KAEDAH MEMAHAMI SIFAT-SIFAT ALLAH SWT

Kedua : Tidak melakukan Ta’thil, Tahrif, Tamtsil, dan Takyif

Ta’thil (penolakan)

Yaitu menolak sifat-sifat itu pada Allah ﷻ. Seperti yang dilakukan oleh sekte al-Jahmiyah dan Muktazilah, mereka menolak seluruh sifat yang ada pada Allah ﷻ, dengan dalih bahwa menetapkannya bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Demikian juga Asya’iroh yang menolak seluruh sifat kecuali hanya tujuh sifat karena selian tujuh sifat jika ditetapkan maka akan menyebabkan tasybih Allah kepada makhluk atau menyebabkan tajsiim (Allah merupakan jism).

Tahrif (menyimpangkan)

Tahrif ada dua:

Tahrif pada lafaz

Seperti sebagian ahli bid’ah yang mengubah lafaz Al-Qur’an,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah ﷻ benar-benar berbicara dengan Musa.” (QS. An-Nisa: 164)

Diubah menjadi وكلم اللهَ موسى تكليما yang artinya, “Dan sungguh benar-benar Musa ‘alaihissalam berbicara kepada Allah ﷻ”. Mereka merubah lafaz tersebut karena mereka mengingkari sifat “berbicara” Allah ﷻ. Akhirnya mereka merubah lafaz tersebut agar yang berbicara bukanlah Allah ﷻ akan tetapi Musa ‘alaihissalam.

Akan tetapi Tahrif pada lafaz saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

Tahrif pada makna (disebut juga takwil)

Seperti sebagian ahli bid’ah yang men-tahrif makna اِسْتَوَى istawa (di atas) dengan اِسْتَوْلَى istaula (menguasai), الْيَدُ al-yad (tangan) dengan الْقُوَّةُ al-quwwah (kekuatan).

Tamtsil (menyamakan)

Yaitu menyamakan sifat yang ada pada Allah ﷻ dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Seperti perkataan sebagian ahli bid’ah, “Tangan Allah ﷻ seperti tangan si fulan”. Penyimpangan jenis ini juga jarang terjadi di zaman ini.

Takyif (membagaimanakan)

Yaitu menggambarkan sifat Allah ﷻ dengan suatu sifat yang dimaklumi. Perbedaan antara tamtsil dengan takyif, perbuatan tamtsil berarti membandingkannya dengan makhluk yang lain (al-mumaatsal bihi), adapun takyif tidak dilakukan perbandingan dengan yang lain.

Diagram hubungan antara penyimpangan-penyimpangan tersebut :

Hubungan antara ke empat jenis penyimpangan ini yaitu: 

Apabila seseorang men-tamtsil maka dia telah men-takyif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-takyif maka dia telah men-tahrif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-tahrif maka dia telah men-ta’thil, namun tidak sebaliknya.

Kaidah Kelaziman (Konsekuensi)

كُلُّ مُعَطِّلٍ مُشَبِّهٌ (seluruh penolak sifat berarti dia telah menyerupakan)

Hal ini karena sebelum dia menolak dia pasti menyerupakan Allah ﷻ terlebih dahulu dengan selain-Nya. Seperti ahli bid’ah yang menolak istiwa’ Allah ﷻ di atas Arasy lalu men-tahrif ke makna istaula (menguasai). Hal itu mereka lakukan karena sebelum mereka men-tahrif hakikatnya mereka telah menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya. Mereka menganggap bahwa jika Allah ﷻ ber-istiwa’ di atas sebuah tempat maka Allah ﷻ butuh kepada tempat tersebut, atau jika tempat tersebut jatuh maka Allah ﷻ juga akan jatuh sebagaimana jika seorang manusia duduk di atas sebuah kursi. Tentu ini adalah bentuk menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk, sehingga dia kemudian menolak makna istiwa’ lalu men-tahrif ke istaula (menguasai).

Anggapan seperti ini mudah untuk dibantah dengan mengatakan bahwa tidak semua yang di atas itu butuh dengan yang di bawah. Sebagaimana tidak butuhnya langit terhadap bumi yang ada di bawahnya, tentu Allah ﷻ lebih tidak butuh kepada yang di bawahnya. 

Allah ﷻ berfirman,

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya.” (QS. Luqman: 10)

Bagaimana Allah membutuhkan langit sementara langit yang membutuhkan langit agar tidak bergeser.?

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Fathir : 41)

Bagaimana mau dibayangkan bahwa langit meliputi dan menaungi Allah sementara langit begitu sangat kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah.?

Allah berfirman :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS Az-Zumar : 67)

كُلُّ مُشَبِّهٍ مُعَطِّلٌ (setiap orang yang menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya berarti dia telah menolak sifat Allah ﷻ)

Hal ini karena ketika ia menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk maka berarti ia telah menolak makna dan sifat yang benar yang seharusnya ditetapkan bagi Allah ﷻ. Karenanya, semua yang menyimpang dalam sifat Allah ﷻ pasti Mu’atthil, yaitu pasti menolak makna yang benar terhadap sifat Allah ﷻ .

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Kaidah Ketiga :

Manhaj Ahlusunah terhadap ayat-ayat sifat : (1) Menetapkan sifat yang ditetapkan dalil, (2) menolak sifat yang dinafikan dalil, dan (3) abstain terhadap sifat-sifat yang tidak ditetapkan dan juga tidak ditolak dalil hingga jelas maksudnya

Secara umum, berkaitan dengan ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah ﷻ maka dalam hal ini ada tiga bentuk :

A. Sifat-sifat yang Ditetapkan Oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah

Yaitu ditetapkan maknanya, tanpa diketahui kaifiahnya (bagaimananya), yaitu dengan tanpa ta’thil, tahrif, tamtsil, dan takyif (sebagaimana telah lalu penjelasannya di atas).

B. Sifat-sifat yang Dinafikan Oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah

Sikap seorang muslim adalah menafikan apa yang dinafikan oleh dalil disertai dengan menetapkan lawannya secara sempurna. Karena tujuan nas yang datang dengan bentuk menafikan suatu sifat bukanlah sekedar untuk menafikannya, tetapi sekaligus mengandung kesempurnaan dari sifat lawannya.

Contoh:

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ

” (Dia) tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Allah ﷻ tidak mengantuk dan tidak tidur, maka tujuan Allah ﷻ dari menafikan sifat mengantuk dan tidur tersebut bukan semata hanya sekedar menafikan kedua sifat kekurangan tersebut, akan tetapi maksudnya adalah menjelaskan kesempurnaan Allah ﷻ yang memiliki sifat sempurna yang berlawanan terhadap kantuk dan tidur, yaitu Allah ﷻ Maha terjaga.

Misalnya juga firman Allah ﷻ,

وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

“Dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf: 38)

Allah ﷻ tidak letih, maka tujuan dari penafian sifat lelah adalah untuk menetapkan sifat lawannya yang sempurna, yaitu Allah ﷻ Maha kuat.

Demikian pula firman Allah ﷻ,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)

Allah ﷻ tidak zalim, maka tujuan dari penafian sifat zalim tersebut adalah untuk menetapkan sifat lawannya secara sempurna, yaitu Allah ﷻ Maha adil.

Penafian Sifat Mengandung Penetapan Sifat Sebaliknya

Mengapa penafian pada sifat-sifat Allah ﷻ pada ayat-ayat dan hadis-hadis tidaklah bermakna penafian murni semata tetapi sekaligus mengandung penetapan kesempurnaan? Hal itu karena beberapa pertimbangan berikut:

Pertama, karena kalimat penafian semata tidak mesti berkonsekuensi bahwa itu adalah pujian, yang dipuji adalah sesuatu yang ditetapkan. Seperti perkataan kita kepada orang lain, “Anda tidak zalim.” Perkataan ini bukanlah pujian, tetapi akan menjadi pujian jika yang dimaksud adalah menetapkan kebalikan dari zalim untuknya, yaitu ia adalah seorang yang adil.

Kedua, penafian dilakukan bisa jadi karena memang tidak layak apabila sifat tersebut ditetapkan untuknya (عَدَمُ الْقَابِلِيَّةِ). Seperti perkataan, “Dinding ini tidak zalim”, perkataan itu muncul karena memang dinding tidak bisa berlaku zalim, bahkan dia pun tidak bisa berlaku adil. Maka pernyataan “Dinding tidak zalim” bukanlah pujian kepada dinding.

Ketiga, penafian dilakukan bisa jadi karena memang dia tidak mampu untuk bersifat dengan sifat tersebut. Seperti perkataan seorang penyair:

قُبَيِّلَةُ لَا يَغْدِرُوْنَ بِذِمَّةٍ … وَلَا يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ حَبَّةَ خَرْدَلٍ

Kabilah kecil tidak berkhianat sama sekali

Dan tidak menzalimi manusia sedikit pun

Tentu ini bukan merupakan pujian karena mereka memang tidak mampu berbuat zalim sebab mereka hanyalah kaum yang kecil. Berbeda dengan kalimat, “Penguasa tersebut tidak berbuat zalim”, maka ini adalah pujian karena pada dasarnya penguasa mampu berbuat zalim tetapi dia tidak melakukannya.

C. Sifat-sifat yang Didiamkan Oleh Dalil

Apabila terdapat sifat-sifat yang tidak datang dalam dalil atau dalil tidak menetapkannya dan tidak pula menafikannya, maka dilakukan beberapa langkah berikut:

● Tidak menetapkan sifat-sifat tersebut secara asalnya. Namun perlu adanya sikap menghadapi para penyelisih yang menggunakan lafaz-lafaz sifat-sifat tersebut.

● Ditanyakan apa maksudnya (istifsaar)

Jika maknanya sesuai dengan dalil maka maknanya ditetapkan, jika tidak sesuai maka tidak ditetapkan

Contoh:

Pertama : Sifat الْجِهَّةُ (arah) yang dinafikan oleh sebagian kelompok, sifat ini tidak ditetapkan dan tidak pula dinafikan oleh dalil, maka hendaknya Ahlusunah tidak menggunakan lafaz ini dalam menjelaskan sifat-sifat Allah ﷻ, akan tetapi Ahlusunah hendaknya menggunakan lafaz-lafaz yang syarí yang datang dalam dalil, seperti عَلَى atau فَوْقُ “di atas”. Namun karena lafaz الْجِهَّةُ digunakan oleh para penolak sifat maka terpaksa Ahlusunah menyikapi mereka dengan memperinci apa maksud dari lafaz الْجِهَّةُ tersebut?:

● Jika maksudnya adalah Allah ﷻ tidak ber-jihah (berarah) yaitu جَهَةٌ عَدَمِيَّةٌ hanya sekedar arah, bukan suatu ruang yang menaungi Allah ﷻ, bahwasanya Allah ﷻ di luar alam, jika maksudnya demikian maka kita katakan bahwa Allah ﷻ di jihah.

● Jika maksudnya jihah جِهَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ yaitu arah yang di situ ada ruangan atau tempat yang meliputi Allah ﷻ maka kita katakan Allah ﷻ tidak di jihah.

Kedua : Sifat الْجِسْمُ (al-Jism) yang dinafikan oleh sebagian kelompok, sifat ini tidak ditetapkan dan tidak pula dinafikan oleh dalil, maka hendaknya diperinci apa maksudnya ?:

● Jika maksudnya adalah tubuh yang berdaging maka ditolak.

● Jika maksudnya adalah Dzat maka diterima karena Allah ﷻ ber-Dzat.

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Kaidah Keempat

بَابُ الإِخْبَارِ أَوْسَعُ مِنْ بَابِ الصِّفَاتِ، وَبَابُ الصِّفَاتِ أَوْسَعُ مِنْ بَابِ الأَسْمَاءِ

Pembahasan tentang ikhbar (pengabaran) lebih luas dari pada pembahasan tentang sifat Allah ﷻ dan pembahasan tentang sifat Allah ﷻ lebih luas dari pada pembahasan tentang nama Allah ﷻ

Setiap nama mengandung sifat, tetapi tidak semua sifat bisa dijadikan nama, karena ada sifat-sifat Allah ﷻ yang tidak bisa menjadi nama. Demikian pula ikhbar (pengabaran) terhadap Allah ﷻ baik yang ada dalilnya maupun tidak, selama tidak melanggar syariat. Sehingga kesimpulannya, ikhbar (pengabaran) lebih luas karena tidak harus berasal dari dalil sedangkan nama dan sifat lebih sempit karena harus berasal dari dalil. Dan ikhbar tentang Allah ﷻ tidak mesti tentang nama Allah ﷻ dan juga tidak mesti tentang sifat Allah ﷻ.

Telah berlalu contoh-contoh dari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ, adapun di antara contoh pengabaran yaitu seperti perkataan seseorang ketika berdoa “Ya Mufahhima Sulaiman” (Wahai Yang memahamkan Nabi Sulaiman!), atau dalam ayat,

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah ﷻ’.” (QS. Al-An’am: 19)

Allah ﷻ menyebut diri-Nya dengan شَيْءٍ yang makna asalnya adalah “sesuatu”.

Adapun jika tidak benar dalam pengabaran atau bertentangan dengan dalil maka tidak boleh mengabarkan Allah ﷻ dengan kabar tersebut. Contoh pengabaran yang salah seperti perkataan “Allah ﷻ bermesraan dengan fulan”, karena kata bermesraan mengandung makna konotasi yang buruk.

Kaidah Kelima

الصِّفَاتُ -مِنْ حَيْثُ الثُّبُوْتُ وَالنَّفْيُ- تَنْقَسِمُ إِلَى صِفَاتٍ مَنْفِيَّةٍ وَصِفَاتٍ ثُبُوْتِيَّةٍ

وَالصِّفَاتُ الثُّبُوْتِيَّةُ مِنْ حَيْثُ تَعَلُّقُهَا بِمَشِيْئَةِ اللهِ تَنْقَسِمُ إِلَى صِفَاتٍ ذَاتِيَّةٍ وَصِفَاتٍ فِعْلِيَّةٍ وَصِفَاتٍ ذَاتِيَّةٍ فِعْلِيَّةٍ

Sifat-sifat Allah ﷻ terbagi menjadi sifat manfiyyah dan sifat tsubutiyyah

Dan sifat-sifat tsubutiyah -ditinjau dari keterkaitannya dengan kehendak Allah ﷻ– terbagi menjadi (1) sifat dzatiyyah, (2) sifat fi’liyyah, dan (3) sifat dzatiyyah fi’liyyah.

● Sifat-sifat manfiyyah yaitu sifat yang dinafikan dari Allah ﷻ seperti sifat mengantuk, tidur, zalim, dan lain-lain

● Sifat-sifat tsubutiyyah yaitu sifat yang ditetapkan untuk Allah ﷻ. 

Sifat ini terbagi menjadi dua:

▪︎ Sifat dzatiyyah, yaitu sifat-sifat yang tidak berkaitan dengan kehendak-Nya artinya Allah ﷻ senantiasa dan selamanya bersifat dengan sifat tersebut. 

Contoh : tangan, wajah, dua mata, al-‘uluww (ketinggian), dan lain-lain.

▪︎ Sifat fi’liyyah, yaitu sifat-sifat yang berkaitan dengan kehendak-Nya, jika Allah ﷻ berkehendak maka Allah ﷻ lakukan dan jika Allah ﷻ tidak berkehendak maka Allah ﷻ tidak lakukan. 

Contoh : al-Gadhab (murka), rahmat, nuzul (turun), istiwa’, ad-Dhahik (tertawa), dan lain-lain.

● Sifat dzatiyyah fi’liyyah, yaitu sifat-sifat yang tidak berkaitan dengan kehendak-Nya tetapi sekaligus bisa berkaitan dengan kehendak-Nya. 

Contoh : sifat al-Kalam (berbicara), jika ditinjau dari asalnya maka al-Kalam itu qadim (sejak azali) sehingga saat itu sifat al-Kalam menjadi sifat dzatiyyah, namun jika ditinjau dari satuan pembicaraannya maka al-Kalam adalah sifat fi’liyyah, kapan Allah ﷻ ingin berbicara maka Allah ﷻ akan berbicara. Demikian juga sifat as-Sama’ (mendengar) dan al-Bashar (melihat) ([8]).

Kaidah Keenam

القَوْلُ فِي الصِّفَاتِ فَرْعٌ عَنِ الْقَوْلِ فِي الذَّاتِ

Pembahasan tentang sifat merupakan turunan dari pembahasan dzat

Sebagaimana kita tidak mengetahui kaifiah Dzat Allah ﷻ maka demikian pula kita tidak akan mengetahui kaifiah sifat. Kaifiah sifat tangan Allah ﷻ tidak mungkin diketahui karena Dzat Allah ﷻ tidak diketahui, kaifiah sifat istiwa’ Allah ﷻ tidak mungkin diketahui karena Dzat Allah ﷻ tidak diketahui. (sebagaimana telah disinggung pada kaidah kedua)

Kaidah Ketujuh

الْقَوْلُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ كَالْقَوْلِ فِي الْبَعْضِ الآخَرِ

Pembahasan tentang sebagian sifat sama dengan pembahasan tentang sifat lainnya

Kaidah ini untuk membantah sebagian ahli bid’ah yang menetapkan sebagian sifat namun menolak sebagiannya.

Contoh: mereka menolak sifat mahabbah (cinta) karena sifat mahabbah adalah sifat manusia, namun mereka menetapkan sifat iradah (berkehendak).

Bantahannya : Manusia juga bisa bersifat dengan iradah, tetapi sebagaimana iradah manusia tidak sama dengan iradah Allah ﷻ, maka demikian pula mahabbah manusia berbeda dengan mahabbah Allah ﷻ.

—–

Footnote:

([8]) Catatan : Namun bedanya jika sifat kalam, maka bisa kita katakan Allah ﷻ jika berkehendak maka Allah ﷻ berbicara, dan jika tidak berkehendak maka Allah ﷻ tidak berbicara. Seperti ketika di zaman Azali, ketika Allah ﷻ belum menciptakan makhluk Allah ﷻ tidak berbicara dengan siapa pun. Setelah menciptakan makhluk maka Allah ﷻ berbicara dengan siapa saja dari makhluk-Nya yang Allah ﷻ kehendaki, apakah berbicara dengan malaikat, atau para nabi dan rasul. Begitu juga, jika Allah ﷻ tidak berkehendak maka Allah ﷻ tidak berbicara dengan makhluk-Nya

Adapun sifat mendengar dan melihat maka Allah ﷻ senantiasa selalu melihat dan mendengar jika ada yang didengar atau dilihat. Maka tidak dikatakan jika Allah ﷻ berkehendak Allah ﷻ melihat, jika tidak maka Allah ﷻ tidak melihat, atau jika Allah ﷻ berkehendak Allah ﷻ mendengar dan jika Allah ﷻ berkehendak maka Allah ﷻ tidak mendengar. Akan tetapi hawadits (sesuatu yang baru) berkaitan dengan objek yang Allah ﷻ dengar dan yang Allah ﷻ lihat, yang objek tersebut berkaitan dengan pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ. Maka dari sini terjadi hawadits pula pada pendengaran dan penglihatan Allah ﷻ ditinjau dari berubahnya apa yang didengar dan dilihat Allah ﷻ.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: