RASA MANIS HAWA NAFSU

RASA MANIS HAWA NAFSU

Rasa manis (enak)nya hawa nafsu yang telah menetap(memenuhi) dalam hati, adalah penyakit yang sulit untuk di obati.”

Hati itu tempatnya Iman, Yaqin dan makrifat, ketiganya itu sebagai obat penyakit hati yang timbul dari hawa nafsu,

apabila penyakit itu sudah menetap dan menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obat. Disitulah letak kepayahan dan sulitnya mengobatinya, sehingga sulit disembuhkan

“Asal usul / pokok dari pada kemaksiatan, ghoflah

( lupa pada Allah ), syahwat  (kesenangan ), dan kemusyrikan itu sebab ridho dengan hawa nafsu

Tidak ada yang boleh menyembuhkan / mengeluarkan kesenangan nafsu ( yang sudah menetap ) dalam hati, kecuali rasa takut yang menggetarkan, atau rindu yang menggelisahkan.”yang bersumber dari mahrifat

Keinginan hawa nafsu yang sudah memenuhi hati itu sangat luar biasa pengaruhnya, maka untuk mengobatinya sangatlah sulit, hanyalah dengan rasa takut yang besar  (menggetarkan ) yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah tentang balasan dan ancaman Allah, siksa bagi orang yang maksiat, ingat akan datangnya mati, dimasukkan dalam kubur, ditanya oleh malaikat munkar nakir, datangnya hari kiamat dan neraka. dan rasa rindu yang sangat, yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah tentang kemulyaan dan kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang yang ahli taat kepada Allah, dan para kekasihNya, berupa surga dan kenikmatan yang lebih lagi di dalamnya.

Sebagimana Alloh tidak suka dengan amal yang dipersekutukan dengan lainNya, begitu pula Allah tidak suka dengan hati yang diperskutukan dengan lainNya. Amal / ibadah yang dipersekutukan dengan sesuatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang dipersekutukan maka Allah tidak akan menghadapi/meridhoinya.”

Amal yang yang dipersekutukan yaitu : amal /ibadah yang kemasukan salah satu dari tiga hal :

1..Riya’ (amal yang karena makhluk),

2,,Tashonnu’ ( membaik-baikan amal di hadapan manusia ),

‘3,,Ujub ( merasa besar dan baik amalnya sendiri ).

Sedangkan hati yang bersekutu yaitu : hati yang masih cinta kepada selain Allah,dan masih mengharap dan takut atau masih bersandar kepada selain Allah. Dan Allah hanya menerima amal yang ikhlas karena Allah, dan Allah hanya mau menghadapi orang yang dihatinya hanya ada Allah.

7 Jenis Nafsu

MACAM-MACAM NAFSU

Mencetak generasi Islam salaf yang intelek, beriman, berakhlaq dan bertaqwa.

Mengenal diri kita sendiri merupakan sebuah hal yang harus di penuhi oleh setiap individu kita, seperti yang tertuang dalam kalam hikmah ulama tasawuf  :

   مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَف رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia

telah mengenal Tuhannya.”

 Dari kalam hikmah diatas kita dianjurkan untuk mengenal segala hal apapun didalam diri kita, entah itu kebaikan didalam kita, keburukan kita, sifat-sifat kita, ataupun potensi yang ada didalam jatidiri kita. Setelah kita mengetahui jatidiri kita, maka jalan untuk mengenal tuhan akan lebih mudah.

Salah satu perkara yang ada didalam dirikita adalah nafsu, dari situ penulis akan menyajikan nafsu yang mersemayam didalam diri kita, dengan mengutip Kitab Tanwirul Qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, Sebelumnya perlu kita ketahui, Kitab Tawirul Qulub adalah kitab yang masyhur di kalangan pesantren di Indonesia. Lebih-lebih pesantren salaf. Kitab ini terbagi kedalam 3 pembahasan utama. Pertama, bagian Aqidah yang terdiri atas 3 bab. Kedua, bagian Fiqih terdiri atas 11 bab yang dibagi menjadi 92 pasal dan ketiga, bagian Tasawwuf dibagi atas 22 pasal

didalam kitab Tanwirul Qulub nafsu dibagi menjadi tujuh tingkatan, berikut pembagiannya :

1. }         Nafsu Amarah  (النفس الأمارة  )

Nafsu amarah adalah nafsu yang condong/ fanatik kepada thabiatnya badan seperti kemauan mata, telinga, tangan, kaki sehingga nafsu ini mengarah pada sesuatu yang sifatnya bersenang-senang, syahwat, ambisi yang mengarah kepada sesuatu yang dilarang agama.

Sehingga dapat membimbing hati anda semua kepada arah kehinaan sehingga nafsu saat itu menjadi sumber

kejahatan, sumber keburukan, dan sumber akhlak yang tercela seperti  sifat sombong, tamak, ambisi, dengki (iri hati), emosi, pelit dan pendendam. Maka martabah/ tingkatan nafsu yang model

seperti ini adalah efek nafsu terlalu mendominasi sebelum adanya mujahadah. (Memerangi hawa nafsu, Bersungguh-sungguh mendekatkan diri pada Allah SWT )

2. }       Nafsu Lawwamah ( النفس اللوامه )

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang  mulai terang dengan cahaya hati namun tidak maksimal  cahaya hati tersebut menerangi nafsu, di satu sisi dia taat pada kecerdasan akal dan di sisi lain dia ingkar. Pada akhirnya nafsu ini sering menyesal ketika sudah terlanjur pada jurang kenegatifan, mencaci dan mencela dirinya sendiri.

 Kemudian menjadi sumber penyesalan karena ketika itu nafsu

lawwamah menjadi penyebab permulaan terhadap kejatuhan dan kerakusan. Ketika mujahaddah lagi menjadi nafsu mutmainnah atau ibaratnya setengah sadar melakukan hal tercela namun kemudian menyesal di akhir perbuatan.

3. }       Nafsu Mutmainnah  ( النفس المطمئنة  )

Nafsu mutmainnah adalah nafsu yang sudah terang dengan cahaya hati sehingga nafsu itu lepas dengan sifat-sifat yang tercela jadi cahaya hati yang menerangi hati itu sudah maksimal. Semakin tenang menuju kesempurnaan, jadi nafsu ini menjadi pemula kesempurnaan yang menjadi jalan

yang menuju akhlak dan suatu hal yang positif.

 Orang yang memiliki nafsu ini dia sudah mulai mabuk/ terhembus oleh badai wishol yang sudah berhubungannya dengan Allah. Bahkan ketika seseorang mempunyai nafsu seperti ini, ia tak melirik apapun godaan tercela dalam hidupnya.

4. }         Nafsu Mulhamah ( ألنفس الملهمة )

Nafsu ini sudah diberikan ilham berupa pengetahuan, tawadu’ kerendahan hati, qonaah dan menerima apa adanya dan tidak pelit. Nafsu ini menjadi sumber kesabaran mengemban amanat, titah dan perintah dan selalu bersyukur. Nafsu ini menjadikan seseorang lebih bisa menerima apa adanya dengan pemberian sang pencipta, meski terkadang tak sesuai dengan apa yang diinginkan.

5.}          Nafsu Rodhiyyah  ( النفس الراضية)

Nafsu ini selalu ridha kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad dan nafsu ini selalu memasrahkan diri kepada Allah. Nafsu ini lebih tinggi dari nafsu mulhamah.

6. }         Nafsu Mardhiyyah ( النفس المرضية )

Nafsu mardhiyyah adalah nafsu yang bukan hanya ridha kepada Allah tapi juga Allah ridha kepada dirinya, sehingga ada bekas keridhaan Allah bekasnya yakni karamah, ikhlas dan selalu ingat kepada Allah di setiap waktu dan keadaan apapun. Dengan haq dia menegenal Allah dengan sebenar-benarnya dan mengetahui segala perbuatan itu menjadi jelas hakikatnya. Disini ada timbal balik ridha antara sang pencipta dengan makhluk yang diciptakannya.

7.  }        Nafsu kamilah (  النفس الكاملة)

Nafsu kamilah ini menjadi kesempurnaan dan kesempurnaan itu menjadi thab’an sehingga nafsu itu selalu tinggi dalam kesempurnaannya dan selalu diperintah untuk agar kembali kpd Allah, selalu perintah jasadnya kepada jalan yang lurus dan pada proses-proses penyempurnaan. Dan tingkatan nafsu ini adalah tajaliyyah sehingga asma dan sifat-sifat Allah ini menjadi jelas, pemilik nafsu ini selamanya bersama Allah, berjalan kepada Allah menuju Allah, kembali dari Allah menuju Allah, jadi tidak ada tempat untuk nafsu ini selain kepada Allah.

Begitulah sedikit narasi tentang tujuh tingkatan nafsu dalam Kitab Tanwirul Qulub.  Nafsu sebagai barang halus bisa bersembunyi melalui hal-hal yang lembut pula. Sehingga seakan-akan ia tidak tampak namun terjadi. Maka dari itu semoga kita selalu mempunyai nafsu yang baik pula.

7 PERINGKAT NAFSU

Artikel ini menjelaskan mengenai 7 peringkat nafsu yang ada pada manusia. Sebelum mengenali peringkat nasfu ini, mari kita kenali terlebih dahulu apa itu nafsu. Nafsu berasal dari perkataan arab ‘Nafs’ yang bererti ‘Jiwa’. Walaupun secara keseluruhan nafsu ada 7 peringkat, ianya terbahagi kepada dua bahagian.

Tiga Peringkat Utama

  1. Nafsu hasutan (an-nafs al-ʾammārah)
  2. Nafsu menyesali (an-nafs al-luwwāmah)
  3. Nafsu tenang (an-nafs al-muṭmaʾinnah)

Empat peringkat tambahan

  1. Nafsu diilhamkan (an-nafs al-mulhamah)
  2. Nafsu berpuas hati (an-nafs ar-raḍīyyah)
  3. Nafsu diredhai (an-nafs al-marḍīyyah)
  4. Nafsu sempurna (an-nafs aṣ-ṣāfīyyah atau an-nafs al-Kāmilah)

Kebanyakan dari kita mengertikan nafsu itu dari sudut negatif, nasfu juga terdiri dari sudut positif. Namun ketika ini tidak ramai yang menggunakan nafsunya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Jika nafsu boleh diperintah dengan baik, ianya boleh mengubah hati manusia dari keruh menjadi sangat jernih.

Apakah 7 Peringkat Nafsu?

1. Nafsu hasutan (an-nafs al-ʾammārah)

Nafsu Amarah adalah nafsu yang paling mudah menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Orang yang memiliki nafsu ini tidak kenal dengan akhirat. Mereka senang melakukan perbuatan yang dilarang asalkan dirinya boleh merasa senang dengan perbuatannya (dosa) itu. Bahkan mereka berlumba-lumba dengan orang lain untuk menunjukkan siapa yang paling banyak berbuat maksiat. Manusia yang sedemikian akan mendabik dada, kerana berbangga dengan kejahatan yang dilakukan.

2. Nafsu menyesali (an-nafs al-luwwāmah)

Ketika timbul perebutan antara nafsu dan akal, manusia berada pada peringkat al-luwwāmah. Nasfu al-luwwāmah ini adalah di mana seseorang merasa berdosa setelah melakukan perbuatan dosa namun setelah bertaubat seseorang itu masih lagi melakukan dosa itu walaupun mengetahui apa perkara yang dilarang dan amal kebajikan. Saat terjerumus dalam kejahatan dia merasa puas namun pada satu sudut lain menyesali perbuatannya itu. Di sini, nafsu diilhamkan oleh hati, melihat hasil tindakan, bersetuju dengan otak, melihat kelemahan, dan mengharapkan kesempurnaan.

Nafsu mengajak kepada kejahatan, akal mengajak kepada kebaikan. Manusia pada tahap ini ibarat lalang. Belum dapat buat keputusan untuk berbuat baik dan tiada kekuatan untuk meninggalkan maksiat.

Dia boleh melakukan kejahatan lagi sesudah ia berbuat baik. Kadang-kadang ke tempat ibadah, kadang-kadang ke tempat maksiat, hatinya selalu merintih kepada Allah bila tidak dapat melawan nafsu untuk membuat maksiat atau tidak dapat istiqamah dalam berbuat kebaikan.

3. Nafsu diilhamkan (an-nafs al-mulhamah)

Peringkat ini muncul di antara peringkat utama 2 dan 3. Ia adalah peringkat tindakan. Bila saat Allah tunjukkan jalan dan telah terbuka hidayah petunjuk kepada seseorang, maka tergolonglah manusia dalam peringkat nafsu al-mulhamah.

Description: https://akuhijrah.com/wp-content/uploads/alanaam125.jpg

Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayah petunjuk kepadanya nescaya Ia melapangkan dadanya (membuka hatinya) untuk menerima Islam; dan sesiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, nescaya Ia menjadikan dadanya sesak sempit sesempit-sempitnya, seolah-olah ia sedang mendaki naik ke langit (dengan susah payahnya). Demikianlah Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al-An’aam 6:125)

Apabila hendak melakukan amal kebajikan terasa begitu berat. Namun dalam keadaan bermujahadah dia berbuat kebaikan kerana sudah sudah mulai takut pada kemurkaan Allah dan pedihnya api neraka. Bila berhadapan dengan kemaksiatan, hatinya masih rindu dengan maksiat tetapi masih dapat melawan dengan membayangkan nikmatnya berada di Syurga. Dia sudah mengenal penyakit-penyakit yang berada dalam hatinya seperti iri hati, dengki, syirik, dan lain-lain tetapi masih belum mampu melawan.

4. Nafsu tenang (an-nafs al-muṭmaʾinnah)

Bila penyakit-penyakit hati sudah tidak ada lagi, akan rasa satu kenikmatan baru dalam hati seseorang dan akan merasa benci dalam melakukan kejahatan. Pada saat itu taraf nafsunya meningkat ke peringkat yang lebih baik lagi iaitu Nafsu Muthmainnah. Orang yang berada dalam peringkat ini sudah dijamin masuk syurga.

Description: https://akuhijrah.com/wp-content/uploads/alfajr27-30.jpg

(Setelah menerangkan akibat orang-orang yang tidak menghiraukan akhirat, Tuhan menyatakan bahawa orang-orang yang beriman dan beramal soleh akan disambut dengan kata-kata): “Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya!. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan) lagi diredhai (di sisi Tuhanmu)!. Serta masuklah engkau dalam kumpulan hamba-hambaku yang berbahagia. Dan masuklah ke dalam SyurgaKu! (Al-Fajr 89:27-30)

Mereka juga sentiasa dijauhkan dari rasa cemas dan gelisah atas segala ketetapan Allah SWT dan selalu merasa sejuk hatinya, tenteram jiwanya jika dia melakukan suatu amal kebajikan. Hatinya sentiasa rindu pada Allah SWT.

5. Nafsu berpuas hati (an-nafs ar-raḍīyyah)

Orang yang berada pada ini redha terhadap apa yang berlaku dalam hidup mereka.

Walau sekecil-kecil tentang larangan, ia akan tinggalkan sungguh-sungguh, bagi dia apa yang makruh, dia anggap macam haram, yang sunat dia anggap macam wajib. Kalau tidak buat yang sunat seolah-olah rasa berdosa

Baginya takdir baik atau buruk adalah sama saja. mereka tidak peduli dengan urusan yang berbau dunia. Karena hati mereka hanya pada Allah dan redha atas segala ketentuan yang Allah berikan kepadanya.

6. Nafsu diredhai (an-nafs al-marḍīyyah)

Orang yang berada di peringkat nafsu ini ialah apa saja yang mereka lakukan mendapat keredhaan Allah. Allah redha dengan apa saja yang mereka buat.

Mereka inilah yang disebut dalam Hadis Qudsi: “Mereka melihat dengan pandangan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, berkata-kata dengan kata-kata Allah.” Kata-kata mereka masin, sebab itu mereka cukup menjaga tutur kata. Kalaulah mereka mengatakan celaka, maka celakalah. Kerana kata-kata mereka, kata-kata yang diredhai Tuhan. Mereka memandang besar apa saja yang Allah lakukan.

7. Nafsu sempurna (an-nafs aṣ-ṣāfīyyah atau an-nafs al-Kāmilah)

Yang akhir sekali, nafsu kamilah iaitu nafsu yang paling sempurna di sisi Allah. Amat dikasihi oleh Allah. Sesungguhnya manusia biasa tidak mampu sampai ke maqam ini. Kamilah hanya darjat untuk para rasul dan para nabi. Manusia biasa hanya sekadar peringkat keenam saja iaitu mardhiah. Ini sudah bertaraf wali besar.

https://akuhijrah.com/umum/7-peringkat-nafsu/

https://vdocuments.mx/7-peringkat-nafsu.html

Create your website with WordPress.com
Get started