Penyimpangan dalam tauhid ar-Rububiyah ada 2 perkara

Penyimpangan dalam tauhid ar-Rububiyah ada 2 macam :

Pertama : نَوَاقِضُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ Pembatal-pembatal tauhid ar-Rububiyah

Jika seseorang terjerumus dalam pembatal-pembatal tersebut maka tauhid ar-Rububiyahnya batal dan ia terjerumus dalam syirik akbar

Kedua : نَوَاقِصُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ Pengurang kemurnian tauhid Ar-Rububiyah.

Jika seseorang terjerumus dalam pengurang-pengurang ini, maka imannya tidak batal hanya saja ia terjerumus dalam syirik kecil (ashghor).

Pembatal-Pembatal tauhid rububiyyah diantaranya

Pertama : Atheism  الْقَوْلُ بِعَدَمِ الرَّبِّ(akan datang pembahasan khusus akan hal ini di akhir pembahasan)

Kedua : Berbilangnya Pencipta (القَوْلُ بِتَعَدُّدِ الآلِهَةِ)

Perkataan ini bathil karena bertentangan dengan firman Allah,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas : 1)

Nabi juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)

Diantara kelompok yang berpemahaman ini,

Pertama : Dualisme

Yaitu meyakini ada dua tuhan. Ada beberapa kelompok yang meyakini dualisme, diantaranya :

● Tsunawiyah, yaitu meyakini bahwa cahaya dan kegelapan adalah dua perkara yang azali. Namun meskipun mereka mengganggap cahaya dan kegelapan sama-sama azali akan tetapi tetap keduanya berbeda dalam banyak hal, dalam dzat, tabi’at, perbuatan, jenis, tempat (lokasi), dan lainnya.

● Majusi, yang meyakini bahwa ada dua kekuatan di alam semesta yaitu cahaya/api dan kegelapan, hanya saja yang qodim (azali) adalah cahaya. Sementara kegelapan adalah hadits (tidak qodim)

● Al-Manawiyah, yaitu pengikut Mani bin Fatak. Mereka meyakini bahwa alam ini tercipta dari dua dzat yang azali, akan tetapi mereka berpendapat bahwa keduanya berbeda dari sisi jiwa, bentuk, perbuatan, dan pengaturan. Bedanya dengan Tsunawiah, al-Manawiyah tidak menyatakan bahwa kedanya adalah cahaya dan kegelapan.

Kedua : Trinitas

Yaitu meyakini 3 Tuhan. Diantara yang berkeyakinan trinitas adalah :

● Hindu, yang mengatakan tuhan itu ada brahmana, wisnu, dan siwa.Nasrani, yang mengatakan tuhan itu ada tuhan bapa, tuhan anak, dan tuhan roh kudus

● Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa tuhan ada dua atau tiga, naluri mereka tetap saja meyakini akan adanya tuhan yang satu. Kaum Nasrani yang meyakini tiga tuhan tetap berusaha mengatakan 3 sama dengan 1, kaum Hindu tetap meyakini Brahmana- lah tuhan yang paling top diantara semuanya, demikian pula Majusi yang meyakini tuhan api yang paling top.

Ibnu Taimiyyah berkata :

أَنَّ إِثْبَاتَ رَبَّيْنِ لِلْعَالَمِ لَمْ يَذْهَبْ إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، وَلاَ أَثْبَتَ أَحَدٌ إِلَهَيْنِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلاَ مُتَسَاوِيَيْنِ فِي الصِّفَاتِ وَلاَ فِي الأَفْعَالِ، وَلاَ أَثْبَتَ أَحَدٌ قَدِيْمَيْنِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلاَ وَاجِبَيْ الْوُجُوْدِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلَكِنَّ الإِشْرَاكَ الَّذِي وَقَعَ فِي الْعَالَمِ إِنَّمَا وَقَعَ بِجَعْلِ بَعْضِ الْمَخْلُوْقَاتِ مَخْلُوْقَةً لِغَيْرِ اللهِ فِي الإِلَهِيَّةِ بِعِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ تَعَالَى، وَاتِّخَاذِ الْوَسَائِطِ وَدُعَائِهَا وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهَا، كَمَا فَعَلَ عُبَّادُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالْكَوَاكِبِ وَالأَوْثَانِ، وَعُبَّادِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمَلاَئِكَةِ أَوْ تَمَاثِيْلِهِمْ وَنَحْوِ ذَلِكَ. فَأَمَّا إِثْبَاتُ خَالِقَيْنِ لِلْعَالَمِ مُتَمَاثِلَيْنِ فَلَمْ يَذْهَبْ إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ الآدَمِيِيْنَ

“Sesungguhnya menetapkan dua Tuhan bagi alam maka tidak seorangpun dari keturunan Adam yang berpendapat demikian. Demikian juga tidak seorangpun yang menetapkan adanya dua sesembahan yang sama persis, atau menetapkan dua sesembahan yang sama persis dalam sifat-sifatnya atau perbuatan-perbuatannya, dan tidak seorangpun menetapkan dua qodim (azali) yang sama persis, tidak juga wajibul wujud yang sama persis. Akan tetapi kesyirikan yang terjadi di alam hanyalah terjadi dengan menjadikan sebagian makhluk adalah makhluk bagi selain Allah dalam peribadatan, yaitu dengan beribadah kepada selain Allah, demikian juga mengambil perantara-perantara lalu berdoa kepadanya dan bertaqorrub kepadanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah matahari, rembulan, bintang-bintang, berhala-berhala. Juga para penyembah para nabi dan para malaikat, atau patung-patung mereka dan yang semisalnya.

Adapun menetapkan adanya 2 pencipta alam yang sama persis maka tidak seorangpun dari keturunan Adam yang berpendapat demikian” ([1])

Ketiga : Adanya Tuhan selain Allah (القَوْلُ بِوُجُوْدِ الرَّبِّ غَيْرِ الله)

Seperti Firaun yang mengaku dirinya adalah tuhan, demikian pula Namrud, atau Budha Sidharta Gautama yang diyakini oleh para pengikutnya sebagai tuhan.

Firaun mengaku dirinya sebagai tuhan padahal dia tahu bahwa dirinya bukanlah tuhan. Allah berfirman tentang perkataan Musa,

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (QS Al-Isra’ : 102)

Orang pertama yang mengetahui kebohongan Fir’aun adalah dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia bukanlah tuhan, betapa banyak hal yang tidak mampu ia kerjakan, dan betapa ia tahu kelemahan dirinya akan tetapi karena kesombongan semata ia mengaku tuhan. 

Allah berfirman :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS An-Naml : 14)

Adapun kaumnya mengaku Firáun sebagai tuhan hanya karena dibodohi oleh Firáun. 

Allah berfirman :

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ، أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ، فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ، فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Dan Fir´aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya). Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya). Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?. Maka Fir´aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (QS Az-Zukhruf : 51-54)

Namrud juga mengaku dirinya tuhan, sebagaimana saat Nabi Ibrahim berdialog dengan Namrud,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Baqarah : 258)

Berbeda dengan Budha, dirinya tidak pernah mengaku sebagai tuhan, pengikut-pengikutnya yang berlebihan lah yang kemudian mempertuhankannya. Budha tidak pernah menciptakan apa-apa, Budha hanyalah orang bijak, bahkan sahabat-sahabatnya di zaman awal juga tidak mempertuhankannya. Demikian pula Nabi Isa, sahabat-sahabatnya sama sekali tidak menyembah Nabi Isa, hingga datang Paulus dan pengikut-pengikutnya di zaman belakangan mulailah melakukan penyembahan terhadap Isa.

Keempat : Azalinya alam (الْقَوْلُ بِقِدَمِ الْعَالَمِ)

Mereka mengatakan bahwa alam itu ada bersamaan dengan adanya tuhan, bukan adanya tuhan lalu tuhan menciptakan alam. Jelas ini perkataan yang bathil karena mengingkari sifat “mencipta” Tuhan.

Nabi bersabda :

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Dahulu Allah sendirian dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)

Hal ini adalah keyakinan sebagian kaum falasifah seperti Ibnu Sina dan Faarobi.

Kelima : Adanya yang mengatur sebagian alam semesta selain Allah tetapi dengan izin Allah (الْقَوْلُ بِوُجُوْدِ الْمُدَبِّرِ غَيْرِ اللهِ بِإِذْنِ الله)

Seperti anggapan sebagian manusia yang meyakini bahwa Allah memberikan hak otonomi kepada sebagian makhluknya untuk mengatur sebagian dari alam. Namun yang benar adalah Allah tidak pernah memberikan satu pun hak otonomi kepada selain diri-Nya untuk mengatur sebagian alam, bahkan malaikat pun tidak. Jika dikatakan bahwa ada malaikat yang mengatur hujan, maka itu hanyalah sekadar melaksanakan perintah Allah saja, adapun hak untuk mengaturnya malaikat tidak memilikinya.

Oleh karena itu, keyakinan sebagian orang bahwa pantai selatan diatur oleh Nyi Roro Kidul adalah perkataan bathil dan merupakan kesyirikan di dalam bab tauhid rububiyyah. Demikian juga keyakinan sebagian orang bahwa gunung tertentu diatur oleh jin atau penunggunya juga merupakan kesyirikan dalam tauhid ar-Rububiyah.

Demikian juga keyakinan sebagian kaum Syiáh Rofidhoh yang menyatakan bahwa dunia dan akhirat adalah milik para imam mereka, dimana para imam mengaturnya sesuai dengan yang mereka kehendaki. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mengetahui ilmu ghaib, mereka mengetahui kapan mereka mati dan mereka tidak mati kecuali dengan izin mereka.

Demikian juga keyakinan sebagian kaum sufiyah yang menyatakan bahwa As-Syaikh Abdul Qodir al-Jailani telah diberi “kun” oleh Allah, sehingga ia bisa menyatakan “kun fayakun” dengan izin Allah.

Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :

“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” ([2])

Keenam : Keyakinan wihdatul wujud/hululiyyah/ittihadiyah (وِحْدَةُ الْوُجُوْدِ)

Ini adalah perkataan Ibnu ‘Arabi dan pengikut-pengikutnya, mereka mengatakan bahwa Allah bersatu dengan makhluk. Sesungguhnya pemahaman ini lebih kufur daripada Nasrani, jika sebagian Nasrani berkata bahwa Allah bersatu dengan Nabi Isa seorang, adapun wihdatul wujud meyakini Allah bersatu dengan semua makhluk.

Ketujuh : Keyakinan bahwa berhala memberi manfaat dan mudorot

Kedelapan : Berhukum dengan selain hukum Allah, seraya meyakini bahwa selain Allah berhak juga untuk mengeluarkan hukum yang setara dengan hukum Allah, atau lebih baik dari hukum Allah.

Hal ini merupakan pembatal tauhid ar-Rububiyah karena Allah maha esa dalam menetapkan hukum-hukum, ketika seseorang meyakini ada selain Allah yang juga boleh menetapkan hukum (yang nilainya sama dengan hukum Allah atau lebih baik) maka pada dasarnya ia telah membatalkan tauhid ar-Rububiyahnya.

Kesembilan : Keyakinan bahwa gerakan/munculnya bintang dan planet mempengaruhi kejadian alam (الاِعْتِقَاُد بِتَأْثِيْرِ النُّجُوْمِ وَالْكَوَاكِبِ عَلَى الحَوَادِثِ الأَرْضِيَّةِ)

Hal ini membatalkan tauhid ar-Rububiyah karena meyakini bahwa benda-benda langit yang merupakan benda mati ikut mempengaruhi peristiwa-peristiwa di bumi. Padahal yang menentukan kejadian-kejadian alam hanyalah Allah semata.

——-

([1]) Dar’ Taáarud al-Áql wa an-Naql 9/344

([2]) Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: