HATI-HATI DENGAN CERITA DONGENG

HATI-HATI DENGAN CERITA DONGENG

#HATI_HATI!!

#DONGENG_yang_viral

Banyak tersebar video dibawah ini dan beberapa ikhwah bertanya tentang kisah ini karena dzahirnya menakjubkan, tetapi kisah ini ada beberapa catatan :

1. Dalam kisah ini tidak diceritakan siapa dai Maroko yang bermimpi tersebut, [Mubham dalam istilah ilmu hadits].

Seharusnya disebutkan namanya agar kita dapat mengoreksi dan mengetahui jujur tidaknya orang tersebut. 

Dalam jalur lain dikisahkan bahwa dai yang bermimpi tersebut berasal dari Kuwait, tetapi juga tidak disebutkan namanya.

Kisah tersebut dari jalur yang majhul [tidak diketahui rawi-rawinya].

2. Mimpi bukanlah dalil untuk menentukan suatu hukum, terlebih dalam memastikan seseorang dengan surga. 

Kecuali mimpinya dizaman Nabi shallallahu alaihi wasallam maka dapat disampaikan kepada Nabi dan menunggu taqrirnya (persetujuan beliau) seperti kisah mimpinya shahabat tentang lafadz adzan.

3. Kita tidak mengingkari jika ada yang bermimpi Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena beliau bersabda :

مَن رَآنِي فِي المَنامِ فَقَدْ رَآنِي؛ فَإنَّ الشَّيْطانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam tidur (bermimpi) sungguh ia melihatku, Sesungguhnya syaithan tidak bisa menyerupai bentukku”. (HR. Bukhari no. 6197 dan Muslim no. 2134).

dalam lafadz lain :

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَتَمَثَّلُ بِي

“Sesungguhnya syaithan tidak bisa menyerupai aku”. (HR. Muslim no. 2266).

Tapi tidak semua yang mengaku bermimpi Nabi shallallahu alaihi wasallam dapat kita percaya, kecuali orang yang jujur dan dapat menyebutkan bentuk fisik Nabi seperti dalam banyak riwayat shahih.

4. Kisah yang tersebar ini banyak diingkari oleh masyayikh, bahkan mereka menghukumi sebagai kisah khurafat dan bathil. 

5. Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangat berhati-hati dalam menerima kabar dan menyebarkannya, sampai benar jalur riwayatnya dan benar isinya tidak menyelisihi syariat.

6. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa tidak boleh memastikan seseorang dengan surga dan neraka kecuali berdasarkan dalil Al Quran dan Sunnah yang shahih.

7. Cara dakwah yang banyak dibumbui dengan kisah-kisah dongeng yang tidak diketahui kebenarannya adalah cara kaum harakiyyun zaman ini, dan ini telah dilakukan oleh pendahulu mereka dari para qushash (ahli dongeng). 

Para qushash telah dicela oleh ulama salaf, karena tidak berdasarkan riwayat yang shahih hanya dongeng-dongeng menarik saja. 

Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah mengatakan :

“Retorika dakwah dengan -banyak- membawa dongeng telah dikritik para ulama dari zaman dahulu. Para shahabat, tabi’in dan setelahnya memperingatkan -bahaya- tukang dongeng yang banyak menyandarkan ceramah dan wejangan mereka kepada kisah-kisah palsu dan dusta. 

Retorika dakwah para ulama adalah retorika yang benar, karena membawakan ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Nabi dan hukum yang bersumber dari para ulama terdahulu”. (Al Fatawa Al Jaliyyah anil Manahij Ad Da’wiyyah 2/148).

Syaikh Al ‘Allamah Shaleh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah ditanya : Apakah membawakan berbagai dongeng dalam dakwah termasuk manhaj salaf? ataukah mencukupkan kisah-kisah yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah saja?

Beliau hafidzahullah menjawab : “Na’am, hendaknya seseorang mencukupkan kisah-kisah yang terdapat dalam Al Quran dari kisah umat terdahulu dan kisah-kisah yang terdapat dalam Sunnah tentang umat terdahulu sebagai wejangan dan pelajaran, selain dari itu maka janganlah seseorang menyibukkan dirinya dengan berbagai kisah yang tidak terdapat dalam Al Quran dan Sunnah, juga jangan menyibukkan orang lain dengan kisah-kisah paslu”. (Al Ijaabat Al Muhimmah fil Masyakil Al Mulimmah, hal. 183).

8. Para ulama tidak melarang membawakan kisah dan dongeng dalam suatu kajian atau khutbah, dengan syarat kisah tersebut shahih sumbernya dan bukan menjadi inti utama materi dakwah sehingga melalaikan dalil-dalil syar’i yang dibutuhkan umat dalam ibadah mereka. 

Sebagaimana firman Allah :

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (Qs. Al A’raf : 176).

Juga firmanNya :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”. (Qs. Yusuf : 111).

                                  —-  *  —-

WaAllahu A’lam.

وفقني الله وإياكم للعلم النافع والعمل الصالح،.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: