Pentingnya Memahami Sebab Syarie dan Sebab Kauni

Pentingnya Memahami Sebab Syar’i dan Sebab Kauni 🌿✅

Join channel telegram

https://t.me/manhajulhaq

Para ulama menjelaskan bahwa ada dua sebab yang boleh kita tempuh sebagai ikhtiar untuk meraih maslahat,

1). Sebab yang syar’i.

Yaitu sebab yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an was Sunnah bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang mendatangkan kesembuhan dari Allah. 

Contohnya seperti ruqyah syar’iyyah, berbekam, minum air zam-zam atau mengkonsumsi madu, habbatus sauda dan minyak zaitun.

2). Sebab yang kauni.

Yaitu sebab yang terbukti melalui penelitian para ahli bahwa sesuatu itu dapat menjadi sebab yang berpengaruh atau mengobati penyakit.

Contohnya seperti pengobatan medis, pengobatan herbal, atau sebab-sebab lain yang jelas hubungan sebab akibatnya selama tidak menyelisihi syariat.

Apabila sebab atau ikhtiar itu tidak ditunjukkan secara syar’i, tidak pula terbukti secara kauni, maka dilarang menempuh sebab tersebut karena termasuk syirik.

Contohnya seperti minum air keris, air pembuka aura, mantra-mantra, cincin, kalung, gelang, centong, peniti, peci, sorban, tali yang dianggap membawa hoki dan keberuntungan atau dapat mengobati penyakit. 

Begitupula mengaitkan sesuatu yang tidak ada hubungan sebab akibatnya baik secara syar’i maupun kauni seperti bulu mata jatuh berarti ada yang rindu, jerawat ada yang kangen, kalau bersin ada yang ngomongin, ada kupu-kupu mau datang tamu, anak sering sakit karena keberatan nama, pakai celana terbalik mau dapat duit, dan yang semisalnya.

Keyakinan-keyakinan semacam itu adalah keyakinan syirik yang menciderai tauhid dan Allah telah memperingatkan bahaya syirik di dalam Al-Qur’an,

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48)

Namun perlu kita ingat, sekuat apapun sebab atau ikhtiar yang kita tempuh, baik syar’i maupun kauni, tetap yang menjadi sandaran hati kita hanya Allah semata. Karena hanya Allah yang kuasa menjadikan sebab itu berpengaruh. 

Allah berfirman,

وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين

“Dan bertawakkal-lah hanya kepada Allah, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah: 23)

DOA YANG MENGUMPULKAN SELURUH PERKARA KEBAIKAN

DOA YANG MENGUMPULKAN SELURUH PERKARA KEBAIKAN 🍃

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/58681 

🌴🌴🌴

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullahu ta’ala mengatakan,

ومن دعاء النبي صلى الله عليه وسلم: “اللهم إني أسألك الهدى والتقى، والعفاف والغنى” فجمع الخير كله في هذا الدعاء.

فالهدى: هو العلم النافع. والتقى: العمل الصالح، وترك المحرمات كلها. وهذا صلاح الدين.

وتمام ذلك بصلاح القلب، وطمأنينته بالعفاف عن الخلق، والغنى بالله. ومن كان غنيا بالله فهو الغني حقا، وإن قلت حواصله. فليس الغني عن كثرة العرض، إنما الغنى غنى القلب. وبالعفاف والغنى يتم للعبد الحياة الطيبة، والنعيم الدنيوي، والقناعة بما آتاه الله.

“Di antara do’a yang Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL-HUDAA

WAT-TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL-GHINAA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu al-Hudaa (petunjuk), at-Tuqoo (ketakwaan), al-‘Afaaf (terjaganya kehormatan), dan al-Ghinaa (rasa cukup)..”

Sungguh, Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam telah menghimpun seluruh perkara kebaikan dalam do’a ini :

• al-Hudaa adalah ilmu yang bermanfaat.

• at-Tuqoo adalah beramal saleh dan meninggalkan seluruh perkara yang haram.

🌴🌴🌴

Dua hal tersebut adalah kebaikan bagi agama seseorang.

Kebaikan agama akan sempurna jika dilengkapi dengan kebaikan dan ketentraman kalbu yang diraih dengan :

• Al-‘Afaaf (menjaga kehormatan) dari bergantung kepada makhluk), dan

• Al-Ghinaa (merasa cukup dengan pemberian Allah).

Barang siapa merasa cukup dengan pemberian Allah, dia adalah orang kaya secara hakiki, walaupun pemasukannya sedikit.. 

🌴🌴🌴

Tidaklah kekayaan itu dinilai dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah rasa cukup dalam kalbu.. 

Dengan sifat al-‘Afaaf dan al-Ghinaa seorang hamba akan sempurna kebahagiaan hidupnya, kenikmatan duniawinya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah..

[ Bahjah Quluub al-Abror wa Qurrotu ‘Uyuun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar – 116 ]

🌴🌴🌴

NB :

jangan lupa salah satu adab sebelum berdo’a adalah :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh):

 يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ 

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan

● lalu membaca sholawat (contoh): Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a..

PINTU MASUK NERAKA

PINTU MASUK NERAKA 📛🔥

Sudah merupakan ketetapan dari Allah Ta’ala, ada sebagian orang masuk ke dalam neraka dan sebagian yang lain masuk ke dalam surga. Sedangkan orang yang masuk kedalaman neraka, penyebabnya ada tiga pintu. 

PERTAMA, Pintu syubhat, yang menyebabkan mereka ragu terhadap kebenaran agama. Mereka terombang-ambing dan bimbang untuk tegar di atas jalan yang lurus, yakni islam dan assunnah. 

KEDUA, Pintu syahwat, dimana mereka lebih memperturutkan hawa nafsunya dari pada mengikuti syariat yang Allah dan RasulNya syariatkan. Mereka tidak mentaati dan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan Allah dan RasulNya. 

KETIGA, Pintu marah, jika seseorang melampiaskan kemarahannya, maka akan banyak permusuhan. Akan timbul perselisihan dan pertengkaran antar sesama. Maka inilah awal perang sengit antar manusia. Baik perang mulut, dengan mencaci maki, mengghibah, memfitnah atau mengadu domba dan perang fisik yang menyebabkan tertumpahnya darah. 

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته، وباب غضب أورث العداون على خلقه

“Manusia masuk neraka dari tiga pintu: Pintu SYUBHAT yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah, pintu SYAHWAT yang menyebabkan ia mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan pintu KEMARAHAN yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]. http://islamport.com/w/qym/Web/3178/55.htm 

Oleh karena itu, SYUBHAT itu mesti dijauhi, jangan ditantang dan dihadapi. Syubhat mesti dihindari, jangan merasa diri kokoh memegang teguh agama. SYAHWAT jangan diperturutkan, harus ditundukkan. Dan MARAH, senantiasa semaksimal mungkin ditahan, jangan dilampiaskan.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Iman Kepada Allah  – Tauhid Asma wa Shifat

Iman Kepada Allah  – Tauhid Asma wa Shifat

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukun Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

قَوَاعِدُ فِي صِفَاتِ اللهِ

Kaidah-kaidah Tentang Sifat-sifat Allah ﷻ

Kedua : Tidak melakukan Ta’thil, Tahrif, Tamtsil, dan Takyif

Ta’thil (penolakan)

Yaitu menolak sifat-sifat itu pada Allah ﷻ. Seperti yang dilakukan oleh sekte al-Jahmiyah dan Muktazilah, mereka menolak seluruh sifat yang ada pada Allah ﷻ, dengan dalih bahwa menetapkannya bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Demikian juga Asya’iroh yang menolak seluruh sifat kecuali hanya tujuh sifat karena selian tujuh sifat jika ditetapkan maka akan menyebabkan tasybih Allah kepada makhluk atau menyebabkan tajsiim (Allah merupakan jism).

Tahrif (menyimpangkan)

Tahrif ada dua:

Tahrif pada lafaz

Seperti sebagian ahli bid’ah yang mengubah lafaz Al-Qur’an,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah ﷻ benar-benar berbicara dengan Musa.” (QS. An-Nisa: 164)

Diubah menjadi وكلم اللهَ موسى تكليما yang artinya, “Dan sungguh benar-benar Musa ‘alaihissalam berbicara kepada Allah ﷻ”. Mereka merubah lafaz tersebut karena mereka mengingkari sifat “berbicara” Allah ﷻ. Akhirnya mereka merubah lafaz tersebut agar yang berbicara bukanlah Allah ﷻ akan tetapi Musa ‘alaihissalam.

Akan tetapi Tahrif pada lafaz saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

Tahrif pada makna (disebut juga takwil)

Seperti sebagian ahli bid’ah yang men-tahrif makna اِسْتَوَى istawa (di atas) dengan اِسْتَوْلَى istaula (menguasai), الْيَدُ al-yad (tangan) dengan الْقُوَّةُ al-quwwah (kekuatan).

Tamtsil (menyamakan)

Yaitu menyamakan sifat yang ada pada Allah ﷻ dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Seperti perkataan sebagian ahli bid’ah, “Tangan Allah ﷻ seperti tangan si fulan”. Penyimpangan jenis ini juga jarang terjadi di zaman ini.

Takyif (membagaimanakan)

Yaitu menggambarkan sifat Allah ﷻ dengan suatu sifat yang dimaklumi. Perbedaan antara tamtsil dengan takyif, perbuatan tamtsil berarti membandingkannya dengan makhluk yang lain (al-mumaatsal bihi), adapun takyif tidak dilakukan perbandingan dengan yang lain.

Diagram hubungan antara penyimpangan-penyimpangan tersebut :

Hubungan antara ke empat jenis penyimpangan ini yaitu: 

Apabila seseorang men-tamtsil maka dia telah men-takyif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-takyif maka dia telah men-tahrif, namun tidak sebaliknya. 

Apabila seseorang men-tahrif maka dia telah men-ta’thil, namun tidak sebaliknya.

Kaidah Kelaziman (Konsekuensi)

كُلُّ مُعَطِّلٍ مُشَبِّهٌ (seluruh penolak sifat berarti dia telah menyerupakan)

Hal ini karena sebelum dia menolak dia pasti menyerupakan Allah ﷻ terlebih dahulu dengan selain-Nya. Seperti ahli bid’ah yang menolak istiwa’ Allah ﷻ di atas Arasy lalu men-tahrif ke makna istaula (menguasai). Hal itu mereka lakukan karena sebelum mereka men-tahrif hakikatnya mereka telah menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya. Mereka menganggap bahwa jika Allah ﷻ ber-istiwa’ di atas sebuah tempat maka Allah ﷻ butuh kepada tempat tersebut, atau jika tempat tersebut jatuh maka Allah ﷻ juga akan jatuh sebagaimana jika seorang manusia duduk di atas sebuah kursi. Tentu ini adalah bentuk menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk, sehingga dia kemudian menolak makna istiwa’ lalu men-tahrif ke istaula (menguasai).

Anggapan seperti ini mudah untuk dibantah dengan mengatakan bahwa tidak semua yang di atas itu butuh dengan yang di bawah. Sebagaimana tidak butuhnya langit terhadap bumi yang ada di bawahnya, tentu Allah ﷻ lebih tidak butuh kepada yang di bawahnya. 

Allah ﷻ berfirman,

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya.” (QS. Luqman: 10)

Bagaimana Allah membutuhkan langit sementara langit yang membutuhkan langit agar tidak bergeser.?

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Fathir : 41)

Bagaimana mau dibayangkan bahwa langit meliputi dan menaungi Allah sementara langit begitu sangat kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah.?

Allah berfirman :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS Az-Zumar : 67)

كُلُّ مُشَبِّهٍ مُعَطِّلٌ (setiap orang yang menyerupakan Allah ﷻ dengan selain-Nya berarti dia telah menolak sifat Allah ﷻ)

Hal ini karena ketika ia menyamakan Allah ﷻ dengan makhluk maka berarti ia telah menolak makna dan sifat yang benar yang seharusnya ditetapkan bagi Allah ﷻ. Karenanya, semua yang menyimpang dalam sifat Allah ﷻ pasti Mu’atthil, yaitu pasti menolak makna yang benar terhadap sifat Allah ﷻ .

MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA.

MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA.

         Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]أفرأيتم اللات والعزى ومناة الثالثة الأخرى ألكم الذكر وله الأنثى تلك إذا قسمة ضيزا إن هي إلا أسماء سميتموها أنتم وآباءكم ما أنزل الله بها من سلطان إن يتبعون إلا الظن وما تهوى الأنفس ولقد جاءهم من ربهم الهدى[

“Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga, ([1]). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan ? yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya tidak datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm, 19-23)

          Abi Waqid Al Laitsi menuturkan :

“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan dzatu anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, disaat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata : “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzat anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :

“الله أكبر إنها السنن، قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو أسرائيل لموسى]اجعل لنا إلها كما لهم ءالهة، قال إنكم قوم تجهلون[ لتركبن سنن من كان قبلهم” رواه الترمذي وصححه.

          “Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, kalian benar-benar telah mangatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa :“Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab : “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham), kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Turmudzi, dan dinyatakan shoheh olehnya)

        Kandungan dalam bab ini :

Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Najm ([2]).

Mengetahui bentuk permintaan mereka ([3]).

Mereka belum melakukan apa yang mereka minta.

Mereka melakukan itu semua untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyukai perbuatan itu.

Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.

Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah  (untuk diampuni) yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam tidak menerima argumentasi mereka, bahkan menyanggahnya dengan sabdanya : “Allahu Akbar, sungguh itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian dan kalian akan mengikuti mereka”. Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.

Satu hal yang sangat penting adalah pemberitahuan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwa permintaan mereka itu persis seperti permintaan bani israil kepada Nabi Musa : “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan sesembahan …”

Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk diantara pengertianلا إله إلا الله   yang sebenarnya, yang belum difahami oleh mereka yang baru masuk Islam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk kemaslahatan.

Syirik itu ada yang besar dan ada yang kecil, buktinya mereka tidak dianggap murtad dengan permintaannya itu.

Perkataan mereka “…sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk islam) …” menunjukan bahwa para sahabat yang lain mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.

Diperbolehkan bertakbir ketika merasa heran, atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menganggapnya makruh.

Diperintahkan menutup pintu yang menuju kemusyrikan.

Dilarang meniru dan melakukan suatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah.

Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.

Kaidah umum, bahwa diantara umat ini ada yang mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya, berdasarkan Sabda Nabi “Itulah tradisi orang orang sebelum kamu … dst”.

Ini adalah salah satu dari tanda kenabian Nabi Muhammad, karena terjadi sebagaimana yang beliau ceritakan.

Celaan Allah yang ditujukan kepada orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam Al qur’an berlaku juga untuk kita.

Sudah menjadi ketentuan umum dikalangan para sahabat, bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah Allah [bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri]. Dengan demikian, hadits tersebut di atas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kubur. Adapun “Siapakah Tuhanmu ?”, sudah jelas, sedangkan “Siapakah Nabimu ?” berdasarkan keterangan masalah-masalah ghoib yang beliau beritakan akan terjadi, dan “Apakah agamamu ?” berdasarkan pada ucapan mereka : “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan sesembahan … dst”.

Tradisi orang-orang ahli kitab itu tercela seperti tradisinya orang-orang musyrik.

Orang yang baru saja pindah dari tradisi-tradisi batil yang sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut, sebagai buktinya mereka mengatakan : “Kami baru saja masuk Islam” dan merekapun belum terlepas dari tradisi-tradisi kafir, karena kenyataannya mereka meminta dibuatkan Dzatu Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin.

([1])   Al Lata, Al Uzza dan Manat adalah nama berhala-berhala yang dipuja orang Arab jahiliyah dan dianggapnya sebagai anak-anak perempuan Allah.

([2])    Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyangkal tindakan kaum musyrikin yang tidak rasional, karena mereka menyembah ketiga berhala tersebut yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat menolak mudhorat. Dan Allah mencela tindakan dzalim mereka dengan memilih untuk diri mereka jenis yang baik dan memberikan untuk Allah jenis yang buruk dalam anggapan mereka. Tindakan mereka itu semua hanyalah berdasarkan sangkaan-sangkaan dan hawa nafsu, tidak berdasarkan pada tuntunan para Rasul yang mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah kepada selainNya.

([3])    Yaitu : mereka meminta dibuatkan Dzatu Anwath sebagaimana yang dimiliki oleh kaum musyrikin, untuk diharapkan berkahnya.

Create your website with WordPress.com
Get started