EMPAT TINGKATAN TAUBAT

4 TINGKATAN TAUBAT

Sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa, sering kali manusia melakukan dosa baik disengaja atau tidak. Meskipun begitu, manusia juga mempunyai kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri, sehingga menjadi lebih baik. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S At-Tahrim 8:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ     

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Taubat merupakan pengakuan seorang hamba atas dosa yang telah diperbuat dan berniat memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Ada beberapa hal yang mendorong seseorang untuk bertaubat, diantaranya adalah merasa berbuat salah dan berbuat dosa. Sehingga timbul perasaan ingin bertaubat di dalam dirinya dan kembali ke jalan yang benar. Dalam Prosesnya, seseorang yang bertaubat memiliki 4 tingkatan.

Pertama, orang yang bertaubat sampai akhir hayat. Ia menjaga dirinya dari segala macam dosa dan tidak akan melakukan kesalahan yang serupa. Ia selalu meminta ampun dan mengambil pelajaran atas dosa-dosa yang ia lakukan, kecuali dosa-dosa kecil yang tidak dapat ia hindari. Bertaubat sampai akhir hayat adalah tingakatan taubat paling istimewa.

Kedua, orang yang bertaubat secara istikamah (terus-menerus) dalam melakukan amal-amal yang utama sembari menjaga diri agar terhindar dari dosa besar. Bisa dikatakan ia sudah bertaubat, tetapi belum mampu melepas dosanya. Setiap kali melakukan kesalahan, maka akan timbul rasa bersalah dan penyesalan dihatinya. Orang yang berada ditingkatan ini disebut an-nafsu lawwamah, yaitu jiwa yang senantiasa mencela dirinya karena telah melakukan perbuatan tercela yang dilakukannya. Seperti didalam Firman Allah SWT Q.S An-Najm : 32. Allah memberikan janji bagi mereka, kebaikan yang berlipat-lipat.

Ketiga, orang yang bertaubat dengan istikamah selama beberapa waktu, tetapi kembali lagi pada nafsu syahwatnya untuk melakukan dosa atau orang yang bertaubat disaat tertentu. Orang yang berada ditingkatan ini masih tekun melakukan amal-amal saleh dan mampu meninggalkan beberapa dosa, meskipun ia ingin melakukannya.

Keempat, orang yang bertaubat dan sempat istikamah, tetepi kemudian kembali lagi melakukan berbagai dosa dan kemaksiatan tanpa menyertainya dengan taubat. Orang yang berada ditingkatan ini sangat lekat dengan dosa. Orang yang seperti ini biasanya lupa dengan taubatnya, serta sama sekali tidak memiliki rasa penyesalan atas perbuatan dosanya. Maka dari itu, ia tidak memiliki keinginan untuk bertaubat.

Itulah 4 tingkatan taubat. Dosa-dosa yang kita lakukan akan mendapat balasan di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagai manusia yang masih sering melakukan kesalahan, sudah sepantasnya kita mengambil kesempatan yang diberikan dan kembali ke jalan Allah SWT.

WASPADA DOSA JARIYAH! DOSA SEDIKIT MENGALIR JADI BUKIT

WASPADA DOSA JARIYAH! DOSA SEDIKIT MENGALIR JADI BUKIT

Berhati-hatilah dengan dosa yang kita anggap sedikit dan kecil, kemudian tanpa kita sadari mengalir menjadi besar, bahkan seperti bukit.

Setiap yang dilakukan manusia seimbang dengan dampak yang didapatkan. Ada kebaikan ada pahala, ada keburukan ada dosa. Jika ada amal jariyah, lalu adakah dosa jariyah? amal jariyah tak usang ditelinga, lalu bagaimanakah dengan dosa jariyah? apakah dosa jariyah ada dalam Al-Quran bagaimana perspektif Al-Quran mengenai dosa jariyah?

Menurut para mufassir setiap perbuatan dosa akan terus mengalir selama masih ada orang yang mengerjakan dosa tersebut. Baik karena mengajak, ataupun karena meninggalkan bekas (dosa) selama hidup di dunia, para mufasir memberikan contoh dalam perbuatan dosa jariyah seperti al-Maraghi, orang yang memulai kebencian, permusuhan sehingga banyak orang yang mengikutinya.

Dosa jariah dalam Al-Quran mempunyai kalimat yang berbeda, Al-Quran menyebutnya dengan kalimat liyahmilu, auzarahum, liyahmilunna, astqalahum dan wana’tubuma qaddamu, waatharahum.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menegaskan bahwa dosa kecil bisa menjadi besar karena disebabkan dengan hal-hal berikut ini:

Pertama, dosa tersebut dilakukan secara terus menerus. Dosa besar yang telah berhenti memiliki peluang yang lebih besar untuk diampuni daripada dosa kecil yang sering dilakukan. Ibaratnya seperti tetesan air jika terjadi secara terus menerus, maka air tersebut bisa melubangi batu. Namun, jika misalnya air dalam volume besar ditumpahkan dengan sekaligus ke atas batu tersebut. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut: أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Dan ketahuilah sesungguhnya amal baik yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling bertahan lama, meskipun amal tersebut hanya sedikit.”

Kedua, dosa yang dianggap kecil. Sebuah asumsi kecil terhadap dosa menandakan bahwa orang tersebut tidak menjaga etikanya kepada Allah. Dalam petuah sufi disebutkan, “jangan kau berpikir seberapa kecil kesalahan yang kau lakukan, tapi pikirkanlah betapa Maha Besar Tuhan yang engkau durhakai”. Anggapan kecil terhadap sebuah dosa menandakan pendosa tersebut sudah terbiasa dengan melakukan dosa tersebut.

Ketiga, perasaan bangga terhadap dosa yang telah dia lakukan. Kebanggaan terhadap sebuah dosa merupakan hal yang sangat lumrah terjadi, padahal tanpa disadari bahwa kebanggan akan sebuah dosa tersebut sangatlah berbahaya, karena dia telah (1) Menghina ajaran Allah (2) Menganggap baik-baik saja perbuatan dosa tersebut (3) Mengajak orang lain untuk untuk meniru apa yang dilakukanya, dan hal inilah yang dimaksud dengan dosa jariyah. Yakni dosanya satu orang yang kemudian dialirkan kepada orang lain sehingga dosa yang awalnya sedikit menjadi bukit karena diperluaskan.

Keempat, melakukan dosa di tempat atau waktu-waktu mulia. Dosa yang dilakukan di masjid atau dilakukan pada waktu bulan Ramadan yang menyebabkan dosa tersebut menjadi semakin besar karena ada unsur berbuat dosa kepada diri sendiri dan juga kepada waktu dan tempat yang suci dan mulia.

Kelima, sebuah dosa yang dilakukan oleh seorang yang menjadi publik figur atau panutan banyak orang. Karena kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh orang tersebut berpotensi besar untuk ditiru oleh masyarakat awam. Maka ketika orang alim atau tokoh panutan melakukan dosa, sangat mungkin dosa tersebut menjadi dosa jariyah.

Perihal dosa, pahala, surga dan neraka hanyalah Allah SWT yang maha mengetahui dan mengaturnya. Akan tetapi kita sebagai makhluk bukankah alangkah baiknya untuk mencegah hal-hal kemungkaran dan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dan menyerukan hal-hal kebaikan.

7 ANGGOTA TUBUH YANG HARUS DIJAGA

7 ANGGOTA TUBUH YANG HARUS DIJAGA

Anggota tubuh merupakan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, dan merupakan amanah Allah kepada manusia. Apabila seseorang berbuat maksiat pasti menggunakan anggota tubuh, begitu pula apabila manusia berbuat kebaikan, pasti menggunakan anggota tubuh. Anggota tubuh merupakan sumber dari semua perbuatan. Anggota tubuh itu ibarat rakyat yang menjadi tanggung jawab. Oleh karena itu, hendaknya kita berfikir bagaimana seharusnya kita memeliharanya. Rosulullah Saw, bersabda:

فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang engkau pimpin.”

Oleh karena itu, jagalah semua anggota tubuh, terutama anggota tubuh yang tujuh. Karena pintu neraka berjumlah tujuh, dan masing-masing pintu neraka itu disediakan untuk dimasuki oleh orang-orang yang telah melakukan maksiat dengan salah satu anggota tubuh yang tujuh, yaitu:

Mata

Mata sebenarnya diciptakan oleh Allah untuk manusia, agar manusia dapat melihat segala sesuatu sehingga terpenuhi kebutuhannya, dapat melihat keajaiban di langit dan bumi, dan dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu pelihara mata dari empat hal berikut:

Melihat perempuan yang bukan mukhrim.

Melihat gambar-gambar yang merangsang nafsu.

Melihat orang Islam lain dengan pandangan meremehkan.

Melihat cacat atau kekurangan orang lain.

Telinga

Hendaknya kita menjaga telinga, jangan kita gunakan telinga untuk mendengar perkara bid’ah, perkataan yang membahas hal ihwal orang lain yang negatif, perkataan jelek, perbincangan kebatilan, atau mendengar pembahasan tentang kejelekan orang lain.

Sebenarnya telinga diciptakan Allah SWT untuk mendengarkan firman-Nya, hadis Rasulullah, nasehat-nasehat para Wali Allah sehingga mendapatkan ilmu, dan perkataan-perkataan yang baik yang akan mengantarkan kita mencapai kerajaan yang kekal dan kenikmatan yang ada disisi Allah SWT.

Lisan

Adapun lidan telah diciptakan untuk berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, membaca Al-Qur’an, memberi petunjuk kepada makhluk Allah menuju jalan kebenaran, mengungkapkan isi hati, baiak dalam urusan agama atau dunia. Tapi apabila kita menggunakan untuk tujuan selain Allah, maka kita benar-benar tidak bisa mensyukuri nikmat Allah SWT.

Perut

Hendaknya kita menjaga perut. Jangan dampai kemasukan barang-barang haram atau syubhat, makan makanan secukupnya saja, tidak terlalu kenyang. Sebab makan terlalu kenyang bisa menyebabkan: keras hati, merusak kecerdasan pikiran, melemah daya hafalan dan ingatan, malas beribadah, malas belajar, membangkitkan nafsu birahi, membantu perajurit-perajurit setan.

Kemaluan

Hendaknya kita menjaga kemaluan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, dan berusahalah menjadi orang yang disebutkan Allah dalam firman-Nya surat Al-Mukmin ayat 5-6:

والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزوجهم او ما ملكت ايمانهم فانهم غير ملومين.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

Kita tidak akan mampu menjaga kemaluan kecuali dengan menjaga mata dari melihat hal-hal yang haram, menjaga hati, dan fikiran dari menghayal hal-hal yang merangsang nafsu, menjaga perut dari makan syubhat, dan kekenyangan. Karena semua perkara ini dapat membangkitkan hawa nafsu dan syahwat.

Kedua Tangan

Jagalah kedua tangan dari perbuatan memukul orang lain, mengambil harta haram, menyakiti sesama makhluk Allah, menulis kata-kata yang tidak boleh diucapkan, dan mengganggu barang amanat atau titipan.

Kedua Kaki

Hendaknya kita menjaga kedua kaki, jangan kita gunakan kedua kaki untuk berjalan menuju tempat yang diharamkan Allah, dan untuk melakukan maksiat lainnya.

Kesimpulannya, ialah semua kegiatan kita dengan anggota tubuh merupakan nikmat Allah. Jadi, jangan menggunakannya untuk maksiat kepada Allah. Tetapi, gunakanlah semua itu untuk taat kepada Allah SWT.

4 Hikmah Menunaikan Zakat

4 Hikmah Ini Boleh  Jadikan Hatimu Tergerak Menunaikan Zakat

Menunaikan zakat adalah salah satu kewajiban setiap muslim. Dalam al-Quran, perintah menunaikan zakat hampir selalu beriringan dengan perintah shalat. Sebagaimana dalam firman Allah:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan penting zakat sama seperti shalat. Dan ayat tersebut menunjukkan adanya hak orang lain yang harus diberikan.

Namun, masih banyak masyarakat yang takut menunaikan zakat. Mereka khawatir zakat akan mengurangi harta yang mereka miliki. Semakin berjalannya waktu dan zaman, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum mengetahui apa hikmah dari menunaikan zakat. Banyak dari mereka tidak menunaikan zakat karena belum tahu apa tujuan serta hikmah dari menunaikan zakat.

Untuk itu, hikmah menunaikan zakat juga sangatlah penting untuk diketahui. Di antara hikmah menunaikan zakat antara lain:

PERTAMA, menolong saudara-saudara kita yang lemah dalam hal ekonomi, agar mereka dapat menunaikan kewajibannya kepada Allah dan terhadap makhluk-Nya.

KEDUA, membersihkan diri. Dengan menunaikan zakat, dapat menjauhkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela, serta mendidik diri agar bersifat mulia dan pemurah dengan membiasakan diri menunaikan amanah kepada mereka yang berhak menerimanya.

KETIGA, sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada orang yang mengeluarkan zakat.

KEEMPAT, mencegah kesenjangan sosial yang mungkin timbul akibat kelemahan ekonomi yang dialami oleh mereka yang menerima zakat.

Dari hikmah menunaikan zakat ini, kita bisa menyampaikan kepada masyarakat bahwa menunaikan zakat bukan hal yang harus ditakuti. Menunaikan zakat tidak akan mengurangi harta. Dengan menunaikan zakat, justru akan menambah keberkahan harta yang dimiliki. Jadi, jangan takut menunaikan zakat, ya!

4 KRITERIA MANUSIA MENURUT IMAM AL-GHAZALI

4 KRITERIA MANUSIA MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Manusia memiliki beberapa macam kriteria. Semua manusia itu tidak ada yang sama dan pasti berbeda-beda sifatnya. Ada manusia yang memiliki sifat baik, ada juga yang memiliki sifat buruk, ada yang bisa kita jadikan panutan, dan ada juga yang tidak bisa kita jadikan panutan.

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumu al-Din karya Imam Ghazali, mengklasifikasikan kriteria manusia menjadi 4 macam. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Guru kami, Kiai Amari dalam acara kajian terakhir kitab lubbul ushul yang mengutip kitab Ihya’ karya Imam Ghazali.

Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali berkata:

قَالَ الْخَلِيْلُ بن أَحْمَدُ : الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ، رَجُلٌ يَدْرِيْ وَيَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ فَذٰلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوْهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِيْ وَلاَ يَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ فَذٰلِكَ نَائِمٌ فَأَيْقِظُوْهُ، وَرَجُلٌ لَا يَدْرِيْ وَيَدْرِيْ أَنَّهُ لَا يَدْرِيْ فَذٰلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوْهُ، وَرَجُلٌ لَا يَدْرِيْ أَنَّهُ لَا يَدْرِيْ فَذٰلِكَ جَاهِلٌ فَارْفِضُوْهُ. (إحياء علوم الدين، ج: 1، ص: 80)

Dalil di atas menjelaskan tentang kriteria manusia, adapun penjelasannya sebagai berikut:

Pertama, orang yang mengerti (mempunyai ilmu dan pengetahuan serta kecerdasan emosional) dan ia pun mengerti bahwa dia adalah orang yang mengerti.

Orang yang mempunyai kriteria seperti ini merupakan orang yang alim, cerdik, atau pandai. Orang seperti ini layak sekali untuk dijadikan panutan agar mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akhirat.

Kedua, orang yang mengerti (orang yang alim) tapi dia tidak mengerti bahwa pribadinya adalah orang mengerti (orang alim).

Orang yang mempunyai kriteria seperti ini diibaratkan seperti orang yang tidur, ia perlu dibangunkan dan disadarkan.

Ketiga, orang yang yang belum mengerti (tidak atau belum alim) tapi dia mengerti bahwa dirinya adalah orang yang belum mengerti (belum punya ilmu dan pengetahuan).

Orang yang mempunyai kriteria seperti ini adalah orang yang selalu mencari petunjuk baik maka bimbinglah  dia dengan bimbingan yang baik agar ia jadi orang baik.

Keempat, orang yang belum mengerti tapi ia tidak mengerti bahwa dirinya adalah orang yang tidak mengerti.

Orang yang mempunyai kriteria seperti ini adalah orang bodoh dan dungu maka wajib untuk dijauhi, wajib memisahkan diri darinya karena bahaya yang di timbulkan darinya sangat besar bagi masyarakat dan umat manusia.

Dari empat golongan di atas kita bisa berinteraksi diri, termasuk golongan yang mana kita?. Semoga kita termasuk orang-orang yang mau belajar ilmu dan mau mengajarkan ilmu ketika sudah mempunyai ilmu yang mumpuni.

Create your website with WordPress.com
Get started