4 AMALAN BID’AH DI BULAN REJAB

4 AMALIYAH BID’AH DI BULAN RAJAB☘️

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie 

Bulan Rajab memang bulan yang mulia, termasuk diantara salah satu bulan haram (suci) yang empat. Dimana dibulan bulan haram tersebut dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih dan menghindari dari segala macam bentuk dosa dan maksiat. 

Adapun mengkhususkannya dengan ibadah ibadah tertentu seperti do’a, shalat, puasa atau perayaan perayaan tertentu maka hal ini tidak ada dasarnya dalam syari’at yang mulia.

Mengkhususkan ibadah yang asalnya umum dan mutlak kepada waktu tertentu, atau tempat tertentu maka hal ini membutuhkan dalil, jika tidak ada dalil pengkhususan maka jatuhlah kepada ibadah yang diada adakan alias bid’ah. 

Oleh karena itu para Ulama membuat kaedah dalam masalah ini.

كُلُّ عِبَادَةٍ مُطْلَقَةٍ ثَبَتَتْ فِيْ الشَّرْعِ بِدَلِيْلٍ عَامٍ فَإِنَّ تَقْيِيْدَ إِطْلاَقِ هَذِهِ الْعِبَادَةِ بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ أَوْ نَحْوِهِمَا بِحَيْثُ يُوْهِمُ هَذَا التَّقْيِيْدَ أَنَّهُ مَقْصُوْدٌ شَرْعًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَدُلَّ الدَّلِيْلُ الْعَامُ عَلَى هَذَا التَّقْيِيْدِ فَهُوَ بِدْعَةٌ .

Setiap ibadah yang ditetapkan oleh Syari’at dengan dalil bersifat umum (mutlaq) maka membatasi ibadah ini dengan waktu atau tempat tertentu atau yang semisalnya, sehingga menganggap bahwa pembatasan ini dari syari’at padahal tidak ada dalil yang menunjukan terhadap pembatasan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah. [Qowa’id ma’rifatil Bida’, hal.116]

Adapun dalil dalil yang dibawakan oleh sebagian orang yang melakukannya adalah dalil dalil yang tidak shahih bahkan kebanyakannya dalil dalil terseput palsu tidak ada asal usulnya. Sementara kaedahnya beribadah yang didasari oleh dalil yang tidak shahih maka ibadah tersebut bid’ah.

كُلُّ عِبَادَةٍ تُسْتَنَدُ إِلَى حَدِيْثٍ مَكْذُوْبٍ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهِيَ بِدْعَةٌ .

Setiap ibadah yang disandarkan kepada hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah. [Qawa’id ma’rifatil Bida’, hal. 68]

Diantara amalaiyah bid’ah tersebut :

PERTAMA : DO’A KHUSUS MEMAAUKI BULAN RAJAB

Sebagian orang membaca doa khusus ketika masuk bulan Rajab dengan do’a :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلغنا رَمَضَانَ

“Ya Allah berikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kepada bulan Ramadhan”. 

Mereka beralasan dengan hadits :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ»

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam apabila memasuki bulan Rajab beliau membaca doa, “Ya Allah berikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kepada bulan Ramadhan”. [HR Thabrani didalam kitab Ad Du’a 2/911, Al Baihaqi dalam kitab Fadhaail al Auqat, hal. 14, dll]

Catatan :

Hadits ini tidak shahih maka tidak bisa diamalkan dengan mengkhususkan do’a tersebut ketika memasuki bulan Rajab. 

Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah mengatakan, “Doa atau dzikir masuk bulan Rajab tidak ada yang shahih satupun hadits adapaun yang banyak dilakukan manusia yang mereka menamakannya dengan doa rajab adalah perkara baru yang diada adakan yang tidak ada asal usulnya dalam agama” [Tashhihud Du’a, hal. 111]

Al Hafidz Ibnu hajar mengatakan, “hadits tentang doa rajab tidak kuat” (Tabyinul ‘Ajab, Ibnu hajar, hal. 8-9)

KEDUA : SHALAT RAGHÂIB

Sebagian orang mengamalkan sholat Roghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab sebanyak 12 raka’at di antara Maghrib dan Isya, yang siang berpuasa kamis yang merupakan kamis pertama di bulan Rajab, padahal tidak ada satu pun dalil shahih yang menunjukkan amalan tersebut.

Imam dan Ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, yaitu Imam An-Nawawi rahimahullah telah berkata : 

الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بِصَلَاةِ الرَّغَائِبِ وَهِيَ ثِنْتَى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذَكَرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ وَلَا يُغْتَرُّ بِبَعْضِ مَنْ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ حُكْمُهُمَا مِنْ الْأَئِمَّةِ فَصَنَّفَ وَرَقَاتٍ فِي اسْتِحْبَابِهِمَا فَإِنَّهُ غَالِطٌ فِي ذَلِكَ

“Sholat yang dikenal dengan nama sholat roghoib, yaitu sholat 12 raka’at antara maghrib dan isya pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam nishfu Sya’ban sebanyak 100 raka’at, maka dua sholat ini adalah bid’ah yang mungkar lagi jelek. Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumid Diin, dan jangan tertipu dengan hadits (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu batil. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah salah besar dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]

Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah,

قَالَ الْمُؤَلِفُ فِيْ إِرْشَادِ الْعِبَادِ : وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ الَّتِيْ يَأْثِمُ فَاعِلُهَا، وَيَجِبُ عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ مَنْعُ فَاعِلِهَا صَلاَةَ الرَّغَائِبِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ. وَصَلَاةَ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةً، وَصَلَاةَ آخِرِ جُمْعَةِ رَمَضَانَ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِنِيَّةِ قَضَاءِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الَّذِيْ لَمْ يَتَيْقَنَّهُ، وَصَلَاةَ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ أَوْ أَكْثَرَ، وَصَلَاةَ الْأُسْبُوْعِ. أَمَّا أَحَادِيْثُهَا فَمَوْضُوْعَةٌ بَاطِلَةٌ، وَلَا تَغْتَرَّ بِمَنْ ذَكَرَهَا، وَفَقَنَا اللهُ لِاجْتِلَابِ الْفَضَائِلِ وَاجْتِنَابِ الرَّذَائِلِ

“Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah: (1) Sholat raghoib 12 raka’at yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, (2) Sholat nishfu Sya’ban 100 raka’at, (3) Sholat di Jum’at terakhir Ramadhan sebanyak 17 raka’at dengan niat qodho sholat 5 waktu yang belum ia kerjakan, (4) Sholat hari Asyuro 4 raka’at atau lebih, (5) Sholat sunnah pekanan. Adapun hadits-haditsnya maka palsu lagi batil, dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya –Selesai-.” [Hâsyiah I’ânatit Thâlibîn, 1/312]

KETIGA : PUASA RAJAB

Berpuasa di bulan Rajab dan bulan bulan haram lainnya, bahkan disetiap bulan apa saja tidaklah terlarang, bahkan dianjurkan, namun yang dimaksud dengan dilarang puasa disini adalah mengkhususkannya dengan bulan Rajab dan meyakininya dengan pahala pahala tertentu. Banyak dalil dalil dari hadits tentang pengkhususan puasa dibulan Rajab ini namun semuanya bathil tidak ada yang shahih bahkan sebagianya palsu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : 

لَمْ يَرِدْ فِيْ فَضْلِ شَهْرِ رَجَبٍ وَلَا فِيْ صِيَامِهِ وَلَا فِيْ صِيَام شَيْءٍ مِنْهُ مُعَيَّنٍ، وَلَا فِيْ قِيَامِ لَيْلَةٍ مَخْصُوصَةٍ فِيْهِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ يَصْلُحُ لِلْحُجَّةِ

“Tidak ada satu hadits shahih pun yang yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab, hal. 11]

Diantara contoh hadits hadits PALSU tersebut :

Pertama :

مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ فَتَحَ اللهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبَ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً

“Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barangsiapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.” [lihat kitab al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah no. Hadits : 288]

Kedua :

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْراً يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضاً مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِداً سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ

Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.” [HR ad-Dailamy dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib]

KEEMPAT : MERAYAKAN ISRA MI’RAJ

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz At Twaijiri hafidzahullah berkata :

اَلْإِحْتِفَالُ بِالْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ مِنَ الْأُمُوْرِ اْلبِدْعِيَّةِ الَّتِيْ نَسَبَهَا الْجُهَّالُ إِلَى الشَّرْعِ وَجَعَلُوْا ذَلِكَ سُنَّةً تُقَامُ فِيْ كُلِّ سَنَّةٍ وَذَلِكَ فِيْ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبٍ

“Peringatan Isra Mi’raj termasuk perkara bid’ah yang dinisbatkan oleh orang orang Jahil kepada syari’at. Mereka menjadikan perayaan ini sebagai kebiasaan yang dilaksanakan pada tiap tahun. Perayaan ini dirayakan pada malam ke 27 bulan Rajab” [Dinukil dari kitab Al Bida’ Al hauliyyah]

Beliau juga mengatakan :

أَجْمَعَ السَّلَفُ الصَّالِحُ عَلَى أَنَّ اتِّخَاذَ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَةِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُحْدَثَةِ الَّتِيْ نَهَى عَنْهَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ». بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» . بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ». فَالْإِحْتِفَالُ بِلَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ بِدْعَةٌ مُحْدَثَةٌ لَمْ يَفْعَلْهَا الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَهُمْ أَحْرَصُ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

“Para Salafus Shalih sepakat bahwa menyelenggarakan suatu perayaan yang tidak sesuai syari’at merupakan BID’AH yang dilarang oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagaimana sabdanya, ‘Berhati hatilah kalian terhadap perkara yang diada adakan , karena setiap perkara yang di ada adakan adalah bid’ah dan setipa beid’ah adalah SESAT. Juga melalui Sabdanya, “Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam agama kami ini yang bukan merupakan bagian dariny maka sesuatu itu tertolak”, serta sabdanya, “siapa saja yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami terhadapnya maka amalnya itu tertolak”. Perayaan malam Isra dan Mi’raj adalah bid’ah yang di ada adakan yang belum pernah dilakukan oleh para Sahabat, para Tabi’in dan para Salafus Shalih yang mengikuti jejak mereka. Padahal tidak ada yang memungkiri kalau mereka adalah orang yang paling bersemangat dalam melakukan kebaikan dan amal shalih” [Dinukil dari kitab Al Bida’ al hauliyyah]

Syaikh hafidzahullah juga menukil perkataan Ibnul Qayim yang menyampaikan perkataan dari gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

وَلَا يُعْرَفُ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ جَعَلَ لِلَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ فَضِيلَةً عَلَى غَيْرِهَا، لَا سِيَّمَا عَلَى لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَلَا كَانَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ يَقْصِدُونَ تَخْصِيصَ لَيْلَةَ الْإِسْرَاءِ بِأَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ وَلَا يَذْكُرُونَهَا، وَلِهَذَا لَا يُعْرَفُ أَيَّ لَيْلَةٍ كَانَتْ

“Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam Isra’ Mi’raj lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam Isra’ lebih mullia dibandingkan lailatul qadar. Tidak seorangpun sahabat, maupun tabi’in yang mengkhususkan malam Isra’ dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian Isra’ Mi’raj.” [Zadul Ma’ad, 1/58 -59]. 

Demikianlah dari kami semoga bermanfaat sebagai bentuk nasehat bagi saudara kami kaum muslimin terkait hukum yang berkaitan amaliyah amaliyah yang masyhur di masyarakat namun dasarnya tidak shahih, Wallahu a’lam

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: