Hal-hal yang mengotori kemurnian tauhid ar-Rububiyah

Hal-hal yang mengotori kemurnian tauhid ar-Rububiyah (نَوَاقِصُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ)

Diantara hal-hal yang mengurangi nilai tauhid ar-Rububiyah dan mengotori kemurniannya adalah :

Pertama : Bersumpah dengan selain Allah

Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia telah berbuat kekufuran atau berbuat kesyirikan” ([3])

Tidaklah seseorang bersumpah dengan selain Allah kecuali mengagungkannya. Jika ternyata ia memandang sesuatu tersebut keagungannya sama dengan Allah maka ia telah terjerumus dalam syirik besar, jika tidak maka ia terjerumus dalam syirik kecil. ([4])

Kedua : Menyandarkan nikmat kepada selain Allah.

Meskipun dengan meyakini bahwa selain Allah tersebut hanyalah sebab, akan tetapi seharusnya nikmat disandarkan kepada pemberi nikmat yang sesungguhnya.

Seperti perkataan, “Kalau bukan polisi tentu saya sudah dirampok”, “Kalau bukan kelihaian nahkoda tentu kapal sudah tenggelam”, dan semisalnya.

Justru dalam kondisi bersyukur karena selamat dari keburukan atau kekawatiran seharusnya seseorang mengingat Allah bukan malah mengingat sebab. Karena hal ini mengurangi nilai tauhid ar-Ribubiyah, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, dan hanya Allah yang memberikan segala kenikmatan.

Ketiga : Menyandarkan kenikmatan kepada Allah dan juga kepada selain Allah dengan kata gandeng (seperti kata gandeng “dan”) yang mengesankan persamaan.

Contoh mengatakan, مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ “Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan”. Atau berkata, لَوْلاَ اللهُ وَفُلاَنٌ “Kalau bukan karena Allah dan si fulan”.

Karena kedua perkataan di atas menunjukan seakan-akan kehendak si fulan menyamai kehendak Allah dalam menentukan terjadinya kejadian. 

Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ

“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah lalu kehendak si Fulan” ([5])

Keempat : Protes kepada taqdir Allah dengan mengatakan “seandainya”.

Sabda Nabi ﷺ ,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah. Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata, “Seandainya aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian”. Namun ucapkanlah, “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi”, karena sejatinya ucapan ”seandainya” hanyalah membuka pintu godaan setan.” ([6])

Karena seseorang ketika ditimpa dengan apa yang dia tidak sukai, lantas ia berkata, “Seandainya”, maka seakan-akan ia tidak setuju dan protes kepada keputusan Allah. Seakan-akan ia tidak setuju dengan “pengaturan” (rububiyah) Allah. Seharusnya ia berkata “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi” yang menunjukan ia pasrah dengan ketetapan Allah.

Kelima : Mencela masa/waktu/zaman

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ تَعَالَى: يُؤْذِيْنِيْ ابْنِ آدَم، يَسُبُّ الدَّهْر، وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَار

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Anak Adam (manusia) menggangguku, mereka mencela masa padahal aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang menjadikan mala dan siang silih berganti’.”

Dalam riwayat yang lain dikatakan,

لَا تَسُبُّوا الدَّهْر، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْر

“Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah Ad-Dahr itu sendiri.”

Karena pada hakikatnya masa atau zaman tidaklah bisa berbuat apa-apa, ia diatur oleh Allah. Karenanya jika seseorang mencela masa sesungguhnya ia telah mencela sang pengaturnya yaitu Allah. Dan mencela pengaturan Allah berarti mencela rububiyah Allah.

Keenam : Mencela angin

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَ فَقُوْلُوْا

“Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.” (HR. Tirmudzi, dan hadits ini ia nyatakan shahih).

Hal ini sama dengan yang sebelumnya (mencela masa), karena angin tidaklah berkehendak, ia diatur oleh Allah. Jika seseorang mencela angin berarti ia mencela pengaturnya. Dan mencela pengaturan Allah berarti mencela rububiyah Allah.

Ketujuh : Keyakinan bahwa perbuatan hamba bukan ciptaan Allah (الْقَوْلُ بِأَنَّ أَفْعَالَ الْعِبَادِ غَيْرُ مَخْلُوْقَةٍ)

Ini adalah perkataan kaum Qadariyyah, mereka meyakini bahwa ada hal yang tidak diciptakan oleh Allah di alam semesta ini, yaitu perbuatan hamba. Dengan demikian melazimkan ada pencipta selain Allah. Karenanya Nabi bersabda tentang qodariyah :

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ: إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ

“Qodariyah adalah Majusi umat ini, jika mereka sakit maka jangan jenguk mereka, dan jika mereka mati maka jangan hadiri janazah mereka” ([7])

Hal ini karena majusi mengatakan bahwa ada dua pencipta, pencipta kebaikan yaitu cahaya/api, dan pencipta keburukan yaitu kegelapan. Sama halnya dengan qodariyah yang menyatakan bahwa keburukan perbuatan manusia tidak diciptakan oleh Allah. Kelaziman dari keyakinan qodariyah ini seharunya membatalkan (bukan sekadar mengurangi) nilai tauhid ar-Rububiyyah, hanya saja para ulama tidak mengkafirkan mereka karena syubhat yang ada pada mereka.

Kedelapan : Keyakinan bahwa “penciptaan” adalah “ciptaan/makhluk” itu sendiri (الخَلْقُ هُوَ الْمَخْلُوْقُ)

Ini adalah pernyataan Jahmiyah yang diikuti oleh Asyaíroh karena ingin menghindar dari kaidah mereka sendiri مَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ فَهُوَ حَادِثٌ “Apa yang ditempati oleh hawadits (sesuatu) yang baru maka ia juga baru”. 

Menurut ahlus sunnah bahwasanya sifat Allah al-kholq (penciptaan) adalah sifat yang qodim azali yang tegak di dzat Allah, hanya saja Allah menciptakan kapan saja Allah kehendaki dengan berkata “Kun”. Allah menciptakan Adam álaihis salam bukan di zaman azali tetapi di kemudian hari ketika Allah hendak menciptakannya, demikian pula Allah menciptakan langit dan bumi. Bagi Jahmiyah dan Asyaíroh bahwa kondisi Allah menciptakan di waktu yang tertentu adalah sesuatu yang merupakan kejadian baru pada diri Allah, yang melazimkan berarti Allah melakukan “penciptaan” terus menerus, dan ini berarti terjadi kejadian-kejadian baru pada dzat Allah dan ini tentu tidak boleh dalam kaidah mereka. Sehingga mereka mentakwil “kholq (penciptaan)” dengan “makhluk” yang terjadi terus menerus([8]).

Kelaziman dari pernyataan “penciptaan adalah makhluk itu sendiri” sebenarnya adalah membatalkan tauhid ar-Rububiyah karena menafikan sifat “penciptaan” yang merupakan sifat utama Tuhan sebagai Pencipta. Akan tetapi para ulama tidak mengkafirkan mereka karena ada syubhat yang ada pada diri mereka. Seperti mereka mengatakan bahwa makhluk tercipta bukan dengan “penciptaan” akan tetapi dengan sifat al-irodah yang qodim dengan pemunculan irodah yang berkaitan dengan penciptaan yang otomatis karena sudah diprogramkan dalam irodah qodimah.

Kesembilan : Keyakinan bahwa semua makhluq tersusun dari al-Jawahir al-Mufrodah

Ahlus sunnah meyakini bahwa Allah menciptakan manusia dari unsur yang berbeda dari unsur untuk menciptakan hewan, pohon, batu, dan air. Atau satu makhluk tercipta dari berbagai unsur.

Berbeda dengan mayoritas al-Jahmiyah, al-Mu’tazilah, dan al-Asyaíroh. Menurut mereka yang pertama Allah ciptakan adalah al-Jauhar al-Mufrod, dari al-Jauhar al-Mufrod itulah Allah menyusun dan memisahkan sehingga menjadi langit, menjadi bumi, menjadi api, menjadi air, dll. Semuanya berasal dari unsur terkecil yang sama yang disebut dengan al-Jauhar al-Mufrod ([9]). 

Jadi Allah tidak pernah menciptakan benda-benda dan makhluk-mahkluk yang berdiri sendiri, akan tetapi Allah menciptakan sifat-sifat yang tegak pada al-jawahir al-mufrodah tersebut. Jadi anak yang lahir dari rahim, buah yang timbul dari pohon, api yang muncul dari batu bara, semuanya asalnya adalah unsur yang sama (yaitu kumpulan al-Jauhar al-Mufrod) hanya saja Allah rubah sifat-sifatnya dengan 4 cara (الاِجْتِمَاعُ dikumpulkan, الاِفْتِرَاقُ dipisahkan, الحَرَكَةُ gerakan, dan السُّكُوْنُ diam) sehingga berubah pula bentuknya.

Ini tentu mengurangi nilai tauhid ar-Rububiyah Allah yang menciptakan dengan apa yang Allah kehendaki, dan tidak terbatas pada al-Jauhar al-Mufrod.

Ini merupakan aqidah yang batil dari 3 sisi :

Pertama : Mayoritas manusia menolak adanya keyakinan tentang al-Jauhar al-Mufrod. Pendapaat ini juga tidak dikenal dari seorangpun dari kalangan para sahabat, para tabiín, para imam yang ma’ruf.

Kedua : Menurut mereka yang dimaksud dengan al-Jauhar al-Mufrod yaitu sesuatu yang satu sisinya tidak terbedakan dengan sisi yang lain, tidak terbedakan antara kanan dan kirinya, bahkan mereka mengatakan bahwa ia tidak ada ukurannya. Tentu ini hanyalah hayalan semata, dan tidak ada di alam nyata. 

Allah telah menjadikan ukuran/takaran bagi segala sesuatu. قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا “Allah menjadikan bagi segala sesuatu ukuran” (QS At-Tholaq : 3). 

Jika al-Jauhar al-Mufrod sifatnya seperti yang mereka sebutkan (tidak terbedakan antara kanan dan kirinya, tidak ada ukurannya), maka Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang seperti itu, karena setiap makhluk pasti ada kadar/ukurannya.

Ketiga : Pada hakikatnya pendapat ini melazimkan bahwasanya Allah tidak menciptakan sesuatu dari sesuatu. Karena menurut mereka unsurnya tetap ada (yaitu kumpulan al-Jauhar al-mufrod) hanya saja Allah memberi bentuk pada unsur-unsur tersebut.

Keempat : Kenyataan yang ada menurut ilmu kimia bahwasanya unsur bukan hanya satu, bahkan banyak unsur yang berbeda-beda. Demikian juga unsur bisa berubah menjadi unsur yang lain dengan proses kimia. Tentu diketahui bahwa unsur yang menyusun kaca tentu tidak sama dengan unsur yang menyusun buah kurma, tidak sama pula dengan unsur yang menyusun air mani. Demikian juga unsur yang menyusun malaikat tidak sama dengan unsur yang menyusun jin dan manusia.

Kelima : Pada hekikatnya pendapat ini mengingkari “penciptaan” Allah, karena Allah menurut mereka hanyalah menyusun tanpa menciptakan unsur yang baru

Keenam : Jika hakikat penciptaan hanyalah 4 perkara (berkumpul, berpisah, bergerak, dan diam) yang terjadi pada al-jauhar al-mufrod, maka seharusnya tidak akan terjadi sesuatu yang baru, karena tidak terjadi proses kimia. Sebagaimana air jika digabungkan atau dipisahkan atau didiamkan atau digerakan maka tidak akan menimbulkan benda lain selain air itu sendiri, hanya saja terjadi perubahan bentuk, akan tetapi bendanya tetaplah air. Ini tentu bertentangan dengan kenyataan, bahwa benda manusia tentu tidak sama dengan benda kaca. ([10]).

Ketujuh : Teori al-Jauhar al-Fard bukanlah teori islami, akan tetapi teori Yunani yang dicetuskan oleh Dimokritos (460 SM – 370 SM) yang terkenal dengan teori atom-nya. Justru dengan teori atom tersebut pala filsuf Yunani menyatakan tentang azalinya alam, dan dijadikan batu loncatan untuk mengingkari adanya tuhan. Hal ini karena mereka meyakini bahwa atom-atom penyusun alam azali dan tidak akan pernah punah, dan hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya karena perubahan interaksi dari satu atom dengan atom lainnya. Akan tetapi teori atom inipun diperselisihkan oleh para filsuf Yunani terdahulu ([11]).

—–

([3]) HR At-Tirmidzi no 1535 

([4]) al-Qoul al-Mufiid, al-Útsaimin 2/211

([5]) HR Abu Daud no 4980

([6]) HR. Muslim No. 2664

([7]) HR Abu Daud no 4691 

([8]) Lihat جُهُوْدُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ فِي تَقْرِيْرِ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّة 1/207-217

([9]) Penjelasan Ibnu Taimiyyah di Majmuu al-Fataawa 17/244-245, Minhajus Sunnah 2/139 dan Dar at-Taáarud 3/442-445 dan 8/320

([10]) Lihat جُهُوْدُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ فِي تَقْرِيْرِ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّة 1/196-206

([11]) Muqoddimah fi Naqd Madaaris ilmi al-Kalaam, Dr Mahmuud Qoosim, hal 13

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: