Keutamaan Menahan Amarah

Keutamaan Meredam Amarah

~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masuk pada hadīts ke-25 tentang “Keutamaan Meredam Amarah”.

Al Hafizh Ibnu Hajar membawakan hadīts dari ‘Annas bin Mālik. Shahābat ‘Annas bin Mālik berkata:

… مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَنْهُ عَذَابَهُ

”Barangsiapa menahan amarahnya maka Allāh akan menahan adzab-Nya (yaitu) Allāh akan mencegah adzab-Nya.”

(Hadīts riwayat At Thabrani dalam kitābnya Al Mu’jamu Al Ausath)

==> Menahan adzab-Nya (yaitu) Allāh akan mencegah dan adzab-Nya tidak mengenai orang ini, sebagai balasan kalau dia meredam amarahnya.

Kata Ibnu Hajar rahimahullāh, hadīts ini memiliki sahid (penguat yang datang dari shahābat yang lain).

Berbeda dengan muta’bi’, kalau ada mutāba’ah berarti datang lewat jalan yang lain tetapi shahābatnya sama.

Dan ada penguat dari hadīts Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya.

Hadīts ini menjelaskan tentang keutamaan meredam amarah, memiliki keutamaan khusus.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengkhususkan penyebutannya di dalam Al Qur’ān, yaitu antara ciri-ciri penghuni surga adalah:

…… وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

”Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

(QS Āli Imrān: 134)

Sebagaimana disebutkan oleh para ahli bahasa: كظم الغيظ, yaitu mengikat (menutup) tempat air (al kirbah) tatkala air sudah penuh.

Al kirbah adalah tempat air zaman dahulu yang terbuat dari kulit.

الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

Maksudnya adalah orang yang memendam amarah tatkala amarahnya sudah memuncak.

Ini hebat, bukan diawal kemarahan tetapi tatkala penyebab amarahnya sudah luar biasa, amarahnya sudah berada dipuncaknya, kemudian dia tahan maka ini orang yang hebat.

Dan telah lalu pembahasan tentang orang-orang yang meredam amarah dan pahalanya sangat banyak (kita tidak akan mengulang lagi).

Di dalam hadīts ini dikatakan barangsiapa meredam amarahnya maka Allāh akan menahan adzab-Nya.

Tetapi hadīts ini secara sanad merupakan hadīts yang dhaif karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Khālid Ibnu Burdin.

Perawi ini adalah perawi yang lemah, Imām Bukhāri tatkala menyebutkan biografi Khālid Ibnu Burdin dalam At tarikh Al Kabir beliau berkata, “Dia tidak bisa diikuti,” artinya tidak bisa dikuatkan (lemah).

Adz Dzahabi juga mengomentari Khālid Ibnu Burd dengan mengatakan bahwa dia perawi yang majhul sehingga hadīts ini adalah hadīts yang lemah.

Demikian juga syahid yang didatangkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullāh, sanadnya lemah sehingga kita tidak bisa menjadikan dua hadīts ini sebagai dalīl.

Namun telah kita ketahui bahwasanya meredam amarah akan mendatangkan pahala yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantaranya orang yang meredam amarah adalah termasuk dari ciri-ciri penghuni surga, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS Āli Imrān: 133)

Diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa tersebut kata Allāh:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

”(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS Āli Imrān: 134)

Dan keutamaan menahan amarah sangat baik.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita orang-orang yang mudah untuk meredam amarah, Aaamiin

Alhamdulillah. Selesai 111 pembahasan kitabul jami bulughul maram tentang adab, silaturahim, zuhud – wara’ dan akhlak buruk.

APA HUKUM MARAH KETIKA DITIMPA MUSIBAH?

APA HUKUM MARAH KETIKA DITIMPA MUSIBAH?

▬▬▬ஜ۩۞ بسم الله ۞۩ஜ▬▬▬

Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Ketika ditimpa musibah, manusia terbagi menjadi 4⃣ tingkat :

•> Tingkat pertama 1⃣ :

Bersikap marah.

Sikap marah ini terbagi menjadi beberapa macam :

– Pertama: Hatinya marah kepada Tuhannya dan mencela takdir Allah yang ditetapkan kepadanya. Tindakan semacam ini haram hukumnya dan kadang dapat menyebabkan kepada kekafiran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

📚 [QS. Al-Hajj: 11].

– Kedua : Lisannya marah kepada Allah, sehingga dia mengumpat dan berkata cela tatkala berdoa dan sebagainya. Tindakan semacam ini juga haram hukumnya.

– Ketiga : Marah dengan anggota badannya, seperti memuluk pipi, merobek pakaian, terlalu bersedih, dan sebagainya. Semua ini juga haram hukumnya karena bertentangan dengan kesabaran yang diwajibkan.

•> Tingkat kedua 2⃣ :

Bersabar.

Seperti yang dikatakan penyair : Sabar seperti namanya, pahit rasanya. Tetapi akibatnya lebih manis daripada madu.

Kelihatannya, tindakan semacam ini berat dilaksanakan, tetapi akan menjadikannya tabah dan kelihatannya susah dilaksanakan tetapi keimanannnya akan menjaganya dari kemarahan. Bagi orang seperti ini, musibah terjadi atau tidak sama saja, karena menurutnya, semua itu telah ditakdirkan dan pasti akan terjadi. Maka dari itu Allah memerintahkan agar bersabar sehingga berfirman : “Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

📚 [QS. Al-Anfaal: 46].

•> Tingkat ketiga 3⃣ :

Ridha.

Orang semacam ini ridha terhadap musibah yang menimpanya. Menurutnya, ada dan tidaknya musibah itu sama saja. Keberadaannya tidak menyebabkannya susah dan tidak memikulnya dengan berat. Tindakan semacam ini hukumnya Sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih. Perbedaan antar tingkat ini dengan tingkat sebelumnya jelas, karena adanya musibah dan tidak adanya sama-sama ridha menurut tingkat ini, sedangkan pada tingkat sebelumnya, musibah itu sulit baginya tetapi dia bersabar atasnya.

•> Tingkat keempat 4⃣ :

Bersyukur.

Bersyukur merupakan tingkat yang paling tinggi yaitu bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya, karena dia tahu bahwa musibah itu menjadi sebab penghapusan dosa dan sebab penambahan kebaikannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada musibah yang menimpa seorang Muslim kecuali denganNya Allah menghapus dosanya, walaupun hanya tertusuk duri.”

📕 [Muttafaq Alaih].

5 PERKARA PUNCA MARAH

KENAPA ANDA MUDAH MARAH

Pernah bertanya pada diri kenapa mudah marah atau baran? Sesungguhnya, orang yang betul-betul kuat adalah orang yang boleh menahan marahnya apabila berhadapan dengan ujian dan cabaran dalam kehidupan.

Sebelum mendidik hati supaya tidak cepat marah, kita perlu tahu punca kenapa mudah marah supaya sifat tersebut dapat dibendung dan dirawati dengan segera. Jom kita muhasabah diri kita sendiri.

KENAPA MUDAH MARAH?

1) Sukar Mengawal Emosi

Bagi mereka yang mudah marah adalah kerana mereka susah untuk mengawal emosi dan membiarkan perasaan marah menyelubungi diri. Orang yang mudah marah ni akan diperbodoh-bodohkan atau dimain-mainkan oleh orang lain.

2) Kurang Sabar

Hati yang kurang sabar selalu cepat melenting apabila dicabar tahap kesabarannya. Oleh itu, kita hendaklah latih diri dan hati supaya lebih bersabar serta berfikir dengan cara yang rasional apabila berhadapan dengan masalah supaya tidak melakukan tidakan yang terburu-buru demi memuaskan hati yang sedang marah. Sebenarnya, orang yang kurang sabar juga akan mudah menghidapi suatu penyakit yang kronik.

3) Ego, Bangga Diri, Riak dan Merasa Diri Lebih Hebat

Bagi mereka yang sebegini akan mudah rasa tercabar apabila dirinya dipersenda-sendakan. Hal ini kerana mereka akan rasa kalah dan tidak dihormati. Selain itu, orang yang mempunyai sifat ego, bangga diri dan riak akan merasakan dirinya lebih hebat dari orang lain. Oleh sebab itu, mereka akan mudah marah sebab tidak mahu dipandang rendah dan benci apabila tidak dihormati serta berasa terhina apabila berjumpa dengan orang lebih hebat daripadanya. Marah jenis ini biasanya wujud dalam bentuk emosi yang tidak puas hati terhadap orang lain.

4) Berfikiran Negatif

Orang jenis ini ialah orang yang memandang buruk terhadap sesuatu, suka bersangka buruk pada orang lain serta mudah bertanggapan buruk terhadap apa jua perkara. Orang jenis ini akan mudah marah kerana dihatinya tiada wujud istilah maaf. Dia tidak mahu memberi maaf dan malu untuk meminta maaf kerana merasakan dia sahaja yang betul. Walaupun kadang-kadang dalam hati kecilnya mengaku akan kelemahan diri tetapi disebabkan ego, dia tidak akan minta maaf walaupun berada di pihak yang salah.

5) Berdendam

Jika seseorang itu menyimpan perasaan dendam atau irihati kepada seseorang, dia akan cepat naik darah atau marah walaupun hanya disebabkan oleh kesilapan yang sedikit.

Create your website with WordPress.com
Get started