Dakwah Selembut Kapas dan Sehalus Sutera

Dakwah selembut kapas dan sehalus sutra pun akan tetap terasa setajam duri, bagi mereka yang hatinya keras menolak kebenaran

Dakwah itu yang biasa-biasa saja dong, jangan ngelarang-ngelarang, jangan menyinggung, jangan bahas yang haram-haram, 

Maka kita katakan, Yang namamya dakwah ya memang kadang harus ngelarang, menyinggung dan membahas yang haram, sebab kita harus jelaskan kepada ummat mana yang salah dan mana yang benar, Jika dakwah tidak boleh menyebutkan yang salah, maka bagaimana cara meluruskan kesalahan ?

Sebuah contoh…

Ketika kita berbicara tentang haramnya riba, Maka pelaku riba yang akan merasa kesal.

Ketika kita berbicara tentang kejinya zina, Maka pelaku zina yang akan merasa kesal.

Ketika kita berbicara tentang bahayanya miras, Maka penikmat miras yang akan merasa kesal.

Ketika kita berbicara tentang haramnya rokok, Maka penikmat rokok yang akan merasa kesal.

Ketika kita berbicara tentang larangan berbuat syirik dan bid’ah, Maka pelaku kesyirikan dan bid’ah yang akan merasa kesal.

Ketika kita berbicara tentang wajibnya menutup aurat, Maka yang biasa membuka aurat yang akan merasa kesal.

Begitulah seterusnya dan seterusnya,..

Tujuan dakwah adalah memang untuk mengingatkan, Dan disitu pasti akan ada saja orang yang tidak suka dan kesal dengan yang kita sampaikan, walaupun kita sudah berusaha menyampaikan dengan baik dan lembut.

Jadi sebenarnya bukan dakwahnya yang keras,  Tapi hati kita yang belum siap menerima kebenaran.

Sebab dakwah selembut kapas dan sehalus sutra pun akan tetap terasa setajam duri, Bagi mereka yang menolak kebenaran.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ 

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”

Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”

Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  [HR. Muslim, no. 2749, dari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu]

Jalan hidup yang benar hanya ada satu

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153]

Semoga Allah ﷻ memberikan kita Taufiq dan Hidayah Nya agar kita dapat menerima kebenaran.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: