Semboyan Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Hadits dari Imam Syafie

Semboyan Kembali Kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dari Imam Syafii ❤🍃

https://t.me/manhajulhaq

Ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits pada hakikatnya menyeru umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam yang merujuk kepada dalil-dalil syar’i Al-Qur’an, hadits shohih, ijma’, atsar, qiyas.

Hal itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Imam Asy-Syafii di dalam kitab beliau “Ar-Risalah”,

“Allah tidak mengizinkan kepada seorangpun untuk berpendapat kecuali berdasarkan ilmu yang telah dia ketahui sebelumnya dan sumber ilmu itu adalah Al-Kitab, As-Sunnah, ijma’, atsar, dan mengqiyaskannya kepada dalil-dalil tersebut.” 

(Ar-Risalah hlm. 508)

Al-Kitab yaitu kitab Allah Al-Qur’an. As-Sunnah yaitu hadits-hadits Nabi ﷺ yang shohih. Ijma’ artinya kesepakatan para ulama khususnya kurun shohabat. 

Atsar adalah apa yang ternukil dari shohabat selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an was Sunnah. Jika para shohabat berselisih maka yang diikuti pendapat yang lebih mendekati dalil.

Qiyas yaitu menyamakan masalah pada furu’ (cabang) dengan masalah ushl (utama) dalam suatu hukum dikarenakan adanya illat (sebab) yang bertalian antara keduanya dan memenuhi syarat.

Maka semboyan kembali kepada Al-Qur’an was Sunnah bukan berarti jumud letterlijk tidak menengok kepada dalil-dalil syar’i yang lain.

Bukan pula sebaliknya beragama hanya mengandalkan pendapat ulama semata dengan alasan atau anggapan “ulama lebih mengerti”. 

Jika dijumpai pendapat sebagian ulama yang terbukti bersinggungan dengan Al-Qur’an was Sunnah atau ijma’, dan ini merujuk kepada pendapat ulama juga, maka pendapat tersebut tidak boleh diikuti tanpa menjatuhkan kehormatannya.

Boleh jadi pendapat ulama itu dibangun di atas hadits dho’if yang disangkanya shohih, atau karena belum mengetahui adanya riwayat yang shohih, atau karena ada faktor lain yang dimaklumi seperti disebutkan oleh para ulama.

Adapun bagi orang yang belum memiliki perangkat yang cukup untuk mengkaji dalil-dalil syar’i maka kewajiban dirinya bertanya kepada para ahli yaitu guru yang akan membimbing dirinya kepada ilmu dan pemahaman yang benar.

Allah telah mengingatkan di dalam firman-Nya,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون 

“Maka bertanyalah kepada ahlinya apabila kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya’: 7)

Tujuan bertanya tentunya untuk belajar sehingga dia tahu ilmunya dan mengamalkannya. Bukan untuk mendebat, tidak mengindahkan adab, atau menuntut detail jawaban lengkap dengan dalilnya.

Menyebutkan dalil memang wajib apabila kondisinya menuntut seperti itu. Namun tidak wajib setiap kali ditanya harus menjawab dengan Allah berfirman dan Rosulullah ﷺ bersabda. Terkhusus dalam permasalahan fiqh yang luas yang masih kuat perselisihannya di antara para ulama.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: