CONTOH PENDAPAT IMAM MADZHAB YANG MESTI DIIKUTI

CONTOH PENDAPAT IMAM MADZHAB YANG MESTI DIIKUTI ❤

Seseorang jika hendak shalat, maka hendaklah menghadap kiblat. Jika tidak menghadap kiblat, tidak sah shalatnya. 

Allah Ta’ala berfirman, 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (QS. al-Baqarah: 150).

Disebutkan dalam tafsir muhktashor, 

ومن أي مكان خرجت -أيها النبي- وأردت الصلاة، فاستقبل جهة المسجد الحرام، وبأي مكان كنتم -أيها المؤمنون- فاستقبلوا بوجهكم جهته إذا أردتم الصلاة 

Dan dari tempat manapun engkau keluar wahai Nabi- jika engkau hendak menunaikan salat maka menghadaplah ke arah Masjidil Haram. Dan di manapun kalian -wahai orang-orang mukmin- hadapkanlah wajah kalian ke arah Masjidil Haram jika hendak menunaikan salat. (Tafsir Mukhtashor). 

Namun jika tidak mengetahui arah kiblat sama sekali, setelah maksimal mencarinya, sahkah shalatnya jika ternyata arahnya salah? 

Disinilah Imam Madzhab berbeda pendapat, apakah sah shalatnya atau tidak? Apakah kita mengikuti imam madzhab yang berpendapat tidak sah, karena itu madzhab yang diikuti atau mengikuti imam madzhab yang mengatakan sah walaupun bukan madzhabnya? 

Mari kita simak pendapat mereka dalam perkara ini. 

Pertama, Menurut pendapat MALAKIYAH

أن من صلى إلى غير القبلة باجتهاد لم تلزمه الإعادة، وإنما تندب له في الوقت

Bahwasanya orang yang shalat tidak menghadap kiblat karena sudah ijtihad (betul-betul sudah usaha mencari arah kiblat), mengulangnya tidak wajib baginya. Karena sesungguhnya dianjurkan baginya pada waktunya. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Kedua, menurut pendapat madzhab SYAFIIYYAH, tidak sah shalatnya, shalatnya harus diqadha 

Berkata An-Nawawi rahimahullah,

وَمَنْ صَلَّى بِالِاجْتِهَادِ فَتَيَقَّنَ الْخَطَأَ قَضَى فِي الْأَظْهَرِ، فَلَوْ تَيَقَّنَهُ فِيهَا وَجَبَ اسْتِئْنَافُهَا

Orang yang shalat (ke arah kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian dia tahu ternyata itu salah, maka dia wajib mengqadha, menurut pendapat yang kuat. Dan ketika dia tahu kesalahannya di tengah shalat, wajib mengulangi dari awal. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Ketiga, menurut pendapat madzhab HANAFIYYAH dan salah satu pendapat madzhab HANABILLAH, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi.

Disebutkan dalam kitab al-Ikhtiyar, 

وإن اشتبهت عليه القبلة وليس له من يسأله اجتهد وصلى ولا يعيد وإن أخطأ، فإن علم بالخطأ وهو في الصلاة استدار وبنى، وإن صلى بغير اجتهاد فأخطأ أعاد

Jika ada orang tidak tahu arah kiblat dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan kiblat), dan shalatnya tidak perlu diulang, meskipun arah kiblatnya salah. Jika dia tahu kesalahan arah kiblat di tengah shalat, maka dia langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi shalatnya. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Keempat, menurut pendapat madzhab HANABILAH, kalau dia mukim, tidak sah shalatnya, kalau dalam perjalanan sah shalatnya.

Berkata Al-Mardawi rahimahullah,

الصحيح من المذهب أن البصير إذا صلى في الحضر فأخطأ عليه الإعادة مطلقا وعليه الأصحاب، وعنه لا يعيد إذا كان عن اجتهاد، احتج أحمد بقضية أهل قباء

Pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, bahwa orang yang bisa melihat, ketika dia shalat dalam keadaan mukim, kemudian salah kiblatnya, maka dia wajib mengulang shalatnya secara mutlak. Dan inilah pendapat yang dipegangi para ulama madzhab. Dan ada riwayat dari Imam Ahmad bahwa dia tidak perlu mengulangi shalat, jika dia salah setelah berijtihad (berusaha mencarinya). Imam Ahmad berdalil dengan kejadian shalat di masjid Quba. Sumber : 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/152821/

Mana pendapat yang diikuti dari beberapa pendapat diatas? Orang yang tidak fanatik dan tidak taklid bermadzhab akan mengikuti pendapat yang sesuai dalil. Atau mengikuti pendapat yang dalilnya lebih kuat. 

Pendapat mana dalam perkara di atas yang sesuai dalil atau landasan dalilnya lebih kuat? 

Maka pendapat yang kuat menurut para ulama adalah pendapat, MALIKIYAH, HANAFIYAH dan HANABILAH yang mengatakan sah shalatnya. Mereka berdalil dengan dalil berikut ini. 

Allah Ta’ala berfirman, 

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (Surah Al-Baqarah: 115). 

Berkata Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ القِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ: ” {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ}

Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasuki malam yang gelap. Kami tidak tahu, di mana arah kiblat. Akhirnya masing-masing kami shalat sesuai arah keyakinannya. Ketika pagi hari, kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turun firman Allah,

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (arah qiblat) (QS. Al-Baqarah: 115). (HR. Turmudzi 345).

Makna kata : { فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ } Fa tsamma wajhullah : Di sanalah Allah Ta’ala. Karena Allah meliputi seluruh makhlukNya dimanapun mereka menghadapkan wajahnya, baik ke barat atau ke timur, selatan atau utara akan menemukan Allah Ta’ala. Sebab seluruh makhluk berada dalam pengawasanNya. Bagaimana itu tidak terjadi sedangkan Allah telah mengabarkan bahwa tentang diriNya bahwa bumi berada dalam genggamanNya pada hari kiamat nanti, dan tujuh lapis langit dibentangkan dengan tangan kananNya. Maka tidak ada arah yang kosong dari pengetahuan Allah Ta’ala, pengawasanNya, serta kekuasaanNya. Maka Allah menetapkan dalam firmanNya (إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ) “Sungguh Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” Sesungguhnya Dia amat luas DzatNya, ilmuNya, keutamaanNya, kedermawananNya, dan keramahanNya. Dialah Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu karena ilmuNya meliputi segala sesuatu.

Allah Ta’ala membantah orang-orang Yahudi yang telah mengkritik mengenai perintah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Dan mengizinkan bagi siapa saja yang tidak mengetahui arah kiblat atau tersamarkan baginya untuk shalat menghadap arah manapun. Allah Ta’ala memberitahukan bahwa milikNya lah arah timur dan barat, Dia yang menciptakan, menguasai, dan mengaturnya

Referensi: https://tafsirweb.com/538-surat-al-baqarah-ayat-115.html

AFM 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: