SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PANJANG UMURNYA DAN BAIK AMALNYA.

SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH YANG PANJANG UMURNYA DAN BAIK AMALNYA.

Sejak zaman Rasulullah shalallahu alayhi wasallam sampai kini, ada orang-orang yang dianugerahi Allah subhanahu wataala umur panjang dari orang-orang pada umumnya.

Dan mereka mengisinya dengan berbagai kebaikan, sehingga hidup mereka penuh berkah dan tercatat dalam sejarah.

Insya Allah melalui takdir-Nya, dengan usaha mencapai ridha-Nya, kita akan sampai pada usia yang demikian.

Kita akan selalu berdoa, semoga di sisa umur kita dipenuhi keberkahan.

Aamiin…..

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

IBADAH TIDAK DIKERJAKAN SAMPAI ADA DALIL YANG MENSYARIATKAN

IBADAH TIDAK DIKERJAKAN SAMPAI ADA DALIL YANG MENSYARIATKAN

Prinsip dasar ibadah adalah tauqifiyyah yaitu ada ketetapannya dari Allah di dalam Al-Qur’an dan ada ketetapannya dari Rosulullah ﷺ di dalam As-Sunnah. Baik ibadah berupa ucapan maupun perbuatan.

Karena hanya Allah yang berhak membuat syariat dan tidak ada yang boleh turut campur dalam menetapkan ibadah selain Allah dan Rosul-Nya ﷺ.

Hal ini telah disepakati oleh para ulama.

Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Qosim An-Najdi berkata,

وأجمع أهل العلم أن الأصل في العبادات التشريع

“Para ulama berijma’ bahwa hukum asal ibadah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkan.”

(Hasyiah Ar-Roudhil Murbi’ 2/523)

Melalui kaidah yang agung ini menutup rapat-rapat pintu inovasi maupun modifikasi dalam urusan ibadah dikarenakan syariat Islam telah sempurna.

Dalil yang mendasari kaidah ini sangat banyak antara lain firman Allah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan agama bagi mereka yang tidak diridhoi Allah?”

(Asy-Syuro: 21)

Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafii berkata,

“Yaitu mereka tidak mau mengikuti aturan yang Allah syariatkan dari agama yang lurus.”

Allah ta’ala juga berfirman,

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم

“Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.”

(Ali-Imron: 31)

Kecintaan seorang hamba kepada Allah hanya bisa dibuktikan dengan mengikuti petunjuk Rosul-Nya ﷺ.

Jika tidak, maka itu hanyalah sekedar pengakuan yang jauh dari kebenaran.

Rosulullah ﷺ selalu mengingatkan pada setiap pembukaan khutbah beliau,

فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu (perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah kesesatan.“

(HR. Muslim 867)

Beliau ﷺ juga mengingatkan,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami maka tertolak.”

(HR. Muslim 1718)

Atas dasar itu diterimanya amalan ibadah apabila memenuhi dua syarat yaitu,

1). Beribadah hanya kepada Allah yaitu ikhlas niatnya.

2). Beribadah dengan cara yang disyariatkan oleh Rosul-Nya ﷺ yaitu mutaba’ah.

Kedua syarat ini disebutkan oleh para ulama antara lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

“Inti agama ini terkumpul pada dua perkara yaitu tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang disyariatkan; tidak dibenarkan mengada-ada dalam urusan ibadah.”

(Majmu’ Fatawa 10/234)

Maka modal niat baik saja dalam beribadah belum cukup sehingga caranya mengikuti petunjuk Rosulullah ﷺ sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Betapa banyak orang yang baik niatnya dan sungguh-sungguh menginginkan kebaikan tetapi dia tidak mendapatkannya disebabkan caranya yang tidak sesuai petunjuk syariat.

Manhajulhaq

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

KETIKA SYURGA DAN NERAKA MENGADU KEPADA ALLAH SWT

💥KETIKA SYURGA DAN NERAKA MENGADU KEPADA ALLAH🔥

💙Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

اخْتَصَمَتِ الجَنَّةُ والنَّارُ إلى رَبّهِما، فَقالتِ الجَنَّةُ: يا رَبِّ، ما لها لا يَدْخُلُها إلَّا ضُعَفاءُ النَّاسِ وسَقَطُهُمْ، وقالتِ النَّارُ: – يَعْنِي – أُوثِرْتُ بالمُتَكَبِّرِينَ، فقالَ اللَّهُ تَعالَى لِلْجَنَّةِ: أنْتِ رَحْمَتِي، وقالَ لِلنَّارِ: أنْتِ عَذابِي، أُصِيبُ بكِ مَن أشاءُ، ولِكُلِّ واحِدَةٍ مِنْكُما مِلْؤُها، قالَ: فأمَّا الجَنَّةُ، فإنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِن خَلْقِهِ أحَدًا، وإنَّه يُنْشِئُ لِلنَّارِ مَن يَشاءُ، فيُلْقَوْنَ فيها

💦”Surga dan neraka saling berselisih kepada Allah keduanya, surga berkata, ‘Wahai Rabb, mengapa aku tak dimasuki selain orang-orang lemah dan rakyat jelata? ‘ Sedang neraka berkata, ‘Mengapa aku dikhususkan untuk orang-orang yang sombong? ‘ Allah ta’ala menjawab surga: “Engkau adalah rahmat-Ku”, dan Allah berfirman kepada neraka, ‘Engkau adalah Siksa-Ku, yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan masing-masing diantara kalian berdua harus dipenuhi.

💧Nabi bersabda: “Adapun surga sesungguhnya Allah tidak menzhalimi satupun dari makhluk-Nya, dan Allah akan memenuhi neraka dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas mereka dilempar ke dalamnya ‘(neraka berkata, ‘Masihkah ada tambahan) ‘ (QS. Qaaf ayat: 30) -beliau mengulanginya tiga kali-, kemudian Allah meletakkan telapak kakinya sehingga neraka menjadi penuh, sebagian satu dengan sebagian yang lain saling berhimpitan, neraka pun berkata, ‘cukup, cukup, sukup.”

🔮Pada saatnya nanti kita akan menempati dua tempat ini, entah surga atau neraka. Dan hal ini juga ditentukan bagaimana keadaan kita selama menjalani hidup di dunia, apakah kita termasuk orang² yg bertaqwa dan mengerjakan amal sholeh atau kita justru termasuk orang² yg durhaka dan senantiasa melakukan dosa/maksiat.

💎Maka hendaknya kita merenungkan dimana posisi kita saat ini ?

❄️Jika kita termasuk orang² yg bertaqwa dan mengerjakan amal sholeh maka tingkatkan dan tetap berusaha istiqomah, Dan adapun jika termasuk orang² yg durhaka dan senantiasa melakukan dosa/maksiat maka segera bertaubat sebelum semua terlambat.

💧Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku memasuki surga. Di dalamnya terdapat istana emas. Aku bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang pemuda Quraisy’. Aku sangka itu milikku. Kutanyakan lagi, ‘Siapa laki-laki Quraisy itu?’ Mereka jawab, ‘Umar bin al-Khattab’.”

🌷Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Hai Abu Hafsh, kalau aku tak mengenal rasa kecemburuanmu, pasti aku memasukinya.” Umar menanggapi, “Siapa aku yang layak cemburu padamu? Aku tidak akan cemburu padamu.” (HR. Ibnu Hibban 54).

🍂Allah Akbar. Meski Umar telah dijamin masuk surga, dan mendapat kabar langsung dari wahyu, tentang istana dan rumahnya di surga, tetapi itu tak membuatnya santai-santai dan berhenti melakukan amal sholeh, Namun justru membuatnya semakin semangat, dan ingin terus meningkatkan amal shalih.

🌹Lalu bagaimana dengan kita yg belum memiliki jaminan masuk ke dalam surga, tapi sering malas bahkan enggan mengerjakan amal shalih, shalat sering diabaikan, membaca Al Qur’an sering ditinggkan, Sedekah jarang², puasa pun enggan, ditambah dengan dosa² yg juga terus semakin bertambah, Lalu tidakkah kita kawatir dengan azab neraka ?

🔥Astagfirullah wa atubu illahi, mari kita bertaubat dan jangan sia-siakan kesempatan hidup ini untuk melakukan amal sholeh, sebelum semua terlambat dan kelak menjadi penyesalan.

USIA LANJUT JUGA MERUPAKAN SEBUAH KEISTIMEWAAN

USIA LANJUT JUGA MERUPAKAN SEBUAH KEISTIMEWAAN

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah shalallahu alayhi wasallam menyampaikan firman Allah subhanahu wataala,

“Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, dan kebutuhan hamba-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah beruban karena tua dalam keadaan muslim”.

Al-Quran juga berulang kali memperingatkan akan datangnya ketuaan dan kepikunan, misalnya dalam surah An-Nahl ayat 70,

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa”.

(An-Nahl ayat 70)

Kepikunan yang mengiringi ketuaan itulah yang ditakuti oleh Rasulullah shalallahu alayhi wasallam, sehingga beliau selalu berdoa,

“Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang paling hina”.

Suatu kali Ma’an bin Zaidah mendatangi Al-Makmun.

Makmun bertanya, “Bagaimana keadaanmu di usia tua renta ini?”.

Ia menjawab,

“Aku bisa jatuh hanya karena tersandung kotoran unta, dan cukup diikat hanya dengan sehelai rambut”.

“Bagaimana keadaanmu dalam makanan, minuman dan tidurmu?”

Ia menjawab,

“Bila lapar, aku marah dan bila makan, aku merasa jengkel, bila berada di antara orang-orang, aku mengantuk dan bila di atas kasurku, aku terjaga”.

“Bagaimana keadaanmu dengan para wanita?”

Ia menjawab,

“Kalau wanita yang buruk rupa, aku tidak menginginkan mereka sedangkan para wanita yang cantik tidak menginginkanku”.

Makmun berkata,

“Kalau  begitu tidak pantas orang sepertimu dianggap muda”.

“Lipat gandakanlah imbalan untuknya dan haruskanlah ia menetap di rumahnya, biarkan masyarakat yang mengunjunginya, dan jangan biarkan ia mengunjungi siapapun”.

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

LARANGAN ISTAGHATSAH KEPADA SELAIN ALLAH

LARANGAN ISTAGHATSAH KEPADA SELAIN ALLAH

Kesyirikan merajalela di suatu negeri disebabkan kebodohan yang merata di masyarakat.

Mereka datang ke kuburan wali atau orang shalih untuk berdoa dan beristighatsah kepada mereka.

Mereka menyeru,

“Wahai wali fulan, wahai  anggitsnii…tolonglah aku, … selamatkan aku!”.

Na’udzubillah,  ini merupakan kesyirikan yang nyata, yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Padahal, tidak ada seorangpun yang bisa mengangkat bala’ atau bahaya kecuali Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107) }

“Dan janganlah kamu berdo’a kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim, Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia”.

(Q.S. Yunus: 107).

Kenapa mereka tidak berdoa dan beristighatsah kepada Allah Ta’ala

Ada sebuah cerita, di Arab Saudi ada seseorang yang sengsara, memiliki hutang yang banyak yang tidak mungkin bisa dibayar, dia akhirnya berdoa, beristighatsah kepada Allah Ta’ala.

Ketika itu bulan Ramadhan, tanpa disangka- sangka, tiba tiba ada seseorang yang menelpon dia, dia ingin membayar hutangnya, setelah janjian di suatu tempat di Mekkah untuk bertemu, laki laki yang tak dikenal itu segera memberikan uang kepadanya sejumlah hutangnya, dia sangat gembira karena bisa melunasi hutang yang sangat banyak. (Diceritakan oleh Syeikh Abdurrahman dari Mekkah)

Subhànallah

Siapa yang melunasi hutang itu, “Allah Ta’ala,”

Allah Ta’ala yang telah mengirim seorang laki-laki untuk memberikan uang sebagai pembayaran hutang, jadi, kenapa masih ada orang yang meminta harta di kuburan wali.

Kenapa masih ada orang yang meminta anak di kuburan wali, bukankah wali itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak madharat

Jangan, jangan lakukan,

karena itu termasuk syirik besar yang membuat pelakunya kufur.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

DUNIA ADALAH TEMPAT PUASANYA ORANG YANG BERTAKWA

DUNIA ADALAH TEMPAT PUASANYA ORANG YANG BERTAKWA🪴

Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah berkata,

قال بعض السّلف:

“صم الدُّنْيا، واجعل فطرك المَوْت”

الدُّنيا كُلّها شهر صيام المُتقين، يصومون فيها

عن الشهوات المُحرمات،

فإذا جاءهُمُ المَوت، فقد انقضى شهر صيامهم،

واستهلوا عيد فطرهم.

Sebagian salaf berkata,

“Berpuasalah di dunia dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbuka..”

🌴🌴🌴

Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertakwa. Mereka berpuasa di dunia dari syahwat yang diharamkan..

🌴🌴🌴

Jika kematian telah datang, selesailah puasa mereka, lalu tiba waktunya mereka berhari raya (dengan mendapatkan kenikmatan di akhirat)..”

[ Latho’iful Ma’arif – 183 ]

HADAPI SETIAP HAL YANG ALLAH PERSEMBAHKAN DALAM HIDUPMU

HADAPI SETIAP HAL YANG ALLAH PERSEMBAHKAN DALAM HIDUPMU

Dengan penuh rasa yakin bahwa kamu bisa taat kepada Allah,

Bahwa kamu mampu dengan terus mengharap selalu rahmat dan hidayah-Nya,

Karena pada akhirnya kekuatan itu akan muncul dalam dirimu.

Jangan pernah merasa ditinggalkan atau pun mengeluh, selesaikan saja apa yang telah Allah berikan kepadamu dengan terus bermodalkan yakin, pada akhirnya kamu akan tahu rencana indah-Nya yang luar biasa.

Ketahuilah, Allah tidak akan pernah menjerumuskanmu pada hal yang nantinya akan membuatmu merugi, karena pasti semua yang Allah putuskan untuk kebaikanmu.

Semua yang Allah rangkaikan untukmu, walau itu berupa takdir yang sulit maka pasti bersamanya ada kebaikan yang luar biasa.

Yang Allah berikan kepadamu sebagai takdir akan membuatmu berada pada keberuntungan hidup, walau sekarang kamu harus berjuang terlebih dahulu menghadapinya.

Intinya, yakinlah kepada Allah dengan tanpa ragu sedikitpun, karena selagi hatimu terus saja merasa yakin kepada kekuatan Allah, yakin kepada rencana-Nya, maka disitulah kamu akan selalu tangguh menghadapi yang tadinya rumit menurutmu.

Dan ketika kamu bertanya, kenapa Allah harus memberiku jalan yang begitu rumit? maka disitulah kamu harus mampu berhusnuddzan kepada-Nya, disitulah kamu harus mampu meyakinkan hatimu bahwa inilah cara Allah memberimu kebaikan yang baru.

Allah tahu dengan baik bahwa kamulah yang lebih kuat daripada yang lainnya, sebab itulah mengapa Allah memberimu jalan hidup yang mungkin tidak biasa.

Allah melihat kemampuanmu dengan sangat sempurna, bahkan Allah tahu seperti apa yang mampu kamu hadapi dengan baik, sebab itu mengapa kamu harus percaya saja kepada Allah atas apa yang tengah Allah persembahkan kepadamu, meski itu semua tidaklah mudah.

Jangan pernah kamu meragu, jangan pernah kamu takut, dan jangan pernah kamu merasa berat, karena selagi kamu mengandalkan Allah untuk melalui semuanya maka pasti akan baik-baik saja hingga akhir.

Percayalah kepada Allah, percayalah pada kebesaran-Nya, dan percayalah kepada pertolongan-Nya, karena Allah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

RENUNGAN-NASIHAT

   🔮RENUNGAN-NASIHAT🔮

🔮Sering kita menyaksikan manusia begitu semangat dan kuat dalam mengejar perkara dunia, namun tiba-tiba menjadi lemah dan malas jika mengejar perkara akhirat.

💎Lihat mereka begitu enggan ketika diperintahkan puasa dan mereka jg bersantai-santai serta malas ketika menghadiri masjid-masjid untuk menunaikan sholat lima waktu,

💦Namun mereka begitu semangat duduk-duduk di warung kopi meski ketika bulan puasa serta begitu kuat berjalan mengelilingi toko-toko hingga berjam-jam lamanya.

💧Bahkan mereka jg sanggup memecah batu-batu yg keras di bawah panas terik matahari atau dinginnya cuaca, hanya demi mencari dunia.

❄️Dan sebeliknya, kita tidak pernah menyaksikan mereka bersabar duduk berjam-jam di masjid untuk shalat atau untuk membaca Alquran.

💙Sungguh Inilah keadaan kebanyakan dari kita pada hari ini, yaitu begitu semangat menyambut kenikmatan dunia dan berpaling dari kenikmatan Akhirat.

🍂Kita begitu banyak kekuatan dan kemampuan selalu kita usahakan jika untuk urusan kesenangan dunia, Namun entah mengapa tiba-tiba menjadi lemah dan malas ketika untuk urusan akhirat.

🥀Itu semua karena sesungguhnya yang lemah bukan fisik kita, tapi hati kita…

🍃Berkata Syumaith (Rahimahulloh) :

إن اللّٰه ﷻ جعل قوّة المؤمن في قلبه، ولم يجعلها في أعضائه؛ ألا ترَون أنّ الشيخ يكون ضعيفًا يصوم الهواجر، ويقوم الليل، والشابّ يعجز عن ذلك؟!

🌿Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, tidak dianggota tubuhnya yg lain,

🪴Tidakkah engkau menyaksikan seorang syaikh tua yg lemah fisik tetapi kuat puasa disiang hari yg terik dan shalat malam sementara para pemuda tidak mampu melakukan itu semua. [Al-Hilyah karya Abi Nu’aim (10/124].

🌴Sebab itu saudara ku, sering-seringlah engkau memohon kepada Allah ﷻ untuk keteguhan Hati mu dalam ketaatan.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

💙Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

STATUS HUKUM DAGING QURBAN

STATUS HUKUM DAGING QURBAN

Hukum berkaitan daging qurban terbahagi kepada beberapa status seperti yang berikut:

(a) Haram memakan daging bagi orang yang melakukan qurban nazar (wajib) dan juga ahli keluarga di bawah tanggungannya walaupun sedikit.  Jika telah dimakan daging itu maka wajib diganti kadar yang dimakan itu tetapi tidak wajib dia menyembelih semula yang lain.

(b) Hukum pemberian daging qurban sunat kepada orang bukan Islam adalah haram menurut ulama mazhab Shafie kerana qurban adalah ketaatan unuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun, Abu Hanifah Rahimahullah memberikan rukhsah (keringanan) bagi kafir zimmi yang fakir untuk diberikan kepada mereka daging korban. Kesimpulannya, untuk isu ini perlu dilihat kepada maslahah dan juga siyasah syar’iyyah.

(c) Kulit, lemak, daging, susu, kaki, kepala dan bulu-bulunya haram dijual oleh orang melakukan ibadah qurban sama ada qurban wajib atau qurban sunat.

(d) Bahagian atau anggota sembelihan qurban tidak harus dikhususkan kepada tukang sembelih sebagai upah melakukan sembelihan, kecuali bahagian atau anggota tersebut diberikan oleh individu yang melakukan qurban.

(e) Sunat bagi individu yang melakukan qurban sunat(tatawu’) memakan daging qurbannya.

PEMBAHAGIAN DAGING QURBAN

Pembahagian daging qurban terbahagi kepada dua jenis, iaitu sembelihan qurban wajib (nazar) dan sembelihan sunat seperti yang berikut:

(a) Pembahagian daging qurban wajib atau nazar:

Wajib semua dagingnya termasuk kulit dan tanduk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin, dan haram bagi pihak orang yang berqurban memakan daging qurbannya atau memanfaatkan sembelihan itu untuk kepentingan dirinya.

(b) Pembahagian daging qurban sunat:

Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i:

(i) 1/3 untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya;

(ii) 1/3 untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin;

(iii) 1/3 untuk dihadiahkan kepada sahabat handai termasuk orang kaya atau jiran-jiran.

Yang paling afdal menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i ialah bersedekah semuanya kecuali pada beberapa ketul atau suapan yang agak berpatutan dimakan oleh orang yang berqurban untuk mengambil berkat, seperti sebahagian hati kerana ianya sunat dimakan. Amalan ini pernah dilakukan oleh Nabi SAW ketika Baginda melakukan qurban.

NASI DAN GULA

NASI DAN GULA 🧊

Waktu saya masih di kampung, saya jarang mendengar orang di kampung saya kena penyakit gula (diabetes). Namun setelah saya merantau dan tinggal di daerah isteri saya, saya banyak mendapati orang yang terkena penyakit gula.

Saya melihat, faktor utamanya adalah di masalah makanan. Karena makanan berpengaruh besar terhadap kesehatan tubuh. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas” [HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), Baihaqi, As-Silsilah Ash-Shahihah (2265)]

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, 

انه أعظم للبركة يعني الطعام الذي ذهب فوره ” .

“Sesungguhnya keberkahan yang paling besar yakni memakan makanan yang sudah hilang panasnya. (HR Al Hakim no 7124. Berkata Al Hakim : Hadits Shahih).

Maksudnya sudah hilang kepulan uap panas makanan tanpa ditiup karena ada larangan meniup hidangan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas.” [HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888]

Demikian juga hadits riwayat Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ « أَهْرِقْهَا ». قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ « فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meniup-niup saat minum. Seseorang berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?” Beliau bersabda, “Tumpahkan saja.” Ia berkata, “Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan nafas.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat mimum) itu dari mulutmu.” [HR. Tirmidzi no. 1887 dan Ahmad 3: 26]

Contoh misalkan, di kampung saya, sebelum nasi di makan, itu dikipas terlebih dahulu sampai hilang asapnya (ngakeul sangu kata orang sunda mah), baru dimakan. Sedangkan di tempat isteri saya, justru kebanyakan makan nasi dalam keadaan panas-panas. Tidak enak dan tidak bergairah kalau makan nasi dalam keadaan nasi sudah dingin. Padahal makan dalam keadaan makanan sudah dingin, itu sunnah Nabi dan mengandung keberkahan. 

Contoh yang lain. Di kampung saya, jarang sekali minum teh manis. Kalau minum teh, itu tanpa gula. Saya hari-hari minum teh pekat. Tetapi di tempat isteri saya, hampir tiap pagi minum teh manis. 

Kedua sebab makanan ini, nasi yang masih panas dan gula, menurut para ahli kesehatan, termasuk sebab terbesar dari penyakit gula. 

Terlebih nasi mengandung kadar gula dan konsumsi berlebihan akan diolah oleh tubuh menjadi gula.

Oleh karena itu, janganlah makan dan minum yang berlebihan, terus menerus mengkonsumsi makanan yang sejenis, seperti minum manis setiap hari, makan nasi yang masih panas terus menerus, karena makan dan minum yang berlebihan, terlarang dalam agama kita. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا

Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. (Surat Al-A’raf : 31). 

Sebelum semuanya terlambat, hindari makan dan minum yang berlebihan. Dan tentunya, makanan dan minuman mesti halal, karena sesuatu yang haram, pasti ada efek tidak baiknya. 

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. (Surat Al-Baqarah : 168).

Ini nasehat untuk diri saya sendiri dan siapa saja yang membaca tulisan ini. 

Create your website with WordPress.com
Get started