Larangan Mencela, Melaknat Dan Berkata Kasar Serta Kotor

Larangan Mencela, Melaknat Dan Berkata Kasar Serta Kotor

~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita masuk pada hadīts yang ke-22 dari hadīts dari Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu secara marfu’, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَعَّانِ، وَلَا اللَعَّانِ، وَلَا الفَاحِشِ، وَلَا البَذِءِ

“Bukanlah seorang mu’min, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga berkata-kata kotor.”

‌(Hadīts ini kata Al Hafizh Ibnu Hajar dihasankan oleh Imām Tirmidzi dan di shahīhkan oleh Al Hakim dan Imām Ad Daruquthi merajīhkan hadīts ini, hadīts yang mauquf)

Hadīts ini diperselisihkan oleh para ulamā. Sebagian ulamā menyatakan hadīts ini marfu’ (yaitu) diriwayatkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan sebagian ulamā mengatakan riwayatnya adalah mauquf (artinya) diriwayatkan dari shahābat (yaitu) merupakan perkataan Ibnu Mas’ūd dan bukan perkataan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇒ Hadīts ini, apakah dia mauquf atau marfu’, namun maknanya benar.

Bahwasanya seorang mu’min tidak boleh membiasakan dirinya untuk طَعَّان (mencela orang lain) tetapi hendaknya dia membiasakan dirinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik.

Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.”

(QS Al Baqarah: 83)

Adapun seseorang yang membiasakan dirinya untuk:

√ Melaknat orang lain,

√ Mencela,

√ Mencari-cari aib orang lain,

√ Menjatuhkan orang lain,

√ Berkata-kata kotor,

√ Berkata-kata kasar.

⇒ Maka ini menunjukan dia bukan mu’min yang sejati, dia tidak sempurna imānnya.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Laisalmu’min” (bukanlah mu’min yang sempurna), ini menunjukan imānnya rendah.

Karena imānnya tidak bisa mencegah dia untuk berkata-kata kotor (berkata-kata kasar), berarti imānnya dipermasalahkan.

Oleh karenanya, shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seorang berusaha membiasakan dirinya untuk berkata-kata yang baik karena lisan ini berbahaya.

Bukankah dalam hadīts yang mashyur dari Mu’ādz bin Jabbal radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Mu’ādz bin Jabbal:

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Tahanlah lisānmu.”

Sehingga Mu’ādz bin Jabbal bertanya:

يَا رسولَ الله وإنَّا لَمُؤاخَذُونَ بما نَتَكَلَّمُ بِهِ؟

“Yā Rasūlullāh, apakah kita akan disiksa oleh Allāh, karena ucapan kita?”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

وَهَلْ يَكُبُّ الناسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Wahai Mu’ādz, bukankah yang menjerumuskan manusia dalam neraka jahannam, menjerumuskan mereka diatas wajah-wajah mereka kecuali akibat dari perbuatan lisān-lisān mereka?”

(Hadīts riwayat Tirmidzi)

⇒ Lisān ini berbahaya maka jangan dibiasakan lisānnya berkata-kata kotor.

Seorang yang bijak pernah berkata:

عود لسانك قول الخير تحظبه، ان السنا لما عودت لا يعتد

“Biasakanlah lisānmu untuk mengucapkan kata-kata yang baik, maka engkau akan meraih hal tersebut (artinya engkau akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik), karena lisān itu tergantung apa yang engkau biasakan.”

Kalau seorang terbiasa (membiasakan) berkata-kata baik, ini bisa dilatih, maka dia akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik. kalau seseorang biasa menahan dirinya untuk tidak mencela orang lain maka lisānnya akan terbiasa.

Tapi kalau dia biarkan lisānnya, terbiasa untuk mencela, terbiasa merendahkan, terbiasa berkata kotor maka lisānnya akan terbawa kepada hal tersebut.

Sebagian penyair pernah berkata:

احفَظْ لِسانَكَ أَيُّهَا الإِنْسانُ لا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبانُ

“Jagalah lisānmu wahai manusia jangan sampai engkau tersengat oleh lisānmu karena lisānmu adalah ular.”

كَمْ في المقابِرِ مِنْ قَتيلِ لِسانِهِ كانَتْ تَهابُ لِقَاءَهُ الشُّجعانُ

“Betapa banyak orang dikuburan menjadi korban dari lisānnya padahal sewaktu dia masih hidup dahulu dia ditakuti oleh orang-orang pemberani.”

⇒ Artinya, ada orang hebat di dunia, ditakuti oleh orang, ternyata waktu dikuburan dia menjadi korban lisānnya.

Kenapa?

Karena disiksa oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena dia menjadi korban lisānnya sendiri, (dahulu didunia dia suka mencela, suka memaki, suka melaknat).

Oleh karenanya seorang harus berusaha untuk menjaga lisānnya jangan sampai dia menjadi seorang yang suka melaknat dan mencela dan merendahkan orang lain, berkata-kata kotor.

Ini semua dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: