti  ia masuk surga, dan barang siapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka”.

          Kandungan bab ini :

Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi.

Riya’ termasuk perbuatan syirik.

Riya’ termasuk syirik kecil ([1]).

Riya’ adalah dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap orang orang sholeh.

Dekatnya sorga dan neraka.

Dekatnya sorga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.

Barang siapa yang mati tidak dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk sorga, dan barang siapa yang mati dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka, meskipun ia termasuk orang yang banyak ibadahnya.

Hal yang sangat penting adalah permohonan Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.

Nabi Ibrahim mengambil ibrah (pelajaran) dari keadaan sebagian besar manusia, bahwa mereka itu adalah sebagaimana  perkataan beliau :

]رب إنهن أضللن كثيرا من الناس[

        “Ya Rabb, sesungguhnya berhala berhala itu telah menyesatkan banyak orang” (QS. Ibrahim, 36).

Dalam bab ini mengandung penjelasan tentang maknaلا إله إلا الله  sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori, yaitu : membersihkan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah.

Keutamaan orang yang dirinya bersih dari kemusyrikan.

([1])   Syirik ada dua macam : pertama : syirik akbar (besar) yaitu memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, dalam hal hal yang merupakan hak khusus bagiNya. Kedua : syirik ashghor (kecil), yaitu : perbuatan yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al hadits sebagai suatu syirik, tetapi belum sampai ke tingkat syirik akbar. Adapun perbedaan diantara keduanya :

Syirik akbar menghapuskan seluruh amal, sedang syirik kecil hanya menghapuskan amal yang disertainya saja.

Syirik akbar mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedang syirik kecil tidak sampai demikian.

Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedang syirik kecil tidak menyebabkan keluar dari Islam

MEMECAH BELAH PERSATUAN ⁉️

MEMECAH BELAH PERSATUAN ⁉️

Jika seseorang atau sekelompok orang, mendakwahkan tauhid dan sunnah dan memperingatkan dari kesyirikan dan bid’ah, lantas dikatakan PEMECAH BELAH PERSATUAN, maka tidak perlu heran, karena jauh sebelumnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga dikatakan pemecah belah persatuan ketika mendakwahkan tauhid dan sunnah. 

Pada suatu hari Utbah bin Rabi’ah, seorang pembesar kaum Quraisy, datang ke masjid berjumpa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang pada saat itu sedang duduk sendirian.

Utbah pun berkata; 

يا ابن أخي ، إنك منا حيث قد علمت من السطة في العشيرة ، والمكان في النسب ، وإنك قد أتيت قومك بأمر عظيم ، فرقت به جماعتهم ، وسفهت به أحلامهم ، وعبت به آلهتهم ودينهم ، وكفرت به من مضى من آبائهم ، فاسمع مني أعرض عليك أمورا تنظر فيها لعلك تقبل منا بعضها .

“Hai anak saudaraku, sesungguhnya engkau berasal dari golongan kami, dimana aku tahu keluarga dan kedudukan keturunanmu, yang dengannya engkau ‘MEMECAH BELAH PERSATUAN MEREKA, engkau bodohkan akal pikiran mereka, engkau cela sesembahan dan agama mereka dan engkau kafirkan nenek moyang mereka yang telah pergi. Dengarkanlah aku, aku hendak mengajukan beberapa hal yang perlu engkau tinjau kembali. Mudah-mudahan engkau menerima sebagiannya.” dst. (Tafsir Ibnu Katsir QS; Surah Fushshilat :3-4).

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan awal surat Fushshilat kepada Utbah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ – حم – تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ – كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ – بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan” (Surat Fushilat : 1-4)

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam terus membaca ayat demi ayat sementara Utbah mendengarkannya sampai pada firman Allah subhaanahu wa ta’aala :

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

“Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”.

(Surat Fushilat : 13)

Hingga Utbah terperanjat saat mendengar ancaman siksa.

Memang benar Utbah tidak masuk Islam dengan tauhid yang benar yang dibawa oleh Rasulullah tapi jiwanya melunak kepada agama Islam.

Oleh karena itu, bersabarlah dengan apa-apa yang mereka lakukan dan mereka katakan. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهۡجُرۡهُمۡ هَجۡرٗا جَمِيلٗا

Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. (Surat Al-Muzzammil, Ayat 10). 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

يقول تعالى آمرا رسوله صلى الله عليه وسلم بالصبر على ما يقوله من كذبه من سفهاء قومه ، وأن يهجرهم هجرا جميلا ؛ وهو الذي لا عتاب معه . 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar terhadap ucapan orang-orang yang mendustakannya dari kalangan orang-orang yang kurang akalnya dari kaumnya, dan hendaklah dia menjauhi mereka dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tidak tercela. (Tafsir Ibnu Katsir). 

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah,

ومن الأمور النافعة أن تعرف أن أذية الناس لك

وخصوصاً في الأقوال السيئة، لا تضرك بل تضرهم،

“Di antara perkara yang bermanfaat yang mesti kamu ketahui, bahwasanya gangguan manusia kepadamu, khususnya berupa ucapan jelek, tidak memudaratkanmu, bahkan justru memudaratkan mereka.

إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها، وسوغت لها أن تملك مشاعرك، فعند ذلك تضرك كما ضرتهم، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئاً.

Kecuali jika kamu sibukkan dirimu dengan memperhatikannya dan kamu biarkan ucapan itu mengendalikan kemarahanmu. Maka saat itulah (ucapan itu) akan memudaratkanmu sebagaimana memudaratkan mereka. Jika kamu tidak memperdulikannya, ucapan jelek itu tidak akan memudaratkanmu sama sekali.” (Al Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa’idah hlm. 30). 

KAUM MUSYRIK ARAB BERIMAN DENGAN TAUHID RUBUBIYYAH

KAUM MUSYRIK ARAB BERIMAN DENGAN TAUHID RUBUBIYYAH ([1])

Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kaum musyrik Arab mengakui tauhid Rububiyyah

Sangat banyak dalil yang menunjukan bahwa kaum musyrik Arab mengakui dan meyakini tauhid Rububiyyah, bahwa Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta, yang memberi rezeki, serta yang menghidupkan dan mematikan.

Pertama: Dalil-dalil yang menunjukan ketika mereka ditanya siapakah yang mengatur alam semesta maka dengan serta merta mereka menjawab bahwa Allah yang mengatur seluruhnya.

Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:

Firman Allah:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?’” (QS Yunus: 31)

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ، قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ، قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’  Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’  Katakanlah: ‘Siapakah Empunya langit yang tujuh dan Empunya ´Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS al-Mu`minun: 84-89)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka mengapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS al-‘Ankabut: 61)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah.’ Tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).”  (QS al-‘Ankabut: 63)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah.’ Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS Luqman: 25)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’” (QS al-Zumar: 38)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.’” (QS al-Zukhruf: 9)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS Az-Zukhruf: 87)

Kedua: Mereka juga berdoa kepada Allah. Tentu saja ini merupakan dalil yang kuat bahwa mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka. Bahkan tatkala dalam keadaan terdesak mereka ikhlas beribadah kepada Allah.

Di antara dalil-dalil tentang ini adalah:

Firman Allah:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS al-‘Ankabut: 65)

Ibnu Jarir berkata:

يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: فَإِذَا رَكِبَ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكُونَ السَّفِينَةَ فِي الْبَحْرِ، فَخَافُوا الْغَرَقَ وَالْهَلَاكَ فِيهِ {دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ} يَقُولُ: أَخْلَصُوا لِلَّهِ عِنْدَ الشِّدَّةِ الَّتِي نَزَلَتْ بِهِمُ التَّوْحِيدَ، وَأَفْرَدُوا لَهُ الطَّاعَةَ، وَأَذْعَنُوا لَهُ بِالْعُبُودَةِ، وَلَمْ يَسْتَغِيثُوا بِآلِهَتِهِمْ وَأَنْدَادِهِمْ، وَلَكِنْ بِاللَّهِ الَّذِي خَلَقَهُمْ {فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبِرِّ} يَقُولُ: فَلَمَّا خَلَّصَهُمْ مِمَّا كَانُوا فِيهِ وَسَلَّمَهُمْ، فَصَارُوا إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ شَرِيكًا فِي عِبَادَتِهِمْ، وَيَدْعُونَ الْآلِهَةَ وَالْأَوْثَانَ مَعَهُ أَرْبَابًا

“Allah berfirman bahwa apabila mereka kaum musyrik naik kapal di laut dan mereka takut tenggelam dan binasa di laut maka ((mereka pun berdoa kepada Allah dengan ikhlas)). Mereka mengikhlaskan tauhid kepada Allah tatkala dalam keadaan terdesak yang menimpa mereka. Merekapun mengesakan ketaatan hanya kepada Allah, dan mereka tunduk beribadah kepada Allah, mereka tidak ber-istighatsah kepada sesembahan-sesembahan mereka, akan tetapi mereka ber-istighatsah kepada Allah yang telah menciptakan mereka. ((Tatkala Allah menyelamatkan mereka ke darat)) yaitu tatkala Allah menghilangkan kesulitan mereka dan menyelamatkan sehingga akhirnya mereka tiba di darat, ternyata mereka kembali menjadikan sekutu bagi Allah dalam beribadah, dan mereka selain berdoa kepada Allah juga berdoa kepada sesembahan-sesembahan dan berhala-berhala mereka.” ([2])

Al-Qurthubi berkata:

قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَإِذا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ) يَعْنِي السُّفُنَ وَخَافُوا الْغَرَقَ (دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ) أَيْ صَادِقِينَ فِي نِيَّاتِهِمْ، وَتَرَكُوا عِبَادَةَ الْأَصْنَامِ وَدُعَاءَهَا. (فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذا هُمْ يُشْرِكُونَ) أَيْ يَدْعُونَ مَعَهُ غَيْرَهُ

“((Maka jika mereka di lautan)) yaitu di atas kapal dan mereka takut  tenggelam maka ((mereka pun berdoa kepada Allah dengan ikhlas)), meluruskan niat mereka dan meninggalkan peribadahan serta berdoa kepada berhala-berhala. Tatkala Allah menyelamatkan mereka ke darat mereka kembali berbuat kesyirikan yaitu mereka berdoa kepada Allah dan juga kepada selain Allah.” ([3])

Footnote:

([1]) Pembahasan ini diambil dari buku penulis yang berjudul Ketinggian Allah di atas Makhluk-Nya.

([2]) Tafsir al-Thabari, vol XVIII, hlm. 441.

([3]) Tafsir al-Qurthubi, vol. XIII, hlm. 363.

Al-Quran untuk mereka yang masih hidup, bukan yang sudah meninggal

Al Quran untuk mereka yang masih hidup, bukan yang sudah meninggal

Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Itulah Kitab (Alqur’an) yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”.

(Qur’an Surat Shad: 29.)

Para sahabat dahulu telah berlomba lomba dalam mengamalkan Al-Qur’an sehingga mereka menjadi orang-orang yang bahagia di dunia dan akherat.

Dan ketika kaum muslimin meninggalkan Al-Qur’an dan menjadikannya untuk para mayit, mereka membacanya ketika di kuburan dan pada hari hari takziah kematian, maka kehinaan dan perpecahan menimpa mereka, dan tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala (yang artinya):

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Rasul (Muhammad) mengatakan: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alqur’an ini diabaikan”.

(QS. Al furqan: 30).

Sungguh Allah menurunkan Al-Qur’an ini untuk mereka yang masih hidup, agar mereka mengamalkannya dalam kehidupan mereka.

Jadi Alqur’an itu bukan untuk para mayit, sungguh amalan mereka telah terputus, makanya mereka tidak bisa membacanya dan mengamalkannya, dan pahala bacaannya tidak akan sampai kepada mereka kecuali bacaan Qur’an dari anaknya, karena itu termasuk amalan yang diusahakan ayahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Jika seseorang mati, semua amalnya akan terputus kecuali tiga: sedekah jariyah (wakaf), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”.

(HR. Muslim: 1631).

Ibnu Katsir -ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya):

“Manusia itu hanya memperoleh apa yang diusahakannya”.

(Surat Annajm: 39) menyebutkan:

“Maksudnya; sebagaimana dosa orang lain tidak dipikulkan kepadanya, begitu pula seseorang tidak bisa mendapatkan pahala kecuali dari apa yang dilakukannya untuk dirinya”.

Dari ayat mulia ini, Imam Syafi’i rahimahullah menyimpulkan bahwa:

“Bacaan Al-Qur’an tidak akan sampai pahalanya kepada para mayit, karena itu bukan amalan mereka dan juga bukan usaha mereka, oleh karenanya Rasulullah tidak mengajak umatnya untuk melakukannya, tidak mendorong mereka mengerjakannya, dan tidak pula mengarahkan mereka kepadanya baik dengan perintah yang tegas maupun dengan isyarat”.

Hal itu juga tidak pernah dinukil dari satu sahabat pun, jika itu merupakan amal yang baik tentunya mereka sudah mendahului kita, dan dalam bab bab ibadah seseorang dibatasi pada hal-hal yang diterangkan dalam nash-nash, dan tidak boleh diutak-atik dengan aneka macam qiyas dan pendapat.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

IBADAH TIDAK DIKERJAKAN SAMPAI ADA DALIL YANG MENSYARIATKAN

IBADAH TIDAK DIKERJAKAN SAMPAI ADA DALIL YANG MENSYARIATKAN

Prinsip dasar ibadah adalah tauqifiyyah yaitu ada ketetapannya dari Allah di dalam Al-Qur’an dan ada ketetapannya dari Rosulullah ﷺ di dalam As-Sunnah. Baik ibadah berupa ucapan maupun perbuatan.

Karena hanya Allah yang berhak membuat syariat dan tidak ada yang boleh turut campur dalam menetapkan ibadah selain Allah dan Rosul-Nya ﷺ.

Hal ini telah disepakati oleh para ulama.

Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Qosim An-Najdi berkata,

وأجمع أهل العلم أن الأصل في العبادات التشريع

“Para ulama berijma’ bahwa hukum asal ibadah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkan.”

(Hasyiah Ar-Roudhil Murbi’ 2/523)

Melalui kaidah yang agung ini menutup rapat-rapat pintu inovasi maupun modifikasi dalam urusan ibadah dikarenakan syariat Islam telah sempurna.

Dalil yang mendasari kaidah ini sangat banyak antara lain firman Allah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan agama bagi mereka yang tidak diridhoi Allah?”

(Asy-Syuro: 21)

Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii berkata,

“Yaitu mereka tidak mau mengikuti aturan yang Allah syariatkan dari agama yang lurus.”

Allah ta’ala juga berfirman,

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم

“Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.”

(Ali-Imron: 31)

Kecintaan seorang hamba kepada Allah hanya bisa dibuktikan dengan mengikuti petunjuk Rosul-Nya ﷺ.

Jika tidak, maka itu hanyalah sekedar pengakuan yang jauh dari kebenaran.

Rosulullah ﷺ selalu mengingatkan pada setiap pembukaan khutbah beliau,

فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu (perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah kesesatan.“

(HR. Muslim 867)

Beliau ﷺ juga mengingatkan,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami maka tertolak.”

(HR. Muslim 1718)

Atas dasar itu diterimanya amalan ibadah apabila memenuhi dua syarat yaitu,

1). Beribadah hanya kepada Allah yaitu ikhlas niatnya.

2). Beribadah dengan cara yang disyariatkan oleh Rosul-Nya ﷺ yaitu mutaba’ah.

Kedua syarat ini disebutkan oleh para ulama antara lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“Inti agama ini terkumpul pada dua perkara yaitu tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang disyariatkan; tidak dibenarkan mengada-ada dalam urusan ibadah.”

(Majmu’ Fatawa 10/234)

Maka modal niat baik saja dalam beribadah belum cukup sehingga caranya mengikuti petunjuk Rosulullah ﷺ sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Betapa banyak orang yang baik niatnya dan sungguh-sungguh menginginkan kebaikan tetapi dia tidak mendapatkannya disebabkan caranya yang tidak sesuai petunjuk syariat.

Manhajulhaq

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

SHALAWAT BID’AH KARANGAN SUFI “YA SAYYIDI YA RASULULLAH” ADALAH SYIRIK AKBAR ‼️

SHALAWAT BID’AH KARANGAN SUFI “YA SAYYIDI YA RASULULLAH” ADALAH SYIRIK AKBAR ‼️

.

Salah satu Shalawat Bid’ah karangan manusia “Yaa Sayyidi Ya Rasulullah” ini mengandung Syirik Akbar yang dapat membatalkan keislaman seseorang dan mengeluarkan seseorang dari Islam tanpa sadar, pasalnya, di dalamnya terdapat Isti’anah, yakni berdoa memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah Azza Wa Jalla di dalam redaksi,

.

إِنَّ الْمُسِيْئِيْنَ قَدْ جَاؤُكْ * لِلذَّنْبِ يَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهْ

“Yaa Rasulullah, sungguh orang yang berdosa ini telah datang kepadamu, Dengan membawa tumpukan dosa-dosa, dan kini berharap engkau memintakan kami ampunan Allah.”

.

Ini berdoa memohon dan meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah wafat agar beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam memohon ampunan kepada Allah Azza Wa Jalla terhadap orang yang membaca Shalawat Bid’ah tersebut.

.

Ini merupakan Syirik Akbar, yang Isti’anah, yakni memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah Azza Wa Jalla, yaitu kepada mayyit.

.

Doa, baik itu Istighatsah, Isti’adzah ataupun Isti’anah adalah Ibadah

.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca : “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir [40] : 60.”

.

– HR. Abu Dawud no. 1264 | no. 1479, Tirmidzi no. 2895, 3170, 3294 | no. 2969, 3274, 3372, Ibnu Majah no. 3818 | no. 3828 dan Ahmad no. 17629, 17660, 17665, 17705, 17709 

.

Dan ketika dikatakan Ibadah, maka harus dimurnikan, ditujukan, diperuntukan dan diikhlaskan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya serta tandingan bagi-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ  

.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

.

– QS. Al Fatihah [1] : 5

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ  

.

“Hanya kepada-Nya kamu minta tolong. Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).

.

– QS. Al An’am [6] : 41

.

Dan barangsiapa yang berdoa meminta dan memohon kepada selain Allah Azza Wa Jalla, maka ia telah melakukan Syirik Akbar, batal keislamannya dan wajib bertaubat serta melakukan Syahadah lagi. Jika tidak bertaubat dan wafat dalam keadaan Syirik, maka ia kekal di Neraka, dan tidak akan masuk Surga meski sejengkal.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman,

.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا  

.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”

.

– QS. An Nisa [4] : 48

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا  

.

“Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.”

.

– QS. An Nisa [4] : 116

.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda beberapa kalimat yang aku tambahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru (berdoa kepada) selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk Neraka.” Sedangkan aku berkata : “Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk Surga”

.

– HR. Bukhari no. 4137 | Fathul Bari no. 4497

.

Memang benar para Ahli Ilmu mengatakan bahwasannya Bid’ah adalah sarana-sarana menuju kepada kekafiran.

.

Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah berkata,

.

“Oleh karena itu, Ahli Ilmu berkata, “Bid’ah itu sarana menuju kekafiran.”

.

– Mauqif Ahlu Sunnah Wal Jama’ah min Ahlu Ahwa wa Bida, II/126-128.

Create your website with WordPress.com
Get started