Memahami Sisi Pendalilan Ulama dalam Khilaf yang Mu’tabar

Memahami Sisi Pendalilan Ulama dalam Khilaf yang Mu’tabar 🌿

Silang pendapat dalam masalah fikih tidak hanya kita jumpai terjadi antara imam madzhab semisal Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad, Al-Awza’i, Ats-Tsawri, Dawud Adzh-Dzhohiri dan yang lain. Akan tetapi perselisihan itu dialami juga oleh generasi terbaik umat ini yaitu para shohabat Nabi bahkan ketika Rosulullah ﷺ masih ada di tengah-tengah mereka.

Perselisihan itu terjadi karena dilatari perbedaan interpretasi dalam memahami dalil meski dalilnya sama atau sama-sama shohih. Ini yang dimaksud dengan istidlal (cara berdalil) atau pemaknaan terhadap dalil yang kemungkinannya lebih rojih dari yang marjuh sehingga yang satu menganggap pendapatnya lebih kuat dari yang lain. 

Poin dari perselisihan itu tidak selalu bicara mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kedua-duanya boleh jadi benar atau kedua-duanya tidak bisa dipersalahkan. Karena yang satu lebih mendekati dalil dari satu sisi, sedangkan yang lain lebih mendekati dalil dari sisi yang berbeda.

Langsung saja kita cek riwayat perselisihan para shohabat yang disebutkan Abdullah bin Umar bahwa Rosulullah ﷺ bersabda dalam peristiwa Ahzab,

“Janganlah salah seorang dari kalian sholat ashar kecuali di kampung Bani Quroidzhoh.” Ketika mendapati waktu ashar di tengah jalan sebagian mereka berkata, “Kita tidak sholat sampai tiba di lokasi.” Sebagian yang lain mengatakan, “Bukan itu yang beliau inginkan dari kita bahkan kita sholat saat ini juga.” Kejadian itu disampaikan kepada Rosulullah ﷺ akan tetapi beliau tidak mencela salah satu dari keduanya.”

(HR. Al-Bukhori 4119 dan Muslim 1770)

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam “Al-Fath” menjelaskan alasan kedua golongan shohabat yang berselisih dalam kisah ini, 

“Sebagian shohabat memahami larangan Rosulullah ﷺ tersebut secara tersurat yakni tetap sholat di kampung Bani Quroidzhoh meski waktu ashar telah habis. Sedangkan sebagian shohabat yang lain memahaminya secara tersirat yaitu sebagai perintah untuk bersegera mendatangi kampung Bani Quroidzhoh.”

Meski kontras perbedaan antara yang tersurat dan tersirat akan tetapi Rosulullah ﷺ tidak menyalahkan keduanya lantaran masing-masing punya sudut pandang yang mu’tabar tidak keluar dari dalil.

Dalam kisah yang lain diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata, 

“Ada dua orang yang pergi safar ketika masuk waktu sholat keduanya tidak mendapatkan air, maka mereka bertayammum dengan tanah yang suci lalu mereka sholat. Tak lama berselang mereka mendapatkan air sedang waktu sholat belum habis, lantas salah seorang dari keduanya mengulangi sholatnya dengan berwudhu, sedangkan temannya tidak mengulangi sholatnya. Kemudian mereka mendatangi Rosulullah ﷺ dan menceritakan pengalaman mereka. Maka beliau ﷺ bersabda kepada orang yang tidak mengulang sholatnya, “Engkau telah menepati sunnah dan sholatmu sah.” Adapun kepada orang yang mengulang sholatnya beliau bersabda, “Engkau mendapatkan dua pahala.” 

(HR. Abu Dawud 338 dan An-Nasa’i 433 dishohihkan Syaikh Nashir)

Menepati sunnah karena yang dikerjakannya sesuai petunjuk syariat dan sholatnya sah. Adapun yang mendapat dua pahala karena satu pahala dari sholat yang dikerjakan dengan tayammum dan satu pahala lagi yang dia kerjakan dengan berwudhu.

Mungkin kalau kita yang berselisih sudah cekcok gak karuan yang satu bilang sholatnya gak sah dan yang lain gak terima, akhirnya debat kusir dan ujung ceritanya kegaduhan dan perpecahan. Padahal perbedaan itu sebetulnya masalah fikih, khilaf yang mu’tabar, bukan masalah akidah.

Berbeda dengan para imam, mereka berselisih pendapat meski salah satunya tancap gas tetapi mereka bisa tetap rukun. Itu karena luasnya ilmu mereka, bersihnya hati mereka, cermatnya istidlal mereka, dan tingginya adab mereka. Sehingga Al-Imam Asy-Syafii mengatakan kepada Abu Musa Yunus Ash-Shodafi,

يا أبا موسى ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meski kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’ 10/16)

Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari ucapan Asy-Syafii di atas, “Itu menunjukkan sempurnanya akal beliau dan kefaqihan beliau, dan para ulama senantiasa berbeda pendapat.” 

Semoga kita dapat meneladani para salaf ketika berselisih pendapat dalam masalah khilaf yang mu’tabar. Meski yang kita ikuti tarjih sebagian ulama terhadap salah satu pendapat maka kita dituntut bijaksana memahami sisi pendalilan pihak lain dan berlapang dada terhadap orang yang berbeda walau terkadang dilabeli bid’ah. 

Dan contoh dari para ulama mu’ashirin banyak kita jumpai antara lain khilaf yang terjadi antara Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Albani rohmatullah ‘alaihima. Meski Syaikh Al-Albani berpandangan bersedekap ketika i’tidal itu bid’ah tetapi jika beliau bermakmum di belakang Syaikh bin Baz maka beliau ikut bersedekap karena memahami istidlal Syaikh bin Baz dan mengompromikannya dengan dalil-dalil yang lain.

Namun perlu diingat, khilaf fikih yang mu’tabar ini jangan diseret ke ranah akidah sehingga tidak ada lagi tamayyuz membedakan tauhid dari syirik, sunnah dari bid’ah, ahlussunnah dari ahlul bid’ah.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: