Penyimpangan dalam tauhid ar-Rububiyah ada 2 perkara

Penyimpangan dalam tauhid ar-Rububiyah ada 2 macam :

Pertama : نَوَاقِضُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ Pembatal-pembatal tauhid ar-Rububiyah

Jika seseorang terjerumus dalam pembatal-pembatal tersebut maka tauhid ar-Rububiyahnya batal dan ia terjerumus dalam syirik akbar

Kedua : نَوَاقِصُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ Pengurang kemurnian tauhid Ar-Rububiyah.

Jika seseorang terjerumus dalam pengurang-pengurang ini, maka imannya tidak batal hanya saja ia terjerumus dalam syirik kecil (ashghor).

Pembatal-Pembatal tauhid rububiyyah diantaranya

Pertama : Atheism  الْقَوْلُ بِعَدَمِ الرَّبِّ(akan datang pembahasan khusus akan hal ini di akhir pembahasan)

Kedua : Berbilangnya Pencipta (القَوْلُ بِتَعَدُّدِ الآلِهَةِ)

Perkataan ini bathil karena bertentangan dengan firman Allah,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas : 1)

Nabi juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)

Diantara kelompok yang berpemahaman ini,

Pertama : Dualisme

Yaitu meyakini ada dua tuhan. Ada beberapa kelompok yang meyakini dualisme, diantaranya :

● Tsunawiyah, yaitu meyakini bahwa cahaya dan kegelapan adalah dua perkara yang azali. Namun meskipun mereka mengganggap cahaya dan kegelapan sama-sama azali akan tetapi tetap keduanya berbeda dalam banyak hal, dalam dzat, tabi’at, perbuatan, jenis, tempat (lokasi), dan lainnya.

● Majusi, yang meyakini bahwa ada dua kekuatan di alam semesta yaitu cahaya/api dan kegelapan, hanya saja yang qodim (azali) adalah cahaya. Sementara kegelapan adalah hadits (tidak qodim)

● Al-Manawiyah, yaitu pengikut Mani bin Fatak. Mereka meyakini bahwa alam ini tercipta dari dua dzat yang azali, akan tetapi mereka berpendapat bahwa keduanya berbeda dari sisi jiwa, bentuk, perbuatan, dan pengaturan. Bedanya dengan Tsunawiah, al-Manawiyah tidak menyatakan bahwa kedanya adalah cahaya dan kegelapan.

Kedua : Trinitas

Yaitu meyakini 3 Tuhan. Diantara yang berkeyakinan trinitas adalah :

● Hindu, yang mengatakan tuhan itu ada brahmana, wisnu, dan siwa.Nasrani, yang mengatakan tuhan itu ada tuhan bapa, tuhan anak, dan tuhan roh kudus

● Kelompok-kelompok yang mengakui bahwa tuhan ada dua atau tiga, naluri mereka tetap saja meyakini akan adanya tuhan yang satu. Kaum Nasrani yang meyakini tiga tuhan tetap berusaha mengatakan 3 sama dengan 1, kaum Hindu tetap meyakini Brahmana- lah tuhan yang paling top diantara semuanya, demikian pula Majusi yang meyakini tuhan api yang paling top.

Ibnu Taimiyyah berkata :

أَنَّ إِثْبَاتَ رَبَّيْنِ لِلْعَالَمِ لَمْ يَذْهَبْ إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، وَلاَ أَثْبَتَ أَحَدٌ إِلَهَيْنِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلاَ مُتَسَاوِيَيْنِ فِي الصِّفَاتِ وَلاَ فِي الأَفْعَالِ، وَلاَ أَثْبَتَ أَحَدٌ قَدِيْمَيْنِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلاَ وَاجِبَيْ الْوُجُوْدِ مُتَمَاثِلَيْنِ، وَلَكِنَّ الإِشْرَاكَ الَّذِي وَقَعَ فِي الْعَالَمِ إِنَّمَا وَقَعَ بِجَعْلِ بَعْضِ الْمَخْلُوْقَاتِ مَخْلُوْقَةً لِغَيْرِ اللهِ فِي الإِلَهِيَّةِ بِعِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ تَعَالَى، وَاتِّخَاذِ الْوَسَائِطِ وَدُعَائِهَا وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهَا، كَمَا فَعَلَ عُبَّادُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالْكَوَاكِبِ وَالأَوْثَانِ، وَعُبَّادِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمَلاَئِكَةِ أَوْ تَمَاثِيْلِهِمْ وَنَحْوِ ذَلِكَ. فَأَمَّا إِثْبَاتُ خَالِقَيْنِ لِلْعَالَمِ مُتَمَاثِلَيْنِ فَلَمْ يَذْهَبْ إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ الآدَمِيِيْنَ

“Sesungguhnya menetapkan dua Tuhan bagi alam maka tidak seorangpun dari keturunan Adam yang berpendapat demikian. Demikian juga tidak seorangpun yang menetapkan adanya dua sesembahan yang sama persis, atau menetapkan dua sesembahan yang sama persis dalam sifat-sifatnya atau perbuatan-perbuatannya, dan tidak seorangpun menetapkan dua qodim (azali) yang sama persis, tidak juga wajibul wujud yang sama persis. Akan tetapi kesyirikan yang terjadi di alam hanyalah terjadi dengan menjadikan sebagian makhluk adalah makhluk bagi selain Allah dalam peribadatan, yaitu dengan beribadah kepada selain Allah, demikian juga mengambil perantara-perantara lalu berdoa kepadanya dan bertaqorrub kepadanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah matahari, rembulan, bintang-bintang, berhala-berhala. Juga para penyembah para nabi dan para malaikat, atau patung-patung mereka dan yang semisalnya.

Adapun menetapkan adanya 2 pencipta alam yang sama persis maka tidak seorangpun dari keturunan Adam yang berpendapat demikian” ([1])

Ketiga : Adanya Tuhan selain Allah (القَوْلُ بِوُجُوْدِ الرَّبِّ غَيْرِ الله)

Seperti Firaun yang mengaku dirinya adalah tuhan, demikian pula Namrud, atau Budha Sidharta Gautama yang diyakini oleh para pengikutnya sebagai tuhan.

Firaun mengaku dirinya sebagai tuhan padahal dia tahu bahwa dirinya bukanlah tuhan. Allah berfirman tentang perkataan Musa,

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (QS Al-Isra’ : 102)

Orang pertama yang mengetahui kebohongan Fir’aun adalah dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia bukanlah tuhan, betapa banyak hal yang tidak mampu ia kerjakan, dan betapa ia tahu kelemahan dirinya akan tetapi karena kesombongan semata ia mengaku tuhan. 

Allah berfirman :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS An-Naml : 14)

Adapun kaumnya mengaku Firáun sebagai tuhan hanya karena dibodohi oleh Firáun. 

Allah berfirman :

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ، أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ، فَلَوْلَا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلَائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ، فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Dan Fir´aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya). Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya). Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?. Maka Fir´aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (QS Az-Zukhruf : 51-54)

Namrud juga mengaku dirinya tuhan, sebagaimana saat Nabi Ibrahim berdialog dengan Namrud,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Baqarah : 258)

Berbeda dengan Budha, dirinya tidak pernah mengaku sebagai tuhan, pengikut-pengikutnya yang berlebihan lah yang kemudian mempertuhankannya. Budha tidak pernah menciptakan apa-apa, Budha hanyalah orang bijak, bahkan sahabat-sahabatnya di zaman awal juga tidak mempertuhankannya. Demikian pula Nabi Isa, sahabat-sahabatnya sama sekali tidak menyembah Nabi Isa, hingga datang Paulus dan pengikut-pengikutnya di zaman belakangan mulailah melakukan penyembahan terhadap Isa.

Keempat : Azalinya alam (الْقَوْلُ بِقِدَمِ الْعَالَمِ)

Mereka mengatakan bahwa alam itu ada bersamaan dengan adanya tuhan, bukan adanya tuhan lalu tuhan menciptakan alam. Jelas ini perkataan yang bathil karena mengingkari sifat “mencipta” Tuhan.

Nabi bersabda :

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Dahulu Allah sendirian dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)

Hal ini adalah keyakinan sebagian kaum falasifah seperti Ibnu Sina dan Faarobi.

Kelima : Adanya yang mengatur sebagian alam semesta selain Allah tetapi dengan izin Allah (الْقَوْلُ بِوُجُوْدِ الْمُدَبِّرِ غَيْرِ اللهِ بِإِذْنِ الله)

Seperti anggapan sebagian manusia yang meyakini bahwa Allah memberikan hak otonomi kepada sebagian makhluknya untuk mengatur sebagian dari alam. Namun yang benar adalah Allah tidak pernah memberikan satu pun hak otonomi kepada selain diri-Nya untuk mengatur sebagian alam, bahkan malaikat pun tidak. Jika dikatakan bahwa ada malaikat yang mengatur hujan, maka itu hanyalah sekadar melaksanakan perintah Allah saja, adapun hak untuk mengaturnya malaikat tidak memilikinya.

Oleh karena itu, keyakinan sebagian orang bahwa pantai selatan diatur oleh Nyi Roro Kidul adalah perkataan bathil dan merupakan kesyirikan di dalam bab tauhid rububiyyah. Demikian juga keyakinan sebagian orang bahwa gunung tertentu diatur oleh jin atau penunggunya juga merupakan kesyirikan dalam tauhid ar-Rububiyah.

Demikian juga keyakinan sebagian kaum Syiáh Rofidhoh yang menyatakan bahwa dunia dan akhirat adalah milik para imam mereka, dimana para imam mengaturnya sesuai dengan yang mereka kehendaki. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mengetahui ilmu ghaib, mereka mengetahui kapan mereka mati dan mereka tidak mati kecuali dengan izin mereka.

Demikian juga keyakinan sebagian kaum sufiyah yang menyatakan bahwa As-Syaikh Abdul Qodir al-Jailani telah diberi “kun” oleh Allah, sehingga ia bisa menyatakan “kun fayakun” dengan izin Allah.

Ali Al-Faasi, penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani, menukil perkataan At-Tijani :

“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) maka  (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum, yang semisal ini maka perkataan (Abdul Qodir al-Jailany) radhiallahu ‘anhu. Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-‘Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” ([2])

Keenam : Keyakinan wihdatul wujud/hululiyyah/ittihadiyah (وِحْدَةُ الْوُجُوْدِ)

Ini adalah perkataan Ibnu ‘Arabi dan pengikut-pengikutnya, mereka mengatakan bahwa Allah bersatu dengan makhluk. Sesungguhnya pemahaman ini lebih kufur daripada Nasrani, jika sebagian Nasrani berkata bahwa Allah bersatu dengan Nabi Isa seorang, adapun wihdatul wujud meyakini Allah bersatu dengan semua makhluk.

Ketujuh : Keyakinan bahwa berhala memberi manfaat dan mudorot

Kedelapan : Berhukum dengan selain hukum Allah, seraya meyakini bahwa selain Allah berhak juga untuk mengeluarkan hukum yang setara dengan hukum Allah, atau lebih baik dari hukum Allah.

Hal ini merupakan pembatal tauhid ar-Rububiyah karena Allah maha esa dalam menetapkan hukum-hukum, ketika seseorang meyakini ada selain Allah yang juga boleh menetapkan hukum (yang nilainya sama dengan hukum Allah atau lebih baik) maka pada dasarnya ia telah membatalkan tauhid ar-Rububiyahnya.

Kesembilan : Keyakinan bahwa gerakan/munculnya bintang dan planet mempengaruhi kejadian alam (الاِعْتِقَاُد بِتَأْثِيْرِ النُّجُوْمِ وَالْكَوَاكِبِ عَلَى الحَوَادِثِ الأَرْضِيَّةِ)

Hal ini membatalkan tauhid ar-Rububiyah karena meyakini bahwa benda-benda langit yang merupakan benda mati ikut mempengaruhi peristiwa-peristiwa di bumi. Padahal yang menentukan kejadian-kejadian alam hanyalah Allah semata.

——-

([1]) Dar’ Taáarud al-Áql wa an-Naql 9/344

([2]) Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62

CACAT YANG MENGHALANGI SAHNYA KORBAN

CACAT YANG MENGHALANGI SAHNYA QURBAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله و الحمد الله وصلاة و السلام على رسول الله  وعلى  آله وأصحابه أجمعين

Pembahasan berikutnya dari Kitab Ahadits Asyr Dzilhijjah wa Ayyami Tasyriq yaitu tentang:

عيوب الأضحية المانعة من الإجزاء

▪︎Cacat Hewan Kurban yang Membuat tidak Sah

عن الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رضي الله عنه قال: قام فينا رسول الله  ‏

Dari Al-Barā’ ibnu Āzib radhiyallāhu ‘anhu berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah Kami.

Lalu Beliau bersabda:

أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِي الأَضَاحِي الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لاَ تَنْقَى

Ada empat cacat yang tidak diperbolehkan  pada hewan kurban,

الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا

⑴ Buta sebelah dan jelas sekali kebutaanya.

وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا

⑵ Sakit dan tampak jelas sakitnya.

وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا

⑶ Pincang dan tampak jelas pincangnya.

وَالْكَسِيرُ الَّتِي لاَ تَنْقَى

⑷ Kurus sampai-sampai tidak mempunyai sumsum tulang.

(Hadīts ini diriwayatkan oleh Ashhabul Khamsah  dan dishahīhkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Hadīts ini menunjukkan bahwa, jika ada salah satu ada pada hewan kurban aib-aib yang disebut di atas, maka penyembelihan hewan kurban itu menjadi tidak sah.

▫️Di antara aib itu :

الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا

⑴ Buta sebelah dan sangat tampak (jelas) butanya.

Yang dimaksud buta yang disampaikan yaitu matanya sampai keluar atau terjungkil. Namun jika matanya hanya sekedar putih dan tidak bisa hilang maka itu tetap sah.

Karena apa? Karena kalau matanya agak keputihan artinya dia bisa atau masih mampu untuk melihat dan tidak buta secara total, namun jika kedua matanya sampai buta (dua-duanya) ini jelas lebih parah. Makanya disampaikan di sini kalau salah satunya buta dan tampak kebutaannya maka tidak sah apalagi dua-duanya.

 وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا

⑵ Sakit yang sakitnya jelas.

Kata para ulama barometer dari sakitnya itu adalah التي ظهرت عليها آثار المرض yaitu yang tampak sakitnya dan bisa berdampak kepada kurus yang jelas sekali kurusnya. Tidak ada dagingnya, tidak ada sumsumnya dan seterusnya.

وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا

⑶ Pincang yang tampak jelas pincangnya.

Berkaitan dengan pincang ini apakah pada bagian depan ataupun juga pada bagian belakang, karena terpotong atau karena sakit dan lain sebagainya yang dirasa di situ ada cacat yang membuat sulit untuk berjalan maka hewan ini tidak sah untuk dikurbankan.

وَالْكَسِيرُ الَّتِي لاَ تَنْقَى

⑷ Kurus hingga tidak memiliki sumsum, kalau kurus apalagi tidak ada sumsumnya sudah jelas tidak ada dagingnya. Namun jika masih ada dagingnya kemudian juga tidak kurus-kurus banget maka itu tidak mengapa.

Agama kita ingin memberikan, mengajarkan kepada kita ketika berkurban, ketika bersedekah maka berikanlah yang terbaik. Apalagi jika kurban ini ditujukan kepada Allāh Tabāraka wa Ta’āla.

Wallāhu Ta’āla A’lam wa A’lam

________

🌍 BimbinganIslam.Com

KEBERKATAN REZEKI DAN UMUR

KEBERKAHAN REZEKI DAN UMUR 🍃

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/55354 

🌴🌴🌴

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وليست سعـةُ الـــرزق والعمل

‏بكثرته، ولا طولُ العمر بكثرة

‏الشهور والأعوم،

‏ولكن سعة الرزق والعمر بالبركة

‏فيه.

“Bukanlah banyaknya rezeki itu dengan banyaknya jumlah harta. . tidak pula panjangnya umur dengan banyaknya bulan dan tahun.. namun keberkahan rezeki dan umur adalah dengan banyak keberkahan padanya..”

(Ad Daa wad Dawaa hal. 201)

🌴🌴🌴

Keberkahan itu adalah banyaknya kebaikan pada sesuatu..

Harta dan umur yang berkah adalah harta yang banyak digunakan untuk kebaikan dengan sedekah dan membantu orang lain.. dan umur yang selalu dimakmurkan dengan ketaatan..

Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708)

Dari ‘Abdullah bin Busr, ada seorang Arab Badui bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah manusia yang paling baik. Jawaban Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“(Yang paling baik adalah) yang panjang umur dan baik pula amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2329; Ahmad, 4:190.

Hal-hal yang mengotori kemurnian tauhid ar-Rububiyah

Hal-hal yang mengotori kemurnian tauhid ar-Rububiyah (نَوَاقِصُ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّةِ)

Diantara hal-hal yang mengurangi nilai tauhid ar-Rububiyah dan mengotori kemurniannya adalah :

Pertama : Bersumpah dengan selain Allah

Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia telah berbuat kekufuran atau berbuat kesyirikan” ([3])

Tidaklah seseorang bersumpah dengan selain Allah kecuali mengagungkannya. Jika ternyata ia memandang sesuatu tersebut keagungannya sama dengan Allah maka ia telah terjerumus dalam syirik besar, jika tidak maka ia terjerumus dalam syirik kecil. ([4])

Kedua : Menyandarkan nikmat kepada selain Allah.

Meskipun dengan meyakini bahwa selain Allah tersebut hanyalah sebab, akan tetapi seharusnya nikmat disandarkan kepada pemberi nikmat yang sesungguhnya.

Seperti perkataan, “Kalau bukan polisi tentu saya sudah dirampok”, “Kalau bukan kelihaian nahkoda tentu kapal sudah tenggelam”, dan semisalnya.

Justru dalam kondisi bersyukur karena selamat dari keburukan atau kekawatiran seharusnya seseorang mengingat Allah bukan malah mengingat sebab. Karena hal ini mengurangi nilai tauhid ar-Ribubiyah, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, dan hanya Allah yang memberikan segala kenikmatan.

Ketiga : Menyandarkan kenikmatan kepada Allah dan juga kepada selain Allah dengan kata gandeng (seperti kata gandeng “dan”) yang mengesankan persamaan.

Contoh mengatakan, مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ “Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan”. Atau berkata, لَوْلاَ اللهُ وَفُلاَنٌ “Kalau bukan karena Allah dan si fulan”.

Karena kedua perkataan di atas menunjukan seakan-akan kehendak si fulan menyamai kehendak Allah dalam menentukan terjadinya kejadian. 

Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ

“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah lalu kehendak si Fulan” ([5])

Keempat : Protes kepada taqdir Allah dengan mengatakan “seandainya”.

Sabda Nabi ﷺ ,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah. Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata, “Seandainya aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian”. Namun ucapkanlah, “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi”, karena sejatinya ucapan ”seandainya” hanyalah membuka pintu godaan setan.” ([6])

Karena seseorang ketika ditimpa dengan apa yang dia tidak sukai, lantas ia berkata, “Seandainya”, maka seakan-akan ia tidak setuju dan protes kepada keputusan Allah. Seakan-akan ia tidak setuju dengan “pengaturan” (rububiyah) Allah. Seharusnya ia berkata “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi” yang menunjukan ia pasrah dengan ketetapan Allah.

Kelima : Mencela masa/waktu/zaman

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ تَعَالَى: يُؤْذِيْنِيْ ابْنِ آدَم، يَسُبُّ الدَّهْر، وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَار

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Anak Adam (manusia) menggangguku, mereka mencela masa padahal aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang menjadikan mala dan siang silih berganti’.”

Dalam riwayat yang lain dikatakan,

لَا تَسُبُّوا الدَّهْر، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْر

“Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah Ad-Dahr itu sendiri.”

Karena pada hakikatnya masa atau zaman tidaklah bisa berbuat apa-apa, ia diatur oleh Allah. Karenanya jika seseorang mencela masa sesungguhnya ia telah mencela sang pengaturnya yaitu Allah. Dan mencela pengaturan Allah berarti mencela rububiyah Allah.

Keenam : Mencela angin

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَ فَقُوْلُوْا

“Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.” (HR. Tirmudzi, dan hadits ini ia nyatakan shahih).

Hal ini sama dengan yang sebelumnya (mencela masa), karena angin tidaklah berkehendak, ia diatur oleh Allah. Jika seseorang mencela angin berarti ia mencela pengaturnya. Dan mencela pengaturan Allah berarti mencela rububiyah Allah.

Ketujuh : Keyakinan bahwa perbuatan hamba bukan ciptaan Allah (الْقَوْلُ بِأَنَّ أَفْعَالَ الْعِبَادِ غَيْرُ مَخْلُوْقَةٍ)

Ini adalah perkataan kaum Qadariyyah, mereka meyakini bahwa ada hal yang tidak diciptakan oleh Allah di alam semesta ini, yaitu perbuatan hamba. Dengan demikian melazimkan ada pencipta selain Allah. Karenanya Nabi bersabda tentang qodariyah :

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ: إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ

“Qodariyah adalah Majusi umat ini, jika mereka sakit maka jangan jenguk mereka, dan jika mereka mati maka jangan hadiri janazah mereka” ([7])

Hal ini karena majusi mengatakan bahwa ada dua pencipta, pencipta kebaikan yaitu cahaya/api, dan pencipta keburukan yaitu kegelapan. Sama halnya dengan qodariyah yang menyatakan bahwa keburukan perbuatan manusia tidak diciptakan oleh Allah. Kelaziman dari keyakinan qodariyah ini seharunya membatalkan (bukan sekadar mengurangi) nilai tauhid ar-Rububiyyah, hanya saja para ulama tidak mengkafirkan mereka karena syubhat yang ada pada mereka.

Kedelapan : Keyakinan bahwa “penciptaan” adalah “ciptaan/makhluk” itu sendiri (الخَلْقُ هُوَ الْمَخْلُوْقُ)

Ini adalah pernyataan Jahmiyah yang diikuti oleh Asyaíroh karena ingin menghindar dari kaidah mereka sendiri مَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ فَهُوَ حَادِثٌ “Apa yang ditempati oleh hawadits (sesuatu) yang baru maka ia juga baru”. 

Menurut ahlus sunnah bahwasanya sifat Allah al-kholq (penciptaan) adalah sifat yang qodim azali yang tegak di dzat Allah, hanya saja Allah menciptakan kapan saja Allah kehendaki dengan berkata “Kun”. Allah menciptakan Adam álaihis salam bukan di zaman azali tetapi di kemudian hari ketika Allah hendak menciptakannya, demikian pula Allah menciptakan langit dan bumi. Bagi Jahmiyah dan Asyaíroh bahwa kondisi Allah menciptakan di waktu yang tertentu adalah sesuatu yang merupakan kejadian baru pada diri Allah, yang melazimkan berarti Allah melakukan “penciptaan” terus menerus, dan ini berarti terjadi kejadian-kejadian baru pada dzat Allah dan ini tentu tidak boleh dalam kaidah mereka. Sehingga mereka mentakwil “kholq (penciptaan)” dengan “makhluk” yang terjadi terus menerus([8]).

Kelaziman dari pernyataan “penciptaan adalah makhluk itu sendiri” sebenarnya adalah membatalkan tauhid ar-Rububiyah karena menafikan sifat “penciptaan” yang merupakan sifat utama Tuhan sebagai Pencipta. Akan tetapi para ulama tidak mengkafirkan mereka karena ada syubhat yang ada pada diri mereka. Seperti mereka mengatakan bahwa makhluk tercipta bukan dengan “penciptaan” akan tetapi dengan sifat al-irodah yang qodim dengan pemunculan irodah yang berkaitan dengan penciptaan yang otomatis karena sudah diprogramkan dalam irodah qodimah.

Kesembilan : Keyakinan bahwa semua makhluq tersusun dari al-Jawahir al-Mufrodah

Ahlus sunnah meyakini bahwa Allah menciptakan manusia dari unsur yang berbeda dari unsur untuk menciptakan hewan, pohon, batu, dan air. Atau satu makhluk tercipta dari berbagai unsur.

Berbeda dengan mayoritas al-Jahmiyah, al-Mu’tazilah, dan al-Asyaíroh. Menurut mereka yang pertama Allah ciptakan adalah al-Jauhar al-Mufrod, dari al-Jauhar al-Mufrod itulah Allah menyusun dan memisahkan sehingga menjadi langit, menjadi bumi, menjadi api, menjadi air, dll. Semuanya berasal dari unsur terkecil yang sama yang disebut dengan al-Jauhar al-Mufrod ([9]). 

Jadi Allah tidak pernah menciptakan benda-benda dan makhluk-mahkluk yang berdiri sendiri, akan tetapi Allah menciptakan sifat-sifat yang tegak pada al-jawahir al-mufrodah tersebut. Jadi anak yang lahir dari rahim, buah yang timbul dari pohon, api yang muncul dari batu bara, semuanya asalnya adalah unsur yang sama (yaitu kumpulan al-Jauhar al-Mufrod) hanya saja Allah rubah sifat-sifatnya dengan 4 cara (الاِجْتِمَاعُ dikumpulkan, الاِفْتِرَاقُ dipisahkan, الحَرَكَةُ gerakan, dan السُّكُوْنُ diam) sehingga berubah pula bentuknya.

Ini tentu mengurangi nilai tauhid ar-Rububiyah Allah yang menciptakan dengan apa yang Allah kehendaki, dan tidak terbatas pada al-Jauhar al-Mufrod.

Ini merupakan aqidah yang batil dari 3 sisi :

Pertama : Mayoritas manusia menolak adanya keyakinan tentang al-Jauhar al-Mufrod. Pendapaat ini juga tidak dikenal dari seorangpun dari kalangan para sahabat, para tabiín, para imam yang ma’ruf.

Kedua : Menurut mereka yang dimaksud dengan al-Jauhar al-Mufrod yaitu sesuatu yang satu sisinya tidak terbedakan dengan sisi yang lain, tidak terbedakan antara kanan dan kirinya, bahkan mereka mengatakan bahwa ia tidak ada ukurannya. Tentu ini hanyalah hayalan semata, dan tidak ada di alam nyata. 

Allah telah menjadikan ukuran/takaran bagi segala sesuatu. قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا “Allah menjadikan bagi segala sesuatu ukuran” (QS At-Tholaq : 3). 

Jika al-Jauhar al-Mufrod sifatnya seperti yang mereka sebutkan (tidak terbedakan antara kanan dan kirinya, tidak ada ukurannya), maka Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang seperti itu, karena setiap makhluk pasti ada kadar/ukurannya.

Ketiga : Pada hakikatnya pendapat ini melazimkan bahwasanya Allah tidak menciptakan sesuatu dari sesuatu. Karena menurut mereka unsurnya tetap ada (yaitu kumpulan al-Jauhar al-mufrod) hanya saja Allah memberi bentuk pada unsur-unsur tersebut.

Keempat : Kenyataan yang ada menurut ilmu kimia bahwasanya unsur bukan hanya satu, bahkan banyak unsur yang berbeda-beda. Demikian juga unsur bisa berubah menjadi unsur yang lain dengan proses kimia. Tentu diketahui bahwa unsur yang menyusun kaca tentu tidak sama dengan unsur yang menyusun buah kurma, tidak sama pula dengan unsur yang menyusun air mani. Demikian juga unsur yang menyusun malaikat tidak sama dengan unsur yang menyusun jin dan manusia.

Kelima : Pada hekikatnya pendapat ini mengingkari “penciptaan” Allah, karena Allah menurut mereka hanyalah menyusun tanpa menciptakan unsur yang baru

Keenam : Jika hakikat penciptaan hanyalah 4 perkara (berkumpul, berpisah, bergerak, dan diam) yang terjadi pada al-jauhar al-mufrod, maka seharusnya tidak akan terjadi sesuatu yang baru, karena tidak terjadi proses kimia. Sebagaimana air jika digabungkan atau dipisahkan atau didiamkan atau digerakan maka tidak akan menimbulkan benda lain selain air itu sendiri, hanya saja terjadi perubahan bentuk, akan tetapi bendanya tetaplah air. Ini tentu bertentangan dengan kenyataan, bahwa benda manusia tentu tidak sama dengan benda kaca. ([10]).

Ketujuh : Teori al-Jauhar al-Fard bukanlah teori islami, akan tetapi teori Yunani yang dicetuskan oleh Dimokritos (460 SM – 370 SM) yang terkenal dengan teori atom-nya. Justru dengan teori atom tersebut pala filsuf Yunani menyatakan tentang azalinya alam, dan dijadikan batu loncatan untuk mengingkari adanya tuhan. Hal ini karena mereka meyakini bahwa atom-atom penyusun alam azali dan tidak akan pernah punah, dan hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya karena perubahan interaksi dari satu atom dengan atom lainnya. Akan tetapi teori atom inipun diperselisihkan oleh para filsuf Yunani terdahulu ([11]).

—–

([3]) HR At-Tirmidzi no 1535 

([4]) al-Qoul al-Mufiid, al-Útsaimin 2/211

([5]) HR Abu Daud no 4980

([6]) HR. Muslim No. 2664

([7]) HR Abu Daud no 4691 

([8]) Lihat جُهُوْدُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ فِي تَقْرِيْرِ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّة 1/207-217

([9]) Penjelasan Ibnu Taimiyyah di Majmuu al-Fataawa 17/244-245, Minhajus Sunnah 2/139 dan Dar at-Taáarud 3/442-445 dan 8/320

([10]) Lihat جُهُوْدُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ فِي تَقْرِيْرِ تَوْحِيْدِ الرُّبُوْبِيَّة 1/196-206

([11]) Muqoddimah fi Naqd Madaaris ilmi al-Kalaam, Dr Mahmuud Qoosim, hal 13

10 KEUTAMAAN PADA 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

10 KEUTAMAAN PADA 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH (1) ◾

(1). Amal-amal shalih pada hari itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala

ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﺸﺮ . ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ

“Tidak ada hari-hari dimana amal shalih di saat itu akan lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak juga berjihad fii sabilillah ?” Beliau menjawab : “Tidak juga berjihad fii sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apapun (yaitu mati syahid)” (HR. Bukhari no. 969, hadits dari Ibnu Abbas)

(2). Dilipatgandakan pahala amal-amal shalih seperti shalat, bersedekah, baca al-Qur’an, berpuasa, berdzikir dll

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit & bumi, (dan) di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Allah mengkhususkannya pada 4 bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan mulia, melakukan maksiat pada bulan itu dosanya akan lebih besar dan amal-amal shalih yang dilakukan (di bulan itu) akan menuai pahala yang lebih banyak” (Lathaa-iful Ma’aarif hal 207)

(3). Berpuasa sunnah selama 9 hari dari tanggal 1 s/d 9 Dzulhijjah

Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 

biasa berpuasa pada 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram) dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (di tgl 13, 14 dan 15 pada bulan Islam)” (HR. Abu Dawud no. 2437, dan an-Nasaa’i no. 2372 & 2417, Ahmad no. 2269 dan juga al-Baihaqi IV/284, Shahiih Sunan Abi Dawud no. 2106)

Sahabat Nabi ﷺ yang mempraktekkan puasa sunnah selama 9 hari awal bulan Dzulhijjah adalah Abdullah bin Umar. Di antara ulamanya tabi’in seperti al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin serta Qotaadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut, & inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama” (lihat Kitab Lathaa-iful Ma’aarif hal 461)

(4). Disyariatkan puasa Arafah tgl 9

“Puasa di hari Arafah karena mengharap‎ ‎pahala dari Allah dapat melebur dosa2 setahun sebelumnya & sesudahnya” (HR. Muslim no. 1162, hadits Abu Qotadah)

(5). Allah Ta’ala telah bersumpah dgn menyebutkan keutamaan hari-hari itu

Allah Ta’ala berfirman : “Demi malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr [89]: 2)

(6). Terdapat sebaik-baik hari di dunia, yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (HR. Al-Bazzar, Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 1133, hadits dari Jabir)

(7). Allah Ta’ala telah menamakan bulan Dzulhijjah dengan asyhurun ma’luumaat (beberapa bulan yang telah dimaklumi/diketahui), dimana jamaah haji itu mulai menyiapkan bekal dan juga melakukan perjalanan haji, yaitu di bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ 

“(Musim) haji itu beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yg menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka dia tidak boleh rafats, berbuat fasik & juga berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji…” (QS. 2 : 197)

(8). Allah Ta’ala menamakan awal bulan Dzulhijjah dengan sebutan al-ayyaamul ma’luumaat (hari yang telah ditentukan) untuk memperbanyak dzikir

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka & supaya mereka menyebut nama Allah pada hari2 yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka itu berupa hewan ternak.” (QS. Al-Hajj [22]: 28)

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan juga Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada 10 hari itu dan mengumandangkan takbir, lantas orang-orang pun mengikuti takbirnya (untuk mengingatkan manusia agar masing2 berdzikir, tetapi bukannya dengan cara ber-sama2 dengan 1 suara)

Dan dianjurkan juga untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dll

(9). Bulan Dzulhijjah termasuk bagian dari bulan-bulan yg haram (mulia) yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram serta Rajab, dimana kaum muslimin dilarang memulai peperangan

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit & bumi, (dan) di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu” (QS. At-Taubah [9]: 36)

(10). Pelaksanaan ibadah haji & umrah

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (bagi) seorang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Dia tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. 3 : 97)

RASA MANIS HAWA NAFSU

RASA MANIS HAWA NAFSU

Rasa manis (enak)nya hawa nafsu yang telah menetap(memenuhi) dalam hati, adalah penyakit yang sulit untuk di obati.”

Hati itu tempatnya Iman, Yaqin dan makrifat, ketiganya itu sebagai obat penyakit hati yang timbul dari hawa nafsu,

apabila penyakit itu sudah menetap dan menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obat. Disitulah letak kepayahan dan sulitnya mengobatinya, sehingga sulit disembuhkan

“Asal usul / pokok dari pada kemaksiatan, ghoflah

( lupa pada Allah ), syahwat  (kesenangan ), dan kemusyrikan itu sebab ridho dengan hawa nafsu

Tidak ada yang boleh menyembuhkan / mengeluarkan kesenangan nafsu ( yang sudah menetap ) dalam hati, kecuali rasa takut yang menggetarkan, atau rindu yang menggelisahkan.”yang bersumber dari mahrifat

Keinginan hawa nafsu yang sudah memenuhi hati itu sangat luar biasa pengaruhnya, maka untuk mengobatinya sangatlah sulit, hanyalah dengan rasa takut yang besar  (menggetarkan ) yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah tentang balasan dan ancaman Allah, siksa bagi orang yang maksiat, ingat akan datangnya mati, dimasukkan dalam kubur, ditanya oleh malaikat munkar nakir, datangnya hari kiamat dan neraka. dan rasa rindu yang sangat, yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah tentang kemulyaan dan kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang yang ahli taat kepada Allah, dan para kekasihNya, berupa surga dan kenikmatan yang lebih lagi di dalamnya.

Sebagimana Alloh tidak suka dengan amal yang dipersekutukan dengan lainNya, begitu pula Allah tidak suka dengan hati yang diperskutukan dengan lainNya. Amal / ibadah yang dipersekutukan dengan sesuatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang dipersekutukan maka Allah tidak akan menghadapi/meridhoinya.”

Amal yang yang dipersekutukan yaitu : amal /ibadah yang kemasukan salah satu dari tiga hal :

1..Riya’ (amal yang karena makhluk),

2,,Tashonnu’ ( membaik-baikan amal di hadapan manusia ),

‘3,,Ujub ( merasa besar dan baik amalnya sendiri ).

Sedangkan hati yang bersekutu yaitu : hati yang masih cinta kepada selain Allah,dan masih mengharap dan takut atau masih bersandar kepada selain Allah. Dan Allah hanya menerima amal yang ikhlas karena Allah, dan Allah hanya mau menghadapi orang yang dihatinya hanya ada Allah.

6 CARA MENDAPATKAN KHUSYUK DALAM SOLAT – IMAM AL-GHAZALI

6 CARA MENDAPATKAN KHUSYUK DALAM SOLAT – IMAM AL-GHAZALI

Menurut Imam al-Ghazali, untuk menghadirkan khusyuk di dalam solat, ada enam perkara yang perlu kita lakukan semasa mengerjakan solat.

1-Pertama; HUDHUR AL-QLABI (حضور القلب); iaitu menghadirkan hati kita ketika menunaikan solat iaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kena-mengena dengan solat kita.

2-Kedua; AT-TAFAHHUM (التفهم); iaitu berusaha memahami iaitu melakukan usaha untuk memahami segala perkara yang dilakukan di dalam solat sama ada perbuatan atau yang dibaca/diucapkan.

3-; AT-TA’DZIEM (التعظيم); iaitu merasai kebesaran Allah iaitu dengan merasai diri terlalu kerdil di hadapan Allah.

4-Keempat; AL-HAIBAH (الهيبة); iaitu merasa gerun terhadap keagungan Allah dan siksaan-Nya.

5-; AR-RAJA’ (الرجاء); iaitu sentiasa menaruh harapan besar kepada Allah mudah-mudahan solat yang dikerjakan akan diterima dan diganjari oleh Allah.

Contoh manusia yang khusyuk ialah para sahabat r.a.

Abdullah bin ‘Umar r.a. salah seorang sahabat Nabi SAW yang masyhur pernah menceritakan tentang solat para sahabat r.a. dengan katanya; “Para sahabat Nabi s.a.w. apabila mereka mengerjakan solat, MEREKA MEMBERI PERHATIAN BERSUNGGUH-SUNGGUH KEPADA SOLAT MEREKA, MEREKA MENUNDUKKAN PENGLIHATAN MEREKA KE TEMPAT-TEMPAT SUJUD MEREKA DAN MEREKA MENYEDARI SESUNGGUHNYA ALLAH SWT SEDANG BERHADAP KEPADA MEREKA, maka tidaklah mereka berpaling ke kanan dan ke kiri”.

6-Keenam; AL-HAYA’ (الحياء); iaitu merasa malu terhadap Allah di atas segala kekurangan dan kecacatan yang terdapat di dalam solat.

Pernyataan para salaf tentang Kaum Musyrik Arab Beriman Dengan Tauhid Rububiyyah

Pernyataan para salaf tentang Kaum Musyrik Arab Beriman Dengan Tauhid Rububiyyah

Berikut ini perkataan para sahabat dan tabiín yang menjelaskan akan hal ini.

Ibnu Jarir At-Thobari (224-310H) -Imamnya para ahli tafsir- dalam tafsirnya (Jaami’ul Bayaan ‘an takwiil Aayi Al-Qur’aan tatkala menafsirkan surat Yusuf ayat 106), beliau berkata :

الْقَوْلُ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ} يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَمَا يُقِرُّ أَكْثَرُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ وَصَفَ عَزَّ وَجَلَّ صِفَتَهُمْ بِقَوْلِهِ: {وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ} بِاللَّهِ، أَنَّهُ خَالِقُهُ وَرَازِقُهُ وَخَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، إِلَّا وَهُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ فِي عِبَادَتِهِمُ الْأَوْثَانَ وَالْأَصْنَامَ، وَاتِّخَاذِهِمْ مِنْ دُونِهِ أَرْبَابًا، وَزَعْمِهِمْ أَنَّهُ لَهُ وَلَدًا، تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُونَ. وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ

“Perkataan tentang penafsiran firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)

Allah berkata : Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNya

 وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ 

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (QS Yusuf : 105)- mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini” ([6])

Setelah itu Imam Ibnu Jarir At-Thobari menyebutkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan para sahabat dan para tabi’in tentang tafsiran ayat ini. Beliau kemudian meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas –radhiallahu ‘anhumaa-, beliau berkata :

مِنْ إِيمَانِهِمْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ، وَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ، وَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptakan bumi? Siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” ([7])

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah, (maula Ibnu Abbas, 23-105H) –rahimahullah- beliau berkata  :

مِنْ إِيمَانِهِمْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَإِذَا سُئِلُوا: مَنْ خَلَقَهُمْ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَهُمْ يُشْرِكُونَ بِهِ بَعْدُ

Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit? Mereka menjawab : Allah. Jika mereka ditanya: Siapakah yang menciptakan kalian? Mereka menjawab : Allah. Padahal mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” ([8])

Ikrimah juga berkata :

هُوَ قَوْلُ اللَّهِ: {وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولَنَّ اللَّهُ}، فَإِذَا سُئِلُوا عَنِ اللَّهِ وَعَنْ صِفَتِهِ، وَصَفُوهُ بِغَيْرِ صِفَتِهِ، وَجَعَلُوا لَهُ وَلَدًا، وَأَشْرَكُوا بِهِ

“Itulah firman Allah “Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan berkata : Allah” (QS Luqmaan : 25 dan Az-Zumar : 38). Maka jika mereka ditanya tentang Allah dan sifatNya maka mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang bukan merupakan sifat-sifat Allah, dan mereka menjadikan bagi Allah anak, dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” ([9])

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dengan beberapa jalan dari Mujahid bin Jabir (21-104H) -rahimahullah-, diantaranya beliau berkata :

إِيمَانُهُمْ قَوْلُهُمُ: اللَّهُ خَالِقُنَا، وَيَرْزُقُنَا، وَيُمِيتُنَا، فَهَذَا إِيمَانٌ مَعَ شِرْكِ عِبَادَتِهِمْ غَيْرَهُ

“Keimanan mereka adalah perkataan mereka : Allah pencipta kami dan Yang memberi rizki kepada kami dan mematikan kami. Inilah keimanan (mereka) bersama keyirikan mereka dengan beribadah kepada selain Allah” ([10])

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotaadah bin Da’imah as-Sadusi (60-118H) rahimahullah, beliau berkata :

فِي إِيمَانِهِمْ هَذَا، إِنَّكَ لَسْتَ تَلْقَى أَحَدًا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْبَأَكَ أَنَّ اللَّهَ رَبُّهُ، وَهُوَ الَّذِي خَلَقَهُ، وَرَزَقَهُ، وَهُوَ مُشْرِكٌ فِي عِبَادَتِهِ

“Keimanan mereka ini, (yaitu) tidaklah engkau bertemu dengan seorangpun dari mereka kecuali ia mengabarkan kepadamu bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Dialah yang telah menciptakannya dan memberi rizki kepadanya. Padahal dia berbuat kesyirikan dalam ibadahnya” ([11])

Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah, beliau berkata :

لَيْسَ أَحَدٌ يَعْبُدُ مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ إِلَّا وَهُوَ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ، وَيَعْرِفُ أَنَّ اللَّهَ رَبَّهُ، وَأَنَّ اللَّهَ خَالِقُهُ وَرَازِقُهُ، وَهُوَ يُشْرِكُ بِهِ، أَلَا تَرَى كَيْفَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ: {أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ، أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ، فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ} قَدْ عَرَفَ أَنَّهُمْ يَعْبُدُونَ رَبَّ الْعَالَمِينَ مَعَ مَا يَعْبُدُونَ، قَالَ: فَلَيْسَ أَحَدٌ يُشْرِكُ بِهِ إِلَّا وَهُوَ مُؤْمِنٌ بِهِ، أَلَا تَرَى كَيْفَ كَانَتِ الْعَرَبُ تُلَبِّي، تَقُولُ: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكٌ هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ؟ الْمُشْرِكُونَ كَانُوا يَقُولُونَ هَذَا

“Tidak seorangpun yang menyembah selain Allah –bersama penyembahannya terhadap Allah- kecuali ia beriman kepada Allah dan mengetahui bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Allah adalah penciptanya dan pemberi rizkinya, dan dia berbuat kesyirikan kepada Allah. Tidakkah engkau lihat bagaimana peraktaan Nabi Ibrahim :

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ، أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ، فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Ibrahim berkata: “Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (QS As-Syu’aroo 75-77)

Nabi Ibrahim telah mengetahui bahwasanya mereka menyembah (juga) Allah bersama dengan penyembahan mereka kepada salain Allah. Tidak seorangpun yang berbuat syirik kepada Allah kecuali ia beriman kepadaNya. Tidakkah engkau lihat bagaimana orang-orang Arab bertalbiah?, mereka berkata : “Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa”. Kaum musyrikin Arab dahulu mengucapkan talbiah ini” ([12])

Inilah penafsiran sahabat dan para tabi’in, semuanya sepakat bahwasanya kaum musyrikin mengakui bahwa Allah pencipta mereka dan yang member rizki kepada mereka.

——

([6]) Tafsir At-Thobari 13/372

([7]) Tafsir At-Tobari 13/373

([8]) Tafsir At-Tobari 13/373

([9]) Tafsir At-Tobari 13/373-374

([10]) Tafsir At-Tobari 13/374

([11]) Tafsir At-Tobari 13/375

([12]) Tafsir At-Tobari 13/376

40 nasihat Sayyidina Ali Ibn Abi Talib

40 NASIHAT SAYYIDINA ALI BIN ABI TALIB

Berikut adalah 40 nasihat Sayyidina Ali Ibn Abi Talib k.w.j sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Nahjul Balagh oleh Sayyidina Ali Ibn Abi Talib dan kitab Al-Bayan Wattabyeen oleh Al-Imam Abu Othman Amru Ibn Bahr Al-Jaahidh r.a.:

1. Pendapat seorang tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.

2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.

3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah hanya sekeping daging.

4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.

5. Jagalah ibubapamu, nescaya anak-anakmu akan menjaga kamu.

6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah SWT.

7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil daripada seseorang bakhil.

8. Seorang arif adalah lebih baik daripada kearifan. Seorang jahat adalah lebih baik dari kejahatan.

9. Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijaga, sedangkan ilmu menjaga kamu.

10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan solat.

11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.

12. Mengajar adalah belajar.

13. Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah menjadikan keluargamu hina dalam kemiskinan.

14. Insan terbahagi kepada 3: Mereka yang mengenal Allah, mereka yang mencari kebenaran dan mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran. Golongan terakhir inilah yang paling rendah dan tidak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.

15. Insan tidak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu’ dan lemah.

16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.

17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat daripada mencari kesilapan orang lain.

18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.

19. Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun apabila ia mati.

20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia rahsia kebenaran itu.

21. Allah SWT merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batasnya.

22. Sifat seseorang itu tersembunyi di sebalik lidahnya.

23. Seseorang yang membantu adalah sayapnya seseorang yang meminta.

24. Insan tidur di atas kematian anaknya tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya.

25. Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.

26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat.

27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.

28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.

29. Orang yang dengki, marah kepada orang yang tidak berdosa.

30. Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan.

31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.

32. Seorang akan mendapat teladan diatas apa yang ia lihat.

33. Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.

34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelakaan yang memalukan.

35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.

36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.

37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura-pura.

38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.

39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.

 40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerana perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.

POLITIK MALAYSIA TERKINI

Tajuddin buat sidang media dakwa memang wujud SD atau akuan bersumpah Ahli Parlimen UMNO yang sokong Anwar PM selepas Muhyiddin dijatuhkan Zahid dan Najib…

Tajuddin bukan yang pertama menjadi mangsa politik Zahid, sebelum ini Shahidan Kasim telah di pecat dari jawatan Pengerusi UMNO Perlis…

Dan Tan Sri Annuar Musa pula telah di pecat dari menjawat jawatan Setiausaha BN…

Jika benarlah SD tersebut adalah palsu seperti yang pernah di dakwa oleh Zahid, hanya kerana SD tersebut bertarikh 1 Oktober 2020, sedangkan Anwar Ibrahim mengadap YDPA pada 16 Oktober 2020…

Ini telah pun membuktikan bahawa Anwar Ibrahim sebenarnya tidak mahu pun menjadi PM, tetapi berlagak sedemikian supaya rakan politik serta pengikutnya terus tertipu…

Anwar tahu jika dia berjaya jadi PM dalam suasana politik sekarang, pasti mudah di jatuhkan oleh musuhnya, seperti yang telah terjadi kepada Pak Lah, Najib dan Muhyiddin…

Katakanlah SD tersebut adalah palsu, bagaimana pula dengan rakaman perbualan telefon di atas, adakah suara Zahid dan Anwar boleh di buat sebegitu baik…

Buat pengundi Melayu yang menyokong UMNO atau PKR…

Cuba dengar pula dengan teliti rakaman perbualan telefon antara Zahid dan Anwar sejurus selepas PAU 2021 di atas…

Tak perlu membuang masa korang bergaduh sesama sendiri hanya untuk tegakkan perjuangan parti yang kononnya memperjuangkan bangsa dan menolak rasuah…

Padahal kedua-dua UMNO dan PKR sama sahaja dan ramai yang masih tak nampak keluarnya Anwar dari UMNO hanya untuk rosakkan gabungan pembangkang ketika itu iaitu PAS, DAP, Amanah dan PKR itu sendiri…

Anwar yang ditugaskan Mahathir berpura-pura mempunyai krisis ekonomi ketika tahun 1997, apabila Mahathir melihat pengaruh PAS semakin meningkat walaupun berbagai cara telah dilakukan…

Krisis ekonomi 1997 yang Mahathir “cipta” menggunakan George Soros, kononnya ekonomi negara diserang oleh penyangak mata wang…

Dan Anwar Ibrahim kononnya mahu IMF serta Bank Dunia membantu Malaysia, tetapi ditolak Mahathir dengan menggunakan isu liwat adalah sebuah drama politik terhebat dunia barangkali…

Mahathir menarik Anwar untuk menyertai UMNO setelah melihat pengaruhnya semakin kuat bersama Haji Hadi ketika dalam gerakan Islam ABIM…

“Permusuhan” antara Mahathir dan Anwar sebenarnya adalah satu lakonan untuk merelevankan politik UMNO di samping memecah belahkan gabungan pembangkang iaitu Barisan Alternatif, Pakatan Rakyat dan juga Pakatan Harapan…

Perpecahan BA, PR dan PH jika diteliti, semuanya berpunca dari kelicikan Anwar dalam mengatur serta mengawal Lim Guan Eng, Mat Sabu dan Haji Hadi…

Cuma Haji Hadi yang sedar awal dan nekad meninggalkan gabungan pembangkang Pakatan Rakyat selepas menyedari siapa Anwar sebenarnya…

Begitu juga dengan Azmin Ali yang telah lama bersama Anwar memperjuangkan PKR, akhirnya menyedari bahawa Anwar bukanlah mahu menjadi seorang Perdana Menteri…

Anwar tugasnya hanyalah sebagai “side kick” kepada Mahathir, Zahid dan Najib dalam memastikan UMNO sentiasa relevan walaupun terpalit skandal rasuah dan sebagainya…

Korang cuba pikir ye, kalau betul lah Anwar tu pemimpin yang berprinsip, kenapa setuju Mahathir jadi PM sebelum PRU 14 untuk PH, sedangkan Mahathir ialah musuh ketat politik Anwar sekian lama, malah Mahathir yang penjarakan Anwar walaupun Pak Lah dan Najib yang jadi PM…

Mahathir juga yang bebaskan Anwar setelah dia berjaya menjadi PM, malah Anwar bukannya tak boleh bersabar sikit untuk Mahathir lepaskan jawatan secara sukarela, dan bukannya bertindak agresif dengan menekan Mahathir dari belakang…

Mahathir dan Anwar sebenarnya mahu menjatuhkan PH, supaya UMNO boleh kembali berkuasa, kerana kepentingan peribadi Mahathir, Anwar, Najib serta Zahid semuanya bergantung kepada survival UMNO…

Penyokong PKR, DAP dan Amanah sudah pun mula nampak siapa Anwar, dan memulakan gerakan menolak Lim Guan Eng untuk digantikan oleh Gobind Singh serta Mat Sabu pula digantikan oleh Salahuddin Ayub…

Dalam parti PKR pula, Rafizi Ramli mungkin bakal menjadi pemimpin era baru PKR yang benar-benar ingin menolak rasuah dan bukannya berpura-pura maksum rasuah seperti Anwar Ibrahim…

Zahid yang mendapat sokongan Anwar, telah melakukan gerakan politik di Melaka semata-mata untuk menjalankan PRN, apabila Anwar berjaya memujuk dua ADUN UMNO serta seorang ADUN bebas untuk menyokong PH…

Begitu juga halnya di Johor, kononnya untuk menubuhkan kerajaan negeri yang lebih stabil, DUN dibubarkan tanpa sebab, dengan sokongan Sultan Johor yang sememangnya telah “dibeli” oleh Najib melalui saham syarikat Esplanade Danga 88 dalam projek mega Forest City…

Projek bernilai USD100 bilion yang didanai sepenuhnya syarikat dari negara China, bakal membawa masuk lebih dari 700 ribu warga asing yang akhirnya anak-anak mereka akan mendapat taraf penduduk tetap…

Atas sokongan Anwar, Zahid dan Najib berani menjatuhkan Muhyiddin sebagai PM yang tidak melakukan apa-apa kesalahan kepada rakyat, melainkan enggan masuk campur kes mahkamah yang melibatkan pemimpin UMNO…

Dengan sokongan Anwar juga, Zahid berani mengarahkan MT UMNO untuk tidak menyokong PN dan bertanding solo dalam PRN Melaka, Johor serta PRU 15 nanti…

UMNO di bawah Zahid juga dengan angkuh menolak PAS dalam Muafakat Nasional untuk PRU 15…

Zahid tahu jika BN gagal peroleh majoriti mudah dalam PRU 15, Anwar pasti akan membawa beberapa kerusi PKR untuk menafikan kemenangan PN, jika PN, BN serta PH masing-masing gagal memperoleh majoriti mudah 112 kerusi…

Anwar sebenarnya bila-bila masa boleh tinggalkan Pakatan Harapan dengan membawa PKR keluar untuk menyertai UMNO dalam Barisan Nasional, apatah lagi apabila populariti Lim Guan Eng dan Mat Sabu semakin merudum…

Kepada penyokong UMNO versi Zahid dan Najib serta PKR versi Anwar Ibrahim, rasanya tak perlulah korang nak bertekak siang dan malam…

Sedangkan Zahid Hamidi dan Anwar Ibrahim sebenarnya adalah sekapal dan sekepala, keduanya berpolitik semata-mata untuk menyara keluarga serta balaci masing-masing…

Istilah pejuang bangsa dan laungan reformasi hanyalah suatu retorik politik mereka sahaja…

Janganlah naif sangat percaya yang “penjara” Anwar di Sungai Buloh tu macam penjara banduan lain…

Janganlah pulak percaya “khemah besar” yang Mahathir nak buat, kononnya tanpa Anwar, Zahid, Najib dan Muhyiddin…

Besok kalau Mahathir jadi PM sekali lagi, dia bebaskan pulak Najib dan Zahid dari Sungai Buloh, kononnya 1MDB dan Yayasan Akal Budi ialah fitnah, walhal Mahathir juga yang dalang jatuhkan Najib dengan 1MDB…

Rakyat kena berani tolak terus mana-mana pemimpin yang pernah berada dalam UMNO era kronisme dan kleptokrasi, walaupun pemimpin tersebut sudah tidak berada dalam UMNO lagi…

Sekali terlibat rasuah, payah nak patah balik bhai…

p/s: kempen PH menentang harga barang naik dan menekan Ismail Sabri tidak mustahil juga di dalangi oleh kem Zahid dan Najib, dengan menggunakan pengaruh MCA serta DAP dalam bidang perusahaan dan perindustrian…

Na’udzubillahiminzalik. Wallahua’lam. Allahu Akbar.

#MalayanCyberForces #kobidkonspirasi #banjirkonspirasi

@MalayanCyberForces

Create your website with WordPress.com
Get started