Iman Kepada Allah  – Tauhid Asma wa Shifat

Iman Kepada Allah  – Tauhid Asma wa Shifat

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

قَوَاعِدُ فِي صِفَاتِ اللهِ

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Kedua : Tidak melakukan Ta’thil, Tahrif, Tamtsil, dan Takyif

Ta’thil (penolakan)

Yaitu menolak sifat-sifat itu pada Allah ﷻ. Seperti yang dilakukan oleh sekte al-Jahmiyah dan Muktazilah, mereka menolak seluruh sifat yang ada pada Allah ﷻ, dengan dalih bahwa menetapkannya bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Demikian juga Asya’iroh yang menolak seluruh sifat kecuali hanya tujuh sifat karena selian tujuh sifat jika ditetapkan maka akan menyebabkan tasybih Allah kepada makhluk atau menyebabkan tajsiim (Allah merupakan jism).

Tahrif (menyimpangkan)

Tahrif ada dua:

Tahrif pada lafaz

Seperti sebagian ahli bid’ah yang mengubah lafaz Al-Qur’an,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah ﷻ benar-benar berbicara dengan Musa.” (QS. An-Nisa: 164)

Diubah menjadi وكلم اللهَ موسى تكليما yang artinya, “Dan sungguh benar-benar Musa ‘alaihissalam berbicara kepada Allah ﷻ”. Mereka merubah lafaz tersebut karena mereka mengingkari sifat “berbicara” Allah ﷻ. Akhirnya mereka merubah lafaz tersebut agar yang berbicara bukanlah Allah ﷻ akan tetapi Musa ‘alaihissalam.

Akan tetapi Tahrif pada lafaz saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

Tahrif pada makna (disebut juga takwil)

Seperti sebagian ahli bid’ah yang men-tahrif makna اِسْتَوَى istawa (di atas) dengan اِسْتَوْلَى istaula (menguasai), الْيَدُ al-yad (tangan) dengan الْقُوَّةُ al-quwwah (kekuatan).

Tamtsil (menyamakan)

Yaitu menyamakan sifat yang ada pada Allah ﷻ dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Seperti perkataan sebagian ahli bid’ah, “Tangan Allah ﷻ seperti tangan si fulan”. Penyimpangan jenis ini juga jarang terjadi di zaman ini.

Takyif (membagaimanakan)

Yaitu menggambarkan sifat Allah ﷻ dengan suatu sifat yang dimaklumi. Perbedaan antara tamtsil dengan takyif, perbuatan tamtsil berarti membandingkannya dengan makhluk yang lain (al-mumaatsal bihi), adapun takyif tidak dilakukan perbandingan dengan yang lain.

Diagram hubungan antara penyimpangan-penyimpangan tersebut :

Hubungan antara ke empat jenis penyimpangan ini yaitu: 

Apabila seseorang men-tamtsil maka dia telah men-takyif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-takyif maka dia telah men-tahrif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-tahrif maka dia telah men-ta’thil, namun tidak sebaliknya.

Kaidah Kelaziman (Konsekuensi)

كُلُّ مُعَطِّلٍ مُشَبِّهٌ (seluruh penolak sifat berarti dia telah menyerupakan)

Hal ini karena sebelum dia menolak dia pasti menyerupakan Allah ﷻ terlebih dahulu dengan selain-Nya. Seperti ahli bid’ah yang menolak istiwa’ Allah ﷻ di atas Arasy lalu men-tahrif ke makna istaula (menguasai). Hal itu mereka lakukan karena sebelum mereka men-tahrif hakikatnya mereka telah menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya. Mereka menganggap bahwa jika Allah ﷻ ber-istiwa’ di atas sebuah tempat maka Allah ﷻ butuh kepada tempat tersebut, atau jika tempat tersebut jatuh maka Allah ﷻ juga akan jatuh sebagaimana jika seorang manusia duduk di atas sebuah kursi. Tentu ini adalah bentuk menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk, sehingga dia kemudian menolak makna istiwa’ lalu men-tahrif ke istaula (menguasai).

Anggapan seperti ini mudah untuk dibantah dengan mengatakan bahwa tidak semua yang di atas itu butuh dengan yang di bawah. Sebagaimana tidak butuhnya langit terhadap bumi yang ada di bawahnya, tentu Allah ﷻ lebih tidak butuh kepada yang di bawahnya. 

Allah ﷻ berfirman,

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya.” (QS. Luqman: 10)

Bagaimana Allah membutuhkan langit sementara langit yang membutuhkan langit agar tidak bergeser.?

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Fathir : 41)

Bagaimana mau dibayangkan bahwa langit meliputi dan menaungi Allah sementara langit begitu sangat kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah.?

Allah berfirman :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS Az-Zumar : 67)

كُلُّ مُشَبِّهٍ مُعَطِّلٌ (setiap orang yang menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya berarti dia telah menolak sifat Allah ﷻ)

Hal ini karena ketika ia menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk maka berarti ia telah menolak makna dan sifat yang benar yang seharusnya ditetapkan bagi Allah ﷻ. Karenanya, semua yang menyimpang dalam sifat Allah ﷻ pasti Mu’atthil, yaitu pasti menolak makna yang benar terhadap sifat Allah ﷻ .

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: