Category: AQIDAH ISLAM

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang Zalim

Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang Dzalim (Bagian 4 dari 6)

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. 9 Mei 2018

Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Menasihati Penguasa yang Dinilai Berbuat Kesalahan
Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa menghina dan mencela penguasa bukanlah jalan (manhaj) yang ditempuh oleh ahlus sunnah dalam berinteraksi dengan para penguasa. Hendaklah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menahan lisan dan jari kita dari mencela mereka. Renungkanlah bagaimana nasihat indah yang disampaikan oleh seorang ulama rabbani, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut ini,

“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam memahami manhaj salaf (manhaj ahlus sunnah) dalam berinteraksi dengan penguasa. Janganlah kalian menjadian kesalahan penguasa sebagai jalan untuk menyebarkan kekacauan dan menjauhkan hati (rakyat) dari penguasa. Karena hal ini adalah kerusakan yang nyata dan salah satu sebab utama terjadinya kekacauan di tengah-tengah masyarakat.

Memenuhi hati dengan kebencian terhadap penguasa akan menyebabkan keburukan dan kekacauan. Sebagaimana memenuhi hati dengan kebencian terhadap ulama akan menyebabkan diremehkannya para ulama, dan kemudian akan menyebabkan diremehkannya ajaran syariat yang mereka bawa (dakwahkan).

Jika seseorang berusaha untuk menjatuhkan kewibawaan ulama dan penguasa, terlantarlah syariat dan rasa aman. Karena ulama telah dijadikan sebagai bahan celaan, perkataan mereka tidak lagi dipercaya. Demikian pula, ketika penguasa telah dijadikan sebagai bahan celaan, maka mereka (rakyat) akan membangkang terhadap perintah (kebijakan) penguasa, sehingga terjadilah kejelekan dan kerusakan.

Menjadi kewajiban atas kita untuk memperhatikan jalan yang ditempuh ulama salaf (ulama ahlus sunnah) dalam berinteraksi dengan penguasa, dan mengontrol diri kita masing-masing, dan mengetahui dampak dari perbuatan kita.

Dan ketahuilah bahwa seseorang yang memancing kerusuhan, dia itu hanyalah memberikan pelayanan kepada musuh-musuh Islam. Maka yang menjadi tolak ukur (kehebatan dan ketokohan seseorang) bukanlah revolusi dan emosi yang meledak-ledak. Namun yang menjadi tolak ukur adalah sikap hikmah.

Bukanlah yang aku maksudkan dengan hikmah adalah mendiamkan kesalahan. Namun, kesalahan itu perlu diperbaiki supaya kita bisa memperbaiki keadaan, bukan semata-mata mengubah keadaan (karena kalau mengubah, bisa jadi berubah ke yang lebih jelek). Seseorang yang memberikan nasihat adalah mereka yang berbicara untuk memperbaiki keadaan, bukan semata-mata mengubah keadaan.” (Risalaah Huquuq Ar-Raa’i wa Ar-Ra’iyyah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bagaimanakah metode dalam menasihati penguasa, yaitu dengan memberikan nasihat antara dia dan sang penguasa saja (empat mata), tidak diumbar ke khalayak umum.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاِنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3/403, Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyiin 2/94, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096 dan yang lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Dzilaal As-Sunnah 2/507)

Hadits di atas dinilai dha’if oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu Ta’ala, sehingga beliau menyelisihi apa yang menjadi pendapat jumhur (mayoritas) ulama ahlus sunnah dalam masalah ini. Syaikh Muqbil membolehkan untuk mengkritik penguasa secara terbuka di forum-forum umum, selama niatnya baik dan tidak memberontak kepada penguasa. Akan tetapi, pendapat yang benar -Wallahu Ta’ala a’lam- adalah pendapat jumhur ulama ahlus sunnah yang melarangnya. Karena taruhlah hadits di atas dha’if, namun maknanya benar dan juga demikianlah praktek yang dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menasihati penguasa.

Sa’id bin Jubair rahimahullahu Ta’ala berkata,

آمُرُ أَمِيرِي بِالْمَعْرُوفِ؟ قَالَ: إِنْ خِفْتَ أَنْ يَقْتُلَكَ فَلَا تُؤَنِّبِ الْإِمَامَ , فَإِنْ كُنْتُ لَا بُدَّ فَاعِلًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

“Seseorang berkata kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Apakah aku memerintahkan penguasaku dengan melakukan kebaikan?”
Ibnu ‘Abbas berkata, “Jika Engkau khawatir penguasa akan membunuhmu, maka jangan mencela dengan keras. Namun jika Engkau tidak boleh tidak (harus) melakukannya, maka hendaknya (dalam kondisi sepi) antara Engkau dan dia saja.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 15/74)

Sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sa’id bin Jahman ketika Sa’id bin Jahman berusaha memaklumi tindakan kelompok Khawarij yang berbuat teror dan kerusuhan bahkan sampai membunuh ayah Sa’id bin Jahman sendiri. Karena menurut persangkaan Sa’id, tindakan Khawarij itu disebabkan oleh kedzaliman dan ketidakadilan penguasa,

‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu meraih tangan Sa’id kemudian mencubit dengan keras dan mengatakan,

وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ، عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ، فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ، فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ، وَإِلَّا فَدَعْهُ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ

“Celaka Engkau wahai Ibnu Jahman. Hendaklah Engkau komitmen dengan jamaah kaum muslimin (bersama penguasa mereka). Jika penguasa mau mendengarkan nasihatmu, maka datangilah rumahnya dan sampaikanlah kepadanya apa yang Engkau ketahui. Jika dia mau menerima nasihatmu, maka itulah yang diharapkan. Jika penguasa tidak mau menerima nasihatmu, biarkan, karena Engkau belum tentu lebih mengetahui daripada sang penguasa.” (HR. Ahmad 4/382, Ibnu Majah no. 173 dan Ath-Thayalisi no. 822. Lafadz hadits di atas berasal dari Musnad Imam Ahmad. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Sunnah li Ibni ‘Aashim no. 905 dan Syaikh Muqbil Al-Wadi’i di Shahihul Musnad no. 542)

Perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas juga diamalkan oleh sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ketika banyak orang membicarakan kepemimpinan sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

Ada seseorang yang berkata kepada Usamah radhiyallahu ‘anhu,

أَلَا تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ؟

“Tidakkah Engkau menemui ‘Utsman dan menasihatinya?”

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ؟ وَاللهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ، مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Apakah kalian anggap aku tidak menasihatinya karena kalian tidak mendengar pembicaraanku kepadanya? Demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengannya empat mata, tanpa menampakkannya. Aku tidak mau menjadi orang yang pertama kali membuka (pintu fitnah).” (HR. Muslim no. 2989)

Lihatlah, bagaimana sahabat Usamah bin Zaid rahimahullah menilai bahwa membuka (menyebarkan) nasihat kepada pemimpin di tengah-tengah masyarakat (yang seharusnya hanya ditujukan kepada pemimpin secara empat mata) adalah sebab munculnya berbagai fitnah (kerusakan).

Maka kita jumpai tiga sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyampaikan bahwa nasihat kepada penguasa itu hendaknya dengan empat mata. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengamalkan kandungan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kami sebutkan di atas.

Ibnu Nukhas rahimahullahu Ta’ala berkata,

ويختار من الكلام مع السلطان في الخلوة على الكلام معه على رؤوس الأشهاد، بل يود لو كلمه سرا، ونصحه خفية، من غير ثالث لهما

“Dan dipilihlah berbicara dengan penguasa secara sembunyi-sembunyi daripada berbicara di hadapan banyak orang. Bahkan diharapkan untuk berbicara dengannya secara sembunyi-sembunyi tanpa ada orang yang ke tiga.” (Tanbiihul Ghaafiliin, hal. 64)

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Bukanlah termasuk manhaj salaf (manhaj ahlus sunnah), mempopulerkan keburukan penguasa dan menyebut-nyebut kejelekan penguasa di atas mimbar-mimbar (semacam koran, medsos, buletin, dan lainnya, pen,), karena hal itu hanya akan menyebabkan penggulingan pemerintahan. Juga akan menyebabkan (rakyat) tidak mau lagi mendengar dan taat terhadap penguasa (membangkang) dalam kebaikan serta menyebabkan pemberontakan yang hanya menimbulkan madharat dan tidak ada manfaat. Akan tetapi, metode yang diikuti oleh ahlus sunnah adalah memberikan nasihat empat mata antara dia dengan penguasa, atau mengirim surat kepadanya, atau berhubungan dengan ulama yang bisa menyampaikan pesan tersebut sehingga bisa memberikan arahan kepada penguasa menuju kebaikan.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 8/210)

Akan tetapi, karena semakin jauhnya umat ini dengan ilmu, kita dapati sebagian orang yang justru menghina sunnah Rasulullah yang satu ini. Wal ‘iyaadzu billah.

Bolehkah Menasihati secara Terang-Terangan?
Menasihati penguasa dengan terang-terangan itu diperbolehkan, namun dengan syarat pokok harus di hadapannya langsung, bukan sekedar teriak-teriak di belakang, ketika sang penguasa tidak ada di hadapannya. Ini pun ketika dalam kondisi memaksa dan ada maslahat di dalamnya dan tidak menimbulkan madharat yang lebih besar. Karena hukum asalnya adalah nasihat dengan empat mata. Hal ini sebagaimana kisah Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu bersama dengan gubernur Madinah, Marwan bin Al-Hakam.

Ketika shalat ‘id, Marwan bin Al-Hakam mengubah tata cara shalat menjadi memulai dengan khutbah terlebih dahulu, agar lebih banyak orang mendengar khutbahnya.
Abu Sa’id pun mengingkari dengan mengatakan,

أَيْنَ الِابْتِدَاءُ بِالصَّلَاةِ؟

“Mulailah dengan shalat!”

Gubernur Marwan mengatakan,

لَا، يَا أَبَا سَعِيدٍ قَدْ تُرِكَ مَا تَعْلَمُ

“Tidak wahai Abu Sa’id, sesuatu yang Engkau ketahui itu telah ditinggalkan.”

Abu Sa’id menjawab,

كَلَّا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ

“Sekali-kali tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setahuku kalian tidak akan mendatangkan kebaikan sedikit pun.” Dia mengulangi tiga kali, dan pergi meninggalkan tempat itu. (HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889. Lafadz hadits ini milik Muslim.)

Ini adalah contoh dari sahabat yang mulia, Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu yang memberikan nasihat di hadapan sang gubernur langsung, namun tidak menjelek-jelekkan sang gubernur di belakangnya. Yang perlu diperhatikan, yang menegur sang gubernur adalah sahabat senior Abu Sa’id Al-Khudhri, bukan semua orang yang hadir di situ. Dan beliau menegur atas dasar ilmu, bukan asal menegur. Hal ini menunjukkan bahwa hendaknya yang menasihati adalah seseorang yang berilmu dan memiliki kapasitas dalam bidangnya, sehingga nasihat tersebut mungkin untuk didengar. Dan ketika nasihat tersebut tidak diikuti oleh sang gubernur, maka lihatlah, sahabat Abu Sa’id pun kembali masuk shaf, shalat ‘id bersama sang gubernur sampai selesai, dan tidak menjelek-jelekkan di belakang sang gubernur setelah kejadian itu.

Selain itu, hadits ini pun kembali menegaskan bahwa menasihati penguasa sebaiknya secara sembunyi-sembunyi (sebagaimana hukum asalnya). Karena setelah shalat ‘id, Abu Sa’id kembali mendatangi sang gubernur dan membicarakan hal tersebut bersamanya, tidak di hadapan banyak manusia.

Ketika menjelaskan maksud “pergi meninggalkan tempat itu” dalam hadits di atas, An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

قال القاضي عن جهة المنبر إلى جهة الصلاة وليس معناه أنه انصرف من المصلى وترك الصلاة معه بل في رواية البخاري أنه صلى معه وكلمه في ذلك بعد الصلاة

“Al-Qadhi berkata, ‘Maksudnya beliau pergi dari mimbar tersebut untuk mengambil tempat melaksanakan shalat ‘id, bukan pergi dari tempat shalat tersebut sehingga tidak shalat bersama sang gubernur. Bahkan dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa Abu Sa’id tetap shalat bersama Marwan dan kemudian berbicara setelah shalat berkaitan dengan masalah tersebut.’” (Syarh Shahih Muslim, 6/178)

Menasihati secara langsung di hadapan penguasa inilah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah kalimat keadilan (mengungkapkan kebenaran) di sisi (di hadapan) penguasa yang dzalim.” (HR. Ibnu Majah no. 4011. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “di sisi penguasa yang dzalim”, yaitu berbicara langsung kepadanya (tatap muka). Sebagaimana jihad di jalan Allah Ta’ala yang dilakukan dengan berhadapan langsung melawan musuh di medan peperangan.

Al-Mubarakfuri rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan kandungan hadits di atas,

قال الخطابي وإنما صار ذلك أفضل الجهاد لأن من جاهد العدو كان مترددا بين الرجاء والخوف لا يدري هل يغلب أو يغلب .وصاحب السلطان مقهور في يده فهو إذا قال الحق وأمره بالمعروف فقد تعرض للتلف وأهدف نفسه للهلاك فصار ذلك أفضل أنواع الجهاد من أجل غلبة الخوف

Al-Khaththabi berkata, “Tindakan itu lebih utama dibandingkan jihad karena barangsiapa berjihad (melawan musuh), maka dia berada dalam kondisi antara berharap (menang) atau rasa takut (kalah), dia tidak mengetahui apakah akan menang atau kalah. Adapun orang yang ditindas penguasa dzalim tersebut, jika dia mengatakan kebenaran dan memerintahkan kebaikan, hal itu akan menyebabkan dia dilukai (disiksa) atau bahkan dibunuh oleh sang penguasa. Jadilah tindakan tersebut lebih utama daripada jihad karena yang lebih dominan adalah rasa takut.” (Tuhfatul Ahwadhi, 6/329)

Berdasarkan penjelasan di atas, apa yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang ini dengan menjelek-jelekkan penguasa di mimbar-mimbar, di forum-forum terbuka, di medsos, di koran-koran, buletin, majalah, atau dengan membuat “meme” bernada ejekan dan hinaan, dan sebagainya, tidaklah yang dimaksudkan oleh hadits tersebut di atas. Bahkan sangat jauh dari maksud hadits di atas. Dua hal ini tentu saja sangat jelas perbedaannya. Rasulullah mengatakan, “di sisi (di hadapan) penguasa yang dzalim”, sedangkan yang dilakukan oleh orang-orang itu adalah “di belakang penguasa yang dzalim (tidak di hadapannya).”

Oleh karena itu, para sahabat menilai jika seseorang bersikap manis di hadapan penguasa dan memujinya, namun menjelek-jelekkan sang penguasa ketika di belakangnya, maka para sahabat menilai tindakan seperti ini sebagai sebuah kemunafikan.

قَالَ أُنَاسٌ لِابْنِ عُمَرَ: إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا، فَنَقُولُ لَهُمْ خِلاَفَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ، قَالَ: كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا

Beberapa orang berkata kepada Ibnu Umar, “Dahulu, jika kami menemui penguasa kami, kami mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami katakan ketika kami telah meninggalkannya.” Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang demikian itu kami anggap sebagai suatu kemunafikan.” (HR. Bukhari no. 7178)

*

Diselesaikan di pagi hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/ 14 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:

Khaqiqatul Khawarij fi Asy-Syar’i wa ‘Abra At-Taarikh, karya Syaikh Faishal Qazaar Al-Jaasim, hal. 140-141 (penerbit Al-Mabarrah Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an wa As-Sunnah, cetakan pertama tahun 1428)

PEMBAGIAN TAUHID DAN SYIRIK

PEMBAGIAN TAUHID DAN SYIRIK

📌Tauhid dibagi menjadi tiga:

  1. Tauhid Rububiyah.
  2. Tauhid Uluhiyah.
  3. Tauhid Asma’ wa Shifat.

Tauhid Rububiyah ialah mengimani bahwa Allah ﷻ adalah pencipta segala sesuatu dan mengurus kesemuanya dan tidak ada sekutu bagiNya dalam hal tersebut.

Adapun Tauhid Uluhiyah ialah mengimani bahwa Allah ﷻ Dia-lah yang berhak untuk disembah dengan haq, tidak ada sekutu bagiNya dalam hal tersebut. Inilah makna لا إله إلا الله, artinya tidak ada yang pantas disembah dengan haq kecuali Allah ﷻ. Maka, segala bentuk ibadah seperti shalat, puasa dan yang lainnya, wajib dilaksanakan hanya untuk Allah ﷻ semata. Tidak boleh ada satu bentuk ibadah pun yang ditujukan kepada selain Allah ﷻ.

Selanjutnya Tauhid Asma’ wa Shifat ialah mengimani semua apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Hadits-hadits shahih tentang nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifatNya. Lalu menetapkan itu semua untuk Allah ﷻ tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta’thil (meniadakan), takyif (menanyakan bagimana caranya), dan tanpa tamtsil (penyerupaan), sesuai dengan firman Allah ﷻ,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah, “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa. Allâh adalah Rabb Ash-Shamad. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Dan Firman Allah ﷻ, QS Asy-Syura Ayat 11 :

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Tapi ada sebagian ulama yang membagi tauhid menjadi dua saja dengan menggabungkan Tauhid Asma’ wa Shifat pada Tauhid Rububiyah. Dan tidak ada masalah dalam hal ini, karena yang dimaksud oleh dua macam pembagian ini sudah jelas.

📍Syirik dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Syirik Akbar (Besar).
  2. Syirik Ashgar (Kecil).
  3. Syirik Khafi (Samar).

▪Syirik Akbar (Besar)

Syirik akbar akan menghapuskan pahala amsl dan akan mengekalkan pelakunya di dalam Neraka. Seperti yang difirmankan oleh Allah ﷻ,

‎( وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُون َ)

“Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

Allah ﷻ berfirman,

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّـهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ ۚ أُولَـٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amalannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” (QS. At-Taubah: 17)

Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan melakukan syirik akbar, maka dia tidak akan diampuni, dan surga diharamkan baginya. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.
(QS. An Nisa’: 48)

Di dalam ayat lain Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّـهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Yang termasuk syirik akbar, diantaranya adalah berdoa (meminta) kepada orang mati dan patung (berhala), mohon perlindungan kepada mereka, juga bernadzar dan berkurban (menyembelih binatang) untuk mereka dan lain sebagainya.

▪Syirik Asghar (Kecil)

Syirik kecil ialah beberapa tindakan yang sudah jelas disebutkan dalam nash-nash Al Qur’an dan As-Sunnah sebagai syirik, tetapi tidak termasuk jenis syirik besar. Contohnya adalah riya’ (ingin dilihat orang) dalam beramal, bersumpah tidak dengan nama Allah dan mengatakan مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَن (Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan dikehendaki oleh fulan) dan lain sebagainya. Rasulullah ﷺ bersabda,

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apa itu syirik kecil?” Beliau berkata, “Riya’”.” (HR. Ahmad 39/39 – Syaikh Al-Albani dalam “Shohih At-Targhib wat Tarhib” 1/8 berkata, Shohih”)

Rasulullah ﷺ bersabda,

‎مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرأَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan”.
(HR. Abu Daud no 3251, dishahihkan al-Albani)

Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُوْلُوْا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ

“Janganlah kalian mengatakan: ‘Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan,’ tapi katakanlah: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan.”
(HR. Abu Dawud dengan sanad yang baik)

Syirik kecil ini tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam serta tidak memastikan kekalnya seseorang di dalam neraka, tetapi menghilangkan kesempurnaan tauhid yang semestinya.

▪Syirik Khafi (Samar)

Syirik khafi ini didasarkan pada sabda Rasulullah ﷺ, yang mana beliau bertamya kepada para sahabat,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ, قَالَ: قُلْنَا: بَلَى , فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ, أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
.
“Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al-Masih ad-Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya dari Abi Sa’id al-khudri Radhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh Albani Shahiihul Jami’ no.2604)

Bisa juga syirik itu dibagi menjadi dua bagian saja. Syirik besar dan syirik kecil. Adapun syirik khafi, bisa masuk dalam dua jenis syirik tadi. Bisa terjadi pada syirik besar, seperti syiriknya orang-orang munafik. Karena mereka itu menyembunyikan keyakinan sesat mereka dan berpura-pura masuk Islam dengan dasar riya’ dan khawatir akan keselamatan diri mereka. Bisa juga terjadi pada syirik kecil seperti yang disebutkan dalam hadits Mahmud bin Labid al-Anshari yang terdahulu dan hadits Abu Sa’id yang tersebut di atas.
📚(Kitab ‘Ad Durus al-Muhimmah li ‘Ammah al-Ummah, Syaikh Ibnu Baz rahimahullâh, hal: 6-14)

✍🏻Ditulis oleh : Abu Abdillah Mochamad Riski حفظه الله

Salah Faham Terhadap Orang Melayu-Malaysia Yang Mengagungkan Nabi Muhammad Dan Sahabat Baginda

Antara salah faham terbesar non-muslim adalah, mereka merasakan orang Islam menyembah Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat Baginda.

1Muhammad adalah Nabi, bukan Tuhan.

Islam adalah agama monotheism iaitu agama yang percaya hanya kepada satu Tuhan sahaja. Agama Islam mempunyai hubungan yang erat dengan agama Kristian dan Yahudi kerana pertaliannya di dalam sejarah. Agama Islam muncul sekitar tahun 610, iaitu semasa Nabi Muhammad S.A.W berusia 40 tahun.

2Tugas Nabi adalah mengajak manusia kepada Tuhan.

Nabi juga adalah manusia biasa. Berhajat untuk makan, minum, ke tandas, berkawan, dan berkeluarga. Nabi tidak memiliki unsur-unsur ketuhanan seperti kuasa ghaib dan kesaktian. Mereka bukannya dewa. Namun begitu, setiap Nabi dikurniakan keistimewaan yang dipanggil mukjizat.

Tujuan keistimewaan ini adalah untuk menanamkan keyakinan para pengikutnya kepada kebenaran Tuhan. Buktinya adalah mukjizat ini hanya terjadi dengan kehendak Tuhan dan bukannya atas kemampuan mereka.

3Para sahabat tidak memuja Nabi.

Nabi Muhammad S.A.W wafat (meninggal dunia) sekitar tahun 632. Ketika itu, bilangan orang Islam dan sahabatnya adalah sekitar 124,000 orang. Semua orang sahabat Baginda sedih, terkejut dan patah hati. Kemuncaknya adalah apabila salah seorang sahabat Baginda yang paling utama bernama Saidina Umar al-Khattab (khalifah kedua selepas Nabi Muhamad) tidak dapat menahan perasaannya dan berkata, “Siapa yang berkata Nabi Muhammad telah mati, aku akan membunuhnya”.

Beliau hanya tenang selepas seorang lagi sahabat Nabi bernama Abu Bakar (Khalifah pertama selepas kematian Nabi) membacakan sepotong ayat al-Quran daripada surah Ali Imran ayat 144;

Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sudahpun didahului oleh beberapa orang Rasul (yang telah mati atau terbunuh). Jika demikian, kalau ia pula mati atau terbunuh, (patutkah) kamu berbalik (berpaling tadah menjadi kafir)? Dan (ingatlah), sesiapa yang berbalik (menjadi kafir) maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun dan (sebaliknya) Allah akan memberi balasan pahala kepada orang-orang yang bersyukur (akan nikmat Islam yang tidak ada bandingannya itu).

4. Larangan di dalam hadis

• “Jauhilah kalian daripada sikap ghuluw (melampau) di dalam agama, kerana sikap ghuluw ini telah membinasakan ramai orang sebelum kalian”, [Riwayat Imam Ahmad]

• “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, seperti mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji Isa putera Maryam. Aku ini hanyalah hamba-NYA, maka katakanlah, ‘Abdullah wa Rasuluhu (hamba Allah dan rasul-Nya)”, [Riwayat Imam Baihaqi]

5. Negara Arab sebelum kedatangan Islam.

Nabi Muhammad S.A.W lahir di Mekah. Ketika itu, wilayah Arab adalah sebuah kawasan yang bersifat autonomi dan diperintah secara berpuak-puak, nomad, dan tinggal secara kelompok. Mereka tidak mempunyai sistem pemerintahan, raja, dan struktur sosial yang baik. Mereka mempunyai banyak kepercayaan karut, amalan yang mengarut dan mereka menyembah berhala.

Antara amalan buruk mereka adalah suka berjudi, menilik nasib, berperang antara kabilah (puak), merompak pedagang-pedagang yang melalui kawasan mereka, mabuk, dan berzina. Mereka juga percaya bahawa wanita adalah sial atau pembawa malang dalam keluarga hinggakan mengikut adat, mereka akan menanam anak-anak perempuan mereka hidup-hidup kerana bimbang akan kemiskinan.

Amalan mereka yang terlalu barbarik menyebabkan mereka ‘terselamat’ daripada dijajah oleh kuasa-kuasa besar di sekeliling mereka seperti Empayar Byzantine (Rom) dan Empayar Parsi. Dikatakan bahawa dua kuasa besar ini tidak mahu menjajah jazirah Arab kerana tidak mahu budaya masyarakat arab Jahiliyah ini meracuni peradaban mereka.

Namun, segala-galanya berubah dalam tempoh yang sangat singkat. Nabi Muhamad S.A.W bukan sahaja membina masyarakat yang moden, bertamadun, bijak dan berdaya saing, Baginda juga berjaya membentuk asas (foundation) sebuah kerajaan Islam yang kuat. Semasa pemerintahan Saidina Umar R.A sekitar tahun 651, Empayar Parsi telah jatuh sepenuhnya kepada umat Islam, manakala Byzantine Timur (wilayah Mesir dan Anatolia) jatuh kepada umat Islam lebih awal, iaitu pada tahun 641. Empayar Byzantine walau bagaimanapun, hanya jatuh sepenuhnya selepas beberapa sisi penaklukan yang dimenangi oleh Sultan Muhammad al-Fateh, pada tahun 1453.

6. Nabi Muhamad ikon femenisme.

Antara perkara yang paling signifikan yang Nabi Muhammad lakukan adalah, Baginda mengangkat martabat kaum wanita. Pada zaman sebelum kedatangan Islam, peranan wanita hanya terhad kepada tugas-tugas domestik. Bahkan lebih buruk lagi, wanita sering menjadi bahan dagangan bagi tujuan perhambaan dan seks. Namun, selepas kedatangan Islam, wanita mula diberi kemuliaan. Kaum wanita mula diberikan hak untuk belajar dan mendapat pendidikan.

Dalam masa yang sama, Nabi Muhammad S.A.W juga sangat sensitif dan menjaga kemuliaan kaum wanita. Baginda pernah memerangi kaum Yahudi suku qainuqa dan menghalau mereka kerana mereka telah melakukan pengkhianatan, memungkiri perjanjian, dan menggangu seorang wanita di pasar sehingga terselak tudungnya. Bahkan di dalam khutbah terakhir Baginda sebelum wafat pun, Baginda ada berpesan dan berwasiat supaya kaum wanita dijaga dan dilindungi.

Selain itu, salah seorang isteri Nabi Muhammad S.A.W yang bernama Aisyah telah menjadi salah seorang sumber primer ilmu dan hukum kerana dalamnya ilmu yang diwariskan oleh Baginda kepadanya. Seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W yang bernama Atha’ R.A pernah memberikan kredit tentang Aisyah R.A. dengan katanya, “Aisyah adalah orang yang faqih, paling tahu tentang sesuatu, dan paling baik dalam memberikan pendapat”.

7. Dicintai bukan dipuja.

Sanjungan yang diberikan kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah semata-mata kerana cinta. Orang Islam meneladani Nabi Muhammad S.A.W kerana perintah-perintah Allah:

• “Jika kamu benar-benar mencitai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad). Nescaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”, [Surah Ali Imran ayat 31]

• Seseorang pernah kepada Nabi Muhammad S.A.W tarikh berlakunya kiamat, tetapi dibalas dengan Bagind dengan soalan, apa yang telah orang itu persiapkan bagi menghadapinya. Orang tadi menjawab, “Saya tidak banyak amalan, tetapi saya sangat-sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Sebagai balasan, Nabi Muhammad S.A.W bersabda, “Jika begitu, kamu akan bersama dengan orang kamu cintai (di akhirat nanti)” [Hadis Riwayat Bukhari]

• Habib Ali Zainal Abidin pernah berkata bahawa kisah dan hadis di atas merupakan hadis yang paling disukai dan paling mengembirakan para Sahabat kerana mereka optimis mahu bersama-sama dengan Nabi Muhammad S.A.W lagi.

8. Nabi Muhammad berjasa kepada ketamadunan.

Islam adalah agama ilmu. Ayat al-Quran pertama yang disampaikan kepada Baginda adalah sebuah seruan untuk membaca. Ini dikuatan dengan beberapa perintah daripada Allah S.W.T kepada manusia supaya berfikir dan membuat kajian. Semua ini membawa maksud yang sama, iaitu supaya kita belajar.

Pada zaman Baginda, salah satu syarat yang ditetapkan oleh Baginda kepada tawanan-tawanan perang untuk dibebaskan adalah dengan mengajar anak-anak orang Islam menulis dan membaca. Legasi keilmuan ini diteruskan oleh khalifah-khalifah selepas Baginda. Contohnya semasa zaman khalifah Umayyah, Damascus telah menjadi pusat ilmu. Ramai sarjana-sarjana agung dilahirkan.

Begitu juga apa yang berlaku di Baghdad semasa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Ketika Eropah berada dalam zaman kegelapan (the dark age) dari tahun 476 hingga sekitar tahun 800, orang-orang Islam telah membukukan kajian-kajian dan penemuan-penemuan mereka. Buku-buku mereka ini dikongsikan bersama dengan ‘pendatang’ dari Barat, kemudiannya dikaji dan dikembangkan lagi oleh mereka.

9. Penutup.

Kekaguman dan penghormatan orang Islam kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah semata-mata kerana rasa terhutang budi kepada Baginda. Nabi Muhammad S.A.W tidak diutuskan untuk menjadi rahmat (blessing) hanya kepada orang Islam sahaja, sebaliknya kepada seluruh alam.

Obsesi umat Islam kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah kerana agama dan bukannya kerana pengaruh bangsa atau nasionalisma. Nabi Muhammad S.A.W juga adalah ikon perpaduan. Baginda telah membuktikan bahawa tiada kemuliaan di dalam ras, warna kulit, dan pecahan demografik, sebaliknya kemuliaan adalah hanya dengan jalan agama.

Islam mengajar banyak perkara, dan tiada satu pun yang buruk.

10. Glosari

• Hadis = kata-kata Nabi Muhammad.

• Sunnah = apa-apa yang Nabi Muhammad buat termasuklah kata-katanya, perbuatannya, apa yang dipersetujuinya, dan apa yang ditinggalkan olehnya.

• Khalifah = sistem pemerintahan Islam oleh seorang ketua dan dibantu oleh suatu majlis penasihat bernama syura‘.

• Sahabat nabi = orang-orang Islam yang sempat melihat dan berjumpa Nabi Muhammad S.A.W semasa Baginda masih hidup.

• Mukjizat = perkara ajaib seperti tangan Nabi Isa bertukar menjadi putih bercahaya.