BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN MENGHARAPKAN PAHALA, MENGHARAPKAN SYURGANYA DAN TAKUT KEPADA NERAKANYA ADALAH TIDAK IKHLAS DAN ORANG DUNGU ⁉️

BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN MENGHARAPKAN PAHALA, MENGHARAPKAN SYURGANYA DAN TAKUT KEPADA NERAKANYA ADALAH TIDAK IKHLAS DAN ORANG DUNGU ⁉️

.

Sufi sesat mengatakan : “Beribadah mengharapkan pahala, mengharapkan Surga, takut kepada Neraka dan dijauhkan dari Neraka menunjukkan ketidakikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah dan rendahnya kualitas amal (keikhlasan) seseorang”

.

Sama seperti seperti yang dikatakan oleh Al Ghazali,

.

“Aku tidaklah menyembahNya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surgaNya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaan dan kerinduan kepadaNya” (Ihyaa’ Uluum ad-Diin 4/310).

.

Demikian juga Al Ghazali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang ablah (dungu). Ia berkata,

.

“Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahanNya, maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga” (Ihyaa Uluumid Diin 3/375)

.

Ini merupakan kebatilan dan omongan orang yang jauh dari ilmu bahkan merupakan Bid’ah dalam Syariat perkara I’tiqadiyyah.

.

Kita berpulang kepada,

.

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara perkara yang diada-adakan dan setiap Bid’ah adalah sesat, Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka. Dan setiap perkara yang paling buruk adalah sesuatu yang tidak dikenal dan tidak datang, baik itu dalam Al Qur’an atau Hadits Nabi dan segala sesuatu yang tidak dikenal dan tidak datang, baik itu dalam Al Qur’an atau hadits Nabi. adalah Bid’ah. Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka.”

.

APA ITU IKHLAS ?

.

Makna Ikhlas dari sisi bahasa diambil dari makna Al Khalish, yaitu jernih, bersih dan suci tanpa adanya kotoran yang memperkeruhnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kepada kita makna ikhlas/khalish.

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni (khalish) antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16] : 66)

.

Firman-Nya “Susu murni” artinya susu yang jernih dan murni, tidak tercampur oleh kotoran dan darah serta tanpa adanya kotoran dan darah yang tercampur dengannya walaupun ia keluar di antara kotoran dan darah.

.

Sehingga makna “Ikhlas” adalah menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata secara murni, jernih dan bersih sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalankan, melakukan, menegakkan dan mewujudkan segala bentuk ibadah, amalan agama, perintah dan larangan, halal dan haram, yang tidak ada sekutu, tandingan ataupun padanan bagi-Nya, serta tidak melakukan kesyirikan sebagaimana ditunjukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala firman-Nya,

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah (beribadahlah kepada) Allah dengan memurnikan ketaatan (tulus ikhlas) kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang khalish bersih murni (dari syirik).” (Az-Zumar [39] : 2-3)

.

Dan dalam beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yaitu ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla dan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka boleh seseorang mengharapkan pahala-Nya, Surga-Nya dan dijauhkan dari Neraka-Nya.

.

01. MENGHARAPKAN PAHALA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (112)

.

“Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik (amal shalih), DIA MENDAPAT PAHALA di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah [2] : 112)

.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

.

“Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik (amal shalih)” Maksudnya, barangsiapa yang mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Berkaitan dengan firman-Nya tersebut. Abu Al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas mengatakan : (Yaitu), barangsiapa yang benar-benar tulus karena Allah. Masih berkenaan dengan ayat “Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah”, Sa’id bin Jubari mengatakan, yaitu yang tulus ikhlas menyerahkan “agamanya” hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan “dan dia berbuat baik (amal shalih)” , artinya mengikuti (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena amal perbuatan yang diterima itu harus memenuhi dua syarat, yaitu harus didasarkan pada ketulusan (keikhlasan) karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, dan syarat kedua, harus benar-benar dan sejalan dengan Syari’at Allah. Jika suatu amalan sudah didasarkan pada keikhlasan hanya karena Allah, tetapi tidak benar dan tidak sesuai dengan Syari’at (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), maka amakan tersebut tidak diterima.” (Tafsir min Ibnu Katsir, I/227-228)

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah DENGAN mengharapkan pahala dari-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat, bukan orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

02. MENGHARAPKAN SURGA-NYA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا (110)

.

“BARANGSIAPA MENGHARAP PERJUMPAAN DENGAN RABB-NYA, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” (Al Kahfi [18] : 110)

.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya” yakni PAHALA DAN BALASAN-NYA YANG BAIK “Maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih” yakni yang sesuai dengan syari’at Allah.“ Dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” Itulah perbuatan yang dimaksudkan untuk mencari keridahaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Kedua hal tersebut adalah rukun amal yang maqbul (diterima oleh Allah), yaitu benar-benar tulus (ikhlas) karena Allah dan harus sesuai dengan Syari’at (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir min Ibnu Katsir, V/307)

.

Dan balasan yang terbaik dari Allah Azza Wa Jalla adalah Surga-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ غُرَفٗا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ نِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ 

.

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah SEBAIK-BAIK BALASAN bagi orang yang berbuat amal shalih.” (QS. Al Ankabut [29] : 58 )

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي صَدَقَنَا وَعۡدَهُۥ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُۖ فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ 

.

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya. Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” MAKA (SURGA ITULAH) SEBAIK-BAIK BALASAN bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az Zumar [39] : 73-74)

.

Dan kenikmatan tertinggi di Surga adalah melihat wajah-Nya.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

۞لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٞ وَلَا ذِلَّةٌۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ 

.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus [10] : 26)

.

Dan redaksi “tambahanya” adalah berjumpa dan melihat wajah Allah Azza Wa Jalla.

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ 

.

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Rabbnya.” (QS. Al Qiyamah [75] : 22-23)

.

Dan bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, dan berdoa merupakan ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla, untuk hal tersebut

.

Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Hubaib bin ‘Arabi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad, dia berkata : telah menceritakan kepada kami ‘Atha bin As Saib dari Bapaknya, dia berkata; ” Ammar bin Yasir pernah shalat bersama (mengimami) kami, dan ia mempersingkat shalatnya. Lalu sebagian orang bertanya kepadanya, ‘Engkau telah meringankan -mempersingkat- shalat? ‘ Ia menjawab : shalat tadi aku memanjatkan doa dengan doa yang kudengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.’ Lalu ia bangkit dan diikuti oleh seseorang -dia adalah Ubay, tetapi ia menyamarkan dirinya- lalu ia bertanya kepadanya tentang doa. Kemudian ia datang dan memberitahukan doa tersebut kepada kaumnya,

.

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي

اَللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Allah dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagiku. 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat nampak ataupun saat tidak nampak. Aku memohon kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kenikmatan tanpa habis dan kesenangan tanpa henti. Aku memohon keridhaan setelah adanya keputusan, dan kenyamanan hidup setelah mati dan kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta keridhaan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah.”

.

– HR. Nasa’i no. 1288 HR. Ahmad no.18325 

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah DENGAN mengharapkan balasan Surga dari-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat dan bukan orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

03. TAKUT KEPADA SIKSA NERAKA

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا 

.

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan TAKUT AKAN AZAB-NYA; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra [17] : 57)

.

Dan terlalu banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdoa, dan berdoa termasuk ibadah, yang mengharapkan Surga, mengharapkan dijauhkan dari Neraka karena takut dengan siksa Neraka.

.

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Sulaiman dari Abu Shalih dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katanya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada seorang laki-laki: “Bagaimana kamu berdo’a dalam shalat?” laki-laki tersebut menjawab; “Aku membaca tasyahud dan mengucapkan,

.

“ALLAHUMMA INNI AS`ALUKAL JANNATA WA A’UUDZUBIKA MINANNAAR.”

.

(Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api neraka).

.

(Ma’af) kami tidak dapat memahami dengan baik gumam anda gumam Mu’adz (ketika berdo’a).” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.

“Seputar itulah kami bergumam (ketika berdo’a).”

.

– HR. Abu Dawud no. 672 | no. 792. Shahih

.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepadaku Jabr bin Habib dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarinya do’a ini, yaitu,

.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ،

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ،

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang di mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. 

Ya Allah, sungguh aku memohon surga memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan kepadaku sebagai kebaikan.”

.

– HR. Ibnu Majah no. 3836 Ahmad, 6:133

.

Sehingga tidak masalah bagi seseorang yang beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan baik dan benar, yakni Ikhlas karena Allah dan mengikuti Sunnah KARENA takut kepada Neraka-Nya, dan itu bukan berarti tidak ikhlas sebagaimana perkataan Sufi sesat dan bukan berarti orang dungu seperti yang dikatakan Al Ghazali.

.

Atha bin Yussuf

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: