ALLAH TUTUPI  AIB

ALLAH TUTUPI  AIB 🍃🌻

Setiap kita memiliki aib, seandainya Allah tidak menutupi (aib-aib kita, sungguh akan malu diri-diri kita ini).

Kita ini dianggap baik oleh orang lain, bukan karena kebaikan-kebaikan kita, tetapi karena Allah menutupi aib-aib kita.

Ketika seseorang memujinya, dia senang dan bergembira. Hatinya berbunga-bunga. Jiwanya melambung ke angkasa. Bahkan kalau dia memberi sesuatu, akan ditambah pemberiannya, kepada orang yang memujinya, karena nuraninya senang dengan pujian.

Berbeda dengan seseorang yang merasa dirinya tidak layak dipuji dan tidak layak disanjung, karena dirinya merasa banyak kekurangan dan aibnya dan dirinya penuh dengan kesalahan dan dosa.

Seseorang memuji Imam Ahmad rahimahullah, lantas Imam Ahmad rahimahullah berkata :

ﺃﺷﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ،ﻭﺍﻟﻠﻪ ، ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ . ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Aku persaksikan kepada Allah. Sungguh aku murka atas ucapanmu ini. Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahan yang ada pada diriku, pastilah engkau akan menaburi kepalaku dengan pasir.”

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Andai saja aku tidak terkenal seperti ini. Andai aku berada di satu lembah di lembah-lembah kota Mekkah, tak ada seorangpun mengenaliku.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181)

Seorang salaf, murid sekaligus sahabat Imam Ahmad rahimahullah, dia bercerita, Imam Ahmad rahimahullah tidak pernah membanggakan diri, apalagi memuji kelebihan dan kebaikan dirinya.

Berkata Yahya bin Ma’in rahimahullah :

ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺜﻞ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ، ﺻﺤﺒﻨﺎﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻣﺎ ﺍﻓﺘﺨﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :

ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ

Aku tidak pernah melihat seorang seperti Ahmad bin Hambal. Kami bersahabat dengannya 50 tahun, namun tak pernah sekalipun ia membanggakan suatu kebaikan atau kemaslahatan di hadapan kami. Bahkan beliau rahimahullah berkata:  “Kami adalah kaum miskin.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

Suatu ketika, Imam Ahmad rahimahullah pergi ke pasar, orang-orang pun tidak mengenalnya, dia pikul sendiri kayu bakarnya, ketika ada seseorang mengenalnya, lantas  semua orang  di pasar tersebut berdiri untuk membantu memikulkan kayu bakar yang dipikul Imam Ahmad rahimahullah, namun Imam Ahmad rahimahullah menolaknya.

Berkata Para hafidz rahimahumullah :

ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓﺎﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ ، ﻓﻬﺯ ﻳﺪﻩ ،ﻭﺍﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ ،ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ : نحن ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ

Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke sebuah pasar di kota Baghdad. Di sana beliau membeli seikat kayu bakar, kemudian memikulnya di atas bahu beliau. Tatkala orang-orang mengetahui beliau, para pedagang pun meninggalkan barang dagangan mereka, para pemilik warung meninggalkan warung-warung mereka dan orang-orang lewat turut berhenti di jalan-jalan mereka. Mereka pun mengucapkan salam kepada beliau dan berkata:  “Kami akan membawakan kayu bakar ini untukmu.”

Beliau pun menolak dengan lambaian tangan, wajahnya memerah dan matanya tiba-tiba berlinang air mata. Beliau pun berkata:

“Kami adalah kaum faqir. Andai saja Allah tidak menutupi, niscaya Allah akan menyingkap (aib) kami.”

(Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

‘Abdullah Al Muzani mengatakan,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.

(Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310)

Bagaimana dengan diri-diri kita yang penuh dengan aib. Penuh dengan noda-noda dosa dan berlumuran kesalahan?

Sebagian kita masih suka membanggakan dan menyombongkan diri, masih suka disanjung dan dipuji, masih suka dan merasa terhormat jika barangnya dipikulkan orang lain. Malu rasanya diri ini, yang telah mengklaim mengikuti salaf, namun masih jauh dari amalan salaf.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: