Ayat Suci Al-Quran Yang Amat Menggembirakan Kita

Tiada yang boleh menghiburku, melebihi ayat ayat ini

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian..” 

[Al-Baqarah: 216]

 فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“..Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah jadikan banyak kebaikan padanya..” 

[An-Nisa’: 19]

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“..Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan..” 

[Al-Sharh 5-6]

Sungguh keyakinan kita pada ayat-ayat di atas, akan sangat menghibur kita…

     Karena apapun yang menimpa, kita akan memandang, itulah yang lebih baik bagi kita.. dan apapun kesulitan yang menghadang, kita yakin akan ada kemudahan kemudahan yang dijanjikan Allah dari padanya

 Wallahu A’lam.

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

TANGISAN ORANG SOLEH

TANGISAN ORANG SOLEH

Saudaraku, orang-orang yang telah bertaqwa, yang shalih serta dekat kepada Allah selalu menangis karena takut dengan banyaknya dosa, padahal dosa mereka itu sedikit sekali, lalu bagaimanakah dengan kita…. ?

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

“Allah Ta’ala telah menciptakan 7 lautan, sementara Allah menyukai setetes air mata darimu, namun kedua matamu enggan mengeluarkannya”

(Al-Fawaa-id hal 125)

Nasihat Bagi Saudaramu

Nasihat Bagi Saudaramu

Nasehat disampaikan dengan terang-terangan ketika hendak menasehati orang banyak seperti ketika menyampaikan ceramah.

Namun kadangkala nasehat harus disampaikan secara rahasia kepada seseorang yang membutuhkan penyempurnaan atas kesalahannya.

Dan umumnya seseorang hanya bisa menerimanya saat dia sendirian dan suasana hatinya baik dan tenang.

Itulah saat yang tepat untuk menasehati secara rahasia, tidak di depan publik.

“Sebagus apapun nasehat seseorang namun jika disampaikan di tempat yang tidak tepat dan dalam suasana hati yang sedang marah maka nasehat tersebut hanya bagaikan asap yang mengepul dan seketika menghilang tanpa bekas”.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata:

“Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehati nya secara rahasia…”

“Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat”.

“Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.”

(Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Kita tutup grup ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Belajar selalu Bersyukur

Belajar selalu Bersyukur

Saudaraku,…….

Tahukah anda siapa manusia yang paling berbahagia di dalam hidupnya?

Mereka tiada lain dan tiada bukan, adalah orang yang selalu bersyukur dalam segala keadaan, dan ini adalah karakternya mukmin sejati.

Nabi pernah mengekspresikan ketakjuban beliau kepada orang seperti ini, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ

“Sungguh mengheran kan keadaan seorang mukmin, karena semua keadannya itu selalu baik.”

“Dan keadaan seperti ini hanya terjadi pada orang-orang mukmin saja, yaitu ketika ia memperoleh kenikmatan maka ia bersyukur, dan ini adalah baik baginya”.

“Dan ketika ia ditimpa kesulitan, maka ia bersabar dan ini pun juga baik baginya.”

( HR Muslim No. 2999)

Bagaimana cara kita bisa selalu bersyukur?

Nasehat Imam Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullahu yang mengatakan :

أنظر في المال والحال والصحۃ إلی من دونك,وانظر فی الدين والعلم والفضائل إلی من فوقك…

“Dalam masalah harta, kondisi (duniawi) dan kesehatan, lihatlah orang yang berada di bawahmu. Namun dalam masalah agama, ilmu dan keutamaan, maka lihatlah orang yang berada di atasmu”.

( Al-Akhlâq was Siyar Hal. 23 )

Kita tutup grup ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

AGAR HATI ANDA LEMBUT

AGAR HATI ANDA LEMBUT

Syeikh Bin baz Rahimahullah mengatakan:

“Barangsiapa memanfaatkan waktunya untuk berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, berteman dengan orang-orang saleh, dan menjauh dari berteman dengan orang-orang yang lalai dan buruk, niscaya hatinya akan menjadi baik dan lembut”.

[Kitab: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 5/244]

Perhatikanlah Hati Kita

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata:

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن في الجسدِ مُضغَةً : إذا صلَحَتْ صلَح الجسدُ كلُّه ، وإذا فسَدَتْ فسَد الجسدُ كلُّه ، ألا وهي القلبُ .

“Sesungguhnya pada tubuh seseorang ada gumpalan daging, jika baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika rusak maka rusaklah seluruhnya, ketahuilah bahwa itu adalah hati”

Muttafaqun ‘alaih.

Berkata Asy Syeikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:

ينبغـﮯ للإنسان أن يسأل اللـہ دائمًا أن يثبتـہ وأن يصرف قلبـہ على طاعتـہ وإنما خص القلب لأن القلب إذا صلح صلح الجسد ڪلـہ وإذا فسد فسد الجسد ڪلـہ .

Sepantasnya bagi seseorang untuk selalu meminta kepada Allah terus menerus agar dikokohkan, dan agar hatinya diarahkan kepada ketaatan kepada-Nya, dan hanyalah disini dikhususkan hati karena hati itu jika baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya.

Syarhu Riyadhis Shalihin (6/22).

Kita tutup grup ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

TENTRAMKAN HATI

DENGAN DZIKIR

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

إذا اضطرب القلب وقلق فليس له ما يطمئن به سوى ذكر الله .

“Jika hati sudah berguncang dan galau, maka tidak ada yang bisa menentramkannya selain berdzikir mengingat Allah.”

[Madaarij As-Saalikiin iya 2/480]

MANUSIA YANG BERAKAL

MANUSIA YANG BERAKAL

Semua orang yakin bahwa dirinya pasti mati, ia melihat saudaranya, juga teman temannya yang mati, bahkan ia pun turut mengantarkan ke kuburan, tapi tetap ia lupa akan mati serta tidak berusaha keras untuk mengumpulkan bekal akhirat yang kekal abadi…

Hewan sapi pun demikian. meskipun tempat untuk penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, tetapi tetap saja ia memakan rumputan segar dengan lahapnya, kalau saja sapi itu mau berfikir, tentu ia akan menyadari bahwa waktu gilirannya akan dijagal mungkin tinggal beberapa menit lagi, niscaya ia pasti akan berusaha untuk melarikan diri, atau nafsu makannya akan hilang…

Lalu bagaimana dengan sikap manusia yang berakal, apakah mereka mau dipersamakan dengan para sapi yang terus saja melahap makanannya, padahal suatu yang pasti akan segera mendatanginya yaitu kematian…?

Qotadah rahimahullah telah berkata :

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tlah menciptakan Malaikat dalam keadaan berakal tapi tanpa memiliki syahwat, dan Allah telah menciptakan hewan dalam keadaan mempunyai syahwat tanpa memiliki akal, serta telah menciptakan  manusia dalam kondisinya memiliki akal dan syahwat.

Barangsiapa akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia akan bersama dengan Malaikat, dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia pun seperti hewan”

(‘Uddatush Shabirin 1/15)

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

3 TANDA GOLONGAN MUNAFIK

يَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya :Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat. (HR Bukhari)

dalam riwayat lain,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

“Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim no. 59)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik sejati/tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR. Muslim no. 58)

21 PERKARA TERBAIK

“Wahai Ummat manusia  semua.

Ketahuilah Olehmu bahwa Tiada Gudang

Yang lebih Bermanfaat dari Ilmu.

Tiada Harta yang lebih Beruntung dari Sifat tidak lekas Marah.

Tiada Teman yang lebih Menghiasi dari Amal.

Tiada Kawan yang lebih Memalukan dari Bodoh.

Tiada Kemuliaan yang lebih Mulia dari Taqwa.

Tiada Kemurahan yang lebih Sempurna Dari Meninggalkan

Hawa Nafsu.

Tiada Amal yang lebih Utama dari Fikir.

Tiada Kebaikan yang lebih Tinggi dari Sabar.

Tiada Kejahatan yang lebih Keji dari Sombong.

Tiada Obat yang lebih Lunak (Menyembuhkan) dari Kasih Sayang.

Tiada Penyakit yang lebih Menyakitkan Dari Lemah Fikiran.

Tiada Utusan yang lebih Adil dari Kebenaran.

Tiada Kemiskinan yang lebih Hina dari Rakus.

Tiada Kekayaan yang lebih Mencelakakan Dari

 Mengumpulkan Harta.

Tiada Hidup yang lebih Baik dari Sehat.

Tiada Kehidupan yang paling Tentram Dari Menjaga Diri.

Tiada Ibadah yang lebih Baik dari Khusu’.

Tiada Zuhud yang lebih Berkebajikan dari Qanaah

(Merasa Cukup dengan yang ada).

Tiada Pengawal yang lebih Memelihara Dari Diam.

Tiada Barang yang Ghaib yang lebih Dekat Dari Mati.

Tiada Dalil yang lebih Menasehatkan dari Benar.

BERSIHKAN DIRI KITA DARI TIGA PERKARA

BERSIHKAN DIRI KITA DARI TIGA PERKARA

Bersihkan keyakinan kita kepada Allah daripada keraguan dan akidah yg bathil

Bersih kan penyerahan kita kepada Allah jgn lah sekali kali kita ragu kepadanya kerana

semakin kuat penyerahan dan tawakal kita kepadanya sebanyak itu jugalah kita akan dicukupkan segala keperluan kita.

Bersihkan pergantungan kita kepada Allah,

Jgn lah sekali kali kita Berpaling daripadanya kerana jika kita mengharap dan bergantung selain Allah maka semua akan hilang dan binasa.

Bergantung pada manusia suatu hari akan mati

Bergantung pada harta suatu hari akan hilang dan merosot.

Bergantung pada kepandaian suatu hari akan lupa dan tersilap

Bergantung pada kuasa dan pangkat suatu hari akan kembali kepada insan biasa yg tiada apa2

Muhasabah lah selalu diri ini yg lalai dan sering terlupa siapakah kita sebenarnya.

Create your website with WordPress.com
Get started