Design a site like this with WordPress.com
Mulakan

MELAWAN EGO

MELAWAN EGO

Kisah manusia melawan ego nya untuk menemukan kebenaran dan pencerahan sedemikian panjang sama panjangnya dengan sejarah manusia itu sendiri. Telah di mulai oleh Adam, Insan Pertama mengenal Tuhan, mendapat pelajaran langsung dari Allah kemudian dirinya jatuh karena tidak mampu melawan ego nya sendiri, berhasrat memakan buah khuldi sehingga terusir dari surga (simbol kebahagiaan sejati). Kisah Adam kenapa dimuat di dalam al-Qur’an karena kejadian itu pasti terulang kembali di generasi berikut sampai dengan dunia ini selesai untuk menjadi ikhtibar (pelajaran) bagi segenap manusia.

Adam telah mencapai puncak pencerahan yang dikisahkan dalam al-Qur’an begitu dekat dengan Allah sehingga Allah sendiri yang mengajarkan Adam segala pengetahuan. Kemudian Adam terusir dan jatuh dirinya kepada ego rendah, menjauh dari rahmat dan kasih sayang Allah. Butuh waktu dan pengorbanan panjang bagi Adam untuk bisa kembali ke posisi semula yaitu senantiasa berserta dengan Allah.

Manusia pun membutuhkan waktu lama untuk bisa mencapai tahap di mana dia senantiasa beserta dengan Allah yang disimbolkan sebagai surga. Nabi Muhammad SAW sebagai manusia pilihan pun membutuhkan waktu sampai Allah mengangkat Beliau menjadi utusan-Nya di usia 40 tahun, setelah puluhan tahun waktu berjuangan melawan ego sendiri dibawah bimbingan Sang Mursyid (Jibril as).

Maka ulama tasawuf sepakat bahwa hakikat Mursyid atau Sang Pembimbing itu bukanlah sosok manusia yang kita liat dalam wujud Guru. Beliau itu hanya membawa cahaya Ilahi dan yang membimbing para murid itu tidak lain adalah Allah langsung. Itulah hakikat pengertian langsung berguru kepada Allah SWT. Allah akan mengajarkan manusia tentang ilmu secara langsung sebagaimana Allah juga mengajarkan secara langsung Adam terhadap ilmu khusus yang malaikat pun tidak mengetahuinya.

Begitu khusus ilmu Tasawuf yang dipraktekkan lewat Tarekat sehingga di zaman Nabi disebut sebagai Thariqatussiriah (Jalan Rahasia). Khusus Tasawuf yang berhubungan langsung dengan Allah, ilmu ini tidak bisa diwakilkan kepada manusia, harus Dia sendiri yang mengajarkan ke hati hamba-Nya (Laduni) lewat utusan-Nya dan lewat khalifah-khalifah Rasulullah yang sambung menyambung sampai akhir zaman.

Jika Tasawuf hanya sekedar dikaji atau ditelaah dan dibaca hanya akan menjadi sebuah ilmu yang nanti tidak bisa memberikan manfaat apa-apa hanya sekedar menjadi bahan bacaan. Tujuan utama tasawuf untuk melati ego sendiri memenangkan dirinya malah ego itu yang menang dan tujuan hakiki untuk senantiasa beserta Allah (Ihsan) tidak tercapai.

Itulah sebabnya Tasawuf harus dibawah bimbingan Sang Guru yang memang sudah ahli di bidangnya, mampu membimbing rohani murid dalam segala kondisi dan dalam segala dimensi baik dalam kesadaran maupun dalam ketidaksadaran. Sang Guru tidak selalu orang yang intelektual, Profesor atau seorang yang terkenal karena Allah memilih hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.

Siapa manusia di dunia ini yang paling pandai sekaligus paling mulia? Ya Nabi kita Muhamamd SAW dan kita semua tahu Beliau tidak bisa tulis baca. Bagaimana seorang buta huruf bisa menjadi seorang yang sangat hebat karena Beliau memang utusan-Nya mendapat ilmu langsung dari sisi-Nya dalam jumlah tak terbatas.

Maka berguru kepada Pembimbing Rohani itu sangat berbeda dengan berguru kepada Guru biasa baik Guru formal maupun tidak formal. Konsep berguru kepada Guru Rohani itu sudah dibuat oleh Rasulullah SAW dan dipraktekkan oleh sahabat Nabi yaitu “KAMI DENGAR DAN KAMI PATUHI”. Semakian tidak bertanya semakin akan cepat memahaminya karena ilmu itu tidak diberikan kepada akal yang bersifat lemah namun diberikan kepada Qalbu yang mampu menerima cahaya-Nya.

Imam Asy-Sya’rani adalah seorang yang sudah hapal al-Qur’an sejak kecil, hapal ribuan hadist, membaca seluruh kitab-kitab dizamannya bahkan Beliau sendiri adalah pengarang kitab. Ketika ingin berguru kepada Mursyid yang bernama Ali Al-Khawas (Seorang Buta Huruf), syarat utama yang diberikan oleh Gurunya adalah menjual seluruh kitab yang dimiliki. “Juallah seluruh kitab mu dan sedekahkah semua uangnya”. Berat bagi Imam Asy-Sya’rani melakukan namun dipatuhi, itulah awal Beliau mendapat pencerahan dari Allah lewat bimbingan dari Gurunya. Suatu hari Imam Asy-Sya’rani berada di sungai di belakang rumah Gurunya, disitu dilihat sungai itu berubah menjadi tafsir Qur’an dan seluruh kitab-kita Ulama terdahulu nampak dilihat dengan jelas. Barulah Beliau tersadar bahwa hakikat ilmu itu bukan dari membaca tapi diberikan langsung oleh Allah SWT.

Sunan Kalijaga tidak akan mendapat pencerahan kalau Beliau tidak melakukan sebuah tugas sepele yaitu menjaga tongkat Gurunya sampai berbulan-bulan. Kepatuhan itulah membuat ego nya tunduk dan Beliau dibimbing setahap demi setahap sampai mencapai tahap menjadi seorang kekasih Allah.

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kisahnya menjadi wali bukan karena rajin ibadah atau rajin zikir. Suatu malam Beliau yang tinggal bersama Gurunya tidak berani mengetuk pintu khawatir Gurunya terganggu sehingga Beliau tidur di depan pintu dalam udara sangat dingin sampai menjelang subuh. Ketika Gurunya membuka pintu kaget melihat Abdul Qadir di depan pintu tidur dalam kondisi kedinginan. “Abdul Qadir, kenapa kamu tidak masuk kedalam?”. Beliau menjawab, “Guru, aku khawatir kalau masuk nanti membangunkan engkau tidur”. Gurunya berkata, “Engkau menjadi Pemimpin Para Wali”.

Ego yang kita sebut hawa nafsu atau Al-Ghazali menyebut sebagai Jiwa Rendah senantiasa menarik kita kebawah, kepada neraka. Untuk itu dibutuhkan ikhtiar atau mujahadah dengan sungguh-sungguh agar kita bisa melewati itu semua. Jika kita membuka surat An-Nas, bisikan setan itu telah ada di dada manusia sejak lahir. Setelah setan dalam diri itu bisa terusir maka kita menjadi al-Insan (manusia yang telah mengenal Allah). Jadi perdebatan antara agama dan sains itu selesai jika kita memahami bahwa Adam itu bukan manusia tapi manusia pertama yang mengenal Allah. Adam lah manusia pertama yang bermakrifat kepada Allah. Manusia yang tidak mengenal Allah maka dia tidak dihitung sebagai Insan tapi hanya sebagai manusia pada umumnya sebagai makhluk.

Jika kita tidak mampu melawan diri sendiri (boleh disebut setan dalam diri) maka sampai kapan pun akan menjadi kalah dan tidak bisa melakukan perjalanan kepada-Nya. Adam yang sudah sampai dengan selamat kehadirat-Nya pun bisa terusir kembali konon lagi kita manusia yang belum pernah sampai kesana, tentu lebih mudah lagi tergelincir. Adam itu digoda setan bukan di mall atau di kafe tapi di Surga yang dipenuhi Malaikat, maka manusia yang hidup di dalam dunia ini pun lebih mudah dijatuhkan oleh Iblis dan bala tentaranya.

Maka Islam mempunyai lapisan-lapisan untuk memproses diri itu bisa menjadi sempurna. Kita memulai dengan  Syariat atau Fiqih yang berisi hukum atau aturan yang banyak untuk mengatur manusia agar tidak bertindak sekehendak hatinya. Bagi anak-anak sangat diperlukan aturan-aturan karena diri mereka memang belum dewasa. Ketika SD kita mengenal jam belajar, masuk jam 7.30 pulang siang jam 14.00, tidak boleh masuk sekolah suka hati sebagaimana Mahasiswa yang belajar di Universitas. Jika aturan itu tidak dibuat maka Jiwa Rendah (Hawa Nafsu) senantiasa melakukan pelanggaran dan kesalahan. Tahap awal beragama (syariat/fiqih) di isi dengan reward (surga) dan punishment (Neraka) agar orang-orang mau melaksanakannya, tujuan adalah jasmani manusia itu selamat. Tidak saling membunuh, saling mencela dan tidak terjadi kekacauan di dunia ini.

Setelah mengerti hukum-hukum lewat fiqih maka jiwa manusia itu menjadi mengerti hukum/aturan (Lawwamah) walau kadang-kadang diluar kesadarannya masih suka melanggar. Maka terjawab pertanyaan kenapa orang yang rajin shalat dan rajin ibadah justru korupsi dan parahnya lagi korupsinya sangat syariah yaitu korupsi cetak al-Qur’an. Nafsu Lawwamah tidak akan membuat manusia ke surga karena yang dipanggil oleh Allah adalah Jiwa yang Tenang (Nafsul Mutmainnah).

Maka manusia harus mempunyai seorang Pembimbing untuk mengajarkan bagaimana cara melaksanakan aturan agama bukan sekedar ibadah gerak badan saja tapi sampai kepada ruhaninya. Maka Belajar Tarekat itu adalah awal ruhani manusia diajarkar agama, di ajarkan Kalimah Allah langsung kepada rohaninya. Mulai lah manusia secara bertahap menapaki jalan Spiritual sampai dia mengenal Allah.

Maka pelajaran di tarekat itu bukan lagi pelajaran akal itulah sebabnya tidak diajarkan lagi kitab-kitab, ilmu tafsir dan sebagainya tapi diajarkan cara berzikir menyebut nama Allah sebagaimana Muhamamad SAW diajarkan oleh Jibril. Jika di pasantren yang ada pengajaran tarekat dibawah bimbingan Mursyid masih ada mengajarkan fiqih itu hanya kelengkapan saja. Bisa saja seorang Mursyid mengisi kegiatan murid nya dengan ilmu-ilmu universitas bahkan zaman dulu ada Guru Mursyid mengajarkan Muridnya ilmu-ilmu bela diri, sesuai dengan kebutuhan zaman.

Di dalam bimbingan tarekatlah jiwa kita bisa mencapai Hakikat (al-Haqq) sehingga bisa merasa kehadiran Allah di dalam setiap langkah, setiap gerak dalam kondisi apapun dan dimanapun dari hayat di kandung badan sampai akhir masa.

Ketika telah merasakan kehadiran Allah di dalam hati baru lah manusia secara haqqul yaqin mencapai tahap makrifat sehingga tidak ada was was sedikitpun tentang hakikat Allah, tidak ada pertanyaan dikepalanya, tidak ada keraguan walau sebesar biji sawi. Hal ini tidak akan bisa didapat lewat membaca tapi harus digenggam tangannya oleh Guru dibawah kehadirat Allah SWT. Abu Yazid al Bisthami ketika ditanya tentang Makrifat, Beliau menjawab, “Tidak ada keraguan sedikitpun yang ku saksikan adalah Allah”. Abu Yazid telah berada di dalam kesempurnaan Tauhid dan Kesempurnaan Makrifat.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Ayat itu berlaku ketika kita masih hidup bukan menunggu sudah menjelang ajal. Kalau menungu menjelang ajal itu namanya spekulatif (untung-untungan), iya kalau di panggil, kalau tidak bagaimana?

Maka panggilan itu harus kita rasakan lewat latihan (mujahadah) terus menerus sampai kita kehadirat yang memanggil. Maka di dalam Tawajuh senantiasa ditutup dengan bacaan Surat Al-Fajr 27-30, agar jiwa kita senantiasa terlatih dan senantiasa dengan panggilan.

Ummat Islam yang tidak menemukan metode yang dipakai oleh Rasulullah SAW akan terjebak dengan ajaran-ajaran luar Islam yang menceritakan tentang pelatihan ego yang ujung-ujungnya justru memperbesar ego itu sendiri. Kita harus mengambil pelatihan langsung dari Mursyid yang bisa mengkonfirmasi setiap tindakan kita sehingga senantiasa terbimbing, tidak menurut selera kita. Kita tidak lagi terjebak kepada “kebaikan”, “Ketulusan” yang masih mudah sekali dihidangkan oleh kelompok Iblis. Kita harus bisa membedakan antara akhlak dan budi pekerti, antara Adab dan Kesopanan yang perbedaan keduanya terpisah jauh oleh CAHAYA ALLAH. Ketika Cahaya Allah tidak ada maka Akhlak berubah menjadi budi perkerti atau kebaikan yang baik menurut standar manusia belum tentu baik dan diterima oleh Allah karena Allah itu hanya menerima unsur dari diri-Nya sendiri.

Ego itu sampai kapanpun akan tetap melawan dan tidak mau dilatih agar mencapai tahap pencerahan. Atas alasan inilah disemua agama sedikit sekali penganutnya yang serius menapaki jalan spiritual secara khusus. Dari sekian banyak pengikut Budha, segelintir saja yang serius mengikuti jalan Budha secara serius sebagaimana yang telah dijalankan Budha dan terbukti mendapat pencerahan. Mereka hanya kaum sedikit yang kita kenal sebagai biksu. Pengamal kristen dan yahudi pun begitu, tidak terkecuali Islam, hanya sedikit sekali yang mau dengan sungguh-sungguh melawan dirinya.

Manusia dengan berbagai alasan akan menolak Tarekat yang pada hakikatnya ego manusia itu sendiri yang menolak dan mengajak manusia untuk tidak berubah. Jika di alam ruh, seluruh manusia itu mengenal Allah maka setelah tinggal di alam dunia, tugas utama kita hanya satu yaitu bagaimana cara kita bisa kembali kepada Allah SWT dengan selamat sebagaimana ruh kita di dalam ruh terdahulu.

Maka Tarekat (Thareqatullah) adalah metodologi bagamana cara ruhani kita bisa kembali ke alam diaman kita berasal, kembali kehadirat Allah SWT, senantisa kita bersama-Nya, itulah Hakikat Kebahagiaan manusia. Karena ruhani tidak terikat oleh jasad bisa masuk ke dimensi lain tanpa merusak jasad, lalu kenapa kita harus menunggu diri mati baru kita kembali kesana? Ruhani itu harus dilatih bisa bolak balik kesana sehingga ketika masa hidup telah selesai tinggal berangkat dengan damai dan selamat tanpa kembali lagi ke jasad.

Kita kembali kepada-Nya sejak hidup berulang kali dengan panggilan-Nya yang lembut, masuk kita ke dalam golongan hamba-Nya. Badan kita hidup sebagaimana manusia pada umumnya sementara ruhani kita senantisa bersama-Nya. Kita kembali kepada-Nya dalam Shalat (Mikraj), Dzikir, Puasa dan Ibadah lainnya. Maka gerak kita di hitung sebagai ibadah ketika kita sudah mencapai kepada kesadaran sebagai hamba dimana gerak kita sudah dibawah gerak Ilahi, itulah hakikat Hamba, saat itulah tidur pun kita dihitung ibadah. Jika tidur saja dihitung ibadah tentu minum kopi juga dihitung ibadah.

Hanya hati manusia yang senantiasa disinari cahaya-Nya bisa merasakan kehadiran-Nya dalam setiap gerak, dalam sadar maupun tidak sadar, dalam terjaga maupun dalam tertidur. Allah kemudian melimpahkan rasa cinta kehati hamba-Nya yang telah bersungguh-sungguh melawan diri-Nya dan memenangkan perintah Allah. Ketika Cinta Allah hadir di dalam hati manusia maka laksana surga abadi hadir di hati nya sapanjang masa.

Cinta itu pula yang membuat Nabi sangat bersabar menghadapi hinaan dan cacian kaumnya, semangat melewati masa masa sulit ketika awal berdakwah. Cinta itu pula membuat seorang hamba dengan penuh gairah melewati malam-malam panjang dengan ibadah.

Cinta kepada Allah yang terlimpah ke dalam hati kemudian mengalir tanpa putus kepada orang-orang sekitarnya dan orang pun merasakan kebahagiaan hanya dengan melihat wajahnya. Maka Rasulullah SAW menggambarkan orang-orang ini sebagai sebaik-baik manusia.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik hamba di kalangan umat ini adalah yang apabila mereka dilihat maka Allah SWT diingat” (al-Khara-ithi dalam Masawi’ al-Akhlaq.)

Dalam hadist lain disebut mereka apabila namanya disebut maka Allah ikut disebut bersamanya dan sebaliknya. Begitu luar biasa Manusia yang sudah lebur di dalam cinta Allah, sehingga antara yang mencintai dengan yang dicintai tidak lagi berjarak itulah sebab Nama dan Wajah telah bisa mewakili yang cintainya.

Atas alasan ini pula Nabi Bersabda: “Barangsiapa memuliakan orang alim maka ia memuliakan aku, barangsiapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah, dan barangsiapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.” (Kitab Lubabul Hadits)

Untuk bisa mencapai Maqam Cinta ini tidak dengan serta merta. Tidak akan mungkin kita bisa mencintai Allah hanya bermodal dengan Syariat saja. Bahkan kita tidak akan bisa mencintai dengan benar dan sepenuh hati Rasulullah SAW hanya bermodal dengan membaca kisah dan membaca hadist-hadist Beliau. Cinta tidak akan bisa diwakili oleh kata-kata dan syarat untuk mencintai adalah MENGENAL.

Untuk mencintai Rasul maka ruhani kita harus bertemu dengan Rasul, mendapat kontak dan senantiasa berjumpa barulah tumbuh rasa cinta yang sejati. Ibarat manusia ketika kecil tidak akan pernah muncul rasa cinta kepada lawan jenis sampai akil baliq dan cinta atau rasa suka itu muncul dengan sendirinya. Begitulah permisalan cinta kita kepada Allah, akan hadir dan muncul setelah kita benar-benar mengenal-Nya, kemudian dia titipkan RASA cinta itu dalam hati sehingga kita menjadi Mabuk Cinta.

Mabuk Cinta itu yang membuat Rasulullah SAW disuatu malam tidak lagi mengenal Aisyah sang istri walaupun diperkenalkan berulang kali. Kondisi ini yang dialami Para Sufi dan kemudian ditulis di dalam kitab-kitab tasawuf klasik. Membaca kitab itu tidak akan membawa kita kepada kondisi CINTA, hanya lewat bimbingan itu bisa tercapai.

Rabi’ah Al-Adawiyah adalah orang pertama yang mengemukakan konsep Mahabbah (Cinta) dalam hubungan manusia dengan Allah. Cinta adalah kondisi diatas pengharapan terhadap Surga dan Kondisi ketakutan terhadap Neraka.

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip Manusia terlena dalam buai tidur lelap Pintu pintu istana pun telah rapat Tuhanku, demikian malam pun berlalau Dan inilah siang datang menjelang Aku menjadi resah gelisah Apakah persembahan malamku, Engkau terima Hingga aku berhak mereguk bahagia Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka, Demi kemahakuasaan-Mu Inilah yang akan selalau ku lakukan Selama Kau beri aku kehidupan Demi kemanusian-Mu, Andai Kau usir aku dari pintu-Mu Aku tak akan pergi berlalu Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

Rabi’ah tidak lagi mencari apapun selain yang di cintai yaitu Tuhannya..

Ya Allah, apa pun yang akan Engkau Karuniakan kepadaku di dunia ini, Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu Dan apa pun yang akan Engkau Karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku.

Maka ketika sudah sampai ketahap Cinta aturan-aturan tidak lagi mempengaruhinya. Dia sudah tidak lagi termotivasi oleh apapun, baik reward maupun Punisment karena itu semua sudah dilewatinya. Dia tidak lagi menghitung amalan karena semuanya sudah diserahkan kepada Kekasih-Nya. Kondisi ini yang membuat Mansur al-Halaj berucap, “Hidup dan Mati sama bagiku”. Kehidupan dan kematian pun tidak lagi mempengaruhi seorang Pecinta apalagi hanya sekedar sakit. Kondisi inilah yang menggambarkan betapa luar biasa Nabi Ayyub yang tidak pernah meminta kesembuhan atas sakitnya sampai Allah sendiri berkenan mengangkat penyakit dari tubuhnya.

Maka akan aneh jika ada tuduhan kepada Para Sufi meninggalkan syariat atau melanggar syariat. Bagaimana dia mau melanggar aturan Sang Kekasih? Atau barangkali definisi syariat itu sudah berbeda?. Seorang yang berada dalam tahap awal memang melihat dengan hitam putih (salah benar). Orang yang fokus kepada hukum akan sibuk melihat kesalahan-kesalahan, lalai dengan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi diluar dirinya sampai dia memasuki tarekat baru dia sibuk membenahi dirinya.

Maka satu hal yang menarik dikalangan Tarekat itu adalah mereka jarang sekali membicarakan kebaikan-kebaikannya sendiri, tapi menceritakan keburukan yang pernah dilakukan ketika dia sebelum bertaubat (menekuni tarekat). Orang dengan linangan air mata menceritakan bagaimana dia sangat kasar kepada Ibunya, juga dengan penuh penyesalahan selama ini sering menyusahkan orang dalam segala bentuk. Maka orang tarekat itu mempunya ciri sibuk memperbaiki dirinya dan berusaha menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan.

Orang yang menekuni tarekat adalah orang yang memulai perjalanan dengan Taubat kemudian berjuang melawan dirinya sendiri sampai dia mengenal Allah dan kemudian sampai dia kepada Maqam Mahabah, Cinta Kepada Allah SWT. Cinta itu yang membuat dia fana kepada Allah, hilang dirinya bersama Kemahabesaran Allah SWT. Bersama dengan kekasih dalam segala dimensi, di segala alam dari dunia sampai ke akhirat.

Demikian, tulisan tentang “Melawan Ego” saya cukupkan disini dulu mudah-mudahan dilain kesempatan akan saya lanjutkan bisa dengan Judul yang sama atau judul yang berbeda.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: