BERKATALAH BENAR WALAUPUN PAHIT

𝘽𝙀𝙍𝙆𝘼𝙏𝘼𝙇𝘼𝙃 𝘽𝙀𝙉𝘼𝙍 𝙒𝘼𝙇𝘼𝙐𝙋𝙐𝙉 𝙄𝘼 𝙋𝘼𝙃𝙄𝙏

𝗛𝗮𝗱𝗶𝘁𝗵 : 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗧𝗲𝗿𝗵𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗿𝗮𝗻𝗮 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮

اَلَا لَا يمْنَعَنَّ اَحَدُكُمْ رَهْبَةَ النَّاسِ اَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ اِذَا رَاَهُ اَوْشَهِدَهُ فَاِنَّهُ لَايُقَرِّبُ مِنْ اَجَلٍ وَلَايُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ اَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ اَوْ يَذْكُرَ بِعَظِيْمٍ.

“Janganlah seseorang di antara kamu terhalang untuk mengatakan Kebenaran yang ia telah lihat dan saksikan kerana takut kepada manusia, kerana sesungguhnya mengatakan Kebenaran dan Mengingatkan perkara yang besar (penting) tidak akan mendekatkan seseorang kepada ajal atau tidak pula menjauhkan rezeki. (Riwayat Ahmad no. 11048)

Qadhi ‘Iyad mengatakan;

عليك بطريق الهدي وإن قل السالكون , واجتنب طريق الردي وإن كثر الهالكون.

“Hendaklah kamu berada pada jalan Kebenaran meskipun Sedikit (Minoriti) bilangan orang yang mengikutinya. Jauhkan diri dari jalan Kerosakan walaupun Ramai (Majoriti) Pelaku kerosakan itu” (al-I’tisham, jld 1, halaman 83)

As-Syarif Quran Village

EMPAT JALAN MENUJU ISTIQAMAH

EMPAT JALAN MENUJU ISTIQOMAH 🍃

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/58179 

May 21, 2022 

🌴🌴🌴

Berkata Imam Syaqiq bin Ibrohim Al-Balkhi (wafat 149H, guru Imam Hatim Al-Asham) rohimahumallah,

قال شقيق البلخي رحمه الله: أربعة أشياء من طريق الاستقامة: لا يترك أمر الله لشدةٍ تنزلُ به، ولا يتركه لشيء يقع في يده من الدنيا، فلا يعمل بهوى أحد ولا يعمل بهوى نفسه.

(حلية الأولياء)

“Empat jalan menuju istiqomah :

▶️ jangan tinggalkan perintah Allah karena sesuatu yang berat yang dia alami,

▶️ jangan pernah tinggalkan perintah Allah karena sesuatu yang dia peroleh dari dunia,

▶️ jangan pernah beramal karena hawa nafsu seseorang,

▶️ jangan pernah mengerjakan sesuatu karena hawa nafsunya sendiri..”

[ Hilyatul Auliya’ ]

Membalas Celaan Dengan Setimpal

Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk 4️⃣1️⃣

Hadits 19 | Membalas Celaan Dengan Yang Setimpal

~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt shahābat BiAS yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita masuk dalam pembahasan hadīts yang ke-19.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ

Dari Abū Hurairah berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua orang yang saling mencaci maki, maka apa yang diucapkan oleh keduanya dosanya kembali kepada yang memulai memaki, selama yang dimaki (dizhalimi) tidak melampaui batas.”

(Hadīts ini riwayat Imām Muslim nomor 2587 dalam shahīhnya)

⇒Oleh karenanya ini adalah hadīts yang shahīh tanpa diragukan lagi.

Kita tahu dalam hadīts ini, الْمُسْتَبَّانِ (dua orang yang mencaci maki), mencaci maki adalah akhlak yang sangat buruk oleh karenanya nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri No. 48, Muslim No. 64)

Yang dimaksud dengan cacian adalah perkataan yang buruk atau keji, yang kita lemparkan kepada saudara kita sesama muslim.

Yang terkadang cacian (makian) tersebut bisa menjerumuskan kepada perbuatan yang lebih parah sampai-sampai terjadi perkelahian atau sampai pada pertumpahan darah. Ini semua awalnya dari caci maki diantara sesama muslim.

⇒Intinya bisa menimbulkan fitnah, paling tidak adalah melemparkan perkataan keji dan buruk kepada saudara kita sesama muslim.

Di sini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan الْمُسْتَبَّانِ (dua orang yang saling mencaci maki).

⇒si A mencaci maki si B kemudian si B membalas mencaci maki si A, selama cacian keduanya berimbang, maka seluruh dosa-dosa yang diucapkan oleh keduanya ditanggung si A, karena si A yang pertama kali memulai, dengan syarat si B yang di zhalimi tidak melampaui batas.

Contohnya (misalnya) :

√ Si A mengatakan kepada si B, “Kamu gila (si B gila).” Lalu si B membalas, “Kamu juga gila.”

√ Si A mengatakan, “Kamu adalah hewan.” Kemudian si B membalasnya, “Kamu juga hewan.”

⇒Selama si B tidak melampaui batas si A, maka seluruh dosanya kembali kepada si A karena dia yang memulai pertama kali mencaci.

Kata nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

فَعَلَى الْبَادِئِ

“Maka seluruh dosanya ( مَا قَالاَ) , seluruh yang diucapkan oleh keduanya, dosanya kembali kepada yang memulai.”

Bahkan misalnya si A mengatakan kepada si B, “Kedua orang tuamu kurang ajar.” Dan si B membalasnya, “Kedua orang tuamu juga kurang ajar. Ini semua dosanya kembali kepada si A.”

Namun jika si B yang dizhalimi melampaui batas, maka lain lagi ceritanya, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberi syarat seluruh dosanya:

فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ

“Seluruh dosanya kembali kepada yang memulai (si A) selama si B yang didzalimi tidak melampaui batas.”

· Kalau si B melampaui batas, contohnya:

√ Si A mengatakan kepada si B, “Kamu anjing.” Kemudian si B juga mengatakan, “Kamu juga anjing,” tetapi si B menambah misalnya jadi, “Kamu anjing rabies.” Anjing rabies ini lebih daripada anjing.

√ Si A mengatakan, “Kamu kurang ajar.” Lalu si B membalas, “Kamu juga kurang ajar, bapakmu juga kurang ajar,” si B menambah tatkala itu.

Lalu bagaimana kondisi seperti ini?

⇒Ada khilaf diantara para ulamā tentang dosanya lari kemana?

Karena si A yang memulai, namun si B waktu membalas melampaui batas.

Wallāhu a’lam bishawab, sebagian ulamā berpendapat bahwasanya jika si B melampaui batas (melampaui apa yang diucapkan si A) maka kelebihan batasan tersebut dosanya di khususkan bagi si B. Allāh hanya izinkan membalas dengan setimpal.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِه

“Jika kalian membalas, maka balaslah setimpal dengan sebagaimana kalian dizhalimi.”

(QS An Nahl: 126)

⇒ Boleh seandainya dia (Si A) bilang anjing maka si B juga bilang anjing atau si A memaki orang tua si B lalu si B membalas memaki dia (si A) ini tidak berdosa, seluruh dosanya kembali kepada yang memulai pertama.

Kapan?

Dengan syarat kita (yang dimaki) tidak melampui batas.

Tatkala si B (yang dimaki) melampaui batas (misalnya):

√ Si A mencaci si B kemudian si B membalas mencaci si A dan mencaci kedua orang tua si A.

⇒ Maka kelebihan batasan ini, pendapat yang kuat dosanya kembali khusus kepada si B.

Adapun yang setara (sama) maka dosanya kembali kepada yang memulai pertama kali.

Ikhwān dan Akhawāt shahābat BiAS yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Intinya, seseorang berusaha meninggalkan hal ini dan Allāh membolehkan seseorang untuk membalas yang setimpal dan jangan sekali-kali memulai mencaci.

Kalau ada orang yang mulai duluan mencaci maka kita boleh membalas dengan setimpal dan ini diidzinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun meskipun demikian Allāh memberikan pilihan yang lebih baik, bila ada orang yang mencaci maki maka kita tidak perlu membalas.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Kalau kalian membalas, maka balaslah yang setimpal, akan tetapi bila kalian bersabar maka itu lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.”

(QS An Nahl: 126)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لَكُمْ

_”Maafkan dan ampuni lapangkan dada, apakah engkau tidak ingin diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?”

(QS An Nūr: 22)

Allāh juga berfirman:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ والله يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allāh memuji orang-orang yang memaafkan orang lain, dan Allāh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

(QS Al ‘Imrān: 134)

⇒Orang yang memaafkan orang lain adalah orang yang berbuat ihsan.

Intinya hendaknya seorang muslim itu:

⑴ Menjauhkan lisannya dari mencaci maki, pilih kata-kata yang baik.

⑵ Jadilah seorang muslim yang berakhlak mulia, menjauhkan diri dari kata-kata buruk.

Kalau dia bertemu dengan orang yang memiliki kata-kata yang buruk jangan dilayani, hendaknya menjauh dari orang seperti ini, karena pergaulan akan mempengaruhinya.

Jauhi orang-orang yang suka berkata-kata buruk.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjaga lisan-lisan kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghiasi lisan-lisan kita dengan kata-kata yang indah terhadap sesama muslim dan menjauhkan kita dari kata-kata yang buruk terhadap sesama muslim.

Bergerak Dalam Solat

MENOLEH (DAN BERGERAK) KETIKA SHALAT MEMBATALKAN SHALAT ⁉️

Bergerak diluar gerakan shalat ketika shalat, termasuk menoleh, hukumnya makruh, namun jika ada kebutuhan, maka itu diperbolehkan. Namun apabila terus menerus bergerak tanpa jeda, maka bukan lagi makruh, namun bisa membatalkan shalat dikarenakan banyak bergerak. Dalam madzhab imam Syafii dan madzhab imam Ahmad bergerak yang terus menerus tanpa jeda membatalkan shalat. 

Dibawah ini diantara dalil yang digunakan oleh ulama tentang bolehnya menoleh atau bergerak diluar gerakan shalat karena ada kebutuhan. 

Berkata Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya. (HR. Bukhari dan Muslim). 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا

Dari Anas bin Mâlik, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat dahak di arah kiblat (dinding masjid). Beliau merasa terganggu dengannya hingga terlihat di wajah Beliau. Lalu Beliau berdiri dan menggosoknya dengan tangan Beliau. Kemudian Beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila berdiri dalam shalatnya maka ia sedang bermunajat kepada Rabbnya -atau Rabbnya berada di antara dia dan kiblat-, maka janganlah ia meludah ke arah kiblat. Akan tetapi hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah kakinya.” Lalu Beliau memegang ujung selendangnya dan meludah padanya, kemudian menggosok-gosokkan kainnya tersebut. Setelah itu Beliau bersabda, “Atau melakukan yang seperti ini.” (HR. Bukhari). 

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu, 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الْعَقْرَبِ وَالْحَيَّةِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh membunuh Aswadaini (dua binatang hitam) saat shalat: kalajengking dan ular (HR. Ahmad)

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, 

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

Aku bermalam di rumah bibiku, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, kemudian aku ikut shalat bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau (HR. Bukhari). 

Di dalam Syarh Zadul Mustaqni’ disebutkan, 

ثم قال مبيناً أحكام الفعل الكثير فإن أطال الفعل عرفا من غير ضرورة وبلا تفريق بطلت… 

Kemudian dijelaskan tentang hukum gerakan yang banyak, maka jika lama gerakanya dalam pandangan urf, tanpa ada unsur darurat dan tanpa jeda, maka batal shalatnya…

يشترط في العمل الكثير الذي يبطل الصلاة أن يكون متوالياً فإن وقع متفرقاً فإنه لا يبطل الصلاة حتى لو فرضنا أنه لو جمعت هذه الأعمال لصارت مجتمعة فعلاً كثيرة فإن الصلاة لا تبطل

Disyaratkan dalam gerakan banyak yang membatalkan shalat adalah gerakan yang terus-menerus, maka jika terjadi dengan jeda durasi tertentu, tidak akan membatalkan shalat, bahkan jika kita berasumsi bahwa gerakan tersebut dikumpulkan maka akan menjadi gerakan yang sangat banyak, tetap shalatnya tidak batal…

والدليل على هذا ما تقدم معنا من أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يحمل أمامة وهذا فعل لو جمع وضم بعضه لبعض لصار فعلاً كثيراً حيث يضعها في كل ركعة ويحملها في كل ركعة

Dan dalil atas hal ini, telah disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggendong Umamah dan gerakan ini bila dikumpulkan dan digabungkan masing-masingnya maka akan menjadi gerakan yang banyak dimana beliau meletakkannya di setiap rakaat dan menggendongnya kembali dalam rakaat yang lain. (Syarh Zadul Mustaqni’). 

Berkata Syekh Utsaimin Rahimahullah, 

وأما الحركة المكروهة : فهي ما عدا ذلك وهو الأصل في الحركة في الصلاة ، وعلى هذا نقول لمن يتحركون في الصلاة إن عملكم مكروه ، منقص لصلاتكم ، وهذا مشاهد عند كل أحد فتجد الفرد يعبث بساعته ، أو بقلمه ، أو بغترته ، أو بأنفه ، أو بلحيته ، أو ما أشبه ذلك ، وكل ذلك من القسم المكروه إلا أن يكون كثيراً متوالياً فإنه محرم مبطل للصلاة .

Adapun gerakan yang makruh: Inilah hukum asal bergerak-gerak dalam shalat (yang tidak terkait dengan shalat). Ini yang kami katakan kepada orang  yang bergerak-gerak dalam shalat bahwa prilaku kamu itu makruh, mengurangi nilai shalat anda. Ini yang sering disaksikan,  ada yang sibuk dengan jamnya, pena, sorban, hidung, atau jenggotnya atau semisal itu. Semuanya termasuk bagian yang makruh, kecuali kalau gerakan banyak dan terus menerus, maka itu haram dan dapat membatalkan shalat.

وقد ذكر رحمه الله أيضا أن الحركة المبطلة للصلاة ليس لها عدد معين ، وإنما هي الحركة التي تنافي الصلاة ، بحيث إذا رؤى هذا الرجل فكأنه ليس في صلاة ، هذه هي التي تبطل؛ ولهذا حدده العلماء رحمهم الله بالعرف ، فقالوا : ” إن الحركات إذا كثرت وتوالت فإنها تبطل الصلاة ” ، بدون ذكر عدد معين ، وتحديد بعض العلماء إياها بثلاث حركات ، يحتاج إلى دليل ؛ لأن كل من حدد شيئاً بعدد معين ، أو كيفية معينة ، فإن عليه الدليل ، وإلا صار متحكماً في شريعة الله . [ مجموع فتاوى الشيخ 13/309-311 ] 

Beliau rahimahullah telah menyebutkan juga bahwa gerakan yang membatalkan shalat tidak ada bilangan tertentu. Akan tetapi apabila gerakan tersebut dapat  menafikan shalat sekiranya jika ada yang melihatnya dia menganggapnya seakan-akan orang itu tidak shalat. Ini yang membatalkan. Oleh kerana itu para ulama rahimahumullah menentukannya berdasarkan  pandangan umum (urf). Seraya mengatakan, “Bahwa gerakan kalau banyak dan terus menerus itu membatalkan shalat.” tanpa menyebutkan bilangan tertentu. Sebagian ulama yang menentukan dengan tiga gerakan membutuhkan dalil. Karena kalau menentukan sesuatu dengan bilangan tertentu atau cara tertentu, ia membutuhkan dalil. Kalau tidak, maka termasuk membuat hukum dalam syariat Allah.” (Majmu Fatawa Syekh, 13/309-311). 

Berkata Syekh Bin Baaz rahimahullah, 

ولكن يكره العبث في الصلاة ، كتحريك الأنف واللحية والملابس والاشتغال بذلك ، وإذا كثر العبث أبطل الصلاة ، وأما إذا كان قليلا عرفا ، أو كان كثيرا ولم يتوال ، فإن الصلاة لا تبطل به ، ولكن يشرع للمؤمن أن يحافظ على الخشوع ، ويترك العبث ، قليله وكثيره ، حرصا على تمام الصلاة وكمالها .

Akan tetapi dimakruhkan melakukan perbuatan tak berguna dalam shalat. Seperti menggerakkan hidung, jenggot, pakaian dan sibuk dengan itu. Kalau banyak mempermainkannya, dapat membatalkan shalat. Kalau sedikit menurut kebiasaan atau banyak tapi tidak terus menerus, maka shalatnya tidak batal. Akan tetapi orang mukmin dianjurkan menjaga kekhusyu’an, meninggalkan gerak-gerak, baik sedikit maupun banyak, untuk menjaga kesempurnaan shalat.

ومن الأدلة على أن العمل القليل والحركات القليلة في الصلاة لا تبطلها ، وهكذا العمل والحركات المتفرقة غير المتوالية ، ما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، أنه فتح الباب يوما لعائشة وهو يصلي [ أبو داود 922 والنسائي 3/11 والترمذي 601 ، وحسنه الشيخ الألباني في صحيح الترمذي 601] .

Di antara dalil bahwa prilaku atau gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkan dan gerakan ini berjeda tidak terus menerus. Apa yang Terdapat ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau membukakan pintu untuk Aisyah sementara beliau dalam kondisi shalat. (Abu Dawud, 922. Nasa’i, 3/11. Tirmizi, 601. Shahih Tirmizi, 601). 

وثبت عنه من حديث أبي قتادة رضي الله عنه أنه صلى ذات يوم بالناس ، وهو حامل أمامة بنت ابنته زينب ، فكان إذا سجد وضعها ، وإذا قام حملها . [ فتاوى علماء البلد الحرام 162-164 ] . 

Terdapat ketetapan dari Hadits Abi Qatadah radhiallahu anhu bahwa beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) suatu hari shalat menjadi imam sambil membawa Umamah binti putrinya Zainab. Apabila sujud beliau letakkan dan ketika berdiri digendong. (Fatawa Ulama baladil haram,  162-164) 

AFM 

Kitab Zadul Mustaqni adalah karya Syaikh Syarifuddin Abu Naja Musa bin Ahmad Al-Hajawi rahimahullah dan merupakan ringkasan dari Kitab Al-Muqni karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah.

kita dari kata-kata yang buruk terhadap sesama muslim.

Jangan Menjadi Orang Beribadah Di Tepi Jurang

Janganlah Menjadi Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Tepi Jurang

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kesenangan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

(Al Hajj: 11)

Seorang Tabi’in yang bernama Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata:

هو المنافق ، إن صلحت له دنياه أقام على العبادة ، وإن فسدت عليه دنياه وتغيرت ، انقلب فلا يقيم على العبادة إلا لما صلح من دنياه ، فإن أصابته فتنة أو شدة أو اختبار أو ضيق ، ترك دينه ورجع إلى الكفر .

“Ia adalah munafik.

Jika dunianya baik maka ia menegakkan ibadah dengan benar.

Jika dunianya berkurang ia pun berubah. Ia tidak menegakkan ibadah kecuali yang menguntungkan dunianya. Jika ia ditimpa fitnah atau bencana atau ujian atau kesempitan rezeki ia tinggalkan agamanya dan kembali kepada kekufuran.”

(Tafsir Ath Thobari)

Kita berlindung kepada Allah dari melaksanakan ubudiyah kepada Allah saat senang saja…

Namun kita beribadah kepada-Nya di setiap keadaan;

baik senang maupun susah…

Di-post – Itsnain 20 Jumadil Awal 1442 / 4 Januari 2021

🌐 Sumber Artikel : http://www.salamdakwah.com/artikel/4576-janganlah-menjadi-orang-yang-beribadah-kepada-allah-di-tepi-jurang

☕ Silahkan disebarkan, semoga bermanfaat, Allah berkahi dan mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya. Aamiin ☕

Barakallah fikum.

JADWAL KAJIAN OFFLINE

JADWAL KAJIAN OFFLINE / TATAP MUKA INDONESIA

JUM’AT, 20 Mei 2022 / 19 Syawal 1443H

.

.

JABODETABEK

.

⟨ JAKARTA SELATAN ⟩

.

Masjid Medco

Jl. Ampera Raya No.20, RT.12/RW.2, Cilandak Tim., Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12560

G-maps : https://goo.gl/maps/gmQUHHLqMJTjeSZc6

Pemateri : Ustadz Azhar Khalid bin Seff

Tema : 1000 Amalan Sunnah Sehari-hari (bab 1)

Waktu : 16.00 WIB – selesai

Cp : 0813-1641-6262(I) / 0878-8175-0094(A)

*

.

Masjid Al Amin Komplek Pesanggrahan Permai

Jl. Pesanggrahan I Blk. B No.1, RT.1/RW.4, Petukangan Sel., Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12270, Indonesia

G-maps : https://goo.gl/maps/DhwZFgC1Mp8SC31n7

Pemateri : Ustadz Mufy Hanif Thalib

Tema : Zaman Arab Jahiliyah

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0812-2226-0006

*

.

⟨ TANGSEL ⟩

.

Masjid Al Barkah Sawah Baru

Jl. Merpati II, Sawah Baru, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15413

G-maps : https://goo.gl/maps/5kaUbbypJ39dGuL66

Pemateri : Ustadz Ahmad Ali Rozaq

Tema : Orang Shalih Berbakti Kepada Orang Tua

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0812-8128-8890

*

.

Masjid As Sunnah Bintaro

(Belakang Bintaro Plaza) Jl. Nusa Jaya, Pondok Ranji, Bintaro Sektor A, Pd. Karya, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15225

Maps : https://goo.gl/maps/MS3zQcXacwTohF486

Pemateri : Ustadz Firanda Andirja

Tema : Kajian Fiqih Seri#25, bab-Bid’ah-Bid’ah Terkait Dengan Jenazah

Waktu : Ba’da Maghrib – Maghrib

Cp : 0816-198-2053

*

.

⟨ BEKASI ⟩

.

Masjid Al Muttaqin

(Taman Wisma Asri 1) Jl. Borneo Utara Blok N / Jl. Rasamala Raya Blok O-36 No.20, RT.007/RW.032, Tlk. Pucung, Kec. Bekasi Utara, Kota Bks, Jawa Barat 17121

G-maps : https://goo.gl/maps/45ZjrPNcxJt

Pemateri : Ustadz Muhammad Shoim

Tema : Keutamaan Memelihara Anak Yatim

Waktu : Ba’da Maghrib – Isya

Cp : 0815-1133-3511(I) / 0818-955-761(A)

*

.

Masjid Riyadhus Shalihin

Perumahan Mutiara Insani, RT 006 / RW 008, Jl. Kelapa Dua, Kel. Pedurenan, Kec. Mustika Jaya, RT.001/RW.008, Padurenan, Kec. Mustika Jaya, Kota Bks, Jawa Barat 16340

G-maps : https://maps.app.goo.gl/QefNfNw5TgjSpqrj6

Pemateri : Ustadz Mahfud Umri

Tema : Ensiklopedi Larangan

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0812-8284-1463 / 0898-157-8349

*

.

JAWA BARAT

.

⟨ CIREBON – JABAR ⟩

.

Masjid Al Mujahidin

Jl. Kusnan, Gang Bakti No. 5, RT. 04/09, Kebon Melati, Kesenden, Kejaksan, Kesenden, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45121

G-maps : https://goo.gl/maps/GLgiUzArNfPfP1vw7

Pemateri : Ustadz Ahmad Tonarih Al Atsary

Tema : At Tautsiqu Li Bidayatil Mutafaqqih Min Kalaamil Aimmah

Waktu : Ba’da Subuh – selesai (setiap hari jum’at)

Cp : –

*

.

Masjid Al Binaa

Jl. Satria Komplek PU No.3, Kesambi, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45134

G-maps : https://goo.gl/maps/UEn3s3HabMFXBqoQ9

Pemateri : Ustadz Muhammad Assundee

Tema : Kajian Tauhid

Waktu : Ba’da Subuh – selesai (setiap hari jum’at)

Cp : –

*

.

Rumah Kediaman Mba Aning

Perumahan Puri Cirebon Lestari Blok D1 No.4 Ralun, Kecomberan, Kec. Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171

G-maps : https://goo.gl/maps/UeiF58BX3M4K31yL8

Pemateri : Ustadz Ahmad Tonarih Al Atsary

Tema : Tafsir Al Mutassar

Waktu : 09.00 WIB – selesai (setiap hari jum’at ke 1 & 3) (khusus akhwat)

Cp : –

*

.

⟨ BANDUNG – JABAR ⟩

.

Masjid  Al Ukhuwah

Jl. Wastukencana No.27, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40117

G-maps : https://goo.gl/maps/dkYyDvVs97t1bmYM7

Pemateri : Ustadz Abu Haidar As Sundawy

Tema : Mengenal Al-Aliim & Al-Ghaniy

Waktu : 16.00 WIB – selesai

Cp : –

*

.

JAWA TENGAH

.

⟨ YOGYAKARTA – JATENG ⟩

.

Masjid Al Mustaqim Jombor Baru

Jl. Singo Sari No.20, Jongke Kidul, Sendangadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55285

G-maps : https://goo.gl/maps/Mh7LryFvVL8UGPsWA

Pemateri : Ustadz Afifi Abdul Wadud

Tema : Kegelapan Maksiat

Waktu : Ba’da Subuh – selesai

Cp : –

*

.

Masjid Abdurrahman bin Auf (MABA)

Karang Tengah, Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184

G-maps : https://goo.gl/maps/ZUYRXjqKtbk1T5rJ6

Pemateri : Ustadz Afifi Abdul Wadud

Tema : Syafa’at Amal Shalih di Akherat

Waktu : 16.30 WIB – selesai

Cp : 0822-3708-4024

*

.

Masjid Surau Ageng Al Fata (MSAAF)

Jl. Pisang Gg. Talok 110 RT 003 / RW 001 Dusun Saren, Padukuhan, Tempel, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

G-maps : https://goo.gl/maps/SSKkutNvBBhR9yMP8

Pemateri : Ustadz Ahmad Mz

Tema : Tafsir Ringkas

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0813-9261-6171

*

.

⟨ SUKOHARJO – JATENG ⟩

.

Masjid Ash Shaf

(Klinik Utama Shaf) Jl. Mangesti Raya, Dusun 2, Mayang, Kec. Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57557

G-maps : https://goo.gl/maps/Eh9QkjfGsMpq2zZM8

Pemateri : Ustadz Yusdi Haq

Tema : Menyelami Kandungan Sifat-Sifat Allah

Waktu : 09.00 WIB – selesai (khusus akhwat)

Cp : 0812-2544-9704

*

.

⟨ CILACAP, BANYUMAS – JATENG ⟩

.

Masjid Al Birru

Kompleks Perumahan Harmony Regency, Jl. Matahari, Desa Sindangsari, Kec Majenang, Kab Cilacap

G-maps  : https://goo.gl/maps/XAxyBcJL4N9jvqhU7

Pemateri : Ustadz Abu Bakar Al Banjary

Tema : Kehidupan Nabi ﷺ sebelum Masa Kenabian#2

Waktu : Ba’da Jum’at – selesai

Cp : 0859-4377-7457 / 0859-4377-7457

*

.

Masjid Baitul Matsur

(Fakultas Ekonomi & Bisnis Unsoed) Dukuhbandong, Grendeng, Kec. Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53122

G-maps : https://goo.gl/maps/44CcBCb4p2orx5oQ6

Pemateri : Ustadz Saifuddin Zuhri

Tema : Jalan Menuju Surga

Waktu : 16.00 WIB – selesai

Cp : 0857-2919-3571(I) / 0813-9241-9151(A)

YT : UKI FEB Unsoed

*

.

JAWA TIMUR

.

⟨ SURABAYA – JATIM ⟩

.

Masjid Ar Rahmah

Jl. Babatan Pantai Bar III No.1, Dukuh Sutorejo, Kec. Mulyorejo, Kota SBY, Jawa Timur 60113

G-maps : https://goo.gl/maps/Xjdxix1gBW7YZ9Vp8

Pemateri : Ustadz M Nur Yasin

Tema : Fiqih, Buku Variasi Bacaan Shalat

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai (setiap hari jum’at)

Cp : 0838-3426-4064

*

.

Masjid Ibrahim bin Muhammad

Komplek Perumdis TNI AL, Semolowaru Bahari Surabaya

G-maps : https://goo.gl/maps/gqgyjTiL8UocKFYo9

Pemateri : Ustadz Muhammad Azhari Arga

Tema : Al Wajiz

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai (setiap hari jum’at)

Cp : –

*

.

⟨ GRESIK – JATIM ⟩

.

Masjid Al Ikhlas

Jl. Mutiara 7.2 Perumnas Kota Baru Driyorejo, Gresik

G-maps : https://maps.app.goo.gl/zmlPAGWiJ2UjgX9V9

Pemateri : Ustadz Muhammad Syahputra

Tema : Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Waktu : Ba’da Isya – selesai (setiap hari jum’at ke 3 & 4)

Cp : –

*

.

⟨ SIDOARJO – JATIM ⟩

.

Perum Mutiara Citra Graha

Blok D1/05 Mutiara Citra Graha, Larangan, Kec. Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61271

G-maps : https://maps.app.goo.gl/YEaNeYKbVPqq9gRe8

Pemateri : Ustadz Fahry Permana

Tema : Fiqih Sunnah Wanita, bab-Sujud Sahwi

Waktu : 08.00 WIB – selesai

Cp : 0895-2204-0861

*

.

Masjid Griya Permata Ilmu

Kavling Griya Sejahtera no.59-61 RT.01 RW.10, Dusun Keboan, Keboananom, Kec. Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61254

G-maps : https://goo.gl/maps/qpB3HorhJV8JfCGA8

Pemateri : Ustadz Fachry Permana

Tema : Tanya Jawab Seputar Tauhid

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai (setiap hari jum’at ke 3)

Cp : –

*

.

Masjid Al Khaliil Abu Tauhiid

Jl. W. Monginsidi Kav.DPR A-1 No-8 Sidoklumpuk Seberang Gedung KBIH, Sidoklumpuk, Sidokumpul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61218

G-maps : https://goo.gl/maps/ATow1zYZ1L9rHpft6

Pemateri : Ustadz Fuad Baswedan

Tema : Tazkiyatun Nufs

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai (setiap hari jum’at)

Cp : 0823-3101-2603 / 0812-3418-4444

*

.

⟨ LUMAJANG – JATIM ⟩

.

Masjid Madina Lumajang

Jl. Slamet Riyadi Gg. Rengganis, Pulosari – Lumajang – Jawa Timur

G-maps : https://goo.gl/maps/2ou1XxPpeyAY484A6

Pemateri : Ustadz Abu Ghozie As-Sundawie

•sesi sore

Tema : Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad

Waktu : 16.00 WIB – selesai

•sesi maghrib

Tema : Tafsir Juz 30 (surah An Naba)

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0813-3139-5692

*

.

⟨ MADIUN – JATIM ⟩

.

Masjid Nashrus Sunnah, Madiun

Jl. Koperasi No.68, Banjarejo, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63137

G-maps : https://goo.gl/maps/ksPPB8aLKUaYjADq6

Pemateri : Ustadz Abul Aswad Al Bayyati

Tema : Narimo ing Pandum

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0821-4097-9103

*

.

SUMATERA

.

⟨ PADANG, Kab.Agam – SUMBAR ⟩

.

Masjid Rahmatan Lil Alamin

Jl. Ujung Tanah No.49, Lubuk Begalung Nan XX, Kec. Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat 25155

G-maps : https://goo.gl/maps/jh8veaHZHuLvopd26

•sesi subuh

Pemateri : Ustadz Taufik Zulfahmi

Tema : Pendidikan Anak

Waktu : Ba’da Subuh – selesai

•sesi maghrib

Pemateri : Ustadz Fatwa Rijal

Tema : Umdatul Ahkam

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : –

*

.

Masjid Al Hakim

Komp. BPKP II Jl. Gajah Mada, Kp. Olo, Kec. Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat 25173

G-maps : https://goo.gl/maps/37bwctEKtGBUoKK57

Pemateri : Ustadz Muhammad Al Munawir

Tema : Sirah (Sejarah)

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : 0823-4007-8987

*

.

⟨ MEDAN – SUMUT ⟩

.

Saka Hotel

Jl. Gagak Hitam No.14, Sei Sikambing B, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara 20122

G-maps : https://goo.gl/maps/7C2uunFg3FrvPdo88

Pemateri : Ustadzah Ummu Hany

Tema : Fiqih Sunnah Wanita

Waktu : 10.30 – 12.00 WIB (setiap hari jum’at ke 1, 3 & 5) (khusus akhwat)

Cp : 0813-6170-3035

*

.

KALIMANTAN

.

⟨ BANJARMASIN – KALSEL ⟩

.

Masjid Imam Syafi’i Banjarmasin

Jl. AMD XII (Depan SMPN 19) Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan – Kalimantan Selatan

G-maps : https://goo.gl/maps/BGYHV2EPZ762

•sesi subuh

Pemateri : Ustadz Khairullah Anwar Luthfi

Tema : Seni Interaksi Rasulullah ﷺ

Waktu : Ba’da Subuh – selesai

•sesi maghrib

Pemateri : Ustadz Muhammad Haikal Ali Basyarahil

Tema : 3 Landasan Utama

Waktu : Ba’da Maghrib – selesai

Cp : –

*

.

Hadits of the day :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada,

فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا

“Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari, no. 4689)

.

https://t.me/JadwaLKajianKaskus

Akhlak Buruk

Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk 3️⃣9️⃣

Hadits 18 | Akhlak Yang Buruk dan Al Bukhl/Pelit (Bagian 2/3)

~~

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita masih melanjutkan bahasan tentang hadits nomor 18 tentang buruknya akhlak yang buruk dan sifat al bukhl (pelit).

Telah kita sebutkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang tercelanya sifat pelit, oleh karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdoa agar terjauhkan dari sifat pelit, seperti doa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ و الْبُخْلِ

“Ya Allāh, aku berlindung kepada Engkau dari sifat penakut dan juga sifat pelit.”

(Riyadush Shalihin, diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 5893 versi Fathul Bari nomor 6370 dengan lafazh yang berbeda)

Penakut dan pelit adalah perkara yang buruk. Tidak pantas dimiliki seorang mu’min, tidak terkumpulkan di hati seorang mu’min, kenapa?

Karena sifat bukhl itu menunjukkan lemahnya iman seorang.

Oleh karenanya tidaklah seorang itu bakhil atau tidaklah seorang itu pelit, kecuali jika disertai dengan su’uzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dia berburuk sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dia menyangka kalau harta tersebut dia keluarkan maka hartanya akan berkurang, tidak akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Berarti berburuk sangka kepada Allāh dan kurangnya keimanan dia kepada hari akhirat.

Karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala menyeru hal-hal yang berkaitan dengan berbuat baik kepada orang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkaitkan dengan iman kepada Allāh dan hari akhir, contohnya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allāh dan hari akhirat, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.”

(HR Muslim nomor 67 versi Syarh Muslim nomor 47)

Memuliakan tamunya butuh biaya: menjamu tamu, membelikan makanan. Kalau orang pelit susah menjamu tamu, dia akan menjamu tamu seadanya. Seharusnya seseorang harus berusaha menjamu tamu dengan sebaik-baiknya.

Makanya Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.”

Ini butuh keimanan kepada hari akhirat

Oleh karenanya Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga mengatakan:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”

(HR Muslim nomor 4689 versi Syarh Muslim nomor 2588)

Butuh orang yang imannya kuat untuk meyakini hal ini. Sehingga dia bisa melawan rasa pelitnya. Sehingga dia bisa keluarkan harta di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena ini orang yang pelit maka terkumpul padanya su’uzhan (berburuk sangka kepada Allāh) Menyangka hartanya tidak akan kembali, kemudian yang kedua kurang beriman terhadap janji-janji Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian perkara berikutnya yang disampaikan adalah bakhil.

Sifat bukhl (sifat pelit) ada beberapa bentuknya. Diantara bentuk yang paling nampak adalah bakhil terhadap harta yaitu tidak mau mengeluarkan uang, tidak mau sedekah, tidak mau bantu orang lain.

Namun sebenarnya pelit itu juga bukan hanya pada harta, bisa juga pelit dengan kedudukan. Dia punya kedudukaan, dia bisa memberi syafaat, bantu orang lain, namun dia tidak mau, dia merasa repot.

Ada juga orang yang pelit dengan waktunya. Dia mungkin tidak punya uang untuk bantu orang lain tapi sebenarnya dia bisa bantu dengan waktu. Menyisihkan waktu dia untuk bantu orang lain.

Atau juga pelit dengan tenaganya dan lain-lain.

Pelit itu bentuknya banyak. Diantara bentuk pelit yang buruk adalah pelit dengan ilmu. Karena ada sebagian orang yang mereka punya ilmu namun dia sembunyikan ilmunya, tidak mau disampaikan kepada orang lain. Seakan-akan harus dia yang tahu sendiri ilmu tersebut.

Ini indikasi bahwasanya orang ini orang yang riya’. Dia ingin tampil beda, ingin disanjung maka ilmunya tidak sebarkan kepada orang lain.

Kalau seseorang punya ilmu hendaknya dia tidak usah pelit dengan ilmu tersebut.

Oleh karenanya, disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu jawad (sangat dermawan). Dalam segala hal Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dermawan, termasuk diantaranya dermawan dengan ilmu.

Jika ada orang yang bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka Nabi jelaskan.

Jika ada yang perlu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beritahukan kepada umatnya, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beritahukan.

Demikianlah juga kita dapati para ulama, mereka sangat dermawan dengan ilmu mereka. Bahkan, seperti yang saya diceritakan tentang Syaikh bin Baz hafizhahullāhu Ta’āla, tatkala musim haji, beliau memegang telepon menjawab pertanyaan begitu banyak. Beliau tidak pelit dengan ilmu-ilmu beliau.

Orang-orang merasa butuh bertanya kepada beliau maka beliau menjawab pertanyaan. Sampai ada Syaikh yang bercerita kepada saya tatkala melihat Syaikh bin Baz, dia pun merasa kasihan kepada Syaikh bin Baz. Karena begitu waktunya habis, suaranya serak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada beliau. Beliau tidak pelit dengan ilmu.

Dan orang yang pelit dengan ilmu lebih tercela daripada orang yang pelit dengan harta. Karena kalau orang yang pelit dengan ilmu selain merupakan indikasi riya’, juga kita tahu kalau orang yang membagikan ilmunya, ilmunya tidak akan habis bahkan bertambah, semakin kokoh.

Orang kalau punya ilmu kemudian diceramahkan, ilmunya tidak akan habis. Bahkan semakin kokoh dan akan semakin tidak lupa dengan ilmu tersebut.

Beda dengan harta, kalau harta secara zhahirnya, kalau kita infakkan akan berkurang.

Oleh karenanya orang yang pelit dengan ilmu lebih parah dari pada orang yang pelit dengan hartanya.

Resiko taqlid dalam bermadzhab akan meninggalkan sunnah

Resiko taqlid dalam bermadzhab akan meninggalkan sunnah 🔴

Jikalah kita wajib taqlid kepada Mazhab tertentu, maka kita akan meninggalkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Sebagai contoh kecil saja, ada pendapat dari kalangan Mazhab Hanafiyyah yang membolehkan menikah tanpa wali.

.

Jika kita mengikuti dan taqlid kepada pendapat ini, maka menyebabkan kita kufur (kafir) karena meninggalkan Sunnah, sebagaimana kekafiran Yahudi dan Nasrani (Kristen) yang taqlid buta kepada pendeta dan rahib-rahibnya yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Azza Wa Jalla, atau mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau membuat perkara-perkara baru (Bid’ah) dalam urusan agama.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

.

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَا رَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَا لْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ ۚ وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّا حِدًا ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

.

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

.

– QS. At-Taubah [9] : 31

.

Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut kepada beliau. Kemudian beliau berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

“Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?”. Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

“Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka

(Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, Ath Thabrani al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, 1/166. Lihat Fathul Majid)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman dalam kelanjutan ayat di atas,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa” (QS. At Taubah : 31)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas : “Yakni Rabb yang jika mengharamkan sesuatu, maka hukumnya haram. Dan apa yang Dia halalkan, maka hukumnya halal. Dan apa yang Dia syari’atkan, maka harus diikuti. Dan apa yang Dia tetapkan, maka harus dilaksanakan” [Tafsir Ibnu Katsir (4/135)]

Hal ini menunjukkan bahwa penetapan syari’at, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, adalah hak mutlak milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan bahwa tidak ada pernikahan tanpa wali, maksudnya suatu pernikahan tidak sah kecuali dengan wali dan disini menjadikan adanya wali adalah syarat sahnya suatu pernikahan.

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib berkata : telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak, dari Hajjaj, dari Az Zuhri, dari Urwah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ. (dalam jalur lain) dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu keduanya berkata : Rasulullah ﷺ bersabda,

.

“Tidak ada nikah tanpa adanya wali.”

.

– HR. Ibnu Majah no. 1870 | no. 1880. Shahih

.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah bin A’yan : telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah Al Haddad, dari Yunus, dan Israil dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

.

“Tidak ada (tidak sah) pernikahan kecuali dengan wali.”

.

– HR. Abu Dawud no. 1785 | no. 2085 dan Ahmad no. 18878, 18911. Shahih. Lafazh dan Sanad di atas milik Abu Dawud.

.

Dan dalam redaksi lainnya,

.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar : telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa, dari Az Zuhri, dari ‘Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

.

“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal.”

.

– HR. Tirmidzi no. 1021 | no. 1102. Shahih.

.

Al Imam Tirmidzi rahimahullah menjelaskan, beliau berkata,

.

“Para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, di antaranya Umar bin Al Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan yang lainnya mengamalkan hadits Nabi ﷺ, “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.” Demikian juga diriwayatkan dari sebagian fuqaha’ dari kalangan tabi’in. Mereka berpendapat; tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali. Mereka adalah Sa’id bin Musayyab, Al Hasan Al Bashri, Syuraikh, Ibrahim An Nakha’i, Umar bin Abdul Aziz dan yang lainnya. Juga merupakan pendapat Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Abdullah bin Mubarak, Malik, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.”

.

– Sunan Tirmidzi no. 1021 | no. 1102. Shahih.

.

Bahaya meninggalkan hadits Rasulullah demi mengikuti pendapat seseorang ‼️

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Hampir saja batu jatuh dari langit menimpa kalian. Aku mengatakan : ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’. Tetapi kalian mengatakan : ‘Abu Bakar dan Umar berkata?’ “ [Matan Kitabut Tauhid di dalam Fathul Majid hal. 403]

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan : “Aku heran terhadap orang yang mengetahui sanad suatu hadits dan keshahihannya, tetapi mereka berpaling kepada pendapat Sufyan (Ats Tsauri). 

Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur : 63)

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash Shaff : 5)

Maka jangan ajarkan wajibnya taqlid kepada suatu Mazhab tertentu. Justru yang harus diperhatikan adalah memperbanyak waktu meneliti dan mempelajari hadits.

.

Kalau bisa baca dan teliti Kitab Hadits Tirmidzi, disitu beliau juga menulis fiqh (pemahaman) hadits nya dan juga menukil pendapat ulama Ahlu Sunnah.

.

RATAKAN KUBURAN DENGAN TANAH DAN HANCURKAN BANGUNAN DIATASNYA ‼️

PERINTAH RASULULLAH : RATAKAN KUBURAN DENGAN TANAH DAN HANCURKAN BANGUNAN DIATASNYA ‼️

.

Narasi-narasi poster dan video buatan Syi’4h dan Sufi yang beredar seperti …

.

“Inilah jika Wahhabi/Salafi berkembang, nanti kuburan dihancurkan …”

.

Untuk menakut-nakuti umat Islam yang masih awam.

.

PERTAMA, yang kita bahas adalah hukum meratakan kuburan dengan tanah.

Ketauilah, hukum meratakan kuburan itu bukan ajaran Wahhabi/Salafi, TAPI PERINTAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan hukum asal perintah adalah wajib, yang jika tidak dilakukan maka berdosa.

.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb -Yahya berkata- : telah mengabarkan kepada kami -sementara dua orang yang lain- berkata : telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Abu Wa`il, dari Abul Hayyaj Al Asadi ia berkata, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

.

“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan patung-patung kecuali kamu hancurkan, DAN JANGAN PULA KAMU MENINGGALKAN KUBURAN YANG TINGGI KECUALI KAMU RATAKAN.”

.

– HR. Muslim no. 1609 | no. 989, Abu Dawud no. 2801 | no. 3218 dan Tirmidzi no. 970 | no. 1049. Shahih. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim

.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah : telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri : telah menceritakan kepada kami As Sakan bin Ibrahim : telah menceritakan kepada kami Al Asy’ats bin Sawwar, dari Ibnu Asywa’ dari Hanasy Al Kinani, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mengutus seorang petugas keamanannya, kemudian bertanya,

.

“Apakah kamu tahu untuk apa saya mengutusmu ? yaitu sebagaimana RASULULLAH ﷺ TELAH MENGUTUSKU AGAR AKU MENGHANCURKAN SEMUA GAMBAR DAN MERATAKAN SETIAP KUBURAN.”

.

– HR. Ahmad no. 1217. Shahih

.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Tsumamah berkata,

.

“Kami pergi bersama Fadlalah bin ‘Ubaid ke kawasan Romawi, ia adalah bawahan Mu’awiyah untuk tugas peperangan dan saudara sepupu kami terbunuh, Fadlalalah mensalatinya lalu ia berdiri di atas liang hingga ia menutupinya dengan tanah. Saat tanah kami ratakan, ia berkata : “RATAKAN KARENA RASULULLAH ﷺ MEMERINTAHKAN KAMI UNTUK MERATAKAN KUBURAN.”

.

– HR. Ahmad no. 22808 dan Nasa’i no. 2003 | no. 2030. Lafazh dan sanad di atas milik Ahmad. Shahih

.

KEDUA, Kenapa harus marah, kesal bahkan hingga memfitnah jika kuburan diratakan dengan tanah ?

.

Biasanya yang kesal, marah bahkan hingga memfitnah pasti terdapat suatu alasan dibalik itu. Dan biasanya alasan itu berpulang kepada dua alasan.

.

[1] Menjadikan Kuburan sebagai tempat Ibadah  untuk meminta dan memohon pertolongan kepada mayyit agar mendatangkan manfaat. Ini adalah Syirik Akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam

.

[2] Menjadikan Kuburan sebagai objek untuk mencari uang, biasanya membayar tarif terlebih dahulu untuk memohon dan meminta kepada mayyit, atau setelah memohon, hingga membuat jasa travel untuk ritual kunjungan ke kuburan wali dan syaikh.

.

Kalau ngga ada dua alasan tersebut, kenapa harus marah, kesal hingga memfitnah, padahal MERATAKAN KUBURAN itu PERINTAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.

.

Pikirkanlah dengan baik !

Benarkah Iblis Dahulunya Malaikat bernama Azazil ⁉️

Benarkah Iblis Dahulunya Malaikat bernama Azazil ⁉️

https://www.alquranpedia.org/2018/07/benarkah-iblis-dahulunya-malaikat.html

Iblis disebutkan sebanyak 88 kali di Al-Quran, sama dengan jumlah sebutan malaikat yang juga disebut sebanyak 88. Iblis populer dengan kisahnya dengan Adam ‘alaihissalam. Di dalam Al-Quran disebutkan berulang-ulang kisahnya, seperti pada Surah Al-Hijr, Shad, Al-Baqarah, Thaahaa dan Al-A’raaf. Iblis menolak sujud kepada Adam dan dikeluarkanlah Iblis dari surga. Namun setelah itu Iblis menggoda Adam sehingga melanggar perintah Allah karena mendekati dan memakan buah dari pohon terlarang yang disebut syetan sebagai “POHON KHULDI”.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu POHON KHULDI dan kerajaan yang tidak akan binasa? (QS Thaha 120)

Ada anggapan dari sebagian orang bahwa dahulu Iblis itu adalah pemimpin para malaikat, yang bernama Azazil. Namun karena pembangkangannya kepada Allah dengan menolak untuk bersujud kepada Adam, maka Iblis menjadi setan dan rupanya yang sebelumnya indah berubah menjadi bentuk yang sangat jelek.

Benarkah anggapan ini? 

Anggapan ini dibantah Allah di dalam Al-Quran.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali IBLIS. Dia adalah dari golongan JIN, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Kahf : 50)

Allah menjelaskan saat menceritakan tentang menolaknya Iblis sujud kepada Adam sebagai tanda penghormatan. Allah menyebutkan bahwa IBLIS itu dari golongan JIN. Seperti yang kita ketahui bahwa jin itu diciptakan dari api, sementara malaikat diciptakan dari cahaya.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari API sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari TANAH.” (Q.S. Al-A’raaf : 12)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari API, sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari TANAH.” (Q.S. Shaad : 76)

Allah berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan MANUSIA (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari LUMPUR HITAM yang diberi bentuk (Al Hijr 26)

وَٱلْجَآنَّ خَلَقْنَٰهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ 

“Dan  Kami (Allah) ciptakan JIN sebelum (Adam) dari API yang sangat panas ” (QS. Al-Hijr: 27).

Allah juga berfirman:

 وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ 

“Dan Dia menciptakan JIN dari nyala API” (QS Ar-Rahman: 15)

Allah berfirman: “Sebenarnya (Malaikat) adalah hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya” (QS. Al-Anbiya: 26–27)

Allah berfirman : 

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Dan hanya kepada Allah apa-apa yang ada di langit, di bumi dari jenis binatang dan Malaikat, mereka bersujud dalam kondisi tidak sombong. 

Mereka takut kepada Tuhan-Nya yang di atas dan mengerjakan apa yang diperintahkan“ (QS. An-Nahl: 49 – 50)

Oleh karena itu tidak mungkin para Malaikat itu berbuat maksiat kepada Allah sementara mereka maksum (terjaga) dari kesalahan dan mempunyai karakter berbuat ketaatan.

Hal itupun dipertegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin diciptakan dari nyala api.” (HR. Ahmad 25194 dan Muslim 2996).

خُلِقَت المَلائِكَةُ مِن نُورٍ ، وَخُلِقَ إِبلِيسُ مِن نَارِ السَّمومِ ، وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيهِ السَّلامُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم

“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” (HR. Muslim 2996, Ahmad no. 24668, Baihaqi di Sunan Kubro, no. 18207, dan Ibnu Hibban, no. 6155)

Jadi kalaulah iblis itu dahulunya malaikat, maka seharusnya iblis itu diciptakan dari cahaya. Akan tetapi Allah menjelaskan dan iblis pun mengakui bahwa dirinya diciptakan dari api.

Kita tidak boleh berkata melainkan apa yang telah disebutkan Al-Quran dan Hadits sahih. Kalau tidak dijelaskan dan disebutkan Al-Quran dan Hadits, terlebih lagi tidak adanya penjelasan para ‘ulama, maka jangan sekali-kali kita menyebutkannya. Apalagi kalau kita hanya mengikuti orang tanpa mengetahui ilmunya.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al-Israa’ : 36)

Create your website with WordPress.com
Get started