PERBEDAAN  ANTARA  NASIHAT DAN CELAAN

ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ

Alhamdulillah…….,

Waktunya sudah tiba untuk kita beristirahat, sebelumnya kita bersama renungkan dibawah ini.

PERBEDAAN  ANTARA  NASIHAT DAN CELAAN

Pertama:

Nasehat disampaikan secara rahasia, sedangkan celaan disampaikan secara terang-terangan.

Dalam hal ini Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

“Seorang mukmin akan selalu menjaga rahasia dan memberi nasehat, sedangkan seorang fajir (orang yang buruk) akan membongkar rahasia dan mencela”.

Ibnu Rajab berkata:

“Apa yang diucapkan oleh Fudhail ini merupakan tanda-tanda nasehat, sesungguhnya nasehat identik dengan sifat menjaga rahasia, sedangkan celaan identik dengan penyampaian yang terang-terangan.”

Kedua:

Tujuan pemberi nasehat adalah untuk melakukan perbaikan, menutup rahasia (keburukan orang yang dinasehati), dan memperbaiki kekurangannya, sebaliknya tujuan seorang pencela adalah untuk membongkar rahasia dan aib, menyebarkan kerusakan dan melakukan pengrusakan terhadap kehormatan objek celaan dan menimbulkan kebencian dalam dada (orang yang dinasehati).

Ketiga: 

Seorang pemberi nasehat wajib menunaikan hak saudaranya seiman yang memang wajib untuk ditunaikan, sehingga ia mendapatkan pahala dari nasehat yang ia berikan untuk saudaranya, adapun celaan, mengoyak hak-hak hamba Allah, memecah belah persatuan serta merusak agama mereka.

Lebih jauh lagi dia berdosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai balasan atas perbuatannya yang menyakiti hamba-hamba Allah dengan cara menyebarkan aib, gangguan dan kekejian di tengah-tengah orang beriman. 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat, dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui

(QS. An-Nuur: 19)

Keempat: 

Seorang pemberi nasehat pada umumnya tidak ditunggangi oleh hawa nafsu, adapun seorang pencela tidaklah lepas dari tunggangan nafsu dan penyakit hati, hal itu karena seseorang yang memberi nasehat menginginkan untuk orang yang dinasehatinya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri berupa perbuatan-perbuatan baik, kemudian, dia berusaha agar orang yang diberikan nasehat bertambah kebaikannya.

Adapun seorang pencela tidaklah mencintai orang yang dicelanya, tidak pula mencintai kebaikan untuknya, bahkan sebaliknya dia mengharapkan keburukan menimpanya, ucapannya tidak lepas dari tunggangan hawa nafsu yang mendorongnya untuk menyakiti dan menimbulkan kerusakan.

“Disarikan dari kitab Al-Farqu Baina An-Nasihah Wa At-Ta’yir (Perbedaan antara nasehat dan celaan) karya Ibnu Rajab Al-Hanbaly”

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: